New Family
Chapter 6
Sekali lagi durarara BUKAN milik saya.
Attention : Mengandung YAOI, Shizaya, Mpreg, bla bla bla… udah tahu lah yah pokoknya =_=
Tapi sebelum kalian membaca fanfic ini, saya ingin membahas tentang review para reader yang sudah menunggu begitu lama untuk kelanjutan New Family. Senang rasanya membaca review kalian yang, ehm, sangat luar biasa antusias *malu-malu kucing*. Terima kasih ya buat Yana378, kyunauzunami, Shoujo Sedai, vichan1103, misachin, niigou11, tottiaavita. Dan begini, tentang kenapa saya lamaaaaaa sekali update-nya….
Pertama-tama, saya minta maaf atas hiatus saya yang sangat lama. Tolong maklum karena saya sedang melalui segelintir ujian. Jika saya hiatus lagi tanpa pemberitahuan, berarti saya sedang melaksanakan kesibukan lainnya. Termasuk ujian hidup (kami-sama~ ToT)
Please RnR and review untuk author yang kesepian ini…*kacian daku ToT* Dan jika readers berkenan, saya minta doa-nya supaya bisa lulus SMA dengan membanggakan dan masuk ke perguruan tinggi yang saya inginkan, ya… =w='
Izaya memberengut di hadapan layar komputernya. Matanya tetap menatap serius ke arah sederetan tulisan di dalam internet.
"Serius? Cuma ini saja yang ku dapat tentang 'Tojiro Suzume'?"gerutu Izaya. Tangannya beralih menggaruk helai ravennya sedikit kasar.
'Bahkan enggak ada foto pria ini sama sekali!'
Izaya mengeluarkan handphone-nya dan mengirim pesan kepada Tsukumoya.
'Apa kau punya informasi tentang Tojiro Suzume, beserta FOTOnya?'
Tsukumoya : 'Ah…informan-san… Apa kau kembali bekerja? Kabar yang bagus, hm?'
'Ya. Tapi mari kesampingkan itu. Saat ini, aku membutuhkan informasi itu. Akan kubayar 2x lipat'
Tsukumoya : 'Oh. Itu tidak perlu. Karena sepertinya, kali ini aku tidak memiliki informasi yang kau inginkan, informan-san'
'…Apa?'
Tsukumoya : 'Iya. Aku tidak memilikinya'
Izaya mengernyit. 'Ini seperti bukan dirimu, Tsukumoya…'
Tsukumoya : 'Maaf sudah mengecewakanmu, tapi itu benar. Bukannnya aku tidak bisa, sih… Lebih tepatnya, aku TIDAK INGIN mengetahuinya'
'Apa orang ini seberbahaya itu?'
Tsukumoya : 'Bagiku tidak juga. Tapi dia target yang cukup menyebalkan. Sekedar untuk tahu saja, dia cukup amatir'
Izaya mengangkat sebelah alisnya, bingung. Ia semakin tidak paham dengan arah pembicaraan Tsukumoya.
'Maksudmu?'
Tsukumoya : 'Dia adalah mantan informan, Izaya. Sebagai rekan bisnis, aku akan memberitahumu beberapa hal.
Sebaiknya jangan sampai berurusan terlalu lama dengannya. Meski kemampuannya jauh berada di bawah kita, tapi cara bermainnya sangat kotor dan cukup merepotkan. Dia bisa membalikkan keadaan korbannya dengan cara yang tidak pernah terpikirkan orang lain. Aku bahkan hampir tertipu dan menyerahkan informasi tentangku dan dirimu'
'Tunggu! Tojiro Suzume adalah mantan informan? Dan kau hampir membuat informasi tentangku bocor?! Apa maksudnya ini?!'
Tsukumoya : 'Haha. Maaf, maaf. Saat itu aku terlalu percaya diri dan mengikuti permainannya. Memang benar ya kalau kita tidak boleh meremehkan orang lain, sebodoh apa-pun orang itu'
'Tsukumoya. Akan ku ingat ini'
Tsukumoya : 'Hahaha. Yang pasti aku tidak ingin memberikan informasi tentangnya. Terlalu beresiko untukku~. Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, informan-san~'
Izaya memandang aneh pesan terakhir yang ia terima itu. Izaya yakin Tsukumoya mengetahui Tojiro Suzume maupun apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Tapi, dari bagaimana cara Tsukumoya menggambarkan Tojiro membuatnya semakin yakin bahwa Tojiro Suzume lebih dari sekedar merepotkan.
Tiba-tiba, Izaya merasakan dua tendangan di dalam perutnya. Izaya mengedik karena tendangan yang ia rasakan kali ini sangat terasa. Apa Tsukishima sedang memperingatinya? Izaya menghela nafas pasrah dan mengelus perutnya, mencoba menenangkan bayi mungil yang berada dalam kandungannya.
"Maaf, maaf. Lain kali tidak akan terulang lagi, oke?"ucap Izaya dengan nada sedikit merajuk. Lalu tendangan itu tidak terasa lagi.
Izaya menggerakkan jemarinya dan mematikan komputernya setelah menyimpan informasi tentang Tojiro Suzume yang sejauh ini bisa ia temukan. Shizuo yang memang baru saja keluar dari kamar dan kebetulan melihat Izaya baru saja mematikan komputer, menghampiri Izaya dengan sepiring kue coklat dan memeluk leher izaya dari belakang. Shizuo tahu sang informan sedang dalam mood yang kurang baik.
"Jangan terlalu memikirkan sesuatu, mengerti? Aku keberatan jika kau stress lantaran pekerjaanmu ini. Bukannya aku menekanmu, tapi jika tahu sejak awal akan seperti ini aku-", Shizuo segera membungkam mulutnya. Ia tidak ingin mengucapkan kata-kata barusan, mengetahui bahwa Izaya pasti akan marah padanya. Tapi hey! Kata-kata laknat itu meluncur keluar dengan mulusnya dari mulutnya. Keringat dingin meluncur di pelipisnya. Menunggu reaksi Izaya yang membuat jantungnya berhenti berdetak tiap detiknya.
"Aku membencimu, Shizuo! HUBUNGAN KITA BERAKHIR!"
Ukh… rekaman masa lalu dimana Izaya marah padanya karena melarang sang informan menjalani pekerjaannya membuat kepalanya ngilu. Ia tidak ingin hubungannya berakhir sebelum ia bisa melanikahi Izaya. Benar-benar tidak!
"E- oi. Maaf, Izaya. Lupakan apa yang ku katakan barusan, ok? Itu bukan apa yang aku ingin katakan. Eemmm…Pekerjaanmu bagus dan kau hebat dalam hal itu. Aku tahu kau sangat menyukainya, dan-"suara Shizuo semakin menciut.
"Shizu"
Glek.
Izaya segera berbalik. Tangannya penuh dengan kue, dan bibirnya sedikit dinodai cokelat. Izaya menatap Shizuo polos.
"Sebenarnya dari tadi kau sedang menggumamkan apa?"
Shizuo terdiam. Wajahnya langsung sumringah. Oalah….ternyata Izaya dari tadi sudah sibuk makan. Shizuo mengelus dadanya, lega, dan kemudian menggeleng.
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya mau bilang sebaiknya kau lebih rileks. Lakukan pekerjaanmu sesantai mungkin". Izaya hanya ber-oh ria. Ia mengangguk-angguk paham dan melanjutkan makannya. Oh, ya ampun~, ia tampak menggemaskan sekali! Shizuo ingin sekali mencubit kedua pipi yang sedikit bersemu itu.
"Baiklah. Aku harus berangkat kerja dulu. Tom-san sudah menungguku. Mungkin hari ini aku akan pulang terlambat. Kalian boleh makan malam dulu nanti, tidak usah menungguku". Izaya mengangguk. Izaya merogoh bento yang sudah ia siapkan lalu mengikuti Shizuo ke arah pintu. Setelah Shizuo siap-siap, Izaya memberikan bento tersebut pada Shizuo dan memberikan, ehm, ciuman selamat jalan.
"Selamat siang, Orihara-san. Sepertinya kita akan berbisnis lagi, huh?"
Izaya menatap Tojiro sebentar dan tersenyum. "Sepertinya begitu. Silahkan masuk"ucap Izaya. Detik kemudian matanya menangkap sosok wanita di belakang Tojiro. Bukankah itu…
"Jill-san? Wah, wah… tak ku sangka akan bertemu denganmu untuk kedua kalinya"
Bahu Jill mengedik. Ia menengadahkan wajahnya yang tertunduk dan memberi Izaya senyum kecil.
"Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, Orihara-san"
"Jadi, kalian berdua sudah saling kenal?"
"Ya, kami bertemu di rumah sakit beberapa bulan yang lalu"
"Rumah sakit?", jantung Jill berhenti berdetak. Ia tahu lambat laun kasus tabrakan saat itu akan terungkap. Jika iblis itu tahu Izaya Orihara terluka karena adiknya terlibat, ia yakin iblis itu akan semakin membuat dirinya dan Gaby semakin menderita.
"Aah…itu. Saat itu aku dan adiknya berada di rumah sakit untuk mengobati luka yang kami dapat dari mobil Honda Matsuzaki, pegawaimu yang menabrakku. Lalu Jill datang untuk menjemput adiknya dan kami sempat berkenalan. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Matsuzaki-san itu?"
"Tenang saja Orihara-san. Dia hidup aman dan nyaman sekarang, di penjara"
Ketiga orang itu pun duduk di sofa, saling berseberangan. "Jadi…Apa Jill-san adalah sekretarismu atau semacamnya?"Izaya membuka pembicaraan. Dari arah dapur, Namie muncul dengan nampan berisi tiga cangkir teh hangat lalu menyuguhkannya. Ya, Namie kembali bekerja atas permintaan Izaya. Tapi hanya saja, kali ini pekerjaan wanita itu akan semakin banyak lantaran Izaya tidaklah se-'bebas' dulu. Tentu saja itu sudah jelas. Izaya hamil dan memiliki dua anak, dan Shizuo adalah (calon) suaminya. Terkutuklah semua itu, jerit hati Namie.
"Dia sekretarisku. Kami baru bertemu beberapa bulan yang lalu. Saat itu kami kebetulan duduk di meja yang sama di sebuah kafe dan aku melihat dia sangat cakap saat mengerjakan sesuatu. Kami berbincang-bincang sedikit dan akhirnya aku merekrutnya"jawab Tojiro. Saat matanya melirik ke arah Jill, dimana Jill tidak melihat ke arahnya, pipinya sedikit bersemu. Dan saat itu Izaya menyadari satu hal.
Tojiro Suzume menyukai Jill.
…
Tunggu.
Izaya menatap dalam diam ke arah Tojiro sambil menyesap tehnya.
Jika benar hal itu…berarti Tojiro Suzume tidak ada ketertarikan lebih terhadapnya! Jika benar begitu-
Tojiro Suzume dan Stalker-san bukanlah orang yang sama.
Izaya mengernyit, lalu meletakkan cangkirnya. Selagi ia mengobrol dengan Tojiro, pikirannya terus berputar mencari fakta-fakta lain yang bisa ia temukan. Dan kesimpulan bahwa pria di depannya bukanlah Stalker-san merupakan temuan besar baginya.
'Stalker-san. Siapa kau sebenarnya?'
Langit sore mulai muncul dan jalanan akhirnya mulai lenggang. Melihat jumlah orang yang harus mereka datangi tinggal sedikit, Tom memutuskan untuk ia dan Shizuo beristirahat sejenak di taman kota. Shizuo hanya mengangguk dan mengikuti Tom duduk di salah satu bangku. Tom memandang mantan adik kelasnya itu dan tersenyum.
"Sejak tinggal bersama Izaya kau jadi jauh lebih tenang, ya"goda Tom. Shizuo mengedik dan menoleh ke arah Tom.
"Apa itu aneh?"
"Tidak, tidak. Mood-mu jadi baik tiap harinya dan bahkan hari ini tidak ada satu pun benda yang melayang. Aku senang suasana hatimu bagus. Bagaimana mengatakannya, ya… Bisa dibilang ini seperti suatu kemajuan"Shizuo tersenyum mendengar perubahan besarnya tersebut dan menatap bento di pangkuannya. "Terima kasih, Tom-san"
Tom tertawa kecil. Tanpa sengaja pandangannya jatuh ke arah bento milik Shizuo. "Bento buatan Izaya lagi? Enaknya…Punya istri yang pengertian dan selalu memasakkan makanan untukmu. Kau sangat beruntung, Shizuo"goda Tom, lagi. Pipi Shizuo merona. Keduanya lalu tertawa kecil dan lanjut dengan mengobrol tentang Izaya, Tsugaru, Psyche, dan Tsukishima. Shizuo lalu membuka kain bungkusan bento dan menemukan secarik kertas di dalamnya.
'Aku tahu Tom-san biasanya tidak membawa makanan, jadi ku buatkan 1 kotak lagi untuknya. Ku harap kalian berdua menyukainya, meski ku rasa ikan makarelnya sedikit gosong karena ku tinggal sebentar'
Shizuo tersenyum lembut saat membacanya. Ia mengetikkan beberapa kata di handphone-nya dan mengirimnya ke nomor Izaya. Kemudian ia memberikan Tom bento yang dibalas Tom dengan tangis haru. Keduanya pun makan dengan khitmat, menikmati lezatnya makanan buatan Izaya. Tahu bahwa ia akan pulang terlambat, Shizuo menyisakan sedikit bentonya untuk jaga-jaga.
Di lain sisi, Izaya mendapat pesan dari Shizuo. Ia buka pesan itu dan tersenyum melihat isinya.
'Terima kasih'
Sudah sampai.
Kediaman Kiyoshi Sagaraki.
Hmm, hutangnya 15 juta yen. Itu benar-benar jumlah yang sangat banyak.
Shizuo memandangi pintu apartemen di depannya. Apartemennya kecil dan tidak terawat, berbeda dengan apartemen tetangganya yang cukup terawat. Pastinya orang yang tinggal di sini benar-benar orang yang seenaknya sendiri. Dan itu membuat Shizuo terpaksa menggeram karenanya.
"Oiiii…Sagaraki-saaan! Kami datang menagih!"seru Tom sambil mengedor pintu apartemen.
1 menit.
2 menit.
3 menit.
Tiba-tiba dari dalam apartemen, Tom dan Shizuo dapat mendengar teriakan ketakutan penghuninya.
"SIAL! HENTIKAN GEDORANMU! KALIAN MENGGANGGU TETANGGA! PERGI KALIAN! LAGIPULA SEKARANG AKU TIDAK PUNYA UANGNYA!"
Tom berhenti. Ia mendengus dan kemudian memberikan isyarat pada Shizuo untuk mendobrak pintu di depannya. Detik kemudian, kaki Shizuo melayang ke arah daun pintu di hadapannya dan pintu itu pun lepas dari tempatnya. Namun selagi Shizuo berdiri di tengah debu yang mengepul karena tindakannya, sesuatu tampak bergerak ke arah sang mantan bartender dan tampaklah wajah Kiyoshi Sagaraki di balik debu…
dengan menodongkan pistol.
"AARGH! SIALAN"raung Kiyoshi.
"SHIZUO-"
Dor!
Sebuah peluru melesat dan dengan cepat Shizuo menghindarinya. Kiyoshi yang melihat kegagalannya itu dengan sembrono menembak ke arah Shizuo. Shizuo kembali menghindari setiap peluru dan sementara dirinya fokus untuk menghentikan pria idiot ini, peluru Kiyoshi mengenai sesuatu yang lain.
Sesuatu yang merupakan buatan Izaya.
Bento yang sengaja ia sisakan.
Dengan susah payah Izaya membuatnya.
Dan sekarang…
Prakk!
-hancur.
Seketika itu, Shizuo melihat merah. Telinganya berdengung, dan ia bahkan tidak paham lagi apa yang Tom dan Kiyoshi bicarakan di hadapannya. Dengan enteng tangannya mengangkat rak sepatu di sebelahnya.
"Kau tahu, setiap butir nasi dan lauk itu berasal darimana, huh? Kau tahu, tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, huh? Kau tahu, untuk membuatnya orang harus rela mengorbankan 5 atau 10 menit hidupnya, dan terus menggerakkan tubuh, serta berhadapan dengan benda tajam dan api, bahkan jika mereka sedang hamil? Kalau begitu…KAU PASTI SANGAT LUAR BIASA SUDAH BERANI MENGHANCURKAN BENTO ITU!"raung Shizuo bersamaan dengan melayangnya rak sepatu ke arah Kiyoshi. Tidak perlu menunggu lama sampai Kiyoshi akhirnya pingsan tertindih rak sepatu.
"Waah…itu….sangat tidak terduga"ucap Tom akhirnya. "Sepetinya tugas kita di sini cukup sampai di sini. Kita datangi saja lagi besok, Shizuo". Shizuo hanya bisa mendecih. Ia melangkah ke arah kotak bento yang hancur berkeping-keping tak jauh darinya dan memungutnya. Ia harap Izaya tidak marah karenanya.
Tom dan Shizuo kemudian melangkah menuju pintu. Namun belum sampai 3 langkah, sebuah peluru menembus perut sebelah kiri Shizuo. Sontak Tom dan Shizuo terbelalak dan segera berbalik.
Dan hanya menemukan pistol yang tergeletak di bawah kakinya dengan selembar kertas.
Izaya mengedik mendengar Tom berteriak dari luar dan segera bergegas ke arah pintu. Saat pintu terbuka, mata Izaya terbelalak mendapati Shizuo, dengan perut yang diperban dan baju yang basah oleh darah, dibopong oleh Tom (meski sebenarnya Shizuo merasa biasa-biasa saja atas lukanya dan bisa berjalan sendiri). Tsugaru dan Psyche yang kebetulan akan menuju kamar seketika mematung melihat pemandangan mengerikan itu.
"Shizu-chan?!"pekik Izaya, "Tom-san, tolong antarkan Shizu-chan ke kamar. Aku akan segera ke sana"
Tom mengangguk dan mengantarkan Shizuo ke arah kamar. Tanpa sengaja Shizuo bertatap muka dengan Tojiro sebelum akhirnya Tojiro membungkuk memberi salam padanya. Psyche membuntuti Tom dan Shizuo sedangkan Tsugaru pergi menyiapkan sebaskom air hangat dengan handuk, perban baru, dan segelas minuman untuk Shizuo, jaga-jaga jika diperlukan.
"Maafkan aku atas yang barusan. Tapi, bisakah kita akhiri dulu sampai di sini?"
Tojiro tersenyum. "Aku mengerti. Lagipula hari sudah mulai menjelang malam. Tidak baik kami terus berlama-lama di sini. Sebaiknnya kita tunda dulu urusan kita dan melanjutkannya di lain waktu. Terima kasih untuk bantuanmu hari ini, Orihara-san"
"Terima kasih atas kebaikan hatimu. Aku harap pelayanku cukup memuaskan"
Tojiro dan Izaya saling berjabat tangan dan Tojiro pun pergi.
Izaya membuka pintu kamarnya dan mendapati Shizuo, Tom, Tsugaru, dan Psyche berada di dalamnya. Ia menghela nafas dan dengan lembut meminta Tom untuk pulang juga Tsugaru dan Psyche untuk kembali ke kamar mereka. Setelah hanya ia dan Shizuo saja yang ada dikamar itu, Izaya duduk di dekat Shizuo dan menghela nafas lagi.
"Siapa yang menembakmu?"
Shizuo menatap Izaya yang juga menatap lekat ke arahnya. Ia pejamkan matanya, mencoba mencari-cari jawaban yang bagus. Kemudian ia menggaruk-garuk bagian kepalanya, menyerah.
"Aku tidak tahu", Izaya mengangkat sebelah alisnya, bingung. Bagaimana bisa Shizuo tidak mengetahui penembaknya? Memangnya dia ditembak snipper? …Atau memang iya? Tapi, kalau memang snipper harusnya luka Shizuo lebih parah dari ini, seperti area jantung dan kepala. Perut bukanlah pilihan yang cukup efisien untuk membunuh musuh.
"Sepertinya aku tidak akan bisa menemukan pelakunya. Ini semua karena Shizu-chan terlalu bodoh"rutuk Izaya, sukses membuat urat Shizuo mencuat. Tapi Shizuo tahu sang informan sedang berusaha mengendalikan dirinya. Semakin tertekan emosinya maka juga akan berdampak pada kandungannya. Lagipula ia juga seharusnya minta maaf atas kejadian bento beberapa saat yang lalu dan juga meminta maaf karena membuat Tsugaru dan Psyche sangat ketakutan dan khawatir. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah merepotkan Izaya hari ini.
"Izaya. Maaf"
Izaya terkekeh pelan, "Untuk apa?"
"Untuk semuanya. Termasuk bento ini", Shizuo merogoh kain yang ia letakkan di atas meja dan memperlihatkan puing-puing kotak bento di dalamnya. Izaya hanya bisa tertawa.
"Itu hanya bento. Aku bisa membuatnya lagi untukmu, Shizu-chan"
"Tidak. Bagaimana pun kau sudah susah payah membuatnya"
"Kalau begitu, Shizu-chan hanya perlu lebih berhati-hati lagi lain waktu, bukan?"ucap Izaya. Ia tekan luka tembak Shizuo keras-keras, membuat Shizuo memekik. "Lebih baik bento hancur daripada kepalamu yang hancur"tambah sang informan diselingi dengan raut wajah ramah-namun-mengancam. Membuat Shizuo mati kutu.
"Baiklah. Hari ini sangat melelahkan, Shizu-chan. Jadi…", Izaya merebahkan tubuh Shizuo lalu mencium bibir sang mantan bartender sekilas, "…mari kita tidur"
Shizuo tersenyum dan memejamkan matanya.
"Oyasumi"
"Hm. Oyasumi"
Namun, meski keduanya mengucapkan selamat tidur dan memejamkan mata, pikiran mereka masih berkelana. Dimana Izaya masih berusaha menebak-nebak siapa si Stalker-san sebenarnya, Shizuo….
'Ini peringatan pertama, Shizuo Heiwajima.
Bersiaplah untuk yang lebih besar.'
…Apa sebenarnya maksud surat ancaman di pistol itu?
"Aah… Sudah ku duga mempekerjakan monyet tak berotak seperti teri itu tidak akan membuahkan hasil apa pun", seorang pria menyeringai. Ia angkat gelasnya yang kosong dan detik kemudian gelas itu terisi lagi dengan vodka. Matanya mengerling ke arah Dyne yang berada di belakangnya dan tersenyum puas. "Maa…Setidaknya sejumlah besar uang yang ku keluarkan untuk menyewa anjing sepertimu cukup memberikan hasil yang setimpal"
Dengan raut wajah yang tetap datar, Dyne mengucapkan terima kasih. Meski sebenarnya pujian tidak berarti bagi dirinya.
Eto ne imeyet znacheniya. I on ne nuzhen.
[ Itu tidak penting. Dan ia tidak butuh. ]
"Lalu…bagaimana denganmu, Jill?"
Jill mengedik, kemudian menatap dingin pria di hadapannya.
"Ia tidak menyadarinya"
Pria itu tersenyum puas. Dengan santai ia menenggak vodka-nya dan melempar sebuah amplop ke arah Jill. Jill membuka amplop itu dan terlihatlah berlembar-lembar uang kertas dengan nominal yang cukup besar. Jill tersenyum mengejek dan menginjak amplop itu kasar.
"Kau tahu 'kan aku tidak butuh uangmu? Aku butuh adikku"
Pria itu mengernyit dan terkekeh. Ia berdiri dan melangkah ke arah pintu.
"Itulah apa yang kau dapat karena kerjamu yang setengah-setengah"
Dan ia pun pergi. Tidak peduli dengan Jill yang mencoba menahan emosinya yang siap meledak, atau pun kata-kata Jill selanjutnya.
"I hope you die, bastard!"
See you in next chapter, minna~! Semoga saya bisa cepet update tanpa hiatus mendadak lagi ToT
Semoga kalian tetap bersabar menunggu dan keep RnR, meski ada kemungkinan saya bakal hiatus mendadak (tapi bakal dilanjutin sampe tamat, kok! Saya janji! ToT). Fav, follow, dan review kalian sangat ku apresiasi (maaf juga jika review kalian g sempat ku balas, ya*sungkem*)
