GESTALT

Disclaimer: Naruto and all the original chara are Masashi Kishimoto's, this story is mine.

Sekali ini Hinata bersyukur memiliki kekasih Naruto. Dia masih lelaki flirty, sweet talker, dan touchy, tetapi tahu tutup mulut. Well, sepengamatan Hinata, lelaki memang tidak mencampuri urusan pribadi terlalu jauh, kepedulian bagi mereka bukanlah kewajiban berbagi rahasia. Selepas malam itu, Naruto tidak menanyai Hinata aneh-aneh, malahan tampak lega dengan keabsenan Hiashi.

Berhari-hari kemudian Hinata dan Naruto tetap sepasang kekasih yang bertemu rutin. Sedikit janggal bahwa Uzumaki satu ini sanggup menjalani hubungan kering. Maksud Hinata, tanpa sentuhan, ataupun interaksi yang melibatkan lendir. Kadang ia menunggu segmen di mana Naruto bosan dan menuntut. Tetapi tidak terjadi –belum, mungkinkah Naruto sedang menjebaknya ke dalam rasa aman? Sebab ia tidak ragu membiarkan lengan kekasihnya memeluk, menenggelamkan Hinata dalam hangat yang melindungi. Ah, betapa pencuriga ia.

"Hai princess."

Ini dia, manusia yang Hinata perlihatkan gelap dirinya dan tidak berubah, tetap tersenyum hangat. Mungkin Naruto biasa saja ketika Hinata membalas, tanpa tahu senyumannya datang dari hati. Dari luka-luka yang direngkuhnya hingga tak terlalu sakit. Ketika Naruto menggandeng tangannya, Hinata menyadari bahwa mereka bisa berbagi, saling menguak kesedihan yang terukir di hati masing-masing. Ia tak bisa menahan senyumnya melebar.

"God… Hinata! Jangan senyum gitu, memang mau kunikahi sekarang?" Naruto mengelus lesung pipinya.

Mereka tertawa. Lihat, segalanya ringan bersama Naruto, bahkan untuk berwarna setelah badai.

"Why do I keep running from the truth? All I ever think about is you. You got me hypnotized, so mesmerized And I've just got to know."

"Hey, itu lagu." Dengus Hinata geli.

"Damn, that smile!"

Hinata merengut saat Naruto mencubit pipinya. Neji menganggumkan tapi tak sehangat ini. Sejenak ia bisa melupakan semua idealismenya tentang pria.

Kemudian mereka menyusuri jalan pulang ke rumah Hyuuga. Oke, jika ada yang secara artifisial dibanggakan dari Naruto adalah motornya. Suzuki Hayabusa, ukuran dan modelnya senantiasa merampas perhatian di jalan maupun parkiran. Hinata berkali-kali menahan mulut untuk bertanya pacarnya merampok motor itu dari mana, seperti kelewat mewah untuk montir. Beruntung ia orang yang kalimatnya mengendap di pikiran dulu sebelum dikeluarkan. Meskipun Hayabusa tersebut akan membuat perempuan manapun bangga, namun Hinata sebal juga karena harus merangkak naik ke boncengannya yang tinggi. Dia cuma 160 cm ngomong-ngomong.

Begitu sampai, objek pertama yang tertangkap mata Hinata adalah Neji bersama perempuan berambut panjang. Lalu sentuhan Naruto menghilang darinya, lelaki itu kaku bagai batu. Tak butuh waktu memproses bahwa sesuatu yang salah terjadi.

"Kak Naruto." Hinata menggunjang lengan lelaki di sampingnya.

Atensi Hinata mengikuti arah tatapan Naruto, perempuan yang dipandangnya dengan emosi tak terpahami. Antara marah, kaget, sedih tetapi juga rindu. Hanya bertatapan, namun Hinata mengerti banyak yang tersimpan di antara dua orang itu.

"Naruto-kun."

Suara lembut dari sebrang mencapai telinga Hinata juga. Reflek ia mengamati wanita itu, cantik, kalem dan meradiasikan sikap dewasa. Ada yang familiar, Hinata tak tahu apa.

Naruto yang semula diam, meraih tangan Hinata, menciumnya khusyuk. Siapapun boleh mengira pacarnya sedang bersikap mesra tanpa memedulikan perempuan entah siapa di sana. Namun Hinata paham, senyum, sentuhan dan perhatian Naruto tidak mencapai hati. Ada kepalsuan yang dipaksakan, dan ia tahu, semata-mata untuk memberi efek pada perempuan di samping Neji. Naruto tidak selengket ini, terutama bila ada kakaknya, dan Hinata tak suka diklaim untuk sebuah pelarian.

"Aku pulang."

Semua menyaksikan kepergian Naruto dengan tanya di kepala. Hinata beralih pada perempuan di samping kakaknya, tersenyum sopan. Kenyataan bahwa Neji mau berdekatan membuktikan bahwa mereka pernah berbagi periode interaksi yang cukup.

"Hallo. Saya Hinata." Ujarnya sambil menyalami perempuan itu.

"Oke, Hinata ini Shion. Dan Shion, dia adikku." Neji mengambil alih kecanggungan. "Dia mantan Naruto." Bisik sang kakak.

Dang! Pijar pemahaman di kepala Hinata menyala. Dialah perempuan itu. Si bayang-bayang Hitam yang Naruto terikat kuat. Seperti yang dikatakan Sakura, kompetitor yang membuat perempuan-perempuan Naruto angkat tangan.

Hinata cukup terkejut bahwa Shion jauh dari tipe Naruto yang sudah mendarah daging. Hapuskan kata enerjik, breathtaking dan fashionable darinya, Shion lebih menyerupai gadis rumahan yang puritan. Cantiknya adalah ketenangan yang membuat betah, dan sekali lagi, ada yang familiar darinya.

"Kok kalian mirip sih." Celetuk Neji.

Tadi pijar kecil di kepala Hinata menyala, sekarang pijaran itu berupa api berkobar, menerangi teka-teka yang lama tinggal di sana. Ya, Shion mirip dengannya, bukan identik tetapi cukup menyebabkan seseorang salah terka.

Jadi Naruto memacari Hinata karena mirip Shion?

Hanya gumaman kecil di hati, tetapi rasanya nyelekit sampai punggung. Secara tak langsung, dirinya adalah substitusi dari Shion, sebuah kompensasi rindu Naruto pada kekasih masa lalu. Tidak ada cinta, bahkan pengejaran sang pacar merupakan upaya mencari pengganti. Manusia cenderung bertahan pada sesuatu yang familiar, dan Shion adalah zona nyaman Naruto. Maka saat menemukan Hinata, Naruto ingin mereguk lagi kenyamanan itu meski dengan orang berbeda.

Shion meminta waktu berbicara dengan Hinata. Kendati objeknya ia pahami pasti, Hinata tidak menaruh minat. Kehadiran perempuan itu melayukan bunga-bunga yang hendak mekar di hatinya. Lebih jauh, meremukkan Hinata yang mungkin memiliki arti bagi Naruto.

Sayang sekali Hinata tidak bertindak berdasarkan perasaan. Semua sikap dilatar belakangi alasan, dan ia ingin mengetahui blunder yang mengikat dua orang itu.

"Jadi?" pancing Hinata, keheningan membunuhnya.

"Maaf apa kamu memiliki hubungan khusus dengan Naruto-kun?"

Ingin Hinata berteriak, bukan urusanmu! Tetapi Shion berhak menerima lebih baik. Setidaknya untuk usaha kembali ke hidup Naruto. Perempuan yang kembali, adalah mereka yang membunuh segala ego dan mempersetankan harga diri. Hinata tidak berempati, namun mencoba fair.

"Secara resmi pacar, tetapi backstreet."

Jujur itu mujur, tetapi Hinata tidak tahu apakah ia berusaha mendapat kemujuran atau konyol semata. Apa untungnya memberitahu perihal backstreet itu, nona?

"Kamu cute sekali, nggak heran Naruto terpincut." Shion tersenyum kagum.

Hinata lega, ternyata respon Shion tak semengerikan yang ia duga. Bukan tipe antagonis berlidah tajam dan bertingkah sinetron. Pembicaraan ini sepertinya akan mudah.

"Aku hanya ingin minta izin bicara dengan Naruto."

"Terakhir kuingat, Naruto masih individu yang merdeka dan punya hak bertemu siapapun. Tentu boleh. Tetapi kakak lihat sendiri tadi, dia tidak jelas."

"Tidak apa-apa. Setidaknya aku mencoba."

Kemudian pembicaraan mengenai Naruto berkurang hingga hilang sama sekali. Tidak sulit berbicara dengan orang yang mirip kita. Meski bukan pihak yang sering menginisiasi percakapan, Hinata justru antusias ngobrol dengan orang asing. Semua berjalan menyenangkan sampai Shion pamit.

Ketika punggung perempuan itu telah hilang penuh, Hinata baru ingat Naruto pernah bilang masih mencintai seseorang dari masa lalunya. Lalu, prasangka bahwa ia hanyalah pengganti kian melebar. Menyakitinya secara perlahan namun masif.

.

.

.

Jemari Naruto mengetuk-ngetuk meja. Dua puluh menit, Hinata telah membuatnya dalam status quo selama itu. Bukan stok kesabarannya yang tipis, melainkan aneh karena kekasihnya tak menunjukkan tanda-tanda kemunculan. Pesannya bahkan tak terkirim sementara kopi Naruto hampir tandas. Hinata tak pernah demikian, dia menghormati waktu seperti benda suci.

Menyerah, ia lalu mendial nomor Neji.

"YA HALO."

Seketika Naruto menjauhkan ponsel dari telinga, lupa bahwa suara Neji auto loudspeaker.

"Hinata di mana?"

"DI RUMAH. NGAPAIN NANYA-NANYA?"

What! Tanpa berpikir dua kali panggilan diakhiri.

Apa maksudnya ini? Naruto geleng-geleng kepala menahan geram. Berani-beraninya Hinata membohongi. Mereka seperti main kucing-kucingan, janjian lalu tak muncul sama sekali. Oke Hinata, kuikuti permainanmu, ujar Naruto dalam hati. Bila saatnya berkunjung nanti, ia akan menghukum dengan cara paling manis. Ciuman atau sentuhan ya? Naruto tersenyum malu pada dirinya sendiri.

Sambil menunggu downloadnya selesai, Naruto merapikan barang-barang. Ia berencana enyah dari kafe jika pertandingan liga Inggris semalam rampung diunduh. Untung ada wifi gratis, yang sekaligus memberi Naruto catatan mental untuk tidak memasang jika memiliki bisnis kelak. Lihat saja, kebanyakan yang datang adalah manusia 'berkebutuhan khusus' sepertinya. Gratis mengundang para penongkrong yang sedikit pesan. Maka Naruto berjanji akan berinovasi apapun asal bukan wifi, ya kecuali jika bisnisnya sekalian diniatkan sedekah.

Ketika sedang asyik menonton bola, seseorang duduk di depan kursi Naruto. Bukan Hinata.

"Naruto-kun."

Suara itu. Naruto tahu pasti siapa pemiliknya, ia pernah mengakrabi dan menganggapnya sebagai bunyi bahasa paling indah.

Melihat reaksi Naruto yang malah mengemasi barang-barang, pemilik suara itu kian memohon. "Naruto-kun tunggu, aku hanya ingin bicara."

Agak memalukan bahwa Naruto bersikap seperti anak ngambek, tapi ia tak ingin meluangkan waktu beromong-kosong. Antara dia dan orang itu selesai bertahun-tahun lalu. Selesai tanpa menyisakan tanya. Jika terpaksa dibicarakan lagi, maka ujungnya cuma berupa luka lama yang diungkit-ungkit.

"Ngapain sih? Dengar ya, aku menghormati Hinata sebagai pacar, dan tidak berniat sedikit pun bertemu mantan diam-diam." Tegas Naruto.

"Kita tidak bertemu diam-diam. Hinata sudah mengizinkanku."

Sial Hinata! Buku-buku tangan Naruto sampai memutih karena menggenggam kelewat keras. Dua perempuan ini lancang menyebrangi batas, dipikirnya mereka berhak mendapat perhatian lebih?

"Oke. Lima menit."

Shion mulai merangkai narasi, tetapi tak keluar selain kata yang telah berkokol lama. "Aku minta maaf."

Kalimat demi kalimat terucap, namun tak sampai ke hati Naruto. Baginya permintaan maaf dan penyesalan hanya cara seseorang melegitimasi dirinya tak bersalah. Ia tidak bisa memperbaharui apapun dengan Shion, meski cuma status pertemanan. Mustahil bersikap biasa saja pada orang yang pernah menyakitimu begitu dalam. Sekarang ini, hal yang bisa diterapkan Naruto pada perempuan jika bukan pacar berarti musuh. Hinata telah memiliki satu sisi, dan yang tertinggal untuk Shion adalah posisi untuk kebencian.

Mendengarkan Shion yang berbicara panjang-lebar, Naruto sengaja bersandar di kursi sambil mendongak, sesekali main kuku. Manusia buta pun akan merasa tak didengarkan. Tetapi ia belajar apatis sejak lima tahun lalu, berusaha tidak menseriusi bualan.

Jeda panjang, Shion menunggun respon. "Sudah?" tanya Naruto.

"Oke, Shion, aku masih mengingat kalimatmu lima tahun lalu." Ditatapnya perempuan itu tajam. "Jadi mari tak usah bertemu lagi."

Naruto tergesa keluar pintu. Takut luluh menghadapi Shion yang pernah istimewa. Tempat itu selalu ada, bagaimana pun mereka pernah berbagi sesuatu yang berharga. Namun ia tidak mau lagi menengok ke sana, ke tempat yang mengubahnya demikian berbeda.

.

.

.

Balkon lantai dua fakultas psikologi, angin menerpa wajah dua orang yang berdiri berjarak. Pukul delapan malam, masih ada satu jam sebelum kelas terakhir. Suasana kampus sepi, makanya Naruto berkesempatan menjemput Hinata. Angin sedingin ekspresinya kali ini, menyimpan konfrontasi atas sikap sang pacar tempo hari. Heran, Hinata malah setenang telaga, padahal Naruto sudah berkobar-kobar hendak membakar.

"Maksudmu apa sih Hinata membiarkanku berdua dengan Shion?" Marah memerahkan wajah Naruto, ia sebal luar biasa pada Hinata yang menjebaknya bertemu Shion. Pacar macam apa yang memfasilitasi pasangannya bertemu mantan. Naruto tahu Hinata tidak mencintainya, tapi bukan berarti ia bebas diumpankan pada perempuan manapun.

"Ya supaya kalian bicara. Siapa tahu dengan komunikasi semuanya jadi lebih mudah. Jangan berlari dari masalah, kak. Tahu tidak, Carl Jung bilang, sesuatu kalau ditahan justru semakin nggak tertahankan. Aku cuma pengin kakak menyelesaikan apapun yang tersisa dengan Kak Shion." Ujar Hinata polos, niatnya adalah membantu Naruto lepas dari bayang-bayang. Ia tidak ingin pacarnya itu suatu saat berontak dan meliar karena perasaan yang selalu ditawan masa lalu.

Penjelasan Hinata justru meledakkan amarah Naruto. Betapa lancang bocah ini, dipikirnya ia siapa sampai berhak memutuskan yang terbaik bagi Naruto. Oh ya, Hinata pasti tahu yang terbaik, terima kasih pada Psikologi yang menjadi acuannya dalam bersikap. Sekarang Naruto tahu arti dirinya bagi perempuan itu, apalagi kalau bukan objek obsesi gila sang pacar terhadap ilmu kejiwaan.

BRAK

Botol mineral di tangan Naruto menjadi sasaran, setelah diremas kasar lalu dilempar ke tembok di belakang Hinata. Ia menatap gadis itu nyalang, dicengkeramnya wajah Hinata kencang. Muka mereka berhadapan, saat ini yang Naruto inginkan hanyalah mengamuk dan meremukkan segala sesuatu.

"Persetan Hinata! Berhenti bersikap seolah kamu sangat memahamiku. Aku muak. Kita tidak saling mengenal lebih dari tiga bulan, dan kamu bukan ibuku yang berhak memutuskan apa yang terbaik bagiku."

Hinata mundur begitu Naruto melepaskan, wajahnya sakit tetapi hatinya jauh lebih sakit. Ia menunduk, menolak memperlihatkan tangis yang sudah berujung di mata. Kilasan sikap-sikap manis Naruto menguap, hilang sama sama sekali oleh lelaki kasar di hadapannya. Kemudian ia teringat sang ayah, mengapa pria senang menggunakan nada tinggi untuk memenangkan egonya?

Apakah ini Naruto yang sesungguhnya? Atau perkara Shion memang selalu sensitif sampai harus melukai hati lain? Hinata menggigit bibir, sedih karena Naruto tidak segan mengasarinya. Tidak ada lelaki yang seperti ini padanya, dan Hinata benci telah membiarkan kelenjar air matanya bekerja untuk hal tak perlu.

Terserah bila Naruto menganggap kepeduliannya memuakkan. Tetapi ia tak berhak menginjak-injak Hinata. Dipikir hanya perasaannya saja yang penting? Dan apa itu tadi, melempar botol dan meremas wajahnya, membawa-bawa ibu dalam percakapan mereka, untuk tujuan apa? Naruto boleh menaklukkan perempuan manapun, bisa memikat dengan wajah gantengnya, tapi jangan berpikir untuk semena-mena pada Hinata. Meski baru delapan belas tahun, Hinata merdeka untuk menyelamatkan hatinya dari laki-laki yang tak menghargai. Maka ditatapnya Uzumaki Naruto itu dengan berani.

"Maaf kalau kakak nggak berkenan, dan ya, aku bukan ibu kak Naruto. Memiliki ibu saja bahkan tidak pernah. Tapi kak, aku sungguhan peduli, bukankah masalah ada untuk dihadapi? Dewasalah, selesaikan apapun antara kak Naruto dengan kak Shion." Hinata menghela nafas, mencegah air matanya tumpah. "Jangan temui aku dulu, karena jujur saja ini menyakitkan."

Hinata melenggang pergi, berjalan tanpa memberikan Naruto perhatian terakhir. Ia perlu merestorasi pikiran agar tidak menye-menye hanya karena persoalan ini. Ngambek sangatlah tak keren. Hinata tidak ingin berjalan di muka bumi sebagai manusia yang mengedepankan perasaan. Meski ia perempuan dalam hubungan ini, bukan berarti selalu benar. Bagaimanapun kelancangannya mencampuri urusan Naruto tidak terelakkan. Mungkin Hinata perlu meminta maaf, nanti. Sekarang ia hanya ingin berjarak sejauh mungkin dari Naruto, menyelamatkan hatinya yang tak lagi utuh.

.

Naruto menatap kepergian pacarnya dengan perasaan kacau. Sesekali dilihatnya Hinata mengusap mata, dan itu pemandangan yang mengguncang hati. Ia tidak bermaksud kasar, namun yang terjadi adalah sikapnya berlebihan dan jahat. Naruto mengusap wajah, frustrasi karena melukai perempuan paling murni, terbersih yang pernah ditemuinya. Ia membuat Hinata menangis.

Baru disadari, bermasalah dengan Shion tak pernah membuatnya sepayah saat melukai Hinata.

.

.

.

Naruto meremas rambutnya kesal. Perpustakaan, teori dan tugas akhir benar-benar musuh besar. Seharusnya sebagai orang yang disetir banyak oleh saraf motorik, ia memilih studi kasus untuk tugas akhirnya. Studi pustaka membuatnya melakukan dua hal sekaligus, mengamati dan mencari kasus serupa. Berhadapan dengan setan-setan ini menyebabkannya reflek tua.

Masyarakat cenderung membingkai kondisi lulus lambat dengan stigma bodoh. Padahal kelulusan dan kecerdasan bukan dua hal yang apple to apple untuk diperbandingkan. Naruto bisa saja lulus tiga tahun lalu bersama angkatannya yang sekarang punah. Namun dia bukan tipe yang menunduk-nunduk pada dosen agar dimuluskan. Ia ingin tugas akhirnya menjadi karya ilmiah yang bernas, bukan seperti mengerjakan project dosen. Sayang keinginan sederhananya itu harus menghadapi perdebatan tanpa akhir dengan sang pembimbing, professor sepuh yang motonya adalah saya selalu benar.

Nereka di dalam kampus ini menyebabkan Naruto melarikan diri. Pada pekerjaan dan perempuan, dua bidang yang ia cepat mahir. Maka setiap muak bimbingan, Naruto bekerja siang-malam, kalau bosan pulang ke pelukan pacar. Begitu terus sampai tiga tahun kemudian. Sampai ada gadis mungil yang memaksanya kembali pada bara neraka.

Berbicara mengenai gadis itu mengakibatkan segaris senyum di bibir Naruto. Betapa pun ajaibnya Hinata, ternyata dia tetap perempuan yang bisa ngambek. Oke, mungkin ngambek tidak terlalu sesuai, tetapi definisi apa untuk pesan-pesan Naruto yang tak terbalas dan puluhan panggilan tak terjawab? Interaksi satu arah ini terasa benar, seperti mereka sungguhan pacaran. Ah, bodoh, bagaimana hal seremeh ini membuatnya bungah? Naruto telah jauh melampaui itu.

Setelah hengkang dari perpustakaan Naruto berniat mengunjungi Hinata. Dia tidak bisa disiksa oleh keterdiaman, dan fuck, kenapa sikapnya menjadi sangat masalah? Naruto sebal karena dialah yang dibikin uring-uringan, mengumpat di media sosial dan bertingkah mellow. Biasanya ia yang menikmati adegan itu. Tetapi Hinata, diamnya membiaskan makna lain, seperti sesuatu yang siap berakhir sewaktu-waktu. Alih-alih diomeli, Naruto mendapati hari-harinya sepi. Seakan-akan ia dilupakan sementara Hinata melenggang ke masa depan, dan paling parah dari semua, adalah ketakutannya diingat sebagai memori buruk.

Begitu sampai di kediaman Hyuuga, Naruto mengeram kesal. Hinata di sana, tampak ayu dalam interaksi yang manis dengan seorang lelaki. Rasa panas menjalar dari hatinya, dan ia benci melihat lelaki itu lebih cocok dengan Hinata. Muda, tampan dan siap dijadikan pacar, kira-kira dengan dialah Hinata berasosiasi kini.

"Ehemmm." Deham Naruto keras.

Keduanya langsung mengalihkan perhatian. Hinata terkejut, dan sesuatu menyengat Naruto, sebuah perasaan tak diinginkan. Ugh, sial, Hatinya mulai sering bekerja di luar kontrol bila menyangkut si manis Hyuuga.

"Hinata, siapa dia?" tanya si ganteng berambut berantakan.

"Hai, saya Uzumaki Naruto. Pacar Hinata."

Naruto tersenyum sekarang, tidak diakui, maka dia sendiri yang menyatakan klaim. Oh, kebanggaannya, Naruto merasa cocok jadi ketua gerakan maskulinisme.

"Benar, Hinata?" si ganteng di hadapan Naruto sangsi. "Ah, baiklah, saya Toneri Otsutsuki. Kami hanya mengerjakan tugas kuliah. Sayang sekali kamu sudah punya pacar, Hinata."

"Maksud?" Sergah Naruto.

"Sudah jelas kan, kalau tidak ada anda, saya sudah PDKT sama Hinata."

Melihat Naruto merangsek maju, Toneri mengangkat tangan. "No offense, tapi Hinata cantik banget, siapa sih yang nggak suka."

Mulut lancang itu menstimulasi Naruto untuk menarik kerah bajunya. Beruntung ada tangan lembut yang mencegahnya.

"Kak."

Hanya diperlukan satu kata lembut dan Naruto menurut. Betapa ajaib kuasa perempuan itu.

"Oke Hinata. Sebaiknya aku pulang saja. Tidak lucu kalau rumahmu jadi arena tinju. Soal tugas nanti dilanjut di kampus saja."

"Pergi sana." Usul Naruto.

Sesudah Toneri menghilang perhatian Hinata jadi beralih penuh ke Naruto. Pacarnya itu tampak kusam, kurang tidur dan ya, sekarang ia sadar bahwa rentang usia mereka jauh. Tujuh tahu terimplikasi bagai anak SD yang menjalin kasih dengan mahasiswa.

"Kakak kenapa sih? Tidak sopan tahu. Kami kan hanya mengerjakan tugas." Tegur Hinata.

"Kamu nggak dengar tadi dia bilang apa? Kamu cantik, dan kalau nggak ada aku dia sudah PDKT. Heran deh, baru ditinggal sebentar udah ada buaya mau nyaplok. Lama-lama kamu kutaruh di penangkaran, Hinata."

"Kak Naruto cemburu?" tembak Hinata telak.

"Aku? Cemburu? Hahahahahhahahahah" Naruto terbahak melihat Hinata dengan polosnya menanyakan itu. "Iya."

Wajah Hinata berubah masam, pria ini hobi bertingkah seenak pusar. Seingatnya, tempo hari Naruto bertingkah kasar, menyebabkannya menggaris jarak. Kedatangan kali ini bukannya meminta maaf malah memperlebar masalah. Apa ia sedang menguji kesabaran?

"Hinata." Panggil Naruto, mengikuti pacarnya yang setengah berlari menuju ke dalam. "Hinata!"

SREK, "Aw."

"Kyaaaaaaa."

Hinata menjerit, bajunya di bagian lengan robek, memperlihatkan dalaman bra yang kebetulan tak dilapisi tanktop. Ia langsung berjongkok, menutupi ketelanjangan yang memalukan. Kurang ajar Naruto!

"Maaf maaf, Hinata. Astaga!"

Wajah Naruto merah padam. Di depannya kulit putih Hinata terpampang, dan di balik kain merah itu, ia bisa memastikan ukuran yang memuaskan. Sesuatu yang menggunung di sana, kelihatan padat dan lembut. Damn! Naruto malu dan berdebar menyaksikan pemandangan di depannya. Merasa brengsek tapi menikmati. Jantungnya bertalu-bertalu, berusaha mengenyahkan bayangan tak pantas yang memberondong otak. Ia ikut berjongkok, minta maaf dan tidak tahu harus apa. Hanya sebatas bahu namun berhasil membuatnya tegang tak karuan.

"Maaf Hinata." Mohon Naruto memelas. Kemudian ia melihat air mata, Hinata menangis. "Hinata maaf, tolong jangan menangis."

Naruto melepas jaketnya, menyampirkan ke bahu Hinata, menyelamatkan gadis itu dari perasaan dilecehkan. Hasrat kurang ajarnya musnah seketika, luruh bersama ketakutan Hinata. Diam-diam ia bersyukur, nalurinya sebagai hewan yang berpikir, tunduk di bawah rasa ingin melindungi. Malahan, Naruto ingin turut menangis melihat Hinata, sedih jika dikira merendahkan. Sebab, hanya pada perempuan itulah ia mengalami dua hal kontradiktif, menginginkan yang dibareng penghormatan.

.

.

Hinata duduk di sofa, belum mau memandang Naruto yang kini duduk di lantai tepat di hadapnya. Jemari lelaki itu mengusap tangannya hati-hati, sedari tadi meminta maaf. Sebenarnya Hinata tidak marah, ia hanya takut. Naruto seperti bisa berubah kapan saja, dari lembut ke abusive, menyayangi lalu merusak. Ia takut terjebak di antara kemungkinan terburuk, dan hancur selamanya.

"Maaf membuatmu takut, sungguh aku tak sengaja."

Menyaksikan Hinata yang terus menghindarinya, mengacaukan hati Naruto. Ia terpukul oleh mata yang memandangnya seperti ancaman. Ternyata kejadian kemarin lumayan memberi efek, Hinata tegang menghadapinya. Ingin Naruto menghajar diri karena lancang berbuat kasar.

"Aku ke sini mau minta maaf. Tidak seharusnya aku bersikap kasar padamu. Kamu benar Hinata, masalah memang harus dihadapi. Dan aku ingin menyelesaikannya dulu denganmu. Tahu tidak, diammu itu sangat menyiksa." Naruto tersenyum melihat Hinata diam-diam meliriknya. "Tapi seseorang tidak bertingkah tanpa alasan, Hinata. Jujur kemarin aku marah padamu. Mau kuceritakan kenapa?"

Dalam kebisuannya Hinata mengangguk. Ia telah menunggu seabad untuk sisi kelam Naruto. Hal-hal yang menjadikkanya terasa sulit dicintai. Ketika lelaki di depannya menutup mata, Hinata sadar luka lama sedang dibuka. Luka yang kering di luarnya saja.

"Pergi kau setan! Putriku tidak pantas dengan berandal suram sepertimu."

Tubuh Naruto sakit, bahkan untuk bangkit saja terasa sulit. Seminggu lalu ia menerima pukulan bertubi-tubi, sekarang pun sama. Padahal ia hanya ingin minta maaf, didengarkan dan mengambil kewajiban yang harus ditanggungnya. Sekali ini saja, Naruto beraharap Tuhan membantunya merebut kebahagian, memperoleh keluarga yang dia impikan. Ia hanya mau Shion, juga fetus dua bulan di rahimnya, dan berjanji menjadi lelaki bertanggung jawab.

Seminggu ini Naruto kelimpungan mencari uang, pinjaman dan kontrakan untuk menjamin perempuannya. Sebab tak mungkin perempuan gedongan ditempatkan dalam kamar kos yang sempitnya bersaing dengan kandang. Shion lebih berharga dari itu, juga Naruto ingin mengemban kepercayaan sebagai suami dan ayah. Tak masalah ia baru dua puluh tahun, tak masalah kuliahnya dipinggirkan, yang penting kekasih dan putranya hidup normal. Ia tumbuh tanpa figur ayah-ibu, dan tak ingin mengulang kesedihan itu pada keturunannya. Mungkin bayinya hadir karena kesalahan, tapi bukan berarti layak dibesarkan dengan menanggung hina. Naruto mau dan ingin menjadi suami, menjadi ayah yang kelak diceritakan dengan bangga oleh putra-putrinya.

Sayang realita tidak ekuivalen dengan ekspektasi. Keluarga Shion tak berbeda dengan keluarganya yang memperlakukan bagai sampah. Naruto dianggap pembawa sial, perusak, hama dan entitas yang tak layak hidup di antara mereka. Mereka memandangnya seperti kotoran, sampai-sampai ia diinjak-injak dan diludahi begini. Visual Naruto buram oleh airmata, ia merangkak kembali pada ayah Shion. Memohon di sela suaranya yang pecah karena tangis.

"Tolong… ijinkan saya bertanggung jawab."

Kemudian yang diterima Naruto adalah tendangan, kerahnya diangkat tinggi dan dalam satu pukulan berulang tumbang. Darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya.

"Ayah… ayah tolong, sudah." Isak Shion.

Permohonan Shion seperti obat yang menyejukkan hati. Tidak peduli betapa terluka tubuh Naruto sekarang, suara itu mengurangi sakit yang menimpa bertubi-tubi. Ada harapan di sana, ada cinta yang coba menyelamatkan.

"Si berandal ini mau bertanggung jawab? Khah, dipikirnya aku sudi memiliki menantu macam dia?" bahkan dalam kealpaan serangan fisik, ayah Shion tetap menyerang Naruto secara verbal. Kata-kata adalah seburuk-buruknya pedang, lukanya akan bertahan sepanjang hayat dikandung badan. "Shion, beritahu dia!"

Ketika Shion menggeleng Naruto mencurigai hal lebih buruk tengah terjadi. Ia sanggup melawan dunia karena perempuan itu semangatnya, tapi jika Shion sendiri yang melepaskan genggam, maka pecahlah hatinya berkeping-keping. Rusak tak terbenahi, tanpa sisa.

"Tidak mau?" Tantang ayah Shion pada putrinya. "Baik. Dengar berandal, iblis kecil yang kau ciptakan di rahim putriku sudah musnah. Dengar itu? Setan kecilmu sudah diaborsi."

Sesaat jantung Naruto berhenti berdetak. Lalu nafasnya memburu, meliar bersama kemarahan yang merembes ke sela pori-pori. Tidak, tidak mungkin. Apapun boleh terjadi, tapi jangan kejahatan ini. Naruto telah dihina sepanjang hidup, salah apa anaknya hingga dibunuh sebelum melihat dunia? Apakah menanggung gennya merupakan dosa?

"Tolong hentikan." Naruto menggeleng, memelas pada Shion yang masih memiliki hati. "Katakan bahwa dia bohong. Kumohon..."

Shion hanya menangis, dan Naruto tahu kebenaran itu. Oh, ia tidak sanggup. Bahkan perempuan yang sangat dipujanya ini tidak percaya. Turut merendahkannya dengan memusahkan benih yang tak berdosa. Seolah semua yang berdarah Uzumaki tidak pantas hidup. Shion tidak mengatakan hujatan, tetapi ia mewujudkannya.

"Brengsek."

Naruto menerjang. Semua ketakutan dan penghormatannya pada ayah Shion lenyap. Di matanya hanya ada kriminal paling keji yang memusnahkan kesempatan hidup jiwa tanpa dosa. Ia menghantamkan pukulan, bertubi-tubi dan marah. Kekuatan yang tiba-tiba muncul ketika hal yang paling kau lindungi direnggut paksa.

"Hentikan, Naruto-kun!"

Perempuan itu masih memanggilnya –kun, tetapi rasanya begitu menyakitkan. Semua romansa diganti oleh kebencian dan keinginan melukai. Cintanya tak berarti, terlalu remah karena Shion bahkan tak sudi meneruskan kehamilannya. Padahal, Naruto siap jika bayi itu diberikan begitu dia lahir. Biarkan ia menjadi satu-satunya keluarga. Tetapi, pada akhirnya, Shion adalah mereka yang menghilangkan makna belas kasih. Di mata Naruto, pelacur bahkan memiliki harga lebih tinggi.

Naruto berhenti memukul, ia jatuh bersama seluruh kekuatan yang luruh. Ayah Shion memaki-maki, beberapa kali meninjunya lagi. Namun ia tak mendengar apapun, semua mengabur dalam lara, menghempaskannya jadi kepingan tanpa makna. Desau angin, suara-suara, segalanya berlalu kecuali satu. Kalimat terakhir Shion yang mengakhiri mereka:

"Berheni menemuiku. Kita tidak ditakdirkan bersama, selamanya tidak akan bisa bersama."

Pintu rumah tertutup. Naruto terbaring di tanah, berlumuran darah. Kegelapan memeluknya, gelap pekat dan hitam dan kelam, sebuah sunyi yang mengasingkan. Segalanya direnggut kasar dari Naruto, tak satupun tertinggal kecuali kebencian. Ia tak terselamatkan.

Tangan Naruto bertumpu pada lengan sofa, sedari tadi menunduk menghindari tatapan Hinata. Ketika mengangkat kepala, sepasang kelabu itu basah. Sinkron dengan miliknya yang mengkristalkan kaca-kaca. Canggung, Naruto mengalihkan pandang, namun telapak tangan mencegahnya lembut. Jemari Hinata mengusap air matanya, mendekap kepala Naruto ke dada.

Lelaki dua puluh lima tahun itu memeluk seperti bocah. Ia menangis, menumpahkan kesedihannya yang ditahan sendiri bertahun-tahun. Nafasnya sesak namun hatinya lega, dalam pelukan Hinata ia menemukan rumah. Naruto merasa diterima utuh, lengkap dengan cacat dan hinanya. Usapan sayang pada rambutnya, menghangatkan hati yang lama beku. Hinata berhasil menemukannya, membuat Naruto tersentuh tanpa perlu bersentuhan.

"Kak… kakak kuat. Kakak luar biasa karena bertahan sampai sejauh ini." Hinata terisak, mengusap-usap punggung Naruto. "Tapi yang kakak lakukan itu nggak baik. Jangan simpan semua luka sendiri. Ada aku, bagikan kesedihanmu padaku." Hinata marah pada keadaan, pada takdir yang menciptakan monster dalam diri Naruto.

"Sekarang kamu tahu kan, aku bukan cuma lelaki tanpa masa depan, tetapi pernah menghamili perempuan. Tidak ada kebaikan dalam diriku, Hinata. Bahkan Shion tidak sudi mengandung bayiku."

"Tidak, kakak tidak seperti itu." Hinata menarik wajah Naruto agar menghadapnya. "Jangan memandang rendah diri kakak. Orang lain bisa melakukannya tapi jangan kakak. Berjanjilah, tidak akan menyembunyikan apapun dariku?"

Dalam dekapan Naruto mengangguk. Rasanya ia tak ingin apa-apa lagi. Hinata memenuhinya, Tuhan baik sekali mengirimkan gadis ini. Cantik, pendengar tanpa prasangka dan hati yang murni. Seperti hadiah yang sudah lama sekali Naruto pinta.

Tiba-tiba Hinata menjauhkan kepala Naruto, tidak lain untuk mengecup keningnya, lama. Naruto merasa dicintai, Hinata membuat perbedaan dalam hidupnya, ke arah lebih baik. Nona Hyuuga ini tidak menghakimi, malahan mendengarkan dengan peduli. Ia malu karena sempat meragukan itu, bagaimana lagi, masa lalu menciptakan pribadinya yang skeptis. Tanpa disadari, Hinata meruntuhkan tembok yang ia cipta, melunturkan senyum palsu yang senantiasa dipasangnya. Naruto berterima kasih karena Hinata tak pernah melukai.

Kecupan itu bergeser ke hidungnya sekilas. Ia bisa merasakan hembusan nafas sang pacar dekat dengan bibir. Namun kemudian memilih menjauh, kehangatan Hinata menghilang tiba-tiba.

Pada sepasang mata yang memandang penuh kasih, Naruto meminta. "Kiss me, Hinata. Please."

Hati Naruto berdebar mendapati Hinata mengangguk, takut meledak dalam kebahagian. Ini Hinata, seseorang yang ia letakkan dalam level berbeda di antara semua perempuan. Pasti akan istimewa. Maka Naruto memejamkan mata.

Ketika kehangatan nafas Hinata hanya berjarak beberapa senti, jarak tercipta lagi.

"Kak Naruto."

"Hm?" gumam si Uzumaki tak sabar.

"Aku tidak tahu caranya."

TO BE CONTINUED