Disclemer : Masashi Kishimoto
Genre : Family / Romance / Drama
Pairing : SasuFemNaru
Rate : T
Warning : FemNaru, newbie, OOC, OC, Tipo's, dll
.
Miss Stalker
Chapter 2 : I'm Win
By : Uchy Nayuki
.
Summary : Karena kalah taruhan dengan kakak dan adiknya. Naruto terpaksa menjadi stalker pemuda keturunan Uchiha. Seorang yang paling terkenal disekolahnya. Dan dia harus mendapatkan foto pemuda itu yang sedang… tersenyum? Berhasilkah ia? Warning : SasuFemNaru
.
DON'T LIKE
DON'T READ
.
"Mungkin cara ini bisa berhasil" mendengar penuturan Sasori, kontan saja membuat Kyuubi terlonjak senang. Dia semakin beringsut, mendekat kearah sang adik.
"Apa itu?" tanyanya penasaran, tanpa bisa menyembunyikan raut bahagianya
"Hmmm, kita harus-"
BRAK
"Ah, ternyata kalian disini Kyuu-nee, Sasori. Aku mencari kalian kemana-mana"
Sasori sama sekali tidak bisa menyelesaikan penuturannya saat pintu kamarnya didobrak oleh sang kakak kedua. Matanya beralih menatap pintu kamarnya yang terbuka. Dia mendelik tajam kepada sang pelaku. Benar-benar terganggu dengan kehebohan yang ditimbulkan Naruto.
"Apa yang kau lakukan disini hah? Tidak lihat kalau aku dan Sasori sedang sibuk" Matanya kembali beralih kearah sang kakak pertama. Dia bisa melihat raut wajah Kyuubi yang mengeras. Jelas terlihat sangat kesal dengan kedatangan Naruto yang tiba-tiba.
Naruto cengengesan, dia mulai melangkah masuk ke dalam kamar. Berdiri tepat dihadapan Kyuubi dan Sasori. Menatap mereka secara bergantian, sebelum akhirnya mulai buka suara "Apa yang kalian bicarakan?"
Kyuubi dan Sasori mendelik. Mata mereka menyipit, semakin menambah kadar tatapan tajam yang mereka tunjukkan kepada Naruto "Bukan urusanmu" jawab mereka ketus.
Naruto kembali tertawa hambar. Sedangkan tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sungguh, dia tidak menyangka kalau kedatangannya akan mendapatkan sambutan seperti ini. Niatnya kemari hanya ingin minta izin untuk keluar rumah. Tapi entah kenapa, dia bahkan tidak berani untuk bicara.
"Tck, jangan hanya diam disitu Naru-nee. Apa yang kau inginkan?" Sasori yang jengah, akhirnya mulai buka suara. Dia melipat kedua tangannya didepan dada. Menunggu jawaban dari sang kakak.
Dan entah kenapa, tiba-tiba Naruto tersenyum lebar. Dia menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Terlihat jelas bahwa dia sedang memikirkan hal yang sangat menyenangkan saat ini. Matanya berbinar, menatap Kyuubi dan Sasori secara bergantian. Sukses membuat kedua sosok berambut merah tersebut menaikkan sebelah alis mereka, bingung.
"Kalian tahu, hari ini kedai Ichiraku ulang tahun" Naruto mulai bicara. Telinga Kyuubi dan Sasori pun dapat menangkap nada suara si blonde yang terdengar bahagia. Raut wajah mereka semakin menampakkan kebingungan. Apa hubungannya dengan kami, batin mereka bertanya.
"Memangnya kenapa kalau kedai Ichiraku ulang tahun? Kami tidak ada hubungannya dengan itu" Kyuubi akhirnya buka suara. Matanya menatap jengah kearah sang adik. Hanya karena ini pembicaraan pentingnya dan Sasori harus terganggu? Cih, benar-benar menyebalkan.
"Ah, Kyuu-nee tidak seru" Naruto berujar seraya mengembungkan kedua pipinya. Dia melangkah, kemudian mendudukkan dirinya di samping Sasori. "Ulang tahun Ichiraku kali ini berebeda dari yang sebelumnya. Kalian tahu, Teuchi-jiisan mengadakan sebuah lomba dengan hadiah yang menggiurkan" entah kenapa dia malah membicarakan hal ini dengan Kyuubi dan Sasori. Tapi yang pasti, dia merasa sangat bahagia sekarang.
Sasori menatap sang kakak disampingnya datar. Dia tidak tertarik dengan hal apapun yang menyangkut tentang ramen. Tapi melihat raut wajah kesenangan sang kakak. Akhirnya dia pun mulai terbawa suasana "Memangnya lomba seperti apa yang diadakan Teuchi-jiisan?" tanyanya.
Senyuman Naruto semakin merekah. Dia menyamankan posisi duduknya. Menatap Sasori dengan mata sapphire-nya yang berbinar jenaka, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang adik. "Lomba makan cepat. Jika aku bisa menghabiskan ramen porsi jumbo yang dihidangkan Teuchi-jiisan nanti dalam waktu lima menit. Aku bisa dapat tujuh kupon gratis makan ramen disana" diakhir penjelasannya, Naruto memekik senang. Dia menangkupkan kedua pipinya dengan telapak tangan. Ah, dia sudah tidak sabar untuk mendapatkan kupon gratis itu.
Sasori terdiam, matanya menangkap semua ekspresi berlebihan yang ditunjukkan oleh sang kakak. Dan tanpa bisa ditahan, dia pun mendengus geli. Jika Naruto sangat terobsesi pada ramen, maka kakaknya Kyuubi cinta mati kepada buah apel. Sungguh, keluarganya sangat luar biasa.
Mata Sasori sekarang beralih menatap Kyuubi. Tapi kemudian, alisnya berkerut bingung ketika mendapati sang kakak yang hanya terdiam. Dia bisa melihat Kyuubi yang hanya memperhatikan Naruto dengan mata yang menatap kosong. Apa yang sedang kakaknya itu pikirkan? Dia bertanya-tanya dalam hati.
"Karena itu aku ingin memberitahukan kalian dulu sebelum aku pergi kesana"
Sasori kembali menolehkan kepalanya kepada Naruto yang baru saja membuka suara. Dia terdiam sesaat, sebelum akhirnya mengedikkan bahu acuh. "Terserah jika nee-san ingin pergi. Aku tidak keberatan"
Naruto mengangguk senang ketika mendengar itu. Dan baru saja dia ingin melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sasori. Langkahnya harus terhenti ketika sang kakak menghadang jalannya. Dan jelas, dahinya berkerut bingung untuk itu.
"Kau ingin pergi sendiri? Tidak ingin mengajakku?"
Pertanyaan dari sang kakak jelas membuat dua adiknya dilanda kebingungan. Tumben kakaknya ingin pergi kesana, padahal biasanya, diajak pun sang kakak tidak akan sudi.
"Hei Kyuu-nee! Apa yang kau bicarakan? Kau ingin pergi dengan Naruto ke kedai ramen itu? Oh, jangan lupakan kalau kita sedang ada pembicaraan penting bodoh" Sasori berseru kesal. Dia menatap Kyuubi tajam. Tidak menyangka kalau sang kakak malah memilih untuk pergi tanpa menyelesaikan terlebih dahulu rencana mereka. Bukankah Kyuubi yang awalnya paling antusias dengan rencana ini? Batinnya frustasi.
"Tck, sudahlah otouto, kau tidak perlu banyak bicara. Dan kau juga harus ikut denganku dan Naruto ke kedai Ichiraku" Kyuubi berdecak kesal. Dia menarik tangan kanan Sasori sehingga dengan terpaksa Sasori harus berdiri dari duduknya.
"Hei! Apa-apaan ini?" Sasori menyentak tangan sang kakak. Menarik tangannya kembali dan menggenggam pergelangan tangannya itu dengan tangan kirinya. "Jika kau ingin pergi. Ya sudah, pergi saja sana. Jangan bawa-bawa aku" Sasori berujar ketus. Matanya mendelik tajam. Jelas menunjukkan kekesalan kepada kakaknya ini.
Kyuubi menghela napas lelah. Jika tidak dijelaskan, dia yakin Sasori tidak akan pernah sudi untuk ikut bersamanya dan Naruto. Kemudian, dia pun menolehkan kepalanya kepada si blonde yang sekarang hanya bisa memasang wajah kebingungannya. "Kau pergilah dulu. Tunggu kami di depan" ujarnya memerintah membuat Naruto hanya bisa mengangguk kaku.
Setelah si blonde melangkah meninggalkan kamar. Kyuubi kembali memusatkan perhatiannya kepada Sasori. Bisa di lihatnya sang adik masih mendelik tajam kearahnya. Tapi dia yakin delikan itu akan segera lenyap dalam beberapa detik ke depan. Memikirkan hal itu, jelas membuat Kyuubi menyeringai lebar.
"Kau tahu otouto?" masih dengan seringaiannya, Kyuubi memulai pembicaraan. Dan entah kenapa, Sasori yang melihat seringaian sang kakak hanya terdiam tanpa suara. Dia ingat, ketika kakaknya sudah menampakkan seringaian itu. Maka jelas dalam otak merah Kyuubi, sedang tersusun sebuah rencana yang selalu bisa membuatnya terkejut. Dan karena itulah, dia memilih untuk menjadi pendengar yang baik.
"Aku punya rencana hebat" Nah benar kan, batin Sasori seraya masih menatap dalam diam Kyuubi. Menunggu hal apa yang selanjutnya akan sang kakak jelaskan padanya.
"Dan aku yakin, Naruto akan mematuhi perintahku untuk mendapatkan foto si Uchiha tanpa protes sedikit pun"
Mendengar itu, entah kenapa Sasori mulai menyukai arah pembicaraan sang kakak. "Lalu, apa hubungannya dengan kita yang harus pergi ke kedai Ichiraku?" dahinya mengernyit bingung. Jelas menandakan bahwa hal itulah yang masih menjadi pertanyaannya saat ini.
Seringaian Kyuubi semakin lebar. Dia menatap Sasori dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dalam hati, dia memuji otaknya yang jenius ini. Ah, dia memang luar biasa, itu batinnya.
"Nah, itu dia yang ingin kubicarakan padamu otouto"
.
.
.
"Kau yakin akan melakukannya Kyuu-nee?"
"Hm, aku yakin"
"Jika kau kalah bagaimana?"
"Tidak akan"
"Kau tahu, Naruto itu monster"
"Jika dia monster. Maka aku adalah dewa"
"Kyuu-nee jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda!"
Sudah dari beberapa menit yang lalu. Ah, lebih tepatnya mulai dari mereka yang melangkah keluar rumah. Sang kakak serta adiknya ini terus saja berbisik-bisik seperti itu. Sedangkan dia yang berjalan disamping mereka seperti tidak dihiraukan. Apa mereka tidak tahu, bahwa Naruto juga ingin di ajak bisik-bisik bersama?
"Hei Kyuu-nee, Sasori! Sebenarnya dari tadi apa yang kalian bicarakan?" Naruto berseru kesal. Dia mendelik tajam kearah dua orang itu. Sukses membuat Kyuubi dan Sasori menghentikan acara bisik-bisik mereka. Kyuubi dan Sasori pun saling pandang untuk sejenak. Sebelum akhirnya memusatkan perhatian mereka pada Naruto.
"Memang kami membicarakan apa imouto?" bukannya menjawab. Kyuubi malah balik bertanya, innocent. Sedikit menelengkan kepalanya kesatu sisi. Dia menatap Naruto seperti tidak pernah melakukan hal yang di tuduhkan adiknya itu. Sedangkan Sasori hanya bisa menatap dalam diam sang kakak pertama. Takjub dengan acting sang kakak.
Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. Dia yakin bahwa sang kakak sama sekali tidak ingin membagi apa yang dia bicarakan dengan Sasori itu padanya. "Dari tadi aku mendengar kalian terus berbisik-bisik. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicara-"
"Ah, kita sudah sampai!"
Mendengar seruan yang dikeluarkan Sasori. Naruto pun tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Fokusnya sekarang teralihkan pada sebuah kedai kecil yang berdiri kokoh dihadapannya. Dan tak perlu menunggu lama, dia mulai melangkah cepat, mendekati kedai tersebut. "Ramen gratis, I'm coming" teriakan membahana pun lolos dari mulutnya.
Kyuubi menghela napas, kemudian tangannya menepuk kecil bahu Sasori. "Kerja bagus otouto" dia tersenyum lebar. Dan akhirnya mulai melangkah menuju kedai Ichiraku dengan Sasori yang mengekor di belakangnya.
"Kyuu-nee, Sasori, kalian juga ingin memesan?"
Ketika tangan Kyuubi dan Sasori mulai menyibakkan tirai kedai Ichiraku tersebut. Telinga mereka sudah mendapati pertanyaan dari si blonde. Mendudukkan diri di kursi yang sudah di sediakan. Mereka pun mulai berpandangan, menatap satu sama lain. Sebelum akhirnya kembali menoleh kearah si blonde.
"Aku ingin memesan"
Mendengar penuturan yang keluar dari mulut Kyuubi. Sukses membuat si blonde menganga lebar. Dia tidak menyangka bahwa sang kakak akan menanggapi ajakannya. Dia hanya bercanda soal itu. "Kau ingin memesan ramen Kyuu-nee?" tanyanya terkejut. kemudian dia pun terdiam sesaat. "Ummm, baiklah. Aku akan memesankan ramen miso porsi sedang untukmu"
Ketika Naruto akan membuka suaranya kembali untuk memesan. Tiba-tiba tangan Kyuubi menepuk kecil bahunya. Membuat Naruto kembali menoleh kearah sang kakak. Dia menatap Kyuubi dalam diam, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kyuubi.
"Aku tidak ingin ramen dengan porsi sedang. Aku ingin mengikuti lomba itu. Jadi, pesankan aku ramen porsi jumbo yang pernah kau katakan di rumah tadi"
Naruto kembali menganga. Sungguh, dia benar-benar terkejut dengan kakaknya hari ini. Kyuubi sama sekali tidak terlihat seperti dirinya. Bukankah Kyuubi paling anti dengan yang namanya ramen? Batinnya bertanya.
"Kyuu-nee, jangan paksakan dirimu. Kau tidak perlu mengikuti lomba ini. Sudah, kau makan saja ramen porsi sedangmu itu" Naruto menunjuk-nunjuk sang kakak. Berlagak seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya. Tapi, bukan Kyuubi namanya kalau dia akan menurut.
"Kenapa tidak boleh? Apa kau berpikir bahwa aku tidak bisa menghabiskannya? Begitu?" mata Kyuubi melotot tajam. Dia tidak suka diremehkan, apa pun masalahnya.
Naruto bingung. Dia pun mulai menggaruk pipinya yang tidak gatal. Matanya bergerak gelisah. Sungguh, di pelototi oleh sang kakak bukanlah hal yang menyenangkan. "Tidak, bukan begitu" ujarnya membantah.
"Lalu apa?" suara Kyuubi naik satu oktaf. "Asal kau tahu ya. Aku bahkan bisa menghabiskan ramen itu lebih cepat darimu. Jadi, jangan pernah remehkan aku" setelah mengatakan hal itu, Kyuubi tersenyum lebar. Merasa bangga pada perkataannya sendiri.
Naruto menatap sang kakak tidak percaya. "Kyuu-nee bisa menghabiskan ramen itu lebih cepat dariku?" dia bertanya sarkistis. "Jangan bercanda" dia mendengus, sedangkan bibirnya menyeringai kecil, jelas meremehkan sang kakak.
Kyuubi mengeram. Bocah ini benar-benar menyebalkan, batinnya. "Oke, jadi kau ingin bukti?" matanya mendelik, menatap sang adik tajam.
Naruto balas mendelik. Dia tidak pernah mempelototi sang kakak seperti ini sebelumnya. Tapi jika dia sudah diremehkan dalam hal apa pun yang menyangkut tentang ramen, maka dia tidak terima. "Baiklah, kita bertanding. Siapa yang paling cepat, dia pemenangnya. Bagaimana?" tantangnya.
"Fine!" Kyuubi menjawab cepat. "Dan jika aku menang, kau harus melakukan apa pun yang kuperintahkan"
"Oke! Aku tidak takut" Naruto beseru seraya tersenyum lebar. "Dan jika aku yang menang. Kyuu-nee harus meneraktirku ramen selama satu bulan. Deal?" Naruto menyeringai. Dia yakin bahwa dia akan menang. Dan jika itu terjadi, maka dia tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk mendapatkan semangkuk ramen. Ah, memikirkannya saja sudah membuat Naruto melayang.
"Deal!" seru Kyuubi menangapi. Dia pun memutar kepalanya, menatap kearah Teuchi yang sepertinya menyaksikan dari awal perdebatannya dengan Naruto. "Jii-san, bawa dua ramen porsi jumbo itu kesini. Jangan pakai lama" ujarnya memerintah seraya menggebrak meja.
"Ba-baiklah, tunggu sebentar" jawab yang bersangkutan terbata-bata. Sebelum akhirnya mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Sedangkan Sasori, dia menatap Kyuubi was-was. Meragukan peluang kemenangan sang kakak. Jelas, dia merasa khawatir. Selama 15 tahun hidupnya, tidak sekalipun dia melihat kakaknya ini memakan makanan berlemak itu. Dan dikali pertama sang kakak akan mencoba, dia langsung memesan satu porsi super besar? Oh, kakaknya benar-benar nekat.
"Nee-san, kau yakin ini tidak akan apa-apa?" Sasori beringsut mendekat, kemudian berbisik kepada sang kakak. Lagi-lagi menyuarakan kekhawatirannya.
"Berapa kali aku harus menjawab pertanyaan yang sama hah?" Kyuubi berdesis. "Sudah, percayakan semua ini padaku" katanya kembali. "Lagipula, Naruto itu benar-benar membuatku kesal" tambahnya lagi, sambil mendelik tajam kearah si blonde.
Sasori mendesah lelah. Dia memposisikan duduknya kembali seperti semula. Jika Kyuubi sudah begini. Adalah hal yang mustahil untuk menghentikan sang kakak. "Hah, terserah kau sajalah" ujarnya mengalah. Dia hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada Kyuubi setelah semua ini selesai.
"Ramennya sudah siap!"
Setelah beberapa menit menunggu. Sang pemilik kedai pun datang dengan satu mangkuk ramen super besar ditangannya. Sedangkan satunya lagi ada pada sang putri. Dia dengan sang anak pun meletakkan dua mangkuk ramen tersebut dihadapan Naruto dan Kyuubi.
"Teuchi-jiisan, Ayame, dan kau Sasori! Kalian semualah yang akan menjadi saksi kalahnya Naruto dariku dalam pertandingan ini"
Naruto melotot ketika telinganya mendengar seruan yang baru saja di lontarkan Kyuubi. "Tidak! Yang akan kalah disini adalah Kyuu-nee" dia balas berseru kencang. Untung hanya ada mereka bertiga di kedai itu sekarang.
"Itu tidak akan terjadi"
"Tentu saja akan terjadi. Akulah yang akan menang"
Mereka pun saling melotot. Memandang tajam satu sama lain. Seketika suasana disana dilanda ketegangan. Itu akan terus berlanjut jika seandainya Sasori tidak segera menengahi mereka. "Sudahlah kalian! Ramennya akan segera mendingin jika kalian tidak segera memakannya"
Keduanya dengan cepat menolehkan kepala kearah Sasori. Kemudian beralih pada ramen dihadapan mereka masing-masing. Mengambil sumpit yang ada disana. Kemudian membelahnya menjadi dua. Mereka mulai bersiap untuk memakan ramen mereka itu.
"Kalian siap?"
Teuchi menatap dua wanita dihadapannya was-was. Digenggamannya sekarang ada sebuah alat penghitung wantu yang tentu saja akan digunakannya untuk memastikan ketepatan waktu dua wanita ini dalam menghabiskan ramennya. Semoga saja mereka tidak bisa menghabiskannya tepat waktu, batinnya berdoa. Miris sedikit tidak rela jika harus menghidangkan ramen kepada dua wanita ini selama seminggu dengan cuma-cuma.
"Kami siap!"
Keduanya saling melirik tajam satu sama lain. Tidak akan ada yang mau kalah dalam pertandingan ini. Kyuubi yang pada mulanya hanya ingin menjadikan ini sebagai alasan agar sang adik mau mematuhi perintahnya pun terbawa emosi. Sungguh, dia tidak rela jika harus diremehkan. Jika akau kalah, itu tidak akan Kyuubi sekali, batinnya.
"Baiklah, 1… 2… 3… Mulai!"
Tangan mereka mulai bergerak lincah menyumpit setiap helaian mie kedalam mulut ketika mendengar seruan dari Teuchi. Keduanya fokus pada mangkuk yang ada dihadapan mereka masing-masing. Tidak menghiraukan tiga manusia yang ada disana menatap mereka dengan mulut yang terbuka. Lihatlah cara mereka memakan ramen itu. Sungguh, tidak ada pemandangan yang lebih menakjubkan dibandingkan apa yang tersaji dihadapan mereka saat ini.
.
.
.
"I-ini… tidak mungkin"
Matanya menyorot hampa. Dia menatap mangkuk ramen dihadapannya yang telah kosong lebih dari beberapa menit yang lalu. Ini tidak mungkin, dia tidak mungkin kalah. Iyakan?
"Ah, kenyangnya"
Matanya sekarang beralih kepada wanita yang duduk disampingnya. Bisa dilihatnya wanita itu menepuk-nepuk perutnya sesekali, menandakan bahwa perutnya sudah penuh terisi. Kemudian, wanita itu pun beralih menatap kearahnya. Seketika membuatnya naik darah. Oh bagaimana tidak, lihatlah seringaian yang tercetak jelas pada wajah wanita itu.
"Kau lihat imouto. Akulah pemenangnya disini"
Naruto mengeram. Sial! Bagaimana caranya aku bisa dikalahkan oleh Kyuu-nee semudah itu?, batinnya kesal. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa sang kakak bisa mengalahkannya dalam hal yang bahkan menyangkut tentang ramen. Dari dulu dia memang tidak pernah bisa mengalahkan kakaknya ini kan? Oh, Kyuubi benar-benar wanita yang menyeramkan.
"Jii-san, toiletnya dimana?"
Teuchi mengerjabkan matanya berkali-kali ketika mendengar seruan dari Kyuubi. Ah, dia terlalu takjub dengan kecepatan Naruto dan si rambut merah ini saat memakan ramennya tadi. Jika ingin jujur, sebenarnya tidak ada yang kalah diantara mereka berdua. Mereka sama-sama bisa menghabiskan ramen jumbo itu sebelum waktu yang ditentukan habis. Hanya saja, entah bagaimana caranya. Kyuubi menghabiskan ramen itu lebih cepat beberapa detik dibandingkan Naruto. Dan jelas menandakan bahwa si rambut merahlah yang menang dalam pertandingan mereka.
"Oi jii-san! Kau dengar tidak?"
"Ah!" lagi-lagi Teuchi tersentak dari lamunannya. "Mmm, toilet ya? Ada, kau pergilah kebelakang" ujar Teuchi menunjuk kebelakang punggungnya dengan jempol tangan.
"Hm" Kyuubi bergumam. Matanya beralih menatap Sasori. "Kau ikut aku" setelah berkata seperti itu, dia melangkah dengan Sasori yang setia mengekor dibelakangnya.
Setelah Kyuubi dan Sasori tidak terlihat lagi. Mata Naruto beralih menatap Teuchi dan Ayame yang sepertinya kembali sibuk dengan pekerjaan mereka. "Jii-san, Ayame-nee, aku tidak mengerti kenapa Kyuu-nee bisa mengalahkanku dalam berbagai hal"
Ayame menolehkan kepalanya menatap Naruto. "Entahlah Naruto, aku tidak tahu banyak tentang kakakmu itu. Lagipula dia juga jarang datang kesini. Belum lagi, baru kali ini aku melihatnya memesan ramen" Ayame terdiam sejenak. "Kau yakin dia bukan maniak ramen sepertimu?"
Naruto mengedikkan bahunya, kemudian menggeleng lemah. "Entahlah, aku tidak tahu. Tapi seingatku, aku bahkan tidak pernah melihatnya makan ramen sebelum ini. Apel lebih enak, itu yang selalu dia katakan padaku jika aku mengajaknya makan ramen" Naruto menghela napas setelah mengeluarkan penjelasannya.
Dia meletakkan dagunya diatas meja. Bibirnya mengerucut sebal. Hah, dalam hati dia berharap semoga kakaknya itu tidak minta yang macam-macam atas kekalahannya ini. Oh, tapi sepertinya dia tidak bisa banyak berharap. Harusnya dia tahu berurusan dengan Kyuubi adalah hal yang paling mengerikan didunia. "Ha…" dia kembali menghela napas. Kenapa hidupku penuh dengan kesialan, itu batinnya.
Sementara itu…
"Huek… ugh, Hu… Huek"
"Aku kan sudah bilang padamu, jangan memaksakan diri. Dan lihat sekarang. Kau seperti ibu-ibu hamil saja"
"Apa?" Kyuubi mendelik tajam kearah adiknya yang tadi baru saja buka suara. "Sekali lagi kau bicara seperti itu, aku aka- uh, Huek… Argh. Sial!"
"Akan apa? Menghajarku? Sebelum itu lihat dulu kondisimu. Tenaga saja kau tidak punya" kembali Sasori bicara. Dia memutar bola matanya jengah. Apa kataku, dia tidak akan baik-baik saja, dia membatin. Meski sebenarnya kesal dengan kekeras kepalaan sang kakak. Tapi Sasori tidak pernah memindahkan tangannya dari tengkuk Kyuubi. Tetap memijatnya lembut.
"Kau lupa jika ini untuk ponselmu juga bodoh! Ugh… Huek" Kyuubi kembali mengusap kasar sisa muntahan disisi bibirnya. Sial! Dia tidak pernah menyangka kalau akan seperti ini jadinya. Perutnya seperti dililit tali tambang saja. Sakit dan mual secara bersamaan. Dia yakin perutnya kembung karena kebanyakan makan ramen. Untung dia bisa menahan diri ketika dihadapan Naruto tadi.
"Tapi tidak harus seperti ini juga" Sasori mendesah lelah. Tangannya masih setia memijat tengkuk sang kakak. "Yang kau lakukan hanya menyiksa diri sendiri" ujarnya lagi, sekarang mengusap-usap punggung Kyuubi.
"Ugh, kau tidak tahu saja ini rencana yang bagus" Kyuubi mulai berkumur. Membersihkan sisa muntahan di dalam mulutnya. "Naruto tidak akan pernah mengingkari janjinya. Dan dengan ini, dia tidak punya alasan untuk tidak menjalankan perintahku" ujar Kyuubi lagi. Dia tersenyum menatap bayangan dirinya pada kaca wastafel. Bangga dengan pemikirannya sendiri.
Kembali Sasori memutar bola matanya, tidak habis pikir. Ingatkan dia kalau dia memang ditakdirkan sial karena memiliki dua orang kakak yang tidak waras. "Ha, terserah kau sajalah Kyuu-nee. Kau memang terlalu keras kepala untuk diberi tahu" dia terdiam sejenak. "Hm, lagipula ini juga sudah terlanjur" dia mendengus ketika menyelesaikan kata terakhirnya.
Kyuubi berbalik, sekarang dia berhadapan langsung dengan Sasori. Masih dengan senyum lebarnya dia bicara. "Baiklah, sekarang ayo kita kembali ketempat Naruto. Dia pasti sudah lama menunggu"
Ketika akan mulai melangkah. Entah apa yang menahannya, Kyuubi kembali terdiam. Kepalanya menunduk, sekarang menatap kearah perutnya. "Apa kau merasa perutku sedikit membuncit?" Kyuubi kemudian menepuk-nepuk kecil perutnya. "Aku tidak kelihatan seperti ibu-ibu hamil kan?"
"Mmpphh…"
Kyuubi secepat kilat menolehkan kepalanya kearah Sasori. Dan sekarang dia bisa melihatnya, sang adik yang menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ah, dan jangan lupakan wajah sang adik yang sedikit memerah.
Kyuubi menggertakkan giginya menahan marah. Oh, jangan pikir dia tidak tahu dengan apa yang sedang adiknya lakukan. Dia menertawakanku? Kurang ajar sekali dia, batinnya tidak terima.
"Berani menertawakanku. Kupenggal kau"
Mendengar seruan dari sang kakak. Sasori mulai mati-matian menahan tawanya. Oh sungguh, apa yang kakaknya tanyakan tadi? Mirip ibu hamil? Dia lebih terlihat seperti pemuda hamil baginya.
"Ba… baiklah, aku menyerah… Mmpphhh" Sasori kembali membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Sungguh, ini sangat lucu. "Ehem!" kemudian dia pun berdehem canggung saat merasakan pandangan sang kakak yang seperti ingin sekali memutilasinya. Dia terdiam sesaat, mengatur napasnya yang naik turun. Menahan tawa itu sungguh tidak enak, batinnya. "Baiklah, tunggu apa lagi, ayo"
Kyuubi masih menatap tajam Sasori yang sekarang melangkahkan kaki, menjauh dari sana. Dan setelah sang adik tidak tampak lagi dalam penglihatannya. Kembali Kyuubi menatap kearah perutnya. Dahinya mengernyit ketika mendapati perutnya yang agak sedikit mengembung. Bagaimana caranya Naruto bisa bertahan dengan makanan itu yang memenuhi perutnya? Kyuubi bertanya-tanya, tidak habis pikir.
"Akan sangat memalukan jika seandainya aku benar-benar terlihat seperti ibu hamil"
.
.
.
Sekarang waktunya makan malam. Dan tentu saja, keluarga Namikaze juga tidak ingin ketinggalan momen-momen kumpul bersama keluarga ini. Setiap anggota keluarga sudah mendudukkan dirinya di tempat masing-masing. Menunggu makanan yang akan segara dihidangkan.
Kyuubi dan Sasori terlihat sedang berbincang-bincang ringan. Mereka memang selalu terlihat akrab. Itu di karenakan sifat Kyuubi yang memang terkenal tomboy. Dia lebih suka mengobrol dengan laki-laki. Lebih nyambung, itu katanya. Ah, terkecuali Konan, entah apa yang membuat wanita itu sedikit berbeda. Mungkin karena mereka satu genk? Entahlah.
Sang kepala keluarga, Namikaze Minato. Terlihat sedang membaca Koran. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain itu. Berdiam diri saja itu tidak enak. Dan karena itulah dia memilih membaca kembali Koran yang bahkan sudah selesai di bacanya tadi pagi.
Sedangkan Naruto, dia terlihat sedang sibuk di dapur, menata makanan untuk segera disajikan. Setelah merasa urusannya kelar. Dia pun mulai membawa makanan itu satu-satu kemeja makan. Menatanya dengan rapi.
"Makanannya sudah siap. Ayo dimakan"
Semua yang ada disana mulai menghentikan aktivitas mereka ketika mendengar seruan dari Naruto. Mata mereka sekarang beralih kepada masakan si blonde yang tersaji diatas meja. Selalu tampak enak, itu batin mereka.
"Tou-san, coba tou-san cicipi tempura ini. Aku ingin tahu pendapat tou-san tentang tempura pertama buatanku"
Minato segera menoleh kearah sang putri ketika mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu. Dia tersenyum kecil ketika mendapati satu piring berisikan tempura yang putinya sodorkan kearahnya. Tangannya mulai bergerak mengambil piring itu dari Naruto. Meletakkannya di hadapannya, dan mulai mencicipi.
"Hm, ini enak" kembali dia menoleh kearah sang putri. "Kau memang pandai dalam hal memasak Naruto" dia tersenyum ketika mengatakan itu.
"Tapi tetap tidak seenak masakan kaa-san"
Tiga pasang mata yang ada disana segera menoleh keasal suara. Dan kemudian mendapati sosok lelaki berambut merah yang menatap balik mereka dengan mata yang membola. Terkejut dengan apa yang keluar dari mulutnya sendiri.
Sang pemuda pun sekarang mulai terlihat tidak nyaman dengan posisinya. Kepalanya menunduk. Tidak ingin ketiga orang itu melihat ekspresi di wajahnya.
"Maaf tou-san, aku tidak bermaksud-"
"Sudahlah, tidap apa" tangan Minato terjulur. Menepuk kecil pundak anak bungsunya. "Lagipula, sesekali mengingat ibu sendiri itu bukanlah hal yang salah" katanya kembali sembari tersenyum kecil.
Mendengar itu, kepala Sasori pun mulai terangkat. Dia menatap bergantian seluruh manusia yang ada disana. Bisa dilihatnya mereka semua tersenyum kearahnya. Bahkan Kyuubi yang terkenal sangar pun terlihat cantik ketika sedang tersunyum tulus.
"Um, apa yang dikatakan tou-san memang benar" sekarang perhatian Sasori sepenuhnya terfokus kearah si blonde. "Aku juga sesekali mengingat kaa-san. Bahkan Kyuu-nee juga. Iyakan Kyuu-nee?"
"Hm" Kyuubi bergumam, kepalanya mengangguk kecil. "Hah, kau memang laki-laki cengeng" tambahnya lagi, sukses membuat yang bersangkutan melotot tajam kearahnya.
"Aku tidak cengeng" Sasori berseru kencang. "Aku hanya sedikit… yah" sungguh, Sasori tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Apa?"
"Bukan apa-apa"
Sasori tidak lagi peduli kepada sang kakak. Matanya beralih menatap kearah Minato. "Ayo kita mulai makan. Aku sudah lapar"
"Oh, baiklah" tanggap sang ayah mengangguk kecil. Kemudian dia pun menepuk tangannya. "Itadakimasu"
Setelah mendengar aba-aba dari sang ayah. Semua mulai menyumpit makanan dihadapan mereka kedalam mulut. Namun, sepertinya ada satu orang diantara mereka yang tidak melakukan hal yang sama. Dia hanya memandangi makanan itu tanpa selera. Tidak berniat untuk mencicipi.
Sang ayah yang merasakan keanehan pada sang anak pun menoleh. Dahinya mengernyit ketika mendapati salah satu anaknya yang tidak sedikitpun menyentuh makanannya. "Kau kenapa Kyuu?" itu tanyanya.
"Hm?" Kyuubi menatap sang ayah bingung. "Ah, tidak. Aku tidak apa" dia mengibasakan tangannya didepan wajah ketika mengerti maksud dari pertanyaan Minato.
"Kenapa kau tidak menyentuh makananmu Kyuu-nee? Apa makanannya tidak enak?"
Kyuubi menggeleng ketika mendengar pertanyaan dari Naruto. "Makanannya enak" dia menghela napas setelah mengatakan itu. "Hanya saja, aku masih kenyang" tambahnya lagi, sekarang tersenyum miring.
"Kenyang? Memangnya kau sudah makan Kyuu-nee?"
Kyuub memandang geram Sasori saat sang adik bertanya padanya. Oh, lihatlah seringaian adiknya itu. Dia berlagak tidak tahu, padahal dia sadar bahwa perut sang kakak tidak mempunyai ruang lagi untuk makanan-makanan yang ada dihadapannya ini.
"Kau tidak perlu tahu"Kyuubi menjawab ketus. "Sudah, kalian makan saja. Jangan pedulikan aku" ujarnya lagi. Tangannya sekarang bergerak, mengambil air putih yang ada diatas meja kemudian meminumnya.
Semua mengedikkan bahu acuh ketika mendengar perkataan ketus Kyuubi. Mereka pun mulai sibuk kembali dengan makanan mereka. Terserah jika Kyuubi tidak mau makan. Dia bukanlah orang yang patut untuk dikhawatirkan. Kyuubi selalu bisa mengurus masalahnya sendiri. Mereka tahu itu.
.
TBC
.
Apa-apaan ini? hah, sumpah kayaknya chap ini makin geje aja #pundung.
Hmmm, disini tidak ada scene sasuke ya minna. Yah, maklum ini adalah chap khusus buat rencana kyuusaso. Hah, entah kenapa saya merasa ceritanya agak sedikit melenceng dari summary. Bagaimana menurut minna? Apa minna juga sependapat dengan Uchy? Tolong tulis pendapat kalian tentang chap ini di kotak review
Big Thanks To :
hanazawa kay, , Ryuusuke583, Dewi15, RisaSano, Uzumaki Prince Dobe-nii, Kyuuuuu, SNlop, saphire always for onyx, Yoona Ramdanii, Diena, wakwaw, Aiko Michishige, viraoctvn, winteraries, squidneko, Cherry blosoom, .11, gelaphati,Jasmine DaisynoYuki, Harpaairiry, inmaGination, .146. Gerhana, Nisa0517
Terima kasih banyak buat yang udah review. Buat yang fav and follow juga. Uchy sayang kalian semua #peluk
REVIEW
