Disclaimer :

Naruto masih milik Masashi Kishimoto dan Harry Potter tetap milik J.K Rowling

Warning : typos, FemNaru

A/N : Pengetahuan HP-ku agak terbatas ya, jadi maafkan kalau chapter ini OOC. Terakhir baca novel HP lengkap kayaknya beberapa taun lalu, udah lama xD nonton filmnya juga udah agak lama, jadi yaa maafkan kalau aneh. aku sedang berusaha re-read buku kelima kok buat resource, meski skip skip gitu /plak/ okay tolong kasih tau kalau kalian merasa para karakter terlalu OOC di chapter ini atau chapter yang akan datang. Terima kasih!

ooOoo

Albus Dumbledore dikenal sebagai salah satu penyihir terbaik sepanjang masa. Namanya sangat dihormati. Sosoknya begitu dihargai. Hampir tidak ada penyihir di Britania Raya yang tidak mengenal sosok yang telah mencapai usia renta ini. Pengalamannya dalam dunia sihir--baik pengalaman baik ataupun buruk--tidak lagi diragukan. Di masa mudanya ia berhasil mengalahkan salah satu penyihir hitam yang merupakan sahabatnya sendiri. Penyihir tersebut tidak lain adalah Gellert Grindelwald, seorang penyihir hitam paling berbahaya di masanya.

Untuk masa sekarang ini, Dumbledore masih memiliki nama. Ia merupakan seseorang yang paling ditakuti oleh Pangeran Kegelapan karena kemampuan sihirnya yang sangat hebat meski usianya sudah tidak lagi muda. Semua penyihir beraliran putih selalu mempercayainya. Mereka selalu mengandalkannya. Segala sesuatu yang berasal dari Dumbledore sudah sepatutnya diikuti. Mereka tidak pernah meragukan sosok ini. Tidak pernah.

Hingga kemudian di malam itu, malam pertemuan Orde Phoenix, Dumbledore memberitahu mereka tentang keberadaan sebuah Dataran Tersembunyi yang dikenal sebagai Elemental Nations. Ia juga memberitahu mereka bahwa tempat itu dihuni oleh orang-orang yang sebagian besar berprofesi sebagai ninja yang memiliki kekuatan supernatural. Ketika ditanya apakah kekuatan itu sama dengan sihir, Dumbledore mengiakan meski ia juga mengatakan banyaknya perbedaan antara sihir di dunia ninja dengan sihir yang biasa mereka gunakan.

Penjelasannya masih kurang dimengerti oleh para anggota Orde. Namun, hal itu tampak dikesampingkan oleh mereka. Mereka lebih ingin tahu tujuan dari pembicaraan aneh ini. Orde Phoenix didirikan untuk melawan Voldemort yang telah kembali. Segala masalah yang didiskusikan di sini selalu menyangkut tujuan pembentukan Orde.

Alastor Moody mentap Dumbledore dengan seksama menggunakan mata elektriknya. Ia menunggu dengan sabar ketika sosok yang dianggap sebagai pemimpin itu menjelaskan tentang barrier pembatas dunia ninja yang melemah karena suatu insiden sehingga menyebabkannya mampu mendeteksi keberadaan dunia itu ketika berkeliling kota--entah apa yang dimaksud berkeliling kota, anggap saja ia sedang mengecek siapa saja orang yang telah masuk perangkap Voldemort dan menjadi Pelahap Maut.

Moody mendengarkan dengan baik. Ia sesekali melayangkan mata elektriknya ke tiap sudut ruang rapat mereka, melihat ekspresi muram Sirius, ekspresi ingin tahu Arthur Weasley, ataupun ekspresi datar Severus Snape.

Tidak cukup banyak anggota Orde yang hadir sekarang ini. Mereka semua hampir berjumlah dua puluh, namun yang hadir hanya sekitar delapan orang. Mereka adalah Dumbledore, Moody, Black, Snape, Tonks, Mr. dan Mrs. Weasley, serta Kingsley Shacklebolt. Sisa anggota Orde yang lain sedang berjaga di Little Whinging ataupun sibuk mencari informasi perihal perekrutan tersembunyi para Pelahap Maut.

Kembalinya Voldemort beberapa bulan lalu memang tidak terelakan. Dunia Sihir sedang panas karenanya. Pidato Dumbledore mengenai kembalinya Pangeran Kegelapan telah menuai banyak kontroversi. Kementerian Sihir menentang pernyataan Dumbledore habis-habisan, mengatainya sebagai orang tua yang seharusnya sudah pensiun. Mereka mencopot jabatan Dumbledore di Mahkamah Tinggi Penyihir dan mengancam akan mengambil Order of Merlin--penghargaan tertinggi yang bisa didapatkan seorang penyihir--yang dimilikinya.

Singkat kata, dunia sihir sedang kacau. Moody paham mengapa Dumbledore mencari jalan keluar lain perihal masalah mereka. Tapi, membicarakan mengenai keberadaan dunia ninja masih sedikit terdengar janggal di telinganya. Ketika Dumbledore mengatakan ia yang akan menggunakan jasa para ninja untuk melindungi Hogwarts, mata elektrik Alastor Moody langsung berputar di lekuk matanya sebelum menyentak lurus ke arah sang pria tua.

"Apakah kau bisa menjamin kemampuan mereka, Albus?" tegasnya tajam. Suaranya seolah menggema di ruangan bermeja panjang itu. "Hogwarts selalu bermasalah setiap tahun! Jangan lupakan tahun lalu ketika si bedabah Barty Crouch Junior mengunciku dan berpura-pura menjadi diriku. Orang sepertimu dan Snape tidak menyadari keberadaannya. Bagaimana mungkin orang asing seperti mereka mampu menyadari penyusup yang lain?"

Membenarkan posisi kacamata setengah bulannya, Dumbledore mengayunkan tongkatnya. Sebuah buku notes yang tampak usang muncul dari udara kosong dan jatuh berdebuk di atas meja. Buku kecil itu meluncur ke tangan Moody.

"Apa ini?"

"Informasi dari leluhur Hogwarts, Alastor," timpal Dumbledore tenang. "Madam Pince membantuku mencarinya di perpustakan setelah aku menyadari energi asing yang melingkupi beberapa daerah di London. Dulu, aku pernah membaca mengenai energi itu. Tapi, semua pencarianku tidak menghasilkan apa pun sehingga aku menutup keinginantahuanku. Namun, dua tahun lalu energi kembali kurasakan dan aku teringat pada buku yang dulu pernah kubaca. Begitulah."

Moody membuka buku itu dengan terburu-buru. Mata elektriknya memindai tulisan berejaan kuno dengan lapar, seolah ingin segera melahap semua informasi yang terdapat di sana. Bagi orang yang belum mengenal Moody, mereka akan ngeri melihat bagaimana mata biru elektriknya berputar-putar secara gila. Untungnya, semua anggota Orde sudah tahu bagaimana pria ini mendapatkan julukan Mad-Eye. Kekuatan mata yang mampu menembus dinding memang mengerikan, belum lagi mengenai visual kerjanya yang membuat Alastor tampak agresif.

Informasi yang tertulis di sana ialah informasi mengenai sebuah Dataran Tersembunyi, dataran yang dilindungi oleh barrier kuno--seperti yang dikatakan oleh Dumbledore sebelumnya. Moody mengabaikan bagian yang menjelaskan adanya berbagai nama negara di sana dan lebih memfokuskan tentang sosok bernama ninja ini.

Beberapa kata di buku itu ada yang ditulis dengan aksara asing, ia segera mengenalinya sebagai huruf kanji. Di bawah huruf kanji itu terdapat keterangan berupa shinobi yang dideskripsikan sebagai manusia berkekuatan super yang bergerak dengan kecepatan di atas normal. Buku itu disajikan seperti sebuah jurnal perjalanan di mana sang pengembara cenderung menuliskan kekagumannya pada sosok yang disebut shinobi ini.

Di beberapa paragraf lanjutan mengenai shinobi, terdapat kata ninshū yang kelihatannya merupakan sebuah ajaran spiritual dari para shinobi. Moody menangkap nama Ashura dan Indra di sana. Ia juga membaca deskripsi mereka yang menurut si penulis mampu melakukan sihir tanpa tongkat dan mampu memanggil energi sihir yang sangat murni.

Di sana terdapat penjelasan lanjut mengenai barrier pembatas yang ternyata diciptakan oleh orangtua Ashura dan Indra. Si penulis buku mendeskripsikan ayah dari dua orang itu dengan sangat berlebihan sampai membuat Moody mengerutkan kedua alisnya. Bagaimana mungkin mereka menyebut ayah dari kenalannya sebagai seorang dewa?

Yang benar saja.

Buku ini sangat konyol.

Di halaman terakhir, tepat ketika ia hendak melemparkannya pada Sirius yang sudah merengek--sebenarnya tidak merengek, tapi Moody menganggapnya demikian--meminta giliran membaca, mata elektriknya menangkap tanda tangan dua orang pemilik buku usang. Tanda tangan itu berkilat keemasan dengan ikon khas yang mengingatkannya pada dua dari empat asrama Hogwarts.

Tanda tangan itu adalah milik Salazar Slytherin dan Godric Gryffindor.

Menyerahkan buku pada Sirius, Moody baru menyadari betapa tuanya buku itu dan betapa tebalnya mantra yang meliputinya--menjaga agar tiap lembaran buku tetap utuh meski usianya sudah sangat tua. Lembaran tersebut berwarna kecoklatan dengan tepi yang robek di beberapa sisi. Tanpa memperhatikannya lebih jauh pun ia tahu bahwa buku itu sangat tua, kemungkinan berasal dari zaman nenek moyang mereka beberapa ratus tahun yang lalu. Tanda yang berada di sana tidak kenyakinannya mengenai buku tersebut.

Dumbledore tidak bodoh.

Duh, Dumbledore jauh dari kata bodoh. Tentu saja dia bisa menemukan artefak asli yang sangat langka. Segala ketidakmungkinan berada di dalam diri sang kepala sekolah. Moody seharusnya tidak terkejut dengan fakta kecil semacam ini.

"Mereka sangat berbahaya," gumam Arthur Weasley setelah ikut membaca melalui bahu Sirus. "Di sini dituliskan tentang bagaimana Ashura menciptakan sebuah hutan. Menciptakan. Oh, beritahu aku bahwa kata ini hanya konotasi."

Snape menyambar buku itu dari tangan Sirius. Ia mendapatkan tatapan sengit karenanya--yang tentunya langsung ia abaikan dengan mudah. Jari-jari tangannya menyentuh artefak langka tersebut dengan hati-hati, seolah takut jika gerakan halusnya bisa merusak barang kuno yang kini berada di tangannya. Membaca tulisan bertinta pudar dengan seksama, Snape menyerap tiap informasi yang disuguhkan di sana.

"Evolusi," gumamnya teramat pelan setelah membaca beberapa saat, suaranya hampir tidak bisa ditangkap oleh telinga orang lain di ruangan itu. "Mereka berevolusi. Kekuatan mereka tidak lagi sehebat dulu. Di sini dituliskan bahwa mereka meninggalkan Elemental Nations ketika dua orang bernama Ashura dan Indra bertarung dan menyebabkan kekacauan setelah ayahnya meninggal dunia. Ashura membantu pelarian mereka ke sini sebelum menutup penuh barrier."

"Setahuku, evolusi cenderung menghasilkan pembaharuan yang lebih baik, Sniffles," sindir Sirius.

"Tidak juga. Evolusi bisa menyebabkan degradasi, seperti halnya hewan-hewan purba, Black," balas Snape tajam

Di seberangnya, Molly Weasley sudah menatap dua orang pria itu dengan sengit, menantang mereka untuk beradu argumen lagi. Suasana semacam ini sudah cukup familiar di dalam Orde. Moody menggebrak meja, tidak sabar dengan perilaku kekanakan rekannya. Aksi tersebut berhasil mendapat perhatian mereka semua.

"Kita sedang tidak membicarakan sejarah," tegasnya keras sebelum kemudian meminta Dumbledore melanjutkan penjelasannya.

Dumbledore mengangguk. "Ah, leluhur kita memang sangat hebat sampai bisa menemukan mereka." Keeksentrikan Dumbledore tidak mendapatkan tanggapan dari Moody, Snape, ataupun Black. Dumbledore melanjutkan perkataannya dengan riang. "Aku sudah menghubungi salah satu dari pimpinan mereka. Fawkes menemani burung hantu pengirim pesan untuk menyampaikan pesanku pada pemimpin dari desa yang sekarang memiliki kekuatan terbaik."

Mengernyitkan alis, sosok berpostur tegap dengan kulit hitam bertanya, "Desa? Apakah mereka setradisional itu?"

Dumbledore mengangguk.

"Mereka masih menggunakan istilah desa. Peradaban di sana masih cukup tradisional. Bahasa yang mereka gunakan juga bukan bahasa Inggris, melainkan Jepang. Entah karena alasan apa. Namun, ketertinggalan peradaban itu kemungkinan karena adanya barrier. Ada lagi yang ingin kalian tanyakan? Sejauh ini hanya itu yang kuketahui. Selain fakta bahwa mereka merupakan prajurit sewaan."

"Prajurit sewaan? Apakah itu berarti mereka juga bisa menjadi pembunuh bayaran?" tanya seorang perempuan berambut ungu.

Dumbledore kembali mengangguk.

Di seberang sana, Molly Weasley tampak tidak menerima informasi baru itu dengan baik. Ekspresi ragunya berubah menjadi marah, membuat wajahnya hampir semerah rambutnya sendiri. Ia berteriak. "Kau menyewa pembunuh bayaran untuk melindungi anak-anak?! Bagaimana jika mereka melukai mereka?!"

"Kontrak, Molly," balas Dumbledore tenang. "Mereka terikat kontrak."

"TAPI--"

"Molly," tegur Arthur pada istrinya.

Wajah Molly masih memerah karena marah. Ia melipat kedua tangannya dan mendaratkan punggungnya pada sandaran kursi. Matanya tidak lagi memandang Dumbledore.

"Aku sudah mendapatkan surat balasan darinya sore tadi. Ia menjanjikan untuk mendatangkan sepuluh orang. Lima diantaranya bertugas untuk Hogwarts sedangkan lima yang lain untuk kepentingan mereka--dan tidak, Molly, aku tidak tahu kepentingan apa yang mereka maksud. Tapi, orang ini bersikeras untuk tidak memberitahu kepentingan lain mereka dan meminta kita tidak mencampurinya kalau kita masih menginginkan bantuan. Ia menjamin bahwa kepentingan itu tidak menyangkut masalah Voldemort. Aku memegang perkataannya karena ia sendiri berkata bahwa orang-orangnya tidak ingin terlibat dengan masalah kita lebih jauh lagi."

"Apakah Voldemort mengetahui masalah barrier ini?" tanya Sirius ketika mendapati kejanggalan yang ada. "Kau bisa merasakan energinya. Bagaimana kalau dia--"

"Tidak, Sirius," timpal Dumbledore sesegera mungkin. Ia menutup matanya pelan dan membukanya lagi sebelum kembali berbicara. "Energi pembatas ini... sangat murni. Sihir hitam Voldemort takkan mampu mendeteksinya, begitupula para Pelahap Maut. Mereka takkan mencoba merekrut orang-orang dari sana. Kecuali--"

"Kecuali orang-orang itu menawarkan kekuatan mereka sendiri," sambung Moody dengan masam.

Dumbledore tersenyum. Ia mengayunkan tongkat sihirnya sekali lagi. Buku kecil yang sedang dibaca Snape tiba-tiba meloncat ke udara, melayang selama beberapa saat di sana, dan menghilang dengan diikuti percikan api. Ekspresi datar Snape yang diterjemahkan sebagai kejengkelan oleh Dumbledore tidak menghilangkan senyum di wajah pria tua itu. Ia menyimpan tongkat sihirnya di balik jubah dan menyelesaikan pembicaraan mereka--yang artinya menutup topik shinobi.

"Masih banyak hal yang belum kita ketahui dari mereka. Jadi, kuharap kita semua bisa memperlakukan mereka dengan baik," ungkapnya ringan.

Para anggota Orde mengiakan dengan sedikit suram, terutama Molly Weasley. Mereka berjanji untuk memberitahu masalah ini pada anggota lain yang tidak hadir. Di luar ruangan, terdengar suara teriakan kaget dan beberapa umpatan tentang kucing bodoh yang tentunya langsung membuat Molly bergegas keluar dengan menyerukan nama Fred dan George. Ibu dari sang anak kembar itu mengomel mengenai mereka yang akan diberi hukuman kalau mencoba menguping lagi. Ketika dua anak itu menghilang secara spontan dari hadapannya, Molly mengomel tentang larangan berapparate di dalam rumah.

Keributan itu mereda selama beberapa saat. Severus Snape sudah pergi mengikuti Dumbledore. Nymphadora Tonks--perempuan berambut ungu yang kini telah berubah menjadi rambut merah menyala--keluar dari ruangan dan melambaikan tangan ketika melihat Ginny Weasley yang tengah berdiri di tepi tangga sambil menggerutu tentang saudara-saudara bodoh.

Alastor Moody, Arthur Weasley, dan Kingsley Shaklebolt mengikuti kepergian Tonks, menyebabkan ruang rapat itu menyisakan seorang saja yang tak lain adalah Sirius Black.

Sirius mengerling pada Daily Prophet yang menampilkan wajah Dumbledore yang menutup pintu masuk Hogwarts. Hembusan napas keluar dari mulutnya. Ia menyenderkan diri pada punggung kursi, kembali merenungkan kelompok orang bernama shinobi ini.

Sebuah pertanyaan menelusup di kepalanya ketika ia memikirkan seberapa besar kemampuan orang-orang dari Dataran Tersembunyi. Tawa kering keluar dari mulutnya ketika ia semakin memikirkan ide gilanya.

Tidak mungkin, pikirnya. Apakah aku seputus-asa itu kalau meminta mereka mengurus Voldemort?

Jawabannya adalah iya. Sirius merasa cukup putus asa sampai berpikir bahwa melibatkan shinobi dalam Orde merupakan ide yang bagus. Ia juga cukup putus asa ketika memikirkan bahwa orang-orang itu mungkin bisa membantu mereka dalam perang yang kemungkinan akan meledak di waktu dekat ini.

Rasa putus asanya sebenarnya sangat normal karena tidak ada yang tidak merasa demikian di situasi suram yang gelap seperti sekarang. Voldemort telah menebar benih keputusasaan meski Kementerian Sihir bersikeras menyembunyikannya. Dunia Sihir akan tenggelam sedikit demi sedikit kalau tidak ada pihak yang mengulurkan tangan untuk membantu mereka. ]

TBC