Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Harry Potter belongs to J.K. Rowling

Warning : FemNaru, banyak narasi, semi-canon

A/N : terima kasih untuk yang sudah menyempatkan baca!

ooOoo

Kedatangan mereka seharusnya berakhir dengan epic karena--kau tahu--mereka adalah pahlawan perang dan sebagainya. Pengalaman bertarung kesepuluh shinobi tersebut tidaklah sedikit meski rata-rata dari mereka baru mencapai usia delapan belas hingga dua puluh satu. Kemampuan mereka sangat meyakinkan dan mereka juga sangat percaya pada fakta tersebut.

Sayangnya, mereka adalah orang asing di dunia sihir ini sehingga memerlukan sedikit adaptasi sebelum benar-benar terbiasa dengan segala budaya baru yang ada. Mengatakan bahwa para penyihir memiliki alat transportasi yang amat buruk sebenarnya bisa dimaklumi. Shinobi terbiasa untuk berjalan dan berlari. Untuk sesekali, mereka juga terbang ataupun berteleportasi. Namun, dari banyaknya metode tersebut, belum ada yang berhasil membuat mereka sepucat ini.

Apa pun yang tadi menghisap mereka ke sini sangatlah buruk.

Buruk.

Begitu chakra keunguan tersebut menyentuh padang rumput yang terhampar di bawah mereka, seorang lelaki yang diekori oleh anjing segera berlari menjauh dari rombongannya agar bisa membungkukan badan dan melakukan sesuatu yang bisa disebut sebagai 'mengeluarkan isi perut' supaya rasa mual segera meninggalkannya. Bersamaan dengan Kiba yang berlari menjauh, sosok yang diyakini Naruto sebagai Sai pun berjongkok di tempatnya sambil memijat pelipis.

Kemudian, Temari serta Kurotsuchi terbatuk beberapa kali sambil memegangi perutnya. Mereka berdua tengah berpegangan pada dinding transparan berwarna keunguan yang meliputi mereka semua sebelum kemudian hampir terjungkal ke depan ketika bentukan chakra super besar itu mengurai setelah mereka mendarat. Seorang berambut pirang pucat sedang berjongkok di samping Sai. Ino kelihatan seperti hendak membantu Sai agar tidak lagi pusing ataupun mual, namun usahanya gagal karena dua gejala tidak mengenakan tersebut juga masih menyelimutinya dan membuatnya jatuh di atas kedua lututnya sendiri sebelum ia sempat bergerak untuk membantu Sai.

Perasaan disorientasi itu juga mempengaruhi Shikamaru meski reaksinya tidak berlebihan. Shikamaru hanya berjalan dengan gontai sambil bergumam mengenai sesuatu yang merepotkan. Ia mengerutkan dahi ketika rasa pening di kepalanya masih belum memudar. Menolehkan kepala untuk meminta ninja medis mereka menangani segala kekacauan kecil ini, Shikamaru menghela napas lelah ketika melihat sang ninja medis yang sama-sama tampak kepayahan.

Dengan tudung jubah yang tidak lagi melindungi rambut merah mudanya, Sakura tengah membungkuk dengan kedua tangan beristirahat di atas kedua lututnya. Hembusan angin sedikit menyapu rambut berwarna cerah itu, namun sang pemilik rambut tampak tidak menikmati angin segar yang seolah membelainya dengan lembut.

Sakura masih berada dalam posisi itu tanpa bergerak sedikit pun.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Shikamaru mendapati sosok yang tampak paling mungil diantara mereka sedang menggerutu sambil berjalan ke arahnya. Rambut kecoklatannya yang digelung seolah berkibar terkena terpaan angin. Ia kelihatan tidak terlalu terpengaruh dengan teknik teleportasi tadi. Alih-alih terpengaruh dan sakit, ia kelihatan jengkel. Melihat sosoknya yang jengkel tengah berjalan menghampirinya tidaklah membuat Shikamaru bahagia.

Helaan napas kembali keluar dari mulutnya ketika keluhan dan omelan Hinako tertangkap oleh telinganya. Orang yang pernah merangkap sebagai anak buahnya ini memang harus dihadapi dengan sabar. Ia masih remaja dan orang termuda di kelompok mereka sekarang ini. Shikamaru memaksa dirinya untuk maklum dan tenang meski kepalanya yang terasa berdentum-dentum sama sekali tidak membantu.

Dari kesepuluh shinobi itu, hanya dua yang masih berdiri di tempat awal mereka mendarat. Salah satunya tampak sangat baik-baik saja, seolah rasa pening dan mual tidak berani mengganggunya karena ia selalu mempunyai aura jangan-dekati-aku-pengganggu, sementara sosok yang lain... well, mari katakan bahwa ia berada dalam kondisi yang sama tidak baiknya seperti teman-teman mereka yanga lain.

Naruto berdiri kaku di sana, ia melihat kunang-kunang di matanya dan melihat segala hal memburam menjadi gumpalan warna yang tidak dapat diidentifikasi olehnya sendiri. Ramen di perutnya bersikeras untuk membebaskan diri. Pertahanannya untuk tetap berdiri di samping sang kapten pun runtuh. Naruto segera melesat ke dekat Kiba, menarik topengnya ke atas kepala, dan mulai mengikuti tindakan yang tadi dilakukan Kiba.

Semua pemandangan ini akan segera mencoret harga diri mereka di depan klien. Sang kapten sama sekali tidak peduli dengan reaksi 'klien' ini, namun ia tidak bisa menyangkal perasaan lega di dadanya ketika sadar bahwa siapa pun klien tersebut, ia belum berada di sini dan menyaksikan pemandangan... yeah, pemandangan entah apa ini.

Menjadi shinobi akan menjamin ketahanan tubuh seseorang. Namun, shinobi juga akan tumbang kalau diracuni atau tidak enak badan. Sehebat apa pun mereka, mereka hanyalah manusia, sungguh. Sasuke masih berdiri tanpa memperlihatkan rasa pusing atau mual hanya karena Kakashi telah memperingatinya mengenai efek ini sebelum mereka berangkat tadi. Ia sudah mengantisipasinya, jadi ia tidak merasa begitu terkejut dan segera menyesuaikan diri dengan rasa pusing itu.

Berjalan mendekati Sakura, Sasuke bergumam, "Tidak bisakah kau mengobati dirimu sendiri?"

Sakura yang sejak tadi masih belum bergerak dari posisinya pun sedikit menolehkan kepala. Ia memandang mata oniks yang berada di balik topeng gagak, kemudian berujar, "Aku sedang menstabilkan chakraku lebih dahulu."

Tiga menit berlalu.

Menunggu mereka pulih secara alami akan membutuhkan banyak waktu sedangkan kenyataannya mereka jelas-jelas tidak punya banyak waktu.

Memerintahkan mereka untuk segera berkumpul, langkah-langkah gontai pun mulai terlihat. Mereka berjalan menghampiri Sasuke dengan tangan yang anehnya melakukan gestur yang sama--yakni memijat masing-masing pelipis dengan harapan bahwa rasa pening tersebut segera hilang. Tidak ada yang tahu alasan mengapa mereka bisa terpengaruh separah ini, padahal mereka semua sudah pernah mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk dari terhisap ke dunia lain.

Shikamaru dan Hanako adalah yang pertama menghampiri Sasuke karena keduanya berada paling dekat dengan kapten mereka ini. Tak selang beberapa detik, Temari dan Kurotsuchi menyusul. Kemudian, Sai dan Ino. Hingga yang terakhir, Naruto dan Kiba.

Sakura menegakan diri dari posisi membungkuknya. Ia membenarkan tudung jubahnya agar kembali menutupi kepala sebelum menghampiri Kiba dan Naruto, mendaratkan masing-masing telapak tangannya di sisi kepala dua orang itu untuk menyalurkan chakra kehijauan di tangannya.

"Oh, man," ungkap Kiba. Ia menutup mata sementara bibirnya menghembuskan napas lega. "Yang tadi benar-benar buruk. Siapa yang menciptakan teknik mengerikan seperti itu?" lanjutnya dengan nada jijik. "Aku takkan pernah mau melakukannya lagi."

Akamaru menggonggong setuju.

"Rasanya seperti morning sick. Kau tahu, seperti orang hamil? Aku benar-benar tidak menatikannya karena semua itu merepot--aw, Sakura-chan kenapa kau memukulku? Aku sedang sakit!"

"Kode nama, Kitsune. Selain itu, bisakah kau berhenti mengaitkan segala jenis pusing dan mual sebagai morning sickness?"

"Kau sendiri yang menyuruhku membaca bukunya, Saku--err--Iriko-chan."

"Memanggil dengan kode nama tidak perlu diimbuhi dengan sufiks, Baka."

"Tutup mulut, Dog breath. Aku tidak menggunakannya untuk memanggilmu."

Berdiri di samping Sasuke, Shikamaru bergumam dengan, "Semua perlengkapan itu takkan bekerja untuk kita. Seharusnya aku segera tahu."

Tidak ada yang mengelak pernyataan Shikamaru karena semua orang yang ada di sana berpikiran hal yang sama persis seperti yang baru saja dikatakan olehnya. Membahas mengenai perlengkapan ANBU dan bagaimana bertingkah selayaknya para orang itu takkan ada habisnya. Apalagi membahasnya bersama Naruto yang cenderung senang membelokan pembicaraan dan membawa mereka ke topik-topik tidak penting, dari semua yang ada di sana Sasuke dan Sakuralah yang paling tahu sikap antik mantan rekan satu timnya ini. Mengetahui fakta tersebut, Sasuke pun angkat bicara untuk kembali mendapatkan perhatian mereka.

Ia menyuruh Ino membantu Sakura mengobati yang lain sementara ia mengalihkan pandangan pada Naruto, menangkap rona wajahnya yang sudah kembali dan tidak lagi pucat seperti tadi. Perkataan Shikamaru terngiang di kepalanya, Sasuke benar-benar tidak bisa mengelak kebenarannya. Semua perlengkapan ini kurang membantu, terlebih untuk Naruto. Perempuan itu tidak suka terkekang aturan, itulah kenapa ia tidak mendapat posisi di ANBU yang cenderung memiliki peraturan ketat meskipun kemampuannya tidak lagi diragukan. Baru beberapa saat saja, Naruto sudah lupa untuk membiasakan diri memakai kode nama dan juga topeng itu.

Kenapa pula ia lupa menggunakan topeng? Harusnya Sasuke tidak heran mengingat watak temannya. Tapi, kalau bisa memilih, ia lebih senang Naruto menggunakan topengnya, sungguh.

Melihat wajahnya yang sekarang... masih sedikit sulit untuknya.

"Pakai atributmu dengan benar," ujar Sasuke ketika berjalan melewati Naruto. Ia kemudian merogoh saku dan memberinya kalung rantai berwarna silver dengan bandul menyerupai miniatur tongkat sihir, "Gunakan itu karena klien kita sepertinya sudah datang."

oOo

Naruto tidak tahu apa hubungan antara kalung berbandul aneh dengan kedatangan klien mereka. Tapi, ketika melihat Temari mengenakan kalung yang sama dan Shikamaru menggunakan kalung tersebut sebagai gelang, Naruto pun segera mengenakannya tanpa banyak tanya. Ia menarik topeng rubahnya ke bawah dan membenarkan posisi tudung jubahnya yang tadi sempat merosot terkena angin sebelum berbalik ke arah di mana 'klien' mereka berada.

Selama delapan belas tahun--hampir sembilan belas--hidupnya, Naruto sudah melihat banyak orang-orang aneh. Ia pernah melihat ayahnya yang sudah mati ternyata dibangkitkan dan memutuskan untuk bertarung di sisinya, kemudian melihat leher ular Orochimaru, dan yang paling sering adalah wajah Tsunade yang selalu tampak muda. Meskipun begitu, tidak ada dari mereka yang berpakaian aneh ataupun memiliki janggut sepanjang itu. Belum lagi fakta bahwa rambut panjang di dagu tersebut berwarna putih.

Ketika bertemu Rikkudō Sennin, Naruto memutuskan bahwa orangtua itu adalah orangtua teraneh yang pernah dilihatnya. Mulai dari kedua mata rinnegannya hingga cara bicaranya yang aneh. Tapi, ketika melihat kliennya ini, Naruto memutuskan bahwa Rikkudō-jiji memiliki saingan dalam hal keanehan. Atau mungkin orang ini saja yang terlampau eksentrik.

Sebab, siapa pria di dunia ini yang suka memakai gaun?

Astaga, dia tidak benar-benar memakai gaun, 'kan?

Mengerjap sesaat ketika menyadari Shikamaru tengah bercakap-cakap dengan orang itu, Naruto melihat iris mata biru langitnya di balik kacamata setengah bulan yang ia kenakan. Keduanya bersitatap selama sesaat sebelum orang itu memberinya seulas senyum. Senyum yang membuat Naruto seketika tenang dan merasa bahwa segalanya akan baik-baik saja. Senyum yang mengingatkannya pada Sandaime-Jiji tiap kali ia mengunjungi Naruto di apartemen kecilnya ketika ia masih berusia lima tahun. Selain itu, Naruto juga seolah melihat kehangatan yang sama di matanya.

Kenapa orang ini menunjukan kepercayaan yang begitu besar terhadap orang asing seperti mereka?

Lamunan Naruto terpecah ketika Ino menarik tangannya agar ia ikut berjalan seperti yang lain. Hal entah apa yang dibicarakan orang itu dengan Shikamaru ternyata sudah selesai. Tidak mendengarkan apa pembicaraan tadi, Naruto pun bertanya, "Apa yang mereka bicarakan?"

Tanpa melihat wajah Ino yang tertutup topeng, Naruto bisa membayangkannya memutar bola mata. Mereka sekarang tengah berjalan menuju wilayah yang dipenuhi oleh deretan bangunan dengan desain asing. Bangunan tersebut tampak serupa satu sama lain, mulai dari dari atap yang berbentuk segitiga, jendela berbentuk cembung di lantai dua, hingga lampu kekuningan yang menyala terang.

Suasana ini berhasil mengeluarkan aura asing yang begitu kontras dengan Konoha ataupun desa-desa ninja yang lain. Apa yang ada di sini seolah menyerukan kata kuno dan antik. Energi yang melingkupi wilayah ini juga cukup kuat, Naruto bisa merasakannya tanpa perlu mengaktifkan Sage Mode. Saking kuatnya, ia berani bertaruh bahwa energi alam yang ia rasakan sedang menggantung di udara di sekitar mereka sekarang ini.

Berkat bantuan sinar bulan dan lampu jalanan, Naruto mampu melihat beberapa orang yang berpakaian sama anehnya seperti klien mereka ini berlalu-lalang. Mereka memakai 'gaun' berwarna-warni. Mulai dari ungu, biru tua, hijau, dan bahkan kuning! Mata Naruto mau tidak mau mengekori tiap orang yang melalui mereka, secara tidak sadar mencari-cari warna jingga yang sejak dulu amat disukainya.

Pengamatannya ini--meskipun tidak membuahkan hasil--membuatnya sadar bahwa terdapat cukup banyak pasang mata yang secara terang-terangan menatap mereka. Tatapan itu bukanlah tatapan dingin dan benci yang biasa didapatkan Naruto di masa kecilnya.

Tatapan ini adalah jenis tatapan terkejut, takut, dan kemudian heran. Mereka tampak terkejut dan takut ketika melihat rombongan tersebut. Topeng yang dipakai oleh orang asing ini tampak mencurigakan dan mengingatkan mereka pada para pengikut Pangeran Kegelapan. Namun, begitu pandangan mereka mendarat pada sosok sepuh di depan sana, mereka langsung menghembuskan napas lega dan melemparkan pandangan penasaran.

Di samping Naruto, Ino membalas, "Dumbledore Albus hendak mengenalkan kita kepada rekan-rekannya." Naruto hanya mendengarkan tanpa bertanya lebih lanjut. Ino memutuskan untuk memberitahunya hal yang lain. "Sekarang kita berada di Hogsmeade, desa sihir yang paling dekat dengan Hogwarts."

Pernyataannya yang terakhir membuat Naruto menganggukan kepala.

Pantas saja, pikirnya. Energi ini adalah energi sihir. Apa bedanya sihir dengan chakra? Kenapa aku merasakannya sama seperti chakra?

Keingintahuan mulai melingkupinya, namun Naruto segera mengesampingkan keinginan itu ketika mereka sampai di tempat yang dituju oleh sosok yang bernama Dumbledore ini. Tempat yang dimaksud adalah sebuah bangunan yang cukup serupa dengan bangunan lain yang ada di sini.

Bangunan ini memiliki atap yang sama-sama berbentuk segitiga dan jendela kaca berbentuk cembung di lantai dua. Namun, yang membedakan adalah ukuran bangunan yang lebih besar dan tinggi serta adanya cukup banyak jendela-jendela kecil yang menghiasi lantai dua dan tiga bangunan tersebut. Di pintu masuknya, terdapat tiga simbol tiga buah sapu ijuk yang membentuk segitiga dengan sebuah lampu gantung di tengah-tengahnya.

Selain itu, di atas jendela di lantai dasar terdapat tulisan Three Broomstick yang diukir di dinding dengan huruf kapital. Naruto menyadari bahwa huruf yang merangkai tulisan itu merupakan huruf asing, tapi ia tanpa sadar mampu membacanya dan mengerti artinya. Kenyataan tersebut membuatnya mengerutkan dahi, tapi ia tidak mengutarakan pertanyaannya dan mengikuti Dumbledore yang masuk ke dalam sana.

Seorang wanita dengan wajah yang cukup menarik langsung menyapa Dumbledoor begitu mereka masuk. Sepatu hak tingginya yang gemerlapan secara otomatis mendapatkan perhatian Naruto. Dari gerak-gerik hingga caranya berpakaian sudah menyerukan kata 'non-ninja' di telinga Naruto.

Kakashi telah memberitahunya

bahwa para penyihir merupakan warga biasa yang mampu memproduksi jurus--mereka menyebutnya sihir--namun tidak memiliki ketahanan fisik dan kemampuan bertarung layaknya shinobi. Melihat mereka secara langsung seakan baru menyadarkan Naruto betapa benarnya ucapan Kakashi. Dumbledore yang merupakan penyihir memang mereka temui lebih awal. Namun, sikap eksentriknya seolah menutupi kenyataan bahwa ia juga non-ninja.

Menghampiri sisa rombongan yang ada, Naruto menangkap sorot terkejut itu lagi ketika perempuan ini menatap mereka satu per satu. Keterkejutannya baru pudar ketika Dumbledore tertawa ringan dan angkat bicara.

"Merekalah yang akan menginap di sini selama sebulan, Rosmerta," ungkap Dumbledore riang. "Aku harap aku tidak merepotkanmu. Three Broomstick masih memiliki tiga kamar kosong, bukan? Aku khawatir kami kehabisan kamar karena di musim panas ini ada banyak sekali orang yang berkunjung."

Madam Rosmerta mengibaskan tangan. Ia menampilkan senyumnya yang tidak jarang mampu menarik perhatian para pria. Sebagai seorang wanita dewasa yang sudah melewati masa mudanya, Rosmerta bisa dibilang cukup menarik.

"Ah, tentu saja aku telah menyediakan tempat pesananmu, Kepala Sekolah. Terdapat tiga kamar kosong di lantai tiga dan semuanya bersisian satu sama lain," jelasnya dengan sopan sekaligus bersahabat. Ia mengalihkan pandangan pada kesepuluh shinobi, tampak bimbang harus berbicara pada siapa. Hingga kemudian matanya menangkap dua sosok tanpa topeng dan memutuskan untuk berbicara pada dua orang itu. "Maafkan atas keterkejutanku pada kalian, Miss dan Mr. Atribut kalian sedikit mengingatkanku pada... kenalan yang tidak terlalu ingin kuingat," sambungnya dengan senyum tulus.

Temari mendapati sorot khawatir di sana meskipun ia juga mendengar kejujuran dalam permintaan maaf Rosmerta. Menemukan orang seperti ini di dunia shinobi yang memiliki sejarah panjang berlumuran darah memang sulit. Membalas senyuman Rosmerta, Temari sudah menduga bahwa tindakannya akan kembali mengejutkan wanita itu. Namun, saat ini ia segera berhasil menguasai dirinya.

"Tidak masalah, Madam. Kami memang sedikit terlihat mencolok."

Ino dengan sengaja menginjak kaki Kiba ketika mendengar dengusan dari lelaki itu. Ia tidak menyangka sang pemilik ninken bisa hendak tertawa di saat-saat seperti ini.

Rosmerta kemudian mengajukan pertanyaan kepada Dumbledore tentang apakah mereka yang akan memesan minuman, namun dilihat dari keengganan para ninja, Dumbledore menolaknya. Ia berkata bahwa akan ada beberapa orang lain yang datang dan meminta Rosmerta menyediakan minuman untuk mereka.

Para shinobi itu sendiri tengah sibuk menganalisis sekaligus mengamati keadaan sekitar. Bagi mereka, bagian dalam bangunan ini sama asingnya dengan apa yang terlihat dari luar. Penataan interiornya begitu berbeda meskipun tampak menarik. Semua penjelasan dalam buku terasa semakin kurang ketika mereka berhasil melihat secara langsung dunia yang berada di luar barrier.

Rahasia apa saja yang tersimpan di dunia ini?

Mereka mau tak mau ikut terpikir oleh hal itu. Dari apa yang mereka lihat sejauh ini, orang-orang yang mereka temui hanyalah warga sipil biasa. Jadi, apa bahaya yang mungkin tersembunyi? Mengapa sang leluhur para ninja begitu waspada sehingga memutuskan untuk memisahkan mereka dengan dunia ini? Apakah semua itu karena mereka--para shinobi--yang berbahaya ataukah justru malah orang-orang ini?

Menurut para Kage di pertemuan beberapa hari lalu, satu-satunya hal yang patut diwaspadai adalah jenis mereka sendiri, para ninja, yang kabur ke sini dan berpotensi melakukan kekacauan. Namun, setelah tiba di sini, Sasuke merasa tidak nyaman, seolah terdapat ancaman tak kasat mata yang tak bisa ia prediksi. Semua energi yang melingkupi area ini... rasanya sangat berlimpah. Sikap diam Naruto juga seakan mengonfirmasinya, seakan Naruto juga sedang memecahkan teka-teki ini.

Menahan diri untuk tidak segera meloncat keluar dan memastikan sendiri bahwa tidak ada bahaya yang menanti mereka, Sasuke pun mengintruksikan Tim Pencari untuk melihat-lihat area di luar sana tanpa menarik perhatian. Ino, Kiba, dan Kurotsuchi langsung menangkap intruksinya. Tanpa bicara, mereka bertiga langsung menyusup keluar tepat ketika Dumbledore membalikan badan untuk duduk. Ketika kembali menatap mereka, tiga dari lima orang yang berdiri di barisan kedua telah menghilang.

Tatapan bertanya Dumbledore secara otomatis direspon oleh Shikamaru. Ia adalah satu-satunya orang yang terlihat santai di sana--dilihat dari gestur kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celana.

"Kami ingin menganalisa keadaan sekitar untuk berjaga-jaga," ujar Shikamaru singkat.

Dumbledoor mengangguk, seolah hal tersebut sudah amat biasa dan ia memaklumi kewaspadaan--atau mungkin keparanoidan--para ninja. Suaranya terdengar tenang ketika berkata, "Hogsmeade bebas dari para pengikut Voldemort. Setidaknya untuk sekarang ini. Tapi, tidak ada salahnya juga berjaga-jaga. Kudengar, para ninja selalu siap siaga?"

Jika kalimat terakhir itu keluar dari mulut orang lain, pertanyaan Dumbledore akan terdengar mengejek. Namun, ketujuh shinobi tersebut menangkap nada penasaran yang kental dari sana sehingga tidak ada yang masalah dengan itu. Alih-alih kesal, mereka justru balik penasaran mengapa orang itu tampak cukup banyak mengetahui mengenai dunia mereka sedangkan mereka hanya mengetahui sedikit saja dari dunia asing ini.

"Kalau begitu, aku meminta kerja sama kalian terkait situasi kita. Permintaanku sama persis seperti apa yang pemimpin kalian--ah, Hokage, kukira?--katakan. Beliau juga sudah memberitahuku perihal situasi di mana kalian juga perlu melakukan kegiatan selain menjaga Hogwarts. Kuharap situasi tersebut takkan mengurangi penjagaan yang akan kalian berikan kepada para murid dan staff Hogwarts."

Shikamaru yang bertugas sebagai juru bicara pun kembali merespon. Dibandingkan dengan nada bicara santainya tadi, kini ia terdengar lebih terjaga dan tegas.

"Kami mengetahui kapasitas kami sendiri, Sir. Misi yang diberikan pada kami adalah prioritas, kecuali terdapat teman kami yang terancam bahaya, tentu saja. Namun, kami tidak akan melupakan tanggung jawab pertama yang kami tanggung."

Bahasa asing yang keluar secara lugas dari mulutnya terasa dan terdengar aneh, namun Shikamaru segera mengesampingkannya. Ia bisa merasakan beberapa pasang mata dari sampingnya tengah menancapkan pandangan padanya, terutama mereka yang dulunya berada di Tim Tujuh. Shikamaru menahan keinginan untuk berdecak dan berujar, 'well, kalian pikir ajaran Kakashi hanya disampaikan untuk kalian?'

Ia berhasil menahan keinginan itu dan mengembalikan fokusnya pada Dumbledore. Pria sepuh itu tersenyum percaya. Kemudian, dengan teramat polos--sepolos apa yang terdengar dari mulut seseorang yang telah berumur--ia kembali bertanya, "Tidakkah kalian ingin duduk?"

Di saat-saat seperti ini biasanya Naruto akan merusak suasana formal dan akan langsung meloncat ke kursi terdekat sambil melepas topeng serta tudung jubahnya sebelum kemudian menghela napas panjang sambil merenggangkan tubuh. Empat orang yang cukup dekat dengan Naruto pun secara tidak sadar mulai mengantisipasi tingkah perempuan itu--hanya saja, antisipasi mereka kini tidak berbuah. Naruto tetap diam di tempatnya berdiri tanpa bergerak barang seinci pun.

Bersyukur karena akhirnya Naruto mampu bersikap dewasa di saat yang tepat, Shikamaru berkata, "Tidak perlu repot, Sir. Kami takkan terganggu hanya karena berdiri sementara Anda duduk."

"Saya percaya Anda sudah tahu bahwa kami lebih dari mampu untuk berdiri selama berjam-jam tanpa bergerak, Sir," tambah Temari. Ia terdengar lebih terjaga daripada pertama kali ia berbicara pada sang pemilik penginapan. "Apa saja yang Anda ketahui tentang kami? Dari mana Anda mengetahuinya?"

Keheningan menggantung di udara karena ketiadaan jawaban. Mereka semua tengah memikirkan hal yang sama kala itu. Mereka sangat tidak nyaman dengan situasi di mana mereka seolah begitu terekspos di mata orang asing yang kemampuannya tidak bisa mereka ukur. Semua shinobi selalu mengetahui lingkungan di mana mereka melaksakan misi. Kekurangan informasi dan fakta bahwa mereka berada di luar jangkauan kelompok mereka sendiri secara tidak sadar membuat mereka lebih waspada.

Kewaspadaan itu bukanlah karena mereka meragukan kemampuan untuk saling melindungi satu sama lain, tapi mereka waspada jika pengetahuan yang dimiliki orang ini terkait dunia mereka bisa membahayakan orang-orang yang mereka tinggalkan di desa sana.

Tidak ada yang tahu apa yang menanti mereka, kan?

Setelah menunggu beberapa saat yang menganggu, Dumbledore pun tersenyum. Ia melipat tangannya ke atas meja dam berujar dengan tenang, "Ah, aku membacanya dari jurnal yang ditulis oleh leluhur kami yang kebetulan melakukan perjalanan ke dunia kalian beratus-ratus tahun lalu. Menurutku, apa yang kuketahui masih sangat dasar, untuk itulah aku ingin mengenal kalian lebih lanjut.

"Sebelumnya, maafkan atas ketidaksopananku karena lupa memperkenalkan diri secara formal. Namaku Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore, cukup panggil aku Albus Dumbledore atau Profesor jika kalian merasa namaku terlalu panjang untuk diingat--sebagain besar orang merasa demikian, aku heran mengapa. Lalu, sudah sampai mana tadi? Nama, ya? Baik, selain nama, aku juga merupakan Kepala Sekolah Hogwarts dan perintis Orde Phoenix yang mana anggotanya akan kalian temui nanti. Bagaimana dengan kalian?"

Shikamaru mengenyahkan pikiran mengenai ia yang lagi-lagi diharuskan berhadapan dengan orang aneh. Di samping Shikamaru, Temari tampak memutuskan hal yang sama.

"Anda bisa memanggil saya Temari, Sir," ungkap perempuan pirang tersebut. Ia menoleh dan menunjuk Shikamaru dengan ibu jarinya. "Kemudian, dia bernama Shikamaru Nara. Kami berdua merangkap sebagai Mediator karena teman-teman kami yang lain akan lebih fokus ke lapangan secara langsung sedangkan kami akan lebih sering menghadap pada Anda jika Anda membutuhkan sesuatu dari kami.

"Misi yang kami bawa dari desa ada dua, namun dalam praktiknya mungkin bisa menjadi tiga karena kami memiliki tiga kepentingan di sini. Dua diantaranya mendukung misi utama kami dalam melindungi Hogwarts, jadi saya harap Anda tidak keberatan dengan keengganan kami untuk memberitahu kepentingan tersebut sekarang," jelas Temari panjang lebar.

Dari caranya berbicara, Dumbledore bisa melihat bahwa perempuan ini sudah terbiasa berbicara di depan umum dan benar-benar berposisi sebagai Mediator meski ia masih tampak muda. Usianya mungkin di akhir belasan atau masih di awal dua puluhan. Figurnya yang fit seakan membuatnya kelihatan sangat muda meski ia memiliki aura dewasa dari caranya membawa diri.

Untuk lelaki yang bernama Shikamaru Nara, Dumbledore menebak ia memiliki posisi yang sama seperti Temari. Gerak-geriknya yang mampu mengontrol diri sangat kentara. Ia terlihat rileks dan waspada di saat-saat yang tepat. Caranya menganalisa situasi juga patut mendapatkan apresiasi. Dumbledore merasa kagum pada mereka.

Bagaimana bisa mereka dewasa dan muda di saat yang bersamaan? Mata yang dimiliki oleh dua orang ini bukanlah mata yang ia lihat di wajah para muridnya. Mata ini adalah mata mereka yang sudah mengenal berbagai konsekuensi hidup, mulai yang menyenangkan hingga yang pahit.

Apa sajakah yang telah dilewati oleh mereka sehingga memiliki sorot mata itu? Sudah berapa banyak kematian yang mereka saksikan di sana?

Memikirkan bahwa orang-orang semuda itu telah menanggung beban berat terdengar tidak pas di telinganya. Meskipun begitu, Dumbledore tidak menunjukan keprihatinannya. Ia tahu bahwa mereka tidak butuh dan tidak ingin dikasihani. Ia menghargai mereka dan ia mempercayai pemimpin mereka. Kakashi Hatake memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Dumbledore percaya bahwa mereka akan membantu ketika Kementerian terus menerus mengganggu.

Mengalihkan pandangan pada lima orang lain yang memakai topeng, Dumbledore memprediksi bahwa mereka juga sama mudanya--atau bahkan lebih muda--seperti Temari dan juga Shikamaru. Kemungkinan itu bisa dilihat dari keberadaan seseorang di barisan kedua yang tampak seperti baru berumur dua belas. Minerva akan geram jika mengetahuinya, Dumbledore merengut ketika membayangkan. Ia tidak ingin berselisih dengan rekannya sendiri.

Menangkap arah pandangan Dumbledore dengan jelas, Shikamaru pun berujar, "Kami memakai kode nama dan topeng untuk melindungi identitas kami, Sir. Hokage memperbolehkan Anda melihat wajah mereka, namun hanya Anda."

Sedangkan di sini adalah tempat umum dan Anda tidak bisa menyuruh kami melakukannya sekarang, tafsir Dumbledore pada kalimat terakhir Shikamaru. Ia mengangguk.

"Baiklah. Aku tidak masalah dengan itu dan sepertinya aku ingin melihat kalian nanti saja. Suatu saat nanti, mungkin," ungkapnya dengan senyuman. Kalimat tersebut ia utarakan karena sejujurnya ia lebih memilih untuk tidak melihat mereka secara langsung. Dumbledore khawatir jika ia akan kembali melihat sorot mata yang sama seperti yang dimiliki Temari dan Shikamaru. Jiwa orangtuanya sedikit sulit untuk menanggung itu semua. "Kalau begitu, dapatkah kalian memperkenalkan diri? Kode nama saja, tidak masalah."

Sebelum Shikamaru mengisyaratkan Sasuke untuk berbicara, Sasuke sudah lebih dulu angkat bicara. Kenyataan ini membuat Shikamaru lega karena ternyata sang Uchiha mau menoleransi diri di dalam misi. Kepercayaannya pada Hokage-lah yang membuatnya menerima Sasuke sebagai kapten meski Sasuke belum pernah mengemban misi bersama tim sejak perang terakhir dua tahun lalu. Rokudaime lebih sering memberi Sasuke misi solo. Entah apa yang direncanakan Kakashi saat ini ketika ia memutuskan untuk mengikutsertakan Sasuke sekaligus menunjuknya sebagai kapten, Shikamaru berharap Hokage mereka saat ini tidak bermaksud macam-macam.

"Karasu," ujar Sasuke singkat sambil menunjuk dirinya sendiri menggunakan ibu jari. "Anda bisa memanggil saya ataupun Mediator jika terdapat hal yang diperlukan."

Diperhatikannya sosok jangkung tersebut. Dumbledore masih menebak bahwa lelaki itu sama mudanya seperti Shikamaru meskipun tingginya lebih menjulang dibandingkan sang Mediator. Suaranya rendah dan cukup dalam. Posturnya begitu awas, membuat Dumbledore ingin memberitahunya untuk sedikit rileks.

Namun, tentu saja ia tidak mengutarakannya.

"Aku mengira, kau adalah kapten tim misi?" tanya Dumbledore ketika mengingat perkataan Karasu--gagak--tadi.

Yang ditanya hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.

Pandangan Dumbledore kemudian beralih pada orang di samping Karasu, seseorang yang tingginya hampir sejajar dengan telinga kapten mereka. Orang ini memakai jubah hitam yang serupa seperti empat orang lainnya. Suaranya terdengar lebih halus dibanding apa yang diperkirakan Dumbledore, membuatnya segera menebak bahwa sosok itu adalah perempuan.

"Iriko," ujarnya pendek.

Dumbledore mengangguk. Ia kemudian menatap orang di ujung barisan pertama ini. Tingginya sama seperti Iriko dan ketika berbicara suaranya terdengar sedikit serak dan lantang. Ia tidak terdengar seperti Iriko yang bersuara halus, namun lebih mirip seperti Temari meski sebenarnya ia juga masih belum yakin bahwa orang ini adalah perempuan.

"Kitsune," ungkapnya sambil menunjuk topengnya. "It means fox if you're wondering."

Logat bicaranya terdengar kental ketika berbicara dengan bahasa Inggris. Dumbledore entah mengapa menangkap nada humor di kalimat terakhir Kitsune, seolah dirinya ataupun yang lain memiliki lelucon pribadi terkait... rubah?

Dialihkannya pemikiran itu. Ia mendengarkan perkenalan lain dan mendapatkan dua buah informasi dari sisa anggota tim ninja ini. Seseorang yang ia curigai berumur dua belas adalah perempuan dan ia berkode nama Soku--entah apa artinya. Sedangkan sosok di sampingnya secara gamblang adalah laki-laki dengan kode nama Hato--Merpati.

Tepat setelah perkenalan mereka selesai, suara khas orang berapparate terdengar tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Dumbledore berdiri dan menghampiri rombongan anggota Orde yang akhirnya tiba di Three Broomstick. Terdapat sekitar tiga belas orang di sana. Dari tiga belas orang tersebut, Sirius Black dan Molly Weasley tidak hadir. Minerva McGonagall yang juga termasuk anggota Orde juga tidak kelihatan di sana.

Keributan kecil sedikit tercipta oleh kehadiran rekan-rekan Dumbledore. Nymphadora Tonks tengah mengoceh tentang ketidaksopanan untuk berapparate di dalam ruangan, namun Remus Lupin mengatakan bahwa mereka melakukannya karena terburu-buru. Lagi pula, sekarang sudah cukup malam dan tidak terdapat banyak orang di sini, jadi sebenarnya tidak masalah.

Setelah keributan kecil itu selesai dan rambut Tonks berubah warna dari merah menyala menjadi ungu gelap, Dumbledore pun mengajak mereka duduk di meja yang tadi ia tempati. Sembari berjalan, ia menjelaskan tentang kedatangan para ninja beberapa menit lalu sebelum kemudian memperkenalkan mereka.

Semua mata para anggota Orde langsung terpatri pada tujuh orang asing di depan sana dan ia bisa melihat bagaimana rekan-rekannya tampak lebih kaku dari biasa. Terdapat banyak ekspresi hanya dari tatapan mata. Dumbledore menangkap bagaimana Severus merengut dan mengerutkan dahi seolah menilai keberadaan mereka, Remus yang menutupi rasa khawatirnya dengan baik, Weasley bersaudara yang bertatapan satu sama lain sebelum mengernyitkan alis, atau bahkan Alastor yang sibuk memindai ketujuh ninja menggunakan mata eletriknya.

Berdeham untuk kembali mendapatkan perhatian mereka, Dumbledore pun menepukkan tangannya di depan dada dan mengulas senyum kepada mereka semua.

"Bisa kita mulai perkenalan di sesi kedua?" ]

TBC