New Family

Chapter 2

Sekali lagi durarara BUKAN milik saya.

Attention please~! Konten ini mengandung YAOI, Shizaya, genre gado-gado, ratenya K sih…tapi mungkin bisa berubah sewaktu-waktu, bahkan tiba-tiba bisa rate M, iklan typo(?), Mpreg, OOC, OC. Tengkyu dan RnR yang minat, YEAH!


"Tou-chaaan~! Kaa-chaaann~!"Psyche segera menghambur ke pelukan Shizuo, "Bagaimana penampilan kami? Keren, kan? Keren, kan?"

Shizuo mengangguk antusias dan menggendong Psyche, sedangkan di belakangnya Izaya tengah menggenggam tangan Tsugaru. Ini pertama kalinya ia melihat anak-anaknya bermain peran di atas panggung dan ia hampir saja menitikkan air mata terharu karenanya. "Bagus sekali. Tou-san bangga sekali pada kalian"

"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Izaya Orihara yang hebat ini yang melahirkan mereka"ucap Izaya bangga, kemudian merona. Tsugaru dan Psyche tertawa lantaran bukan hanya Izaya saja yang merona tapi juga Shizuo.

Shizuo berdehem. Melihat Izaya masih memerah dan kini memalingkan wajahnya, tentu saja membuat Shizuo tersenyum.

"Bukan Izaya Orihara, tapi Izaya Heiwajima"

Blush~

Izaya yakin saat ini wajahnya sudah mirip tomat rebus. Izaya juga yakin pasti Shizuo saat ini sedang menyeringai.

Awas saja kalau nanti malam.

Ia bersumpah akan membuat Shizuo bertekuk lutut di bawahnya.


Saat ini mereka berempat sedang di dalam gerbong kereta yang sialnya dipenuhi banyak penumpang. Tentu saja ini membuat mereka berempat tak bisa duduk dan terpaksa berdiri. Belum lagi panas karena penumpang yang berdesakan. Izaya dan Tsugaru juga harus terpisah dari Shizuo dan Psyche yang syukurlah tidak jauh darinya.

Dan sepertinya hari ini Izaya sedang kena sial.

Karena kini ia bisa merasakan sebuah tangan meremas bokongnya.

Ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal ini, tapi saat ini ia bersama dengan Tsugaru. Dan parahnya lagi Shizuo tidak berada di dekatnya.

Izaya mulai bisa merasakan deru nafas berat menerpa bagian belakang lehernya. Dan seperti yang ia perkirakan, sebentar lagi ini akan berubah jadi lebih berbahaya. Ia bahkan bisa melihat orang mesum di belakangnya (yang ternyata adalah orang kantoran) menyeringai bangga.

"Ah!"pekik Izaya saat sebuah jari menusuk anusnya kasar. Izaya langsung menutup mulutnya saat sadar bahwa suaranya barusan cukup bisa didengar oleh Tsugaru.

"Okaa-san? Ada apa?"tanya Tsugaru khawatir. Izaya memaksakan senyumnya meski ia kini merasakan jari itu semakin liar di area bawahnya, lalu menggeleng. Izaya kembali menahan pekikannya saat dua jari mulai memainkan lubangnya yang tertutup jeans.

Izaya menepuk kepala Tsugara lembut. "Tsugaru, bisakah kau pergi ke Shizu-chan dan tetap bersamanya sampai kita tiba nanti?"

Meski Tsugaru sangat kebingungan ia pun menurut dan pergi melewati kerumunan.

"Waah…kau pria yang pintar. Tak kusangka kau menyukai hal seperti ini, ya~"puji pria asing di belakang Izaya. Bersiul akan tindakan Izaya. "Hei, aku tahu kalau kau ini laki-laki, tapi apa kau yakin ibumu tidak salah melahirkanmu? Lihat ini, tubuh dan wajahmu bahkan lebih menarik dari wanita~"Izaya mulai merasakan kedua tangan pria asing itu menyusuri pinggangnya, bahkan terkadang mencubit dan menarik putting dadanya. Anehnya, tak ada orang lain yang menyadari hal ini.

"Aah…perjalanan ke stasiun selanjutnya masih lama. Itu berarti aku masih punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu. Ya, kan?"tambah pria itu sambil menampar bokongnya, namun suaranya tidak begitu terdengar. Membuat Izaya terpaksa menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhannya.

"Hngh…"

"Oh? Kau menikmatinya bukan? Bagaimana dengan ini?"pria itu kini menggesekkan selangkangannya dengan pantat Izaya. Izaya bisa merasakan kejantanan pria itu mengeras setiap menyentuhnya. Sial. Andai saja ia membawa switch blade kesayangannya, ia pastikan ia akan memotong kemaluan pria ini menjadi dua di balik jasnya itu. Saat ini ia tidak bisa berbuat banyak karena keadaan kereta yang terlalu sempit membuatnya tidak membiarkannya bergerak bebas.

"He, hentikan! Kau…"desis Izaya seraya menahan kedua tangan pria mesum di belakangnya yang mulai melakukan gerakan 'keluar-masuk'. Namun sebelum ia bisa melayangkan jotosan jitu ke wajah pria itu, Izaya dibuat menyeringai, mendapati seseorang berdiri tegak di depannya

dengan penuh aura membunuh.

Pria itu kemudian merasakan remasan di pundaknya dari depan, dan…

"Kau pikir kau sedang apa, hah?"

"Ah~, Shizu-chan~! Tolong aku~!"tangis Izaya yang dibuat-buat. Shizuo masih bisa melihat dengan jelas kedua pergelangan tangan yang menyentuh pinggul Izaya kuat. Sedangkan Izaya sendiri tetap berusaha menahannya walau sepertinya ia melemah karena tindakan bejat yang ia terima.

Dan itu membuatnya sangat marah!

"KAU APAKAN ISTRIKU, HAH! KAU BAJINGAN!"

Dan kereta itu pun dipenuhi dengan suara bedebam sepanjang perjalanan menuju statiun berikutnya yang walhasil Izaya harus menutup kedua mata anaknya agar tak melihat adegan berbahaya di depannya.


"Si bangsat itu! Kalau aku melihatnya lagi, ku bunuh dia!","Ssssh, berhentilah menggerutu"ucap Izaya sambil menempelkan plaster luka di pipi Shizuo.

"Dan kau kenapa diam saja, I~za~ya~kun~?"

"Aku tadi mau menonjoknya, tapi kau duluan muncul"

"Tapi tou-chan barusan hebat!"seru Psyche, "Seperti pahlawan kebenaran yang ada di tv!"tambah Tsugaru. Mau tak mau Shizuo tersipu mendengar pujian dari anak-anaknya.

"Kalian bisa saja…"

Tiba-tiba Izaya menahan mulutnya, merasakan mual yang tak tertahankan.

"Shizu-chan…aku harus ke kamar mandi…"ucap Izaya lemah. Wajahnya sedikit pucat dan Shizuo yang menyadarinya tentu khawatir.

"Mau kutemani?"tanya Shizuo yang kini menahan pundak Izaya.

"Ini hanya mual biasa, kok…"

"Tidak. Aku memaksa"

Izaya menghela nafas. "Baiklah. Psyche, Tsugaru. Bisakah kalian menunggu di sini sebentar? Ingat, jika ada orang asing menghampiri kalian, abaikan saja"

"Oke"

Shizuo kemudian menuntun Izaya menuju kamar mandi. Sesampainya, Izaya langsung mengeluarkan isi perutnya di westafel sedangkan Shizuo membantu meringankan sakit Izaya dengan menekan-nekan lembut bagian belakang leher Izaya. Sebenarnya Shizuo ingin sekali meringis melihat Izaya yang tampak lemah dan kesakitan saat ini. Selesainya, Izaya berkumur dan mengelap mulutnya, kemudian menghela nafas lega.

"Apa kau sedang sakit?"tanya Shizuo khawatir. Tapi ia tidak merasakan panas dari tubuh Izaya. Sakit perut? Maag?

Izaya menggeleng lemah. "Entahlah. Tubuhku akhir-akhir ini terasa aneh. Tapi ini tidak seperti aku sedang sakit…"atau jangan-jangan…tidak, tidak. Ia sudah melahirkan Tsugaru dan Psyche. Tidak mungkin ia hamil lagi. Lagipula, bukankah seharusnya 'percobaan' Shinra tidak akan bekerja lagi untuk kedua kalinya. Ya, mungkin ia hanya kurang istirahat saja.

Tiba-tiba Izaya merasakan kecupan lembut di tengkuknya. Izaya pun menoleh dan mendapati Shizuo kini beralih mencium pundaknya.

"Shizu-chaaaan~?"

"Ck. Aku hanya tidak suka orang lain menyentuhmu. Sekarang baumu jadi bercampur dengan pria menjijikkan itu. Satu-satunya yang boleh menyentuhmu hanya aku. Kau milikku"gerutu Shizuo. Ah…akhirnya sisi posesifnya keluar juga.

Izaya tersenyum dan membalikkan posisinya jadi menghadap Shizuo. Ia dorong tubuh Shizuo masuk ke bagian lain wc kemudian mendudukkan Shizuo.

"Ah~, kalau begitu lakukan dengan cepat agar anak-anak tidak curiga. Ok?"goda Izaya sambil membuka jaketnya. Ia juga menjilat bibirnya sensual, merasakan bibirnya mulai mengering.

"Tentu. Dalam 10 menit"jawab Shizuo, menyeringai.


"Ah! Kaa-chan! Tou-chan! Lama sekali!"gerutu Psyche, cemberut.

"Psyche, mungkin okaa-san sedang sakit perut"sergah Tsugaru sambil mengelus kepala Psyche sayang. "Tapi…kenapa okaa-san sedikit pincang? Apa kaki okaa-san sakit?"

Izaya tersenyum menahan rasa sebalnya. Ia tak menyangka Shizuo benar-benar melakukannya dalam waktu 10 menit, tapi dengan lebih 'liar'. Ia bisa melihat orang-orang yang keluar wc memandangnya dengan wajah merona dan menahan hidung mereka yang sedikit mengeluarkan darah, mimisan. Membuatnya mengingat betapa keras lenguhan dan desahan yang ia keluarkan karena perbuatan Shizuo.

Dan si empunya malah memasang wajah seakan tak terjadi apa-apa beberapa menit yang lalu. Membuatnya ingin sekali menginjak-injak kaki Shizuo sampai gepeng. Benar-benar seks pertama setelah sekian lama tidak bertemu yang sangat tidak romantis.

Hah…tapi yang sudah berlalu biarlah berlalu.

"Tidak apa-apa…Ayo kita segera pulang agar kaa-chan bisa memasak makan malam spesial untuk kalian!"seru Izaya yang disambut sorakan dari Psyche dan Tsugaru. Izaya kemudian membuka handphone-nya dan mencari-cari sesuatu. Dan tak disangka ia menerima pesan dari Tsukumoya berupa informasi yang sedang ia cari-cari. Hanya saja entah apa yang membuat Tsukumoya memberikannya secara cuma-cuma.

'Informan-san! Sudah lama kita tidak bertemu, ya~

Sebagai salamku, kuberikan informasi ini untukmu. Aku tahu kau akan membutuhkannya.

-Tsukumoya Sinichi'

Si brengsek ini. Bahkan ia tahu dimana dirinya sekarang. Izaya pasti yakin Tsukumoya juga mengetahui kehamilannya dan kenihilannya di Ikebukuro selama ini. Dasar stalker.

"Ada apa?"tanya Shizuo, yang malah dibuat merinding dengan senyum licik Izaya.

"Tidak, tidak…hanya saja aku tahu apa yang harus aku lakukan pada si mesum di kereta barusan…"

Shizuo tidak tahu harus ikut tersenyum licik atau ngeri melihat Izaya. Pada akhirnya ia diam saja.

Takami Naruhiko.

Lihat saja apa yang akan ia berikan padanya nanti, khu khu khu...

Selagi Izaya menjauh, tanpa ia sadari sesosok pria dengan hoodie mencurigakan bersembunyi di balik tembok memperhatikannya sedari tadi. Mengawasi setiap gerak-gerik sang informan. Manik magentanya menatap nyalang ke arah Shizuo.

"Orihara Izaya…

Tunggulah aku"


"Breaking News. Akhirnya setelah dua minggu pengejaran, pelaku utama bisnis prostitusi, Takami Naruhiko, malam ini tertangkap di kediamannya di Shibuya…"

"Huahahaha! Si bodoh itu akhirnya tertangkap juga~"tawa Izaya. Shizuo yang melihat pelaku tersebut hanya bisa melongo dan tanpa sadar ia menjatuhkan tahu dari sumpitnya. Psyche dan Tsugaru hanya bisa memandang ibu mereka aneh. Memang apa yang lucu?

"Syukurlah aku tidak harus membunuhnya"ucap Shizuo sambil memakan kembali nasinya.

"Hmm, hmmm~"gumam Izaya senang. Takami Naruhiko. Selain bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan kecil, ia juga membuat bisnis protitusi secara sembunyi-sembunyi. Ia sudah menikah dan memiliki seorang anak, tapi ia memiliki dua wanita selingkuhan. Selalu berbuat mesum di kereta. Tentu saja pria ini adalah mangsa yang bisa Izaya jatuhkan dengan mudah. Ia yakin Takami-san akan diceraikan tidak lama lagi. Belum lagi perusahaan yang akan memecatnya. Ah, seharusnya ia menerima sebuah penghargaan karena telah memberikan informasi tentang keberadaan Takami-san pada pihak kepolisian.


"Selamat tidur, kaa-san"

Izaya mengecup dahi Tsugaru dan Psyche. "Selamat tidur. Mimpi yang indah"

Izaya melangkah ke arah pintu kemudian mematikan lampu, lalu menutup pintu perlahan. Belum beberapa langkah menjauh dari pintu, hp-nya bergetar, memaksa Izaya membuka layar hp-nya. Shiki-san kah?

Bukan.

Sebuah pesan. Dari nomor tak dikenal.

Izaya mengerutkan dahi. Ia buka pesan itu dengan penuh curiga.

'Orihara Izaya.

Tak akan kubiarkan Heiwajima Shizuo memilikimu.

Kau adalah milikku.

Akan kurebut kembali apa yang seharusnya milikku.

Aku mencintaimu.

Tunggulah aku.

Anak-anak itu bukanlah halangan bagiku.

Akan kubuat kau menginginkanku.

Mendesahkan namaku setiap malam.

Selamanya.

Aku akan menjemputmu. Tidak lama lagi.

Cintaku'

Stalker? Izaya tertawa membaca pesan itu. Benar-benar, manusia sangat menyenangkan. Sepertinya ia masih akan dihibur kembali oleh mereka. Sungguh, Ia mencintai manusia.

Tapi…saat ini, rasa cinta itu tidak sebesar rasa cintanya pada Shizuo dan kedua anaknya.

Menyadarinya saja sudah membuatnya tersenyum. Iya. Sebaiknya ia fokus pada keluarga kecil yang ia punya ini. Toh, bahkan para manusia itu tidak akan bisa menggantikan kebahagiaannya saat ini. Oleh karena itu, ia harus melindungi mereka yang ia cintai. Tsugaru, Psyche, dan Shizu-chan.

Sebaiknya ia menyimpan masalah ini sendiri. Jaga-jaga jika sesuatu yang berbahaya terjadi.

Ia pun melangkah memasuki kamarnya, mendapati Shizuo masih terbangun, menunggunya.

"Shizu-chan~, seharusnya kau tidur~! Anak baik harus tidur lebih awal~"ejek Izaya yang kemudian mendapat bantal di wajahnya.

"Diamlah dan tidur"

"Apa ini? Apa Shizu-chan ingin berpeluk-pelukan denganku saat tidur~? Imutnyaaaa~"

"Berisik, kutu! Sudahlah aku tidur!"Shizuo memalingkan wajahnya yang merona dan menarik selimut hingga hidungnya. Kemudian memposisikan tidur tengkurap.

Tiba-tiba Shizuo merasakan Izaya menduduki punggungnya.

"Kau kutu! Menyingkirlah-"

"Kau tidak mau aku memijat tubuhmu, Shizu-chan?"

"Terserah"

Meski malu-malu, pada akhirnya Shizuo membiarkan Izaya memijat tubuhnya. Dan di luar dugaan Izaya cukup jago. Ia bisa merasakan tangan ramping Izaya menekan-nekan ototnya yang kaku, menghilangkan rasa pegal yang selama ini ia abaikan.

"Shizu-chan sangat kaku. Harusnya Shizu-chan tidak perlu banyak bertingkah dan istirahat yang cukup. Kalau terus-terusan begini, nanti aku tidak mau memeluk Shizu-chan lagi~"oceh Izaya. Mendengar kata-kata Izaya tersebut, Shizuo langsung membalikkan tubuh dan menarik Izaya untuk mendekat. Kini tubuh mereka saling menempel dengan wajah yang hanya dipisahkan jarak 5 cm.

"Kenapa kau tidak mau memelukku, hm? I-za-ya-kun~"

"Te, tentu saja! Kalau otot Shizu-chan kaku, tubuh Shizu-chan akan sekeras batu! Aku tidak mau memeluk bongkahan batu, kau tahu!"kilah Izaya dengan sedikit rona di pipinya.

"Kalau begitu, kau harus memijatku setiap hari"ucap Shizuo dengan seringai di wajahnya.

"Haah? Lalu siapa yang akan memijatku?!"

"Tenang saja. Aku akan memijatmu setelah kau memijatku. Tentu saja aku akan memijat bagian di bawah sana. Lagipula, aku tidak mau melakukan'nya' dengan batu"ucap Shizuo kali ini dan Blush~, Izaya memerah. Strike untuk Shizu-chan.

"A-a-ap-"

Cup. "Sekarang kau sudah memijatku, jadi giliranku untuk memijatmu, Izaya-kun~"

"…B, baiklah kalau begitu. Tapi…aku tidak ingin memijat 'bagian'mu. Aku lebih suka yang keras"kini Shizuo yang merona, mengukir senyum kemenangan di bibir tipis Izaya. Strike untuk Iza-nyan.

"Awas kau kutu~"


Sesosok wanita dengan mantel mahal menurunkan teropong yang sedari tadi ia pegang.

"Bagaimana keadaannya, Jill?"

Wanita itu berdiri dari persembunyiannya saat ia bisa melihat lampu salah satu lantai flat dimatikan. Ia kunyah permen loli yang ada dalam mulutnya. Matanya masih mengawasi meski ia tak lagi memakai teropong.

"Seperti yang kuduga, di sana cukup 'panas'"dan ia kini bisa mendengar sesuatu dipukul dari seberang handphonenya. Seperti meja kayu.

"Shizuo…Heiwajima…"geram pria di seberang telfon. Wanita yang diketahui bernama Jill itu kini tersenyum. Sepertinya clientnya yang satu ini mudah sekali emosi. Jill kini memainkan rambut biru tuanya yang ia kuncir dua.

"Hei, hei…Tidak baik mengutuk nama suami orang lain. Nanti istrinya bisa menangis~"

"Aku tak peduli. Mereka belum menikah. Itu berarti Izaya masih belum sepenuhnya milik Heiwajima sialan itu. Setelah ia berpaling padaku, kami akan hidup bahagia. Selamanya"

"Tapi dia sudah memiliki anak. Kau lihat sendiri, bukan? Bahkan orang saja bisa memastikan kedua bocah itu adalah darah daging dari pasangan Shizuo-Izaya. Bukankah itu sudah merupakan bukti bahwa Izaya-mu sudah diambil sepenuhnya?"

"Tidak. Belum"kini Jill bisa mendengar tawa licik client-nya. Berurusan dengan stalker yang kelewat maniak memang tidak begitu menyenangkan.

"Ah!"

Jill mengernyit. "Are you fucking kidding me? You say that thing while you bitching around with another cock sucker, do you?"oh, ada satu hal yang membuat Jill tidak suka dari client dalam bisnisnya.

Seks.

"Aku tak peduli. Temanku membawa pelacur ini sebagai hadiah untukku. Lagipula aku melakukannya sambil membayangkan Izaya. Aku ingin merasakannya. Setiap senti tubuhnya. Setiap pagi dan malam. Merasakan lembut tubuhnya yang pucat. Aah~aku tidak sabar untuk menjadikan Izaya sebagai milikku seorang"

Jill membuang ludahnya. "Gross!"

"Aku tahu kepribadianmu, Jill. Toh, itu urusanmu. Bukan urusanku. Sekarang kerjakan tugasmu"

Piiiip.

Client kali ini benar-benar murahan.

Jill memang tidak peduli dengan urusan seksualitas clientnya. Tapi saat ia mulai melihat, atau mendengar langsung, rasanya ia ingin mengutuk siapa-pun. Entah mengapa seks sangat menjijikkan. Clientnya yang satu ini, juga sama menjijikkannya.

Tapi. Saat ia melihat Shizuo dan Izaya di sana…entah mengapa terkesan hangat.

Tentu saja ia tidak akan jijik. Seks dan bercinta itu berbeda. Berbeda sangat jauh baginya karena ia bisa membedakannya dalam sekali lihat. Bahkan jika sesama laki-laki. Selama itu adalah bercinta, bukan masalah baginya.

Menghela nafas.

"Andai ini semua bukan karena uang. Aah~damn it!"


Nichi : Gyaaaah~, Iza-nyan sekarang direbut banyak orang~

Shizuo : IZAYA MILIKKU!

Nichi : Sori kali ini fic-nya pendeeeeeeekkkkk!*dibuang ke sumur tua*

Psyche : Jill-san itu orang luar negeri, kaa-chan?

Izaya : Ga tahu. Tuh author sarap yang buat. Tau-tau bikin OC.

Nichi : Biar ada different-nya gitu.

Izaya : Sok inggris tuh. Padahal diajak ngomong bule gak paham.

Nichi : #bunuhdiri

Tsugaru : Tolong review dan terus ikuti kelanjutannya, ya...

(Sebelumnya, aku harus meminta maaf pada reader. Karena masih baru, aku belum paham tentang rating. Oleh karena itu selanjutnya aku akan memberikan rating yang benar pada fanfic ku. Ku harap kalian mau memaafkan kesalahanku. Salam!)