DisclaimerNaruto milik Masashi Kishimoto. Harry Potter milik J.K. Rowling
Warning : FemNaru, semi-canon, typos
A/N : terima kasih untuk reviewnya teman-teman! untuk risky56 terima kasih juga buat sarannya, hehehe. tapi saya mau tanya mengenai saran kamu. yang dimaksud dengan 'cerita yang disukai semua orang' itu gimana, saya nggak nangkap maksudnya.- soalnya crossover naruto-hp dengan karakter utama femNaru di bhs indo memang masih jarang, itulah kenapa saya bikin fanfic ini. terus untuk sasufemnaru, saya suka pairingnya maka dari itu saya bikin ff ini.- ide tentang femnaru yg menjalankan misi bersama sasuke plus konoha tim keliatan menarik di otak saya, jadilah saya nulis ini. bagian kurang jelasnya gimana ya? hehehe, sejauh ini saya udah berusaha biar mereka semua nggak ooc dan biar konfliknya keliatan. kalau ternyata ooc ya maafkan soalnya saya hanya penulis fanfic;) makasih masukannya ya!
untuk yang lain, selamat membaca! saya mau ngasih tahu sepertinya nanti akan lebih banyak pov dari sisi tokoh naruto meski saya juga bakal usaha agar tetap imbang, soalnya, duh, inikan crossover xD
Selamat Membaca!
ooOoo
Kesan paling dalam yang ia rasakan pada pertemuan pertama Orde dan ninja ini adalah nama para anggota Orde yang sulit untuk diingat. Kalung penerjemah yang dipakainya memang sangat membantu dalam berkomunikasi. Namun, kalung tersebut tidak membuatnya mampu mengingat semua nama yang terdengar aneh di telinga dan terasa aneh ketika meluncur keluar dari mulutnya.
Meskipun begitu, Naruto memutuskan untuk melupakan masalah ringan tersebut. Toh posisinya nanti tidak akan mengharuskannya berkomunikasi langsung dengan mereka. Jadi, Naruto sama sekali tidak mengkhawatirkannya.
Ia mengekori Sakura dan yang lain. Shikamaru serta Temari berjalan bersisian dengannya. Lelaki yang berposisi sebagai Mediator itu menatap Naruto dari samping. Awalnya, Naruto tidak menyadarinya. Namun, setelah berselang cukup lama, akhirnya Naruto pun menengok dan berujar, "Ada apa Shika? Kau menyukai topeng baruku?"
Shikamaru membalas pertanyaan Naruto dengan decakan. Ia kemudian memasukan kedua tangannya ke dalam saku dan kembali menolehkan kepalanya ke depan.
"Yang tadi itu, kau melepaskan killing intent dengan sengaja atau tidak sengaja?"
Pertanyaan Shikamaru berhasil menarik perhatian Temari. Ia tiba-tiba teringat dengan aura mencekam yang secara misterius menerpa mereka semua beberapa saat lalu ketika mereka sedang sedikit berargumen dengan para penyihir. Memiringkan kepala ke samping, ia menaikan sebelah alisnya kepada Naruto yang tengah mengerutkan kedua alis.
"Tidak sengaja," gumam perempuan bertopeng rubah itu. Ketika mengatakannya, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu kamar bernomor 312. "Aku bahkan tidak sadar ketika melakukannya," lanjut Naruto dengan nada tidak senang.
Di depan sana, Sasuke tengah membuka kunci pintu kamar 312. Ia menyuruh seluruh anggota untuk berkumpul terlebih dahulu sebelum kembali ke ruang masing-masing. Katanya, ada beberapa hal yang perlu mereka diskusikan. Naruto mendengar penjelasannya dengan lalu ketika mereka berjalan kemari. Ia mengembalikan fokusnya pada Shikamaru yang hanya mengangguk menanggapi pengakuannya tadi.
Mengeluarkan niat membunuh bukanlah kebiasaan Naruto. Ia hanya melakukannya ketika dirinya sangat marah, misalnya ketika Pein menghancurkan Konoha. Itu pun tidak seberapa dan sama sekali tidak berefek pada si pemilik rinnegan. Perbedaan kekuatan mereka cukup jauh kala itu. Pein sama sekali tidak takut padanya, jadi keadaan tersebut tidak termasuk dalam keadaan di mana Naruto mengeluarkan aura killing intent.
Contoh yang lain merujuk pada Madara. Ketika mereka sedang berperang dua tahun lalu, Naruto tentunya sangat ingin membunuh orang tersebut. Bahkan, bukan hanya Naruto. Semua anggota Aliansi Shinobi ingin menebas kepala sang kakek moyang Uchiha. Namun, seperti biasa, ia itu terlampau kuat untuk takut pada Naruto ataupun ribuan shinobi yang tersisa di pertarungan. Alih-alih takut pada sang Jinchūriki, yang ada ia malah membuat gentar seluruh lawannya.
Ketika memikirkannya, Naruto langsung ingat bagaimana keputusasaan melandanya begitu bijū memasuki tahap transformasi akhir dan mulai membentuk sebuah pohon dewa yang menyerap semua chakra para shinobi yang berada di medan perang. Momen tersebut amat sangat disesali Naruto. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri. Kalau saja Sasuke tidak mengingatkannya dan kembali bergerak dengan Susanō, mungkin Naruto sudah kehilangan harapan saat itu juga.
Mengetahui dirinya yang mampu mengeluarkan ancaman kuat seperti para penjahat mau tak mau membuatnya agak risau. Kurama memiliki aura yang demikian. Namun, saat ini Kurama sedang tertidur.
Meskipun mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan killing intent adalah sesuatu yang umum bagi para shinobi--terutama untuk mereka yang berlevel tinggi. Rasanya, tetap saja... Naruto agak malu karena ia masih buruk dalam mengontrol kemarahannya, padahal ia sudah bukan lagi remaja naif seperti beberapa tahun lalu.
Atau ia memang masih naif?
Memiliki kekuatan super dan temperamen yang buruk sepertinya memang bukan kombinasi yang baik. Naruto membuat catatan untuk dirinya sendiri agar tidak cepat merasa kesal.
Mengerutkan dahi tidak senang, Naruto tiba-tiba teringat perkataan Sasuke tadi ketika semua orang di antara mereka membeku akibat killing intent yang secara tidak sengaja dikeluarkannya.
Get your shit together, Naruto. You scare everyone.
Yeah, benar. Dan satu-satunya orang yang tidak terpengaruh ataupun takut padanya hanyalah Uchiha Sasuke. Ia terlampau gengsi untuk takut kepada Naruto. Pemikiran itu sedikit menghiburnya. Paling tidak, masih ada orang yang bisa mengingatkannya kalau ternyata ia kembali kelepasan melakukan tindakan yang sama. Sasuke selalu memposisikan diri sebagai orang penting di kehidupannya.
Si berengsek itu, pikir Naruto sambil menahan jengkel sekaligus perasaan hangat yang melingkupi dadanya--rasa yang selalu ia rasakan tiap kali memikirkan orang-orang terdekatnya. Apa yang dipikirkan Kakashi-sensei ketika menunjuknya sebagai kapten tim begitu saja? Dia bahkan tidak bisa mengolah perkataannya agar terdengar tidak menyinggung perasaan orang lain!
Menggelengkan kepala untuk mengalihkan pikiran tersebut, Naruto pun melangkahkan kaki memasuki kamar 312. Hal pertama yang ia lihat dari kamar itu adalah adanya empat buah single bed dengan seprai berwarna kecoklatan, warna yang sama seperti berbagai furnitur kayu yang terdapat di sana. Selain tempat tidur, Naruto juga mendapati empat buah nakas yang terletak di masing-masing sisi tempat tidur. Ia tidak memperhatikan keberadaan properti lain ketika orang-orang mulai duduk lesehan di lantai kayu yang diapit oleh empat buah tempat tidur itu.
Tidak selang beberapa lama, Kiba, Ino dan Kurotsuchi pun bergabung. Mereka meloncat dari jendela dan langsung ikut duduk bersama yang lain. Posisi duduk mereka terbagi menjadi dua dan saling berhadapan.Naruto berada bersama Shikamaru, Temari, Hinoko, dan Sai. Sementara yang lain berada di depan mereka. Meski berjumlah sepuluh orang, ruang kamar ini tergolong cukup lebar sehingga mampu menampung mereka semua tanpa berdesakan.
Diskusi dimulai dengan Kurotsuchi yang menjelaskan keaadaan yang masih aman. Sembari mendengarkan penjelasannya, Naruto menurunkan tudung jubah hitam yang sejak tadi menutupi rambut pirangnya. Gerakan itu diikuti oleh beberapa orang lain. Dari beberapa hingga semua. Kemudian, hanya dalam beberapa saat saja kedelapan orang tersebut telah menurunkan tudung jubah dan juga melepas topeng yang tadi mereka pakai. Pintu kamar yang telah dikunci membuat mereka berani melakukan yang demikian.
"...hanya aktivitas normal seperti jual beli dan sebagainya. Aku menyimpulkan bahwa desa ini semacam desa wisata yang sering dikunjungi orang-orang karena di luar sana masih ada cukup banyak orang yang berlalu-lalang meski sudah malam," ungkap sang kunoichi Iwagakure kepada Sasuke yang tadi menanyakan hasil eksplorasi singkatnya.
Sasuke merespon dengan anggukan. Menyusupkan tangan ke dalam jubah, ia mengambil sebuah gulungan dan memberikannya kepada Sakura yang kebetulan duduk di sampingnya. Sakura sendiri segera membuka gulungan itu yang ternyata berisi layout kastil Hogwarts. Sejak diberitahu untuk mengikuti misi ini, Sakura memang belum mengetahui rincian tempat yang akan mereka jaga. Ia hanya mengetahui Hogwarts secara garis besar, seperti tentang fakta bahwa Hogwarts adalah sekolah sihir yang berisi ratusan murid.
Semua rincian informasi keseluruhan misi hanya diberikan kepada Sasuke dan Naruto karena dua orang itulah yang akan melaksanakan misi utama guna memperbaiki barrier. Mereka berdualah yang diberi gulungan berisi informasi mengenai seluk beluk dunia sihir ini meski Sakura sangat yakin bahwa Shikamaru sudah mengetahui segala yang belum mereka ketahui tentang dunia ini.
"Rencana misi masih sama seperti yang sebelumnya," ujar Sasuke mengawali pembahasan. "Tim Pencari dan barrier akan berangkat besok pagi, sementara tim penjaga akan--melakukan apa yang perlu mereka lakukan sesuai dengan permintaan klien, apa pun itu, terserah. Ada yang ingin menambahkan?" tanya Sasuke dengan nada datarnya.
Di belakang Sasuke, Kiba tergelak pelan. Ia menopang pipinya dengan satu tangan.
"Kau sama sekali tidak bisa menyesuaikan diri dengan dinamika tim, ya?" tanyanya dengan nada meledek.
Sasuke menatap Kiba selama beberapa saat. Yang ditatap hanya menampilkan cengiran yang menampilkan gigi taringnya. Menggedikan bahu, Kiba menambahkan, "Berada di dalam tim sebesar ini bukan gayamu, 'kan? Apa yang Hokage-sama rencanakan?"
Menanyakan masalah ini bukanlah langkah yang tepat. Anggota Rookie 9 cukup mengetahuinya. Namun, Kiba adalah Kiba. Wataknya hampir sama seperti Naruto. Kenyataan bahwa mereka cukup sering hang out bersama sejak perang berakhir benar-benar tidak membantu. Kiba mulai tertular kebiasaan Naruto yang sering bertindak sebelum berpikir. Jadi, tidak heran kalau Sasuke memberikan tatapan dingin padanya yang dengan spontan langsung membuat Kiba ingat bahwa Sasuke bukan lagi teman sekelasnya yang dulu. Berbagai hal telah terjadi dan meskipun orang ini telah kembali bergabung dengan mereka, ia bukan lagi orang yang sama.
Kiba bertanya-tanya kenapa Naruto bisa tahan dengannya.
"Bukan urusanmu, Inuzuka," ungkap Sasuke sambil menolehkan kepala dari sang pemilik ninken. Ia mengembalikan fokusnya kepada anggota yang lain. "Kurotsuchi memegang semua data terkait para nukenin yang dicurigai kabur ke sini. Tim pencari akan melacaknya dan setelah mereka menemukannya, Ino akan mengambil informasi dari mereka sebelum mengirim mereka kembali ke tangan Aliansi Shinobi untuk diinterogasi lebih lanjut. Dengan begitu, kita tidak perlu membuat sel sementara di sini."
Kurotsuchi yang diberi tanggung jawab itu pun mengangguk. Ia menerima penjelasan Sasuke dengan baik sebelum kemudian sebuah pertanyaan besar muncul di kepalanya.
"Dengan apa kita mengirim mereka?" tanyanya heran. Ia mengerutkan dahi. "Selain itu, kita butuh berkomunikasi sedangkan di sini tidak ada elang pengantar surat. Apakah nantinya kita harus bolak-balik ke markas untuk melapor?"
Naruto yang sejak tadi mengamati akhirnya angkat bicara. Senyum miring tercipta di bibirnya. Ia tampak terhibur dengan entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Aku memiliki kontrak Kuchiyose dengan para katak yang keren. Mereka bisa berteleportasi ke Konoha untuk membawa para nukenin."
Mengerjap, Kurotsuchi kembali bertanya. "Bagaimana cara mereka membawanya?"
Kali ini Naruto benar-benar tertawa. Beberapa orang langsung melemparinya pandangan aneh. Namun, Naruto--seperti biasanya--tidak peduli. Atau mungkin ia tidak menyadari pandangan itu. Ia masih tertawa ketika berujar, "Tentu saja dengan masuk ke dalam mulut summon-ku! Menurutmu bagaimana lagi? Berada di dalam mulut katak sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Mereka semua yang kabur berhak merasakan air liur spesial Gamakichi."
"Kau sangat menikmati momen-momen ketika berada di mulut katak, bukan, Naruto? Aku sudah mengetahuinya," timpal Sai setelah diam selama sekian lama.
Perkataan Sai yang tentunya merujuk pada ejekan itu sontak membuat kedua mata Naruto melebar. Ia berdecak pada Sai dan berujar, "Tutup mulut, Sai. Kau akan mendapat giliran suatu saat nanti."
Tidak menginginkan perdebatan tidak penting itu menjadi semakin panjang, Shikamaru pun mengembalikan topik pembicaraan kepada Kurotsuchi. Ia menjawab pertanyaan kedua yang tadi sempat dilontarkan oleh sang cucu Tsucikage.
"Ino akan menjadi penyalur informasi dengan jutsu spesial keluarganya. Kau mampu melakukannya dalam jarak yang cukup luas 'kan, Ino?" tanya Shikamaru kepada mantan rekan satu timnya
Yamanaka Ino mendengus. Ia mendelik, "Berhenti meremehkanku, Shikamaru. Menurutmu apa yang kulakukan dua tahun terakhir ini?"
Pasca peperangan berakhir, Ino dan Shikamaru telah berjanji satu sama lain untuk menyempurnakan teknik keluarga mereka masing-masing setelah ayah mereka meninggal dunia. Meski Inoichi dan Shikaku bukan seorang kepala klan, namun keduanya memiliki peran dan posisi yang cukup penting di desa ataupun di dalam klan mereka sendiri.
Sebagai anak dari mereka, Ino dan Shikamaru merasa bahwa mereka harus menggantikan posisi sang ayah. Dengan janji yang telah mereka buat, dua orang tersebut akhirnya mampu mencapai level yang hampir mengimbangi masing-masing orangtuanya. Masih diperlukan banyak waktu untuk benar-benar menguasai segala teknik yang dikuasai mereka, namun setidaknya Ino dan Shikamaru sudah mulai mencapai level itu.
Perkataan Ino berhasil membuahkan senyum di bibir Shikamaru. Ia menganggukan kepala.
"Baguslah. Dengan Ino yang mampu menghubungkan kita semua, maka kita takkan perlu alat komunikasi lain. Tim pencari akan mengirimkan informasi kepadaku ataupun kepada Sasuke dan sebaliknya."
"Bagaimana jika tim barrier ingin mengirimkan laporan? Tidak ada Ino di sana," tanya Sai. Ia menatap Naruto dengan seksama. "Kau akan menggunakan katak?"
Sebelum Naruto sempat menjawab dan mengembalikan mereka kepada topik summon katak yang keren, Sasuke segera menimpali.
"Aku bisa menanganinya."
Diskusi mengenai Tim Pencari telah selesai. Kini mereka membahas misi penjagaan yang akan dilaksanakan oleh Sakura, Sai, Hinoko, Naruto, dan juga Sasuke. Di awal pembahasan, Hinoko telah lebih dulu menanyakan masalah mereka yang aslinya hanya beranggotakan tiga orang saja karena Naruto dan Sasuke harus pergi menyelesaikan misi yang lain.
"Bagaimana dengan pemasangan segel pelindung yang baru-shi? Uzumaki-san bisa saja tidak sedang bersama kita ketika pelindung itu dipasang."
Suara dari orang baru itu segera mengingatkan Naruto bahwa ada seseorang yang tidak terlalu ia kenal di sini. Naruto hampir melupakannya. Ia ingin menampar dirinya sendiri.
Menolehkan kepala kepada Hinoko yang duduk di samping Temari, Naruto pun berkata, "Tak perlu terlalu formal-ttebayo. Cukup panggil Naruto saja. Atau Naruto-sama, tidak masalah," lanjutnya sambil nyengir. Ia mengabaikan celaan Kiba dari seberang sana. "Untuk pemasangan segel pelindung yang baru, aku akan berusaha--tidak--aku pasti akan ikut bagaimana pun kondisinya. Kau tak perlu mempermasalahkannya."
Hinoko mengangguk dan berkomentar mengenai Naruto yang lebih dapat diandalkan dibanding Shikamaru. Komentar ini menghasilkan cengiran di bibir Naruto sedangkan Shikamaru memutar bola matanya. Di detik selanjutnya, Shikamaru pun memberitahu mereka mengenai portkey yang diberikan Dumbledore kepadanya. Ia juga menginformasikan tentang Dumbledore yang mengharapkan mereka hadir di Markas Besar Orde yang berada di tempat bernama Grimmauld Place.
Topik baru ini segera mendapat respon yang bervariasi meski kebanyakan dari mereka mengeluhkan portkey yang akan membawa mereka ke sana. Dua orang yang sama sekali tidak mempermasalahkan alat transportasi itu adalah Hinoko dan Sasuke, sedangkan dua orang lain yang begitu keberatan dengan benda tersebut adalah Naruto dan Kiba.
Perempuan berambut pirang keemasan itu segera berjengit tidak suka begitu mendengar penjelasan Shikamaru. Ia menolak untuk berpergian dengan benda terkutuk itu dan lebih memilih menggunakan metodenya sendiri.
"Kalian yang pergi ke sana akan membawa kunai yang telah kutandai," ungkap Naruto defensif. "Hiraishin yang kupelajari memang belum bisa kugunakan di dalam pertarungan, tapi aku masih bisa menggunakannya untuk berpergian. Aku takkan sudi menggunakan benda sihir terkutuk itu."
Sakura mengalihkan perhatiannya dari gulungan layout kastil Hogwarts yang sejak tadi tengah ia pelajari. Sebelah alisnya naik ketika mendengar ungkapan Naruto barusan.
"Kalau begitu kau harus memberi kami masing-masing sebuah kunai milikmu karena bukan kau saja yang muak dengan alat telepotasi sihir itu, Naruto."
"Tidak masalah. Aku punya banyak persediaan," balasnya ringan. Ia menoleh kepada Shikamaru. "Jadi, siapa yang akan ke sana?"
Shikamaru menyebutkan beberapa orang yang tidak mempunyai kepentingan esok hari. Orang itu adalah dirinya sendiri, Temari, Hinoko, Sakura, dan Sai. Dari kelima orang itu, mereka semua sepakat untuk mengirim Temari dan Shikamaru ke sana dengan alasan keduanya yang merangkap sebagai 'Mediator'. Sementara Temari merengut kesal, Shikamaru hanya mengedikkan bahu menerima nasibnya. Tiga orang yang tersisa juga merancang agenda mereka sendiri. Mereka berniat untuk melihat Hogwarts secara langsung supaya bisa mendapatkan gambaran umum sebelum mendapatkan bantuan data dari pihak klien.
Diskusi mereka mengenai tim penjaga pun selesai. Kini, mereka masuk ke masalah barrier--misi utama yang akan dilaksanakan oleh dua orang dengan kemampuan paling tinggi diantara mereka semua. Tidak ada yang tahu alasan mengapa Kakashi menyertakan keduanya. Pengetahuan akan barrier ini tidak terlalu diketahui oleh mereka. Hanya beberapa orang saja yang benar-benar tahu seluk-beluk penghalang besar yang memisahkan dua dunia itu. Para Kage sepakat untuk tidak mempublikasikan masalah ini. Pihak yang mengetahui kebenaran barrier pun tidak banyak. Mereka terdiri para Kage itu sendiri, para kaki tangan Kage, serta individu yang terlihat dalam misi ini.
Bahkan, mereka yang ikut dalam misi ini tidak mengetahui rincian informasi mengenai barrier. Mereka hanya tahu bahwa mitos yang sering didengar sejak kecil ternyata benar dan bukan hanya bualan semata. Tentang bagaimana bentuk, tempat, ataupun teknik yang digunakan dalam barrier itu, tidak ada yang mengetahuinya. Tidak ada kecuali dua orang yang diberi tanggung jawab secara langsung.
Maka, rasanya sangat maklum jika suasana di dalam ruangan tersebut langsung berubah ketika topik ini diangkat ke dalam diskusi yang selanjutnya. Mereka yang awalnya santai tiba-tiba tidak lagi santai karena mereka tahu masalah barrier adalah masalah yang cukup serius. Belum ada yang tahu dampak buruk yang akan menimpa dunia mereka jika barrier tersebut terbuka secara penuh.
Apakah nanti bisa terjadi bencana akibat bertemunya dua energi alam yang berbeda?
Apakah nanti akan ada oknum yang akan memanfaatkan dua jenis kekuatan di dunia itu?
Apakah nanti akan tercipta musuh 'baru' ketika barrier akhirnya terbuka secara penuh?
Belum ada jawaban pasti dari semua pertanyaan itu. Segala yang dianggap jawaban masih berupa asumsi karena mereka sendiri belum mengetahui kapasitas barrier itu sendiri. Bahkan Naruto dan Sasuke sekalipun.
Sayangnya, keduanya sama-sama tidak suka membahas sesuatu yang belum terlalu mereka ketahui. Penjelasan mereka akan menjadi dangkal. Sasuke memang sudah mengamati barrier itu beberapa kali karena memang dialah yang menemukannya. Namun, dari semua pengamatannya, ia belum menemukan solusi di balik barrier itu. Ia perlu bantuan Naruto. Untuk itulah mereka berdua mendapatkan misi ini.
Di sisi lain, Naruto baru mengetahui masalah ini tepat sehari yang lalu. Ia sama sekali tidak mengetahui kejanggalan besar ini karena orang-orang tidak ada yang memberitahunya lebih awal. Entah itu Kakashi, Gaara, ataupun Sasuke. Mereka semua menyembunyikannya dari Naruto dan ia sudah lelah untuk memperlihatkan kemarahannya kepada mereka.
Meledak marah takkan menyelesaikan permasalahan. Itulah mengapa ia masih tenang hingga detik ini. Itulah mengapa ia tidak langsung menyentak marah pada Kakashi begitu diberitahu bahwa masalah krusial tersebut telah berlangsung cukup lama dan ia baru diberitahu sehari sebelum orang-orang mempercayakan masalah ini padanya.
Naruto tahu bahwa Sasuke telah mengetahuinya lebih awal. Ia tahu bahwa temannya sendiri adalah orang yang menemukan masalah barrier ketika ia sedang melakukan 'perjalanan'nya. Ia juga tahu dan amat sadar bahwa Sasuke menyembunyikan fakta ini darinya.
Tapi, Naruto tetap diam. Ia diam dan tidak mengungkitnya karena ia tahu kondisi mereka berdua sedang sedikit rapuh. Sasuke mungkin berhasil ia seret ke Konoha, tapi sejak masalah 'itu' mereka tidak lagi sedekat dulu. Setidaknya, itulah yang Naruto pikirkan. Menekan Sasuke hanya akan merusak hubungan mereka yang memang sedang tidak baik.
Di awal pertengkarannya, Naruto sudah berusaha menawarkan solusi. Namun, tidak ada yang diterima. Hasilnya, mereka seperti perang dingin. Rasanya cukup menyiksa. Tapi, pasca peperangan dan pertarungan di Lembah Akhir, Naruto seperti belum punya tenaga tambahan untuk kembali menghadapi sang Uchiha. Ia sengaja memberi Sasuke waktu dan sudah berencana menyelesaikan kesalahpahaman--atau apa pun itu, ia pun tidak tahu. Segalanya membingungkan--begitu Sasuke kembali ke desa. Tapi, sebelum ia sempat melakukannya, misi ini sudah datang lebih dahulu dan memaksanya menghadapi temannya lebih awal.
Terkadang, hidup memang suka bercanda.
Merasakan suasana yang berubah, Naruto pun berusaha untuk memberi penjelasan seadanya karena Sasuke tentu saja tidak mau mengatasi hal-hal semacam ini. Sesuatu yang menjengkelkan dari dalam dirinya tetap tidak berubah meski ia sudah tidak lagi berada di kegelapan.
"Perkiraan waktu untuk mencarinya mungkin dua hari. Jadi, nanti sepertinya kami baru akan kembali dua hari yang akan datang," ungkap Naruto seringan mungkin. Tatapan teman-temannya seolah masih belum puas dengan penjelasan Naruto membuat perempuan itu mengerang di dalam hati. Menjelaskan barrier akan sangat merepotkan. Ia harus membawa-bawa masalah Rikudō Sennin yang sangat tidak membuatnya antusias. Memutuskan untuk bersikap seperti biasa, Naruto pun berujar, "Aku belum tahu rincian lainnya, ok? Barrier merepotkan ini hanya bisa kurasakan. Tapi, tenang saja, Uzumaki Naruto selalu bisa menyelesaikan segala masalah."
Komentar Ino mewakili pemikiran hampir semua orang di dalam ruangan itu.
"Aku selalu ingin menyangkalnya. Tapi, meski sangat menjengkelkan, aku harus mengakui bahwa kau benar," gerutunya. Ia mengerling pada Sasuke, kemudian kembali pada Naruto. "Sepertinya hanya itu yang bisa kita dapat dari misi tersebut, hm?"
Sakura ikut prihatin dengan kefrustrasian yang dirasakan orang-orang ini. Setidaknya, mereka bisa merasakan apa yang selama ini ia rasakan ketika menghadapi dua orang antik ini... Terjebak di antara mereka berdua memang merepotkan. Sakura sangat bersyukur ia mendapatkan misi bersama dengan yang lain dan bukan hanya dengan dua mantan rekan timnya.
Merasa perlu menangani situasi ini, ia pun berkata, "Bagaimana dengan pembagian kamarnya?"
oOo
Begitu orang-orang meninggalkan Kamar 312, ruangan tersebut langsung terasa senyap. Pembagian kamar yang tadi dilakukan tidak terlalu diperhatikan oleh banyak orang karena sebagian besar dari mereka masih ingin melihat-lihat kondisi di sekitar lingkungan ini. Perbedaan waktu yang ada membuat mereka belum merasa lelah karena ketika berangkat dari Konoha, suasana di sana jelas-jelas masih pagi.
Selain itu, berprofesi sebagai ninja membuat mereka tidak pernah mempermasalahkan masalah istirahat. Mereka semua bisa tidur dalam keadaan apa pun dan dengan siapa pun. Alasannya mudah saja. Misi yang selalu mereka jalani tidak peduli apakah mereka punya waktu tidur, tidur di tempat yang layak, ataupun tidur dengan siapa. Itulah mengapa masalah yang sering dianggap krusial bagi orang biasa justru dianggap sederhana bagi mereka.
Melepas jubah hitam dan melipatnya dengan asal, Naruto mendaratkan diri di atas tempat tidur untuk segera mengeluarkan gulungan berisi berbagai jenis fūinjutsu.
Beberapa saat yang lalu, Sai pergi ke ruangan Shikamaru untuk ikut menulis laporan kepada Kakashi. Sang Hokage meminta mereka untuk segera mengirimkan laporan tepat setelah sampai di sini. Ia ingin tahu bagaimana sosok asli para penyihir dan Naruto merekomendasikan Sai untuk menulis laporan karena lelaki itulah yang paling seksama dalam menganalisis kepribadian orang lain. Pendapat tersebut diterima oleh Shikamaru dan Sai, itulah mengapa lelaki itu tidak berada di kamar sekarang ini.
Dari sudut matanya, Naruto melihat Sakura yang mengunci pintu dari dalam. Ia tampak merenggangkan jubah yang dipakainya sebelum ikut duduk di samping Naruto dan membuat beberapa gulungan yang tengah dibuka di atas tempat tidur melayang jatuh ke lantai.
Naruto mengerang.
"Sakura-chan," ungkapnya sambil merengut. "Kau punya tempat tidur sendiri."
Sakura mengambil gulungan yang terjatuh dan menjauhkannya dari Naruto ketika perempuan pirang itu berusaha mengambilnya.
"Istirahatlah," ujarnya pendek. Matanya menyipit, mengamati wajah sahabatnya yang tampak sayu dengan kantung mata menghitam. "Kau memforsir dirimu lagi. Haruskah aku terus-terusan mengawasimu?"
Nada suara Sakura membuat Naruto berjengit. Ia sedikit menjauhkan dirinya dari jangkauan sang ninja medis.
"Aku baik-baik saja," ungkapnya defensif. "Apakah kau lupa, Sakura-chan? Temanmu ini punya cadangan energi yang besar. Lagi pula, aku tidak butuh istirahat. Yang kubutuhkan adalah gulungan-gulungan itu."
Tidak menggubris perkataan Naruto, Sakura tetap menjauhkan semua gulungan perkamen itu dari jangkauan temannya.
"Wajahmu merengek minta istirahat," kata Sakura. Ia merengut tidak suka. "Kau tampak berantakan, Naruto. Apa salahnya tidur sebentar? Kau bisa menyelesaikan apa pun ini nanti."
"Aku selalu tampak berantakan," timpal Naruto keras kepala. "Teknik fūinjutsu-ku masih harus direview sebelum aku--"
"Apakah kau telah kehilangan kepercayaan diri atas kemampuan yang kau miliki?"
Pertanyaan tersebut berhasil menarik perhatian Naruto. Ia menoleh, melihat seseorang yang tengah berdiri di depan jendela yang terbuka. Angin malam berhembus melalui rambut hitamnya meski wajahnya tertutup oleh topeng. Ia memunggungi Naruto yang kini telah menatapnya tajam.
"Apa maksudmu?" serunya menahan jengkel. Ia masih menatap sosok yang tidak bergerak itu, sosok yang menolak untuk melihatnya dan lebih memilih melihat hamparan lampu kerlap-kerlip yang berasal dari perumahan di bawah sana. "Jangan berani-berani kau mengatakan itu lagi."
"Aku tidak perlu mereview teknik yanh telah kukuasai karena aku yakin dengan apa yang mampu kulakukan."
Menatapnya dengan mulut terbuka,Naruto merasakan kejengkelan yang mulai menggumpal di tenggorokannya. Sepertinya, ia terlalu naif. Naruto terlalu naif untuk berpikir bahwa ia bisa bersama dengan Sasuke tanpa bertukar argumentasi di sepuluh menit awal setelah orang-orang meninggalkannya.
Sebuah peringatan langsung terngiang di benaknya ketika Naruto hendak memperpanjang perdebatan mereka ini. Ia mengambil napas dalam dan mengeluarkannya. Dialihkannya pandangan dari Sasuke. Ia meminta Sakura mengembalikan gulungan perkamennya sebelum kemudian kembali menyimpannya di sebuah perkamen lain yang merupakan gulungan penyimpanan.
Setelah mengamankan gulungan fūinjutsu di sana, ia pun menaruhnya di atas nakas dan merangkak ke atas tempat tidur. Sakura duduk di ujung sana, memperhatikan Naruto yang melepas ikat rambut dan juga flak jacket khas ANBU yang ia pakai. Matanya kembali terpatri pada Sasuke ketika ia berujar, "Hati-hati dengan ucapanmu, Sasuke. Kau tidak tahu kapan aku memutuskan untuk menendang bokong mengesalkanmu lagi."
"Kita akan berangkat sekitar jam tiga pagi," ungkapnya mengabaikan ucapan Naruto. "Lebih baik kau tidak menjadi beban karena pingsan di perjalanan setelah kurang tidur."
"Sasuke-kun benar, Naruto," timpal Sakura sambil berjalan ke tempat tidurnya sendiri yang berada di samping Naruto. "Aku tidak ikut kalian sebagai rumah sakit berjalan."
Naruto tidak sempat menimpali ketika Sasuke memutuskan untuk mendapat giliran jaga pertama. Ia segera meloncat keluar dari jendela yang ukurannya cukup besar. Hanya dalam seperkian detik saja, sosoknya seolah telah ditelan oleh angin malam. Tirai jendela yang menggantung di sisi kayu ventilasi itu berkibar terkena hembusan angin.
Naruto menggerutu mengenai kebiasaan mendramatisir yang menjengkelkan. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup matanya. Lima menit setelahnya, Sakura melihat Naruto yang sudah terlelap. Seulas senyum menghiasi bibirnya. Bisa menjalankan misi bersama sahabat baiknya ini mungkin tidak terlalu buruk. Kakashi mungkin sengaja mengikutsertakan mereka bertiga agar ketiganya tidak terpecah belah.
Pasca peperangan, anggota asli Tim Tujuh tersebut memang sangat jarang berkumpul. Sakura sibuk dengan kepentingan rumah sakit, Naruto dengan materi Jōnin yang dikejarnya serta berbagai permintaan misi yang ditujukan khusus untuknya, sedangkan Sasuke sibuk dengan perjalanannya di luar desa. Selama dua tahun terakhir, Sakura pun cukup merasa kesulitan untuk menemui Naruto. Ia bertemu dengannya hanya ketika Naruto melakukan check up rutin di rumah sakit. Selebihnya, mereka hanya saling berpapasan tanpa menghabiskan waktu bersama seperti dulu.
Mengambil buku tebal berjudul Hogwarts : A History yang dibawa oleh Naruto, ia membacanya sambil duduk di samping jendela. Matanya memperhatikan tiap kalimat yang tertulis di sana. Mulai dari sejarah kastil, metode pendidikan sekolah, hingga aktivitas tahunan sekolah. Sakura sangat terhanyut di dalam bacaannya sampai-sampai baru menyadari keberadaan Sasuke beberapa saat kemudian.
Lelaki jangkung itu tengah duduk di atas atap dengan tudung dan topeng yang tidak terpakai. Matanya tampak kosong seperti biasa, membuat Sakura bertanya-tanya apa yang ada di dalam kepala temannya itu. Sasuke selalu terasa jauh meski mereka sedang bersama-sama.
Meskipun begitu, ada satu hal yang diketahui Sakura. Lelaki itu sebenarnya mirip dengan Naruto, meski ketika diberitahu ia hampir selalu menyangkal. Kesamaan itu terletak pada keduanya yang tidak suka terikat aturan. Mereka tidak suka diatur ataupun dikendalikan. Bukti kecilnya adalah topeng dan tudung jubah yang tidak terpakai sekarang ini meski peraturan menyuruhnya demikian.
Senyuman ringan tercipta di bibirnya ketika memikirkan Naruto yang akan langsung murka kalau tahu bahwa sang kapten yang membuatnya melalukan ini itu ternyata malah melanggar peraturan itu sendiri. Terkadang, Sakura setuju dengan Naruto yang menyebut Sasuke berengsek. Meski begitu, Sakura benar-benar berharap dua temannya akan baik-baik saja dalam menjalankan misi perbaikan barrier nanti. Membiarkan mereka hanya berdua saja masih sedikit membuatnya khawatir dengan keadaan keduanya yang tampak tidak terlalu baik. ]
TBC
