Disclemer : Masashi Kishimoto

Genre : Family / Romance / Drama

Pairing : SasuFemNaru slight ItaFemKyuu

Rate : T

Warning : Gender Switch,OOC, OC, Tipo's, alur kecepatan, cerita pasaran, EYD ancur, bikin bad mood, dan semua kekurangan lainnya.

.

Miss Stalker

Chapter 3 : What? To Be a Stalker? Oh No!

By : Uchy Nayuki

.

.

DON'T LIKE

DON'T READ

.

.

Makan malam telah berakhir sekitar setengah jam yang lalu. Dan sekarang tiga Namikaze bersaudara menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol ringan di ruang keluarga. Awalnya pembicaraan mereka hanya diisi dengan hal-hal seputar kegiatan sekolah. Jelas harus diingat, hanya Naruto yang sangat bersemangat dalam hal ini. Dia terus berceloteh tiada henti menceritakan banyak hal. Sedangkan Kyuubi dan Sasori hanya menanggapi dengan anggukan serta gumaman kecil. Terlihat tidak berminat sama sekali.

Namun obrolan ringan itu kacau ketika Kyuubi mulai mengingatkan Naruto tentang kekalahannya dalam pertandingan makan ramen tadi sore. Membuat si blonde berkeringat dingin. Jangan lupakan jika Kyuubi itu seorang Ratu Tega. Dia pasti akan menyuruh Naruto yang tidak-tidak atas kekalahannya itu.

"Kau tidak lupa dengan kesepakatan kita tadi sore kan imouto?"

Naruto menggigit bibir bawahnya pelan, terlihat gelisah. Dalam hati dia berdoa semoga mood Kyuubi mengerjainya saat ini tidak kambuh. Jikalau tidak, bisa dipastikan dia akan dapat masalah besar. "Iya, aku ingat" jawabnya mencicit.

"Hm, kalau begitu aku ingin kau melakukan sesuatu untukku"

Naruto meneguk ludah paksa ketika matanya mendapati seringaian samar pada wajah kakaknya itu. Oh, doa Naruto sepertinya tidak dikabulkan oleh Kami-sama. Dalam beberapa menit kedepan Naruto yakin dia pasti akan menjerit penuh kesengsaraan. Berurusan dengan Kyuubi adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya di dunia. Namun apa daya, nasi sudah menjadi burur.

"Melakukan apa nee-san?" tanyanya pelan.

Sumpah demi sekardus apel, rasanya Kyuubi hampir mati karena menahan seringaiannya itu. Oh, adiknya ini sungguh membuatnya ingin berjingkrak senang. Namun sebisa mungkin ditahannya. Kyuubi tidak ingin dianggap gila pada saat-saat menyenangkan seperti ini.

Dia pun berdehem pelan. Sengaja membuat suasana disana semakin tegang. Bibirnya mengulas senyum kecil. Dan didetik berikutnya kepala Kyuubi sudah menoleh kearah Sasori yang duduk tepat disampingnya. "Kau membawa apa yang kuminta otouto?" tanyanya.

"Hm" Sasori bergumam untuk menjawab pertanyaan itu. Dia pun mengangkat tangannya dan memperlihatkan benda yang ada pada genggamannya.

Sebuah kamera.

Kyuubi dalam gerakan cepat langsung merebut kamera tersebut dari genggaman Sasori. Matanya memperhatikan intens kamera itu sesaat, sebelum akhirnnya menyeringai lebar dan menatap kembali pada Naruto.

"Aku ingin kau memfoto seseorang" ujar Kyuubi mantap. Sukses membuat Naruto mengerutkan dahinya bingung. Tidak tahan dengan kebingungan yang melanda kepala kuningnya, gadis itu pun membuka mulut. Menyuarakan kebingungnnya.

"Siapa?"

Kyuubi terdiam cukup lama setelah sang adik menanyakan hal itu padanya. Seringaian masih tercetak jelas pada raut wajah sang rubah. Oh, saat-saat seperti ini serasa sangat menyenangkan baginya.

Jelas, Kyuubi itu iblis.

"Kau kenal Uchiha Sasuke?" Kyuubi pun memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.

"Tentu saja aku kenal" tanpa sadar Naruto menjawab cepat pertanyaan kakaknya itu. "Dia itu senpai paling menyebalkan di sekolah" wajahnya masam. Terlihat jelas jika dia tidak menyukai orang yang sedang di bicarakannya saat ini. "Dia sombong, angkuh, dan tidak berperasaan. Aku tidak suka dia" pada akhir perkataannya si blonde membuang muka. Terlihat sangat tidak sudi membicarakan Uchiha itu.

Kyuubi dan Sasori saling pandang. Sebelah alis mereka naik untuk menyuarakan kebingungan yang melanda mereka. Sungguh, mereka tidak menyangka jika Naruto sangat tidak menyukai Uchiha itu. Jika seperti ini, mungkin tugas yang mereka berikan akan sangat membuat Naruto sengsara.

Tunggu!

Membuat Naruto sengsara?

Ah, sepertinya dua manusia bersurai merah ini adalah orang-orang gila. Lihatlah, seringaian keji mereka itu. Sepertinya mereka senang sekali jika seandainya pemikiran mereka tadi memang benar adanya.

Harus diingat bahwa kakak beradik ini memegang motto 'Hiburan itu adalah melihat Naruto yang menderita'.

Sungguh, duo Namikaze ini adalah iblis.

"Tapi, kenapa nee-san menanyakan tentang Sasuke-senpai?"

Kyuubi tidak menjawab pertanyaan yang dikeluarkan Naruto itu. Dia hanya menatap Naruto dengan seriangan keji yang masih setia menghiasi wajahnya. Dia yakin dalam beberapa detik kedepan si blonde akan mengerti maksud dari pertanyaannya tentang Uchiha itu.

Dan seperti yang diperkirakan Kyuubi. Tidak lama setelah Naruto menyuarakan pertanyaannya. Wajah berkulit tan itu berangsur-angsur memucat. Matanya melotot horror. Mulutnya terbuka tutup seperti ikan yang kehabisan napas. Oh tidak, jangan katakan kalau…

"Maksud nee-san, orang yang harus ku-foto itu Sasuke-senpai?" tanyanya lirih.

Kyuubi mengangguk sekali. Bukan gerakan yang berlebihan, namun sanggup membuat Naruto menjerit karenanya.

"Yang benar saja!"

Kyuubi terkekeh. Kemudian menyematkan kamera itu pada telapak tangan sang adik. "Kau harus mendapatkan foto Uchiha Sasuke yang sedang tersenyum" wajahnya seketika menjadi serius. "Yang. Sedang. Tersenyum" ulangnya lagi pada penekatan di setiap katanya.

"Jangan bercanda!" Naruto menjerit histeris. Meremat kuat-kuat kamera yang ada dalam genggamannya. "Kau ingin aku mati hah? Siapa pun asal jangan Uchiha itu" katanya lagi. Matanya melotot tajam. Sungguh, Kyuubi benar-benar tidak punya hati.

"Haa… Aku tidak bercanda Imouto-chan. Aku ingin kau mendapatkan foto Uchiha itu yang sedang tersenyum. Bukankah kau sendiri yang sudah menyepakati kesepakatan kita? Jadi kuharap kau tidak menarik kata-kata yang kau ucapkan tadi sore"

Dan seakan tersambar petir. Tubuh Naruto membeku di tempat. Dia menatap tak percaya sang kakak. Oh tidak, kenapa Kyuubi berkata seperti itu? Dia tidak mungkin menarik kembali kata-katanya. Tapi, tidak mungkin juga dia setuju untuk mendapatkan foto Uchiha Sasuke itu.

Sekali lagi dia tekankan. Ini Uchiha Sasuke.

Orang yang seumur hidup akan selalu di bencinya.

"Tapi nee-san~" Naruto mulai mengeluarkan jurus andalannya. Puppy eyes. Wajahnya sekarang sudah tidak ada bedanya dengan kucing jalanan yang minta untuk di pungut. "Aku tidak suka dia. Tolong, jangan suruh aku untuk mendapatkan foto Uchiha itu" mohonnya dengan suara mendayu. Isakan lirih sesekali terdengar. Sedangkan mata sang gadis sudah berkaca-kaca.

Acting yang luar biasa!

Naruto yakin dengan ini Kyuubi pasti akan menarik kembali perintahnya itu. Tidak ada yang bisa lepas dari jeratan puppy eyes, batinnya terkekeh.

Tapi, seharusnya Naruto tahu, ada satu orang di dunia ini yang tidak akan pernah mempan dengan jurus puppy eyes andalannya. Dan orang itu adalah-

Namikaze Kyuubi. Tentu saja.

"Tidak ada tapi-tapian"

Dan dengan satu kalimat itu, harapan Naruto hancur berkeping-keping.

"Jika aku memerintahkanmu untuk mendapatkan foto Uchiha itu. Maka kau harus mendapatkannya"

Ingin rasanya Naruto terjun dari atap rumah sekarang juga.

Naruto menghela napas panjang. Jika sudah seperti ini, dia tidak mungkin mengelak lagi. Kata-kata yang sudah keluar dari mulutnya tidak akan pernah di tariknya kembali. Itu adalah jalan hidupnya.

Namun tetap saja, dia masih belum terima jika di perintah untuk mendapatkan foto senpai paling menyebalkan itu. Itu adalah siksaan paling mengerikan. Dan Kyuubi lah akar dari siksaannya ini. Dasar wanita iblis.

Ku kutuk kau supaya menikah dengan duda anak satu!

Mengutuk sang kakak sembarangan.

"Baiklah, apa pun maumu itu" katanya ketus. Matanya mendelik tajam sang kakak. "Jadi, kapan aku harus menyerahkan foto senpai cap pantat ayam angkuh tak berperasaan itu padamu?" tanyanya disertai kata-kata ejekan yang ditujukannya pada sang Uchiha.

Kyuubi menaikkan sebelah alisnya, elegan. Dan di detik berikutnya, wajah sang siluman rubah telah dihias seringaian lebar. "Tidak ada batasan waktu" katanya terdengar semangat. "Tapi usahakan kau mendapatkan foto itu secepatnya. Kau tidak ingin berlama-lama menjadi fotografer Uchiha itu kan?"

"Tentu saja aku tidak mau" bantah Naruto cepat. Tubuhnya bergerak bangkit dari duduknya. "Aku mau tidur. Oyasumi" ujarnya lagi ketus. Dan dalam beberapa detik kedepan, tubuh mungil sang gadis telah menghilang dibalik tikungan tangga.

Dia tidak ingin bicara lagi dengan Kyuubi maupun Sasori.

Mereka itu jelas adalah orang gila.

Sedangkan duo Namikaze itu menatap dalam diam tempat menghilangnya si blonde tadi. Suasana disana sempat hening dalam beberapa saat. Sebelum akhirnya pecah dengan Kyuubi yang kembali buka suara.

"Hei otouto, bagaimana kalau besok kita untit si Naruto?"

"Kau serius?" Sasori menatap sang kakak tak yakin. "Bukankah kau ada kelas sampai sore besok?"

"Ck, aku tidak berminat untuk masuk jam mengajar dosen ular itu" Kyuubi berdecak kesal. Dahinya mengernyit jijik saat mengingat salah satu dosen jurusan Biologi yang mengajar di kampusnya. Dia masih ingat, pria dengan rambut panjang melambai-lambai yang sanggup membuatnya muntah hanya dengan sekali lihat itu hampir saja menjadikannya salah satu kelinci percobaan.

Jika saat itu dia tidak menendang kepriaan sang dosen, dia tidak bisa membayangkan kehidupannya akan seperti apa sekarang.

"Aku akan menunggu sampai sekolahmu selesai" Kyuubi menatap sang adik senang. "Dan setelah itu kita akan langsung berangkat kesekolah Naruto dan menguntit dia kemana pun dia pergi" katanya lagi terdengar semangat.

Sasori menghela napas lelah. Kyuubi memang semaunya. Tapi toh, dia juga tidak terlalu kebaratan. Mungkin akan ada sedikit hiburan ketika menguntit Naruto yang berusaha mendapatkan foto Uchiha itu.

Ah, mereka berdua memang sama saja.

"Baiklah, aku tidak keberatan" ujar Sasori setelahnya. Tubuhnya pun mulai bergerak berdiri dari duduknya. "Aku mau masuk kamar, ada beberapa tugas yang harus ku selesaikan" katanya lagi kemudian.

"Kau akan tetap di sini?" tanyanya ketika mendapati Kyuubi yang sekarang malah menyalakan televisi.

"Hm, ada pertandingan bola malam ini" jawab sang kakak tanpa mengalihkan tatapannya dari layar kaca. "Sudah kau masuk kamar sana. Syuh… Syuh…" tangannya bergerak seakan mengusir sang adik.

Sasori memutar bola matanya bosan. Dan tanpa menunggu lama lagi, kaki jenjang sang pemuda mulai bergerak menuju kamarnya. Meninggalkan Kyuubi yang sibuk menonton televisi disertai dengan seringaian lebar pada wajah rubahnya itu.

'Besok pasti akan sangat menyenangkan. Khukhukhu…'

.

.

.

Naruto menundukkan kepalanya dalam. Helaan napas sesekali keluar dari belahan bibir plum itu. Sekarang dia ada di dalam kelasnya. Mendudukkan diri pada kursinya. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi sebelum bel masuk berdering. Dan seharusnya pada saat-saat seperti ini dia asyik mengobrol ringan dengan teman-temannya.

Ya, harusnya seperti itu.

Karena pada kenyataannya, dia malah sibuk memikirkan sesuatu.

Bagaimana caranya mendapatkan foto Uchiha Sasuke itu? Senpai paling menyebalkan itu? Dan seorang yang tidak pernah tersenyum itu?

Oh, ingin sekali rasanya Naruto menjedukkan kepalanya kedinding hingga Amnesia.

Namun apa daya. Karena seumur hidup Naruto tidak akan pernah tega menyakiti kepala pirangnya yang berharga. Sudah cukup dia mempunyai IQ di bawah rata-rata. Jangan sampai dia jadi idiot pula nantinya.

"Hei Naruto!"

"Hm?" Naruto menengadah kepalanya lamban. Sebelum mendapati salah satu temannya yang sekarang duduk tepat pada kursi yang ada di depannya. Seorang gadis yang mempunyai ciri-ciri tak beda jauh dengan dirinya. "Ada apa Ino?" tanyanya pada sosok itu. Nada bicaranya terdengar tidak bersemangat.

"Kau kenapa?" Ino bertanya dengan kernyitan dalam pada dahinya. "Kau terlihat tidak bersemangat hari ini? Kau sakit?" tanyanya kembali, khawatir.

Naruto menghela napas pelan. Yah, mungkin dia bisa bercerita dengan Ino. Mereka sudah berteman baik semenjak SD. Mungkin dengan itu stress-nya bisa sedikit menguap.

"Huh, mereka sangat menyebalkan Ino" Naruto memulai dengan kata-kata ketusnya yang tidak jelas.

"Hah?" Ino menaikkan sebelah alisnya bingung. Dan ketika kepalanya mulai memproses maksud dari kata temannya itu. Dia pun mengangguk paham. "Maksudmu Kyuubi dan Sasori kan? Apa lagi yang mereka lakukan?" dia memang sering mendengar curhatan Naruto tentang dua Namikaze merah itu. Mereka selalu menjahili si blonde sebagai sebuah hiburan. Mereka benar-benar saudara yang kejam.

Dia bisa merasakan kekesalan si bonde. Karena dia juga sering dijahili oleh adiknya sendiri.

Yah, tapi setidaknya dia bersyukur karena adiknya Deidara tidak semenyebalkan duo Namikaze itu.

"Mereka menyuruhku untuk memfoto Sasuke-senpai Ino. Tidakkah kau berfikir itu sangat menyebalkan?" tiba-tiba Naruto mencak sendiri. Wajahnya merah, sementara tangannya terkepal kuat. Benar-benar emosi dia rupanya.

"Sasuke-senpai?" Ino menaggapi cepat. Alisnya terangkat naik. Harap ingat jika telinganya sangat sensitive dengan nama itu. "Mereka menyuruhmu untuk mendapatkan foto Sasuke-senpai?" tanyanya lagi meyakinkan diri.

"Hum" Naruto mengangguk sekali.

"Untuk apa?"

"Entahlah aku tidak tahu" Naruto mengedikkan bahunya acuh. "Aku tidak bertanya alasan mereka. Paling-paling mereka juga ingin mengerjaiku saat tahu kalau aku sangat benci Uchiha itu. Mereka saudara yang menyebalkan"

Ino terkikik kecil mendengar gerutuan sang teman. "Kalau begitu langsung foto saja, apa susahnya. Kalau kau mau, aku juga punya sekardus foto Sasuke-senpai di rumah. Jadi kau tidak perlu repot-repot memfotonya lagi"

Naruto bereaksi cepat ketika mendengar perkataan temannya itu. Tubuhnya beringsut maju mendekat kearah Ino. "Benarkah?" Ino mengangguk kecil. "Kalau begitu kau punya foto Sasuke-senpai yang sedang tersenyum?" tanya Naruto penuh harap.

Seketika mendengar pertanyaan Naruto, tubuh Ino membeku ditempat. Dia menatap temannya tak percaya. "Foto Sasuke-senpai yang sedang tersenyum? Kau sedang berkhayal? Mana ada orang yang punya foto itu!"

Mereka terdiam cukup lama setelah Ino mengucapkan kata-kata terakhirnya. Beberapa detik berlalu, dan kedua wajah itu sekarang telah berubah seutuhnya menjadi pucat mayat.

Dan Ino lah yang pertama membuka suara diantara mereka berdua.

"Jangan katakan kalau…" kata-katanya tercekat di tenggorokan. Tapi sekuat tenaga dia melanjutkan kembali kata-katanya itu. "Kalau… dua saudara gilamu itu menyuruhmu untuk mendapatkan foto Sasuke-senpai yang sedang tersenyum?" tanyanya lirih.

Naruto mengangguk lemah menjawab pertanyaan itu.

"…"

"…"

"NARUTO!" entah kenapa Ino tiba-tiba berteriak nyaring. Dia mengguncang tubuh temannya keras. Membuat beberapa murid dalam kelas itu melirik kearah mereka. "Kakak dan adikmu itu benar-benar sudah gila. Siapa orang di dunia ini yang pernah mendapatkan foto Sasuke-senpai yang sedang tersenyum hah? Tidak ada Naruto! Tidak ada!" seru Ino histeris.

"Berhenti mengguncang tubuhku Ino. Sakit tahu" Naruto melepas tangan temannya itu dari bahunya. Dan kembali, bibir plum itu mengeluarkan helaan napas lelah. "Kurasa ini akan sulit. Bagaimana menurutmu?"

"Bukan sulit! Tapi sangat sulit. Kau tahu, bahkan aku yang sudah menguntit Sasuke-senpai selama dua tahun tidak pernah mendapatkan fotonya yang tersenyum" Ino berujar menggebu. "Dan sekarang kau ingin mendapatkannya? Mustahil!"

Naruto meremat rambut kepangnya itu kuat. Rasanya kepala kuningnya ingin pecah saat ini juga. "Lalu aku harus apa Ino? Bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan foto itu. Aku tidak ingin jadi pecundang di hadapan Kyuu-nee dan Sasori" tanyanya serak. Sungguh, dia ingin sekali menangis sekarang.

Ino yang sama frustasi-nya dengan Naruto mulai berusaha memutar otak untuk membantu temannya ini. Dan ketika hanya ada satu hal yang di pikirkannya, dia pun menyeruakannya pada si blonde.

"Tidak ada cara lain. Kau harus menguntit Sasuke-senpai kemana pun dia pergi. Mungkin akan ada sedikit keajaiban saat kau melakukan itu"

Naruto terlihat ingin membantah. Dia tidak mau menghabiskan waktunya hanya untuk Uchiha itu. Tapi, ketika kepalanya memikirkan kalau memang tidak ada jalan lain yang bisa di lakukannya. Dia pun hanya bisa kembali menghela napas.

"Dan sekarang apa yang harus ku lakukan?" tanyanya pada sang teman.

Ino terlihat berpikir. Tapi tak lama setelahnya, dia kembali membuka mulutnya. "Kau bisa mulai dengan taman belakang sekolah. Sasuke-senpai sering menghabiskan waktu istirahatnya disana"

.

.

.

Dan di sinilah Naruto sekarang. Membuntuti sang Uchiha mulai dari dia yang keluar kelas tadi, sampai akhirnya tiba di taman belakang sekolah. Menyembunyikan tubuhnya di balik salah satu pohon dengan kamera yang terus di genggam erat. Berharap Dewi Fortuna akan berpihak padanya untuk kali ini.

Lima menit telah berlalu, dan Naruto mulai tak sabar. Dia terus menggurutu pelan dengan muka yang merah padam. Matanya menatap tajam sang Uchiha yang masih tak beranjak dari tempatnya saat ini. Laki-laki itu sekarang mendudukkan diri di kursi panjang yang ada di taman belakang tersebut. Wajah tampan sang Uchiha masih datar dengan mata terpejam yang membuatnya terlihat menawan. Earphone yang terpasang di telinganya menambah kesan cool pada lelaki itu.

Tapi bagi Naruto semua itu adalah hal yang menyebalkan. Ingat, dia hanya butuh satu senyuman, maka dia akan enyah dari sana. Persetan dengan ketampanan Uchiha itu. Entah karena apa, Naruto sama sekali tak menyukainya.

Naruto pun mengedarkan pandangannya kesekeliling. Kemudian mendengus jengkel setelahnya.

Bagaimana tidak?

Di sekitarnya sekarang, terdapat banyak siswi-siswi yang melakukan hal yang sama seperti dirinya. Menguntit dan memfoto wajah keren sang Uchiha. Hanya saja yang membedakan. Mereka terus membidik dan memfoto wajah lelaki itu sedari tadi tanpa henti. Sedangkan Naruto, satu foto saja tak didapatkannya.

"Apa yang bagus dari wajah bertampang jalan tol itu? Sasori bahkan lebih baik darinya" gerutunya kesal.

Namun, sedetik kemudian wajah cantik itu dipenuhi raut keseriusan. Dia menatap tempat sang Uchiha dengan kernyitan dalam pada dahinya. Ah, tapi sebenarnya bukan lelaki itu yang menjadi perhatiannya saat ini. Melainkan seseorang yang baru saja datang menghampiri si Uchiha.

Naruto kenal gadis itu.

"Apa yang dia lakukan sini?" tanyanya entah pada siapa.

.

Sementara itu…

.

Sasuke tahu ada segerombolan siswi yang sedari tadi terus menyembunyikan diri di sekitarnya. Namun, dia tidak ingin ambil pusing akan hal itu. Biarkan saja mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan. Toh itu sudah sering terjadi.

Punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Tangannya terlipat di depan perut, sementara matanya terpejam menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Earphone yang terpasang di telinganya membuat dirinya merasa lebih nyaman. Memang, saat-saat seperti inilah yang membuatnya bisa sedikit menikmati hidup.

Dia suka ketenangan.

Namun sepertinya, Sasuke harus rela ketenangannya di ganggu lagi untuk kali ini. Dia pun melepaskan earphone di telinganya. Matanya sedikit terbuka, melirik tak minat sesosok gadis yang sekarang berdiri di samping kursi tempat duduknya.

"Sa… Sasuke-senpai?"

"…"

Sasuke hanya diam, menunggu kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut siswi tersebut. Ah, tapi sebenarnya tanpa menunggu pun Sasuke tahu mengarah kemana pembicaraan ini.

Membosankan, batinnya.

Siswi itu terlihat gugup. Berkali-kali dia mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terpacu cepat. Meskipun Sasuke-senpai tidak menghiraukan dirinya. Tapi, dia tidak boleh menyerah disini. Hanya sekarang saat dimana dia bisa mengutarakan perasaannya.

"A-Aku… Aku me-menyukai Sasuke-senpai!"

Sasuke sudah menduganya.

Dia pun kembali menutup matanya, berlagak tak peduli. Beberapa menit berlalu, dan dia masih pada posisinya itu. Membuat siswi yang menunggu balasan darinya larut dalam kegugupan yang semakin kentara.

"Aku tak menyukaimu" akhirnya tiga kata itulah yang keluar dari belahan bibir Sasuke. Nada suaranya datar, tidak ada sama sekali rasa iba pada sosok sang gadis yang sekarang bergetar bahunya, menahan tangis.

Sasuke berdiri dari duduknya. Berjalan melewati siswi tersebut begitu saja. Mengenyahkan dirinya dari sana.

Meninggalkan sang siswi yang sekarang terisak pelan.

.

.

.

Naruto berteriak murka di dalam hati. Bagaimana bisa Uchiha itu begitu kejam? Menyakiti hati seorang gadis seperti itu. Tidak bisakah dia bersifat lebih manusiawi?

Dari awal Naruto memang tidak salah jika membencinya.

"Kasian sekali dia. Salah sendiri begitu nekat menyatakan cintanya pada Sasuke-kun"

"Seharusnya dia itu sadari diri. Mana mungkin Sasuke-senpai menerimanya disaat banyak penggemarnya yang lain di tolak begitu saja"

"Percaya diri sekali dia. Dasar naïf"

Telinga Naruto panas. Sudah cukup sedari tadi dia mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kurang ajar para siswi di sekitarnya sekarang. Mereka terus berbisik-bisik, membuat Naruto ingin sekali memotong lidah mereka itu.

Tak tahan dengan kondisinya saat ini. Dia pun akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Berjalan cepat mendekati siswi tersebut yang ternyata adalah teman sekelasnya. Menepuk bahunya pelan, membuat sosok itu menoleh kearah Naruto.

"Na… Naru-chan?"

"Hy Hinata-chan. Kau sedang apa disini? Dan kenapa matamu sembab begitu?" dia tidak ingin mengatakan bahwa dirinya melihat semua yang terjadi tadi. Maka dari itu, dia berlagak seolah tak mengetahui apapun. Dia tidak ingin Hinata semakin sedih dengan mengatakan jika dirinya melihat adegan penolakan cinta sang teman.

"Ah, aku ti-tidak sedang a… apa-apa Naru-chan" Hinata cepat-cepat menghapus air mata di pipinya. Bibirnya mengulum senyum kecil, meski terlihat dipaksakan. "Dan ma-mataku hanya ke… lilipan. Yah, ha-hanya kelilipan" ujarnya lagi kemudian.

Kau tidak pandai berbohong Hinata-chan, batin Naruto miris.

Namun tak lama kemudian, tangan si blonde kembali bergerak, menepuk bahu Hinata. Dia mengulum senyum lebar, secara tidak langsung memberikan semangat pada Hinata. "Kalau begitu ayo kita ke kelas. Sepertinya bel masuk akan berbunyi sebentar lagi"

Naruto pun mengamit lembut tangan Hinata. Membawa langkah mereka berdua menjauh dari sana.

.

.

.

Kembali, untuk kesekian kalinya, Naruto harus berada dalam kondisi yang membuatnya benar-benar ingin bunuh diri. Dalam batin, dia kembali merutuki dua saudaranya itu. Kenapa mereka tidak menyuruhnya untuk memfoto orang lain saja? Sungguh, dia mungkin akan mengatakan IYA tanpa pikir panjang jika itu terjadi.

Matanya masih gesit memperhatikan setiap gerak-gerik sang Uchiha. Mengesampingkan niatnya untuk menonjok wajah papan penggilasan itu yang telah berani menyakiti hati temannya. Jika dia tidak ingat bahwa dia sedang dalam misi mendapatkan foto langka sang Uchiha. Bisa di pastikan, wajah itu harus mengalami operasi plastic karena terkena tinju mautnya yang melegenda.

Oke, Naruto terlalu larut dalam imajinasinya sendiri.

Bel pulang sekolah sudah berdenting sekitar setengah jam yang lalu. Naruto yang biasanya selalu pulang berbarengan dengan teman-temannya, sekarang harus rela mengganti kebersamaannya itu dengan menjadi stalker sang Uchiha. Hidupku sungguh miris, batinnya merana.

Dan sekarang, dia kembali harus menguntit sang Uchiha secara diam-diam. Menyembunyikan tubuhnya di balik tiang atau di balik tembok agar lelaki itu tak menyadari kehadirannya. Mereka memang sudah keluar dari area sekolah sedari tadi. Membuat beberapa orang yang berlalu lalang melirik aneh padanya.

Oh, apa dia bilang padanya tadi?

Hah, gila. Yang benar itu pada mereka. Ingat jika Uchiha ini mempunyai banyak penggemar gila? Yah, Naruto harus mengakui itu. Dia benar-benar frustasi saat ini. Masuk dalam rombongan siswi-siswi ini bisa membuat Naruto sesak napas. Berkali-kali dia teseret arus sampai terjungkal karena mereka mendorong tubuhnya.

Kami-sama tolong hambamu yang imut ini~

Dia pun mengusap wajahnya kasar. Sudah cukup, terjungkal berkali-kali sampai membuat wajahnya lecet itu benar-benar tidak bisa di terima. Dan tanpa menunggu lama, dia pun memberanikan diri melangkah beberapa meter lebih jauh di hadapan gerombolan siswi tersebut. Menghiraukan cacian protes mereka.

Biarakan saja, toh dia tidak peduli.

Mata Naruto yang melihat sang Uchiha yang sekarang berbelok arah pun mengikuti laki-laki tersebut. Masih dengan sembunyi-sembunyi.

Tapi yang membuat Naruto heran. Kenapa suara para siswi itu tak terdengar lagi? Penasaran, dia pun menoleh kebelakang dan mendapati gerombolan siswi tersebut tak berada lagi di sana. Memasang wajah bingung, tapi setelahnya dia mengedikkan bahu acuh.

Bukankah dengan begitu tugasnya akan menjadi lebih lancar? Batinnya senang.

.

.

.

"Jauhi Uchiha itu. Jika tidak, kalian mati"

Sasori menggeleng kepalanya lemas. Dia tidak menyangka Kyuubi akan bertindak sejauh ini. Wanita yang diragukan gendernya oleh kebanyakan orang itu sekarang menodong pisau lipat yang selalu di bawanya kemana-mana kearah segerombolan siswi yang sedari tadi melakukan hal yang sama seperti Naruto. Yah, menguntit Uchiha itu.

Jangan lupakan jika dia dan Kyuubi sudah merencanakan ini sebelumnya. Seusai menjemputnya, mereka langsung bergegas ke sekolah Naruto dan menguntit si blonde dari belakang. Dia bahkan harus menghela napas berkali-kali di saat Kyuubi yang ada disampingnya tak henti berceloteh geram. Mengutuk para siswi itu yang telah dengan berani mengganggu misi Naruto.

Dan karena wanita itu tak tahan lagi. Di saat dia mendapatkan kesempatan dimana Naruto tidak akan melihatnya, dia melompat tepat dihadapan gerombolan siswi tersebut. Membuat Sasori juga mengikuti langkahnya dan berdiri di samping Kyuubi.

Wajah Kyuubi yang sangar cukup sukses membuat para siswi itu berhenti melangkah. Gerombolan siswi yang terdiri sekitar 7 sampai 9 orang itu meneguk ludah cemas saat mendapati pisau lipat dengan ujung yang berkilauan teracung kearah mereka.

What The Hell? Orang ini psikopat gila! Batin mereka berteriak

"Kalian harus tahu, Uchiha itu hanya milik adikku!"

Dan kali ini, Sasori menepuk jidatnya frustasi. Kenapa Kyuubi berkata seolah-olah ingin menjodohkan Naruto dengan Uchiha itu? Otak kakaknya ini benar-benar sudah di cuci bersih oleh uang.

Haa… dia memang tidak bisa mengelak akan hal itu. Dia ingat, sedari dulu Kyuubi memang mata duitan.

"Jadi, sekarang enyah dari sini. Jika aku melihat kalian mengganggu adikku lagi, jangan harap aku tidak akan memutilasi kalian"

Bisa dilihatnya mereka semua mengangguk patuh. Dan tak butuh waktu tiga detik, para siswi itu benar-benar hilang dari pandang mata. Membuat Sasori menggeleng maklum. Entah bagaimana caranya ancaman Kyuubi –yang selalu tidak mempan padanya itu- membuat banyak orang lari terbirit-birit sampai terjungkal dengan tidak elitnya.

Dunia memang menyimpan banyak rahasia.

"Khekhekhe…"

Sasori menatap sang kakak yang terlihat sibuk terkekeh bangga. Entah bagian mana dari menjadi seorang kriminal itu yang membuat Kyuubi merasa hebat. Dia bertanya-tanya. "Kyuu-nee, kau terlalu berlebihan" Sasori memutar bola matanya tak habis pikir ketika kekehan Kyuubi semakin menjadi setelah mendengar perkataannya. "Ah, dan bicaramu tadi seperti ingin menjodohkan Naruto dengan Uchiha itu saja kau tahu" katanya lagi.

"Oh benarkah?" Kyuubi mencetak seringaian lebar di wajahnya. Terlihat senang dengan kata-kata yang keluar dari mulut Sasori. "Bukankah lebih bagus jika memang mereka bisa pacaran? Haha… aku bisa kaya mendadak" dia tertawa laknat. Membuat orang-orang merinding ngeri melihatnya.

Lagi, Sasori menepuk jidatnya lelah. Kyuubi benar-benar wanita gila. Di saat banyak kakak yang protektif dalam memilih kekasih adiknya, Kyuubi malah terlihat senang Naruto berhubungan dengan orang yang tidak disukainya. Sasori masih bertanya-tanya, kenapa dia tetap waras berdekatan seperti ini dengan Kyuubi.

"Hei otouto, sebaiknya kita ikuti lagi si Naruto. Sepertinya kita terlalu lama disini. Aku takut jejaknya hilang"

Sasori mengangguk sekali mendengar perkataan Kyuubi. Dia pun berniat mengikuti langkah sang kakak, ketika tiba-tiba sebuah tepukan kecil mendarat di bahu kirinya.

Dia menoleh, dan terdiam lama di tempat.

Kyuubi yang merasa sang adik tak lagi mengikutinya pun ikut menoleh. Dan tak lama setelah itu matanya menyipit tajam, menatap sosok yang menepuk bahu adiknya itu geram.

"Dei?"

"Hei danna, sedang apa disini un?"

Dari penglihatan Kyuubi saat ini, dia bisa melihat Sasori yang mengulum senyum kecil. Terlihat senang dengan kehadiran seorang gadis yang dikenal Kyuubi sebagai salah satu teman kelas Sasori yang bernama Deidara. Kyuubi tahu jika Sasori menyimpan perasaan pada gadis itu meskipun otouto-nya tak pernah berkata apapun padanya. Sikap Sasori sudah cukup mengatakan kebenarannya.

Sial, dia datang di saat yang tidak tepat, batin Kyuubi kesal.

"Hanya jalan-jalan biasa" Sasori berujar singkat. "Kau sendiri?" tanyanya.

"Aku ingin pergi ketoko buku un. Ada novel yang ingin ku beli" Deidara menjawab dengan senyum manis yang terukir di wajahnya. "Kau pergi dengan Kyuubi-nee?" tanyanya balik. Menatap sosok Kyuubi yang berada di belakang punggung Sasori.

"Ya begitulah" jawab Sasori terdengar tak bersemangat.

"Oh ya danna, kenapa belakangan ini kau sulit di hubungi un? Saat aku menelphonemu selalu saja tidak aktif un"

Mendengar pertanyaan dari Deidara itu, wajah Sasori seketika muram. Inilah yang membuatnya sangat emosi ketika Kyuubi merusak ponselnya. Lihat, apa yang harus dikatakannya pada Deidara sekarang? Dia tidak bisa dihubungi karena ponselnya dibanting oleh Kyuubi? Bisa-bisa Deidara menertawainya sampai tahun depan.

"Hm, aku hanya sedikit sibuk belakangan ini" akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.

"Oh, begitu ya un?" entah kenapa Sasori ingin menghantam kepalanya ke tembok ketika mendapati raut kecewa Deidara. Dia tidak tahan dengan wajah itu. Oh ya ampun, apa aku salah bicara? Batinnya cemas.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu un" Deidara menunduk kecil kearah Kyuubi dan Sasori. Sebelum berbalik, berniat pergi dari sana.

"Dei?"

Gadis itu menoleh ketika merasakan tangannya yang ditarik pelan oleh Sasori. Wajahnya memperlihatkan raut kebingungan. Entah kenapa di matanya sekarang Sasori terlihat salah tingkah.

"Kau pergi sendiri?"

"Ya begitulah. Ada apa un?"

"Aku akan menemanimu"

Deidara mengerjabkan matanya sekali ketika mendengar perkataan Sasori itu. Bukankah danna-nya ini sedang sibuk? Kenapa sekarang berniat ingin menemaninya? Ah, tapi sepertinya Deidara tidak peduli dengan itu. Karena tak lama setelahnya dia mengulum senyum lebar pada wajahnya.

"Benarkah?"

"Hm"

"Lalu bagaimana dengan Kyuubi-nee?" tanyanya seraya menatap kearah Kyuubi yang juga balik menatapnya. Entah kenapa dia sedikit merinding ketika mendapati tatapan Kyuubi itu.

Sedangkah Kyuubi. Dia terlihat mati-matian menahan diri untuk tidak melempar Deidara ke jurang sekarang juga. Beraninya gadis itu mengganggu misi menguntit imoutonya ini, bahkan sekarang dia yakin jika Naruto sudah pergi jauh. Sialan! Batinnya kesal.

"Kyuu-nee, aku akan menemani Deidara" Sasori menatap sang kakak datar. Merasa tak ada beban meninggalkan kakaknya disini. Tangannya pun bergerak, menepuk kecil bahu Kyuubi. "Kau untit Naruto sendiri saja ya?" katanya lagi. Sebelum akhirnya berbalik, mengajak Deidara jalan beriringan dengannya.

"A… aku di tinggal seperti ini?" tanya Kyuubi miris menatap duo sejoli itu. Perasaannya saja atau memang dia merasa sedikit iri? Ah, tidak, tidak. Kyuubi tidak merasakan perasaan menggelikan seperti itu.

Dia pun berbalik setelahnya. Berjalan beberapa langkah, dan menoleh ke kiri tempat dimana dia melihat Naruto terakhir kali. Dia menghela napas ketika mendapati sang adik tak terlihat lagi disana. Tentu saja, dia menghabiskan banyak waktunya dengan meladeni gerombolan siswi itu dan Deidara.

Haa, sepertinya aku tidak akan menemukannya, batin Kyuubi seraya menghela napas.

Kepalanya pun bergerak memandang sekeliling setelahnya. Dan ketika mendapati ada sebuah taman yang berada tak jauh darinya sekarang. Dia melangkahkan kakinya ke sana. Yah, beristirahat sebentar tidak ada salahnya kan?

.

.

.

Naruto yakin jika Uchiha Sasuke, Senpai paling menyebalkan di sekolahnya itu keturunan keluarga bangsawan. Bukannya apa, tapi Naruto ingat jika ayah dari si ayam itu sering keluar masuk televisi atau surat kabar. Sasuke itu anak dari pengusaha ternama Jepang ingat?

Tapi Naruto di buat kebingungan ketika mendapati si Uchiha itu memasuki sebuah bengkel dan tidak keluar semenjak 10 menit yang lalu. Membuatnya bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki itu sekarang. Yah, sebenarnya Naruto bisa saja memasuki bengkel itu karena dia kenal baik siapa pemiliknya.

Hatake Mechanic

Siapa lagi pemiliknya jika bukan kenalan ayahnya itu. Yang sudah di anggapnya paman sendiri.

Entah kapan terakhir kali Naruto datang kesana. Mungkin sekitar dua bulan yang lalu? Ah, dia lupa. Tapi yang pasti, dia kehilangan nyali jika harus ke tempat itu lagi, karena semenjak dua bulan lalu Kakashi-jiisan-nya itu menerima seorang pegawai yang membuat Naruto jantungan setiap kali melihatnya.

Setiap saat ketika dia ingin menginjakkan kakinya disana. Dia harus meneguk ludah berkali-kali ketika mendapati sesosok pemuda yang sanggup membuat hati Naruto terkena bom C4 Deidara terlihat telaten mengerjakan pekerjaannya. Membuat niat Naruto yang awalnya ingin memberikan bekal makan siang special buatannya kepada sang paman harus sirna di saat itu juga. Dan berakhir dengan dia yang menitipkan bekal itu kepada salah satu pegawai lainnya disana.

Dan sekarang dia harus berakhir disini lagi? Oh ya ampun, dia sudah memberikan berbagai alasan maut kepada Kakashi yang menanyakan ketidak datangannya kesana. Sudah cukup jantungnya meletup-letup ketika menatap pemuda itu dari balik pintu kaca. Karena Naruto yakin, lebih dekat dari itu dia pasti sudah pingsan di tempat.

Dan karena tak ingin para pegawai disana yang hampir semuanya mengenali dirinya mengetahui kedatangannya ini. Dia pun menjaga jaraknya cukup jauh dari sana. Dalam hati berharap semoga SasuTeme-senpai-nya itu cepat-cepat keluar dari bengkel sang paman.

Tapi harapan tinggallah harapan.

Karena lima menit kemudian, dia tetap tak melihat tanda-tanda kemunculan sang kakak kelas. Membuatnya mengerang frustasi. Bagaimana ini? batinnya resah.

"Naruto? Apa yang kau lakukan disini?"

Oh, tidak!

Tubuh Naruto membatu di tempat. Dan dengan gerakan patah-patah dia menoleh kebelakang dan mendapati sang paman yang menatap bertanya padanya. Membuatnya berkeringat dingin. Apa yang harus dikatakannya saat ini? Kakashi-jiisan pasti akan menyeretnya memasuki neraka itu.

Homina Homina, aku pasti akan mati.

"Ti… tidak sedang apa-apa jiisan. Hanya jalan-jalan biasa. Yah, cari udara segar" Naruto tersenyum kaku kearah pamannya ini. Membuat wajahnya itu terlihat aneh.

"Oh, begitu. Hm, aku berpikir bagaimana kalau kau mampir ketempatku sekarang. Sudah lama kau tidak kesana kan? Banyak pegawaiku yang menanyakan tentang dirimu kau tahu"

Naruto meneguk ludah paksa. Wajahnya pucat dengan keringat yang bercucuran di sekitar pelipisnya. Bagaimana ini? Apa dia harus menolak ajakan Kakashi?

"Dan jangan menolak. Kau sudah ada disini sekarang. Hanya beberapa langkah dari bengkelku maka kita akan sampai. Mampir sebentar tidak akan membuat waktu berhargamu habis"

Bukan itu masalahnya jiisan! Naruto menjerit histeris dalam hati.

"Jadi bagaimana?"

Naruto meneguk ludahnya kembali ketika mendapati tatapan tajam dari Kakashi. Jika sudah seperti ini maka menolak ajakan Kakashi itu adalah mustahil. Naruto ingat ketika umurnya 10 tahun dan dia menolak ajakan Kakashi untuk menemani sang paman memeriksa Pakun kerumah sakit hewan, selama sebulan penuh Kakashi mengacuhkannya dan tak meraktir ramen untuknya. Dan itu sudah cukup menjadi trauma berat bagi Naruto.

Terpaksa gadis itu pun mengangguk lemah. Membuat Kakashi mengulum senyum kemenangan di balik maskernya. Dan tanpa menunggu lama lagi, sang Hatake menyeret Naruto menuju bengkelnya.

Kenapa kau begitu membenciku Kami-sama~, batinnya merana.

.

TBC

.

Hufh, sepertinya saya ngetik chap ini kepanjangan ya? Sampe 5K. Haduh… pegel #rengganginOtot. Bagaimana? Membosankan kah? Saya benar-benar tidak bisa mengendalikan jari-jari ini untuk berhenti ngetik. Di tambah mood yang berbunga-bunga dan ide yang ngalir bagai air terjun itu membuat saya duduk di depan laptop selama berjam-jam #sarapKambuh.

So, adakah yang bisa menebak siapa orang yang membuat Naruto jantungan itu? Hehehe… mungkin dia akan berperan penting dalam mengganggu perjalanan cinta SasuNaru wahaha #dicekekSasuke.

Oh, dan untuk alasan kenapa chap kemarin saya tidak pakai truth or dare untuk taruhannya, karena permainan itu sudah terlalu sering dipakai dalam hal taruhan. Hm, saya hanya ingin membuat sedikit berbeda saja. Dan tambahan lagi, sebenarnya fict ini khusus untuk menistakan Kyuu-chan ku yang tersayang. Kalian tidak berpikir kenapa saya mem-pairingkan dia dengan duda –yah meskipun keren-? Itu karena kenistaan saya sudah benar-benar masuk tingkat yang memprihatinkan yohoho #ketawaLaknat. #dicincangItachi.

Yokeh, thanks banget bagi kalian yang udah RnR fict abal-abal ini. Juga bagi yang udah Favorite and Follow. Dukungan kalian benar-benar berpengaruh besar dalam kelanjutan fict ini. Arigatou^^

Big Thanks To :

Hafiza | winteraries | zadita uchiha | kimjaejoong309 | Dewi15 | viraoctvn | saphire always for onyx | Ryuusuke583 |luviz hayate | Wagus-san | Ifu Uchiha | Jasmine DaisynoYuki | SNlop | hanazawa kay | Call Me L | AprilianyArdeta | Namie | UzumakiDesy

.

#WeDoCareAboutSFN

.

Mind to Review?