GESTALT
Chapter 3
Disclaimer: Naruto and all the characters are Masashi Kishimoto's, the story is mine.
"Anhedonia."
Bocah kecil itu mendiagnosisku dengan istilah antah berantah. Persis Neji, jenis manusia judgmental yang herannya mudah diterima. Di sisi mereka, logika mengalahkan rasa dalam hal penghakiman. Cara berpikir deduktif sepertinya mengalir dalam genetika Hyuga.
Sejak awal, Hinata telah memperlihatkan citra itu. Dia berbeda. Usia boleh muda, tetapi pembawaan, bahkan cara bicaranya jauh dari remaja kebanyakan. Delapan belas tahun adalah umur ketika seseorang merasa mampu melakukan apapun. Aku menyaksikan orang-orang pada umur itu nampak bernergi, memancarkan semangat bergelora. Namun, Hinata lain, seolah ia lahir dengan pemahaman tentang realita. Perkataannya kukuh bermakna, seperti pertapa tua yang banyak makan asam garam kehidupan.
Padanya, aku mencoba bermain trik. Cara-cara usang menarik perhatian semacam kontak mata kulakukan. Perempuan lemah dengan ini, mereka pikir lelaki yang memandangnya fokus berarti jatuh cinta. Well, tidak sepenuhnya salah, tetapi keliru jika lelakinya aku. Uzumaki Naruto ini, suka sekali melihat umpannya termakan, kemudian si mangsa salting tak karuan. Hiburan favoritku adalah hal-hal flirty yang beresonansi menjadi pipi merah semu, menundukkan pandang serta perempuan yang mengambil hati setiap ucapan. Lalu Hinata datang menghancurkan semua. Dia tidak memalingkan muka jika aku merayu lewat mata. Malahan, membalasku dengan tatapan penuh tanya.
Dia tidak secara spesifik drop dead gorgeous, kulitnya bahkan terlalu pucat, juga bukan perempuan sempurna dalam berpakaian, apalagi socially butterfly yang mudah menarik perhatian. Segala tentang Hinata biasa-biasa saja, untuk sekali pandang. Dia seperti permata mentah, kau perlu melihatnya lagi dan lagi untuk yakin betapa ia indah dan langka. Hobinya adalah mengenakan baju longgar, aku sering curiga itu baju Neji. Dan yang paling kupuja, adalah lesung pipi dalam di sebelah kiri. Lantaran jarang tersenyum, kejadian lesung pipi itu sejarang periode Komet Halley.
"Tangan kak Naruto besar sekali." Hinata menumpangi telapak tanganku yang membuka. Ia tertawa kecil melihat tangan kami yang ukurannya berkebalikan.
Seiring tawa, perlahan sesuatu muncul di pipi kirinya. Lesung yang dalam, dan wajahnya puluhan kali lebih cantik. Dorongan untuk mencium pipi Hinata mendesakku.
CUP.
Kami terdiam, sesaat tenggelam dalam kecanggungan. Wajah Hinata memucat, pucat yang mengatakan bahwa perbuatanku salah. Terang saja, selanjutnya Hinata memukul bahuku keras.
"Kakak apa-apan sih!" Ia menggerutu. "Bagaimana kalau kak Neji lihat."
Aku bingung menentukan apakah Hinata polos atau berprinsip, mungkin keduanya. Apapun itu, yang jelas dia seperti Garfield mencoba tegas. Lucu, imut tapi mencoba tegas.
"Seharusnya kamu lebih takut Tuhan daripada Neji, Hina-chan. Lagi pula itu cuma kecupan di pipi, bukan ciuman. Masa aku harus puasa seumur hidup."
Hinata akan membalas, bibir indahnya yang tak pernah kusentuh dengan bibirku, membuka. Tetapi detik selanjutnya ia hanya melempar bantal. Oke, aku dalam masalah besar: kekasihku tak suka dicium.
Awalnya, karena Hinata cuma bocah lulusan SMA, kupikir aku akan diperlakukan sebagaimana biasa. Barisan para mantan, menyikapiku sebagai bad boy yang mereka berharap bisa mengubahku. Secara naif berpikir menjinakkanku, supaya bisa menurut hanya pada mereka. Cih, kekanakkan! Aku justru akan semakin liar, seperti anjing gila yang merepotkan pembawa tali kekang.
Hinata dengan segala anomalinya, memperlakukanku biasa saja. Tidak istimewa tetapi bukan merendahkan. Ia tak masalah diajak ke kedai pinggiran, atau pakaianku yang seperti pengemis dan bau oli. Si kecil ini, secara ironis memberiku sedikit sekali kuasa untuk mendominasi. Hinata membuatku lupa gap usia antara kami. Terkadang, kupikir ia vampir yang tak menua dan membaca pikiran manusia. Sudah sering kukatakan, Hinata membacaku brutal seolah aku telanjang.
"Kak Sakura itu mantan kakak ya? Kenapa tidak cerita?" tanya Hinata pada suatu hari.
"Kamu nggak nanya." Kuperhatikan air muka Hinata tak berubah. Entahlah, aku mengharap sedikit cemburu.
"Mantan kakak kok banyak ya, aku heran."
"Ugh, jahat sekali. Kamu mengherankan kenapa mantanku banyak? Maksudku karena aku tidak tampan?" Ujarku dramatis.
"Bukan begitu." sanggah Hinata. "Cuma… apa sih yang mereka lihat dari kakak?"
Hinata ini aku tahu tipenya, lelaki baik yang cerdas gila-gilaan seperti Neji. Dia memiliki kecenderungan sapio sexual. Aku tak peduli, akan kusingkirkan semua stereotipe pria favorit Hinata, dan membuat tempat sendiri di hatinya.
"Aha, aku tahu! Mereka menyukaiku karena aku charming. Membuat orang jatuh cinta adalah mukjizatku."
Hinata tertawa, lesung pipinya membuat terpana. "Percaya diri ya anda." Tawa singkat itu menghilang, berganti kerutan alis pertanda berpikir serius. "Entahlah, aku juga tidak mengerti. Tapi… kakak itu seperti menyimpan misteri. Seperti ada yang disembunyikan di balik sikap nyleneh kakak. Sedikitnya kakak memuaskan mereka yang haus teka-teki. Untungnya lagi, kakak tidak jelek, sehingga itu menunjang. Jadi…. Apa ya… teka-tekimu itu kak, adalah magnet tersendiri. Kan.. sudah jadi semacam hukum kalau cowok misterius itu menarik. Membuat perempuan bereskpektasi, bagaimana ya rasanya jadi pacar dia? Segala sesuatu jadi lebih menawan ketika kita tidak tahu."
Hinata… Hinata… kamu itu terbuat dari apa? Dia memahamiku sampai ke titik di mana pura-pura menjadi percuma. Aku tidak tertarik gila-gilaan pada tubuhnya, tidak –dia terlalu mentah sebagai wanita. Tetapi, memiliki seseorang yang memahami jiwamu adalah keintiman langka. Dalam hal itu, Hinata merekatkanku serupa lem, dan aku secara konstan terseret ke sumbu atraksinya.
.
.
.
Rumah Hyuuga adalah markas kami, para lelaki kesepian yang suka sesumbar. Tempat ini representatif, terutama, memiliki gadis cantik yang bisa kumodusi. Sayangnya gadis ini pintar dan beriman, kugombali sampai berbusa pun tak memerangkap hati. Jika para lelaki berkumpul, dia menjadi wasit sekaligus pengawas dari segala kegaduhan. Pada waktu-waktu demikian, aku ingin pamer pada semua, bahwa yang sekalem itu adalah pacarku. Pacar Uzumaki Naruto.
Setiap tesis memiliki anti-tesis, begitu pula Hinata, ternyata mempunyai sisi kebalikan. Itu terjadi ketika variabel kuncinya muncul. Hiashi Hyuuga, membuyarkan kesan yang Hinata cipta. Pada kehadirannya yang sangat jarang, ia memperlihatkan diri Hinata yang rahasia.
"Ayah… ayah kenapa pulang nggak ngabari kami?"
Berbanding terbalik dengan Neji, Hinata antusias menyambut kedatangan paman Hiashi. Ia setengah berlari menyongsong sang ayah, berdiri di depan pria tinggi itu bagai Hachiko menunggu tuannya. Namun, aku merasakan kejanggalan ketika Hiashi justru menatapi kami, tak memandang Hinata satu kali pun. Kemudian kekasih kecilku itu tersenyum kecut, seperti merayakan tebakannya yang menjadi nyata. Tanpa meluangkan lirikan, paman Hiashi menuju meja makan yang dihuni Neji, aku, Sai dan Sasuke. Untuk pertama kali aku mensyukuri kebrisikan Sai yang meraja lela, sehingga Hinata yang menunduk sedih tak tertangkap mata siapapun selainku.
"Halo… teman-temannya Neji ya?" sapa paman Hiashi sambil menyalami kami satu persatu.
Di belakangnya Hinata mengekori, kentara sekali mencoba baik-baik saja. Berdasarkan pengalaman hidup, seseorang lebih sering bersikap berlawanan dari dirinya yang asli. Jika aku bertingkah slengean untuk mendistraksi diri dari berpikir terlalu banyak tentang masa lalu, maka Hinata, orang pendiam, seperti menyembunyikan chaos di kepalanya. Laut yang tenang dan dalam lebih berpotensi badai dibanding perairan dangkal.
"Ayah, ayah pasti capek. Mau kubikinkan apa?"
Hinata berusaha meraih perhatian, kali ini ditanggapi paman Hiashi dengan melirik malas. Atensi pria lima puluh tahunan itu kembali pada kami. Sejujurnya aku iri, ingin tahu rasanya diperhatikan Hinata sedemikian intens.
"Tidak usah." Jawab paman Hiashi tanpa menengok.
Suasana di meja hening. Sai yang mulutnya kelebihan energi pun diam. Sepi di antara orang-orang terdekat adalah aneh. Masing-masing seperti berusaha mencerna pikiran orang lain. Aku sendiri mencerna tanda tanya besar yang melingkupi interaksi Hinata dan paman Hiashi.
"Aku selesai."
Neji bangkit, memperjelas keanehan yang terjadi dalam keluarga kecil mereka. Kemudian disusul paman Hiashi, pergi tanpa sepatah kata. Mata Hinata lalu menangkap tatapanku yang tengah mengamati, tersenyum ganjil antara maklum dan sedih. Sesuatu tak beres nampaknya sudah ditumpuk lama hingga jadi kebiasaan.
Cup.
"Hey, Naruto!" Sasuke melempariku kentang goreng. "Jangan ambil kesempatan."
Aku tidak mengambil kesempatan. Kecupan di pipi Hinata tadi adalah upayaku merebut pikirnya yang tak jelas di mana. Melihatnya marah lebih baik daripada melihatnya entah. Dan kekagetannya merupakan obat bagi segala tanya dan peduli yang muncul tak terbendung dariku.
Hinata, what's wrong with you?
.
.
.
Kami baru menyelesaikan kencan buku di perpustakaan distrik. Rupanya tenggelam di gudang aksara menggembirakan Hinata, kulihat wajahnya lebih cerah dibanding saat melihat pameran elektronik. Buku bukanlah hobiku, tetapi jika muka ceria Hinata merupakan implikasi, siapa aku untuk menolak? Dia memang tak se-stoic Sasuke, namun salah satu perempuan paling sepi ekspresi di hidupku.
"Terima kasih ya Kak Naruto, sudah mengantarku-"
Suara meja digebrak menyentak kami. Pandanganku memicing ke sumber suara, itu ruangan yang haram dijelajahi di kediaman Hyuuga, ruang kerja paman Hiashi.
"Beraninya kamu berkata kasar! Ayah tidak mau tahu, sebulan lagi kamu ikut ke Kyoto." Paman Hiashi terdengar geram.
"Ayah tidak masuk akal! Mau sampai kapan bersikap seperti itu pada Hinata? Sampai dia sadar bahwa ayah yang sangat dihormatinya itu tak punya belas kasih sama sekali?"
"Diam! Dan jangan bawa anak sial itu dalam percakapan kita. Aku memang tak peduli dia mau hidup bagaimana, atau jadi sesampah apa. Terakhir kali mempedulikannya yang kudapat hanya kesialan."
Aku menengok Hinata yang juga memandangku. Dia tersenyum lemah, namun jika dilihat lebih dalam, sesuatu sedang menuju hancur. Retakan itu sudah lama di sana, Hinata telah menanggungnya sendirian, dan sekarang aku menyaksikannya pecah berkeping-keping.
"Terakhir kali? Maksud ayah ketika dia bayi merah dan dikunci sendirian di kamar karena menangis kehausan? Oh ya, Hinata tumbuh tanpa mengenal ayah dan ibunya. Dia dibesarkan dengan kebencian, dan ayah tidak pernah mengerti bagaimana beratnya menjawab… "Kak Neji, bagaimana wajah ibu?", "Apakah ayah akan pulang di hari ulang tahunku?", naif Hinata. Ayahnya sendiri bahkan tidak peduli ia hidup atau tidak."
Suara benda dilempar dan pecah. Hinata mencengkeram tanganku, dingin dan bergetar.
"Berhenti memaksaku peduli padanya! Kau tidak tahu betapa sulit melihat wajahnya yang selalu mengingatkan pada ibumu. Aku membencinya di setiap tarikan nafasku, membencinya di setiap tetes darahku yang mengalir di tubuhnya. Dia membunuh istriku, dia membunuh ibumu. Dia lahir merampas semua kebahagian di rumah ini dan menggantinya dengan kesialan. Aku bahkan tidak sudi meletakkan Hyuuga di belakang namanya."
Hinata yang selama beberapa menit menatap pada kekosongan, akhirnya menyerah. Tak ada lagi senyum palsu, di matanya hanyalah kekalahan dan luka tersayat. Setetes air mata menuruni pipinya, lalu ia menggeleng dan berbisik pelan penuh kesakitan. "Aku nggak kuat, kak."
Bersama kata-kata yang baru saja mencambuknya, Hinata berlari ke luar. Aku mengikutinya, berharap menghapus jejak yang diciptakan dalam kesedihan. Sesuatu di dalam dadaku mengejang, terasa perih. Kupikir menyenangkan jika Hinata bisa menghujaniku dengan ekspresi yang disimpannya sendiri. Ternyata, aku malah larut dalam tangisnya yang larat. Rasanya bodoh sekali menyaksikan kekasihmu terluka dan kamu hanya diam di sampingnya bak patung. Sebab, tak ada perempuan yang menangis di sisiku untuk hal yang tak bisa kuatasi. Sedang Hinata, aku tak mampu melakukan apapun. Isakannya mewabah dan menyakitiku juga.
Aku berjongkok di hadapannya namun ia tak membalas tatapanku. Gadis kecil ini, ah… bagaimana aku harus mengatakannya. Dia disakiti oleh sesuatu yang orang semumurku pun belum tentu mampu menanggungnya. Di balik kedewasaannya, Hinata cuma remaja biasa, rapuh dan sangat bisa dilukai. Aku merengkuhnya, memberitahu bahwa dia bisa membagi apapun padaku.
Sampai beberapa detik lalu, kupikir tak memiliki orang tua merupakan nasib termalang. Namun melihat Hinata bersimbah air mata, tiba-tiba kemalanganku debu semata. Bagaimana rasanya dianggap kesialan oleh ayah sendiri? Ada yang berdesir di dalamku mendengar paman Hiashi mengatakannya, seperti perasaan ingin menghajar yang tak terkontrol.
"Dengar Hinata… kamu bukan kesialan. Kamu anugrah. Aku, Neji menyayangimu. Kamu adalah dunia kami."
Kata-kata itu keluar dengan sendirinya, yang kuharap merasuk ke dalam Hinata dan terpahami. Dia tak boleh merasa tak diinginkan. Terlalu sakit, aku sudah merasakannya.
Hinata menggeleng, masih terisak-isak, tangannya yang kurus dan pucat sibuk menghapusi air mata. Aku memahami rasanya terluka begitu dalam sampai luka itu kehilangan makna. Hinata masih di tahap terluka yang parah, basah dan sakit di mana-mana. Dia sedang tidak bisa mendengar apapun, karena satu-satunya yang bisa menyembuhkan adalah si pembuat luka.
Jadi aku hanya terus berada di sisinya, sampai Hinata mengerti bahwa ia tak sendiri. Entahlah, jika dibilang tidak mencintainya, memang tidak –belum. Mungkin juga ini cuma empati, namun apakah empati termasuk di dalamnya kemarahan dan kesedihan? Ah, empati tidak serumit itu. Lalu penjelasan apa untuk sedu sedan Hinata yang perlahan milikku juga?
.
.
.
Cinta itu… dari mata turun ke hati.
Pada awalnya, Hinata sebatas hiburan mata. Nyatanya ia membangkitkan lagi fetish lama. Perempuan kalem yang diam-diam menenggelamkan. Oh, ia sangat cocok dengan deskripsi itu. Serupa 'dia', Hinata sosok yang diselimuti kabut misteri, dan aku harus meraba-raba untuk melihat jiwa di dalamnya. Flirting dengannya memacu adrenalinku.
Bonusnya, Hinata mirip dengan dia. Physically. Rambut panjangnya, cara menatap bahkan pembawaannya juga sama kalem. Aku berkali-kali mengultimatum diri bahwa mereka berbeda.
Hari ini, kabut-kabut yang menyelimuti terurai. Aku seperti melihatnya untuk pertama kali, dia dan segala rapuhnya. Kami tak jauh beda, dua orang yang sama berjuang untuk lepas dari isu pribadi. Aku memasuki titik nol derajatnya, jika Hinata yang tegar dan stoic memikatku, maka Hinata dengan sisi lemahnya justru mengikatku. Ada perasaan ingin melindungi, setidaknya, memastikan dia tidak sendiri melawan dunia.
Hinata belum mengetahui aku yang sesungguhnya. Meskipun memahami, aku masihlah Naruto yang terbingkai perspektif orang sebagai bad boy suram tapi menantang. Dan aku bertanya-tanya, akankah ia tetap di sisi kendati semua topengku terkelupas memamerkan semua luka dan hina? Entah. Aku gentar membayangkan Hinata kecewa dan berbalik badan. Imaji tentang kesendirian mengusikku. Jika ia pergi, tak ada lagi yang menjadikanku objek pemahaman dan afeksi.
Pikiran tentang Hinata terpaksa minggir saat aku memasuki kawasan rumah susun. Berbagi lingkungan dengan orang asing bukan masalah bagiku, namun tentu saja, tak lebih dari relasi basa-basi.
"Hai Naruto, sepertinya ada yang menunggumu di depan kamar." Seorang laki-laki yang kulupa namanya memberitahu.
"Oke. Thanks."
Kebetulan lampu depan kamarku mati, sehingga pencahayaan hanya dari tetangga sebelah. Hinata di sana, rambut panjangnya sedikit berkibar tertiup angin malam. Bagaiman dia sampai sekilat ini, apakah selain memahami karakter orang, kemampuan rahasianya adalah teleportasi?
Ketika jarak kami memendek, nafasku seperti dibebat. Seseorang itu bukan Hinata, cahaya sialan ini membiaskan mataku kepada wanita paling kuhindari sekaligus kurindu. Dua hal berlawanan yang bertahun mengurung hatiku.
"Naruto…" Ucapnya lirih.
Aku terpaku, rasanya terlalu banyak waktu terlewat sejak terakhir kali bibir itu memanggilku. Segaris tipis itu pernah kuciumi bertubi-tubi, yang kemudian melukaiku tanpa ampun. Kemarahan, sedih dan kecewa seketika memelukku, berlomba mengusai akal sehat untuk membalas luka lama.
Oh Tuhan aku tidak bisa. Berada di hadapannya lebih lama akan membuatku menangis.
"Naruto… tunggu."
Tanpa mempedulikannya aku terburu membuka pintu. Sial, kuncinya malah mempermalukanku dengan tak elegan. Jatuh tepat di kakinya. Aku menolak menatapnya ketika mengambil kunci. Kontak mata akan meruntuhkan usaha yang kubangun ratusan hari.
Ia menahan lenganku, terus memanggil dengan suara bergetar. Sekilas aku mendengar usahanya memohon maaf, tergesa dan menangis. Namun, hatiku terlalu sempit, tak mampu memberi ruang untuk apapun yang berasal dari masa lalu.
Dalam beberapa detik pintu kubanting di depan mukanya. Mungkin itu tindakan terjahatku pada perempuan. Tapi, kupikir tak ada yang lebih membekas dari penganiayaan verbal. Buktinya aku masih terluka sangat parah hingga detik ini.
"Hinata… Hinata… Hinata."
Aku merapal nama si kecilku yang manis. Berharap menghalau isak di luar yang meremas hati. Kami hanya tersekat pintu, namun terasa sejauh dan berjarak ratusan tahun cahaya. Dan kusadari, satu peristiwa dapat mengubah manusia yang terlibat di dalamnya seberbeda siang dan malam. Aku bukan lagi bocah dua puluh yang di tendang keluar dari hidup seseorang. Bukan Naruto-nya.
"Hyuuga Hinata…"
Badai emosi ini melelahkanku. Mungkin setengah jam, mungkin satu jam aku terduduk di balik pintu. Tak berbuat apapun selain mendengar irama tangis sampai pemiliknya melangkah pergi. Dalam kesunyian, hanya satu nama yang sebenarnya tengah menyiksa kewarasan.
Shion.
TBC
