New Family
Chapter 3
Sekali lagi durarara BUKAN milik saya.
Attention please~! Konten ini mengandung YAOI, Shizaya, genre gado-gado, hati-hati! rate sudah nyerempet ke M!, iklan typo(?), Mpreg, OOC, OC. Tengkyu dan RnR yang minat, YEAH!
"Iza-ya, Shizu-o! Mampir ke Russian Sushi! Sushi enak! Sushi segar…?"Simon menelengkan wajahnya, melihat 2 anak kecil bersembunyi di belakang kaki Izaya. Kedua anak kecil itu menyembunyikan wajah mereka, tapi melihat tubuh keduanya yang bergetar membuat Simon paham bahwa kedua anak itu takut padanya.
"Anak kecil? Siapa mereka? Mau sushi?"
Izaya mengelus kepala Tsugaru sayang. "Aah…mereka? Yang satu ini Tsugaru, dan si kecil ini Psyche. Mereka anakku dan Shizu-chan. Tsugaru, Psyche. Ayo beri salam pada Simon"
Simon tertegun, namun ia segera memasang wajah paling ramahnya. "Tsuga-ru, Psy-che. Simon tidak menakutkan. Makan sushi. Sushi enak. Makan yang banyak. Sushi bagus untuk pertumbuhan"
Psyche dan Tsugaru saling berpandangan, kemudian tertawa kecil. Keduanya berjalan mendekati Simon dan memasang senyum lebar.
"Paman Simon, salam kenal!"ucap mereka. Simon membalasnya dengan tersenyum. Benarkah mereka anak Shizuo dan Izaya? Mereka terlalu manis sebagai versi kecil dari seorang Shizuo Heiwajima dan Izaya Orihara.
Gruuuuukk
"Aku lapar"keluh Psyche. Tangan kecilnya mengelus perutnya. Memberikan usapan menenangkan pada pencernaannya yang menggeram. Shizuo berjongkok di depan anak manis itu. "Kalau begitu Psyche mau makan apa?"
"Ootoro!"
Ah.
"Aku ingin tahu bagaimana rasanya! Kaa-chan selalu memakannya!"
Izaya tertawa geli. "Itu karena kaa-chan menyukai ootoro"
"Baiklah kalau itu maumu, Psyche. Bagaimana denganmu, Tsugaru?"tanya Shizuo. tentu saja Tsugaru mengangguk setuju. "Oke, Simon. Tolong meja untuk kami"
"Hari beruntung! Diskon spesial untuk keluarga!"
"Horeeeeee!"
Maa. Tidak penting bagaimana keluarga kecil ini bisa terbentuk, pastinya adalah sebuah keajaiban karena saat ini ia akan menjual lebih banyak sushi. Benar-benar hari keberuntungan.
"Ah! Shizu-Shizu dan Iza-Iza! Tumben kalian jalan bersa- Oh! Tunggu! Apa kalian sedang kencan?! Nee, nee! Oshiete! Oshiete!"saat Shizuo dan Izaya masuk, mereka langsung disambut suara girang Erika yang tentu saja membuat telinga mereka serasa berdenging seketika. Tidak hanya Erika. Tentu saja dengan gengnya. Sepertinya mereka baru saja selesai makan. Syukurlah kalau begitu.
"YA AMPUN! SIAPA MEREKA?! APA MEREKA ANAK KALIAN!"
BRUUUTSS! (suara Kadota, Walker, dan Togusa menyemburkan minuman mereka berjamaah)
Ku tarik kata-kata itu kembali.
"Kyaaa! Oh, Kami-sama! Lihat Yumacchi, lihat! Akhirnya impianku tercapai! Shizaya bukan omong kosong! Mereka bahkan sudah punya anak! Bahkan ada dua! Ya ampun~, mereka manis sekali! Bayangkan ini, Yumacchi! Versi chibi dari Shizu-Shizu dan Iza-Iza!"cerocos Erika. Semangat fujo-nya kini berkobar hingga Izaya bisa melihat api menyala di manik wanita otaku itu. Sungguh membuat bulu kuduknya berdiri ria.
"Tenang dulu, Karisawa-san! Mungkin mereka bukan anak Orihara-san dan Heiwajima-san. Tentu saja mereka mirip… tapi, hey, ini pasti cuma kebetulan. Bisa saja-"
Hiks.
"Tapi aku anak kaa-chan dan tou-chan…Kenapa kau bisa berkata begitu?"
Izaya dan Shizuo yang melihat Psyche menangis langsung memberikan deathglare ke arah Walker. Walker langsung pundung. "Kau bilang apa pada anak kami?!"
"Ah…jadi benar… Maaf atas perkataanku barusan"ucap Walker takut-takut dan menyembunyikan setengah wajahnya di balik meja. Mungkin sebentar lagi ia bakal terancam mati dalam keadaan paling tragis di dunia ini.
"AKU TAHU ITU NYATA! Ah~ Yumacchi! Akhirnya aku bisa mati dengan lega~"girang Erika.
Shizuo mendengus dan mengambil tempat duduk kosong di seberang meja, diikuti Izaya, Tsugaru, dan Psyche. "Tentu saja begitu. Mereka adalah anak kami. Mulai saat ini akan kubunuh siapa pun yang berani menyakiti Tsugaru dan Psyche. Bahkan aku takkan membiarkan siapa pun menyentuh Izaya seenaknya!" Ah, sial. Ia jadi ingat insiden mesum saat di kereta waktu itu.
Melihat urat kekesalan Shizuo yang mulai muncul, Izaya mengecup ringan bibir Shizuo. Erika langsung pingsan, bersimbah darah, dengan Walker yang menangkapnya dan berusaha untuk membangunkan partner otakunya itu.
"Bertahanlah, Karisawa-san!"
Kadota yang melihat tingkah teman-temannya hanya bisa geleng kepala. Ia tatap Shizuo dan Izaya. Sebenarnya ia sudah tahu jika Shizuo dan Izaya sudah lama berhubungan. Tapi tidak pernah terbayang baginya jika mereka akan memiliki anak secepat ini. Apakah itu alasan mengapa Izaya menghilang beberapa tahun yang belakangan?
"Hmm…kalau begitu seharusnya Izaya sudah bermarga Heiwajima…"ucap Kadota sambil menumpukan wajahnya. Sontak Shizuo dan Izaya memerah. Tsugaru dan Psyche hanya bisa tertawa geli.
"Tapi apa seperti ini tidak apa-apa?"
"Maksudmu?"tanya Shizuo balik. Tidak mengerti dengan pertanyaan spontan Katoda. Kadota menggaruk tengkuknya perlahan, mencoba mencari-cari kata-kata yang tepat. Dari sudut matanya ia bisa melihat ekspresi Izaya yang berubah serius. Ia tahu Izaya pasti paham apa yang ia maksudkan barusan.
"Bukankah…sebaiknya kalian menikah? Akan lebih baik jika status hubungan kalian tidak menggantung seperti ini"
Shizuo terdiam.
Izaya menatap Shizuo dengan pandangan datar. Sebenarnya tidak pernah terlintas di benaknya jika pertanyaan semacam ini muncul suatu saat nanti. Lagipula ia juga tidak terlalu memikirkan status hubungannya. Bukankah dengan cinta dan kesetiaan saja sudah cukup? Ia tahu Shizuo sangat bertanggung jawab. Dia pria yang terlalu baik, untuknya. Jadi apa yang-
"Tentu saja kami akan menikah. Cepat atau lambat, aku harus melakukannya"
Kedua manik Izaya melebar. Tidak menyangka akan jawaban Shizuo. di lain sisi, Kadota mengangguk paham. Ia memberikan senyuman kepada Shizuo, seakan ia baru saja menghilangkan beban pikirannya setelah sekian lama. "Yah, sudah kuduga kau akan bertanggung jawab penuh"ucap Kadota. Ia memberikan tinju kecil pada pundak Shizuo.
'Berjanjilah untuk menjaganya dengan nyawamu'
Seakan mengerti maksud sorot mata Kadota, Shizuo memberikan seringaiannya. Ini seperti Kadota memberikan sebuah tantangan padanya. Bagaimana pun ia tahu, Kadota sebenarnya
menyukai Izaya sejak lama.
Jauh semenjak mereka masih di SMA.
"Akan kubuat kau kagum"ucap Shizuo final. Ia merengkuh pundak Izaya, membuat Izaya tersipu.
Akhirnya Kadota meninggalkan Russian Sushi bersama gengnya. Memberikan senyum terakhir yang ia perlihatkan pada Shizuo pada hari itu.
'Shizu-chan…Apa dia serius?'
Sudah 3 hari Izaya sering melamun. Saat ini saja pikirannya sangat kosong akan hal-hal lain, selain kata-kata Shizuo saat itu. Padahal ia harus segera pulang untuk memasak makan malam tapi ia malah mematung di supermarket dan melalui 30 menit dengan berdiri di depan keranjang sayur, tidak peduli tatapan orang-orang yang khawatir di sekitarnya.
"Eem…ano…ada yang bisa saya bantu?"
Izaya terkejut saat mendapati seorang sales promotion girl sudah berada tepat di sampingnya. "Ti, tidak ada apa-apa. Terima kasih"ucap Izaya dengan senyum terpatri di bibirnya. Sejujurnya, ia cukup panik, sih...
Pada akhirnya Izaya memilih untuk segera pergi dari supermarket. Namun, ia segera menjatuhkan keranjang sayurnya saat melihat seorang gadis berumur 12 tahun yang tiba-tiba melintas di jalan yang sepi dengan sebuah mobil sedan hitam yang siap melaju ke arahnya dengan kecepatan tinggi dari jarah 8 meter. Dan tiba-tiba insting keibuannya muncul, membuat kedua kakinya bergerak dengan sendirinya. Dengan sigap Izaya merengkuh tubuh ramping gadis itu dan langsung mendorong tubuhnya ke depan sebelum akhirnya mobil itu bisa menabrak tubuh rapuh gadis tersebut.
CKIIIIIIIIITTT-!
"KYAAAA!" "A, anda tidak apa?!" "Ya ampun!" Seketika jalanan ramai dipenuhi para pejalan kaki yang kebetulan melihat kejadian tersebut. Dan sayangnya, atau sialnya, si pemilik mobil tidak bertanggung jawab dan kabur sebelum salah satu dari mereka bisa menghentikannya atau bahkan melihat plat nomor mobil tersebut. Tentu saja Izaya merutukinya.
"Hei. Kau tak apa-apa?"tanya Izaya sembari melepas pelukannya. Ia bisa melihat gadis itu bergetar, namun tetap mencoba menggangguk untuk memberitahu Izaya bahwa ia baik-baik saja. Izaya kemudian membuang nafasnya lega dan memberi senyum yang ramah. "Lain kali kau harus hati-hati jika menyeberang, ok?" Gadis itu kembali mengangguk.
Izaya berdiri dari duduknya, namun tubuhnya langsung oleng. Kemudian ia melihat berpasang-pasang mata membulat ke arahnya, termasuk gadis tersebut. Izaya pun mengikuti kemana arah pandangan mereka dan…Oh, sial.
Posisi kaki kirinya sungguh tidak wajar.
"Astaga! Anda harus ke dokter sekarang juga!" "Tampaknya mengerikan"
"Tolong bantu dia! Siapa pun! Ku mohon!" Ah. Gadis itu berbicara.
"Mari ikut saya. Saya bisa membawa anda ke rumah sakit terdekat. Kebetulan mobil saya di dekat sini"ucap seorang pria paruh baya di sebelah Izaya. Izaya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini.
"B, bolehkah saya ikut?"
Izaya menatap gadis di depannya.
"Tentu. Apa kau ingat plat nomor mobil barusan?"
"Aku mengingatnya dengan jelas!"
"Gaby!"Jill mendobrak pintu kamar rumah sakit bernomor 202 di depannya dan membulatkan matanya tak percaya.
Ia bisa melihat adiknya terduduk di kursi, sedang bermain kartu dengan seseorang yang berada di atas kasur pasien.
Tidak. Tunggu.
Apakah itu…Orihara Izaya?!
"Kakakmu? Kalian blasteran?"tanya Izaya pada gadis yang baru ia tahu bernama Gaby. Gaby hanya bisa tertawa canggung. Izaya kemudian beralih menatap Jill yang membeku di ambang pintu. "Salam kenal, kakaknya Gaby"
Perasaan khawatir Jill kini berubah. Ia memang lega mengetahui adiknya baik-baik saja, tanpa luka gores sedikit pun. Tapi ia juga merasa horror saat tahu Izaya-lah yang menyelamatkan Gaby, dan parahnya Izaya berada dalam kondisi yang mengerikan baginya.
Ini tidak bagus. BENAR-BENAR TIDAK BAGUS!
Kalau sampai 'client'-nya mengetahui bahwa Izaya seperti sekarang, apalagi hal itu karena hanya untuk menyelamatkan adiknya… maka ia maupun Gaby… akan…
Jill segara memeluk Gaby dan siap-siap membawanya pergi. "Te, terima kasih sudah menyelamatkan adikku! Aku sangat berhutang padamu! Aku akan membayar biaya rumah sakitmu!"seru Jill sambil membungkuk pada Izaya.
"Tidak perlu. Aku rasa kesaksian adikmu barusan sudah cukup. Untunglah dia mengingat jelas plat nomor mobil sialan itu jadi polisi bisa menangkap pelakunya dengan mudah"ucap Izaya.
"Ka, kalau begitu…kami pergi dulu. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu. Kalau kau tidak ada di sana, aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika mendapati adikku satu-satunya sudah tergelindas oleh mobil. Hanya dia satu-satunya yang ku punya. …Maaf jika kami harus pergi seperti ini. Aku pasti akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti"
Izaya tersenyum lembut, membuat Jill merona. Baru pertama kali ini Jill melihat senyuman seindah itu selain dari adiknya. Ia tahu Izaya Orihara adalah seseorang yang licik. Ia mempermainkan hidup orang lain seperti boneka. Orang kuat yang bekerja sama dengan yakuza. Pria yang berani, bahkan ia bisa menghasut seorang gadis untuk bunuh diri. Jill bahkan pernah sekali melihat senyuman Izaya dan ia ingat betul senyuman Izaya terkesan berbahaya, memberikan dirinya sendiri peringat untuk 'jangan mendekat' sejak saat itu.
Tapi senyuman yang ini… Sangat hangat dan lembut. Ia yakin siapa pun pasti terpana melihatnya.
TIDAK! Ia harus menepis pemikiran itu! Yang terpenting saat ini adalah kabur dari tempat ini sekarang juga. Kalau tidak, nyawa Gaby akan menjadi taruhannya.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Kau tidak akan tahu apa yang terjadi di jalan nanti"seru Izaya sambil melambaikan tangannya. Detik kemudian Izaya hanya bisa memandang punggung Jill dan Gaby menghilang di balik daun pintu kamarnya.
Izaya membuka ponselnya dan mengirim sms pada nomor Shizuo, mengabari dimana ia berada dan sedang apa dia sekarang. Ia tertawa kecil saat Shizuo membalas sms tersebut dalam waktu yang sangat singkat, bahkan ia tidak bisa membaca beberapa kata dalam sms Shizuo. Sebegitukah khawatirnya dia? Ia lalu membuka browsernya dan mencari beberapa informasi mengenai pengemudi mobil yang membuatnya seperti ini.
Honda Matsuzaki.
Baru-baru ini diangkat sebagai manajer di perusahaan I&T, salah satu perusahaan yang baru-baru ini didirikan di Nagasaki dan cukup menonjol karena kesuksesannya. Masih berpacaran dengan seorang gadis SMA dan belum menikah.
Rupanya seorang pria sombong yang baru naik pangkat. Ia yakin pria itu baru bisa membeli mobil dan ingin memamerkannya di depan khalayak umum. Sial. Gara-gara orang rendah seperti ini ia jadi tidak bisa pulang untuk memasak makan malam. Ia yakin sekali kedua anaknya sangat kelaparan di rumah. Semoga Shizuo bisa memasakkan mereka sesuatu yang layak dimakan, atau membelikan mereka makanan yang bergizi. Oh demi ootoro yang lezat, ia sangat khawatir. Bagaimana nasib Psyche dan Tsugaru saat ini?
Ngomong-ngomong… sepertinya wanita itu, ya, kakaknya Gaby… sepertinya ia pernah melihatnya. Tapi dimana? Ia ingat betul Shiki-san pernah menemuinya saat ia sedang menunggu di dalam mobil Shiki.
Dan saat wanita itu melihat ke arahnya tadi, Izaya bisa merasakan ketakutan yang amat sangat di kedua bola matanya (jangan salahkan daya observasiya yang tidak pernah tumpul).
Izaya kemudian membuka laman baru untuk mencari jawaban atas kecurigaannya. Tapi segera terhenti saat sebuah sms dari nomor tak dikenal yang ia beri nama Stalker-san muncul kembali di hadapannya.
'Si stalker?'
Stalker-san :'Selamat malam, Izaya. Masih ingat aku?'
Izaya terkekeh, kemudian mengetikkan sebuah sms balasan.
'Hei, Stalker-san. Kau tahu kan aku tidak takut padamu? Dan ngomong-ngomong, selamat malam juga (/^o^)/'
Stalker-san : 'Stalker-san, huh? Ku harap kau tidak memanggilku seperti itu saat kau sudah menjadi milikku nanti'
'Orang ini percaya diri juga…' 'Tidak bisa begitu, Stalker-san! Kau akan tetap menjadi Stalker-san jika kau tidak mau memberitahuku siapa dirimu~'
Stalker-san : 'Kau tahu kan aku tidak bisa memberitahu namaku? Aku tahu apa yang bisa kau rencanakan setelah mengetahui siapa sebenarnya diriku. Bagaimanapun juga kau masih seorang informan licik yang ku kagumi.
Dan karena itulah kau tidak pantas mengandung dua anak haram itu'
Deg.
Tatapan Izaya kini berubah. Ia menatap nanar sms itu.
'Siapa yang kau sebut anak haram itu?'
Beraninya… Tsugaru dan Psyche adalah buah hatinya. Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua. Tak ada seorang pun yang boleh menjelek-jelekkan mereka, bahkan Shizuo sekali pun. Dan mengetahui bahwa stalker ini menghina darah dagingnya yang tidak bersalah…
Stalker-san : 'Tenang saja, Izaya. Setelah kau bertekuk lutut di hadapanku, kita akan memiliki anak yang lebih baik dari dua iblis kecil itu. Kita bisa membuat buah cinta kita sendiri dan hidup bahagia bersama, selamanya. Kau bahkan bisa membuat sebanyak yang kau mau karena dengan senang hati aku akan memberikan apa yang kau inginkan'
'Kalau begitu, apa kau ingin tahu apa keinginanku sekarang?'
Stalker-san : 'Hm?'
'Aku harap kau lenyap dari dunia ini'
Izaya segera menonaktifkan hp-nya dan meletakkannya di atas meja di samping ranjangnya. Ia kemudian menenangkan deru nafasnya yang memburu dan emosinya yang memacu. Tiba-tiba seorang dokter masuk ke kamarnya dan memberikan tatapan ragu-ragu. Ekspresinya acak, antara senang, takjub, takut, khawatir, lega, sedih, atau aneh. Tidak terdefinisi dengan jelas.
"Orihara Izaya-san…?"
"Ya? Ada apa?"
"Kabar baiknya, anda akan sembuh seminggu lagi. Dan…"
"?"
"Saya tidak tahu apakah ini kabar baik atau tidak untuk anda, tapi selamat. Anda dinyatakan hamil dan saat ini usia kandungan anda sudah mencapai 4 bulan. Dan syukurlah janin anda masih sehat"
Membatu.
Siapa pun tolong ambilkan Izaya seember es batu lalu jatuhkan isinya di atas kepalanya. Saat ini Izaya benar-benar tidak bisa berkata-kata dan mendadak mematung dalam jangka waktu yang lama.
"Kaa-chan~!" "Okaa-san!"
Izaya tersenyum lemah dan membentangkan tangannya, menangkap Psyche dan Tsugaru yang menghambur ke arahnya dengan air mata mereka. Di belakang mereka terlihat Shizuo tengah menenteng sekotak ootoro kesukaan Izaya. Shizuo memang terlihat santai, tapi jika Izaya melihatnya dengan lebih teliti lagi ia akan bisa melihat kekhawatiran jelas tersirat di manik hazel Shizuo.
"Kaa-san enggak apa-apa. Lihat ini!"Izaya menggelitik perut Psyche dan tengkuk Tsugaru, alhasil kedua bocah itu tertawa-tawa menahan geli. "Ya, kan? Kaa-san masih yang terkuat!". Shizuo kemudian menghampiri istrinya lalu mengecup lembut puncak kepala Izaya.
"Ya. Kau masih orang yang paling kuat"
"Heeeh~? Shizu-chan mengakui kekalahannya? Aku harus merekam ini!"goda Izaya yang sukses membuat urat Shizuo mencuat. Sial. Ternyata kebiasaan jelek Izaya enggak hilang juga. Shizuo kemudian menghela nafas pasrah. Pandangannya kemudian jatuh pada kaki kiri Izaya yang terbalut perban. Kelihatan parah.
Dasar pembohong.
"Okaa-san…Kaki okaa-san…"Izaya diam memandangi tiga manusia di depannya. Ia elus kepala Tsugaru sayang.
"Okaa-san baik-baik saja. Hanya keseleo. Dan karena untuk sementara ini okaa-san tidak boleh berjalan, gantian kalian yang akan jadi pahlawan okaa-san. Ok?", wajah Tsugaru dan Psyche langsung sumringah dan mereka mengangguk antusias. "Baiklah. Ini ada beberapa uang, dan… Tugas pertama kalian! Tolong belikan kaa-san dan tou-san kalian ini 2 kaleng teh oolong di lantai 1. Kaa-san ingiiiiiiiiiinn sekali meminumnya! Ya?" "SIAP!"
Setelah kepergian Psyche dan Tsugaru, Izaya meminta Shizuo untuk menutup rapat pintu kamar dan menyuruhnya dududk dengan tenang. Seketika itu, Shizuo merasakan atmosfir di ruangan tersebut berubah. Tapi mereka berdua masih dilanda hening.
"Aku tahu kau ingin membicarakan sesuatu yang sangat serius denganku. Katakan saja"
Izaya memejamkan matanya. Mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak karuan. Ia mengeratkan kedua telapak tangannya yang saling bergenggaman. Bersiap dengan skenario-skenario terburuk yang bisa saja terjadi.
"Shizu-chan"
"…"
"Aku hamil"
…
"Eh?"
Izaya membuka perlahan sedikit sebelah matanya, mencoba mengintip ekspresi apa yang Shizuo pasang sekarang. Belum sempat ia berkata apa-apa, tubuhnya tiba-tiba diterjang oleh Shizuo. Izaya bisa merasakan kedua lengan kuat Shizuo melingkar di pundaknya dengan cukup erat.
"S, Shizu-chan?"belum sempat Izaya berkata-kata, Shizuo segera membungkamnya dengan ciuman. Ciuman itu tidak berlangsung cepat, tapi juga tidak berlangsung lama. Kemudian Shizuo membenamkan wajahnya di antara leher dan pundak Izaya, menyembunyikan wajahnya yang memanas. Ia menghembuskan nafasnya di sana, membuat Izaya bergetar ringan. Detik kemudian Izaya bisa merasakan setitik air mata membasahi pundaknya, membuatnya semakin bertanya-tanya.
"Shizu-chan? Oi…"
"Kaaaa-chaaaaann! Tou-chaaaaaan! Kami kembali- KENAPA TOU-CHAN?!"jerit Psyche yang baru saja datang dan mendapati ayahnya sedang memeluk ibunya dengan tubuh bergetar. Tsugaru sendiri hampir menjatuhkan 2 kaleng minuman yang ia bawa. Ia sempat mengira ayah dan ibunya sedang melakukan 'sesuatu'. Syukurlah, ia jadi tidak perlu terburu-buru menutup mata adiknya.
"Psyche….Tsugaru…."ucap Shizuo bergetar.
"?"
"KALIAN AKAN PUNYA ADIK!"
"APA?!"
Nichi : Minna-san…
Maafkan aku…
Saya tidak update tepat waktu…
Dan saya merasa berdosa.
Izaya : Ya. Seharusnya kau harus update chapter baru seminggu sekali, bukan?
Tsugaru : Di hari Sabtu.
Shizuo : Atau Minggu.
Psyche : Payah!
Nichi : ARGH!
FAK!
Tsugaru : Wajar saja, karena kau terlalu sibuk tiap hari. Apa makanmu teratur?
Nichi :*blink blink* Ya ampuuuunn~! Tsugaru~! Kau baik hati dan tidak sombong, rajin menabung, dan suka bermusyawarah! Aku cinta kamu! *peluk-peluk Tsugaru*
Psyche : TSUGARU-KU! *bantai Nichi*
Izaya, Shizuo : Please RnR and Review!
Psyche : YEY!
(Perhatian! Waktu update saya seharusnya Sabtu atau Minggu T_T. Bilamana saya telat update, itu berarti saya sedang sibuk urusan sekolah. Maklum saya sudah kelas 3 SMA, waktunya ujian apalah-apalah. Jadi mohon doa dan semangatnya ya para readers tercinta~)
