GESTALT

Chapter2

Disclaimer: Naruto and all the origin character are Masashi Kishimoto's, the story is mine.

Hinata keluar kelas dengan senyum mengembang. Ia menjawab semua bagian kuisnya dengan sempurna, bahkan menyapu hampir 75% pertanyaan yang diajukan dosen untuk kelas. Tentu saja, dia belajar semacam mau ujian masuk surga dan neraka. Padahal hanya kuis yang bobot penilaiannya tak lebih dari 20%. Ia menikmati wajah kagum teman sekelas, berusaha merasakan sedikit yang dialami Neji sepanjang hidup. Melihat bagaimana orang terlongo, gelap yang bergelayut di kantung matanya terbayar lunas.

Victory loves preparation. Mumpung masih di awal semester, Hinata semangat mengumpulkan impresi bahwa dirinya dependable. Sebab, di dunia yang artifisial ini, hanya orang hebat yang selalu dianggap. Jika tidak bisa hebat secara harfiah, maka ia tak segan mencitrakan diri untuk itu. Picik, siapa peduli? Yang penting bukan culas.

"Hinataaa… tolong aku." Seseorang berperawakan langsing meneriaki Hinata dari belakang. Ino Yamanaka namanya. "Aku nggak paham dengan tugas tadi. Jadi kita disuruh mengambil kasus kepribadian dan dianalisis menggunakan suatu teori?"

Ino kembali melanjutkan setelah dijawab dengan anggukan. "Tapi kita belum dapat teori apa-apa. Teori kepribadian baru semester dua nanti. Gimana cara menganalisisnya?"

Pesan Neji terngiang di benak Hinata. Kuliah itu tidak setekstual akademik sekolahan, mahasiswa boleh meneliti seenak pusar asalkan menggunakan teori yang relevan dan deskripsi mantap. "Aku juga kurang paham. Nanti kita lihat saja paper di perpustakaan, banyak buku juga. Justru bisa explore semau kita, toh dosennya tidak memberi arahan jelas. Kalau disalahkan bilang saja tidak dikasih instruksi."

Wajah Ino tertekuk kesal. Wajar jika Hinata mengentengkan, dia sudah pintar. Sementara ia harus berbuat apa saja tidak tahu. "Misalnya kayak gimana deh? Kasus kepribadian itu seperti apa?"

"Ya apa saja. Setiap manusia kan punya masalah, nah… ambil yang terdekat. " Hinata mengetuk-ngetuk bibir. "Aku sih mungkin yang menarik perhatianku saat ini. Seputar sikap playboy, pengaruh kata-katanya atau tipikal karakter yang membuat perempuan bertekuk lutut. Well, agak aneh dan memalukan sih. Tapi menurutku tetap masuk akal kalau dikaji."

"No!" seru Ino. "Itu brilliant Hinata. Apalagi kalau yang memaparkan kamu. Uhmm.." Sambil garuk-garuk kepala ia meneruskan. "Tapi apanya yang aneh? Memang karakter playboy kan seperti itu."

"Iya, tapi kita cari juga variabel bebas dan terikatnya. Itu pasti berpengaruh. Misalkan, okelah kalau si playboy ganteng, wajar perempuan jatuh cinta. Tapi tergantung juga, media massa sekarang baik literature, film, sinetron, semua… nyaris mewacanakan bahwa bergaul dengan badboy itu keren, perselingkuhan terampuni dan bla bla. Baca deh fiksi yang bertebaran di internet, di luar plot yang sangat menarik, banyak nilai yang sebenarnya menyedihkan. Betapa banyak relationship toxic kayak cowok abusif yang terampuni, mewajari kekerasan karena masih punya cinta. The hell… itu semua nggak mudah di dunia nyata, kecuali kita mau jadi budak cinta." Hinata menghela nafas. "Kalau pikiran bawah sadar dijejali hal sama terus-menerus, ditakutkan kita menganutnya sebagai kebenaran. Padahal, harapan bahwa kita bisa mengubah pasangan itu bullshit. Manusia akan berubah hanya jika dirinya ingin dan harus."

"Tunggu-tunggu.. apa kaitannya sama tugas tadi?"

"Oh ya jelas berkaitan. Tujuan penelitiannya nanti agar para pembaca bisa mengetahui stereotipikal yang harus dihindari, objeknya tetap lelaki playboy. Kalau permasalahan media nanti dimasukan latar belakang masalah saja. Pasti ada perempuan yang cukup sadar bahwa media itu toxic, jadi dia sudah membentuk self defense terhadap karakter playboy."

"Ya ampun, detail sekali." erang Ino frustrasi.

Hanya senyum kecil yang mampu Hinata tunjukkan. Meski ambisius dan gila kekaguman, ia paham betul perasaan Ino. Mereka setaraf, hanya saja Hinata berlari sebelum teman-temannya membuka pintu. Ia meratapi kebodohan selalu duluan, di kamar pribadi dan bayang-bayang nama Hyuuga.

Keduanya berjalan menuju pintu keluar fakultas, berniat mencari referensi di perpustakaan universitas. Jika buku sudah di tangan, eksekusi akan senyata bilangan waktu di ruang belajar. Hinata juga sudah tahu pasti objek penelitiannya. Tinggal membuat outline dan mengumpulkan keberanian memulai.

Beberapa langkah sebelum mencapai gerbang, retina Hinata menangkap sosok familiar. Dia tampak santai, terlalu santai untuk mahasiswa. Matanya berbinar saat berinteraksi dengan lawan jenis, sangat passionate. Memandang sekeliling, Hinata berharap suasana ramai mengalihkan perhatian Naruto. Ia tak ingin berbasa-basi busuk dengan para senior. Maka Hinata berjalan pelan sambil merapal doa tak terlihat.

"Hinata!" Pekik Naruto.

Sial, doanya langsung tak terkabul. Let's meet the culprit then.

###
Matanya yang bening menatap langit-langit kamar. Sampai detik ini masih belum percaya, ia sedang mengumpankan diri pada marabahaya. Tadi siang, komitmen dengan Naruto tersegel, mereka pacaran. Oh tidak, entah Hinata sadar penuh atau sedang dihipnotis. Jelasnya, ketika pandang mereka bertemu, Hinata seperti menghilang ke dunia yang hanya dihuni berdua saja. Terkadang Naruto menatap intens, membuatnya sulit bernafas sekaligus berdebar karena merasa diinginkan. Hinata tahu ini buruk. Symptoms jatuh cinta mengaburkan batas objektif.

Hal terakhir yang Hinata inginkan adalah memberikan hati lalu disakiti. Ya, dia pengecut, memimpikan berlayar tetapi takut gelombang. Sebab, hatinya memang hanya satu. Sejauh Ia amati, sebenarnya perilaku patah hati bukan tentang siapa yang paling salah. Kitalah yang memberikan orang kuasa untuk menyakiti. Memaafkan dan memberi kesempatan cuma-cuma, tetap tinggal dan disuapi kebohongan oleh pasangan. Man… that's the top level of stupidity. No wonder if people say love makes us fool.

Berdasarkan sikap, Hinata menyadari kapabilitas Naruto dalam menaklukkan perempuan. Ibaratnya dalam dunia shinobi, lelaki itu memiliki sharingan yang bisa mengetahui next movement. Hinata tidak jual mahal, dia memang mahal. Tetapi Naruto malah menganggapnya tantangan dan menawarkan kesepakatan.

"Hai Hinata."

Perempuan yang bergerombol di sekitar Naruto menengok. Wajah mereka diliputi tanya yang seketika terjawab begitu Naruto menggandengnya.

"Girls, ini Hyuuga Hinata, adik kawan akrabku. Kakaknya tidak bisa menjemput jadi… here I am."

Kecewa melubangi hati Hinata. Naruto bertingkah seolah ia bukan siapa-siapa, semata adik Hyuuga Neji. Mereka tidak begini ketika berdua.

"Baiklah kalau begitu aku pamit."Sekali lagi, tatapan Naruto mengantarkan Hinata ke dunia berbeda. Sebuah tempat privat di mana tak ada perempuan lain. "Ayo Hinata, motorku di sana."

Mau tak mau Hinata mengamati pria yang menghelanya menuju parkiran. Naruto mengenakan kaos oblong, jeans rombeng dan tubuh bau oli. Bisa dipastikan akan diusir satpam jika berani masuk gedung. Beruntung parkiran terpisah jauh dari tempat kuliah.

"Kakak apa tidak ada baju lain?" tegur Hinata saat Naruto menganggsurkan helm.

Lelaki itu malah tertawa. Hinata dan lidahnya, adalah dualitas yang sering mengejutkan. Sesaat tampak mendambakan Naruto, sedetik kemudian mengajukan tanya yang sama sekali tak santai.

"Tidak ada, Hinata. Aku baru dari bengkel."

"Memangnya ada apa di sana?"

Hinata terdengar seperti adik kecil tak sabaran yang bertanya menuntut. Naruto suka, perempuan ini memunculkan tendensi dalam dirinya untuk bersikap gentle. Hal yang tidak dilakukannya pada perempuan lain. Baiklah, ada satu yang ia perlakukan lembut melebihi apapun.

"Ada uang. Aku bekerja di sana karena tidak ada orang yang mau menghidup anak yatim-piatu berusia 25 tahun."

Nafas Hinata tercekat, jadi Naruto yatim-piatu? Dia terlihat terlalu bahagia untuk itu.

"Tidak usah kaget begitu. Aku yatim-piatu sejak bayi. Jadi rasanya aneh memiliki orang tua."

Bukannya menghibur, kalimat Naruto malah membuat Hinata semakin merasa bersalah. Apakah ini salah satu penyebab seseorang haus perhatian? Tidak heran, Naruto nampak bagai attention whore.

Tak langsung pulang, Naruto mengajak ke kafe dekat kampus. Sebuah tempat ngopi mewah yang pengunjungnya banyak bermobil. Hinata sendiri belum pernah ke sana. Hidup jauh dari orang tua membuatnya harus seirit setan. Begitu masuk, kemewahan menyambut mereka, mewah nyaman yang tentu saja tak murah. Tapi Naruto tak peduli, tubuh bau olinya melenggang PD ke counter. Ia malah senang jadi pusat perhatian, seolah ingin mempecundangi tempat ini.

Mereka duduk dekat jendela. Hinata lebih suka jika Naruto duduk di sampingnya, tapi kini mereka berhadapan. Posisi ini seolah keduanya sedang pamer ekspresi.

"Jadi gimana? Kuisnya sukses?"

Naruto sama sekali tak kesulitan membuka obrolan, seakan ia belajar seribu tahun untuk itu. Bagaimana seseorang begitu santai, padahal dirinya seperti teka-teki gelap penuh masalah?

Hinata mengangguk, kemudian… tidak ada. Ia tak tahu harus bicara apa.

"Kamu tegang sekali, Hinata. Santai saja. Anggap aku Neji."

Oh… Naruto tahu ia tak nyaman. Menganggapnya Neji? Yang benar saja. Kakaknya tak pernah mengajak ke kafe mewah begini, apalagi mengunci pandang seperti predator terhadap mangsa.

"Senangnya di fakultas psikologi, mahasiswinya cantik-cantik. Di teknik, perempuan bisa dihitung jari, lebih sedikit lagi perempuan cantik."

Salah satu yang Hinata herankan dari laki-laki. Mereka tidak repot-repot menyembunyikan ojektivikasi pada perempuan, ketika bicara pada perempuan.

"Lalu kenapa kuliah di teknik?"

"Kenapa ya?" Naruto mengangkat bahu. "Tadinya aku berpikir membuka usaha onderdil tapi kuliah di teknik mesin bukan tentang itu."

"Hinata sendiri kenapa masuk psikologi?"

Ia sudah menghadapi pertanyaan ini puluhan kali dan akan menjawab sediplomatis mungkin. "Aku suka mempelajari kejiwaan manusia."

"Oh ya? Kalau begitu coba baca bagaimana kejiwaanku." Tantang Naruto.

Keduanya berpandangan, kelabu dengan biru. Orang bilang mata adalah jendela jiwa. Hinata mencoba fokus… tapi oh, ia melengos. Tatapan Naruto terlalu memberangus.

"Di pskilogi ada yang dinamakan anhedonia, yaitu ketidakmampuan merasa senang. Apakah kakak pernah mengalaminya? Sebab kak Naruto terlihat seperti orang serampangan yang berbuat semaunya dengan hidup. Mencoba apa-apa yang sekiranya mengisi kekosongan. Tapi tidak ada. Hati kakak hampa. Di akhir hari, kakak akan kembali sebagai orang kesepian karena tak satupun mengerti. Bahkan kakak sendiri pun tidak. Sesuatu pernah terenggut dan kakak berpikir sudah selesai, tetapi nyatanya belum. Yang kakak lakukan selama ini adalah berlari, menjauhi masalah dan menutupi diri kakak yang asli. Kak Naruto berganti perempuan untuk mendistraksi. Orang-orang berpikir kakak badboy dan suka menyakiti banyak hati. Tapi tidak, kakak hanya menyedihkan."

Pernyataan Hinata membungkam Naruto. Lagi, dan entah akan berapa kali, dirinya dibaca secara telanjang. Dimengerti, sampai taraf Naruto sendiri tak paham. Hinata menyuarakan blunder yang sulit diurai.

"Sughoiii..." seru Naruto seraya tepuk tangan. "Kamu membacaku seperti buku. Hinata, aku bisa bicara dengan ratusan orang, tapi rasanya tak terbandingkan dengan satu kalimat darimu." Ungkapnya jujur.

"Mungkin karena orang lain tidak sungguhan mendengar. Aku hanya mengamati dan menebak saja, kak."

"Good job. Kalau Hinata jadi psikolog nanti, aku mau daftar jadi pasien pertama."

"Boleh." Hinata merenung singkat. "Tapi memangnya kakak sakit apa?".

Oh crap. Senjata makan tuan. " Hmm.. Secara spesifik tidak sakit. Tapi kalau jatuh cinta padamu dianggap sakit, well, aku terluka parah."

Dengusan keras Hinata membuat Naruto terbahak. Tingkah Hinata, ucapan yang bijak, reaksi malu-malu, usahanya untuk terlihat tenang, entah kenapa menariknya seperti magnet.

"Maaf kak, Hinata mau tanya. Kenapa kak Naruto suka gombal? Maksudnya, untuk tujuan apa? Apa semua perempuan diperlakukan seperti ini?"

Tajam dan menusuk. Ucapan-ucapan Hinata akan mengorek lawannya tanpa ampun. Naruto berani bertaruh, perempuan ini akan memahami dirinya utuh dalam beberapa pertemuan.

"Kamu sudah tahu, Hinata. Aku memberitahu setiap saat bahkan. Aku ingin kita pacaran."

"Why me?"

Naruto juga tidak tahu kenapa. Sekarang ini, berdekatan dengan Hinata bukan tentang menjajal kesempatan. Melebihi itu, aksi simpel perempuan Hyuuga di depannya priceless dan tak terganti. Siapa tahu Naruto jatuh cinta sungguhan, dan ia akan mempertaruhkan hati, lagi. Maka ia mulai dengan satu kejujuran.

"Aku tidak tahu, Hinata."

"Memangnya apa yang kudapat kalau pacaran sama kakak?" tanya Hinata polos.

"Kita bicara untung-rugi?" Senyum Naruto melebar. "Seperti transaksi saja."

"Interaksi manusia memang transaksi, kak. Memberi & menerima. Kalau mengambil & mengambil namanya eksploitasi."

"Apa ya Hinata. Aku bisa membuatmu jatuh cinta, dan itu perasaan yang indah. Meski untuk itu kamu harus memberi sedikit kepercayaan padaku."

"Tapi aku jelas tak percaya pada kakak." sanggah Hinata.

Raut wajah Naruto meredup. "Aku tahu dan tidak bisa memaksa. Tapi kupikir kamu gadis logis, Hinata. Tidak memperlakukan seseorang berdasarkan label."

"Aku memang tidak seperti itu." Sela Hinata cepat.

"Nah, seperti kamu yang tidak mempercayaiku, aku juga berhak merahasiakan perasaanku padamu. Itu impas. Kita hanya perlu pacaran, saling mengenal, toh dengan kepintaranmu tak perlu lama untuk mengetahuiku luar dalam. Asal kamu tahu saja Hinata, tidak dipercaya adalah hal biasa. Aku pernah mencintai perempuan sampai mau mati, tapi dia malah meninggalkanku karena tidak percaya aku sanggup menentang dunia untuknya."

Hinata membuka mulut akan membantah, namun urung. "I see. Tapi aku mengajukan syarat."

"Syarat?" alis Naruto terangkat sebelah.

"No sex, no cheating."

Naruto tertawa. "Itu sama saja kamu merenggut dunia dariku, Hinata. Tapi baiklah. Jadi bisa aku menyebutmu pacar, sekarang?"

"Ap-apa?"

"Pacar, sayangku." Naruto memonyongkan bibir, membentuk kata muahhh.

Hinata mau pingsan. Jantungnya bersiap meledak oleh debaran aneh. Di sinilah ia, mengikat janji dengan pria paling norak, sekaligus paling bisa merusak pertahanan dirinya.

###

Neji dan sekawanannya, Hinata dan perempuan yang berusaha keras mencari perhatian Naruto, berkumpul di ruang tamu kediaman Uchiha. Mereka menghabiskan malam minggu dengan bermain truth or dare. Selain Naruto dan Hinata, hanya Sasuke yang tahu keduanya menjalin hubungan.

"Sakura, truth or dare." Sai tanggap melihat moncong botol mengarah ke Sakura

"Truth."

"Apakah kamu masih mencintai lelaki blonde si sampingku?" tebas Neji.

Sakura tertawa sambil menutup mulut. "Ya ampun, itu mudah sekali. Jawabannya Ya, ya aku masih mencintainya. Dia ciuman pertamaku dan lelaki pertama yang mengajariku..." melihat kondisi hening, Sakura tidak enak sendiri. Ia berdeham. "Intinya aku masih mencintainya. Tapi untuk kembali bersama, kurasa tidak bisa."

"Untunglah Sakura, aku juga tak ingin kembali padamu. Tapi kalau kamu butuh bersenang-senang, aku masih available." Naruto mengedipkan sebelah mata, tanpa siapapun sadari ia mengambil tangan Hinata cepat dan menggenggamnya di bawah meja.

Hinata berusaha menarik tangannya karena sebal dengan ucapan terakhir Naruto. Sayang lelaki itu malah menggenggam erat, mengelus permukaannya dengan jempol. Alis Hinata berkerut menatapi pacarnya.

"Ekhemm, Hinata. Apa yang kamu lihat dari si baka itu?" Sai mulai menggoda.

Senyum miring menghiasi wajah Naruto. "Hinata memperhatikanku? Ah ya ampun aku tersanjung. Hey Neji, nikahkan kami langsung!"

Para lelaki beramai-ramai menoyor Naruto. Sementara Sakura memutar bola mata, lalu tersenyum melihat kekonyolan sang mantan. Pandangannya bersirobok dengan Hinata, keduanya melengos seketika. Ternyata aneh juga duduk semeja dengan mantan pacar pacarmu. Hinata mulai memahami orang-orang, rasanya seperti diawasi senior. Secara teknis Sakura tahu lebih banyak, baik psikis maupu fisik yang sejauh mana Hinata tidak ingin tahu. Mengetahui ada orang yang sudah pernah berbagi hati, terasa menyebalkan. Seolah pacarmu tidak dimiliki secara eksklusif.

"Oke, sudah sudah. Bisa kita lanjutkan permainan?" usul Sasuke.

Botol kembali berputar, kali ini berhenti tepat di depan Naruto. Semua tersenyum licik, saatnya mengebiri si kambing hitam.

"Enaknya apa ya?" ujar Sai mengger-gerakkan alis.

"Aku pilih truth." Naruto tangkas. "Dan kebenaranku adalah ada perempuan yang sangat kusukai di ruangan ini selain Sakura." Ia mengutarakan dengan seringai andalan.

Neji dan Sai saling memandang, Enak saja, Naruto bukannya dikerjai malah menggunakan kesempatan itu untuk tebar pesona. Neji melirik sang adik yang bersemu merah, tidak boleh. Naruto bisa bermain dengan siapa saja tapi bukan Hinata.

"Pembual, kau mengatakan itu setiap saat tapi tidak serta merta jadi kebenaran." Sengit Neji. "Ganti!" tuntutnya.

"Dare." Tantang Sasuke. "Katakan kebenaranmu yang paling brutal."

"Bodoh, itu sama saja truth." Teriak Sai.

Sakura menyadari sesuatu, "tunggu-tunggu, karena pada dasarnya Naruto tidak bisa dipercaya, maka ya, itu dare. Harus jujur, kalau tidak kusumpahi kau merana sepanjang masa."

"Kusumpahi kau impoten." Neji kegirangan.

Sai membuka mulut tapi dipotong Naruto, entah kenapa ia merasa perlu mendengar Hinata lebih dari siapapun. "Kalau kamu, apa sumpahmu untukku Hinata?"

"Hmm…" Hinata berpikir. "Mungkin hanya tidak akan mempercayai kak Naruto selamanya."

Cuma? Pegangan Naruto pada tangan Hinata mengerat. 'Hanya tidak akan mempercayai selamanya', oh… itu hukuman terberat. Ia pernah mendengar jika ingin dipercayai, maka seseorang harus jujur. Tapi kejujurannya kali ini mungkin menghancurkan tunas-tunas kepercayaan Hinata yang baru tumbuh. Padahal, jika ada satu perempuan yang cukup mencintainya dan percaya, Naruto akan mengabdikan diri.

"Bisa diganti yang lain?" usul Naruto.

"Tidak, dare haruslah sesuatu yang menantang." Tukas Sai.

Naruto menunduk, merasai tangan Hinata yang hangat digenggamnya. Kehangatan yang mungkin segera menarik diri.

"Ada seseorang yang masih kucintai, dan… dan mungkin selamanya memiliki tempat di hatiku."

Sesuai dugaan, Hinata berusaha melerai tangan mereka. Tetapi Naruto sigap mengencangkan pegangan, bahkan membawa semakin dekat ke arahnya. Dielus halus permukaan tangan itu, sebagai maaf tak terucap. Ada hal-hal di diri Hinata, yang membuat Naruto takut sekadar bermain-main, dan entah kenapa, ia peduli bagaimana perempuan itu memandangnya.

Keheningan merebak. Inilah Naruto, si playboy cap kucing yang jati dirinya selalu dipertanyakan, tiba-tiba mengakui hatinya tertambat erat. Ironi tingkat dunia.

"Apa? Aku sudah jujur."

Sakura yang berekspresi sendu menggeleng. Sisanya tenggelam pada pikiran masing-masing, dan untuk pertama kali, mereka ingin botol segera diputar. Selain Hinata, semua jadi yakin bahwa di dalam sana, Naruto masih demikian terluka.

"Oke. Putar botol." Perintah Sai.

Sasuke memutar botol kelewat cepat. Seperti yang lain, ia berharap canggung ini segera bergulir. Sayangnya si botol memutuskan mengambil peran berlebihan, badannya bergerak melingkar, cepat, kemudian…

Brak!

Jatuh di pangkuan Hinata.

"Heh teme, kau tidak niat ya!" Bentak Naruto.

Justru lantaran terlalu niat, motorik Sasuke bekerja ekstra. Hinata mengangguk maklum, meski tangan kirinya terasa kebas dihantam botol keras. "Tidak apa, kak."

"Oke, Hinata, truth or dare?" tanya Sai lembut.

"Jangan caper, ingus!" Naruto.

Tanpa memusingkan Sai yang mendelik, Hinata memutuskan. "Dare."

"Whoaa." Seru Neji. "Saudara-saudara, kuperintahkan kalian untuk diam. Dia baru delapan belas tahun. Biar aku yang memberikan dare."

Sai menoyor Neji, jengah terhadap Neji yang sering menyikapi Hinata bak anak bayi. "dia di umur yang legal, bodoh."

"Gombali lelaki di sini yang kau pikir paling layak dijadikan pacar."

Sasuke menyabet kesempatan mengerjai Hinata dengan cepat. Semua terkaget-kaget namun setuju, Uchiha bungsu ini memang memiliki malaikat dan iblis dalam dirinya. perpaduan yang bikin merinding.

Naruto tersenyum karena yakin bahwa Hinata akan menggombalinya. Sebuah kemewahan bisa digoda bocah lulusan SMA.

"Sebenarnya tipe idealku minimal seperti Kak Neji." Yang namanya disebut menganggut-anggut setuju, merasa tersanjung. "Tapi karena itu tidak mungkin. Jadi…"

"Kak Sasuke…"

Semua ternganga, Naruto terkena serangan jantung.

"Apa kakak punya peta? Soalnya aku selalu tersesat di dalam matamu." Hinata mengedipkan sebelah mata, berusaha genit.

"Hahahhahahhaahah" Tawa Neji dan Sai bergema.

"Ya ampun Hinata." Sakura tepuk tangan. "Kau berbakat. This is it, the newborn of moe."

"Aku tidak membayangkan itu. Tapi, Hinata, terima kasih." Sasuke tertawa, merasa seperti digoda anak TK. Dalam hatinya berharap, hati lain cemburu atas ungkapan Hinata.

"Astaga, ini memalukan sekali." Hinata menutup wajahnya.

Permainan berlanjut, terus berputar sampai Neji, Sasuke dan Sai mendapat giliran. Atmosfer hangat memeluk mereka, saling menggoda, terkadang pula menyembunyikan hati atau memberi tanda yang berharap dibaca. Di antara semua, hanya Naruto yang diam seperti terpukul.

###
Hinata menatap malas piring yang berserakan. Bukan lantaran jumlahnya yang tak wajar, melainkan karena keharusan bersama dengan Sakura beberapa menit ke depan. Patriarki mencampuri terlalu banyak urusan dalam hidup, bahkan soal beres-beres. Keduanya terpaksa mengalah sebab para lelaki sepakat menunjuk perempuan untuk mengurus kekacauan di dapur.

"Jadi kalian pacaran?" Sakura membuka obrolan. "Tidak usah terkejut begitu. Kan tidak ada teman yang saling menggenggam tangan di bawah meja."

Tak ada suara, Hinata malas menjelaskan hal yang sejatinya tak perlu konfirmasi. Terlebih, Sakura nampak tak suka.

"Aku hanya memberi saran. Jangan bertingkah seperti queen, dalam sebuah permainan nasibnya akan berakhir di tangan joker. Naruto itu definisi joker sejati."

"Kenapa kak Sakura memberitahu ini?" Hinata belajar untuk peduli pada substansi perkataan, bukan yang mengatakan.

"Hanya belajar dari pengalaman. Aku tak bermaksud menjelek-jelekkan Naruto. Hanya, dia lebih dari mampu membuat seseorang merasa dicintai, lalu meninggalkannya seperti sampah."

Nafas Hinata tercekat, reflek pandangannya mengarah ke Naruto yang sedang dipukuli bantal oleh Neji. "Usia kami terpaut jauh. Mungkin juga kak Naruto tidak benar-benar serius." Hinata menyerah dan mengatakan pendapat sesungguhnya.

"Oh dear jangan berkata seperti itu. Jika kamu mampu membuatnya tinggal, itu keuntungan besar. Naruto pria yang manis, meski norak, absurd, sulit dimengerti, baka dan berantakan."

"Meski-nya banyak sekali." lirih Hinata.

Sakura tertawa, "kalau dipikir-pikir memang banyak buruknya. Tapi pernah nggak kamu merasa kalau sikap-sikap tadi cuma kamuflase. Naruto menyembunyikan dirinya yang asli. Dulu aku berpikir begini…" Sakura menyejajarkan tiga gelas. "Di tengah adalah Naruto sesungguhnya. Yang bawah ini ego, dia memang dan jarang mengecewakan di dalam hubungan. Egonya kecil. Nah, gelas paling besar ini merupakan bayang-bayang. Selama berpacaran, bayangan ini akan menaungi kalian. Kita akan bersaing dengan sesuatu yang sejatinya tidak ada, tapi Naruto terikat kuat dengannya."

Hinata kembali melirik Naruto yang ternyata tengah menatap intens. Lelaki itu berjalan ke arah dapur. Lensa birunya berbicara dalam bahasa yang ia simpulkan sebagai rasa ingin tahu. Hinata sering takjub, bagaimana warna mata langka tersebut menjadi bipolar. Terkadang jenaka dan damai, suatu saat bisa tajam dan kejam. Ia tak tahu mana yang di sana ketika Naruto menjadi diri sendiri.

"Wahai ibu-ibu, kalian arisan tekun sekali. Sakura, kau tidak mengajari Hinataku jadi agresif kan?"

"Cih Hinatamu." Sakura memutar mata. "Nih bantu pacar kecilmu. Dasar phaedopil." Serbet dilemparkannya ke dada Naruto.

Naruto beralih pada Hinata yang sibuk dengan piring-piring di depannya. Ia berinisiatif menumpukan kedua tangan di counter, menghimpit tubuh Hinata dari belakang.

"Apa yang Sakura bicarakan tadi?"

Kelembutan nada bicara Naruto mengirimkan getar. Lembut tapi dingin, tenang namun mengancam.

"Bu-bukan apa-apa."

"Kalau bukan apa-apa kenapa tegang begini." Naruto mengecup telinga Hinata.

"Bukan apa-apa karena aku menganggapnya begitu. Mungkin semacam testimony dari bekas pacar. But I don't treat people based on someone else's judgement, remember?"

"Glad You know."

Nada bicara Naruto berubah ceria dalam sekejap, sanguinis ekstrim yang mudah berganti mood. Kebanyakan berpikir sanguine seperti Naruto mudah ditebak, wajahnya adalah gelaran ekspresi yang senada dengan kata-kata mereka. Namun, sebagai introvert, Hinata kesulitan menyamai tempo bersikap kekasihnya. Ia mencurigai tak adanya filter dalam gaya bicara Naruto, alias bertindak sebelum berpikir. Si blonde ini tak memusingkan efek apa yang mungkin ditimbulkan kata-katanya. Sedangkan introvert mengambil hati semua yang tertuju padanya. Hinata berusaha memahami ini. Tetapi ia tak mengerti, manakah di antara semua kalimat yang Naruto menyertakan hati? Segalanya tampak sama, entah dengannya atau perempuan lain.

Diam-diam Hinata merasa dipermainkan.

TBC