New Family

Chapter 7

Sekali lagi durarara BUKAN milik saya.

Ciluuuuk~, BA! Saya update! AJAIB! *digampar ria*

Oke, oke…. Ga perlu banyak bacot lagi… CEKIDOT!

Attention : Mengandung YAOI, Shizaya, Mpreg, bla bla bla… udah tahu lah yah pokoknya =_=

WARNING! Disturbing alert!

Tolong, toloooooong banget, dibaca sampai terakhir. Karena ada pengumuman penting di bagian paling terakhir, jadi jangan di skip ya.


Stalker-san : 'Halo. Pagi yang indah, Izaya-san'

'Apa mau mu kali ini, Stalker-san~? 3: ))) '

Stalker-san : 'Wow, wow, wow… tenang dulu, Izaya. Aku hanya ingin mengobrol sedikit denganmu. Kau dan aku, kita mengobrol santai, seperti pasangan yang lainnya'

Ujung mulut Izaya berkedut. Selayaknya pasangan? Mimpi apa orang ini sampai-sampai berani menganggapnya seakan-akan ia telah menjadi miliknya?

Sudah 6 hari berlalu sejak kasus penembakan Shizuo. Dan setelah hari dimana Shizuo tertembak itulah, Stalker-san mulai gencar-gencarnya mengirim pesan yang sukses membuat Izaya ngilu. Bukan main sebalnya. Sebab, hampir seharian pesan-pesan tidak jelas memenuhi inbox hp Izaya. Mulai saat bangun tidur, selesai mandi, sarapan, di tengah-tengah pekerjaaan, makan siang, meeting, makan malam, bahkan sampai tidur. Dengan susah payah Izaya mengusahakan agar pesan-pesan itu tidak dibaca oleh siapa pun selain dirinya, terutama Shizuo. Ia tidak ingin Shizuo mengalami hal yang lebih buruk dari kejadian saat itu karena ia tahu dalang di balik penembakan tersebut sudah jelas si Stalker-san.

Ia yakin Stalker-san kini tertawa lepas di suatu tempat.

Tapi, dari serbuan pesan-pesan itu juga secara tidak langsung telah memperkuat kesimpulannya bahwa Tojiro Suzume bukanlah Stalker-san. Meeting antara Izaya dan Tojiro sampai saat ini masih berjalan dan pesan-pesan itu tak jarang masuk di waktu tersebut. Padahal baik Tojiro maupun Jill tidak berkutat dengan alat komunikasi apa-pun, bahkan tidak ada satu pun gerak-gerik mencurigakan yang luput dari mata jeli Izaya.

"Apa ada yang mengganggumu, Izaya?"

Izaya menghela nafas dan tersenyum ramah. Di hadapannya saat ini terduduk dua orang eksekutif Awakusu-kai, Shiki dan Akabayashi. Ditambah dengan Psyche yang mengajak Akabayashi bermain lego dan Tsugaru yang menolong Namie meletakkan teh di depan Shiki. Melihat hal itu, Shiki tersenyum.

"Mereka anak yang menarik. Kau mendidik mereka dengan cukup baik"puji Shiki. Izaya hanya bisa tertawa kecil.

"Shiki-san... ini seperti bukan dirimu saja. Apa kau tertarik menjadi kakek mereka?"canda Izaya yang dibalas Shiki dengan terkekeh. "Ku rasa Akabayashi lebih tepat dalam peran itu", Shiki maupun Izaya lalu melirik ke arah Akabayashi yang kini memanggul Psyche di pundaknya. Tampak Akabayashi dan Psyche tertawa terbahak-bahak di sisi lain ruangan. "Hem, memang terlihat seperti itu di mataku. Tapi bukan berarti kau membenci anak-anak, kan? Shi-ki-san"tambah Izaya.

Shiki mengangkat bahunya pasrah. "Terserah. Lakukan saja apa mau mu"

Izaya mengelus kepala Tsugaru dan mengucapkan terima kasih. Tsugaru pun tersenyum lebar dan membantu Namie memasak yang tentunya cukup disyukuri oleh Namie.

"Bicara soal kinerjamu, ku rasa tidak ada penurunan. Maa, ku harap kau tidak memaksakan dirimu"ucap Shiki sembari memeriksa lembar demi lembar kertas informasi pada amplop di tangannya. "Aku tidak terlalu mengharapkan hasil yang seperti biasa agar kau bisa menjaga kesehatanmu dan juga janinmu. Sebab, jika sesuatu terjadi padamu itu akan sangat merepotkan bagi kami"

"Are, are~? Aku tidak selemah itu, Shiki-san. Bagaimana pun aku adalah ibu dari 3 anak dan pasangan hidup dari seorang Shizuo Heiwajima"jawab Izaya.

Shiki lalu berdiri dan siap-siap untuk pergi. Dilihatnya Akabayashi yang juga bersiap untuk pergi.

"Ya, sebaiknya begitu. Tapi setelah kasus penembakan itu, aku tidak yakin kau bisa menjaga dirimu.

Berhati-hatilah, Izaya"


Tojiro Suzume lagi-lagi bertamu ke kediaman pasangan Shizuo-Izaya. Dan kali ini, sang kepala keluarga sedang berada di rumah. Namun Izaya tidak sedang di rumah karena mengantar Tsugaru ke stasiun.

"Ada keperluan apa kau kemari?"tanya Shizuo menginterogasi. Ia tatap nyalang Tojiro dan Jill, membuat Tojiro maupun Jill mundur takut-takut. "Kalau kau mencari Izaya, sayang sekali, dia tidak sedang ada di rumah"'

Tojiro berjengit seketika melihat kedua mata Shizuo berkilat tajam. Seorang Shizuo Heiwajima sedang mendelik ke arahnya, seakan ingin menghanguskannya.

"Ka, kami hanya ingin memberikan ini-", tangan Tojiro langsung merogoh beberapa bingkisan berisi kue tradisional dan cokelat yang tampak menawan, "Ini sebagai ucapan terima kasih kami karena bantuan Orihara-san selama ini. Mungkin ini tidak seberapa, tapi mohon terimalah"

Shizuo tertegun. Tangannya bergerak menerima pemberian Tojiro. Dengan was was ia mengendus dan mencoba salah satu makanan dalam setiap bingkisan. Setelah dirasa aman, ia meletakkkannya di atas meja.

"Oh…. Terima kasih. Apa kalian masih menunggu Izaya?"tanya Shizuo akhirnya. Raut wajahnya berubah santai, mencoba untuk tidak terlihat mengancam. Syukurlah, untuk saat ini tidak ada tanda-tanda bahaya yang mengancam.

"Iya. Apa Orihara-san masih lama?"

"Tidak. Sebentar lagi dia akan pulang. Duduklah"

Tojiro dan Jill lalu duduk. Psyche yang berniat menghampiri ayahnya di dapur tentu saja melihat keduanya dan segera berlari menemui tamu mereka dengan wajah berseri-seri.

"Paman Tojiro! Jill-chan!"seru Psyche yang menghambur ke arah Tojiro. Tentu saja Tojiro sudah siap memeluk bocah itu sehingga Psyche tidak terjungkal ke arahnya. Sedangkan Jill tertawa kecil di sampingnya.

Dan keakraban mereka membuat bapak muda kita, Shizuo Heiwajima, melongo. Apa ada sesuatu yang spesial terjadi tanpa sepengetahuannya?

"Nee, nee! Hari ini guruku memberi PR menggambar! Aku ingin menggambar semua hal yang ku suka di dunia! Nanti aku akan gambar kaa-chan…tou-chan…Tsugaru, obaa-chan, jii-chan… Oh! Oh! Paman Shinra dan bibi Celty, juga teman-teman kaa-chan dan tou-chan!"celoteh Psyche di depan Tojiro dan Jill. Lengan kecilnya bergerak liar seakan memperagakan sesuatu.

Jill tersenyum. "Apa kami juga termasuk teman-teman kaa-chan?"

"Hm! Paman Tojiro dan Jill-chan orang baik jadi Paman Tojiro dan Jill-chan adalah teman!", bocah cilik itu berlari menuju kamar dengan semangat.

"Aku akan menggambarnya sekarang! Besok akan ku tunjukkan pada kalian berdua! Tunggu saja!"

Suara bedebam pintu pun menyusul.

"Psyche! Pelan-pelan! Ah, maafkan perilaku anakku barusan"ucap Shizuo sambil meletakkan dua gelas teh yang ia bawa.

"Tidak apa-apa, namanya juga anak kecil"

Shizuo mengambil tempat duduk di depan Tojiro dan Jill.

Suasana berubah hening tanpa satu-pun membuka pembicaraan.

Dan entah kenapa mata Shizuo tidak bisa lepas dari kedua orang di hadapannya. Di tengah perasaan canggung karena diperhatikan tuan rumah yang melanda Tojiro dan Jill, Shizuo semakin merasa sesuatu yang tidak beres terjadi.

Tapi ia tidak bisa mencari penyebabnya.

Pada akhirnya ia menghubungkan rasa mawas yang tiba-tiba ini pada Tojiro dan Jill, tapi mengingat keduanya sudah saling kenal dengan Psyche ia jadi meragukannya.

'Kedua orang ini terlalu ramah. Apa…ada sesuatu yang terjadi pada Izaya saat ini?'pikir Shizuo dalam hati. Ia pun berdiri.

"Maaf. Aku akan menelpon seseorang. Anggap saja seperti rumah sendiri"pinta Shizuo yang dibalas anggukan Tojiro dan Jill. Ia lalu melangkah ke pojok kabinet dapur yang memungkinkan tamu tidak bisa melihatnya. Ia pun menghubungkan nomor telepon Izaya.

Tuut…

Deg.

Tuut…

Deg.

Tuut…

"Halo, Shizu-chan? Ada apa?"

"Ah. Izaya", tanpa sadar Shizuo menghela napas, "Dimana kau sekarang?"

"Aku berada di dalam lift apatemen. Oh, ya. Bisa bantu aku membukakan pintu? Tanganku penuh dengan belanjaan"

"Aaah…begitu. Um. Aku akan membukakannya. Ngomong-ngomong ada orang yang menunggumu. Kalau tidak salah nama mereka Tojiro dan Jill"

"Benarkah? Aku akan segera ke sana"

"Hey, pelan-pelan saja. Perhatikan langkahmu"

"Hmph! Aku bukan anak kecil, Shizu-chan!"

Shizuo tersenyum kecil. Yang pasti Izaya baik-baik saja.

"Kalau begitu, dah"


"Kalau begitu aku duluan ya, Psyche. Jangan lupa bilang pada okaa-san aku berlatih di dojo dan pulang agak sore nanti"pinta Tsugaru sambil memanggul tas ranselnya. Saat ini pakaiannya sudah berganti menjadi baju latihan.

"Hmph! Siap, komandan!"jawab Psyche sambil memberi salam layaknya prajurit. Tsugaru tersenyum dan mengelus surai raven Psyche sebelum akhirnya meninggalkan sang adik.

Psyche berjalan menuju gerbang sekolah. Mulut kecilnya bersenandung sambil menatap penuh kebanggaan terhadap selembar kertas di tangannya.

Gambarnya mendapat nilai A!

Belum sampai pintu gerbang, matanya menangkap mobil sedan hitam yang berhenti di depannya. Dari mobil itu, sosok Tojiro dan Jill keluar dan menyapanya.

"Psyche-san~, kami datang menjemputmu!"seru Tojiro. Psyche berlari mendekat.

"Menjemputku? Tapi kaa-chan sebentar lagi datang kemari"tanya anak kecil itu polos.

"Aaah, soal itu, Orihara-san yang meminta kami menggantikannya karena Heiwajima-san dan Orihara-san sepertinya harus pergi memeriksa kandungan. Bagaimana menurutmu? Apa kau mau ikut kami?"tanya Tojiro sedikit membungkuk agar pandangannya bisa sejajar dengan Psyche.

Psyche mengangguk dan mengiyakan dengan riangnya. Ia lalu melompat masuk ke kursi belakang mobil dan mobil itu pun melaju.

"Nee! Nee! Lihat! Aku benar-benar menggambar kalian berdua! Dan aku mendapat A!"girang Psyche sambil memperlihatkan gambarnya pada Jill dan Tojiro yang mengapitnya.

"Hm, itu bagus"

"Wah, Psyche pandai sekali menggambar"

Psyche tersenyum-senyum. Tanpa sengaja matanya melihat ke arah jendela dan melihat sebuah bangunan menghilang dari pandangannya.

"Umm…Paman. Kita baru saja melewati rumah. Kita mau kemana?"tanya Psyche. Kini ia menengadah ke arah wajah Tojiro.

Datar.

Ia lalu menengadah ke arah Jill.

Datar.

"Emm… Ah! Aku tahu! Kita mau ke rumah sakit, kan? Padahal sampai rumah saja tidak apa-apa, kok, paman-"

"Aaah. Berisik"

Psyche berjengit. Perlahan ia melihat ke arah Tojiro kembali. Manik merah mudanya lalu membulat.

Paman Tojiro memberinya tatapan yang sangat menakutkan.

"Pa…man?"lirih Psyche. Bibir kecilnya agak bergetar merasakan wajah Tojiro semakin menggelap.

Detik kemudian anak tidak berdosa itu merasakan pukulan di wajahnya. Membuat tubuh kecil Psyche menghantam pintu mobil di samping Jill.

"Aku bukan pamanmu, bocah", Tojiro mendekat ke arahnya dan menjambrak rambut Psyche. Ia angkat sedikit kepala Psyche agar Psyche dapat menatap matanya langsung.

"Tapi tenang saja. Aku akan membawamu pulang ke tempat seharusnya kau berada. Dan mungkin,

aku juga akan menjadi ayahmu"

Air mata Psyche meluncur melihat Tojiro menyeringai lebar di hadapannya. Pandangannya pun kabur dan ia pun tidak sadarkan diri.


Izaya menatap horror ke layar handphonenya.

Izaya.

Untuk mempererat hubungan kita, aku sudah memesan tempat makan malam yang spesial untuk kita berdua. Apa kau bisa datang sekarang sebelum orang lain mengambil mejanya? Aku juga mengajak Psyche-chan kemari dan saat ini dia sedang menunjukkan PR gambarnya padaku.

Dan sepertinya seseorang bernama Tojiro dengan baik hati membawakannya padaku, jadi aku menawarkannya sebuah kamar jauuuuuh di bawah tanah hanya untuknya. Mungkin ia ingin beristirahat cukup lama jadi mungkin kamar seperti itu akan membuatnya cepat tidak sadarkan diri.

PS : Aku berada di tempat paling istimewa di perusahaan I&T. Jangan mengecewakanku dengan datang bersama orang lain. Aku ingin hanya ada kita bertiga di makan malam yang romantis ini.

Bertanda suamimu, Stalker-san.

Izaya meremat handphonenya. Ia tidak memperkirakan Tojiro akan menculik Psyche secepat ini. Seharusnya ia bisa menduganya!

Tidak, tidak. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan diri sendiri. Ia harus segera pergi.

Dengan pikiran yang masih kacau, ia memanggil taksi dan pergi ke perusahaan I&T.

Sesampainya di sana, ia masuk dan betapa terkejutnya Izaya melihat tidak ada siapa-pun di dalam perusahaan tersebut. Hanya orang-orang berpakaian serba hitam yang mengarahkannya ke lantai teratas. Bahkan saat ini, di dalam lift, ada 4 pria bertubuh besar tengah menjaganya, tentu saja agar ia tidak berbuat macam-macam.

Setelah mencapai lantai teratas, pintu lift pun terbuka dan memperlihatkan ruangan yang gelap. Hanya jendela kaca yang memperlihatkan panorama kota saja yang bisa ia lihat.

Tiba-tiba sebuah lengan menariknya keluar dari dalam lift dan kedua lengan asing memeluk pundaknya erat. Izaya bisa merasakan sebuah kepala berada di lehernya, bibir yang mengecup leher jenjangnya, lalu hembusan nafas meniup telinganya.

"Tebak siapa ini~, I-za-ya-san?"

Izaya membulatkan mata.

Suara ini-

Lampu dihidupkan.

Sesosok anak kecil tertidur di atas pangkuan Jill di sofa.

"PSYCHE?!"teriak Izaya. Namun sebelum ia bisa melangkah mendekati anaknya itu, kedua lengan yang mendekapnya masih menahannya.

Izaya menggigit bibir bawahnya lalu menoleh ke samping dan…

"KAU-"

Wajah seorang Tojiro Suzume menyapanya, lengkap dengan senyum lebar dan wajah seakan tak berdosa.

"Sebaiknya kau duduk dulu atau aku akan meminta Jill melakukan hal yang tidak kau inginkan"pinta Tojiro sambil melepas Izaya. "Oh, ya. Dan lepas jaketmu. Aku tidak ingin handphonenmu tiba-tiba berdering dan mengganggu makan malam kita"

Izaya mengepalkan tangannya mencoba menahan emosinya. Ia pun menuruti perkataan Tojiro dengan memberikan jaketnya kepada Tojiro dan duduk di kursi yang ditarik Tojiro untuknya.

"Sekarang, kita mulai saja inti pembicaraan kita kali ini"

"Sebelum itu, lepaskan Psyche"sela Izaya.

Tojiro yang semula tersenyum mimik wajahnya langsung berubah datar.

"Kau tahu kan aku tidak akan melakukannya", pernyataan itu langsung dijawab dengan Izaya yang berdecih. Tojiro kembali tersenyum dan mengangkat gelasnya yang sudah diisi vodka.

"Tapi aku tidak menyangka orang yang paling disegani sepertimu bisa masuk ke perangkap sederhanaku semudah ini. Sekarang kau sudah berada di wilayahku. Sesaat setelah kau masuk kau tidak akan bisa keluar lagi. Namun tenang saja…", Tojiro mengelus pipi Izaya dengan jemarinya yang panjang. "Aku tidak akan menyakitimu kecuali di saat-saat terdesak. Jika saja aku harus melakukannya, aku akan memulainya dengan janin yang tidak diinginkan itu. Kau tahu kenapa? Karena aku begitu mencintaimu"

Izaya memalingkan wajahnya, menghentikan tangan Tojiro yang bermain-main di pipinya. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar bahwa Tojiro berniat melukai janinnya.

"Kenapa kau melakukan ini semua? Kenapa kau bisa mengatakan bahwa kau mencintaiku dengan gampangnya?"tanya Izaya dengan suara yang agak pelan.

Tojiro memejamkan matanya dan seakan mengingat-ingat sesuatu. Ia lalu membuka matanya perlahan.

"Mungkin kau tidak percaya tapi kau sudah membuat orang tua ku terbunuh"

Izaya terdiam, mencoba mempertahankan topeng seriusnya.

"Ah, ah, jangan salah, tapi aku sangat berterima kasih karena itu"tambah Tojiro. "Kau mungkin tidak ingat karena itu sudah lama sekali jadi aku pikir tidak perlu menceritakannya. Yang pasti kau membuatku terbebas dari mereka dan aku bisa melakukan apa saja yang ku inginkan. Aku pun tanpa sadar mulai mengagumimu. Aku belajar banyak hal darimu sehingga aku bisa sukses seperti sekarang. Lalu rasa cintaku terus bertumpuk dan aku pun tidak bisa menahannya lagi. Jadi aku memutuskan untuk memilikimu seutuhnya"

Tojiro mengisyaratkan Jill untuk membawa Psyche keluar. Jill pun mengangguk dan menggendok anak kecil di pangkuannya dan membawanya ke dalam lift. Sontak izaya berdiri.

"MAU KAU APAKAN PSYCHE?!"teriak Izaya. Perutnya langsung berdenyut karena gerakan tiba-tiba yang ia lakukan, membuat Izaya sedikit meringkuk menahan sakit. Tojiro melangkah santai mendekatinya dan memeluknya dari belakang.

"Psy…che…urkh"

"Tenang saja, Izaya. Mungkin dia anak dari benih Shizuo, tapi dia mirip denganmu jadi masih ada ruang untuknya di hatiku. Meskipun aku tidak akan mencintainya"jelas Tojiro sambil mengecup pipi mulus Izaya. Tangannya membelai perut Izaya dan ia pun mendekatkan bibirnya di telinga sang informan.

"Nah, sekarang, setelah kau berada di genggamanku, bukankah akan lebih baik jika kita mulai malam pertama kita?"

Izaya berjengit dan segera bergerak menjauh dari Tojiro. Namun Tojiro berhasil menariknya dan merebahkannya ke atas sofa. Tidak peduli dengan Izaya yang meronta di bawahnya, Tojiro melepas baju Izaya satu per satu. Ia juga tidak segan merobek atasan Izaya.

Lidah Tojiro kemudian bergerak menelusuri leher Izaya, kemudian beralih ke pundak sang informan, hingga akhirnya bibirnya sampai pada puting Izaya yang ranum dan merah muda. Tojiro menangkap lengan Izaya yang hendak memukulnya dan segera mengikat kedua lengan Izaya dengan dasinya. Ia lalu melanjutkan aksinya dengan mengulum, menggigit, dan sesekali menarik puting Izaya, berharap ada sesuatu yang keluar dari sana. Izaya menggigit bibirnya, menahan eluhannya.

Dan saat Tojiro mulai menggigit sekaligus menarik puting Izaya, cairan putih keluar, menyentuh indra perasa Tojiro.

Tojiro berhenti dan mengusap sudut bibirnya yang basah dengan ibu jarinya.

"Hm? Apa ini~?"

Izaya memerah merasakan sesuatu yang basah di dadanya.

Tidak mungkin!

"Apa ini air susu?"tanya Tojiro menggoda. Ia lalu mengulum puting Izaya kuat, membuat cairan putih keluar semakin banyak di mulutnya. Tanpa sadar Izaya melenguh meski tertahan. Jemari-jemari Izaya meremat permukaan sofa di atasnya.

"Sudah ku duga rasanya akan sangat manis. Mungkin akan jadi ide bagus jika kau menyuguhkannya untukku setiap sarapan~"puji Tojiro sambil memelintir puting kiri Izaya. Membuat Izaya berjengit.

"Now…It's fun time~"siul Tojiro yang mengeluarkan kejantanannya

dan menempelkannya di lubang Izaya.

Izaya membulatkan matanya.

Tidak.

Tidak!

Tidak! TIDAK!

"HENTIKAN! APA PUN KECUALI ITU! KU MOHON!"jerit Izaya. Alarm berbunyi nyaring di kepalanya.

Ia tidak bisa membarkan Tojiro menyetubuhinya saat ia dalam kondisi hamil tua seperti ini!

"Aah…tenang, tenang~ Ini hanya akan terasa sakit sedikit, tapi akan menakjubkan setelahnya. Aku akan membuatmu mendesahkan namaku berulang-ulang, meminta lebih dan lebih. Jadi jangan bergerak"ucap Tojiro enteng lalu mulai memasukkan bagian kepalanya. Izaya menatap Tojiro ngeri.

"JANGAAAANN!"

TRUST!

"AAARRGH!"

Air mata sukses meluncur dari sudut mata Izaya.

Berakhir sudah.

"Aaah…Sudah ku duga. Rasanya sangat nikmat berada di dalammu. Tidak ada yang bisa menandinginya…"desah Tojiro, menikmati dinding Izaya yang kini memijat seluruh kejantanannya.

Izaya menutup kedua matanya dengan kedua tangannya yang terikat. Tangisnya perlahan terdengar.

Tojiro terdiam. Wajahnya berubah menggelap.

Ia mengusap air mata di pipi Izaya.

"Maaf, Izaya. Tapi aku harus melakukan ini.

Untuk menghapus jejak-jejak yang ditinggalkan Shizuo. Agar kita bisa menyatu.

Kau adalah milikku"

Izaya memejamkan matanya.

Satu nama yang terlintas dalam pikirannya.

Shizuo.


Shizuo berlari menelusuri taman Ikebukuro. Jam menunjukkan tengah malam.

Shizuo merogoh ponselnya dan memeriksa daftar pesan masuknya.

Subject : Shinra

Aku sudah mencari di sekitar Yagiri Pharmacy dan seluruh rumah sakit, tapi aku tidak menemukan apa-apa.

Subject : Celty

Maaf, Shizuo. Aku sudah memeriksa di wilayah Awakusu-kai, tapi tak ada satu pun yang tahu keberadaan Izaya dan Psyche. Aku akan mencari di sekitar Raira.

Subject : Kadota

Mereka berdua tidak ada di daerah Kabukicho.

"AAAAARRRGGHHHHH!"

Shizuo mendudukkan dirinya di salah satu bangku taman dan menjambak dirinya sendiri. Rasa frustasi menggerogotinya. Dia sudah mencarinya ke semua tempat. KE-SE-MU-A-TEM-PAT! Tapi tak ada tanda-tanda sedikit pun akan keberadaan istri dan anaknya.

Shinra, Celty, Kadota, anak-anak Raira, bahkan sampai yakuza pun tidak menemukan Izaya dan Psyche.

Bagaimana jika Izaya dan janinnya dalam bahaya? Atau Psyche? Keduanya?!

Tiba-tiba, wajah Tsugaru yang menahan tangis berkelebat di pikirannya.

Shizuo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia gigit bibir bawahnya hingga berdarah.

Seharusnya ia tahu ini semua akan terjadi! Sejak surat peringatan dan tembakan itu, ia seharusnya bersiap. Apa ia benar-benar sangat tidak berguna? Apa yang salah dengannya? Ia adalah sosok ayah yang seharusnya melindungi keluarganya dari bahaya apa pun. Tapi apa?! Ia bahkan tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkan keluarganya.

Shizuo berdiri dan melanjutkan larinya. Kali ini ia akan menelusuri jalur menuju Shinjuku.

Hingga akhirnya ia terpaku.

Di depan sebuah bangunan pencakar langit selembar kertas tenggelam dalam genangan air.

Shizuo mendekati bangunan itu dan mengambil kertas yang cukup lebar itu.

Detik kemudian…

Matanya membulat.

Sebuah gambar.

Dan ini bukan sekedar gambar biasa.

Gambar yang penuh warna dan ada banyak wajah yang ia kenal. Termasuk wajahnya.

GAMBAR MILIK PSYCHE!


Kenapa author gak update satu tahun?

Jawabannya hanya satu.

LAPTOP, ATAU LEBIH TEPATNYA NOTEBOOK, SATU-SATUNYA YANG DIMILIKI AUTHOR YANG MISKIN INI, YANG TELAH BERTAHAN SELAMA 7 TAHUN, DARI ZAMAN SMP KELAS 1 SAMPAI BARU DAFTAR PERKULIAHAN, RUSAK TOTAL.

Walhasil author harus merelakan kehilangan chapter yang sudah disiapkan, menabung (atau lebih tepapnya ngutang keluarga) 10 juta, beli laptop, dan terpaksa memulai dari awal dengan ingatan yang rada samar (karena bodohnya saya gak simpen di gugel drive).

Kenapa saya beli laptop tapi setelah dapet di akhir tahun gak update-update juga? Ahahaha… KARENA SAYA KULIAH DI SEKOLAH TINGGI ILMU KOMPUTER, BABY! AHAHAHAHA! Yap, author sudah masuk kuliah, musti belajar ngoding dan tetek bengeknya, dan akhirnya saya jadi super sibuk. Ditambah sekarang sudah semester dua, tambah puyeng ToT (dan lagi saya murni anak SMA dan IT-nya belajar MS Word doang sampe lulus. Masuk kuliah cuma bisa plonga-plongo. Pengetahuan author tentang RPL, TKJ, dan MM cetek sumpah!)

Jadi maaf ya karena gak update. Benar-benar author minta maaf.

Dan mohon ijinnya, untuk saat ini mungkin update chapter selanjutnya juga akan memakan waktu sangat lama dikarenakan author masih sangat buntu karena sudah lama gak mengerjakan fanfic ini.

Tapi sebagai gantinya, author sudah menyiapkan fanfic durarara baru berjudul "Houseki no Kuni"! Yep, untuk sementara author refreshing dengan fokus pada fanfic baru ini, meskipun updatenya sebulan sekali karena author juga harus fokus kuliah. Plus, author sudah membuatkan instagram untuk kalian yang pengen lihat fanartnya dan fanart fanfic author yang lain (ASLI BUATAN AUTHOR). Instagramnya khusus untuk readers dan fujoshi/fudanshi jadi author privat. Jika mau follow, silahkan DM author dan author akan langsung follow balik kalian ^v^

Ig : mynamenichi

Sampai jumpa di chapter berikutnya. Keep RnR, Ripiu, Fav, Follow!