GESTALT

Chapter 5

Disclaimer: Naruto and all the character are Masashi Kishimoto's, this story is mine.

Hinata menutup buku, kekesalan mendorongnya sedikit melempar ke meja. Inilah kenapa ia tak suka fiksi popular. Motivasi untuk memahami selera pasar kandas pada sepuluh halaman pertama. Tidak, Hinata tidak mencela selera Ino dan sebangsanya, bagaimanapun selera adalah preferensi pribadi yang tak untuk diperbandingkan. Ia hanya menyayangkan plothole yang melubangi cerita sehingga tak masuk ke benak. Bukan permasalahan klisenya, tetapi segala sesuatu yang menjadi terlalu mudah atau kelewat berat bagi salah satu karakter.

Demikian pula dengan karakter antagonis, mereka seolah diciptakan semata-mata untuk kejahatan. Terkadang jahatnya menusuk sampai punggung yang mana tidak masuk akal. Padahal dalam realita, antagonisme hanyalah perkara fokus cerita. Bisa saja Hinata, yang merasa dirinya lurus, merupakan antagonis dalam cerita orang, dalam kisah Shion misalnya. Begitu pula perempuan itu, Hinata rasakan mengancam hubungannya dengan Naruto.

Tak pernah ada tokoh yang benar-benar villain di kehidupan nyata.

Dunia terlalu abu-abu untuk digolongkan ke dalam protagonist dan antagonist. Manusia adalah makhluk yang selalu mencari celah di antara dikotomi. Hinata sendiri kesulitan menuangkan dirinya dalam sebuah definisi. Apalagi menentukan individu lain, umpamanya Naruto. Lelaki itu segala yang Hinata pikirkan tentang lelaki, he fits so much with stereotype. Makhluk lugas yang pandangannya banyak disetir pengalaman mata. Tidak mengherankan Naruto mendirikan benteng untuk melindungi dari hubungan yang melibatkan hati. Sejalan dengan bagaimana caranya memperlakukan Shion. Lalu saat kebenciannya dipaparkan pada kebenaran, Hinata tahu, Naruto ditimbun rasa bersalah yang gigantis. Ia melihat tatapan yang menjadi lain terhadap Shion, seperti orang yang bermaksud melakukan penebusan dosa.

Hinata maklum jika Naruto kembali menerima Shion. Tetapi, perasaan cinta tak pernah selesai, jika tak berubah jadi benci maka setidaknya berkisar pada 'suka'. Ia bukan ingin membelenggu seseorang untuk tetap di sisi, namun, hubungan 'hidup segan mati tak mau' ini semakin tak sehat. Hinata berkali-kali mendapati Naruto asyik dengan ponsel, bicara tak fokus saat bersama, dan yang di luar toleransi, bertemu Shion tanpa sepengetahuannya.

"Shion itu teman, Hinata. Nggak pernah lebih."

Demikian alasan yang selalu dikemukakan si Uzumaki. Lelaki itu tak tahu saja bahwa menurut jurnal ilmiah yang dibacanya, pria tidak menjalin hubungan pertemanan platonis dengan perempuan. Jika tidak mengharapkan sesuatu, berarti mereka sedang mencipatakan friendzone yang menganggap si perempuan sama halnya dengan teman lelaki. Apa sesungguhnya yang Naruto harapkan dari Shion? Apakah Hinata harus mundur saja?

Hal yang paling tidak ia harapkan adalah Naruto bertahan dengannya karena perasaan tak enak. Komitmen tidak berjalan seperti itu, tidak bila satu pihak tak berusaha memperbaharui perasaan pada pasangan. Hubungan seperti ini akan mengarahkan Naruto dalam memperlakukan Shion sebagai guilty pleasure. Akan timbul perasaan senang tak semestinya ketika berinteraksi dengan Shion, si cinta yang salah tempat.

Hey, soon to be wife, besok jalan-jalan yuk. Pokoknya hadiah ulang tahunmu adalah penghambaanku padamu selama sehari penuh. Bagaimana?

Hinata menahan senyumnya untuk tak merekah ketika membaca pesan Naruto. Lalu apa ini? Pacar yang mencoba menebus kesalahan? Berani-beraninya ia memanggil Hinata calon istri.

Pesan manis itu mau tak mau membuat Hinata menipu hati. Yep, berpikir positif adalah trik psikologi untuk menjadi lebih bahagia. Anggap saja Naruto sungguhan menghamba, dan Hinata akan menciptakan perbudakan pacar di hari ulang tahunnya.

Hari H Naruto menyambangi Hinata di kediaman Hyuuga. Caranya meminta izin pada Neji hampir membuat Hinata bangga. Kecuali bahwa outfitnya selalu sesantai pengamen, ripped jeans dipadu wife beater yang dilapisi kemeja bekas kuliah. Tidak dinyana bahwa modelan begitu mampu mencintai perempuan kelewat dalam.

"Let's head up to our first destination, my queen. Sushi bola dunia." Seru Naruto riang.

Hinata merotasikan mata, tempat makan itu adalah yang dilewatinya setiap hari. Hanya bergeser 500 meter dari kampus, dan Naruto mengatakannya seolah mereka lunch date ke bulan. Dari tempat makan, mereka lanjut ke bioskop, timezone, makan lagi. Pada dasarnya aktivitas mereka hari ini berbasis mata, perut dan mulut.

Pukul delapan malam Naruto mengajak Hinata ke flatnya. Malam yang berangin dan tanpa bintang mengindikasikan hujan lebat turun segera. Hinata hendak menolak, khawatir hujan yang nampak berlangsung seumur hidup menahannya di tempat Naruto. Betapa pun milenial pergaulan para 20's zaman ini, Hinata masih memandang kepantasan dan peduli pada yang mungkin terjadi.

Sayang hujan terlanjur turun, deras seketika. Mereka bersicepat menuju flat, Hinata menangkap Naruto yang gugup ketika melihat padanya. Oh, bajunya yang basah melekat satu dengan kulit, mencetak yang menonjol. Ugh, lelaki dan hormonnya.

"Duduk dulu, Hinata. Aku ada kejutan untukmu." Sekali lagi pandangan Naruto piknik ke badannya, kali ini disertai seringai nakal. "Sepertinya hujan bagus juga bagi perempuan."

Untung lelaki itu cukup tanggap memberikannya handuk. Jika tidak Hinata terserang hipotermia dalam hitungan menit.

"Tadaa…"

Setelah secara norak meminta Hinata tutup mata, mematikan lampu utama, Naruto menyajikan blackforest yang menggoda. Coklatnya melimpah, membuat siapapun pecinta makan manis mengalami eyegasm. Pada permukaan kue terpasang angka 19, apinya menjilat-jilat paraffin lilin.

"Otanjobi omedetou." Ucap Naruto lembut sambil mengcup kening Hinata. "Make a wish dulu ya adek kecil."

Cheesy, dan sekaligus sweet. Hinata baru tahu bahwa ucapan klise itu mampu melonjakkan endorphinnya. Pada hitungan ke lima ia membuka mata, bersiap membinasakan nyala lilin. Sekilas Hinata ingat, meski tidak percaya, lilin pada kue ulang tahun merupakan tradisi orang Yunani yang beranggapan bahwa asapnya melayang menyampaikan doa pada dewa langit.

Tuuttt…tuuuttt…tuttt.

Ponsel Naruto berdering menuntut. Ketika diangkat wajah lelaki itu berubah pias, Hinata ikut was-was.

"Apa? Iya… iya. Sekarang kamu di mana?" ucap Naruto gugup. "Baiklah aku ke sana. Jangan panik, tetap di sana."

Segera Naruto menyambar kunci motor dan jaket. Pamit pada Hinata sekadarnya.

"Hinata, terjadi sesuatu pada Shion. Aku harus ke sana."

Ada sesuatu yang menghantam Hinata kuat. Rasanya mirip kemarahan yang mengganjal sistem respirasi. "Shion kenapa?" ia tak repot-repot menyertakan penghormatan 'kak'.

"Nggak tahu, Hinata. Tapi dia menangis." Naruto menjawab sambil mengikat tali sepatu, tanpa meliriknya. "Yang jelas aku harus ke sana."

Harus? Selalu ada lawan kata untuk adverbial. Hinata yakin keharusan adalah konsep yang Naruto ciptakan berkaitan dengan pedulinya pada tangis Shion. Ada sembilu tak kasat mata yang mengiris Hinata.

"Kalau aku melarang kakak pergi, apa kakak akan melakukannya?"

Raut kaget Naruto semakin menyakiti, menegaskan lelaki itu terlalu mencadangkan hatinya. Seolah-olah Hinata pemurah yang membebaskan apapun sesuai keinginan sang pacar. "Ini ulang tahunku. Kak Naruto janji memberikan sepenuh hari padaku, ingat?"

"Hi-hinata, aku hanya perlu memastikan keadaan Shion. Sebentar saja, kamu tunggu di sini sebentar." Mohon Naruto.

"Seberapa lama sebentar itu, kak? Di luar hujan, kakak lebih sayang Shion ketimbang diri kak Naruto sendiri?"

"Jangan konyol, Hinata." Dan rolling eyes itu, Hinata tak pernah merasa begitu tak dianggap. "Cuma sebentar!" Nada tinggi, Naruto selalu menggunakan itu tiap kali bersitegang dengannya. Apakah berlaku juga untuk Shion?

Tanpa mengindahkan perkataan Hinata, Naruto bergerak cepat, berharap segera keluar flat.

"Tolong kak, ini menyakitkan. Kalau kakak keluar dari pintu, kita selesai."

Pegangan Naruto pada pintu mengerat. Sekali ini saja, ia hanya ingin pergi menolong Shion. Kenapa Hinata menyulitkan? Bukan seolah-olah ia meninggalkan di altar untuk berlari pada perempuan lain. Mengapa di antara semua waktu, Hinata memilih egois sekarang.

"Jangan kekanakkan, Hinata! Aku akan memberikan semua waktu untukmu, tapi please, sekarang biarkan aku menolong Shion." Dalam remang kemarahan Naruto terlihat jelas. Sejelas caranya menyakiti Hinata bertubi-tubi, sejelas kepeduliannya pada hati yang lain.

Ketika menengok, jantung Naruto serasa ditusuk belati, Hinata menangis. Bukan tangisan deras seperti saat disakiti ayahnya, melainkan tangis bisu. Pandangannya menunduk, tetapi air mata mengalir pelan dalam diam. Naruto ingin merengkuhnya, mengatakan bahwa shion bukan apa-apa. Sayang ia terlalu pengecut, serta takut malah membesarkan ego Hinata.

Hinata menggeleng, memaksa Naruto memastikan hati.

Kemudian itu terjadi. Hatinya pecah berkeping-keping. Kebohongan-kebohongan yang Naruto pikir tak diketahuinya, memecah belah Hinata. Satu pelajaran didapatkan, betapa mudah sebuah kata merusak hubungan.

"Ah, persetan!'

Hinata bukan satu-satunya. Dia tak pernah nomor satu di hati Naruto. Detik ini, pria yang terus menerus mengucapkan kata cinta itu, memilih perempuan lain.

Si gadis Hyuuga tersenyum. Research mengatakan, senyum dapat memberbaiki suasana hati, seburuk apapun itu. Namun di tengah praktik, Hinata merasa seperti orang gila yang bersedih sampai tertawa.

"Kenapa tidak mau berhenti," monolognya.

Tangan kecilnya mengusap mata, tangisnya macam air terjun niagara yang tak pernah kering. Semakin diseka semakin deras, seolah mau mencemooh.

Hinata sesenggukan, nelangsa di antara sunyi dan gelap. Ia tersenyum miris menatapi lilin di atas kue ulang tahun yang telah dinyalakan. Naruto menjadi Hiashi yanga lain, dan Hinata sadar dirinya tak pernah prioritas. Pria yang pertama kali membuatnya percaya itu, memuntahkan segala ketakutan Hinata di depan mata. Ketika akhirnya harapan untuk dicintai datang, Naruto malah meminggirkannya, tepat di hari ulang tahun di detik setelah menerbangkan ke langit tertinggi.

Melihat nyala lilin yang mengejeknya, Hinata tak tahan. Tangannya bergerak melemparkan blackforest cantik yang telah tak bermakna. Gaduh sejenak, gelap seluruh. Perasaan Hinata mati berasama cahaya 19 yang luluh lantak.

.

.

Rumah Shion terang benderang, tak terlihat satu kepanikan yang harus diwaspadai. Begitu masuk, Naruto disambut tuan rumah yang berurai air mata. Gadis berambut pirang itu tinggal sendirian sejak sang ayah meninggal, ibunya pulang ke kampung karena tak tahan dengan kenangan yang melekat di setiap sudut rumah. Praktis Shion tak memiliki siapapun yang cukup dekat untuk dihubungi.

"Ada apa? Jangan membuatku takut begini." Tanya Naruto tergesa, cemas melihat Shion yang pucat dan menangis.

Detik selanjutnya Naruto dibawa ke ruang kecil. Shion menunduk, memperlihatkan sumber masalah yang terbaring tak berdaya di keranjang busa.

"Neko-chan sakit. Naruto-kun tolong, kumohon, aku tak ingin dia mati."

Sejenak Naruto tertegun, perjuangan ke sini tak seringan masalah yang terpampang di hadapannya. Ia memahami ketakutan Shion, Neko merupakan satu-satunya yang masih mengikat mereka. Kucing yang Naruto berikan pada anniversary kedua.

"Kenapa tidak telepon dokter hewan saja?" Naruto bertanya lemas.

Tak dapat ditahannya kejengkelan yang merebak. Rasanya Naruto ingin meremas kucing itu sampai mati, sesosok yang membuatnya meninggalkan Hinata. Konyol, dua hal tak sebanding kenapa harus menjadikan dirinya pria tak berperasaan.

Namun, kemarahannya takkan berguna. Naruto segera menghubungi Sasuke yang kakaknya memiliki teman dokter hewan. Tak berselang lama, ia mengajak Shion klinik hewan. Naruto ingin enyah dari hadapan orang yang membuatnya menggeletukkan gigi, satu-satunya yang dipikirkan sekarang adalah Hinata.

Sepanjang perjalanan kembali ke rumah Shion, Naruto diam. Sedikit di dalam hatinya menyesal pernah membeli kucing itu, menganggapnya sebagai latihan merawat anak. Bulu kucing tersebut telah berubah warna dan agak kasar. Sudah tua menuju mati, atau lebih baik mati sekarang saja. Naruto pernah mendengar bahwa umur kucing berbeda dengan hitungan umur manusia. Satu tahunnya kucing sama dengan lima belas tahun umur manusia. Benak Naruto berdecak, kucing itu bahkan jauh lebih tua darinya, tetapi tak sanggup memilih waktu tepat untuk menyusahkan.

"Naruto-kun, kok diam saja?" tanya Shion bingung.

Sial. Naruto harus bilang apa, kediamannya adalah menahan badai yang sedang bergulung-gulung dalam hati. Masa iya dia harus berkata, 'oh nggak apa-apa, sebenarnya aku berharap Neko mati saja.'

"Oh… Emmm, nggak apa-apa."

Shion yang tak mempercayai lelaki di depannya melanjutkan, "kamu ada urusan lain?"

Ia mengenal betul ekspresi yang kini terbentang di wajah Naruto, antara marah dan frustrasi, tak enak namun sedih. Shion bertanya-tanya hal apakah yang menyiksa lelaki itu. "Katakan padaku, Naruto-kun." Paksanya.

"Tidak apa-apa."

"Bohong."

"Kubilang nggak apa-apa ya nggak apa-apa!"

Akhirnya Naruto berteriak ketus. Tetapi Shion tertawa kecil, melihat betapa gagalnya lelaki itu menyembunyikan kebenaran.

"Kamu seperti perempuan saja, berkata A tapi hatinya B. Ayolah, bilang saja ada apa."

Naruto mendesah. "Itu… sebenarnya aku meninggalkan Hinata sendirian di flat. Ini hari ulang tahunnya."

Sesaat Shion kehilangan kata-kata. Ia tak bisa menghentikan hati yang berdenyut nyeri. Ternyata semua konsentrasi Naruto berlari pada Hinata. Gadis kecil Hyuga itu telah merampas perhatian mantan lelakinya tanpa sisa. Bahkan ketika berada di sisinya pun Naruto tak sekalipun memandang dengan peduli. Seolah-olah pertolongannya hanyalah bentuk kemanusiaan semata. Ia sadar, Naruto tidak melakukan gestur apapun yang secara spesifik ditujukan untuknya. Sebelah tangan Shion mengepal erat, menahan sakitnya perasaan tergantikan.

"Aku membuatnya menangis, Shion. Aku bodoh." Naruto membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan.

Krak. Hatinya retak mendengarkan penyesalan Naruto. Apakah jika dirinya yang berada di posisi Hinata, Naruto akan seterluka itu? Bahwa menyakiti perempuan lain ternyata melukai Naruto juga. Shion menahan nafas.

"Ya. Kamu bodoh." Shion menutupi kesedihannya dengan tersenyum.

"Hah?" Naruto mengangkat kepala, tercengang.

"Naruto-kun bodoh sekali karena membiarkan Hinata menangis sendirian. Ini hari ulang tahunnya, Baka. Kalau aku jadi dia pasti nggak akan memafkanmu. Pikir saja, seorang pria meninggalkan pacarnya untuk mantan. Di dunia manapun itu intolerable." Terang Shion.

Naruto mengacak-acak rambutnya. Kecewa pada diri sendiri dan takut kehilangan Hinata. "Lalu aku harus bagaimana?"

"Bodoh lagi." Membodoh-bodohi orang rupanya ekstase bagi Shion. "Kejar dong, minta maaf atas kebodohanmu yang tanpa filter itu. Pergi, kenapa masih di sini."

Mulut Naruto membuka-menutup, bingung dengan Shion. "Lalu kau?"

"Aku? Memangnya aku kenapa? Neko-chan sudah aman, harusnya tadi pun kamu nggak perlu ke sini."

Naruto berdiri, menyambar kunci motor dan jaket. Ia mendekati Shion dan mengecup pipinya ringan. "Baiklah. Aku pergi."

Shion menatap pintu yang tertutup di belakang Naruto. Air matanya menetes, namun bibirnya tersenyum. Segala kesalahan ini terasa benar. Mungkin juga Naruto benar di hati tetapi salah untuk takdirnya. Mengingat Hinata, ia tak sanggup bertingkah antagonis. Gadis itu segala yang terbaik untuk pria seperti Naruto. Jiwa yang selalu waras dalam menghadapi kegilaan-kegilaan yang bisa pria itu cipta. (Ditambahi Shion yang merasa Naruto berubah)

.

.

.Flatnya gelap, kue ulang tahun terlempar dan lilin berserakan. Naruto terlambat, ia menghancurkan mereka: dirinya dan Hinata. Diusapnya mata yang pedih, tangis hendak merebak. Apa yang sudah dilakukannya?

Naruto marah pada dirinya sendiri, untuk mendahulukan empati ketimbang hati. Ia sadar Hinata bukanlah cadangan yang harus dipaksa menunggu. Kegelapan ini, semua yang luluh lantak, apakah kekasihnya menangis sendirian? Naruto meninggalkan Hinata di hari ulang tahunnya yang tanpa siapapun, demi perempuan lain.

"Bodoh… bodoh… bodoh…" Naruto memukuli kepalanya marah.

Bayangan Hinata yang menangis sendirian, mencabiknya. Di luar hujan membadai, apakah gadis itu juga menerabasnya dengan hati patah berkeping-keping? Naruto ingat pernah ingin menghajar Hiashi karena menyakiti Hinata, dan sekarang, apa yang harus dilakukan untuk menghukum diri sendiri?

Ah ya, ditariknya ponsel untuk menghubungi Neji. Setiap detik nada sambung, Naruto berdoa setidaknya Hinata aman di rumah.

"HALO." Teriak Neji.

"Hey, Hinata sudah pulang?"

"HINATA? BUKANNYA DIA PERGI DENGANMU?"

Oh tidak! Hinata pasti terlalu marah untuk mempedulikan keselamatannya. Badan Naruto tremor, mulai memvisualisasikan yang tidak-tidak terjadi pada sang pacar. Demi Tuhan, Hinata punya asma, ia tidak bisa berada di udara yang terlalu kotor.

Segera Naruto menjalankan Hayabusa-nya, mempersetankan hujan dan angin yang membadai. Hanya Hinata di kepala, dan segala percampuran cemas, takut, dan perasaan berdosa. Baru berapa meter, badannya basah seluruh, Naruto berharap bungsu Hyuuga itu cukup waras untuk tak menerjang hujan. Pandangannya buram karena air mengguyur terlalu deras. Jalanan begitu sepi, cuma beberapa kendaraan berkejaran dan menyipratkan tempias ke mana-mana. Naruto berhenti di setiap halte, tetapi ketiadaan Hinata semakin menakutkannya.

"Hinata kumohon jangan membuatku takut." Lirih Naruto dalam doanya.

Ia berkeliling nyaris satu jam penuh, tak menemukan Hinata di mana pun. Akhirnya dengan putus asa Naruto kembali ke flat. Masih sama gelap, berantakan dan tak henti-henti mengingatkan pada Hinata. Keheningan membahasakan luka yang ia tanam. Pekat dan menjelaga. Naruto duduk di tempat kekasihnya tadi, mereka-ulang pertengkaran di kepala, mencegah sesuatu luput.

Kalau kakak keluar dari pintu itu kita selesai.

BRAK

Naruto melempar apapun yang di depannya. Lalu menumpukan wajah di kedua tangan, meratapi kebodohan. Apa yang kurang dari Hinata sehingga ia begitu tega? Tidak… tidak… mereka tidak sungguhan berakhir kan?

Berjam-jam Naruto menatap langit-langit, mata terenggut kantuk tetapi pikirannya menetap pada sosok mungil yang tiba-tiba sangat ia rindu. Kemudian Hinata datang, entah dalam mimpi atau ilusi, mengatakan satu kalimat yang mengguncangnya.

"Selamat tinggal kak Naruto."

"Hinata!"

Mimpi itu membangunkannya, juga cahaya yang menembus lubang ventilasi. Naruto mengecek ponsel untuk melihat jam. Pukul 06.45, dan satu pesan dari Neji membuat jantungnya terpacu kilat.

Hinata masuk rumah sakit, asmanya kambuh. Nggak usah ke sini. (00.18)

Sedetik, Naruto merasa kehilangan seluruh oksigen dari paru-paru. Matanya berair membaca pesan Neji. Tidak, tidak boleh terjadi sesuatu pada Hinatanya.

.

.

Ulang tahun Hinata, Hiashi tahu ini ulang tahun putrinya, tetapi ia selalu mengingat sebagai hari kematian sang istri. Dua orang seperti ditukar dalam hidupnya. Jika boleh memilih, tentu Hiashi akan memohon supaya tak perlu mendapatkan Hinata. Neji lebih dari cukup untuk dibanggakan.

Kepergian Hikari membawa serta hatinya, dan hari-hari setelah itu adalah waktu yang bergulir tanpa rasa. Hampa. Kehadiran Hikari tergantikan tangis bayi yang takkan pernah mendapatkan ibunya. Bayi egois itu mengambil kehidupan lain untuk eksistensinya. Betapa benci Hiashi melihat makhluk merah yang terus mengingatkan pada yang pergi. Ia ingat pernah menggendong Hinata yang hanya sebesar lengan tangan, dan hampir melemparnya keluar jendela. Tetapi terselamatkan oleh Neji yang mendengar tangisnya.

Hiashi tak pernah sanggup berada di ruangan yang sama dengan Hinata. Kebencian menghalangi untuk bersikap layaknya seorang ayah. Sampai dia berumur 18 tahun, Hiashi tak secuil pun menaruh perhatian. Ia bahkan tidak tahu putrinya mengidap penyakit paru-paru yang cukup serius. Sampai malam Neji menelepon, berkata dengan kata-kata menusuk jika dalam 24 jam tak menjenguk Hinata, maka Neji akan melakukan apapun demi memutus hubungan ayah-anak antara mereka. Bila terjadi sesuatu pada Hinata, tak ada pengampunan atas sikapnya.

"Seberapa sakit anak itu?" Hiashi masih mencoba datar.

"KRITIS. PUAS?" Neji berteriak lalu menutup telepon.

Tangan Hiashi gemetaran setelah menyelesaikan panggilan. Tidak… tidak boleh. Jika Hinata pergi, rasa bersalah akan membunuhnya. Menghantui tak terusir, sebab jauh di lubuk hati Hiashi pantas dijatuhi hukuman jauh lebih buruk. Hukuman sesungguhnya, adalah kehilangan Hikari ke dua di dalam hidup. Dunianya benar-benar berakhir jika itu terjadi.

Segera Hiashi memesan tiket pulang ke Tokyo. Perjalanan dalam kegelisahan terasa bagai ribuan tahun. Melayang-layang di benak, bayi yang begitu kecil namun menangis amat keras, Hinata kanak-kanak yang takut-takut minta dipeluk, remaja diusir satpam apartemennya karena Hiashi tak segan menolak, perempuan jelita yang dibentak habis-habisan lantaran menawarinya makan malam. Segala tentang Hinata adalah kebenciannya yang tercurah tanpa belas-kasih.

Dan anak itu hendak meninggalkannya tanpa sempat ia memohon ampun.

Sesampai di rumah sakit, Hiashi menuju kamar Hinata yang ternyata hanyalah kelas tiga. Neji bilang masa kritisnya telah lewat, tetapi ia tak cukup uang menyamankan sang adik di kamar VVIP. Itu saja Neji sudah menguras-nguras tabungannya.

Ketika hampir mencapai kamar rawat Hinata, sebuah pemandangan menghentikan Hiashi. Neji beradu mulut dengan lelaki berambut pirang yang tingginya jauh menjulang. Wajahnya familiar, mungkin ia pernah bertemu di suatu tempat. Jarak mereka terjangkau untuknya memahami percakapan yang terlihat alot. Putranya itu bahkan berkata ngotot sampai urat-urat leher kasat.

"Mau apa kau?" Neji menahan dada lelaki pirang supaya tidak merangsek masuk. "Hinata sedang istirahat, dia tak membutuhkanmu."

"Brengsek, biarkan aku melihatnya."

"Cukup, fungsimu cukup di sini pecundang, pelajaran kemarin sudah dimengerti adikku dengan baik."

Sekarang Hiashi ingat, lelaki itu adalah teman Neji. Mereka pernah bertemu di rumah.

"Sialan kau, Neji."

Pemuda rambut pirang mencengkeram kerah putranya yang lalu dikibaskan santai. "Berkacalah, dan katakan itu pada dirimu sendiri."

Neji menutup pintu, tak memberi ruang pada lelaki yang terlihat amat terpukul. Perlahan Hiashi mendatanginya, duduk bersama sebagai dua pria yang melukai satu perempuan dengan cara berbeda. Pemuda tersebut menyadari kehadirannya, mata biru menatapnya terkejut, lalu surut berganti ketidakpedulian.

"Kau teman Hinata atau Neji?" tanya Hiashi.

"Teman Neji, pacar Hinata." Jawabnya tegas.

Hening meraup keduanya. Ada rasa bersalah yang Hiashi tangkap dari lelaki itu, sementara Naruto bertanya-tanya apa kehadiran pria paruh baya tersebut untuk Hinata atau sekadar formalitas sebagai ayah. Sialan Neji, membiarkannya sebangku dengan manusia yang pernah ingin dihajarnya.

Sedetik, perasaan ingin menghajar itu sirna oleh rasa malu. Apa beda ia dengan Hiashi? Sama-sama meminggirkan Hinata, mendepaknya dalam skala prioritas dan pasti membuatnya merasa tak dicintainya. Pada lelaki di depannya, Naruto menangkap refleksi diri, pemilik cinta yang menyesal karena memperlakukan sia-sia.

"Hinata itu…" Hiashi kehilangan kata, tak cukup wawasan mendefinisikan putrinya sendiri. "Sama seperti Hikari. Dan mengetahuinya terbaring di sana, menjadikanku ayah paling jahat di dunia." Suaranya pecah oleh sedih yang merebak. "Kalau ada kesempatan, aku akan menukar seluruh hidupku untuk mengabdi pada bayi cantikku yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua."

Kalimat demi kalimat yang Hiashi lontarkan merantai Naruto. Tak tahu manakah yang paling bajingan di antara mereka, ia yang menyebabkan Hinata terbaring kritis, ataukah Hiashi. Hatinya tengah kacau, dan Naruto tidak dalam fungsi yang benar untuk berkomentar.

"Saya…" betapa berat menyatakan kalimat yang terdengar seperti kesia-sian. "Saya mencintai Hinata. Dan hanya ingin dia terbangun untuk mendengar kalimat ini."

.

.

Entah berapa kali dua puluh empat jam lewat Naruto masih belum diperkenankan menemui Hinata. Gadis itu telah pulih, meski tidak diizinkan beraktivitas banyak oleh ayah yang tiba-tiba menjadi protektif. Naruto bersyukur sang kekasih akhirnya dipeluk kehangatan keluarga, pengganti dari jangkauan tangannya yang kini ditolak. Tak apalah, melihat Hinata tersenyum dari jauh merupakan bahagia tersendiri. Dia berhak mendapat lebih dari kesakitan yang orang-orang timpakan.

Satu yang melegakan Naruto, pesan yang sekarang tengah dibacanya kesekian kali. Setiap melihat itu harapannya bagai diberi angin segar, bahwa Hinata akan memaafkan, menerima seperti selalu.

Kak Naruto, aku nggak akan lari. Kita memang perlu bicara, tetapi sekarang ini aku belum sanggup bertemu.

Ditatapnya pilu wallpaper ponsel, Naruto merindukan saat bisa mencubit pipi Hinata sepuas hati. Sekarang Hinata bahkan memerlukan kesanggupan tertentu untuk bertemu. Hanya bertemu, apakah itu sudah berupa kesulitan?

Ini hari ke delapan, dan Naruto kembali mengendap-endap ke Fakultas Psikologi, mengintip Hinatanya dari jarak yang mengecewakan. Bungsu Hyuga itu cantik, ketika serius dia terlihat sangat Neji. Rambut panjangnya yang halus beterbangan, membuat Naruto ingin melarikan jemarinya di sana. Ironis, bagaimana kejadian satu malam bisa menjauhkan mereka, sampai tatap muka pun menjadi perjuangan.

Sepulang mengintai Hinata, Naruto ke bengkel. Tidak berguna merindu tetapi tak menyentuh, lebih baik ia melampiaskan dengan kerja sampai lupa, yang mana konyol karena Hinata tak sekalipun tercerabut dari pikiran. Ia sadar, Hinata berhasil membuat tempat di hatinya, menggeser posisi Shion penuh seluruh. Sebab, saat bersama Shion pun pikirannya terpaku pada Hyuuga satu itu. Lucu betapa bulan-bulan lalu Naruto berniat mempermainkan, tetapi malah ia yang terjebak dalam permainan, terperangkap tanpa tahu jalan keluar.

Saking fokusnya memikirkan Hinata, Naruto baru menyadari ada pesan masuk, matanya membelalak ketika membaca nama yang tertera di layar.

Kak Naruto, ayo ketemu besok.

Hanya lima kalimat, dan Naruto serasa kehilangan nafas. Sungguhan Hinata mau bertemu? Senyum tipis mengembang di bibir, akhirnya, kesempatan bertatap muka itu datang. Ia berjanji akan membuka semua, perasaannya, ketakutan akan ditinggal Hinata, juga kekecewaan pada diri sendiri. Naruto akan membiarkan Hinata melihatnya secara utuh.

Besoknya mereka janjian di kafe sekitar kampus. Naruto bagai melihat Hinata untuk pertama kali, pertemuan yang disertai harapan dan rindu menggebu. Meja dekat jendela menjadi favoritnya, Hinata di sana dengan senyum mengembang, seperti tak terjadi apa-apa. Hati Naruto tercubit oleh perempuan yang senantiasa bersikap seolah semua baik-baik. Ketika Hinata menunjukkan keakuannya, ia malah menafikkan dan menganggap egois. Tuhan, betapa Naruto tak layak bersanding dengan bungsu Hyuga itu, tetapi hatinya terikat oleh jerat yang erat. Terlalu berat baginya untuk melepas.

"Hai Kak, duduk, sudah kupesankan. Espresso, kan?"

Naruto mengangguk kecil, lebih fokus pada Hinata yang terlalu santai, kelewat santai bagi dua orang yang bersitegang. Arloji Alba klasik yang bertengger di pergelangan tangannya longgar, dan pipi tirus membuktikan berat badan yang berkurang. Kecuali malam itu, Hinata selalu tenang dan menguasai keadaan, tahu betul memilih mana yang layak diucapkan atau dipendam. Dingin berembus di tengkuk Naruto, isyarat atas ketidakmampuannya menebak-nebak pikiran lawan bicara di depan. Bisa jadi, Hinata mengatakan sesuatu yang ditakutinya, melenggang pergi tanpa menengok kembali.

"Aku merindukanmu." Naruto mengatakannya sambil menatap sang kekasih, tanpa berkedip.

Hinata melarikan pandang, sangsi terhadap ucapan Naruto. Jangan dikata ia tak rindu, keinginan untuk sekadar memiliki lelaki itu di sisinya sangatlah besar. Tetapi, ada sakit yang tumbuh menyaingi, kebenaran bahwa Naruto memilih Shion tidak tersangkal. Ia amat mengerti apa arti mempunyai jasmaninya namun hati terpaku pada perempuan lain. Naruto memberinya pelajaran itu selama berbulan-bulan.

Mungkin ia naif karena sempat berpikir mampu terlibat dalam drama yang sudah mengakar. Nyatanya, Hinata lelah atas perasaan diduakan. Kebanyakan orang mengira bertahan dalam hubungan menyakitkan merupakan bentuk kesetiaan. Tetapi, baginya, dibutuhkan lebih dari sekadar kuat untuk melepas. Dibutuhkan keberanian mengatakan pada diri sendiri, seseorang yang telah dianggap sebagai bagian hidup, bukanlah yang ditakdirkan bagi masa depan. Lebih jauh, Hinata tidak ingin membodohi diri sendiri. Coba pikir, menerima berulang kali kesalahan pasangan, adalah kesetian atau kebodohan?

Helaan nafas panjang diambil Hinata. "Kak, berhenti, jangan menggunakan kalimat-kalimat itu lagi untuk meyakinkan perempuan."

Hati Naruto nyeri mendengar kalimat itu. Bahkan kata rindunya dianggap kebohongan. Dirinya di masa lalu memang sering bermulut manis, tetapi sekali menggunakannya serius pada Hinata justru dinegasikan.

"Apa kakak masih mencintai Kak Shion?" kini giliran Hinata yang memulai percakapan setelah hening. "Ralat, kak Naruto memang selalu mencintai kak Shion kan?"

"Tidak. Hinata, aku minta maaf."

Naruto menggenggam tangan Hinata lembut. Berusaha terhubung secara fisik supaya perempuan itu merasakan sisi emosionalnya. Ia ingin perasaan menyesalnya dipahami, bahwa permohonan maafnya bukanlah main-main.

Perlahan Hinata menarik tangan, tersenyum tulus yang justru menyakiti Naruto. Ia tidak akan menjadi tipikal tokoh fiksi yang dibencinya, di mana perempuan membuat semua mudah bagi lelaki karena sentuhan kulit lawan kulit. Tak ada istilah terlena atau dibutakan. Kontak fisik takkan mengendurkan tapal batas toleransinya. Ini realita, dan Hinata akan merespon rangsang dengan menyertakan akal sehat.

"Kak, aku memaafkan." Tuturnya ringan. "Lagi pula bukan kesalahan, akulah yang terlalu egois menahan kakak. Bahwa Kak Naruto datang ke kak Shion merupakan pilihan. Kakak memilih pergi dari hubungan kita."

Hinata melihat lelaki di hadapannya menggeleng keras. Apa lagi yang diinginkan Naruto? Hinata telah memberikan hati yang dikembalikan dalam kepingan patah-patah. Rasa-rasanya, hidup memang ironis, kesadaran bahwa kita mencintai seseorang baru didapatkan setelah terluka. Hinata menyadari dirinya takkan benar-benar tersakiti jika tak memiliki hati pada Naruto.

"Tidak. Hinata…" Naruto memejamkan mata, memenjarakan sorot birunya agar tak terbaca, ia sedang memohon dengan amat frustrasi. "Please, don't leave me."

"Kak, aku tidak pergi kemana pun. Kita… masih bisa berteman." Hinata menelan ludah, menyadari betapa mustahilnya kalimat itu. "Bayangkan kak, jika kita putus, kakak bebas berinteraksi dengan kak Shion tanpa merasa tak enak padaku."

"Enggak Hinata, aku janji nggak ada lagi Shion. Tolong beri aku kesempatan." Desak Naruto nelangsa.

"Kesempatan? Kakak lupa ya, aku pernah bilang, kalau kakak melakukan sesuatu yang di luar kesanggupan hatiku, aku nggak bisa bertahan dalam hubungan ini. Relationship macam apa yang satu pihak terus-terusan dipaksa menetap. Kakak sendiri yang memilih pergi." Suara Hinata serak menahan pedihnya ingatan malam itu. Kilasan kemarahan Naruto, dan bagaimana lelaki itu mempersetankan hatinya, menyebut egois, semua itu di luar kapasitasnya. He asks too much. "Kakak sendiri yang jelas-jelas menentukan hati. Apa sih yang kakak pertahankan dari hubungan kita?"

Naruto tidak menjawab, seluruh kata terbungkam di dalam kepala. Sepertinya bahasa begitu terbatas sampai tak bisa menggambarkan yang ia rasakan. Kesalahannya adalah menjadikan Hinata cadangan, di saat seharusnya prioritas. Perempuan itu bukan yang bisa dipermainkan seenaknya, dia membuat Naruto mencicipi sendiri racun yang ditaburkan. Hinata mendidiknya, membeberkan pelajaran tentang hubungan rasional antara pria dan wanita.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" Naruto mengutarakan perkara yang mengganggunya sejak lama. Melihat Hinata mengangguk, ia melanjutkan. "Apakah selama berpacaran, kamu pernah benar-benar mencintaiku?"

Jawaban Hinata meremas hati Naruto sekali lagi. "Ya. Dan aku tak mengerti alasannya." Jeda dua detik sebelum ia menatap langsung ke mata biru Naruto, bertutur dengan tegas. "Tapi, aku sudah mengambil pelajaran, ada yang lebih penting dari cinta yaitu komitmen. Cinta itu sendiri terlalu rapuh dijadikan dasar sebuah hubungan. Dia kata sifat yang bergantung erat dengan subjektivitas seseorang. Ukurannya tidak jelas dan tidak teruji. Bisa saja orang berkata cinta di mulut, namun hatinya berlabuh pada orang lain. Seharusnya bukan aku yang dipertanyakan cintanya, tapi kak Naruto." Hinata tampak ragu melanjutkan. "Dan, maaf kak, kalau kakak berkomitmen tidak akan ada kejadian meninggalkanku malam itu."

Naruto menyaksikan tiap langkah yang diambil Hinata untuk meninggalkannya. Ia tahu dirinya dalam proses kehilangan sesuatu yang berharga. Hanya dengan kata-kata, Hinata menunjukkan hal yang tak ternilai dari seorang perempuan. Tidak peduli apapun yang menimpa, betapa pun orang menyakitinya, Hinata akan kembali sebagai manusia utuh yang kian bijak karena belajar.

Ada kekosongan yang seketika menimpa Naruto. Kosong yang tanpa harapan, seperti kehidupan yang diputus dari masa depan. Mereka berakhir?

Lagi dan lagi air matanya jatuh. Neji yang duduk di seat driver menatap pilu. Hinata tak sekuat semua yang dikatakannya, tapi ia mencoba.

"Nggak apa-apa, Hinata." Neji mengelus kepalanya. "Kamu berhak mendapat seseorang yang menjadikanmu prioritas, bukan pilihan."

Hinata mengangguk, masih meneteskan keberatan melepas ikatan dengan lelaki yang sanggup mendebarkan jantungnya cepat. Tetapi Neji menyadarkannya untuk menggunakan logika di atas rasa, sebab siapapun takkan cukup kuat dijadikan mainan. Melepaskan adalah harga yang tepat untuk melindungi diri dari perlakuan semena-mena.

Akhirnya Hinata tersenyum, sebuah senyum yang diperjuangkan di antara tangis. Ia memahami Naruto, namun memilih mundur. Konsensus sebagai badboy yang suka main perempuan, luntur begitu ia coba mengerti secara total. Antisipasinya terhadap chaos yang mungkin, tak terjadi, karena Naruto bukan pemain wanita sungguhan. Bukan perselingkuhan yang mengalahkan Hinata, tetapi lelaki itu belum selesai dengan dirinya sendiri, dengan masa lalunya. Tidak apa, sesuatu akan berjalan sesuai takdirnya. Jika Naruto selesai di sini, mungkin memang dia ada untuk memberi Hinata pelajaran.

END