New Family
Chapter 4
Sekali lagi durarara BUKAN milik saya.
Attention please~! Konten ini mengandung YAOI, Shizaya, genre gado-gado, hati-hati! RATE MASUK M!, iklan typo(?), Mpreg, OOC, OC. Tengkyu dan RnR yang minat, YEAH!
"YEEEEYY! Tsugaru! Kita akan punya adik! Kita akan jadi kakak!"girang Psyche. Bocah manis itu menggenggam kedua tangan Tsugaru dan menari berputar bersamanya. Tsugaru juga tertawa senang mendapati bahwa dia akan memiliki adik baru. Di lain sisi, Izaya termangu dengan wajah merona, membiarkan Shizuo merengkuh pundaknya dan mencium puncak kepalanya.
"Sepertinya, kita harus merayakannya. Bagaimana kalau kita rayakan di rumah Shinra? Sekalian memeriksa kandunganmu lebih lanjut. Aku tahu Shinra lebih tahu akan hal ini dibanding rumah sakit ini"ucap Shizuo akhirnya.
Izaya berpikir-pikir sejenak. "Apa tidak merepotkan?", "Aku yakin TIDAK. Anggap saja ini balasan atas apa yang ia sembunyikan dariku selama ini". Izaya meneguk ludah. Shizuo memang tidak marah padanya, tapi di sanalah ia mulai merasa agak bersalah. Atau takut?
Kasihan Shinra…
Sedangkan itu di kediaman Shinra Kishitani…
"Huachuuuu!"
SROT.
"Seperti ada yang sedang membicarakanku, nih. Apa perasaanku saja, ya?"tanya Shinra pada dirinya sendiri. Tangannya masih sibuk mengelap hidungnya. 'Tapi, tubuhku kok merinding…'
Cklek.
Seakan memiliki sensor yang otomatis bereaksi, Shinra berlari menuju pintu dan benar saja. Ia mendapati Celty pulang!
"Celtyyyy~! Cintaku~! Bulan di mataku~! Bagaimana pekerjaanmu? Tumben pulang cepat? Hey~, apa kau dengar~? Celty~?" Di lain sisi, Celty mengabaikan Shinra yang bersiap memeluknya. Ia berjalan dengan tubuh tegap dan mendudukkan dirinya di atas sofa empuk milik Shinra. Ia melepaskan helmnya dan termenung. Shinra yang melihat keadaannya mendekatkan diri ke arah Celty dan mengusap tangan istrinya itu lembut.
"Hei…Ada apa? Katakan saja padaku. Aku pasti siap mendengarkan"
Celty mengedik dan langsung mengetik cepat pada PDA-nya.
[Aku melihat Shizuo…]Celty berhenti sejenak. Tangannya bergetar. Ia kemudian mengetik lagi.
[Aku melihat Shizuo, Izaya, Tsugaru, dan Psyche di Russian Sushi]
…
…
…
Mampus. Bayangan dimana Shizuo menendang bokongnya ke bulan mulai terbayang-bayang di pikiran Shinra. Dan meski Celty tidak membayangkan hal yang sama, Celty juga ikut bergetar dengan Shinra. Membayangkan Shizuo, temannya, memalingkan tubuhnya dan pergi menjauh darinya, membuatnya sangat bersalah.
Ding, dong.
"Bi, biar aku yang bukakan"ucap Shinra. Celty hanya bisa mengangguk dan menggenggam erat PDA-nya, seakan hidupnya bergantung pada benda itu. Shinra kemudian berjalan gontai ke arah pintu dan membukakan pintu. Kemudian…
"OJI-CHAAAANN!"
"WOAH!"
Shinra hampir ambruk saat seorang anak laki-laki menerjang tubuhnya dengan pelukan. Shinra membetulkan kacamatanya dan mendapati PSYCHE dan TSUGARU lah yang memeluknya, memberikannya senyuman lebar. Wajahnya seketika memucat. Dan dengan dramatis ia menengadahkan kepalanya.
Ya. Di sanalah seorang Shizuo Heiwajima. Berdiri dengan seringaian paling mengerikan yang pernah ia lihat selama hidupnya.
"Yo, Shinra. Lama tidak bertemu, ya? Bagaimana kabarmu?"
Glek… Mata Shinra kemudian berpindah ke arah Izaya yang terduduk di atas kursi roda dan memberikannya senyum canggung.
'Maafkan aku, Shinra. Setidaknya kau akan mati dengan indah setelah ini'
"Tidak! Tunggu! Biar aku jelaskan! Aku bisa menjelaskan semuanya! Tenang dulu! Mari kita bicarakan baik-baik! Tenang dan damai! Kau suka itu, kan? Shizuo? SHIZUO-KUUUUN!"
BLETAK!
Shinra pingsan.
"Kenapa otou-san menjitak Shinra-ojisan?"tanya Tsugaru sambil menatap ayahnya heran. Memangnya itu perlu? Apa yang tadi itu salam untuk menyambut kawan lama? Tsugaru semakin bertanya-tanya saat mendapati ayahnya malah memberikannya senyum lebar, seperti habis melakukan sesuatu yang hebat.
"Ah, itu… Itu tadi cuma 'hadiah' kecil dari otou-san untuk oji-san mu"
Psyche langsung berseri-seri. "Aku juga ingin memberikan hadiah kecil buat oji-chan!"
"Tidak, Psyche! Cuma otou-san yang boleh melakukannya, ok!"cegah Shizuo dan Izaya panik. "Ngomong-ngomong, Izaya. Darimana mereka tahu Shinra?"tanya Shizuo selanjutnya. "Mereka langsung memanggil Shinra 'oji-san'…Apa mereka juga tahu tentang Celty?"
Izaya mengangguk. "Terakhir kali mereka bertemu dengan Shinra dan Celty adalah saat usia 1 tahun, saat itu di Shinjuku, dan itu sudah lama sekali. Aku tidak menyangka mereka masih mengingat paman dan bibi mereka…"jawabnya ragu-ragu sambil memegang dagunya, berpikir. Sangat sulit dipercaya bahwa anaknya masih ingat Shinra dan Celty, karena memang menurutnya usia 1 tahun adalah masa-masa yang sulit untuk menyimpan memori tertentu. Apa kemampuan mengingatnya sudah menurun pada anak-anaknya, ya?
"…Paman…dan bibi?"
"Ah, ya. Aku memperkenalkan Shinra dan Celty sebagai paman dan bibi mereka. Shinra dan Celty lah yang membantu persalinanku, mungkin itulah mengapa aku menganggap mereka sudah seperti keluarga sendiri. Memangnya salah, ya?"
Shizuo membayangkan sebuah keluarga lengkap dimana Tsugaru dan Psyche dikelilingi banyak paman dan bibi. Tidak terkecuali Kasuka yang otomatis juga merupakan paman dari anak-anaknya. Shizuo mengangguk-angguk, menyukai gambaran yang ia buat. "Menurutku bagus juga. Aku hanya berharap jika Kasuka resmi menjadi paman Tsugaru dan Psyche, Mairu dan Kururi yang juga sebagai bibi mereka tidak melakukan hal-hal aneh pada Kasuka", Izaya tertawa kecil atas pernyataan Shizuo tersebut. Yang pasti intinya Shizuo menyetujuinya.
Izaya kemudian melirik ke arah Celty yang menyembul di balik pintu masuk ruang tamu. Helm yang ia pakai (lagi) seakan basah oleh tetesan-tetesan keringat. Dan sepertinya Celty juga terlihat agak ketakutan.
"Celty. Maaf jika kami datang di waktu yang kurang tepat. Tapi apa kau dan Shinra mau membantu kami sebentar?"tanya Izaya dengan senyum selembut mungkin. Shizuo dan Tsugaru hanya memberinya salam di belakangnya. Lain lagi dengan Psyche yang langsung main serbu ke arah Celty. Tentu saja Celty mau tak mau harus mengiyakan.
"Apa? Kalian mau mengadakan pesta di sini?"tanya Shinra sambil membenahkan letak kacamatanya.
Shizuo menggendong Izaya dan mendudukkan Izaya di atas sofa. Keduanya kemudian mengangguk. "Itulah mengapa aku meminta bantuan kalian…"jawab Izaya.
[Kenapa tidak di rumahmu saja, Izaya? Di sana jauh lebih luas] tambah Celty. Sekarang Psyche sedang duduk di atas pangkuannya dan mendengarkan musik dari headphone-nya. Kepala bocah manis itu sesekali bergoyang mengikuti ritme musik yang ia dengar, membuat seisi rumah hampir salah fokus karena gemasnya.
"A-" "Tidak bisa. Kalau seperti itu, bukan hukuman namanya. Kalian tahu kan…apa yang ku 'maksud'?"ucap Shizuo, menyela Izaya. Izaya, Shinra, dan Celty hanya meneguk ludah, melihat seingaian Shizuo. Mereka bertiga merasa seakan Shizuo menyeret mereka menuju sebuah peti dan memasukkan mereka di dalamnya dengan paksa. Kemudian Shizuo merantai peti itu dan menimbunnya dibalik gundukan tanah, lalu- Ah! Sudahlah! Yang pasti rasanya horor!
"Lagipula", Shizuo menarik pundak Izaya dan menyenderkan tubuh ramping sang informan pada tubuh kokohnya, "Bukan hanya untuk merayakan kembalinya Izaya, Psyche, dan Tsugaru. Pesta ini juga untuk merayakan anak ketiga kami"
Siiiiiiiing….
"Hah?"
"S, Shizu-"
[M-m-m-m-me-maksud…mu…]
"Izaya…"
Shizuo mendengus bangga. Senang dengan reaksi tiga makhluk di hadapannya. Shinra yang melongo dengan jari telunjuk terarah ke arah Izaya lalu Shizuo, terus secara bergantian. Celty dengan tubuh bergetar. Izaya dengan wajah memanas, merah penuh.
"Ja-ja-jangan bilang…"
"Ya. Izaya hamil. Dan usia kandungannya sekarang sudah 4 bulan"ucap Shizuo final.
Shinra menarik-narik baju hitam Celty dengan ekspresi acak. "Celty… Tolong. Jika aku pingsan untuk kedua kalinya, berjanjilah untuk menangkapku dengan pelukan paling hangat yang kau punya"
[Ba, bagaimana denganku?! Shinra, kau bodoh!] amuk Celty sambil mengguncang-guncang tubuh beku Shinra.
"Ha, habisnya… Kau tahu, kan? Izaya hamil, lho! Dia hamil sungguhan! Hamil!"
[A-aku tahu! Baka!]
Shizuo mengernyit. "Apa kalian tidak suka?"
Shinra langsung memalingkan wajahnya dari Celty lalu menggebrak meja. Membuat seisi rumah terkesiap.
"Bukan hanya suka, Shizuo! Tapi ini MENAKJUBKAN! FANTASTIS!"
Shizuo, Izaya, dan Celty saling bertatapan. Bertanya-tanya melihat betapa bahagianya Shinra saat ini.
"Aku tahu aku bisa membuat Izaya hamil, tapi hey! Izaya bisa hamil untuk kedua kalinya itu di luar perkiraanku! Bukankah ini berarti percobaanku lebih dari berhasil? Baiklah! Sebagai seorang teman baik dan, ehm, paman yang baik, aku akan mengizinkan kalian merayakannya! Tapi sebelum itu, Izaya, aku harus memeriksamu lebih lanjut. Aku tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi…"jelas Shinra dengan semangat. Ia pun berdiri dan menuntun Izaya ke ruangan lain dengan tidak sabar. Izaya hanya bisa menurut.
Malam itu, kediaman Shinra Kishitani pun diramaikan dengan ketidakpercayaan dan kegembiraan banyak orang.
"Huah~, sungguh hari yang sangat melelahkan~"ucap Izaya sambil meregangkan kedua lengannya. Shizuo yang baru keluar dari kamar anak-anaknya untuk membaringkan Tsugaru dan Psyche yang sudah tertidur kembali mendorong kursi roda Izaya. Ia elus kepala Izaya.
"Kalau begitu istirahatlah. Tidak baik untuk kandunganmu kalau kau terlalu capek"nasihat Shizuo. Membuat Izaya cemberut.
"Apa ini? Shizu-chan cuma khawatir pada Tsuki-chan?"
'Mood swing-kah? Eh, tunggu-' "'Tsuki-chan?'"
Izaya tertawa geli melihat Shizuo merengut kebingungan. "Tsukishima Heiwajima. Apa nama itu enggak cocok buat anak ketiga kita, ya? Oh, ya! Kata Shinra anak kita kali ini laki-laki" Oh…Shizuo paham sekarang. Tsukishima Heiwajima. Seperti bulan. Nama itu bagus juga. Shizuo tersenyum menyetujuinya dan kali ini ia membaringkan tubuh Izaya di atas kasur empuk sang informan.
"Aku menyukainya. Namanya sangat indah"puji Shizuo, bonus dengan kecupan sayang di dahi Izaya.
"Tentu saja. Siapa dulu kalau bukan informan keren sepertiku~"
Shizuo tertawa gemas dan mengacak-acak rambut hitam Izaya. Membuat si pemilik rambut meronta-ronta dan mencubit hidungnya kuat-kuat. Shizuo kemudian berbaring di samping Izaya dan menyelimuti kedua tubuh mereka. Tapi, sebelum itu, tangan ramping Izaya menghentikannya.
"Ada apa?"
Izaya merasakan wajahnya memanas. Sebenarnya tiba-tiba saja ia ingin melakukan kegiatan intim dengan Shizuo. Garis bawah, tiba-tiba. Tentu saja Izaya bisa menepisnya, tapi mundur membuatnya merasa makin tak nyaman. Izaya pun membuka mulutnya.
"Aku ingin seks"
Shizuo membatu.
"Tu, tunggu, Izaya! Sepertinya… seks saat ini…"tolak Shizuo samar-samar. Sebenarnya ia tidak keberatan, tapi kandungan Izaya akan…
Izaya menutup mulut Shizuo dengan jari telunjuknya. Ia tempelkan dahinya dengan dahi Shizuo, lalu melumat bibir Shizuo. Izaya langsung memainkan lidahnya ke dalam mulut Shizuo. Shizuo sendiri tidak berdiam saja dan mengikuti permainan Izaya. Pada akhirnya lidah Shizuo berhasil mendorong kembali milik Izaya dan kini ia berkuasa di rongga mulut Izaya. Merasakan rasa manis alami dari Izaya. Ditambah dengan lenguhan Izaya yang seakan-akan menari-nari di telinganya, memabukkan dirinya. Jika seperti ini terus, mungkin sebentar lagi Shizuo atau bahkan Izaya juga akan semakin menggila.
Izaya kemudian menjauhkan dirinya, menjilat seutas saliva yang menempel di bibir tipisnya. Matanya berkabut oleh nafsu.
"Tenang saja, Shizu-chan. Seks tidak akan melukai Tsuki-chan jika kita melakukannya lebih lembut dari biasanya. Lagipula, Shinra ternyata menganjurkan kita untuk melakukan seks sesering mungkin karena tidak seperti orang hamil lainnya, kehamilanku kali ini sangat membutuhkan…", tangan nakal Izaya kini menekan milik Shizuo yang berada di balik celana.
"…spermamu"
Shizuo menyeringai. Kalau begitu, apa yang perlu ia tunggu? Akan senang hati Shizuo menerima pernyataan perang Izaya.
Dengan cepat Shizuo menarik lengan Izaya dan membalikkan posisi Izaya yang semula berada di atasnya, menjadi di bawah kungkungannya. Tentu saja dengan mengantisipasi kaki Izaya. Shizuo bisa merasakan panas di antara mereka semakin menyebar. Ia kemudian menelusuri tubuh seksi Izaya (meski hamil, sebenarnya tonjolan di perutnya masih terbilang kecil), melucuti pakaian Izaya satu demi satu. Tangan Izaya juga tidak tinggal diam. Ia melepas kaos putih Shizuo dan membuangnya jauh-jauh. Tapi entah kenapa ia terlalu malas untuk membuka celana Shizuo, jadi ia membiarkannya. Kini Izaya bisa merasakan lidah Shizuo menelusuri lekuk lehernya dan meninggalkan beberapa tanda di sana. Setelah puas, bibir Shizuo berpindah ke arah dada Izaya. Si mantan bartender itu bisa melihat kedua puting Izaya mengeras, mengundang Shizuo untuk menyentuhnya.
Detik kemudian, Shizuo menggoda kedua puting menggemaskan Izaya habis-habisan. Tangan kirinya awalnya menekan dan mengelus puting kanan Izaya, lalu berubah menjadi cubitan dan pelintiran ringan. Sedangkan yang satunya Shizuo hisap kuat-kuat dan sesekali digigit kecil. Walhasil Izaya tidak bisa membendung lenguhannya. Entah apa yang terjadi dengannya, tapi saat ini tubuhnya benar-benar lebih sensitif dari biasanya. Shizuo masih memberikannya kuluman dan cubitan di dadanya tapi rasanya sudah seperti mau meledak saja.
"Ungh…Ah…Shizu-…"Izaya menuntun jari-jari Shizuo yang bebas dan mengarahkannya ke lubangnya yang sudah berkedut menanti sentuhan Shizuo sedari tadi. "Lakukan sesuatu…Aku tak mau menahannya…Engh…terlalu lama…uhn…"
Shizuo mengangkat wajahnya dan menikmati ekspresi kekalahan Izaya. Mata sayu… Pipi yang basah karena air mata dan memerah… Bibir ranum yang bergetar dengan seutas saliva di sana… Dan tubuh yang bergetar, meminta lebih. Entah berapa kali Shizuo terpesona oleh kemolekan Izaya. Shizuo benar-benar tidak akan pernah bosan melihatnya.
Istrinya benar-benar sangat indah.
Shizuo mendekatkan mulutnya ke arah telinga Izaya. "Izaya. Kau masih ingat janjiku untuk menikahimu?"
Izaya tertegun dengan pertanyaan tiba-tiba dari Shizu-chan-nya. Namun tubuhnya terpaksa bergetar saat Shizuo menghembuskan nafas hangatnya di sana. Dengan lemah Izaya mengangguk. Sekarang Izaya merasakan elusan lembut di antara helai-helai rambutnya.
"Sepertinya aku butuh waktu lebih untuk mempersiapkannya. Lagipula, keadaanmu masih seperti ini. Apa kau mau menantinya sedikit lebih lama lagi… Izaya…"
Izaya tesenyum. Ia menyentuh pipi Shizuo dan mengusap-usap ibu jarinya di sana, sayang.
"Aku tidak apa-apa. Menikah atau tidak, asal bersama Shizu-chan, sudah cukup bagiku"
Ah… rasanya Shizuo ingin menangis mendengarnya. Tidak pernah terpikirkan bahwa istri idamannya selama ini adalah orang yang sangat ia benci beberapa tahun yang lalu. Entah bagaimana hidup Shizuo jika saja Shizuo tetap ingin membunuh bidadari di bawahnya ini. mungkin ia tidak akan pernah merasakan sebahagia ini. memiliki istri yang bersamanya dan mendukungnya, memberikannya keluarga, dan kasih sayang. Oh, ya ampun, Kami-sama. Ia sangat bersyukur.
Shizuo kemudian mencium Izaya kembalinya. Kali ini ciumannya memang cuma sekedar menempelkan bibir dengan bibir. Tapi entah kenapa terasa sangat menakjubkan. Selang beberapa menit kemudian, mereka saling melepaskan dan keduanya sama-sama mengambil nafas. Mengisi kembali pasokan udara yang hilang.
Tangan Shizuo kemudian bergerak di antara belahan bokong Izaya. Pertama-tama, jali telunjuknya yang masuk ke dalam Izaya, kemudian diikuti jari tengah. Dengan sabar Shizuo merenggangkan lubang Izaya.
"Hyaah…Ah…Aaaah!...Shizu…"
Shizuo tersenyum saat Izaya menggerakkan pinggulnya mengikuti ritme jari Shizuo. Sepertinya malah Izaya yang tidak sabaran di sini. Detik kemudian, Shizuo menambahkan jarinya. Membuat Izaya seketika melihat bintang saat tanpa sengaja ketiga jari Shizuo menyentuh titik tertentu di dalam dirinya.
"Di-…Di sanAahh~"desah Izaya. Shizuo mengecup dahi Izaya, seakan meminta Izaya untuk bersabar sepertinya. Shizuo harus ingat bahwa bukan hanya kaki Izaya yang sedang terluka, tetapi kandungan Izaya juga masih muda. Dengan perlahan, ia menggerakkan jari-jarinya keluar masuk. Sesekali ia lebarkan agar lubang Izaya sedikit longgar untuk nantinya ia masuki. Detik kemudian, Shizuo mempercepat gerakannya. Membuat Izaya menggelijang hebat dan mendesah lebih keras.
"Shizu…Shizu-chan…Shizu-chaAANH!"Izaya pun mencapai klimaks pertamanya dan bukan hanya membasahi perutnya, tetapi juga perut Shizuo. Dadanya naik turun, mencoba menstabilkan deru nafasnya. Shizuo mengeluarkan tangannya dan menjilatnya sensual. Membuat Izaya sukses merona. Shizuo yang merasa puas dengan hasil karyanya sementara ini kini beralih ke arah laci. Lalu mengeluarkan lotion dari sana. Shizuo mengeluarkan isinya secukupnya di atas tangan lalu mengusapnya pada kejantanannya yang sudah mengeras.
"Siap masuk ke intinya, I-za-ya-kun~?"tanya Shizuo menggoda. Izaya membalasnya dengan seringaian.
"Bagaimana menurutmu, hm?"
Shizuo ikut menyeringai. Ia lalu menuntun kejantanannya ke lubang Izaya. Dengan perlahan ia memasukkan sedikit demi sedikit miliknya dan memberikan dorongan kuat saat hanya tersisa pangkalnya. Izaya mendesah nikmat karena akhirnya ia merasa penuh akan Shizuo. Tubuhnya melengkung dan kedua tangannya menggenggam kedua lengan Shizuo erat, seakan hanya dua lengan kokoh itu saja yang mampu menjadi tumpuannya. Shizuo sendiri masih menunggu Izaya untuk rileks. Shizuo memejamkan matanya sejenak, merasakan hangat mengelilinginya dan dinding-dinding itu memijat seluruh bagian kejantanannya. Saat akhirnya Izaya mulai membiasakan diri dengan keberadaannya, Shizuo pun mulai menggerakkan miliknya. Tidak butuh waktu lama untuk Shizuo menemukan sweetspot Izaya.
"Ah, ah, aah…Shi-hahh…Shizu-chaanh…Lagi~ di sana~ ahaAh! Lebih keras! Hiyaaah~"Shizuo yang mendengarnya dengan senang hati mengabulkan permintaan Izaya. Ia mempercepat gerakannya, namun tetap mengendalikan agar tidak terlalu kasar. Tubuh Izaya melonjak-lonjak karena pergerakan Shizuo semakin lama semakin membuatnya terbang. Setiap kali kejantanan Shizuo menghantam telak prostatnya, Izaya semakin menginginkan lebih dan lebih. Saking nikmatnya, matanya bahkan hampir terbalik, membuatnya hampir pingsan.
"Shizu-chan…hah, hHahn…Besar…ah, aku…Hiyah~…me-menyukainya…Aku merasa- penuhhhh…ngh…suka sekali…ah, ah, ah! Beri aku…lebih!…Shizu~" Ah…Shizuo senang sekali saat Izaya mulai berbicara kotor di saat yang seru. Entah Shizuo harus senang atau apa saat Izaya mulai memujinya dan memohon kepadanya. Erangan Izaya bagaikan lagu merdu di telinga sang monster Ikebukuro. Membuat Shizuo hampir lupa dengan kondisi Izaya yang saat ini harus diperlakukan lembut.
Shizuo mengangkat wajah Izaya yang sedikit tertutup poninya yang lepek karena basah oleh keringat. Kini Shizuo bisa melihat manik crimson menawan kesukaannya yang berair karena air mata. Ia tahu Izaya tidak akan bertahan lama karena sekarang Izaya mulai bergetar. Tangan sang informan itu kini berpindah dan meremas sprei kasur hingga tak berbentuk.
"Shizu-chan…hhh, engh~, ah, ah! Ah!…Aku-"
"Keluarkan Izaya. Sebut namaku…"
"Shi-zuo…"
"Lebih keras, Izaya"
"…hh…Shizu…ShizuoOhh…SHIZUO!"
Dua tusukan kemudian, Izaya keluar untuk kedua kalinya. Bersamaan dengan itu, Shizuo bisa merasakan bagian dalam anus Izaya meremasnya kuat, memberikan getaran kenikmatan pada setiap senti kejantanannya. Ia kemudian melakukan satu tusukan terakhir dan membenamkan dirinya sepenuhnya. Shizuo pun melepaskan cairannya jauh di dalam Izaya, membuat Izaya bergetar karena bagiannya dalamnya terasa hangat dan penuh.
"Shizu…aku ingin tidur…Tapi jangan keluarkan…engh…Aku masih…"
"Ya, ya… Tidurlah. Aku tidak ingin kau kecapekan"
Izaya tersenyum, lalu menutup matanya. Shizuo membaringkan dirinya, memposisikan tubuhnya agar bisa berhimpitan dengan Izaya tanpa membebani tubuh kecil Izaya dan tentu saja agar kejantanannya tidak keluar dari Izaya. Ia rengkuh pundak mulus sang information broker. Shizuo lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Izaya dan mencium bau yang ia suka di sana. Membiarkannya hanyut dalam dunia mimpi, dimana ia bermimpi sedang berpiknik dengan keluarga kecilnya yang sekarang di tengah taman yang damai dan tenang.
Sesi Bacot (kali ini panjang banget)
Nichi : *melongo*…Apa ini….
Psyche : Hasil karyamu, bodoh.
Nichi : Apa cuma aku saja author yang baru pertama kali buat scene 'anu-anu', sambil dengerin lagu Dua Lipa dari malem kemaren sampe jam 2 pagi terus setelah selesai baru sadar kalo fanfic jadinya gaje bener dan akhirnya malu sendiri sambil salting di atas kasur…
Shizuo : Mulai edan dia…
Izaya : Ngomong sendiri
Shizuo : Kayak elu, bego
Izaya : ….
Shizuo : ….
Sukriman dan jajarannya(?) : ….
Nichi : Oh, ya. Sekali lagi maaf karena telat banget. Gue lagi takut gegara guru killer di sekolah (yang kebetulan wali kelasku) buat ulangan lisan. Ini mapelnya bahasa Indonesia, lho. Tapi susahnya minta ampun. Mana gue tahu juga kalo ada pendekatan instrumental dan sosiolinguistik dalam perencanaan bahasa, fungsi khusus, kongres bahasa Indonesia dilakukan kapan…Apa itu? Bisa dimakan, ya? Ha ha ha
Izaya: Mulai stress dia =_=
Psyche : Denger-denger, sekelas langsung disuruh gundul, ya? Pantes jadi kelas calon tentara, nih…
Nichi : Yah…klo udah panjang (cowoknya) harus potong 3-2-1. Klo enggak dia bakal potong sendiri pake gunting yang tidak dipastikan kualitas mengguntingnya (ukuran gunting kecil dan gak tajam) plus puting dipelintir. Klo (ceweknya) gak diiket rambutnya, bakal dia iket pake selotip (bukan pake tali rafia, lho!). Terus klo telat datang ke kelas, meskipun lo tepat di belakang guru itu, lo harus duduk di bawah di depan papan tulis sambil melet kayak anjing. Nah, dan waktu bel pergantian jam pelajaran, semua anak harus berdiri dan senam di tempat mengikuti musik bel. Dan klo lo pinjam-pinjam barang temen lo, lo dianggap pemerkosaan, dan lo maupun temen lo yang minjemin bakal dihukum. Dahsyat, kan? Itu guru bahasa Indonesia, lho…
Tsugaru : Lebih pantas jadi dosen daripada guru SMA
Shizuo : Hei, kita lagi g pengen denger lo bacot
Izaya : Fanfic ini sebenarnya pendek, tapi yang bikin panjang yang beginiannya. Enggak guna*sambit kepala Nichi*
Nichi : Ehm. Maaf, curhat. Jadi sekali lagi saya meminta maaf atas keterlambatan saya (lagi). Maaf juga fanfic ini lebih pendek*nangis darah*. Saya benar-benar kehilangan inspirasi akhir-akhir ini. Orang tua juga lagi sakit. WiFi juga enggak ada (di sekolah lagi gangguan). Semoga saya bisa update kilat dalam beberapa hari ini dan makin semangat. Semoga juga bisa buat fanfic yang lebih seru dan lebih panjang di kemudian hari. Jadi dukungan dan pengertian kalian sangat aku harapkan (yah…meski readers ku cuma sedikit tapi dapet 1 review saja sudah bikin senang bukan kepalang). Oh, ya. Beberapa minggu ini saya akan melakukan segelintir ujian tulis dan praktek sehingga mungkin saya akan mengalami telat update lagi(dan mungkin kali ini lebih lama). Mungkin saya baru bisa mengirim chapter baru setelah 3 minggu. Aku harap kalian tetap setia membaca fanfic ini dan juga semangat untuk hari-hari kalian. Keep read and review, ya! Follow dan fav kalian juga saya apresiasi karena itu seperti sebuah piala emas buat saya~
Love you all~ ToT
