Disclaimer : I don't own Naruto or Harry Potter.
Warning : FemNaru, typos, banyak narasi, dramas(?) etc
Pairing : SasuFemNaru, SlightShikaTema (i warn y'all .-)
A/N : Chapter ini nanti fokus ceritanya rada kebagi-bagi dan rada acak(?) entah tapi selamat membaca!
ooOoo
Dipercaya oleh sang adik untuk menjalani misi penting di lingkungan asing yang belum pernah didatangi oleh siapa pun dari Elemental Nations merupakan kehormatan baginya. Berposisi sebagai Mediator yang menjadi penghubung antara para shinobi dengan para penyihir juga sedikit membuatnya tersanjung. Namun, menyiapkan mental untuk menambah stok kesabarannya ternyata sedikit... merepotkan. Temari merasa bahwa ia telah terlalu sering menghabiskan waktu dengan Shikamaru begitu menyadari dirinya yang mulai ikut-ikutan menggunakan keluhan favorit sang kaki tangan Hokage.
Meskipun tidak mempermasalahkan kedekatannya dengan Shikamaru, menyadari bahwa lelaki itu memiliki pengaruh yang cukup besar terhadapnya ternyata cukup membuatnya was-was. Sejak dua tahun terakhir, tepatnya sejak perang besar dunia shinobi usai, tingkat kesibukannya seolah melejit mengimbangi Gaara yang merupakan Kazekage. Keadaan ini dikarenakan oleh posisinya yang merupakan kaki tangan orang nomer satu di Sunagakure.
Meskipun begitu, nasib yang sama juga menimpa Shikamaru tepat setelah ia memutuskan untuk belajar menjadi penasihat--atau mungkin pembantu?--Kage agar bisa mempelajari seluk-beluk pemerintahan sebelum Naruto menyandang topi merah Hokage. Pekerjaan yang sama diantara keduanya secara tidak langsung membuat Temari dan Shikamaru semakin dekat. Ketika memikirkannya, Temari merasa bahwa hidup seolah telah merancangnya demikian. Hidup seolah sengaja untuk selalu mempertemukannya dengan shinobi yang terkenal dengan kemalasan supernya itu.
Menggelengkan kepala, Temari berusaha agar pikiran ini tidak menganggunya dalam menjalankan misi. Hubungannya dengan Shikamaru sangat-sangat tidak jelas. Sang Nara tampak terlalu malas untuk hanya memperjelas apa yang terjalin di antara mereka berdua.
Mengalihkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, Temari pun duduk dan menyadari Hinoko yang telah beranjak dari kamar mereka. Tempat tidur yang ia gunakan tampak rapi, seolah tadi malam tidak ada orang yang menggunakannya. Remaja berusia empat belas tahun itu tampak begitu disiplin. Temari tidak heran ketika mengetahui kenapa Hinoko menjadi ANBU di usianya yang masih belia. Meskipun ia juga tahu bahwa Konoha tidak pernah segan untuk menempatkan para ninja muda berbakat di posisi penting, namun melihatnya secara langsung ternyata cukup asing juga.
Di Sunagakure, Gaara memang memecahkan rekor sebagai Kage termuda yang pernah ada. Namun, semua itu karena keadaan mendesak yang mendorong desa memutuskan hal tersebut. Para Kazekage yang memimpin Suna merupakan individu yang saling berhubungan darah. Mereka memberikan tanggung jawab itu secara turun temurun sejak Suna terbentuk. Kematian ayah mereka yang merupakan Yondaime Kazekage sangatlah tidak terkira. Siapa juga yang tahu bahwa Orochimaru bisa membunuh Yondaime Kazekage dengan begitu mudah?
Sunagakure tidak pernah mempersiapkan kejadian semacam ini. Para tetua desa kewalahan. Mereka tidak menemukan solusi lain selain mengangkat keturunan Yondaime sebagai penerusnya. Yondaime sendiri memiliki tiga orang anak. Dua diantaranya normal. Satu diantaranya haus darah. Namun, dari ketiga orang itu, calon yang paling mampu melindungi desa secara keseluruhan adalah sang anak terakhir. Perubahan kepribadian Gaara yang cukup signifikan sejak pulang dari Konoha mampu membuat para tetua desa berani mengambil langkah ekstrim dengan mengangkat pemuda itu menjadi Kage. Itulah yang membedakan Konoha dengan Suna.
Jika Konoha 'senang' mengangkat anak-anak di posisi penting asalkan anak itu memiliki kemampuan yang meyakinkan, Suna melakukan hal yang demikian karena keadaan mendesak. Selain itu, kebiasaan lama memang sulit diubah di dunia ninja yang hampir selalu diwarnai peperangan. Era baru inilah yang akan memulai perubahan di dunia ninja agar dunia yang mereka tempati menjadi lebih baik. Setidaknya, mereka para calon ninja akan tetap mendapatkan masa kecil yang layak sebelum berubah menjadi sosok yang dianggap sebagai senjata perang.
Menarik diri dari lamunan, Temari baru menyadari Shikamaru yang tengah sibuk menulis hal entah apa di berbagai gulungan yang tersebar di atas tempat tidurnya. Flak jacket hijau khas Konoha yang biasa ia pakai tergeletak begitu saja di atas bantal. Baju hitam lengan panjang yang juga merupakan seragam khusus desa itu tergulung hingga siku. Shikamaru tampak menyadari tatapan Temari ketika ia memutuskan untuk memecah keheningan.
"Hinoko sudah pergi bersama timnya," ujarnya tanpa mengalihkan mata dari dokumen yang sedang ia kerjakan. "Mereka berangkat dua jam yang lalu sebelum matahari terbit. Yang lainnya juga sudah berangkat."
Mengerling pada jam dinding yang menunjukan pukul tujuh pagi, Temari menaikan sebelah alisnya, "Aku kesiangan?"
Shikamaru mengedikkan bahu.
"Tidak juga. Pekerjaan kita di sini tidak terlalu berat," ujarnya menyimpulkan. Sesaat kemudian ia menjauhkan alat tulis yang sedang dipegangnya dan menoleh untuk melihat teman sekamarnya yang baru saja bangun dengan rambut yang cukup berantakan. "Hanya setumpuk paperwork, seperti biasa. Kau lihat?"
Sarkasmenya di suaranya menghasilkan gelak tawa Temari. Ia tersenyum mengejek, "Hokage tetap memberimu pekerjaan di situasi seperti ini?"
"Kau tidak tahu betapa merepotkannya Kakashi-sensei setelah menjadi Hokage. Mungkin, dia memang sudah seperti ini ketika masih menjadi Jōnin. Tsunade-sama sering jengkel karena kebiasaan Kakashi yang sering menunda laporan misi ataupun membuat laporan misi dengan sangat singkat. Dia tidak menyukai paperwork sama kuatnya seperti Godaime Hokage. Itulah kenapa ia sangat antusias ketika aku menawarkan diri untuk membantunya. Tapi, kelihatannya dia kelewatan antusias sampai membuatku mengerjakan semua ini di sini," oceh Shikamaru panjang lebar.
Seolah telah mencapai titik paling merepotkan, Shikamaru pun merenggangkan badan dan menjatuhkan punggungnya ke atas tempat tidur sambil menutup mata. "Aku cukup terkesan dengan Naruto dan Sakura yang bisa menghadapi Kakashi-sensei selama bertahun-tahun tanpa kehilangan kewarasan."
Memandang Shikamaru dengan sorot mata terhibur, Temari menjawab, "Apakah kau benar-benar mengatakan Naruto dan Sakura sebagai orang waras? Kukira, dua perempuan itu adalah produk terusak yang pernah ada."
Menolehkan kepala, Shikamaru tersenyum miring.
"Tunggu sampai kau bertemu Anko lagi."
Temari melebarkan kedua matanya.
"Oh, tidak lagi," ujarnya seolah baru mendapatkan realisasi mengerikan. "Aku lebih baik terkurung bersama Naruto dan Sakura sambil menunggu ruangan yang kami tempati runtuh dengan sendirinya karena pertengkaran mereka."
Pernyataan Temari menghasilkan tawa dari Shikamaru. Menghela napas pelan, ia pun mulai menata berbagai dokumen kepentingan desa yang tadi tengah ia kerjakan. Dokumen yang diberikan Rokudaime padanya berisi tentang perkembangan pembangunan desa. Kebanyakan di antaranya merupakan proposal perizinan untuk mendirikan pasar ataupun usaha dagang lain guna mendorong perekonomian desa agar desa tidak terlalu bergantung pada pendapatan para shinobi. Di era baru ini, kelima desa shinobi telah sepakat untuk lebih terbuka kepada para pengusaha setelah menyadari permintaan misi yang memang mulai menurun pasca perang berakhir.
Keuangan desa sedang berada dalam posisi mengkhawatirkan. Pendapatan yang mereka dapatkan dari misi tidak cukup untuk mengimbangi pembangunan besar yang tengah berlangsung. Kecerdasan otak sang Hokage-lah yang berhasil menyelamatkan mereka dari kesulitan ekonomi. Ide-ide pembaharuannya begitu efektif untuk diterapkan di masa mereka sekarang ini.
Fakta tersebut berhasil membuat Shikamaru mengakui bahwa Kakashi adalah salah satu shinobi terhebat yang pernah ada. Kemampuan yang dimiliki sosok berambut silver itu tampak begitu lengkap. Entah di dalam pertarungan ataupun di bidang pemerintahan. Shikamaru masih perlu belajar lebih banyak lagi sebelum ia siap untuk membantu Naruto di masa depan. Ia harus memastikan bahwa perempuan itu mampu menjalankan tugasnya dengan baik suatu hari nanti. Tanggung jawab yang akan didapatkannya setelah menyandang topi merah itu tidaklah kecil.
Setelah mengumpulkan dokumen-dokumen yang tercecer di atas tempat tidur, Shikamaru segera memasukannya ke dalam sebuah gulungan segel. Hanya dalam beberapa detik saja, puluhan kertas yang memenuhi tempat tidurnya menghilang. Temari tengah menyisir rambutnya ketika Shikamaru membentuk segel tangan dan menggigit ibu jarinya untuk memanggil hewan summon. Tak selang beberapa lama, seekor anjing kecil dengan ikat kepala khas Konoha muncul di atas tempat tidur. Anjing itu menguap sebelum kemudian angkat bicara dengan suara yang mirip dengan orang ngantuk.
"Huh, kau bocah Nara itu, ya?" ujarnya sambil menguap--atau entah apa pun gerakan itu, Shikamaru melihatnya sebagai gerakan menguap--sekali lagi. "Pantas saja. Kakashi takkan memanggilku pagi-pagi begini. Hah, dia bahkan baru tidur dua jam yang lalu!"
"Bukankah Konoha dan di sini memiliki waktu yang berbeda?" tanya Shikamaru heran.
Anjing itu melambaikan tangan--atau kakinya, terserah--dengan tak acuh. "Nah, summon memiliki perhitungan waktu sendiri."
Shikamaru tidak meminta penjelasan lebih lanjut dari perkataan itu. Ia memilih untuk mengabaikannya dan memberi Pakkun sebuah gulungan segel penyimpanan yang berisi dokumen yang telah ia kerjakan sekaligus laporan misi kedatangan mereka ke sini.
"Sampaikan kepada Hokage-sama bahwa kondisi di sini masih terkendali," ujar Shikamaru kepada anjing tersebut. Ia terdiam selama beberapa saat sebelum menambahkan, "Beritahu juga bahwa Naruto dan Sasuke masih belum saling bunuh. Setidaknya, aku menyimpulkannya demikian ketika melihat mereka berangkat jam tiga tadi."
Pakkun menempatkan gulungan itu sela giginya. Ia memberi hormat ala Kakashi dengan tangan--atau kaki--nya sebelum menghilang disertai kepulan asap tipis. Shikamaru berdiri untuk membuka jendela sambil mengingat hari di mana Kakashi memutuskan untuk membagi kontrak Kuchiyose miliknya dengan Shikamaru. Tuntutan kerja Shikamaru membuatnya memutuskan tindakan itu agar komunikasi diantara mereka menjadi lebih mudah.
Memiliki kontrak summon memang tidak pernah terpikir oleh Shikamaru. Ia merasa tidak terlalu membutuhkannya. Namun, ia bersyukur atas keputusan Kakashi yang membolehkannya mendapatkan bantuan Pakkun. Anjing itu memang banyak bicara, tapi Shikamaru sudah terbiasa menangani orang yang tidak bisa berhenti bicara.
Temari yang tadi sempat keluar dari kamar ternyata telah kembali begitu Shikamaru mengalihkan pandangannya dari langit biru di atas sana. Melihat awan memang selalu berefek demikian. Ia sering lupa waktu karena merasa terhayut di pikirannya sendiri sambil memperhatikan benda yang tampak menyerupai kapas itu.
Perempuan yang entah sejak kapan dekat dengannya ini sudah lebih segar daripada beberapa saat lalu ketika ia baru membuka matanya. Pakaian yang kemarin ia kenakan telah diganti dengan kimono panjang warna gelap yang biasa dipakainya ketika dulu mereka berdua merancang kegiatan Ujian Chūnin. Rambutnya yang tadi berantakan kini telah tertata rapi dengan empat buah ikat rambut yang biasa ia kenakan. Kedua tangannya memegang sebuah baki berisi makanan yang kemungkinan ia ambil di lantai dasar. Ia meletakan baki tersebut di sebuah nakas yang berada di antara tempat tidur mereka.
"Apa yang akan kita lakukan ketika sampai di sana?" tanya Temari sembari mengambil sebuah piring dari baki tersebut. "Kau tahu, Gaara tidak jauh berbeda dengan Kakashi-san. Dia memberiku cukup banyak dokumen untuk diselesaikan meskipun tidak sebanyak milikmu."
Bersandar pada kosen jendela, Shikamaru mengeluarkan korek api yang serupa dengan milik gurunya dan memainkan tutup korek tersebut dengan jari. Matanya masih terarah pada perempuan pirang di depannya.
"Entah," ungkapnya dengan tidak acuh. "Bersosialisasi mungkin? Kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak tentang dunia ini dan apa yang sedang terjadi. Tugas kita sekarang adalah menyediakan pengetahuan untuk yang lainnya ketika mereka menemukan kendala dalam misi. Ino sudah punya cukup banyak pertanyaan di kepalanya, aku yakin. Tunggu saja sampai sore hari nanti, dia bakal menerormu dengan banyak pertanyaan perihal perbedaan budaya yang ada di sini."
Cukup mengenal rekan genin Shikamaru, Temari pun tidak menyangkal pernyataan itu. Ia mengangguk sebelum kemudian menepuk kasur yang didudukinya.
"Duduk dan makanlah. Kita akan memerlukan banyak tenaga untuk memasok stok kesabaran ekstra. Orang-orang ini pasti akan mengkritik kita lagi nanti."
"Kau selalu saja merepotkan, ya?" ujar Shikamaru sambil menatap Temari bosan.
"Katakan saja bahwa kau lega karena aku bisa bersamamu di misi merepotkan ini," balas Temari sebelum menyuapkan makan asing ke dalam mulutnya. Ia mengernyitkan dahi, namun tidak berkomentar apa pun.
Shikamaru menghampiri Temari dan duduk di sampingnya. Bahu mereka sedikit bergesekan ketika ia mencondongkan diri untuk mengambil piring yang berada di atas nakas. Ketika mulai memakan sarapan mereka di pagi itu, mau tak mau Shikamaru pun mengiakan perkataan Temari.
"Yeah, kau benar. Setidaknya aku punya orang berkepala dingin yang bisa menjaga kewarasanku dari teman-temanku yang merepotkan dan juga dunia aneh ini. Kenapa mereka tidak mempunyai nasi?"
"Makan saja apa yang ada."
"Betapa merepotkan."
oOo
Berkilo-kilo meter dari Three Broomstick, dua orang berjubah hitam dengan wajah yang tersembunyi di balik topeng tengah berjalan menyusuri lembah yang dipenuhi oleh padang rumput. Di sisi kanan dan kiri mereka terdapat dua gunung yang mengapit jalanan kasar dan padang rumput yang terhampar melingkupinya. Sinar matahari senja menghiasi langit di akhir musim panas, membuat pohon-pohon cemara yang mendominasi bentang alam itu tampak kekuningan meski warna aslinya adalah hijau.
Berjalan dan berlari sejauh ratusan kilo meter bukanlah hal asing bagi para shinobi. Mereka sudah terbiasa menjalani kegiatan semacam ini. Hanya saja, ketika melakukannya, mereka sudah mengenal hampir tiap sudut wilayah yang mereka lewati. Hutan-hutan di Elemental Nations sangatlah mudah diingat jika kau sering melewatinya ketika menjalankan misi. Fakta ini sangat disadari oleh sosok bertopeng rubah yang tengah menancapkan pandangannya pada matahari yang tenggelam tepat di antara dua buah gunung. Berada di lingkungan asing sangatlah mengganggu karena ia diharuskan untuk beradaptasi dengan suasana baru.
Selama lebih dari dua belas jam, mereka berdua menghabiskan waktu untuk mencari sumber energi yang dirasakan Naruto. Sejauh ini, sudah terdapat sekitar tiga buah hutan yang ditelusuri oleh keduanya. Ketiga hutan ini berada di wilayah yang disebut Sasuke sebagai Scottish Highlands, sebuah dataran tinggi di Skotlandia yang merupakan negara bagian Britania Raya. Sistem pembagian wilayah di dunia--atau negara?--ini sedikit berbelit-belit. Awalnya, Naruto kurang memahaminya, namun pada akhirnya ia paham juga.
Menurut peta yang mereka dapatkan dari Kakashi, sekarang ini mereka sedang berada di wilayah yang bernama Glen Affric--Lembah Affric. Lembah ini merupakan lembah yang berada di bagian barat daya desa Cannich yang merupakan salah satu dari sekian desa di Scottish Highland.
Berbeda dengan lembah dan hutan yang berada di Konoha, tempat ini didominasi oleh danau, padang rumput dan juga pohon-pohon cemara. Keadaan yang demikian cukup membuat Naruto merasa asing karena mereka menjadi tidak bisa berlari melompati pepohonan. Pohon cemara bukanlah pohon yang memiliki banyak cabang yang bisa dijadikan pijakan.
Meskipun begitu, Naruto tidak bisa menyangkal bahwa apa yang dilihatnya saat ini adalah pemandangan alam terindah yang pernah ia lihat di dalam hidupnya. Negara Api yang merupakan negara induk desa Konoha memang memiliki cukup banyak hutan. Namun, hutan yang berada di sana jelas-jelas berbeda dengan hutan ini. Mereka tidak punya pohon cemara. Mereka tidak punya padang rumput yang luas. Dan yang jelas, mereka tidak punya danau yang akan selalu terlihat tiap kali ia menengokkan kepala.
Tempat semacam ini bisa dibilang cukup langka. Naruto sangat takjub, amat sangat takjub. Di samping rasa asing menjengkelkan yang melingkupi dirinya ketika berjalan di wilayah ini, ia tetap merasakan keindahan alami yang dikeluarkan bentang alam tersebut.
Hamparan padang rumput yang berada di sisi kanan dan kiri mereka seolah membisikinya untuk sparring di sini dan sekarang juga. Tempat itu sangat luas! Luas tanpa bebatuan yang berarti. Luas tanpa pepohonan besar yang bisa tumbang sewaktu-waktu. Sparring di sana tidak akan memakan korban. Tidak akan ada properti yang rusak akibat ledakan bom kertas. Tidak ada tebing yang runtuh akibat Rasengan. Naruto akan terbebas dari tanggungan ganti rugi tiap kali ia merusak sesuatu setelah latihan di lapangan training.
Ingin merasakan udara segar yang menggelitik hidungnya sejak pertama kali mendaratkan kaki di tempat ini, Naruto pun menarik topengnya ke atas begitu matahari benar-benar tenggelam. Ia mengayunkan kaki dan berlari menghampiri sungai besar yang membelah lembah tersebut, sebelum kemudian menurunkan tudung jubahnya dan menyapukan air ke wajah beberapa kali.
Erangan puas keluar dari mulutnya. Ia mencuci wajahnya sekali lagi sebelum menoleh ke belakang sambil melambaikan tangan.
"Ke sini, Sasuke! Tenagamu akan bertambah sepuluh kali lipat!" serunya dengan cengiran lebar di wajah.
Sosok yang berada beberapa meter darinya itu tidak merespon. Ia hanya terus berjalan mendekati Naruto dan berjongkok di sampingnya. Tanpa menurunkan tudung ataupun melepas topeng, Sasuke mengulurkan tangan ke dalam air, menciduk air dengan sebelah tangan, mengamatinya beberapa saat, dan mengembalikan air itu ke dalam sungai.
Masih menatap aliran air di depannya, Sasuke mendongak dan menolehkan kepala ke kiri--mengikuti arah ke mana air mengalir. Dari balik topeng, mata kanannya mengaktifkan sharingan sementara rinnegan di mata kirinya telah teraktivasi seperti biasa--karena rinnegan memang tidak bisa dinonaktifkan.
"Kita sudah sampai," ujarnya sambil berdiri dari posisi jongkok tadi. Ia menoleh dan melihat Naruto yang masih berlutut di tepi sungai. "Kau merasakannya?"
Naruto ikut berdiri. Ia terdiam selama beberapa saat sambil menutup mata. Ketika membukanya, warna kejinggaan telah menghiasi kelopak matanya. Menyatukan kedua alis, ia menoleh ke arah yang sama seperti yang tadi dilakukan Sasuke.
Naruto mengerjap.
"Kami," ungkapnya menahan keterkejutan. Ia menelan salivanya. "Bagaimana bisa seseorang memasang barrier dengan energi sebesar itu?" ungkapnya masih tidak percaya. Naruto menutup matanya sekali lagi, warna kejinggaan di kelopak matanya menghilang. "Auranya sama seperti jūbi. Ini gila."
Kembali mengamati sesuatu yang hanya bisa dilihat olehnya, Sasuke menjawab Naruto dengan datar, "Rikūdo Sennin yang memasangnya."
Naruto yang sejak tadi secara tidak sadar membiarkan mulutnya ternganga pun segera mengatupkan mulut. Ia bergumam dengan ragu, "Yeah, tentu saja. Dia anak dari Dewi Kelinci."
"Kita akan menutup barrier dengan kekuatan yang diberikan olehnya, seperti ketika kita menghentikan Mugen Tsukuyomi."
Dahi Naruto mengerut. Ia menatap temannya bingung. "Apakah kekuatan itu masih ada? Kukira dia hanya meminjamkannya pada kita semata-mata hanya untuk menghentikan Kaguya."
Sasuke terdiam sesaat, seolah seperti sedang berpikir. Di detik selanjutnya, ia pun menjawab.
"Kalau sudah tidak ada maka rinneganku akan hilang."
Alasan Sasuke terdengar masuk akal. Namun, Naruto masih merasakan kejanggalan.
"Aku sudah tidak bisa menciptakan Kuroi Buki."
"Apakah kau masih memiliki chakra kesembilan bijū?"
Kembali mengerutkan dahi, Naruto pun mengingat-ingat. Para bijū yang sudah tidak lagi memiliki jinchūriki telah ia bebaskan begitu Sasuke mengeluarkannya dari Chibaku Tensei. Mereka yang merupakan makhluk dengan tubuh berisi chakra murni memutuskan untuk menyembunyikan diri agar tidak lagi diperebutkan oleh orang-orang. Mengikuti jejak Isobu yang mampu hidup tanpa jinchūriki dengan menyembunyikan diri di pedalaman danau, para bijū pun seolah hilang dari dunia ninja. Keberadaan mereka sekarang ini tidak lagi diketahui kecuali oleh sesama bijū, hanya seorang jinchūriki-lah yang mampu menghubungi mereka dan mengetahui keadaan mereka.
Namun, meskipun mengetahui keberadaan mereka, bukan berarti Naruto juga masih mempunyai kekuatan mereka secara utuh. Pinjaman chakra mereka telah hilang meski tidak sepenuhnya. Ia masih bisa mengakses chakra kedelapan bijū guna berkomunikasi dengan Gaara serta Killer Bee. Ia juga masih bisa mengaksesnya untuk membuat variasi Rasengan. Namun, chakra para bijū yang dipunyainya tidak sebanyak dulu ketika ia bertarung melawan Madara, Kayuga, ataupun Sasuke di Lembah Akhir.
Mendapatkan kesimpulan dari pemikirannya, Naruto pun menjawab,"Masih, tapi tidak sebanyak dan sekuat dulu."
Sasuke mengangguk.
"Itulah kenapa kau tidak bisa menciptakan benda bulat hitam itu."
"Kau tahu, namanya Kuroi Buki."
"Hn."
Naruto memutar bola matanya. Ia memperhatikan Sasuke yang berjalan di atas sungai dan memutuskan untuk mengikutinya. Sungai lebar yang tengah ia tapaki ini sepertinya tergolong sungai yang dalam. Naruto bisa merasakannya hanya dari melihat ketiadaan riak air di permukaan meskipun kedalaman air sama sekali bukan masalah baginya.
Di depan sana, Sasuke berhenti tepat di tengah-tengah sungai. Alih-alih menghadap ke arah horizontal yang memotong aliran sungai, Sasuke menghadap ke arah vertikal yang mana merupakan arah air mengalir. Ketika melihatnya, Naruto sadar bahwa barrier yang ada memang berada di sepanjang aliran air ini. Penghalang itu tidak memotong, namun memanjang mengikuti air mengalir, untuk itulah mereka berdiri di tengah-tengah sungai.
Sebenarnya, apa yang dipikirkan Rikūdo-jiji? Kenapa posisi barrier sangat aneh? Bukankah seharusnya penghalang dipasang di tiap tepi tempat yang ingin dilindungi? Kenapa pola yang ada sangat acak?
"Apa yang ada di seberang sana?" tanya Naruto pada Sasuke. Ia mengamati sisi sungai yang lain. Melalui penglihatannya, Naruto hanya mendapati tepian sungai lain dengan hamparan padang rumput yang lain pula. Tidak ada hal spesial dari sana. "Apakah kalau aku melewati batas penghalang maka aku bisa tiba di dunia kita?"
Mengasumsikan Sasuke sedang memindai barrier itu, Naruto mendengar gumaman rendahnya.
"Cara kerjanya bukan begitu."
Kembali mengerutkan dahi, Naruto berujar, "Huh, lalu bagaimana?"
"Entah."
Melebarkan mata pada temannya ini, Naruto berseru, "Kau serius? Bukankah kau sudah mengetahui semua ini? Pengamatanmu selama berbulan-bulan pasti menghasilkan sesuatu 'kan?"
Naruto menyadari bahu Sasuke yang tiba-tiba menjadi kaku. Ketika menjawab Naruto, suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya.
"Aku baru menemukan portal sebulan yang lalu."
Jawaban Sasuke membuat Naruto mendengus.
"Yeah, dan aku baru mengetahuinya kemarin."
Seperti yang diduga Naruto, Sasuke tidak menjawab. Ia membalikkan badan dan berjalan ke tepi sungai. Naruto mengerjap, menyadari ketegangan yang kembali timbul ke permukaan. Selama perjalanan tadi, ia berhasil mengontrol mulutnya untuk tidak berbicara sembarangan. Naruto berhasil mengunci mulutnya untuk tidak mengoceh dan kelepasan. Ia sudah sukses selama lebih dari dua belas jam. Jadi, kenapa ia malah merusaknya hanya dalam beberapa detik saja?
Menahan diri untuk tidak menampar dirinya sendiri, Naruto pun berlari menghampiri lelaki jangkung itu. Jubah hitam yang sewarna dengan rambutnya tampak terhembus oleh angin petang. Ia kelihatan tengah membungkuk di atas sebuah gulungan yang terentang di tanah. Setelah menggigit ibu jari dan menghantamkannya ke atas gulungan itu, sebuah tenda lipat berukuran sedang pun muncul. Sasuke kembali menyimpan gulungan ke dalam jubah dan tengah mencari beberapa ranting di sekitarnya ketika Naruto mengekori Sasuke.
"Seperti apa bentuk barrier itu?" tanyanya seraya mengambil sebuah ranting yang cukup panjang dan mematahkannya menjadi empat bagiaan. "Kau tahu, aku merasakan barrier yang seolah tidak lengkap. Apa yang ada di sana pasti berbeda dengan portal yang muncul di batas selatan Sunakagure."
Melangkahkan kaki mendekati hutan yang penuh dengan pepohonan, Sasuke mengeluarkan chokutō yang tersarung di ikat pinggangnya. Ia mengamati angle cabang pohon selama beberapa saat sebelum melangkahkan kaki ke batang pohon dan menebaskan pedang ke pangkal cabang pohon tersebut.
Suara gedebuk kayu yang jatuh ke tanah terdengar. Masih berdiri secara horizontal di batang pohon, Sasuke pun menjawab pertanyaan yang diutarakan Naruto lima menit yang lalu.
"Bentuknya memang berbeda dari portal. Penghalang ini tidak berbentuk spiral namun lebih seperti Shisekiyōjin dengan satu sisi, bukan empat. Tingginya menjulang, hampir mencapai langit. Kau lihat gunung itu? Tingginya lebih dari gunung. Warnanya juga bukan merah, tapi prismatik."
Naruto mencoba membayangkan. Alih-alih mendapatkan gambaran, ia malah lebih tertarik pada kenyataan bahwa Sasuke baru saja berkata lebih dari satu kalimat.
Wow.
Cengiran di wajahnya mungkin terlihat mencurigakan di mata Sasuke. Tanpa melihat secara langsung pun Naruto mampu membayangkan bagaimana Sasuke merengut tidak suka. Cengirannya hanya bertambah lebar ketika memikirkan itu.
Sejak kecil, Naruto sangat tidak suka diabaikan. Ia akan memastikan si Uchiha yang selalu mengganggu pikirannya ini berhenti mengabaikannya.
"Apa yang lucu?" ungkap Sasuke dengan nada jengkel.
Naruto tergelak.
Gotcha.
"Kau akhirnya bisa bicara," ungkapnya dengan riang. Ia mendekati cabang pohon yang tadi terjatuh dan mengambilnya dengan mudah meski panjangnya melebihi tinggi tubuhnya sendiri. "Kukira kau melupakan banyak kosa kata karena terlalu jarang berbicara."
Ocehan Naruto kembali tidak mendapatkan respon. Perempuan itu merengut. Ia sangat ingin membahas masalahnya dengan lelaki ini saat ini juga. Tapi, ia tidak yakin. Mereka baru bersama-sama selama sehari dan gila saja kalau ia memutuskan untuk menjatuhkan bom begitu saja. Misi yang mereka jalani sudah berada di depan mata, Naruto takkan merusaknya.
Memutuskan untuk mengoceh sendiri mengenai kelakukan menjengkelkan Sasuke, ia pun membantu teman satu timnya itu untuk mendirikan tenda. Kayu-kayu yang tadi telah dipotong oleh Sasuke kini sedang dirancang sedemikian rupa untuk dibuat tenda. Mereka mengikat kayu-kayu itu dengan kawat tali--yang merupakan salah satu dari sekian peralatan ninja--sehingga kayu tersebut bisa dibentuk menjadi tenda. Setelah menutup kerangka kayu dengan kain tenda yang tadi dikeluarkan oleh Sasuke dari segel penyimpanan, Naruto menata ranting yang tadi dikumpulkan olehnya dan menoleh pada Sasuke dengan mata penuh ekspetasi.
Yang ditatap segera menangkap maksud Naruto. Ia mendaratkan diri di samping perempuan itu, menarik topengnya ke atas, dan meniupkan api ke tumpukan ranting yang telah ditata oleh Naruto.
Merasakan angin yang berhembus menyentuh wajahnya yang tidak lagi tertutup topeng, Sasuke pun memutuskan untuk tidak mengenakannya. Ia menggantungkan topeng di ikat pinggang, tepat di samping sarung chokutō.
Naruto yang sejak kemarin hampir selalu mendapati temannya menggunakan topeng pun mau tak mau menatap dari samping. Keabsenan sang Uchiha selama satu setengah tahun membuatnya cukup pangling ketika melihatnya lagi. Terakhir kali ia melihatnya adalah ketika mereka berdua berusia tujuh belas--atau mungkin tujuh belas setengah?--dan sekarang Sasuke sudah berusia sembilan belas.
Wajah remaja yang ia lihat di medan perang kini telah berubah menjadi wajah seorang lelaki yang lebih dewasa. Rahangnya tampak lebih tegas dan garis wajahnya tampak lebih tajam. Dengan rambut yang memanjang hingga menutupi mata kirinya, Naruto juga melihat bentuk rambut duck-ass khasnya yang mulai tak terlihat.
Senyum samar yang sangat jarang diperlihatkan oleh Naruto pun kini tampak di bibirnya. Ia tidak menyangka Sasuke bisa tetap sepucat itu meski telah berjalan-jalan ke sekeliling Elemental Nations. Sebenarnya, dia selalu memakai losion pelindung kulit atau bagaimana? Bagaimana bisa paparan sinar matahari tidak memberi efek apa pun kepadanya?
Mengalihkan pandangan sebelum Sasuke menoleh--kalaupun orang itu mau repot untuk sekedar menoleh--Naruto mengikuti pandangan lelaki itu yang sedang menatap udara kosong di mana barrier berada. Ketika melihatnya, Naruto teringat deskripsi yang dikatakan Sasuke padanya. Ia mencoba menggambarkan keseluruhan deskripsi itu dan menyatukannya dengan energi besar yang tadi ia rasakan--jenis energi yang serupa dengan jūbi di mana seluruh energi alam bergabung menjadi sesuatu yang amat besar dan hampir tidak bisa dirasakan tanpa Sage Mode karena jenis energi yang amat alami.
Gambaran yang didapatkan Naruto berhasil membuatnya gemetar. Tanpa sadar, ia membiarkan kepalanya kembali mengingat suasana perang di mana sang bijū ekor sepuluh merenggut nyawa para shinobi setelah menghisap habis chakra mereka. Ia membiarkan dirinya teringat keputusasaan yang melandanya setelah melihat wajah-wajah tak bernyawa akibat ia yang kurang cepat menghentikan dan menyadarkan Obito.
Kalau saja ia bisa lebih cepat. Kalau saja ia tidak membiarkan Kaguya bangkit. Kalau saja ia segera tahu bahwa semua itu ulah Zetsu Hitam. Masih bisakah ia menyelamatkan lebih banyak nyawa? Mulai dari Neji, Ayah Shikamaru, Ayah Ino, dan para shinobi lain yang belum sempat ia ketahui namanya?
Apakah jika ia mampu berpikir dengan lebih jernih dan melihat apa yang dilihat Obito tanpa harus melihat melalui kenangannya maka ia akan mampu menyelamatkan ratusan nyawa yang masih bisa diselamatkan kalau ia lebih mampu melihat situasi--
"Chakra yang digunakan akan sangat besar," ungkap Sasuke tiba-tiba, secara spontan memecah lamunan Naruto dan mengembalikan fokusnya pada barrier yang ada di depan mereka. "Semua rongga kosong di sana terlihat seperti mosaik yang tidak lengkap."
Naruto kembali membayangkan. Ia mengerjap dan bertanya, "Ada berapa banyak kekosongannya?"
Menekuk kaki dan menaruh masing-masing tangannya di atas lutut, Sasuke mendengus pelan, "Entah. Jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung. Ratusan? Ribuan? Jutaan? Ada berapa banyak kepingan mosaik yang menyusun barrier sebesar dan setinggi ini? Panjang dan tingginya tak terhingga."
Penjelasan Sasuke seolah memperburuk mimpi buruknya. Naruto memilih untuk mengesampingkan kengerian itu dan mengutarakan keganjilan yang ia pikirkan mengenai penghalang tersebut.
"Kalau barrier ini memang memiliki panjang dan tinggi yang tak terhingga, mengapa kita tidak menemukannya lebih awal? Semacam, kita bisa melihatnya dari kejauhan atau apalah. Di berbagai hutan dan jalan lain yang kita lewati juga seharusnya ada pembatas itu kalau ukurannya memang seperti apa yang kau katakan."
"Apa yang kukatakan sebelumnya mungkin terbalik. Barrier kuat yang tidak rusak mungkin akan lebih sulit disadari keberadaannya. Justru penghalang yang mulai lemahlah yang mudah ditemukan karena mereka kehilangan komponen pembentuknya sehingga merusak tujuan awal barrier; untuk memisahkan dua dunia. Kalau ada orang di sini ataupun orang di dunia kita yang menyadari keberadaan barrier--katakan saja Madara--menurutmu, apakah dia akan diam saja tanpa menerobos masuk?"
Naruto mencoba mencerna perkataan Sasuke dalam-dalam. Ia menyatukan berbagai poin mengenai barrier dan energi alam. Penghalang super besar itu dihasilkan dari energi alam yang hanya dapat dideteksi dengan Sage Mode. Semakin besar energi, semakin sulit juga membedakan energi dengan alam itu sendiri--seperti yang dikatakan Fukasaku ketika mengajarkan senjutsu kepada Naruto.
Proses menyatu dengan alam mampu menghasilkan energi super besar. Jika sesuatu benar-benar bisa bergabung atau bahkan bercampur dengan alam itu sendiri...
Segalanya tiba-tiba menjadi masuk akal. Barrier yang diciptakan oleh Rikudō Sennin ini adalah senjutsu tingkat tertinggi karena sudah menyatu dan berbaur dengan alam sehingga sama sekali tidak dapat dideteksi oleh orang yang tidak memiliki kemampuan Rikudō. Naruto dan Sasuke yang kebetulan diberi serpihan chakra sang Bapak Shinobi pun mampu mendeteksi keberadaan barrier meski mereka hanya mampu mendetekasi barrier yang melemah, bukan mereka yang masih kokoh.
"Begitu," gumam Naruto sambil melihat udara kosong di mana barrier berada. Ia menutup matanya, seolah sedang merasakan aura berlebih yang dikeluarkan oleh penghalang tersebut. "Keberhasilan perbaikannya ditandai dengan aku yang tidak bisa lagi merasakan energi besar barrier dan kau yang tidak lagi bisa melihatnya."
Sasuke mengangguk. Sesaat kemudian ia menoleh pada Naruto.
Untuk pertama kali sejak mereka berangkat dari misi ini dan untuk pertama kali sejak mereka bertengkar setelah Sasuke mengetahui Naruto yang ternyata adalah perempuan,Sasuke menatap Naruto lurus-lurus tepat di mata tanpa mengalihkan wajahnya.
Tidak ada lagi topeng yang menutupi wajah temannya ini. Namun, Naruto masih kesulitan membaca air muka Sasuke. Wajah tanpa ekspresinya selalu sulit ditebak. Ketika mereka masih menjadi genin, Naruto mulai bisa menyesuaikan diri untuk membaca Sasuke. Namun, ketika ia meninggalkan desa, kembali dengan resolusi baru, dan menentangnya mati-matian guna memutus ikatan dengannya--Naruto semakin sulit membaca ekspresi wajahnya.
Sering kali, ia memang mampu menyimpulkan tindakan yang diambil Sasuke, seperti ketika Sasuke memutuskan untuk menghancurkan Konoha. Namun, terkadang, di saat-saat tertentu seperti sekarang, ia tidak bisa menafsirkan apa pun. Belum lagi dengan situasi yang membuat mereka saling menjauh dan hampir tidak pernah berkontak, memahami Sasuke menjadi lebih sulit dari biasanya.
Sebenarnya apa yang ia pikirkan? Sampai sekarang Naruto masih belum mendapatkan jawaban. Ketenangan yang ada di antara mereka berdua hampir sama seperti ketenangan sebelum badai menerjang.
"Jumlahnya terlalu banyak. Semua ini takkan berhasil," ujarnya dengar suara yang terdengar kering.
Naruto mengerjap.
Setelah diam terlalu lama, ia memutuskan untuk mengatakan ini?
Apakah Uchiha Sasuke sudah berubah menjadi orang bodoh?
Yang benar saja.
Bersikap seperti Naruto, Naruto mendengus. Keras.
Tidak ada perempuan yang mencintai kegengsiannya mampu melakukan itu. Namun, Naruto tidak pernah gengsi untuk masalah seperti ini. Masa bodoh dengan teguran imajinatif Sakura di belakang sana yang meneriaki sesuatu semacam ia yang harus bersikap lebih feminim layaknya seorang kunoichi elegan nan berwibawa.
Screw that.
Gen kental Uzumaki Kushina yang mengalir di darahnya cukup sulit untuk dilawan.
"Kita takkan tahu sebelum mencoba," ungkap Naruto dengan nada optimisnya yang biasa. Menunjukan jari ke arah udara kosong di mana barrier itu berada, Naruto melanjutkan, "Kau lihat semua itu? Seberapa pun banyaknya, kepingan-kepingan yang hilang akan bisa kita kembalikan. Kurama akan membantu kita. Ribuan bunshinku akan bekerja. Kau tahu bagaimana aku menciptakan Rasenshuriken, Sasuke? Kakashi-sensei berkata bahwa menyempurnakan kombinasi chakra alam bagi pemula sepertiku akan memakan waktu bertahun-tahun. Tapi, aku membuatnya hanya dalam beberapa hari setelah berlatih dengan ribuan bunshin. Untuk misi ini, aku akan melakukan hal yang sama. Kita akan menyelesaikannya."
Sasuke terdiam. Lama.
Naruto menampilkan senyum lebar ikoniknya, merasa bangga bahwa ia mampu menutup mulut Sasuke dan memenangkan argumentasi.
Ha! Rasakan itu, bastard.
"Kenapa kau begitu yakin?" ujarnya sesaat kemudian. "Kenapa kau bisa yakin bahwa kau bisa melakukannya?"
Lagi-lagi Naruto menatap Sasuke seolah lelaki itu sudah kehilangan kewarasannya.
Mengepalkan tangan, Naruto memukul pelan bahu Sasuke dengan tinjunya.
"Sudah kukatakan, bukan? Aku tidak sendirian. Kurama akan membantuku. Kau akan membantuku. Terutama kau! Jangan berani-berani berpikir untuk tidak membantu teman terbaikmu ini. Kau berhutang banyak padaku, tahu. Jangan mempersulit ini. Aku yakin aku akan berhasil karena kita melakukannya. Semuanya sama seperti saat kita mengakhiri Mugen Tsukuyomi.
"Kau bilang metode penutupan barrier akan sama-sama menggunakan kekuatan Rikudō Sennin. Bukankah kemungkinan untuk berhasil sudah sangat jelas? Tadi malam, kau sendiri yang menanyakan apakah aku sudah kehilangan kepercayaan diriku. Sekarang, aku ingin menanyakan hal yang sama padamu. Apakah kau akan menerima kegagalan dengan levelmu yang sekarang? Kalau iya, aku jelas-jelas satu langkah di depanmu, Teme."
Sasuke memiringkan kepala dan menghembuskan napas pelan, ia menoleh dari Naruto--menghindari mata birunya.
"Kau masih sama saja," gumamnya rendah.
Naruto mengerutkan dahi.
"Tentu saja--ttebayo! Aku tetaplah orang termenakjubkan yang pernah ada. Tidak ada yang berubah."
"Tetap berisik seperti biasanya."
"Hei! Bagaimana denganmu Tuan yang Suka Bermuram Durja?"
"Setidaknya aku tidak membohongi orang-orang atau bahkan orang yang kusebut sebagai sahabatku sendiri."
Memutar bola matanya, Naruto melempar sebuah kerikil ke dalam sungai dan berujar, "Berhenti mengada-ngada, Teme. Aku tidak pernah berbohong karena--" perkataan Naruto terpotong ketika ia menyadari sesuatu dari ucapan Sasuke. Ia tidak sedang mengejek Naruto dengan main-main seperti biasanya. Ia sedang mengungkit masalah mereka.
Melebarkan mata, Naruto menoleh dan melihat Sasuke yang berdiri dan beranjak ke dalam tenda. Api unggun di depan mereka mulai meredup karena ranting-ranting yang hampir semuanya menjadi arang. Ketika angin berhembus, kegelapan menyambut Naruto. Api mereka padam, meninggalkan Naruto dalam kegelapan. Kakinya lebih dulu bergerak sebelum ia menyadari apa yang dilakukannya. Naruto menyusul Sasuke ke dalam tenda. Ketiadaan cahaya membuatnya tidak mampu melihat wajah lelaki itu. Tapi, ia tahu Sasuke ada di sana, di depannya.
Mengambil napas dalam, Naruto pun tanpa sadar membiarkan mulutnya mengutarakan segala beban yang selama satu setengah tahun ini melingkupinya. Beban itu bersumber dari satu orang yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Aku sudah mengatakan dan menjelaskannya, dulu. Kali ini aku akan bertanya lagi, apa masalahmu? Orang yang kau kenal masih di sini. Aku tidak berubah. Temanmu masih di sini. Aku tidak meninggalkanmu dan aku tidak pernah bermaksud membohongimu. Untuk sekarang dan selanjutnya, apa yang kau inginkan? Kau ingin aku tetap menjadi seperti dulu ketika segel Jiraiya masih membuatku terlihat seperti laki-laki? Kau ingin aku memproduksi ulang segel yang telah terbuka? Jika kau mau, aku bisa melakukannya, sekarang juga. Malam ini, aku akan mulai mencobanya dan minggu depan aku akan telah menyelesaikannya. Bagaimana dengan itu?"
Hanya suara hembusan angin yang terdengar dari luar sana. Naruto menggigit bibir bawahnya, ia menyentak, merasa tidak tahan dengan ketiadaan respon dari orang yang ia ajak bicara.
"Jawab pertanyaanku, Sasuke! Kau tidak bisa menganggap segalanya baik-baik saja ketika keadaan jelas-jelas tidak begitu! Katakan apa yang kau inginkan agar kau bisa memaafkanku! Kau kira semua kesalahpahaman ini menyenangkan? Kau kira aku menikmati pertengkaran semacam ini?!"
Napas Naruto memburu. Matanya terasa panas oleh air mata yang entah sejak kapan memutuskan untuk bergenang di sana. Kedua tangan yang mengepal di masing-masing sisi tubuhnya teramat kuat hinga membuat buku-buku jarinya memutih. Naruto menahan sekuat tenaga segala keinginan untuk melayangkan tinju ke arah temannya. Teman yang hanya berdiri mematung di sana tanpa mengutarakan sepatah kata pun.
Apa yang membuatnya sulit bicara? Kenapa ia begitu sulit menjawab pertanyaan sederhana Naruto? Kenapa Sasuke begitu memusingkan?!
"Kau akan mendapat giliran jaga yang pertama," ujar lelaki itu dengan kaku. Ia terdengar seperti berbicara di sela gertakan giginya, seolah tengah menahan diri untuk tidak menyentak di sini dan saat ini juga. "Bangunkan aku jam sebelas nanti."
Mengerjap, Naruto merasakan buliran hangat yang membasahi pipinya.
Oh, sialan.
Sialan.
Sasuke berengsek sialan.
Dengan tenggorokan yang tercekat, Naruto berusaha menelan salivanya dan menstabilkan deru napasnya. Ia memutar tubuh begitu sekelumit kelogisan yang tersisa di kepalanya mengambil alih.
Memperpanjang ini takkan membuahkan hasil. Mereka mempunyai misi yang lebih penting. Misi yang menentukan keamanan dan kestabilan Elemental Nations. Menuntut jawaban dari Sasuke hanya akan memperburuk keadaan. Jika keadaan menjadi lebih buruk dari yang sekarang, maka misi mereka akan terbengkalai karena dinamika tim yang kacau.
Dia hanya butuh waktu, pikir Naruto, mencoba mendinginkan kepala. Beri dia waktu. Tidak sekarang. Tidak sekarang. Gunakan otakmu, Uzumaki Naruto! Tidak lagi bertindak tanpa berpikir!
Pada detik itu, Naruto merasa lega dengan ketiadaan penerangan. Ia lebih baik dikubur hidup-hidup daripada ketahuan menangis di depan Sasuke dan--sialnya--karena Sasuke.
"Yeah, aku akan membangunkanmu," balasnya dengan napas yang sudah stabil dan suara yang terkendali, seolah ledakan emosinya beberapa saat lalu tidak pernah terjadi. "Kau harus bersiap dengan energi ekstra untuk esok. Penghalang besar di depan sana akan menguras chakra kita habis-habisan seperti pedang milik Killer Bee," lanjut Naruto mencoba bergurau meski yang terdengar hanyalah kehampaan.
Tanpa menoleh ke belakang, Naruto keluar dari dalam tenda dan kembali ke tempat yang tadi mereka tinggalkan. Ia menghapus buliran air--yang secara menjengkelkan menolak untuk berhenti keluar--dengan lengan. Dadanya terasa seperti diremas. Naruto tidak tahu mengapa rasanya begitu sakit.
Ia hanya bertengkar dengan Sasuke. Pertengkaran mereka bukanlah hal yang tidak biasa. Bertengkar dan berdebat denganya sudah sangat normal, bahkan sejak mereka berumur dua belas. Tidak ada yang berbeda di sini. Seharusnya Naruto baik-baik saja.
Tapi, siapa pun yang melihatnya sekarang pasti akan tahu dia tidak baik-baik saja. Untungnya, tidak ada yang bisa melihatnya sekarang. Tidak ada Sakura ataupun Sai yang akan merecokinya. Tidak akan ada yang mempertanyakan sikap anehnya.
Memasang segel tangan favoritnya, lima buah clone muncul dari kegelapan. Naruto langsung menyuruh mereka untuk berpatroli di wilayah sekitar guna mengecek keamanan sekaligus keadaan jika ternyata mereka menemukan sesuatu yang baru ataupun mencurigakan. Lima buah klon tersebut langsung melesat menjalankan perintah hanya dalam seperkian detik.
Naruto mendaratkan fokusnya kepada barrier yang ada di depan sana. Dengan bantuan cahaya bulan, Naruto memutuskan untuk mempelajari barrier tersebut. Bangkit dan berjalan di atas aliran air sungai, Naruto menutup mata dan berkonsentrasi untuk tiba di alam bawah sadar di mana Kurama berada.
Sang Rubah tampak sedang meringkuk di tempat yang menyerupai pipa pembuangan. Jeruji besi yang dulu mengurungnya sudah tidak lagi ada. Naruto meloncat ke atas lengan dan bahu Kurama. Berdiri di bahunya, ia pun menaruh kedua tangan di masing-masing sisi mulutnya--membuat pengeras suara buatan--dan berteriak dengan sekuat tenaga.
"KURAMA! MADARA KEMBALI LAGI DAN DIA AKAN KEMBALI MENYEGELMU! AKU SEDANG SEKARAT DAN KAU AKAN IKUT MATI BERSAMAKU! BANGUN RUBAH TUA!"
Lengan Kurama menyentak, hampir melayangkan Naruto ke udara dan melemparnya ke dinding kalau saja ia tidak berpegangan ke telinga sang rubah. Suara Kurama menggema di sepenjuru alam bawah sadar Naruto ketika ia menggeram jengkel.
HENTIKAN OMONG KOSONGMU NARUTO! AKU TIDAK AKAN JATUH KE PERANGKAP YANG SAMA UNTUK KEDUA KALI KARENA--
Kau menangis? Apa yang terjadi?
"Karena kau selalu tidur seperti rubah tua pemalas. Aku kesepian," ujarnya dengan nada berbohong yang sangat buruk. Kurama menggeram.
Berbohong tetap menjadi kelemahanmu, Naruto. Kau benar-benar shinobi yang payah.
"Terima kasih banyak, Fuzzball," ungkapnya sinis. Tapi, sesaat kemudian ia menghembuskan napas dan mengelus telinga super besar sang rubah. Senyum kaku tercipta di wajahnya. "Sungguh, terima kasih. Aku baik-baik saja, kau lihat? Kalau kau ingin menghiburku sebaiknya kau membantuku sekarang ini."
Keadaan menyedihkan Naruto berhasil membuat Kurama mengalah. Sebenarnya, ia tidak perlu menanyakan keadaan Naruto karena ia sendiri mampu melihat ingatan perempuan itu dan membaca suasana hatinya.
Untuk sekarang ini, wadah dari eksistensinya sedang membutuhkan distraksi untuk mengalihkan pikiran. Memposisikan diri untuk duduk, Kurama menanyakan keinginan Naruto.
Dengan nada suara yang diusahakan riang, Naruto menjawab, "Bantu aku mengidentifikasi segel barrier super besar di depanku ini. Bantu aku juga untuk mengambil chakra Rikudō Sennin yang sepertinya--uhm--tersembunyi di atas sana. Aku tidak bisa merasakannya. Bisa kau ambilkan? Tanganku tidak sampai."
Memutar bola mata atas keantikan Naruto, Kurama melakukan apa yang diminta sosok berambut pirang itu. Dalam beberapa detik saja, Naruto sudah keluar dari alam bawah sadarnya dengan tubuh diliputi chakra kejinggaan. Tubuhnya yang berkilau seolah menjadi sumber penerang di lembah itu. Kedua mata Naruto membentuk tanda plus. Jubah khas Rikudō Sennin Mode ditambah dengan Bijū Mode berkibar akibat aliran chakra yang begitu besar di tubuhnya. Rambut pirangnya yang diikat kuda di belakang kepala juga ikut berkibaran.
Mengepalkan tangan ke udara, Naruto pun berseru dengan lantang. Suaranya bergema di sepenjuru lembah.
"Yosh, Kurama! Let's do the work!"
Beberapa saat setelah memindai barrier yang ada di depan sana, Naruto mulai melupakan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Sasuke. Fokusnya kini hanya tertuju pada energi besar yang tengah ia rasakan--merasakan bagaimana penghalang tersebut mulai menipis dan mengelupas, merasakan bagaimana kepingan mosaik penyusunnya hilang di banyak titik.
Memperbaiki barrier tidak hanya memerlukan banyak chakra dan juga kekuatan Rikudō Sennin, ia akan memerlukan fuinjutsu agar bisa menempatkan kepingan mosaik dengan benar. Perkiraannya mengenai barrier yang memerlukan teknik spesial klan ibunya ternyata tidak salah. Naruto menarik kedua tangan yang tadi ia gunakan untuk memindai. Ia terdiam selama sesaat di sana, mengamati rerumputan di seberang sungai yang bergoyang akibat hembusan angin malam.
Meski terasa begitu cepat, Naruto sadar ia sudah berdiri di sana lebih dari dua jam. Tubuhnya yang terasa sedikit lelah membuatnya memutuskan untuk kembali ke samping tenda begitu mematikan mode bijū yang tadi digunakan. Ia duduk di belakang tumpukan arang bekas api unggun sambil memeluk lutut. Matanya mengerling ke samping, melihat tenda yang serupa dengan tenda yang biasa digunakan oleh Tim Tujuh dulu ketika mereka melaksanakan misi. Ingatannya di masa-masa itu masih sangat segar. Tim Tujuh adalah keluarga pertamanya dan akan selalu menjadi keluarganya.
Pencapaian Naruto hingga saat ini sangat memuaskan. Orang-orang telah mengakuinya. Ia tidak lagi dianggap sebagai monster. Namanya kini dielu-elukan. Ia adalah pahlawan dunia shinobi. Ia adalah Uzumaki Naruto. Mimpinya untuk menjadi Hokage juga sudah hampir tercapai. Naruto sudah begitu dekat. Segalanya terasa sempurna, meski luka pasca peperangan masih tetap membekas.
Jadi, kenapa rasanya masih sulit untuk menikmati itu semua?
Apa yang kurang?
Menyadari matanya yang kembali terpaku pada tenda tersebut, Naruto pun mengumpat dalam hati.
Si berengsek itu kembali mencoba menutup diri. Itulah mengapa Naruto tidak bisa tenang.
Di alam bawah sadar, Kurama mendengus setelah memikirkan bahwa segala yang berkaitan dengan Uchiha selalu merepotkan. Ia benar-benar berharap Naruto bisa segera membereskan masalah kecilnya karena Kurama merasakan sesuatu yang tidak beres di dunia asing ini. Barrier yang tadi dipindai Naruto adalah masalah. Sesuatu yang bernama sihir adalah masalah.
Sang Bocah Uchiha harus berhenti bermain-main dengan Naruto. Ia harus berhenti mendramatisir segala hal karena Kurama gerah dengan suasana hati Naruto yang mendung. Istirahatnya menjadi terganggu karena keresahan yang dirasakan Naruto.
Kenapa dia tidak mengikuti jejak Kushina dan mencari orang seperti Minato saja?
Rasa kantuk kembali menguasainya. Kurama menggeram rendah, aura dan suasana di dunia asing ini benar-benar menganggu.
Ketika kembali terlelap, Kurama sedang berusaha mengingat-ingat alasan mengapa sang leluhur shinobi membentuk pembatas raksasa di antara dua dunia itu. Ia yakin sang kakek pernah mengatakan sesuatu yang cukup penting. Namun, hidup berabad-abad di tempat gelap yang dipenuhi kebencian membuat Kurama melupakan masa-masa kecilnya ketika kakek itu masih hidup.
Ingatan tersebut terasa penting. Sayangnya ia tidak bisa ingat sekarang.
Ditemani oleh suara pikiran Naruto yang seolah menggema di alam bawah sadar tempatnya tinggal, Kurama kembali terlelap.
Oh, sesuatu yang bernama sihir ini benar-benar sebuah masalah. Masalah. ]
TBC
