GESTALT

Chapter 5

Disclaimer: All the charaters are Masashi Kishimoto's, this Gestalt things are mine.

"Aku tidak tahu caranya."

Debaran jantung Naruto surut segera, tersubstitusi sesuatu yang menggelitik manis. Bisa jadi itulah yang orang-orang sebut kupu-kupu beterbangan di perut, terasa lucu aneh tapi menyenangkan. Ia kagum bagaimana Hinata mengatakannya dengan lurus, nyaris tanpa tahu malu. Oke, memang tidak ada yang memalukan. Hanya, pertama kali itu Naruto mengalami jujur yang kelewat terang-terangan.

Mau tidak mau, ia tertawa, kepolosan Hinata tidak diragukan menghibur. Bagaimana bisa seseorang bersikap sebijak ahli jiwa kemudian seinnocent bayi baru lahir. Naruto suka betapa tak berbakat pacarnya dalam poker face, dan tak pernah canggung untuk itu. Mata Hinata seperti jendela transparan yang langsung mencerminkan hati. Refleksinya dapat seketika diterjemahkan sebagai marah, senang, sedih pun. Ajaib, biasanya Naruto memasabodohkan ekspresi di mata orang, tetapi pada Hinata pentingnya bagai kartu as. Lagi pula, organ penglihatan perempuan itu cantik sekali, bersaing tipis dengan lesung pipi favoritnya.

Dorongan mengecap-ngecap bibir Hinata sirna oleh pertunjukan kemurniannya. Naruto memutuskan menciumnya di dahi, sebuah tanda afeksi yang pas untuk kepolosan. Entah dengar dari mana, ciuman di kening katanya implementasi rasa sayang yang suci. Melihat kebocahan Hinata, Naruto ingin mengawetkannya di museum supaya tak tercemar nafsu dunia. Kemudian dibuat tertawa lagi karena Hinata memandangnya seolah ia melakukan sesuatu di luar akal.

"Apa?" tantang Naruto. "Adek bayi tidak boleh dicium di mulut dek ya."

"Ish." Hinata mendorong bahu Naruto. "Iya soalnya kakak terbuat dari kuman."

"Bukan dong. Kuterbuat dari sperma yang dimuntahkan phallus lalu menerjang sel telur melalui vagina."

"Kakak! Jangan bicara kotor." Teriak Hinata, kaget atas kalimat Naruto yang asusila.

Dengar? Hinata bahkan melabeli seks sebagai 'kotor'. Rasanya Naruto ingin menepuk jidat sepanjang masa, menenangkan testosteronnya supaya tak berulah.

Di sisi lain, keluguan Hinata bukanlah sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Ingat kan dia adik Neji? Meski aneh, harus diakui Hinata lebih pragmatis dari semua perempuan di hidupnya. Sedikit banyak, Hyuuga satu ini dibesarkan oleh sang kakak, dan hampir-hampir tak mengenyam figur ibu. Dia tidak berasumsi berdasarkan perasaaannya, melainkan apa yang dilihatnya. That's a fundamental difference between guy and girl. Pengetahuan bahwa seorang wanita itu cantik terletak pada paras, bukan tutur kata atau kecerdasan emosionalnya. Persetan dengan inner beauty. Hinata pun, berasumsi dari pengalaman yang dialami kepala. Naruto sering merasa pacarnya tersebut berpikir secara laki-laki. Tidak ada Hinata mengungkit-ungkit dirinya yang bergonta-ganti perempuan, tetapi sekali membuat keputusan, jangan harap dia melupakan rekam jejaknya yang penuh tinta merah.

Naruto ingat sehari pasca ciuman gagal itu, Hinata mendatanginya dengan muka seserius peserta Ujian Nasional. Tanpa tedeng aling-aling mencetuskan ketegasannya yang sepekat jelaga.

"Kak Naruto, aku nggak tahu ini apa, tapi aku suka kakak. Suka berada di sekeliling kakak, dan menjadi tempat untuk berbagi. Tapi, bukan berarti kakak bisa memperlakukanku semena-mena. Kuharap kemarin dulu yang terakhir, jangan sampai melempar botol dan meremas wajah segala. Kalau tidak suka, bilang. Selama itu masih bahasa manusia aku bisa mencoba paham, tapi bukan bahasa tubuh yang kasar. Kalau kakak melakukan lagi hal yang di luar kapasitasku, mungkin hubungan kita perlu ditinjau ulang. Masih ada atau tidak kebaikan bagi kita berdua. Aku sayang kakak, tapi jangan sampai kita terjerumus pada toxic relationship di mana kedua pihak saling menyakiti. Sesuatu yang tidak ada kebaikan di dalamnya, nggak layak dipertahankan."

Kelugasan Hinata membungkam Naruto telak. Ternyata benar, untuk orang seperti Hinata, ia lebih takut dipahami daripada disalahpahami. Semakin dekat, Naruto semakin jauh dari sempurna. Jujur ia malu banyak, Hinata semacam guru yang menegur muridnya dengan telaten. Lembut dan rasional, sementara Naruto bocah tantrum yang anarkis. Namun tidak dipungkiri, ia setuju, searah dan sekata dengan kekasihnya. Komunikasi adalah kunci, dan Naruto telah cukup menjalin hubungan di mana gadis-gadis selalu merasa benar. Padahal sejatinya mereka kanak-kanak ngambek yang mengharap dibujuk.

Selesai dengan Hinata, Naruto harus menghadapi lagi konfrontasi yang lebih canggung. Hyuuga Neji, genius yang berpikiran Einstein tapi bertingkah Mr. Bean. Muncul dengan menudingkan pemukul baseball, Neji secara elegan membentangkan permusuhan.

"Kau memacari adikku."

Pernyataan, bukan pertanyaan. Sai tidak tahu, Sasuke tahu karena diberitahu, tapi Neji selalu bisa mengandalkan dirinya, apalagi cuma demi informasi. Lelaki yang kini memukul-mukul udara dengan tongkat baseball, mengetahui adiknya sedang di sarang buaya. Menurutmu, apa yang kira-kira akan dilakukannya? Memberikan perlindungan seperti kakak yang protektif, atau membiarkan Hinata terjerumus karena Neji seorang genius dan itu sifat iblis?

"Y-ya." Gagap Naruto.

Kadang percuma saja bicara serius dengan Neji. Ia menguasai pikiran lawan bicara, menebak tepat dan membuat kita menyetujui apapun yang keluar dari mulutnya. Seperti genjutsu. Dia akan merasionalisasikan pendapatnya sampai orang idiot pun paham, lalu tiba-tiba kita tak memiliki pilihan selain sepakat.

"Kau itu buaya, eh bukan, buaya kan hewan setia. Kelinci, ya ya, kau cocoknya kelinci, Dobe. Berdasarkan catatan ilmiah, kelinci itu hewan bernafsu tinggi dan sanggup berhubungan dengan betina manapun sepanjang ia sehat." Lihat, bahkan dalam situasi ini Neji sibuk mencari istilah tepat untuk mengatai-ngatainya. Naruto hendak tersinggung, tapi ia sudah biasa.

"Intinya?" pangkas Naruto.

"Hhh." Neji menghela nafas panjang. "Kau membuatku terpaksa melakukan kejahatan pada Hinata."

Naruto mengangkat alis, menunggu Neji meneruskan kalimatnya. Sedikit banyak ia yakin lelaki itu sudah memutuskan sesuatu yang dialektis. Ugh, Naruto terdengar seperti Hyuuga.

"Aku nggak mungkin melarang Hinata berpacaran denganmu. Meski kebrengsekanmu tidak diragukan, melarang Hinata sama saja merenggut haknya tumbuh secara emosional. Kalau dianalogikan seperti merantai toddler yang sedang belajar jalan. Lagian aku nggak ingin bertengkar hanya karenamu. Kau tidak seberharga itu untuk jadi alasan." Naruto meringis mendengar penjelasan Neji. Namun, sekali lagi, ia terbiasa. "Maksudku, percuma berbusa-busa menentang hubungan kalian. Pelajaran berharga tidak didapat dari mulut orang, melainkan pengalaman. Jika kalian survive sampai pernikahan, ya bagus. Tapi prediksiku kalian akan putus cepat atau cepat sekali. Dari situ Hinata akan tahu sendiri bahwa pacaran tidak berguna, dan jatuh cinta membuat seseorang hilang akal sampai rela disakiti. Putusnya kalian akan menjadi pelajaran bagi adikku untuk berhati-hati dalam memilih pasangan."

Awfully accurate prediction. Naruto benci mengakui Neji pandai memprediksi. Dia bukannya memiliki kemampuan visual macam peramal, namun selalu bisa mengandalkan logika berpikirnya yang analitis.

Sekarang si Hyuuga genius memperkirakan Naruto putus hubungan dengan Hinata. Opini yang ingin ia tertawakan untuk saat ini. Menyudahi hubungan dengan adik Neji adalah keputusan yang membuat Naruto berpikir 69696969 kali, dan hasilnya tetap tidak. Sebab, ia tidak akan meninggalkan hubungan mereka, jika bukan Hinata yang meminta.

"Apalagi sekarang ada Shion." Neji melanjutkan. "Dilihat dari pertemuan di teras rumah kemarin, kau masih peduli padanya." Melihat gelagat Naruto menyangkal, segera Neji menyela. "Tidak, jangan bodoh Dobe. Jangan kira aku tidak melihatnya di matamu, di caramu memanfaatkan Hinata. You just denying it at your best. Mengakui nggak peduli adalah omong kosong paling palsu. Bagaimana bisa orang nggak peduli tapi bertingkah supaya mendapat reaksi."

Naruto bungkam. Jadi sejelas itu? Yah, harus diakui ia tak bisa biasa saja pada Shion. Butuh terbiasa untuk menganggapnya bukan siapa-siapa. Tapi, Naruto tak mau plin-plan. Hinata-adalah-kekasihnya. Titik.

"Tapi satu hal, Dobe. Sekali kau memutuskan hubungan dengannya, Hinata is out of your league. She is fucking different."

.

.

.
Pada dasarnya Neji dan teman-teman hanya menghabiskan waktu pada akhir pekan. Pada weekdays mereka habis-habis dalam aktifitas duniawi, entah kuliah, kerja, maupun kuliah sambil membengkel macam Naruto. Rahasia bagi pertemanan awet mereka adalah agenda rutin, berupa jalan di luar untuk mengimplementasikan solidaritas yang disebut outbound. Secara harfiah tujuannya untuk menjalin keakraban, tapi tujuan licik tersembunyinya adalah jalan-jalan gratis sebab disponsori salah seorang secara bergantian.

Bulan ini adalah giliran Sai. Sebenarnya orang-orang jeri membayangkan apa yang direncanakan lelaki itu. Beberapa bulan lalu, outbond versi Sai adalah kemah di hulu sungai yang hanya bergeser 2 km dari rumahnya. Semua nyaris mengamuk, beruntung ada lomba memancing berhadiah. Entah apa ulahnya kali ini.

"Ayo berangkat." Ujar Sakura tak sabar.

"Tunggu masih ada dua orang." Sai mengetuk-tukan buku jarinya di kap mobil.

Dua orang? Kemungkinan adalah pasangan Sai dan Neji. Ugh, sesungguhnya Hinata bukanlah fans dari date macam ini, terdengar dibuat-buat dan mendiskreditkan yang berpasangan. Lagi pula, Neji, siapa yang dimungkinkan jadi pacarnya? Kakaknya tampak tak tertarik pada spesies manusia.

"Maaf terlambat."

Seorang perempuang yang rambut dicepol dua, mendatangi mereka. Tasnya besar seperti akan naik gunung. Naruto menyikut Neji, mengisyaratkan perempuan itu 'sesuatu' bagi kakak Hinata, tapi malah dibalas dengan melengos.

"It's okay, Tenten." Naruto menanggapi, serangai jahil bertengger di wajahnya. "Neji juga masih di sini."

"Neji-kunnn…" Seru Tenten, menggamit lengan Neji yang ogah-ogahan.

Berdasarkan pemandangan tersebut, Hinata menebak hubungan rumit yang sedang dijalani perempuan itu dengan kakaknya. Cinta bertepuk sebelah tangan, atau bertepuk tangan tapi Neji terlalu hipokrit untuk mengakui. Perempuan-perempuan yang emansipatif terhadap perasaan selalu mengagumkan Hinata. Ia sendiri senantiasa mempertimbangkan harga diri, akibat dan juga untung-rugi apabila hendak menyatakan perasaan pada pria.

Belum beranjak dari afeksi terang-terangan Tenten kepada Neji, datanglah peserta terakhir mereka. Hinata dapat merasakan Naruto menegang di sampingnya.

"Shion?" ucap Naruto pelan, tanpa sadar.

"Sai mengundangku kemari. Dia bilang kita semua akan bersenang-senang dan mengakrabkan diri." Shion memandang bergantian dari Naruto ke Hinata.

"Ya aku mengundangnya. Siap berangkat semua?" Sai lalu bergeser mendekati Naruto, berbisik dengan pamrih. "Berterima kasihlah padaku, Dobe. Ini kesempatanmu."

Man… He has no idea.

.

Satu persatu menaiki mobil travel, Sai duduk di belakang kemudi, menjadi penunjuk arah sebab hanya dia dan Tuhan yang tahu mereka menuju kemana. Hinata duduk bersama Sakura dan Sasuke, di depannya Naruto dan Shion menempatkan diri amat kaku. Melihat meraka, Hinata sadar, hanya dibutuhkan satu peristiwa untuk sepasang kekasih berubah lebih parah dari orang asing. Hati manusia seperti tidak diciptakan untuk perasaan yang statis.

Mobil melaju lambat, nyaris tidak niat. Bisa dipastikan kecepatannya tak lebih dari 40km/jam. Orang-orang mulai menggerutu.

"Tunggu… tunggu, kenapa rutenya tidak asing. Ini kan jalan menuju rumahmu, jangan-jangan kita ke sungai lagi." Sasuke mewakilkan keresahan semua kepala.

"Diam sajalah, Teme." Tukas Sai.

"Kalau ke sungai lagi aku lebih baik disiksa merancang ransum untuk manusia sejepang raya." Ketus Neji. Bahkan dalam kesinisannya, Tenten memandangi lelaki itu seakan ia dewa.

Tak ada tanggapan dari empunya ide, mobil tetap melaju lambat seperti Tayo. Namun kemudian, sebuah rumah yang terlihat dari jauh membuat sebagian penumpang mendesah kecewa.

"Taraaa. Kita sampai." Seru Sai.

"Sial. Ini rumahmu!" Koor kejengkelan membahana.

.

.

.
Ide konyol Sai rupanya tak seburuk dugaan. Laki-laki yang kata Naruto memiliki otak di mulut itu, merancang acara tak modal tapi nyatanya mengakomodir semua kepentingan. Bayangkan jika mereka berkemah di pantai, pasti nasib Neji yang sedang diare menderita sekali.

Sekarang mereka tengah duduk mengitari api unggun. Sebagian sumbunya adalah sampah dedaunan dari halaman rumah. Hinata menggeleng kepala takjub, Sai dan keajaibannya. Sering membuat keputusan praktis nyaris tanpa berpikir, konyolnya sebelas dua belas dengan Neji. Namun kakaknya lebih ke arah cerdas, sementara Sai pelit dan irit. Siapa sangka juga lelaki seperti Sai yang cuek amburadul, berbakat menjadi bucin tingkat alam semesta. Sekalinya Hinata membawa teman ke rumah, Sai langsung pendiam dan nervous tanpa penjelasan, ketika cuma berdua ternyata alasannya adalah:

"Hinata, temanmu yang mirip Barbie itu sepertinya jodohku." Terangnya. "Cocok kalau namaku menjadi Yamanaka Sai."

Konyol lagi, binomial nomenclature manusia Jepang adalah menarik marga dari pihak laki-laki. Lalu Hinata ingat, Sai dari sekte Root, non identitas merupakan kenormalannya.

"Oke teman-teman, jadi acara kita sekarang adalah pentas seni." Ujar Sai ceria. "Tepuk tangan woy, anda-anda ini nggak peka sekali."

Semua tepuk tangan terpaksa. Perlu dicatat, segala yang terjadi di rumah ini merupakan paksaan, tapi herannya masih bisa dinikmati.

"Interupsi MC, jagung bakarnya belum keluar dari tadi." Sasuke menyela. Di sekitar Sakura lelaki itu sedikit berbeda, agak interaktif.

"Baiklah. Aku mengutusmu mengambilnya sekarang, demi kemaslahatan rakyat jelata." Perintah Sai.

"Enak saja."

"Lakukan tidak?" Berhubung ini rumahnya, Sai memproklamirkan diri sebagai raja. Sejak kemarin aktivitasnya kalau tidak menyuruh, mengatur, menyuruh lagi.

Sasuke melotot, tapi kemudian mendesah pasrah. "Ya ya, baiklah Usuratonkachi – Sama."

Hinata melirik Naruto, mendapati lagi pacarnya petak umpet mata dengan Shion. Satu melirik lainnya melengos, begitu bolak-balik. Tempat duduk yang dipisah antara laki-laki dan perempuan, membuat mereka semakin berjarak. Bukan Naruto mengabaikannya, malah, Hinata merasa diperhatikan berlebihan. Tetapi, perhatian kali ini tak menyenangkannya. Naruto seakan membuat penegasan pribadi bahwa Hinatalah pacarnya, bukan perempuan lain.

"Uzumaki Dobe." Sai membaca nama Naruto yang tertera di lintingan kertas. "Giliranmu."

Tatapan Naruto langsung tertuju padanya, dan tak lupa, Shion. Hinata tidak jengkel, dia cuma terus-terusan menebak motif lelaki itu.

Naruto beranjak ke tengah lingkar, bias cahaya api menerangi ekspresinya yang beragam. Antara ceria, cengengesan lalu dingin sama sekali.

"Kepada bapak-ibu sekalian yang di sini karena terpaksa, kusumbangkan suara merdu ini."

Seluruh perhatian tertuju pada Naruto. Tidak dipungkiri, warna mata Naruto merupakakan magnet, biru menyala kontras dengan kulit coklatnya. Sepasang keindahan itu sedang menatap objek lain. Hinata tahu siapa.

No I can't step one more step toward you.

Christina Perry, Jar of Heart. Penonton bersorak riuh, menggoda seseorang yang menjadi alasan untuk lagu itu. Sai mengutuki karena lagu mellow sangat bukan Naruto. Hinata sendiri sibuk dengan pikirannya yang terbelah antara pacar, mantan pacarnya pacar, dan statusnya sebagai pacar.

Melihat Naruto mencurahkan atensi pada Shion, meski berupa kebencian, rasanya bagai diselingkuhi di depan mata. Dalam tempo ini, ada yang lebih menguasai angan Naruto ketimbang dirinya. Ditambah lagi keintiman mereka pada masa lalu, secara de facto Hinata bukanlah siapa-siapa. Baginya yang masih perawan, seks adalah perasaan, penyerahan dan penyatuan. Sesuatu yang melebihi akrab, melampaui kata cinta. Ia tidak bisa menghentikan benaknya memvisualisasikan Naruto dan Shion yang saling menikmati tubuh, berbagi peluh, hingga zigot tertanam di uterus. Hinata tidak tahan membayangkan kekasihnya menyayangi Shion, tak rela lelaki itu melekat tanpa jarak daripada mereka berdua pernah. Bodoh, kemarin ia merasa pasti bisa menerima Naruto, sekarang terbebani oleh masa lalu itu.

Ada perasaan jijik, juga cemburu yang bertalu-talu. Ya, akhirnya Hinata mengadopsi cemburu sebagai kata yang menjelaskan ketidaksukaanya. Sebagai perempuan dengan harga diri, Hinata takkan sanggup melepas lelaki yang telah membawa ke awang-awang, apalagi sampai mengandung. Dan bagaimana mereka, apakah jika Naruto memaafkan keduanya akan kembali? Kemudian Hinata tak punya hak mengganggu dua orang yang seakan tercipta bagi satu sama lain. Ia akan tersingkir, terlupakan.

Who do you think you are.

Sampai baris terakhir lagu pun Naruto belum selesai menatap Shion. Mata birunya disorotkan nyalang seperti elang. Hinata sesak, butuh ruang untuk membebaskan cemburu yang mendesak."

"Kak, aku ke toilet." Pamitnya pada Sakura.

Ruang tenang meredam ambiguitas yang tengah bergelut di benak Hinata. Tidak boleh kekanakkan, jangan membiarkan asumsi pribadi mengambil porsi dalam bersikap. Ditatapnya cermin, lalu untuk pertama kali ia mempertanyakan hal tak perlu. Siapakah yang lebih cantik, Ia atau Shion? Hinata berharap cermin di hadapannya milik ibu tiri snow white sehingga tidak membesar-besarkan insecurity-nya yang tak beralasan. Tetapi, bagaimanapun lelaki adalah sight driven, opininya terhadap perkara subjektif distir oleh pengalaman mata.

Begitu keluar toilet pergelangan tangan Hinata dicekal seseorang. Naruto.

"Kenapa Hinata?"

"Oh tidak apa-apa." Hinata bertanya-tanya mengapa Naruto tidak risih memegang tangannya yang habis dari kamar mandi. Ia pribadi menghindari sentuhan langsung dengan seseorang dari toilet, apalagi kalau tangannya basah.

"Kamu melamun sepanjang nyanyianku, nggak melihat sama sekali."

Oh Naruto memperhatikan. "Hanya memikirkan sesuatu. Lalu ingin ke toilet."

Naruto hendak membahas lebih lanjut, tetapi Hinata menariknya ke halaman belakang, semua sibuk memegang aneka panganan."Ayo kak ntar kehabisan."

Meja telah dipenuhi makanan; jagung bakar, sosis bakar, marsmellow dan banyak lainnya. Hinata mengambil susu coklat dan jagung, berniat gabung dengan Naruto yang sudah melingkar. Pentas seni terpaksa iklan sebentar oleh makanan. Foods are irresistible indeed.

Naruto menerima gelas dari Hinata dengan senyuman lebar, lalu mengerling nakal seperti biasa. Ia tersipu karena lelaki itu menggesturkan ciuman di udara.

Tiba-tiba keduanya, dan hampir semua orang, dikejutkan oleh Shion yang merebut gelas Naruto kasar.

"Hinata, Naruto itu lactose intolerant. Dia tidak bisa mengonsumsi apapun yang mengandung laktosa."

Naruto tercengang. Sedang Hinata terluka karena perempuan lain lebih memahami pacarnya. Oh tentu saja. Shion mengenal Naruto duluan, pernah begitu akrab, tanpa spasi apapun, melekat sebagaimana satu. Hinata merasa jadi orang ketiga.

.

.

.
Pentas seni semalam menyisakan tidur lelap bagi semua orang. Oke, kecuali, Hinata. Jam biologisnya tepat membangunkan pukul empat pagi, tersebab ia mencintai fajar. Ketika semua orang mabuk senja, Hinata masih setia dengan fenomena fajar. Sesuai filosofinya, pergantian gelap menuju terang. Ketenangannya, udara sejuk, warna langit, semua itu bagai simulakra antara manusia dan alam semesta.

Rumah Sai memang masih kota, tetapi minimal punya balkon yang menghadap arah matahari terbit. Sembari menunggu fajar Hinata membuka buku bacaannya. Penelitian dokter saraf yang ia lupa namanya, menyatakan bahwa aktifitas intelektual yang dilakukan di subuh hari lebih mudah tersimpan memori. Hinata sendiri jika tidak mengerjakan ihwal akademik, meluangkan waktu membaca di pagi hari. Ia wajibkan dirinya menyelesaikan baca satu buku setiap minggu.

Baru menekuri tiga paragraf, pintu sliding menuju balkon dibuka. Shion menghampiri, mungkin dia sudah cuci muka makanya terlihat segar.

"Hai Hinata. Sedang apa di sini sendiri?"

Hinata mengangkat buku sebagai jawaban. Kepada Shion, ia tidak sanggup memusuhi. Perempuan itu lembut, mungkin memiliki perasaan sehalus dirinya. Hampir mustahil move on dari orang yang mewujudkan segala mimpi feminim. Jauh di dalam hati, Hinata bertanya-tanya bagaimana Naruto melirik dirinya apabila ada Shion di depan mata.

"Tenang ya di sini. Aku juga suka bangun pagi, merasakan dunia yang begitu privat. Serasa milik sendiri."

Cantik, lembut tetapi Hinata melihat ketegasan dalam sorot matanya. Melihat Shion, cerita Naruto terdengar bagai lelucon. Entahlah, mungkin ia kekurangan figur wanita, sehingga bila berinteraksi dengan mereka yang memancarkan keibuan Hinata mudah kagum.

"Ngomong-ngomong, kamu apa serius dengan Naruto?"

Kemudian kepahitan mengalir dari mulut Shion. Hinata selalu bilang, tak ada sikap yang datang tanpa alasan. Keganjilan mengenai sikap perempuan itu terjawab sudah. Dia cuma korban dari gelombang ekspektasi orang tua. Terkadang ayah atau ibu kita menginginkan yang terbaik, beberapa juga menginginkan sang anak meneruskan cita-citanya. Shion merupakan cetak biru dari mimipi-mimpi ayahnya, ia kesempurnaan yang bisa diharapkan orang tua manapun di muka bumi.

Sayangnya, ketika setengah jalan menuju kebanggaan, setitik nila datang meruntuhkan. Kehamilan itu mengubah semua, terutama ayah yang dulu besar hati menyebut Shion sebagai putri kecil, beralih menjadi pelacur. Hinata tahu rasanya dihina orang tua sendiri, sialan adalah namanya bagi Hiashi. Seketika itu air matanya menetes, duka mereka seolah satu.

Kehamilan itu pula yang menjauhkan Shion dari Naruto. Ayahnya memaksa untuk menggugurkan, jika tidak maka Narutolah yang dihabisi. Ayahnya memiliki kuasa menyengsarakan hidup Naruto kemana pun melangkah. Memangnya apa yang harus dia lakukan? Melahirkan bayi yang akan dibenci seumur hidup? Bagi Shion yang terpenting saat itu adalah Naruto dan masa depannya terbebaskan. Ia mencintai lelaki yang hidupnya menyakitkan sejak semula, dan tak terlintas menambah kesedihannya.

"Sekarang aku infertil, Hinata."

Nafas Hinata tercekat. Tak sanggup membayangkan berada di posisi Shion. Aborsi merusak rahim yang baru sekali itu mengandung. Hinata menahan nafas saat perempuan di hadapannya mengisahkan betapa hancur ia. Sudah tak punya harga, tidak bisa memberi keturunan pula, semakin hina ia di mata sang ayah. Tak henti-henti ayahnya menjodohkan dengan kolega bahkan yang berumur dua kali dirinya. Sampai suatu kali Shion berniat mengakhiri hidup yang mencekik. Ia menunjukkan Hinata segaris bekas luka di nadi. Menurutnya, untuk apa menghidupi eksistensi diri yang membunuh jiwa berkali-kali, tak ada Naruto pula di sisinya.

Baru ketika ayahnya meninggal, Shion perlahan menapakkan langkah di dunia nyata. Berulang kali konsultasi psikolog demi mengatasi perasaan tak berharga yang melingkupi benaknya.

"Hinata, kamu cantik, muda, pasti banyak pria yang mau denganmu. Tapi aku, aku cacat Hinata." Shion menangis. "Hanya Naruto yang mampu menghidupkan hidupku." Ia menggenggam kedua tangan Hinata. Memohon." Tolong, sekali ini saja, ijinkan aku memperjuangkan Naruto kembali. Jika dia mau menerima, aku berjanji tak akan melukainya lagi."

Hinata hampir merasa Shion memanfaatkan empatinya. Harusnya plot twist ini bisa ditebak dari awal. Namun, seperti biasa, dipinggirkan bisikan emosional yang menghampiri. Ia memutuskan memeluk Shion, merengkuh segala sedihnya, kemudian menjawab diplomatis tetapi adil bagi semua.

"Bukan begitu, kak. Kak Shion menyayangi kak Naruto, aku pun. Selama ini dia juga terluka sendiri. Aku nggak ingin seolah-olah mengekangnya, juga memaksanya kembali ke kakak demi masa lalu kalian. Kak Naruto punya hak prerogatif untuk memilih."

Kedua perempuan yang mempedulikan satu hati saling mengerti. Namun tak ada yang tahu, Naruto mendengarkan semua. Mata birunya berkaca-kaca.

TBC