Dislaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Harry Potter belongs to J.K. Rowling
Warning : FemNaru, banyak narasi, semi-canon, typos.
Meremehkan orang bukanlah tindakan yang bijaksana. Bekerja sebagai Auror selama bertahun-tahun telah memberi Moody pelajaran yang berharga. Ia menyadari kebenaran ungkapan tersebut ketika kejayaan kelam sang Pangeran Kegelapan berakhir. Setelah Harry Potter secara ajaib mampu mengalahkan penyihir hitam itu, para Auror di Kementerian Sihir disibukkan oleh agenda penangkapan dan pemeriksaan besar-besaran para oknum yang diduga sebagai pengikut Voldemort.
Hasil dari pemeriksaan itulah yang mengajari Moody tentang ungkapan yang tadi disebutkan. Berdasarkan hasil investigasi, ia menemukan banyak fakta yang membuktikan adanya keterlibatan para penyihir ternama dalam persebaran teror sihir gelap Voldemort. Para penyihir itu banyak yang bekerja di kementerian, yang seharusnya merupakan tempat paling penting yang diisi orang-orang yang dapat dipercaya. Keadaan tersebut membuatnya menyadari keberadaan mereka yang tampak bersih namun ternyata begitu berbahaya. Itulah mengapa ia selalu ingat untuk tidak meremehkan orang lain.
Sayangnya, pelajaran yang didapat Moody dalam hidupnya sebagai Auror juga membuatnya menjadi sangat paranoid dan sulit mempercayai orang baru. Masalah Orde dan kebangkitan Voldemort sangatlah krusial. Segala tindakan yang diambil Orde sangat penting untuk ke depannya.
Salah satu tindakan tersebut yakni mengenai Dumbledore yang memutuskan untuk menyewa orang-orang asing yang disebut sebagai ninja. Selama seharian penuh, Moody telah menimbang-nimbang dan berusaha untuk mempercayai keputusan Dumbledore. Selama satu jam terakhir, Moody pun telah menata pikirannya dan mengesampingkan isu kepercayaan yang ia miliki dengan mulai bersikap menerima keputusan Dumbledore.
Menyewa para ninja mungkin bukan malasah besar, pikirnya kala itu. Namun, begitu mata elektriknya mendapati tujuh orang yang Dumbledore kenalkan sebagai ninja, rasa paranoid dan isu kepercayaan yang ia miliki pun mengambil alih. Moody tampak melupakan pelajaran berharga mengenai 'jangan meremehkan orang lain'. Ia tidak bisa untuk tidak mempertanyakan kemampuan para ninja begitu melihatnya secara langsung.
Berbagai pertanyaan yang menganggu pun mulai berterbangan di kepalanya. Moody menekan pertanyaan itu dalam-dalam dan mulai mencoba menganalisis keadaan seraya mendengarkan Dumbledore yang tampak 'antusias' untuk memperkenalkan para ninja kepada para anggota Orde.
"Duduklah terlebih dahulu. Segalanya akan lebih mudah jika kita semua berbicara dengan nyaman, bukan?" ungkap sang Kepala Sekolah sambil mempersilakan mereka untuk menempatkan diri di meja yang menghadap ke arah para ninja yang tengah berdiri berjejer tanpa bergerak sedikit pun.
Tiga belas orang anggota Orde segera menempatkan diri di meja yang ditempati Dumbledore dan dua meja lain yang berada di dekatnya. Pertemuan ini melibatkan lebih banyak anggota Orde dibandingkan pertemuan terakhir mereka di Grimmauld Place sehari yang lalu. Hal ini dikarenakan Dumbledore yang meminta mereka semua hadir jika tidak ada kepentingan.
Dengan Mundungus Fletcher dan sang squib Arabella Figg yang tengah mendapat giliran untuk 'menjaga' Harry serta karena adanya beberapa anggota Orde yang tidak cukup aktif, pertemuan kali ini akhirnya dihadiri oleh tiga belas orang alih-alih dua puluh satu. Molly Weasley absen karena harus menjaga anak-anak sedangkan Sirius Black sedang dalam kondisi yang mengharuskannya tidak memunculkan diri di ranah publik. Selain itu, Minerva McGonagall juga absen karena harus mengurus kepentingan sekolah.
Moody duduk satu meja bersama dengan Dumbledore, Snape, Lupin, serta Tonks. Ia masih belum mengalihkan matanya dari para ninja ketika isu kepercayaannya mengambil alih dan secara tiba-tiba membuatnya berkata, "Kalian tidak tampak bisa diandalkan," dengan nada mengkritik.
Perkataan Moody langsung mendapatkan balasan dari seorang perempuan berambut pirang dengan empat ikat rambut di kepalanya. Ia memakai jubah perjalanan berwarna pastel yang serupa dengan lelaki berambut hitam yang berdiri di sampingnya. Dengan senyum yang tampak dipaksakan, ia berujar, "Silakan utarakan semua yang Anda pikirkan mengenai kami. Tapi, maaf saja, semua penilaian Anda takkan menurunkan kemampuan kami dalam menjalankan misi."
"Jika kau menganggap kami tidak bisa diandalkan, sebaiknya sejak awal kau tidak mencoba menghubungi kami untuk meminta bantuan," timpal seseorang dengan topeng bermotif hewan yang tampak menyerupai rubah. Suaranya terdengar kaku, seolah ia sedang menahan rasa jengkel. "Selain itu, temanku benar. Penilaianmu takkan mempengaruhi kemampuan kami dan kami yakin misi ini akan dapat diselesaikan dengan baik tanpa ataupun dengan penilaian kalian."
Sependapat dengan Moody adalah kejadian langka yang tidak sering dialami Snape. Tapi, untuk kasus ini, ia amat setuju dengan Mad-Eye. Pada pertemuan Orde kemarin malam, mereka sudah mengetahui beberapa informasi terkait para ninja. Salah satu dari sekian informasi yang mereka dapat adalah tentang kemampuan ninja yang amat hebat sehingga membuatnya sulit dipercaya. Di dalam buku catatan itu juga terdapat gambar sketsa ninja yang dimaksud. Snape tidak bisa mengingat rincian gambar itu, namun ia yakin gambar sketsa yang ada di sana jauh berbeda dengan orang-orang ini.
Ada apa dengan wajah yang terutup topeng itu?
Tersenyum mencemooh ketika memandang dua orang yang tidak memakai topeng, Snape pun berujar, "Kalian hanya anak-anak. Sudahkah kalian lulus? Kelihatannya tidak begitu. Adanya mitos tentang ninja ini memang benar-benar lelucon."
Suasana di dalam ruangan tersebut tiba-tiba menegang, seakan terdapat bom waktu yang siap meledak setiap saat. Keadaan tersebut masih berlangsung ketika aura aneh melingkupi diri Snape. Ia merasakan ancaman kuat yang berasal dari gerombolan orang berjubah hitam itu, padahal sebelumnya semuanya baik-baik saja, para orang berjubah tidak memperlihatkan bentuk eksistensi yang berarti. Mereka hanya ada di sini, di depan mereka-berdiri tanpa bergerak sedikit pun.
Ketika Moody membuka mulutnya untuk mengkritik mereka, aura ini juga masih belum muncul. Senyum sang perempuan pirang terlihat dipaksakan, ya, tapi hanya itu.
Jadi, perasaan apa ini?
Mengapa ia merasa seolah-olah dirinya merasa di dalam bahaya besar? Mengapa ia seperti berada di tengah-tengah Pangeran Kegelapan? Snape meremas lengan bawahnya yang tertutup pakaian. Ia mengusap tanda kegelapan yang ada di sana.
Apakah Voldemort memanggilnya?
Ada apa dengan suasana mencekam ini? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Kenapa-kenapa tiba-tiba ia merasa bahwa orang-orang ini akan segera menghampirinya dan menghabisi nyawanya di tempat itu juga dan saat itu juga ketika mereka bahkan tidak memiliki senjata ataupun tanda-tanda bahwa mereka mampu menggunakan kutukan kematian?
Apa yang terjadi? Mengapa segalanya terasa mencekam seolah dementor telah-
"Kami telah lulus sejak enam tahun lalu," tegas seseorang berjubah hitam yang berdiri di tengah-tengah. Ia menolehkan kepala ke samping, ke arah sosok berjubah lain yang tadi sempat menjawab perkataan Moody. "Dan saya menyarankan agar Anda berhenti mengkritik kami tanpa alasan yang jelas sebelum salah satu anggota tim kami memutuskan untuk turun tangan," lanjutnya dengan nada tanpa perasaan yang sama. Di detik selanjutnya, dengan kepala masih menoleh ke sosok berjubah yang berdiri di ujung barisan, ia mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh Snape ataupun para penyihir lain di ruangan itu.
Apa pun yang dikatakannya, aura mencekam dan keputusasaan yang melingkupi ruangan itu tiba-tiba menghilang. Snape melihat lelaki berambut hitam tanpa topeng mengerutkan dahi sekilas, sebelum kemudian merilekskan tubuhnya-yang entah sejak kapan telah menjadi kaku-dan menatap Dumbledore.
"Tampaknya semua ini tidak berjalan lancar, Sir," ungkapnya dengan nada terkontrol. Ia mengalihkan pandangan kepada Snape, melihatnya dengan sorot mata malas yang entah mengapa membuat Snape geram. Tatapannya membuatnya seolah ingin segera menyelesaikan ini semua karena segala yang ada di sini terlalu merepotkan untuknya. "Kita memiliki perbedaan budaya di sini, saya hanya ingin mengingatkan. Oleh karena perbedaan budaya itu, saya harap Anda tidak mencoba untuk menilai kami dalam sudut pandang budaya Anda yang jelas-jelas berbeda dengan kami. Melakukannya hanya akan membawa kesalahpahaman."
Kekacauan ini sudah berlari terlalu jauh. Dumbledore berdeham, mencoba menarik perhatian mereka semua. Ia tahu keadaan ini akan sulit dihindari. Ketiadaan Molly dan Minerva merupakan keberuntungan baginya karena menghadapi mereka yang menentang para ninja akan sulit untuk diatasi. Snape dan Moody jauh lebih mudah ditangani dibandingkan dua wanita tersebut.
"Maaf atas kesalahpahaman ini, Mr. Nara," ungkap Dumbledore. Ia menoleh pada anggota Orde yang lain. Matanya tampak meminta mereka untuk setidaknya menghargai tamu mereka ini karena ialah yang memutuskan untuk meminta bantuan pada mereka. Terdapat satu arti di dalam anggukan kepalanya, yakni; percayalah padaku. "Perkenalkan, dia adalah Mr. Shikamaru Nara dan Miss. Temari. Mereka berdua adalah Mediator yang akan lebih sering berkomunikasi dengan kita sementara teman-temannya yang lain akan lebih terfokus pada lapangan sehingga cenderung sulit ditemui."
Berhasil mendapatkan persetujuan para anggota Orde untuk tidak mencoba memancing ketegangan lagi, Dumbledore melanjutkan. "Selain Mr. Nara dan Miss. Temari, mereka tidak memberitahukan nama asli mereka kecuali padaku. Jadi, kuharap kalian mengerti. Aku sendiri yang menjamin bahwa mereka dapat dipercaya." Sekali lagi, Dumbledore melihat sorot mengerti dari mata rekan-rekannya. Jaminan Dumbledore sangatlah berharga dan dapat dipegang.
Moody yang tadi nya ragu pun secara perlahan mulai menoleransi. Dumbledore kembali membuka mulutnya. "Di samping Mr. Nara adalah Kapten Tim dari kelompok shinobi ini, kalian bisa memanggilnya Karasu. Ialah yang mengkoordinir misi. Di sampingnya lagi merupakan anggota tim yang akan menjaga Hogwarts. Ia bisa dipanggil Iriko. Sementara itu, di sisi Iriko adalah Kitsune. Kemudian, mereka berdua yang berada di belakang sana adalah Hito dan Soku. Secara keseluruhan mereka bertugas untuk melindungi Hogwarts karena aku takkan membiarkan dementor kembali mengemban tugas tersebut. Aku juga nantinya akan sedikit melibatkan mereka di dalam Orde jika diperlukan."
Nymphadora Tonks yang sejak tadi mengamati pun memutuskan untuk angkat bicara. Suasana tegang ini terasa mencekik. Tonks sudah kenyang dengan ketegangan yang tengah melingkupi Kementerian Sihir dan dunia sihir secara keseluruhan. Pertemuan Orde kali ini seharusnya berlangsung dengan lebih santai karena mereka bertemu di Three Broomstick alih-alih Grimmauld Place yang suram dan kelam.
Seakan mengetahui isi pikiran Tonks, Rosmerta yang sejak tadi tidak kelihatan tiba-tiba memutuskan untuk muncul. Ia muncul dengan nampan berisi minuman yang dalam sekali pandang langsung dikenali sebagai butterbeer. Senyumnya yang merekah langsung dibalas oleh senyum lebar Tonks begitu ia menghampiri ketiga meja yang telah dipenuhi oleh para penyihir yang cukup ternama.
Orde Phoenix adalah organisasi rahasia. Orang-orang selain anggota cenderung tidak mengetahui keberadaan organisasi itu. Pihak lain yang mengetahui keberadaan mereka adalah Kementerian Sihir, itu pun hanya beberapa-hanya mereka yang dulu bertarung bersama dengan Orde ketika Perang Dunia Sihir I melawan Voldemort. Untuk saat ini, Kementerian tidak tahu. Mereka masih menaruh asumsi bahwa Dumbledore kembali membangun Orde Phoenix, namun mereka belum mendapatkan kejelasannya.
Dikarenakan oleh status rahasia mereka, Dumbledore memberitahu Rosmerta bahwa teman-temannya hendak berkumpul di sini. Mereka-yang kebetulan bekerja di Kementerian-akan dikenalkan pada para penyihir dari Asia Timur yang kebetulan adalah kenalannya. Dumbledore sengaja menutupi identitas para ninja sebagai 'penyihir Asia' meski Temari sama sekali tidak mirip orang Asia dengan rambut pirangnya. Tapi, tidak masalah. Mereka akan membahas ini nanti.
Untuk pihak penyihir Asia Timur yang asli, Dumbledore tidak terlalu mempermasalahkannya karena komunitas penyihir di sana sebenarnya sudah dinyatakan hilang sejak satu abad lalu. Mereka dengan susah payah mempertahankan keturunannya ketika peperangan para muggle berlangsung. Belum lagi dengan Perang Dunia yang meledak di tahun 1917 dan 1939. Para penyihir Asia Timur yang sudah cukup langka pun tersapu habis dan dinyatakan punah di akhir Perang Dunia II ketika Jepang mengalami kekalahan.
Kesamaan bahasa antara penyihir Asia dengan para shinobi inilah yang membuat Dumbledore memikirkan cerita karangan ini untuk mereka. Meski keduanya jelas-jelas berbeda dan shinobi jelas-jelas bukan penyihir, tapi Dumbledore yakin mereka masih ada kaitannya dengan penyihir Asia. Entah apa kaitannya, yang jelas sesuatu mengenai sihir dan chakra tampak memiliki kesamaan. Ia bahkan punya firasat bahwa para ninja mampu menguasai sihir jika mereka mau mempelajarinya.
Rosmerta meninggalkan mereka setelah sedikit bercakap-cakap dengan Tonks yang tengah meminum butterbeer dengan antusias. Matanya menyipit ketika cairan nikmat tersebut menyentuh lidahnya. Beberapa orang lainnya ikut menyesap minumannya. Mereka merasa haus karena ketegangan yang tadi secara mengejutkan melanda mereka. Ketegangan yang tidak biasa. Ketegangan yang seakan membuat mereka tercekik dan merasakan keputusasaan yang hanya mampu dikeluarkan oleh dementor.
Puas dengan butterbeer yang telah ia minum, Tonks pun memutuskan bahwa sekaranglah saatnya ia bicara. Di pertemuan terakhir mereka, ia merasa sangat penasaran dengan jenis ninja ini. Ia ingin tahu kemampuan mereka, tentang apakah mereka sama hebatnya dengan apa yang disebutkan dalam jurnal perjalanan sang pendiri Hogwarts. Apa yang ia lihat sekarang ini mungkin melenceng cukup jauh dari ekspetasinya, tapi keadaan itu tidak menyurutkan rasa penasarannya.
Perempuan berabut pirang dengan empat ikat rambut itu terlihat cantik, sungguh. Ia memiliki aura dewasa yang entah mengapa membuatnya berbeda. Selain itu, Tonks penasaran dengan apa yang tersimpan di balik jubah itu. Temari terlihat begitu tegap dan-sebagai wanita-mau tak mau Tonks sedikit iri padanya.
Masalah ninja atau bukan, tidaklah masalah. Tonks tetap ingin mengenal mereka.
"Menurutku, rasanya akan tidak sopan kalau kita juga tidak mengenalkan diri," ungkapnya dengan nada ringan. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Ia menunjuk dirinya sendiri. "Namaku Tonks, hanya Tonks. Aku bekerja di Kementerian sebagai Auror. Ngomong-ngomong, berapa umurmu, Temari? Kau kelihatan tidak terlalu muda dariku. Aku bisa merasakannya. Ah, selain itu, mohon kerja samanya."
Temari mengerjap. Namun, ia tetap menjawab meski dengan nada ragu.
"21, hampir 22."
Seringaian muncul di wajah Tonks. Ia berujar, "Tepat seperti perkiraanku. Kau lebih muda dua tahun dariku! Lihatlah, Snape, mereka tidak semuda yang kau kira. Aku yakin mereka lebih dari mampu untuk membantu kita."
Snape hanya mencemooh perkataan Tonks. Ia kemudian ikut memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan posisinya di Hogwarts. Perkenalan dilanjutkan oleh Remus Lupin, dan Alastor Moody. Di meja samping kanan mereka, Charlie Weasley, Bill Weasley, dan Arthur Weasley memperkenalkan diri. Sosok berkulit hitam dengan tubuh tinggi besar menganggukan kepala dan berujar, "Kingsley Shacklebolt."
Di samping Kingsley, seorang wanita berpipi merah dengan rambut hitam melanjutkan, "Hestia Jones."
Sedangkan di meja sebelah kiri Dumbledore, seorang lelaki bersuara mencicit pun menyahut, "Elphias Doge," dan dilanjutkan dengan seorang lelaki yang memakai topi berwarna violet, "Dedalus Diggle."
Seorang penyihir wanita yang terakhir, memperkenalkan diri sebagai Emmeline Vance. Syal zamrud yang dipakainya membuatnya tampak Agung. Kemudian, yang terakhir adalah sosok berahang persegi dengan rambut tebal berwarna jerami. "Sturgis Podmore," katanya. Ia tengah menopang sebelah pipinya dengan tangan sementara tangan yang lain mengangkat gelas butterbeer yang tengah disesap olehnya.
Perkenalan mereka yang singkat tetap memberikan kepuasan tersendiri bagi Dumbledore. Membuat kedua belah pihak untuk saling percaya ketika keduanya tidak saling mengenal adalah hal yang sulit. Jika mereka-setidaknya-telah mengetahui identitas satu sama lain, maka kerja sama ini mungkin akan jauh lebih mudah. Memutuskan diri untuk menyewa jasa para shinobi yang baru diketahui eksistensinya memang cukup riskan.
Tapi, paling tidak Dumbledore telah membuktikan keberadaan mereka yang ternyata memang bukan sekedar mitos. Langkah selanjutnya yang akan ia ambil adalah melihat bagaimana para shinobi ini bekerja. Dengan begitu, ia bisa menganalisis apakah mereka bisa diikutsertakan dalam kepentingan Orde atau tidak. Sebab, menurut isi jurnal itu, kemampuan mereka sangatlah meyakinkan. Mendapatkan bantuan mereka akan sangat menguntungkan dunia sihir. Terlebih dengan kondisinya sekarang ini yang membuatnya memerlukan bantuan. Jika misalnya nanti ia tidak bisa bertahan lebih lama akibat insiden tertentu...
Pengamatannya terhadap silsilah serta peninggalan keluarga Riddle memang masih belum membuahkan hasil. Namun, dari semua usahanya ini, Dumbledore sudah mulai melihat pola dan arah yang akan menuntunnya kepada rahasia besar mantan muridnya tersebut. Ketika Orde Phoenix disibukkan dengan pengamanan ramalan di Departemen Misteri, Dumbledore tetap menyempatkan diri untuk melanjutkan pengamatan rahasianya. Tidak ada yang tahu mengenai ini. Tak seorang pun. Itulah mengapa ia membutuhkan bantuan kalau saja tindakan yang ia lakukan membawa petaka baginya.
Kalau ternyata ia tidak bisa melanjutkan pencariannya, ia mungkin bisa mempercayakan ini kepada orang lain. Orang yang dianggap mampu dan berkekuatan lebih besar dibanding para penyihir pada umumnya. Sebab, dalam kondisi apa pun, Dumbledore belum bisa membiarkan Harry berjalan sendiri tanpa panduan dan perlindungan. Harry adalah kunci keberhasilan perang dingin ini. Harry adalah salah satu orang yang ia kasihi. Dumbledore akan selalu berusaha melindunginya meskipun jiwanya sudah terpisah dari raga.
Mempercayai para ninja memang taruhannya yang paling besar. Tapi, jika ia benar, dunia sihir akan sangat terbantu. Kemudian, jika ternyata ia salah...
Tidak, Dumbledore yakin keputusannya benar. Ia tidak boleh ragu-ragu kalau tidak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti apa yang ia lakukan kepada saudarinya. Selain itu, ia juga melihat niat baik dari sisi sang pemimpin ninja, Kakashi Hatake. Dumbledore akan kembali menghubunginya setelah memutuskan layak tidaknya ninja ini diikutsertakan ke dalam Orde.
"Aku telah memberi kalian layout kastil Hogwarts dan juga denah wilayah di sekitarnya. Apakah ada hal lain yang kalian butuhkan?" tanya Dumbledore kepada sang kapten tim.
Sosok bertopeng gagak itu terdiam sesaat, namun ia segera merespon perkataan Dumbledore setelah mempertimbangkan sesuatu.
"Denah Stasiun King Cross dan peta jalur kereta api yang akan digunakan para murid untuk berangkat ke Hogwarts," ungkapnya. Dumbledore mengangguk atas permintaan tersebut. "Kami juga membutuhkan data perihal keamanan yang telah diterapkan di Hogwarts sekarang ini. Sesuatu seperti mantra pelindung, segel, barrier, atau apa pun itu."
Permintaan kedua sedikit terasa berat bagi Dumbledore. Hogwarts memiliki banyak rahasia. Tidak banyak orang yang berhasil mengungkap rahasia kastil tua tersebut. Menjelajahi Hogwarts membutuhkan banyak waktu. Bahkan, Tom Riddle sekalipun butuh tujuh tahun masa sekolahnya untuk bisa mengeksplorasi Hogwarts secara keseluruhan. Memberitahu mantra pelindung dan titik-titik keamanan Hogwarts terdengar cukup beresiko. Hogwarts adalah kastil yang seolah memiliki jiwanya sendiri. Dumbledore khawatir jika kastil tersebut menolak intervensi asing terkait barrier pelindungnya.
Seolah merasakan kekhawatiran Dumbledore, Kingsley Shacklebolt yang merupakan Auror memutuskan untuk menyuarakan pertanyaan yang kebetulan sama seperti apa yang akan ditanyakan Dumbledore.
"Apakah data itu begitu diperlukan? Apa yang hendak kalian lakukan setelah mendapatkannya?"
Masih dengan suara yang seolah tanpa perasaan, sang kapten menjawab, "Jika kalian tidak berkenan untuk memberikannya, maka tidak masalah. Kami bisa mencaritahunya sendiri meski nanti proses pemeriksaan kastil akan memerlukan waktu dan pada akhirnya kalian hanya menghambat pekerjaan kami."
Baik Kingsley ataupun yang lain langsung mengerutkan dahi begitu mendengar jawaban kapten yang entah mengapa terdengar tidak bersahabat. Nada suaranya memang datar, seperti ketika ia berbicara beberapa saat sebelumnya. Tapi, siapa pun yang mendengar perkataan tersebut pasti menyadari maksud tersirat di dalamnya, terutama untuk kalimat terakhir.
Suasana tidak mengenakan itu segera terpecah oleh dehaman sosok bertopeng yang berdiri di samping kapten. Para anggota Orde mengenalinya sebagai Iriko.
"Bukan begitu maksudnya," ujar Iriko yang langsung ditebak sebagai perempuan. "Kami hanya ingin kalian bekerja sama," lanjutnya.
Mengetahui adanya perempuan lain di dalam kelompok itu, Tonks pun merekahkan senyum. Berada di antara para wanita dewasa sedikit melelahkan untuknya. Ia butuh teman ngobrol yang nyambung meski Ginny ataupun Hermione juga merupakan opsi yang bagus. Tapi, mendapatkan teman lain yang berbeda budaya akan lebih menarik, bukan?
Memfokuskan perhatiannya kepada mereka, Tonks bersumpah ia mendengar seseorang di antara orang-orang itu tengah menahan tawa. Oh, sebentar, siapa kode namanya?
Kitsune? pikir Tonks. Ia kemudian mengangguk dalam hati. Ya, Kitsune. Apakah barusan dia mendengus?
"Lebih tepatnya-" Kitsune menimpali Iriko. Tonks menangkap nada geli di suaranya. "Dia-eh, kami-akan lebih terbantu jika kalian memberikan data tersebut. Mencari data memang mudah, namun ukuran kastil yang tidak kecil akan sedikit menghambat kami. Hanya sedikit, percayalah. Jadi, sebenarnya tidak terlalu masalah. Tapi, akan lebih baik kalau kami mendapatkan data tanpa harus bersusah payah."
Penjelasan dua anggota tim penjaga tampaknya berhasil dimengerti para anggota Orde. Moody yang sedari tadi memutuskan untuk diam akhirnya mengutarakan ulang pertanyaan Kingsley yang belum sempat terjawab.
"Apa yang akan kau lakukan pada data itu?" tanyanya curiga.
Karasu kembali menjawab. Nada suaranya masih sangat datar, seperti biasa, seolah ia tidak memerlukan dua orang sekaligus untuk memperhalus perkataannya tadi.
"Pemeriksaan. Semua bentuk perlindungan ataupun barrier akan dicek ulang dan dipastikan daya tahannya. Pemeriksaan itu tentunya akan menggunakan dua standar khusus. Standar bagi kalian para penyihir dan standar kami."
Mediator Nara menganggukan kepala. Ia menimpali, "Kudengar masih ada cukup banyak murid yang sering menyusup ke Hutan Terlarang. Kami akan memastikan hal itu takkan terjadi lagi." Nada suara sang Mediator terdengar agak meragukan. Ia seperti mengatakan hal semacam 'takkan lagi menyusup karena mereka akan kami biarkan pergi ke sana terang-terangan'. Namun, kemudian ia melanjutkan, "Perlindungan ini nantinya tidak hanya untuk kastil Hogwarts. Namun, juga untuk wilayah di sekitarnya. Itulah mengapa kami membutuhkan data titik di mana perlindungan itu dipasang. Tujuannya agar kami dapat menyesuaikan tambahan keamanan yang akan dibuat."
Jelas.
Penjelasan sang mediator sangatlah jelas dan mudah dipahami. Bentuk keamanan Hogwarts memang telah menjadi isu sejak dulu. Puncaknya adalah ketika Sirius Black berhasil menyusup ke sana tanpa jejak sedikit pun. Keberhasilan itu merupakan kekalahan besar untuk Hogwarts. Meskipun Black ternyata bukan pengikut Voldemort, namun fakta bahwa ia mampu menyusup tanpa ketahuan telah membuktikan seberapa lemahnya pertahanan dan keamanan Hogwarts. Para ninja tampak mengetahui isu ini setelah membaca dokumen yang diberikan Dumbledore.
Perhatian mereka terhadap masalah ini berhasil menarik perhatian Dumbledore sekaligus meningkatkan rasa respek sang penyihir berpengalaman itu kepada mereka.
Setelah menutup percakapan dengan mengatakan ia yang akan memberikan data itu kepada mereka, Dumbledore pun mengakhiri pertemuan kali ini. Ia berjanji akan memberikan data paling lambat lusa. Sebelum membubarkan mereka, ia juga memperingati para ninja untuk berhati-hati kepada kastil yang 'hidup'. Peringatannya hanya mendapatkan balasan berupa ekspresi bingung Temari dan anggukan mengerti Shikamaru. Kemudian, tepat sebelum mereka benar-benar menghilang ke lantai tiga untuk menempati ruangan yang telah dipesan, Dumbledore memberi Shikamaru sebuah sepatu usang yang mencurigakan.
Pemuda itu tentunya menanyakan kegunaan sepatu tersebut. Dumbledore menjawabnya dengan riang.
"Aku ingin dua atau tiga di antara kalian mengunjungi markas besar Orde Phoenix di Grimmauld Place. Sepatu itu akan membawa kalian ke sana, fungsinya sama seperti batu yang membawa kalian kemari."
Keheningan adalah jawaban dari Shikamaru.
Dumbledore tersenyum. Ia menepuk bahu sang Mediator.
"Kalau begitu, selamat malam dan selamat beristirahat!" []
TBC
