Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. Harry Potter tetap milik J.K. Rowling

Warning : FemNaru, semi-canon, banyak narasi xD

A/N : terima kasih banyak reviewsnya! untuk saransaran yang masuk, bakal kupertimbangkan. sekali lagi makasih~

Selamat Membaca!

ooOoo

Sejak era baru dunia shinobi dimulai, para ninja Elemental Nations cenderung jarang mendapatkan misi-misi besar. Pekerjaan mereka terfokus pada pembangunan desa. Mulai dari perbaikan infrastuktur, perekapan data ninja yang selamat dari perang dan ninja pelarian perang, penguatan kerjasama antara Negara dengan desa, masalah diplomasi, hingga masalah pendidikan untuk meluluskan Genin menggunakan kurikulum baru.

Beberapa ninja dari klan-klan khusus, seperti Yamanaka, diberi kehormatan untuk membantu para pahlawan perang yang mengalami trauma berat. Mereka dipercaya untuk merawat anak-anak yang terguncang karena ditinggal oleh orangtuanya sementara beberapa panti asuhan diberi tanggungjawab untuk menampung mereka hingga mereka menginjak usia legal--berstatus Genin bagi shinobi dan berusia tujuh belas bagi warga biasa.

Dengan adanya keadaan ini, peraturan yang mengikat para ninja tidak lagi terlalu ketat dan cenderung lebih fleksibel, terlebih dengan Hatake Kakashi sebagai Hokage. Sifat bawaan pria itu yang cenderung santai ternyata mempengaruhi beberapa peraturan ninja.

Salah satu peraturannya adalah pemberian dan pelaporan misi yang dimulai pukul sembilan pagi alih-alih pukul tujuh. Sebelumnya, peraturan ini bukanlah peraturan resmi. Tapi, karena banyaknya ninja yang tidak bisa menemui Kakashi sebelum pukul sembilan, maka para ninja Konoha sepakat bahwa mereka sebaiknya menemui Hokage setelah pukul sembilan.

Peraturan tak tertulis ini sudah terkenal oleh hampir seluruh ninja Konoha, salah satunya sang pahlawan perang berambut pirang yang tengah berusaha mematikan jam beker di nakas samping tempat tidurnya. Suara alarm dari jam itu sudah berdering sejak tiga puluh menit yang lalu, namun pemiliknya masih belum membuka mata meskipun tangannya sibuk meraba-raba nakas.

Matahari pagi sudah bersinar sejak beberapa jam lalu. Cahayanya menelusup melalui celah jendela yang dibiarkan terbuka sejak malam, menyinari sebuah tempat tidur berukuran sedang yang ditempati sesosok orang dengan hampir seluruh bagian tubuh tertutup oleh selimut. Di balik selimut terlihat helaian rambut panjang berwarna keemasan yang tampak terlampau terang ketika terkena sinar matahari. Sebelah kakinya yang tidak tertutup selimut menggantung dari tempat tidur, memperlihatkan kaki jenjang berkulit kecoklatan terang yang sering diidam-idamkan para perempuan kaukasia modern.

Jam beker yang menunjukan pukul delapan itu masih belum berhenti berdering. Sosok yang masih--berusaha--tidur itu terpaksa membuka mata ketika tangannya tidak berhasil meraih sumber keberisikan yang terletak di ujung nakas. Ia mengerang ketika penglihatannya langsung diserang oleh cahaya matahari yang amat menyilaukan. Dengan wajah masam, Naruto duduk dan menyingkap selimutnya. Deringan menjengkelkan itu masih belum berhenti, membuatnya terpaksa bangkit dari tempat tidur dan mematikan jam beker sialan yang menganggu waktu tidurnya.

Ia hampir tersandung oleh ceceran scroll dan sebuah buku besar yang tergeletak di lantai, sebelum kembali menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Matanya masih menutup. Ia hendak kembali terlelap ketika perutnya meraung kelaparan.

Suara berat yang tertawa di kepalanya membuatnya menghela napas panjang.

Tutup mulut, Fuzzball.

Berhenti bermalas-malasan, Naruto. Bangun dan isilah perutmu yang merengek menjengkelkan.

Aku masih ingin tidur. Tidak usah banyak bicara, Kurama. Tidur saja sana.

Aku akan masih tidur kalau perutmu tidak bergema seperti goa runtuh.

Kenapa kau sangat berisik? Aku masih ingin tidur karena buku dan gulungan-gulungan itu membuat kepalaku sakit!

Berhentilah merengek seperti bocah manja! Hari ini kau punya misi, 'kan? Angkat bokong malasmu dan mulailah bekerja agar kepalamu tidak terus menerus menggerutu dan mengganggu meditasiku.

Aku hanya masih ingin tidur dan tidak menggerutu!

Yang barusan itu apa?

"Tidak bisakah kau diam?!"

Suara teriakan yang serak memenuhi kamar apartemen yang tadinya sunyi. Suara gelak tawa kembali terdengar di kepala Naruto, bersamaan dengan perutnya yang kembali berbunyi. Entah apa yang kembali dikatakan oleh Kurama di dalam kepalanya, tapi apa pun itu berhasil membuat Naruto bangkit. Ia menggosok matanya sambil menguap, kemudian mengerjap guna mendapatkan penglihatan yang lebih jelas.

Matanya memindai gulungan-gulungan jutsu, lembaran-lembaran kertas, serta sebuah buku besar bertuliskan Hogwarts : A History yang tergeletak di lantai samping tempat tidurnya. Ia meringis ketika teringat aktivitasnya tadi malam--atau tadi pagi. Entahlah. Yang jelas, aktivitas itu berhasil menyita waktu tidurnya secara penuh sehingga ia hanya bisa terlelap selama dua jam sebelum berangkat misi.

Sebuah misi besar jangka panjang yang merepotkan.

Sebuah misi yang mengharuskannya menamatkan buku sejarah dari sekolah sihir yang tebalnya tidak karuan.

Sebuah misi yang mengharuskannya kembali mempelajari berbagai jutsu segel peninggalan ibunya yang dulu ia ambil di puing-puing Uzushiogakure pasca perang melawan Madara--atau Kaguya, masa bodohlah.

Sebuah misi yang akan menjauhkannya dari ramen.

Sebuah misi yang akan membebaskannya dari berbagai buku politik yang harus ia pelajari untuk bisa mencapai impiannya.

Sebuah misi yang...

Oh, definisi terakhir tidak terdengar buruk. Terbebas dari buku-buku politik dan seluk beluk diplomatik dan antek-anteknya terdengar sangat menggiurkan. Selama dua tahun terakhir, Naruto diharuskan mengejar materi Chūnin dan Jōnin. Kakashi-sensei memaksanya mempelajari teori-teori itu sebelum melegalkan statusnya sebagai Jōnin.

Ia berkata pada Naruto bahwa para tetua desa sangat memegang peraturan, terutama bagi mereka yang akan menjadi pemimpin desa. Mereka sangat menghargai sistem ninja Konoha yang telah tercipta sejak masa Shodaime dan akan menolak siapa pun calon Kage yang tidak punya bakat memerintah desa dengan baik meskipun calon itu sangat kuat dalam urusan bertarung.

Mereka menginginkan dan membutuhkan seorang pemimpin yang cerdas--atau setidaknya tahu bagaimana mengoperasikan desa. Naruto yang dulu menghabiskan dua tahun berkelana dengan Jiraiya, sibuk memberantas Akatsuki, sibuk menyadarkan kepala batu Sasuke, dan sibuk berperang, jelas tidak punya waktu untuk belajar mengoperasikan desa. Keadaan ini mengharuskannya memikul beban belajar secara berlipat, meskipun Kakashi sudah meringankan ujian Chūnin dan Jōnin bagi Naruto sehingga ia hanya perlu mengerjakan selembar soal.

Yeah, selembar soal yang jawabannya memerlukan lima buah kertas sekaligus. Terutama untuk ujian Jōnin yang ia ambil setengah tahun lalu sebelum kemudian ia berguru pada Shizune untuk keperluan pengetahuan Kage.

Naruto lebih memilih bertarung sampai pingsan daripada harus mempelajari buku-buku itu lagi. Untungnya, ia memiliki tekad kuat untuk tidak menyerah. Jadi... begitulah. Ia selalu menghabiskan hari untuk berkencan dengan buku, mempelajari jutsu peninggalan ayah dan ibunya, membantu Iruka-sensei, dan mengambil misi-misi yang secara khusus ditujukan kepadanya.

Dua tahun ini Naruto cukup sibuk. Misi panjang yang ia terima kali ini mungkin akan sedikit meringankannya dari kertas-kertas, meskipun Naruto juga tidak yakin setelah membaca deskripsi misi dan informasi-informasi tambahan--seperti buku tebal menyebalkan--menyangkut keperluan misi. Tapi, melihat dari ekspresi Kakashi yang tampak sangat memerlukannya, Naruto jelas tidak bisa menolak.

Membereskan ceceran gulungan jutsu dan berbagai barang lain yang berserakan di lantai kamarnya, Naruto menyimpan gulungan jutsu itu di sebuah gulungan segel penyimpanan. Ia meletakan buku tebal yang tadi malam ia baca di atas nakas, membereskan tempat tidurnya sekilas, dan melepas celana pendek dan kaus putih kebesaran yang dipakainya sebelum kemudian melesat ke kamar mandi.

Tidur hanya dalam dua jam sebenarnya bukan masalah besar baginya. Naruto adalah ninja. Ia sudah terbiasa tidak tidur hingga berhari-hari. Kenyamanan kasurlah yang membuatnya malas. Jadi, ketika air dingin mengguyur tubuhnya, Naruto sudah tidak lagi mengantuk. Kesadaran penuh sudah didapatkannya dan ia sudah mulai mengingat-ingat deskripsi misi yang ia dengar kemarin setelah Shikamaru memintanya untuk menghadap Hokage.

Tidak sampai sepuluh menit hingga Naruto keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya dari dada hingga paha. Ia melayangkan pandangan pada seragam ANBU lengkap dengan topeng porselin bermotif hewan yang terbungkus rapi oleh plastik bening. Alisnya menyatu, Naruto ingat kalau kemarin Shikamaru sempat memberitahu sesuatu tentang misi yang mengharuskannya memakai seragam. Ia mengira seragam yang dimaksud adalah seragam standar Jōnin.

Jadi, kenapa ANBU?

Selain itu--matanya mengernyit ketika memperhatikan topeng dengan seksama--apakah topeng itu bergambar rubah?

Naruto mendengus meskipun bibirnya membentuk seringaian. Ia segera membuka plastik dan mengenakan seragam yang ada di dalamnya--mengabaikan fakta bahwa benda ini tadi tidak ada di nakas kamarnya. Ekspresinya merengut ketika menyadari ketiadaan warna jingga di sana, namun ia tetap menyambar sarung tangan hitam untuk digunakan di kedua lengannya--setelah membalut tangan kanan artifisialnya menggunakan perban, tentu saja. Naruto memasang flak jacket abu-abu, mengikatkan perban di paha kanannya, dan menyambar tiga buah kantong ninja untuk diikatkan di pinggang.

Kakinya melangkah ke depan kaca lemari, mengamati penampilan barunya yang tampak asing, sebelum mengedikan bahu tidak peduli. Tak ketinggalan, ia menyisir rambut, mengikatnya di belakang kepala, dan menyambar jubah hitam yang juga merupakan seragam ANBU. Dimasukkannya beberapa perlengkapan dan keperluan lain ke dalam gulungan penyimpanan, ia menyimpan gulungan itu ke dalam jubah. Matanya memindai ruang kamarnya selama beberapa saat, memikirkan tentang misi yang akan memakan waktu selama satu tahun.

Saat-saat seperti ini selalu membuatnya merasa melankolis, namun Naruto segera menyingkirkan perasaan itu. Ia adalah ninja, demi para Kami. Menjalankan misi sudah menjadi tanggung jawabnya.

Mengerlingkan mata sekilas pada foto tim tujuh, Naruto sedikit mengerutkan alisnya. Ia menggelengkan kepala, memakai sandal ninjanya, dan menggantungkan topeng bergambar rubah itu di pinggang sebelum meninggalkan apartemen.

Pikirannya terfokus pada dunia di luar barrier yang dikatakan Kakashi. Ia juga memikirkan tim 'besar' yang akan dikirim ke sana. Kakashi tidak memberitahu Naruto siapa saja yang akan ikut selain Shikamaru, Temari, dan--err--cucu Tsuchikage? Entahlah, ia tidak ingat siapa namanya. Kemarin ia hanya menemui Shikamaru dan Kakashi. Sang Hokage hanya menceritakan kondisi 'barrier' saja sedangkan penjelasan rinci mengenai misi berada di dalam gulungan dan buku tebal itu. Naruto sudah membaca hasil pertemuan Kage tentang barrier dan misi yang akan ditanggungnya dan ia juga sudah membaca seperempat dari buku tebal itu. Meskipun begitu, ia masih belum mengetahui siapa saja yang akan terlibat di dalam misi ini.

Lamunannya terpecah ketika perutnya kembali bergemuruh. Kurama mengejeknya untuk kesekian kali, membuatnya memutuskan untuk mampir ke Ichiraku sejenak. Kalau ingatannya tidak salah, ia masih punya setengah jam sebelum pukul sembilan. Setengah jam di mana ia bisa menghabiskan sepuluh mangkuk ramen atau bahkan lebih.

Seulas senyum tercipta di bibirnya ketika ia mendaratkan kaki di depan kedai makanan favoritnya. Ia akan benar-benar merindukan tempat ini.

oOo

Seluruh gulungan tua berisi pengetahuan mengenai dunia sihir seharusnya cukup membuat Naruto mengerti keadaan dunia luar yang akan didatanginya. Ia sudah mengerti dasar-dasar perbedaannya, mulai dari perbedaan bahasa hingga perbedaan teknik jutsu. Gulungan tua yang diberikan Kakashi juga memberinya informasi tentang pemerintah sihir serta kultur sihir yang tersembunyi dari kehidupan warga biasa yang tidak memiliki kemampuan sihir.

Selain itu, ia juga sudah mempelajari peta wilayah yang sukses membuatnya sakit kepala. Peta wilayah itu yakni peta negara yang disebut United Kingdom untuk memudahkannya mendeteksi lokasi barrier. Ia juga sudah memindai layout lokasi serta bangunan Hogwarts untuk kepentingan penjagaan. Segalanya sudah coba ia pelajari selama semalam saja dengan bantuan Kage Bunshin.

Naruto kira Kakashi sudah memberitahu segala detail misi ini padanya, mulai dari nukenin yang kabur ke dunia luar, misi penjagaan sekolah, hingga misi perbaikan barrier.

Namun, ada satu hal yang belum dibicarakan Kakashi padanya. Satu hal inilah yang membuatnya mematung karena merasa sedikit terguncang.

Saat itu, Naruto berharap pendengarannya salah.

Sayangnya, ia tidak pernah salah dengar. Tidak dengan pendengaran ninjanya yang ditambah dengan ketajaman pendengaran Kurama.

"Perang?" tanyanya dengan mata melebar. Anggukan Kakashi membuat Naruto menyatukan alis, ia kembali melontarkan pertanyaan untuk meminta konfirmasi. "Para nukenin dicurigai bergabung dengan siluman ular ini? Vol--voldo--volda--?"

"Voldemort."

"Ya dia," timpalnya cepat. Ia masih menatap Kakashi dengan pandangan tidak percaya. "Orang ini adalah dalang pecahnya perang dan kau tidak membolehkanku menghabisinya?"

Kakashi kembali mengangguk.

"What the fuck?!" sentak Naruto, merasakan amarah yang tiba-tiba melingkupinya. Ia menatap gurunya dengan nanar. "Kau memintaku membiarkan orang-orang meninggal ketika aku masih bisa membantu mereka--"

"Misi, Naruto," potong Kakashi dengan suara tenangnya yang biasa. Ia bersender pada punggung kursi, mengamati mantan muridnya yang tengah berusaha mengatasi kemarahannya. Naruto memang terkenal ceria. Tapi, semua orang juga tahu bahwa ia mudah terpancing amarah, terutama untuk hal-hal yang sensitif.

Beberapa dari sekian hal sensitif itu adalah masalah perang. Perang telah menolehkan luka yang dalam, entah Naruto ingin mengakuinya atau tidak. Ia mungkin terlihat baik-baik saja dengan semua pencapaiannya. Ia mungkin menikmati bagaimana warga Konoha mulai menghargainya, bagaimana mereka mulai menerimanya dan menghormatinya. Namun, luka bekas peperangan--luka mental--tetaplah ada. Kemenangan para shinobi di perang besar terakhir tidaklah dibayar dengan harga yang murah. Mereka kehilangan banyak nyawa. Nyawa teman-teman mereka, nyawa anak-anak mereka, nyawa para orangtua...

Kemenangan yang mereka capai, perdamaian yang tengah berjalan, tidaklah mereka dapatkan dengan gratis. Semua orang menyadarinya. Kakashi amat menyadarinya.

Ia maklum dengan reaksi Naruto. Begitupula dua orang lain yang berada di dalam ruangan tersebut.

Shikamaru mengerlingkan pandangan pada Kakashi--yang hanya diberi jawaban berupa isyarat untuk menunggu. Ia langsung mengangguk dan meluruskan pandangannya, berusaha untuk tidak ikut campur dan membiarkan Kakashi menangani Naruto.

"Klien meminta perlindungan untuk sekolahnya, untuk para murid," ungkap Kakashi melanjutkan. Ia menatap mata biru langit yang masih terpatri padanya. "Di sana, terdapat seseorang yang spesial. Seseorang yang terikat dengan Voldemort meski ikatan mereka masih belum bisa dipastikan. Yang jelas, klien kita khawatir jika Voldemort mati, anak ini juga akan terpengaruh."

Penjelasan tersebut terlalu rumit untuk dicerna oleh Naruto.

Ia mengerjap.

"Huh?"

Kemarahannya tampak menguap dan kini digantikan dengan kebingungan.Shikamaru menahan diri untuk tidak menepuk dahi. Ia sudah tidak tahan untuk diam saja sekarang.

"Anak ini, dia mempunyai ikatan khusus dengan Voldemort yang kemungkinan bisa membahayakannya kalau Voldemort dibunuh."

"Maksudmu, dia bisa ikut mati jika aku membunuh Voldy?" tanyanya dengan nada ragu bercampur bingung. Segala ketegangan di postur tubuhnya sudah mereda. Naruto tak lagi di ambang kemarahan. Ia kini sudah sedikit rileks meski wajahnya masih muram dan bingung.

Kakashi menahan senyum ketika menyadari betapa sederhananya cara berpikir Naruto. Tampaknya, ada beberapa hal yang akan tetap sama meski dunia secara perlahan mulai berubah.

Membaca surat terakhir yang diterimanya dari Albus Dumbledore,Kakashi tidak menyangka bahwa ia akan mendapat balasan secepat ini. Di dalam surat itu dijelaskan kondisi khusus mengenai orang yang dikenal dengan Pangeran Kegelapan--nama yang membuat Kakashi mengernyit heran--dan berbagai kemisteriusan mengenainya.

Kemisteriusan yang dimaksud adalah rahasia dibalik sihir hitam yang dimilikinya. Dumbledore berkata bahwa ia masih mencari tahu masalah Voldemort dan kemungkinan besar fokusnya akan tertuju pada masalah tersebut. Untuk itulah ia memerlukan bantuan dari para ninja untuk menjaga sekolah dan murid-murid dari ancaman Voldemort serta para pengikutnya yang dikenal dengan Pelahap Maut.

Di dalam surat, ia juga membahas insiden berbahaya yang sering menimpa Hogwarts sejak empat tahun silam--semuanya mengacu pada kehadiran sang penyihir hitam. Segala yang disebutkan di sana mau tak mau membuat Kakashi was-was. Ia benar-benar tidak sedang berada dalam suasana hati yang ingin menghadapi penyihir gila yang tiba-tiba memutuskan untuk berkunjung ke dunia shinobi, sungguh.

Bersamaan dengan surat itu, Dumbledore juga mengirimkan beberapa barang yang akan mendukung keperluan misi. Salah satu dari beberapa barang tersebut adalah alat transportasi yang disebut portkey.

"Maa, kurang lebih seperti itu," ujar Kakashi pada Naruto. Ia mencoba meresapi isi surat yang barusan dibacanya sebelum kembali berbicara. "Tepatnya, aku juga tidak tahu. Yang jelas, orang ini tidak bisa dibunuh olehmu ataupun orang lain untuk sekarang ini. Rahasia dari kekuatannya masih belum diketahui. Kalaupun ia dibunuh olehmu, masih ada kemungkinan bahwa ia bangkit lagi. Albus Dumbledore hanya menjelaskan sebatas ini padaku. Kau bisa menanyakannya sendiri nanti kalau masih ingin tahu."

Penjelasan Kakashi mengenai kebangkitan dan 'tidak bisa dibunuh' benar-benar mengingatkan Naruto pada Orochimaru. Ia mengernyit tidak senang ketika mengingatnya. Orang itu masih berada dalam pantauan Konoha--tepatnya pantauan Yamato-taichō--pasca peperangan. Ia masih bisa dibunuh, tapi menurut pengetahuan Naruto, Orochimaru juga dijamin bisa kembali bangkit.

Peneliti gila itu abadi.

Abadi.

Membereskan isi kepalanya yang sudah melantur ke mana-mana, Naruto mengangguk pada Kakashi.

"Dimengerti," ujarnya pelan. Ia kemudian menolehkan kepala pada seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya. Orang ini menggunakan topeng berbentuk merpati dengan jubah hitam yang menutupi kepalanya. Naruto memperhatikannya sesaat, sebelum kemudian menyeringai ketika melihat sebuah tantō yang tersampir di punggungnya.

Ditepuknya bahu lelaki itu.

Tidak ada reaksi darinya.

Naruto pun angkat bicara.

"Yo, Sai. Ide seragam merepotkan ini berasal darimu?" tanya Naruto sambil memiringkan kepalanya untuk menatap sosok bertopeng di sampingnya dengan seksama. "Kau benar-benar ingin menyebarkan ajaran senyum palsumu melalui topeng atau bagaimana?"

Tanpa bergerak sedikit pun, sebuah suara yang familiar di telinga Naruto terdengar dari balik topeng. Ia masih berposisi seperti sedia kala meski keberadaan Naruto yang cukup dekat dengannya akan sangat menganggu tiap orang biasa. Meskipun begitu, orang ini bukanlah orang biasa. Ia sudah terbiasa untuk menjaga reaksinya. Ia sudah terbiasa bertindak untuk patuh. Ia juga sudah biasa menghadapi perempuan pirang yang dulu sempat berkelahi dengannya di awal pertemuan mereka--meskipun dirinya yang memulai perkelahian.

Berdiri tegap dengan posisi tangan di balik punggung--seperti gerak istirahat dalam baris-berbaris--sosok bertopeng merpati itu menatap lurus Hokage melalui celah topengnya.

"Hokage-sama, saya sudah memberitahu bahwa penyamaran ini takkan berhasil. Naru-chan terlalu aktif untuk memakai atribut ini."

Hanya ada dua orang yang memanggil Naruto dengan nama Naru-chan. Yang pertama adalah ayahnya dan yang kedua adalah seseorang dengan mental terbelakang karena terlalu lama berada dalam asuhan orangtua menjengkelkan yang untungnya sudah mati.

Orang yang dimaksud Naruto adalah Sai.

Tebakannya sama sekali tidak meleset.

Nada datar dari suara Sai dibalas dengan nada santai khas milik Kakashi. Kemarin sore, ia dan mantan anggota Root ini sudah mendiskusikan masalah ANBU--tepatnya mengenai beberapa peraturan menyangkut kelas khusus tersebut.

Peraturan yang mereka diskusikan yakni Aturan Nomor 21 Tentang Identitas Anggota ANBU dan Aturan Nomor 30 Tentang Atribut ANBU. Di dalam sana disebutkan bahwa ANBU selaku shinobi elit bawahan Hokage hanya dibolehkan membuka identitasnya atas izin Hokage. Identitas ini meliputi nama, posisi, ataupun wajah mereka.

Untuk peraturan nomor tiga puluh terdapat tiga sub-poin penjelas. Pertama, disebutkan bahwa tiap anggota ANBU berhak mendapatkan atribut khusus yang diberikan oleh desa. Kedua, atribut khusus ini digunakan oleh mereka yang secara legal telah diposisikan sebagai anggota kelas elit tersebut. Ketiga, poin kedua bisa disesuaikan ketika terdapat kondisi khusus.

Berpegang pada aturan di atas, Kakashi mengategorikan misi ini sebagai kondisi khusus. Hal tersebut dikarenakan oleh misi yang memerlukan keamanan identitas setingkat ANBU sedangkan pelaksana misi bukan termasuk anggota. Tanpa pengaplikasian sub-poin ketiga, seorang Jōnin pengampuh misi yang bukan anggota kelas elit itu takkan diperbolehkan menggunakan seragamnya.

Semua masalah ini mungkin terdengar sepele, namun seragam ANBU bisa dibilang sangat penting karena merupakan identitas dari kelas khusus. Kelas khusus yang membuat mereka menjadi orang yang tidak biasa. Mereka adalah pembunuh terlatih. Mereka mengerti tentang kotornya dunia shinobi. Mereka adalah orang-orang yang merelakan kedamaian pribadinya untuk desa dengan menjalankan tiap misi berbahaya yang cenderung membuat mereka harus berlumuran darah.

ANBU itu gelap. Menjadi bagiannya tidak hanya diperlukan kemampuan bertarung yang handal. Itulah mengapa kelas itu dinamakan kelas elit. Sebutan tersebut merupakan bentuk penghargaan dari desa untuk mereka. Kemampuan mereka memang tinggi, tapi masih banyak juga ninja non-ANBU yang berkemampuan tinggi, contohnya adalah para Sannin Konoha.

Mereka jelas-jelas lebih hebat dari para ANBU. Tapi, mereka bukan anggota kelas itu karena mereka tidak bekerja dalam bayangan yang gelap.

Jadi, sekali lagi, menjadi ANBU tidak hanya diukur oleh kemampuan. Namun, juga oleh kesukarelaan untuk menanggung segala beban jika suatu saat mereka diharuskan melaksanakan misi yang akan merusak nama mereka jika orang-orang mengetahui identitas di balik topeng.

Kakashi sudah mengenal esensinya. Ia juga sudah merasakan besarnya tanggungjawab dari sana. Untuk itulah Kakashi yang dikenal tidak terlalu taat pada peraturan kini tetap berpegang pada aturan sebelum memutuskan sesuatu menyangkut kelas elit tersebut.

"Tidak masalah, Hato," balas Kakashi pendek. Ia mengamati Naruto sekilas. "Kita hanya mencoba untuk menyembunyikan identitas sebelum sepenuhnya mempercayai mereka. Dan untukmu, Naruto, kode namamu adalah Kitsune. Kuharap kau tidak keberatan?"

Seringaian Naruto sudah menjawab pertanyaan Kakashi.

Kakashi mengangguk puas dengan senyum ikonik yang menghiasi kedua matanya.

"Cukup beritahu mereka kode namamu dan pastikan topengmu tetap terpakai selama misi. Kau dan yang lain hanya boleh menampilkan wajah di depan klien. Ada lagi yang ingin ditanyakan?"

"Apakah kau membolehkanku ikut campur lebih lanjut kalau terdapat musuh yang membahayakan sekolah dan para muridnya? Misalnya saja musuh yang berada di pemerintahan.Mereka sedang berada di ambang perang, benar? Kupikir, pasti ada beberapa di antaranya yang menyusup di otoritas besar seperti pemerintahan," ungkap Naruto ragu.

Pertanyaan itu sudah diprediksikan oleh Kakashi. Ia sudah menyiapkan jawabannya.

"Keputusan itu berada di tangan kapten tim, Naruto. Hanya kapten yang berhak memutuskan tindakan menyangkut keperluan misi. Ia akan dibantu oleh Shikamaru sebagai penasihat."

Kini, kedua alis Naruto mengernyit. "Siapa kaptennya? Di mana anggota yang lain?"

"Kau akan segera mengetahuinya. Mereka semua sudah berada di Hutan Kematian."

Naruto sudah hendak bertanya alasan kenapa mereka ada di sana. Namun, ia sudah terlebih dahulu diinterupsi oleh Shikamaru. Lelaki dengan rambut spike yang diikat kuda itu menjelaskan tentang mereka yang akan ke sana menggunakan sebuah alat yang berada di dalam hutan. Ia mengakhiri penjelasan dengan meminta Naruto untuk segera bergegas karena waktu yang semakin menipis. Entah apa yang dimaksud Shikamaru, Naruto memilih untuk tidak memikirkannya.

Mereka pergi dari kantor Hokage bersama dengan Kakashi, Shikamaru, dan seseorang yang diyakini Naruto sebagai Sai. Perjalanan menuju Hutan Kematian tidaklah memakan banyak waktu. Keempat orang tersebut sampai di sana kurang dari lima menit dengan Kakashi yang memimpin jalan. Mereka melompati beberapa pohon dan melewati hewan yang cukup besar sebelum akhirnya penglihatan Naruto menangkap kumpulan orang dengan jubah hitam. Mereka semua memakai topeng seperti halnya Naruto sekarang ini. Entah siapa saja yang ada di sana, Naruto kurang mengenalinya karena mereka semua telah menekan aliran chakranya sehingga sulit dikenali.

Ketika mendarat beberapa meter dari pohon ek yang cukup besar, Naruto melihat Temari menganggukan kepalanya pada Kakashi. Perempuan itu berpakaian biasa layaknya Shikamaru. Ia tidak memakai jubah ataupun topeng merepotkan yang ditujukan untuk menyembunyikan identitas mereka. Selain Temari, Naruto juga mengenali seseorang yang tentunya takkan luput dari penglihatannya.

Bagaimana tidak? Ia akan selalu mengenali Akamaru. Selalu.

Di samping Akamaru, Kiba memakai jubah hitam sepertinya dan juga topeng. Namun, tidak seperti Naruto, topeng yang dipakai Kiba bukanlah topeng berbentuk hewan. Topeng yang digunakan Inuzuka mengingatkan Naruto pada hunter-nin khusus Kirigakure. Yang membedakannya dengan topeng Kiri hanyalah ketiadaan simbol dari desa tersebut.

Dengan jubahnya yang belum ditudungkan ke kepala, semua orang di sana tampak langsung mengenali Naruto hanya dengan melihat rambutnya. Kiba melambaikan tangan sementara Akamaru menggonggong. Naruto bisa membayangkan seringaian laki-laki itu dari balik topeng.

"Lama juga kau, Naruto," ujar Kiba ketika Naruto mendekat. Sekali lagi, Naruto bisa membayangkan seringaian serta gigi taringnya yang amat runcing. "Kecekatanmu mulai menurun karena terlalu lama berkencan dengan kertas-kertas?"

Memutar bola matanya, Naruto menaikkan tudung jubahnya untuk menutupi kepala.

"Tutup mulut, Dog breath," ujarnya dengan nada jengkel yang main-main. "Aku adalah orang penting, tidak sepertimu."

"Sangat antusias untuk liburan, huh?" timpal Kiba sekali lagi, tidak menyadari seorang yang tengah menatapnya kesal dari samping.

Sebelum Naruto sempat menjawab, Kiba sudah terlebih dahulu meringis kesakitan karena mendapat sikutan dari seseorang di sampingnya.

"Baka, kau tahu tujuan dari penggunaan topeng ini?" seru orang yang barusan menyikut Kiba. Suaranya sedikit melengking meskipun juga terdengar lembut. Naruto mengenalinya sebagai suara Ino. "Jangan panggil dia langsung dengan namanya."

"Geez. Kita semua sudah tahu identitas satu sama lain. Tidak perlu kaku begitu," gerutu Kiba membela diri. Naruto memandang Kiba dan Ino bergantian, menyadari topeng keduanya yang teramat mirip. "Lagi pula aku dan kau tidak mendapatkan kode nama. Kita juga masih berada di sini. Semua orang tahu siapa pemilik rambut pirang terang menyilaukan semacam dia," sambungnya sambil mengedikan dagu pada Naruto.

Naruto merengut, ia sudah hendak menyela ejekan Kiba ketika seseorang yang tengah berdiri di depan sebuah batu yang cukup besar mendahului Naruto untuk berbicara.

Suaranya familiar. Teramat familiar. Naruto membutuhkan seluruh kekuatan tekad untuk tidak segera menerjang orang itu dan menyerukan berbagai omelan kepadanya.

Bagaimana bisa dia tidak kepikiran bahwa orang ini ikut misi?

"Jaga sikapmu, Inuzuka. Biasakan untuk mulai berbicara dengan kode nama kecuali kau ingin menggagalkan misi karena tidak sengaja bertindak bodoh," ungkap suara itu datar, namun berisi ketegasan yang cukup mengintimidasi. Kiba langsung mengatupkan mulut meski ia masih merasa jengkel. "Portkey ini akan aktif tiga menit lagi. Ingat-ingat briefing yang sudah kuberikan."

Lima orang berjubah hitam mengangguk. Naruto mengerutkan dahi. Ia bisa mengenali Kurotsuchi--cucu Tsuchikage, ia mengetahui namanya setelah diberitahu Kakashi--yang menggunakan topeng serupa seperti Ino dan Kiba. Kemudian orang bertopeng siput yang Naruto tebak sebagai Sakura, dan seseorang dengan topeng kucing. Orang terakhir ini sama sekali tidak dikenal oleh Naruto. Postur tubuhnya mungil. Ia adalah yang terpendek diantara kelompok itu. Dari ciri-cirinya, Naruto memprediksikan bahwa dia bukanlah ninja seangkatannya. Naruto mengenali semua teman sepantarannya. Orang ini bukanlah teman sepantarannya.

Mengalihkan pikirannya dari sosok bertopeng kucing, Naruto mengikuti orang-orang--termasuk Shikamaru dan Temari--yang telah menghampiri orang yang barusan menegur Kiba. Mereka berdiri melingkari sebuah batu hitam yang cukup besar. Entah apa maksudnya, Naruto memilih untuk tutup mulut dan menelusupkan diri di antara Shikamaru serta orang yang ia prediksi sebagai Kurotsuchi. Tatapannya terarah pada sosok dengan topeng berbentuk burung gagak.

Gagak. Tentu saja.

Betapa sangat tidak mengejutkan.

"Kau kapeten timnya?" tanya Naruto langsung. Suranya tidak terdengar ceria ataupun bersahabat seperti biasa. Beberapa orang yang tidak terbiasa dengan sisi lain Naruto yang ini langsung menoleh padanya. Mereka menatap Naruto terkejut campur bingung dari balik topeng.

Yang ditanya hanya mengangguk pendek. Ia mengabaikan Naruto dengan mudah dan memberi intruksi pada anggota timnya untuk mengulurkan tangannya guna menyentuh batu hitam tersebut ketika ia mulai menghitung.

Di belakang sana, Kakashi menganggukan kepala pada Naruto. Ia menepuk bahu sang 'kapten' dan memberi ucapan penyemangat pada mereka sebelum Naruto mengikuti intruksi seperti anggota yang lain.

Mereka semua menyentuh permukaan kasar batu itu bersama-sama. Awalnya, tidak ada yang terjadi sebelum kemudian bagian pusar Naruto terasa seperti ditarik dan ia seperti dihisap ke dalam dimensi lain. Perasaan tidak enak melingkupinya. Kepalanya berputar-putar. Ia merasa pening dan mual ketika tubuhnya seperti ditekan dengan amat kencang sehingga membuat tubuhnya setipis kertas. Pandangannya memburam. Satu-satunya hal yang ia lihat hanyalah bentuk spiral tak berujung yang membuat kepalanya berdenyut pusing.

Setelah melewati sepuluh detik yang terasa sangat lama, Naruto mulai merasakan udara segar di sekelilingnya. Kesempatan itu langsung ia gunakan untuk mengambil napas dalam-dalam. Kepalanya masih terasa sangat pening. Ia juga merasakan bagaimana isi perutnya yang protes ingin keluar. Selama delapan belas tahun hidupnya, ia tidak pernah merasa seburuk ini.

Kecuali ketika ia sekarat setelah Kurama dikeluarkan dengan paksa dari tubuhnya.

Tapi, kondisi itu jelas-jelas berbeda dengan sekarang. Jika dulu, ia terkulai lemah dengan semua energi yang seakan terkelupas dari dirinya. Maka sekarang dia--

Teriakan tidak keren terdengar di telinganya. Naruto mengumpat dan menolak untuk mengakui bahwa suara teriakan nyaring bak cewek manja itu berasal darinya. Matanya yang tertutup kini terbuka dengan lebar, kepanikan melandanya ketika ia sadar bahwa mereka sedang terjun bebas. Mereka sedang terjun bebas di ketinggian yang sangat mencengangkan dan Naruto tidak bisa berkonsentrasi untuk membentuk chakra.

Fokusnya hanya terpaku pada rasa panik sehingga ia tidak menyadari keadaan teman-temannya yang kini sudah saling berpegangan satu sama lain.

"Kurama, sekarang bukan waktunya tidur!" teriak Naruto ketika menyadari sang rubah yang menekan aliran chakranya untuk Naruto.

Tidak ada jawaban di kepalanya.

Keadaan ini sangatlah tidak bagus.

Ia masih terjun bebas.

"RUBAH TUA SIALAN! BERHENTI MEMPERMAINKANKU KALAU KAU TIDAK INGIN--"

Sebuah lengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya untuk menariknya mendekat. Sesaat kemudian, pandangannya dipenuhi oleh cahaya keunguan. Tubuhnya tidak lagi meluncur bebas di udara. Desingan udara tidak lagi menulikan telinganya. Rasa panik memalukan tidak lagi dirasakannya. Kakinya tidak lagi menapak di udara kosong. Alih-alih udara kosong, ia menapak di sesuatu yang padat yang merupakan bentukan chakra berwarna keunguan.

Susanō melingkupi sepuluh orang shinobi yang tadinya tengah terjun bebas di udara. Naruto belum tersadar dari keterkejutan, rasa pening, ataupun rasa mual yang tadi ia rasakan sampai kemudian suara rendah yang familiar terdengar di sampingnya. Ia juga merasakan sebuah lengan yang melingkari pinggangnya mulai melonggar.

"Tutup mulut, Idiot. Berhenti bersikap seolah kau tidak pernah terlempar dari langit." ]

TBC

Keterangan

Hato : Merpati