New Family
Chapter 5
Sekali lagi durarara BUKAN milik saya.
Attention : *kayaknya saya gak perlu ngulang lagi, deh… :3 *
Sebelumnya, saya meminta maaf atas sesi bacot di chapter sebelumnya. Dan terima kasih untuk para reader yang sudah berkenan review (/ToT)/ . Maaf karena tidak bisa membalas review kalian TwT (Kalian semua THE BEST!). Maaf juga karena update yang SANGAT telat. Gomennasai….*sungkem* Trims buat fav dan follow-nya juga~! Sankyuu!
Okeh! Silahkan menikmati chapter ini~, jangan lupa RnR, ripiu, fav, and follow~
Shizuo mondar-mandir di hadapan Izaya yang duduk nyaman di kursi kerjanya. Membiarkan tingkah lakunya ini jadi tontonan gratis Izaya dan kedua buah hatinya.
Izaya akan bekerja lagi.
Sebagai informan.
Shizuo tahu Izaya sangat menyukai pekerjaannya sebagai informan. Ia tidak akan bisa membuat Izaya menurut padanya…untuk berhenti dari pekerjaan-yang-sangat-berbahaya itu. Tidak dengan kondisi Izaya yang sekarang. Shizuo berhenti dan melirik Izaya. Yang dilirik hanya menatapnya dengan tampang datar.
"Sudah selesai?"
Shizuo menghela nafas. Ia menghampiri Izaya dan berdiri di belakang Izaya. Memberikan beberapa pijatan pada kedua bahu istrinya. "Percuma jika aku melarangmu, kan?" Mendengarnya, Izaya tersenyum atas kemenangannya. Ternyata Shizuo tahu juga kepribadiaannya kalau menyangkut pekerjaannya. Terakhir kali Shizuo mempermasalahkan pekerjaannya, keduanya bertengkar hebat dan pada akhirnya Shizuo meminta maaf padanya.
Shizuo kemudian merangkul pundak Izaya dan membenamkan wajahnya di antara bahu dan leher seputih susu itu. Sudah dua setengah bulan berlalu. Saat ini kandungan Izaya hampir mencapai 7 bulan. Tidak seperti kebanyakan ibu hamil lainnya, perut Izaya tidak begitu besar. Meski Shinra mengatakan bahwa kandungan Izaya lebih dari sehat, di mata Shizuo, Izaya masih terlihat sangat rapuh. Seperti gelas yang bisa pecah jika kau tidak berhati-hati memperlakukannya.
"Berjanjilah untuk tetap melakukan kegiatan ringan. Atur makanmu. Jangan sampai kelelahan. Dan-"
"Aku tahu, Shizu. Kau bukan ibuku. Aku tahu sekali apa yang sedang ku lakukan. Tapi, terima kasih untuk sarannya. Tentu aku akan menghubungimu jika aku perlu sesuatu. Akan ku usahakan untuk tidak banyak keluar rumah dan istirahat yang banyak"sela Izaya. Psyche kemudian berdiri dan memukul ringan dadanya.
"Kaa-chan kan' punya kami sebagai prajurit! Ya kan, Tsugaru?"ucap Psyche bangga yang dibalas anggukan antusias Tsugaru. "Aku akan mempraktekkan latihanku selama di dojo, otou-san!"tambah Tsugaru. Shizuo dan Izaya tertawa kecil mendapati anak-anak mereka ternyata sangat berbakti. Sungguh anak-anak yang mulia. Ini seperti Izaya adalah ratu mereka yang sangat berharga. Dan Shizuo terharu sekali.
"Baiklah. Jaga ibu dan adik kalian baik-baik, oke? Tou-san akan mengusahakan untuk pulang secepatnya. Jika ada apa-apa, telpon saja"
"Kami mengerti!"
Shizuo memberikan kecupan manis di dahi Izaya dan elusan pada kepala kedua anaknya. Ia pun pergi setelah Izaya memberikannya sekotak bento di atas meja kantornya.
"Baiklah…Aku harus segera menyelesaikan tugas dari Shiki-san"ucap Izaya seraya merenggangkan jemari-jemarinya dan mulai bekerja.
Akhirnya…
Izaya menghela nafas. Ia sandarkan punggungnya pada kursi kantornya dan melihat ke arah layar handphonenya. Minggu, jam 12.46. Hmm…bukankah ini saatnya Tsugaru untuk berlatih kendo?
"Tsugaru. Siap-siap. Kita harus berangkat. Sebentar lagi kelas kendo akan dimulai, kan?" Tsugaru mengangguk dan segera mengganti pakaian dan membawa tas latihannya. Tidak lupa dengan pedang kayu baru yang Izaya belikan sebulan lalu untuk mengganti pedang kayu lamanya yang patah. Saat sudah kembali ke ruang tamu, terlihat Psyche sudah mengganti piyamanya dengan atasan biasanya yakni jaket serba putihnya dan celana pendek putih selutut. Ketiganya pun pergi ke stasiun dan memberikan salam selamat jalan ke arah Tsugaru.
"Psyche. Bagaimana jika kita pergi ke supermarket sebentar? Ada yang harus kaa-chan beli"ajak Izaya. Psyche memberikan Izaya senyum lebar yang menggemaskan dan mengiyakan ajakan Izaya. Keduanya pun pergi ke supermarket dan membeli beberapa sayur, bumbu, dan alat mandi. Selama itulah berpasang-pasang mata melihatnya. Tidak jarang beberapa orang berbisik-bisik membicarakan perutnya dan Psyche yang berjalan di sampingnya. Kebanyakan dari mereka memandang tidak percaya. Itu karena mereka tahu bahwa mereka sedang membicarakan Izaya Orihara yang itu, orang yang harus kau jauhi bagaimana pun keadaannya. Tapi toh Izaya sendiri tidak terlalu mempermasalahkannya. Bahkan meski ada orang yang berani menertawainya atau menatapnya jijik di depan matanya.
Setelah memberi uang pada penjaga kasir yang berusaha terlihat ramah di depannya, Izaya maupun Psyche keluar dan dengan sabar menunggu lampu lalu lintas berubah. Terkadang Psyche menceritakan sedikit cerita lucunya di sekolah, membuat Izaya tertawa kecil ke arahnya. Tiba-tiba setelah lampu berubah menjadi hijau untuk pejalan kaki, seseorang berdiri di depan Izaya. Menahannya.
"Kalau tidak salah kau Orihara Izaya, kan?"tanya pria di depan Izaya. Pria itu berpenampilan rapi dan identik perkantoran. Pria ini kelihatan lebih tinggi dari Izaya, kira-kira setinggi Shizuo. Rambut coklatnya dipotong under cut. Dan sepertinya pria ini memakai lensa kontak hijau terang yang saking terasa gak biasanya (mata Izaya saja sudah dianggap enggak biasa) membuat Psyche sukses kegirangan.
Izaya mengernyit. "Siapa anda?"ucap Izaya yang kemudian lebih memilih memberikan senyum halus pada pria asing di sampingnya. Pria itu membungkuk dan membalas senyum Izaya.
"Oh. Maafkan atas kelancanganku. Perkenalkan, namaku Tojiro Suzume. Aku pemilik perusahaan I&T. Kau tahu? Perusahaan baru itu?"
"Ah…aku tahu"jawab Izaya, lalu menyeringai"Salah satu manajermu menabrakku. Dan bukan maksudku untuk memberikan kesan buruk pada pertemuan kita yang pertama ini, tapi karena dampak yang diberikannya aku jadi tidak bisa pulang untuk membuat makan malam untuk anak-anakku"
"Aah…Maaf karena hal itu. Aku benar-benar sangat minta maaf. Justru itulah aku datang padamu untuk mencari orang yang menabrakmu. Jadi begini...orang ini sebenarnya membawa uangku. Singkat cerita aku ingin Orihara-san mencari informasi tentang keberadaannya. Ku mohon bersedialah untuk menerima permintaanku ini, Orihara-san. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus kemana dan polisi benar-benar tidak berguna"mohon pria bernama Tojiro itu"Aku siap membayar berapapun yang kau mau"
Hmmm…jadi begitu… Kelihatannya tawaran ini cukup mudah. Bahkan Izaya yakin mencari keberadaan Honda bisa ia selesaikan dalam waktu 5 menit.
"Baiklah. Aku akan menerimanya. Mencari orang tipe seperti ini bukanlah hal yang sulit"jawab Izaya meyakinkan"Jadi, kapan kau akan mengambilnya?"
"Secepatnya akan lebih bagus"
"Hmmm…informasi seperti ini tidak banyak memakan waktu. Bahkan hari ini aku bisa menyelesaikannya"
"Ah! Bagus! Kalau begitu aku akan mengambilnya hari ini! Sebagai sedikit bentuk permohonan maafku, bagaimana jika aku mengantar kalian pulang dengan mobilku? Kebetulan aku tahu rumah kalian lewat temanku"ucap Tojiro. Tampak di belakangnya sudah terhenti sebuah mobil sedan hitam. "Lagipula…kau kan sedang hamil, Orihara-san…"
Izaya menatap Tojiro dalam diam. Tiba-tiba, tangan mungil Psyche mengelus perut buncit Izaya. Psyche memberikan tatapan memelas ke arah Izaya.
"Terima ya, kaa-chan…Kasihan kaa-chan dan Tsukki. Tou-chan kan sudah bilang untuk jangan terlalu capek. Nanti kaa-chan bisa kenapa-kenapa"nasihat bocah bermata pink itu. Izaya menghela nafas lalu mengangguk. Ia sebenarnya enggan karena meskipun Tojiro adalah clientnya tapi orang ini bukan client yang bisa dipercaya seperti Shiki-san, meskipun Shiki-san adalah salah satu eksekutif dari organisasi yakuza Awakusu-kai. Bagaimana pun juga orang asing tetaplah orang asing. Sangat beresiko baginya dalam kondisinya yang sekarang.
'Tenang, Orihara Izaya…Kau tidak melupakan switch blade mu. Jimat keselamatanmu selalu ada di sini untukmu. Semua akan baik-baik saja…Anak-anakmu pasti aman dan selamat bersamamu…'rampal Izaya dalam hati. Tangan kirinya kini berada di dalam saku jaketnya dan menggenggam switchblade, sedangkan yang satu lagi menenteng kantung belanjaan. Tojiro kini membukakan pintu belakang, mempersilahkan Izaya masuk. Izaya maupun Psyche masuk ke dalam mobil tersebut. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya mobil itu mengantar mereka sampai di depan flat Izaya.
"Biar aku bantu membawakan belanjaanmu, Orihara-san!"tawar Tojiro yang dengan cekatan mengambil kantung belanjaan Izaya sebelum Izaya akhirnya bisa mengambilnya. Izaya sekali lagi mengernyit.
"Suzume-san. Kenapa kau mau repot-repot membantu? Kau tahu kan aku sudah bersedia membantumu. Apa ini karena aku sedang hamil?"tanya Izaya basa-basi, berusaha menyembunyikan rasa curiganya yang berlebihan. "Bagaimana pun Suzume-san adalah client-ku. Seharusnya akulah yang harus melayanimu"
Tojiro tersenyum lebar. "Tidak, Tidak. Aku melakukan semua ini atas kemauanku sendiri. Bagaimana mengatakannya, ya… Bisa dibilang aku punya rasa kagum padamu. Atau anggap saja ini seperti aku adalah penggemarmu. Seperti itulah"
'Penggemar?'Izaya tertegun. Kata-kata itu tentu saja tidak terdengar apik jika dihubungkan dengan Izaya yang notabene adalah orang yang sangat dibenci oleh banyak orang. "Kalau boleh tahu, memangnya ada alasan apa sampai kau bisa mengagumiku. Ku pikir statusku di masyarakat cukup tidak bagus, hm?"tes Izaya.
"Jadi, kau tahu Niezawa Karin?"
Niezawa…Niezawa…Ah.
"Ya, ya. Beberapa tahun lalu dia meminta informasi tentang Henrick Clark…"
"Nah! Niezawa-san sebenarnya adalah pesuruhku. Aku memintanya untuk mencari informasi tentang Henrick Clark, salah satu target pemasaran kami. Dan tak pernah kulihat dalam hidupku penyajian informasi sedetil dan seakurat milikmu, Orihara-san. Jika aku melihat kembali pengalamanku dengan informan-informan sebelum dirimu, mereka cukup payah. Oleh karena itu, aku jadi ingin bertemu denganmu. Aku sangat penasaran atas kehebatanmu yang simpang siur dibicarakan orang. Kau bahkan merupakan rival dari Heiwajima Shizuo, orang terkuat di Ikebukuro! Tapi seperti yang ku duga, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku pun tidak bisa menemuimu. Jadi, dari sanalah aku mulai mengagumi kepiawaianmu. Meski kaget mengetahui kau ternyata sudah berkeluarga dengan Heiwajima-san dan memiliki anak semanis ini, tapi syukurlah aku masih bisa melihat keahlianmu dalam mencari informasi. Aku sangat senang"
Izaya memicingkan sebelah matanya. Cerita itu terdengar kurang meyakinkan di telinganya, entah kenapa. Tapi memang benar Niezawa Karin adalah seorang sekretaris perusahaan I&T yang baru dibangun sebelum kepergiannya beberapa tahun lalu. Jadi tak mungkin lagi ia bisa barargumen tentang cliennya ini lebih jauh.
Sesampainya di dalam flat milik Izaya, Izaya mempersilahkan Tojiro masuk, mengucapkan terima kasih dan menaruh kantung-kantung belanjaan di atas kabinet dapurnya.
"Apa kau berencana menunggu, Suzume-san?"tanya Izaya yang mengintip dari dapur "Jika kau memilih menunggu, aku bisa mencarikannya dengan cepat mulai sekarang"
Tojiro melihat wajah Izaya dan tersenyum. "Baiklah kalau begitu", ia lalu mendudukkan dirinya di sofa. Izaya keluar dari dapur dan menyuguhkan teh hangat pada Tojiro. Izaya juga menyuruh Psyche untuk ke kamar dengan alasan karena Psyche masih harus menyelesaikan PR kemarin. Jaga-jaga jika saja ada sesuatu yang salah terjadi.
"Silahkan nikmati tehnya. Buat dirimu nyaman"ucap Izaya ramah lalu segera bekerja di depan komputernya. Selama mencari informasi kesana kemari, Tojiro menatap Izaya lama. Bahkan Izaya yakin Tojiro sama sekali tak berkedip. Meski tahu Tojiro sedang memandanginya dan hal itu membuatnya agak tidak nyaman (bukan berarti Izaya tidak suka dipandangi oleh manusia yang ia cintai, bukan), Izaya mencoba tidak mempedulikannya. Mungkin inilah yang dimaksud Tojiro dengan "-aku masih bisa melihat keahlianmu dalam mencari informasi-" barusan. Izaya menghela nafas dan kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Beberapa menit kemudian informasi-informasi yang diminta sudah terprint rapi dan dimasukkan ke dalam amplop. Saat hendak berdiri, tiba-tiba ia merasakan tendangan kecil dari dalam perutnya. Izaya tersenyum dan mengelus perutnya sayang. 'Apa monster kecil ini memberikan selamat, hm?' Izaya kemudian berdiri dan berjalan mendekati Tojiro. Tangannya masih mengelus lembut perutnya.
"Ini informasi yang kau inginkan, Suzume-san. Aku harap kau bisa menemukan orang yang kau cari secepatnya"ucap Izaya sambil menyerahkan amplop ke arah Tojiro.
Tojiro berdiri dan menyematkan amplop itu di lengan kirinya. Tojiro menjabat tangan Izaya dan memberikan ekspresi puas."Itu tadi sungguh cepat. Berapa yang harus ku bayar, Orihara-san?"
"Bagaimana jika ¥100.000?"
"Tentu. Itu cukup murah"dengan enteng Tojiro mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet kulitnya dan meletakkannya di atas tangan kanan Izaya. Izaya memandang aneh ke arah lembaran-lembaran di tangannya dan menghitungnya. "Suzume-san…Ini ¥1.000.000"
"Tolong terimalah. Anggap saja itu adalah ganti biaya rumah sakit karena insiden tabrakan itu. Apa itu kurang? Aku bisa menambahkannya"
"Tidak perlu. Aku juga tidak mengharapkan kau membayar atas apa yang bukan menjadi tanggung jawabmu. Ini bukan salahmu, Suzume-san. Tapi jika kau memaksa, aku tidak bisa menolaknya, kan?"balas Izaya. Keduanya tertawa kecil.
"Baiklah. Lain kali aku akan meminta jasamu lagi. Sampai jumpa di lain waktu, Orihara-san"
"Ya. Terima kasih atas kerja samanya"
"SIALAN!"
PRAKK! "-Kyah!"
"Diam kau, babi pelacur!"
Seorang wanita yang dipanggil dengan sebutan demikian hanya bisa menangis, menahan suara yang keluar dengan menggigit bibir bawahnya. Ia meringkuk dengan memeluk tubuhnya yang penuh luka dan tidak tertutup sehelai kain pun.
"Heiwajima Shizuo… Tidak akan ku maafkan! Izaya-ku… Izaya-ku! Monster itu telah merusak tubuh idaman milikku! Dan sekarang Izaya sedang mengandung satu lagi anak haram di tubuhnya! Mengotorinya! Aku tidak bisa hanya diam saja! Jika seperti ini…Jika seperti ini, aku harus turun tangan! Aku tidak bisa tetap menunggu!"geram seorang pria yang baru saja melempar kursi ke arah wanita yang bersujud di depannya. Tubuh wanita itu gemetar bukan main.
"Pertama-tama, aku harus membunuh sampah sialan yang sudah meremukkan kaki Izaya. Tidak…tidak...Bukan hanya orang itu. Kalau perlu Heiwajima Shizuo sekalian!"pria itu melayangkan gelas ke arah jendela dan gelas itu pun pecah berkeping-keping bersamaan dengan suara retak dari jendela kaca yang lebih kuat. Pria itu lalu menendang perut wanita yang bersimpuh di hadapannya hingga wanita cantik itu terpental dan menghantam tembok. Wanita itu akhirnya pingsan dan tidak bergerak lagi.
"Dasar hadiah yang tidak berguna. Aku tidak merasakan apa pun darinya. Hanya membuat kotor saja"
Pria itu berjalan ke arah meja kantornya dan menelpon sebuah nomor dengan inisial J. Tidak butuh waktu lama untuk panggilannya dijawab oleh seseorang di seberang telepon.
"Aku rasa urusan kita sudah selesai. Kau tahu kan apa yang ku maksud?"
Pria itu memutar matanya, bosan. "Aku tahu"
"Kesepakatan kita sudah tertera dalam kontrak"
"Hm…Begitu, ya? Kalau begitu aku akan menggunakan jasamu kembali. Aku tidak peduli dengan kontrak bodohmu itu. Aku memerlukan kemampuanmu itu, SEKARANG"
"Memangnya apa yang membuatmu yakin aku akan mau melayanimu lagi? Kau sudah melanggar kesepakatan kita, dimana kau atau pihak yang terkait denganmu tak boleh berurusan, atau bahkan melukai keluargaku! Aku-"
"Kau tidak ingin orang yang kau cintai mati, kan?"
Seseorang di seberang telepon terhenyak.
"Kau tidak akan mungkin bisa-" "Aku bisa, dan aku sangat tahu itu. Kau pikir aku sebodoh yang kau kira? Kau salah. Dan perlu kau tahu bahwa aku bisa saja melakukan semuanya sendiri kalau saja keadaanku tidak seperti ini"
"…"
Pria itu memutar tubuhnya dan mematikan handphonenya. Ia lalu menelpon orang lain dengan seringaian terpatri di wajahnya. Kemudian menutupnya kembali. Ia berjalan ke arah tubuh wanita yang terkapar di lain sisi ruangan. Tampak darah keluar dari hidungnya. Pria itu memandang gelap ke arahnya lalu menyeretnya dengan menarik helai-helai rambut oranye itu. Dengan santai pria itu duduk di kursi kantornya dan kembali memperkosa wanita itu, tak peduli bahwa wanita malang itu masih tidak sadarkan diri. Membiarkan wajah si wanita itu mengepel lantai, sedangkan bagian intimnya tersiksa tanpa henti.
Pria itu memejamkan matanya dan tersenyum. Sekelebat imajinasi muncul.
"Izaya"
"TIDAK! HENTIKAN! LEPASKAN DIA!"
"KAKAK! TOLONG AKU!"
Jill terus mencoba melepaskan dirinya dari cengkraman pria besar di belakangnya. Tak peduli seberapa keras usahanya, tetap saja hasilnya nihil. Pria ini bahkan tidak bergeming sama sekali.
"Apa yang kalian inginkan dariku?! Lepaskan adikku!" Tiba-tiba Jill merasakan ujung pistol menyentuh pelipisnya. Tentu saja Jill langsung membeku di tempatnya.
"Anda telah membuat kesalahan fatal, dan saat ini atasan kami cukup kecewa karenanya. Atasan memerintahkan kami untuk menyekap nona Gaby sebagai konsekuensinya, dan anda sendiri harus mengikuti segala perintahnya. Jika anda tetap bersikeras melawan, nyawa adik anda tidak akan selamat"jawab pria yang sekarang ada di hadapan Jill sekarang dengan nada datar. Pria ini bertubuh ramping, berambut abu-abu, dan tatapannya kosong. Jill tahu Pria ini. Dyne Burgov. Pembunuh bayaran dari Rusia yang bekerja di bawah kuasa 'orang itu'. Dan predikatnya tidak main-main.
Jill menggigit bibir bawahnya kasar, melihat kepergian Gaby dari pandangannya. Jill terduduk lemah setelah pria di belakangnya melepaskan cengkraman pada lengan Jill. Jill memandang nyalang ke arah pria yang berani-beraninya menodongkan pistol ke arahnya. Deru nafasnya terasa berat mengikuti tubuhnya yang sedikit bergetar.
"Apa maunya kali ini…"lirih Jill.
"Atasan kami ingin anda menyamar menjadi sekretarisnya dan mendekati Izaya Orihara-sama. Selama anda mengakrabkan diri dengan Izaya Orihara-sama, anda diharuskan melaporkan setiap keadaannya dan mengusahakan Izaya Orihara-sama untuk tetap sibuk sehingga Izaya Orihara-sama tidak memiliki waktu bersama keluarga atau pun orang lain. Anda juga diperintahkan membunuh Shizuo Heiwajima jika diperlukan. Dengan begitu atasan kami akan dengan mudah mendekati Izaya Orihara-sama"jelas Dyne.
Jill melebarkan matanya, shock.
"A, apa?! Jangan bercanda! Membunuh Heiwajima?! Tidak….TidakTidakTidakTidak! Kau-"
"Jika anda mengambil keputusan yang salah, anda tahu apa akibatnya"
"…"
Jill menutup matanya rapat. Ia terpaksa menyerah.
Ini semua demi Gaby.
"…Aku akan menerima…pekerjaan itu…"
Izaya melihat layar handphone-nya. Sudah lama tidak terlihat gerak-gerik si Stalker-san. Apa ia sudah menyerah? Izaya harap begitu, tapi tentu saja saat ini Izaya malah makin merasa tidak bisa tenang. Hal ini berhubungan sekali dengan perasaan tidak enaknya tadi siang.
Sepulang Tojiro Suzume dari flatnya, tiba-tiba semua seperti ter-'klik' di otaknya.
Izaya sangat tahu kata 'mengagumi' tidak mungkin bisa dihubungkan dengannya. Kecuali jika yang mengatakan adalah orang-orang terdekat, seperti Celty dan Shinra yang terkadang memuji sikap keibuannya. Atau Tsugaru dan Psyche yang notabene sangat menyayanginya.
Kesan kagum Tojiro sepertinya bukanlah kekaguman biasa. Ini seperti…Stalker-san.
Ditambah dengan tatapan Tojiro yang melekat padanya saat itu. Seperti mengawasinya.
Bisa jadi, bukan, KEMUNGKINAN BESAR Stalker-san adalah Tojiro Suzume.
Izaya menyandarkan punggungnya. Ia memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas kasur. Memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi bila ia bertemu dengan si Tojiro ini lagi. Yang penting dari semua itu, ia harus memastikan orang-orang yang ia sayang tidak terlibat dalam hal ini.
"Izaya? Kau belum tidur?"
Izaya berjengit dan langsung mengunci handphone-nya. Terlihat Shizuo berdiri di ambang pintu dengan segelas susu di tangannya.
"Shizu-chan...tentu saja aku belum tidur. Apa itu susu? Boleh icip-icip sedikit?"canda Izaya dengan kedua tangan membentang, menyambut Shizuo. Shizuo mendengus pasrah dan memberikan gelas susunya kepada Izaya.
"Habiskan saja semuanya jika kau mau. Tidak apa-apa"ucap Shizuo. Izaya tersenyum dan langsung menghabiskan susunya dalam sekali teguk. Dan ini sukses membuat Shizuo melongo. Shizuo tahu Izaya tidak menyukai susu dan makanan manis, tapi selera makan Izaya saat hamil selalu membuat kejutan tersendiri.
"Enak~"puji Izaya, puas. Siapa pun yang melihat tampang Izaya sekarang, Shizuo yakin pasti akan merasa gemas. Shizuo menaruh gelas kosong yang diberikan Izaya dan membaringkan tubuh Izaya bersamanya. Keduanya saling tatap dan tersenyum. Jari-jari Shizuo menyingkirkan helai rambut yang menutup mata Izaya lalu mengelus pipi halus Izaya lembut.
"Selamat tidur, Izaya. Mimpi indah"
Izaya tertawa kecil dan memejamkan matanya.
"Selamat tidur…Shizu-chan"
'Dan semoga tidak ada hal buruk terjadi pada keluarga ku'
Please, don't forget to always RnR and review~, See you next chapter! (/^o^)/
