Disclemer : Masashi Kishimoto

Genre : Family / Romance / Drama

Pairing : SasuFemNaru slight ItaFemKyuu

Rate : T

Warning : Gender Switch, AU,OOC, OC, Tipo's, alur kecepatan, cerita pasaran, EYD ancur, alur mudah ditebak, bikin bad mood, dan segala kekurangan lainnya.

.

Miss Stalker

Chapter 4 : The Demon Fox VS a Boy

By : Uchy Nayuki

.

.

DON'T LIKE

DON'T READ

.

.

Kyuubi melangkahkan kakinya pelan menuju taman. Ketika memasuki area taman, matanya memandang sekeliling. Memikirkan akan di mana dia mendudukkan dirinya nanti.

Ketika melihat ada sebuah kursi panjang tak jauh darinya. Dia pun kembali menggerakkan kakinya menuju kursi itu. Tanpa pikir panjang, dia langsung mendaratkan pantatnya disana. Tak sadar jika sesosok bocah juga menduduki tempat itu di saat yang bersamaan dengan dirinya.

"Uuuhh, perih sekali"

Kyuubi menolehkan kepalanya kesamping kiri ketika medengar suara ringisan kecil. Dahinya mengernyit kecil ketika mendapati sesosok bocah berumur sekitar 5 tahun ada disampingnya sekarang.

Lututnya terluka? Tanyanya spontan dalam hati ketika matanya mendapati luka kecil pada lutut bocah itu.

"Hei, kau kenapa bocah?" tanpa sadar, suaranya keluar begitu saja.

Bocah yang dikenal bernama Uchiha Shiro itu seketika menoleh. Matanya sedikit menyipit, menatap Kyuubi tidak suka. "Nii-san tidak lihat, lututku terluka. Nii-san buta ya?" tanyanya ketus.

Kyuubi melotot mendengar pertanyaan –atau sebut saja ejekan- sang bocah padanya. Giginya bergemeratuk pelan sementara tangannya sudah gatal ingin sekali menodong pisau lipatnya kearah Shiro.

"Dengar ya bocah. Aku tidak suka gaya bicaramu itu. Sekali lagi aku mendengarmu berbicara ketus, lebih lagi kepadaku, aku benar-benar akan mengiris lidah kecilmu itu" Kyuubi berujar mengancam. Matanya berkilat mengerikan. Berani sekali bocah ini padanya?

"Nii-san tidak bisa mengancamku" anak itu tidak ingin kalah. Dia menatap balik Kyuubi dengan tatapan khas Uchiha, ajaran Ayahnya. "Memangnya apa hak Nii-san menentangku? Kita bahkan tidak saling kenal" katanya lagi.

Kyuubi mengeram. Dan dalam gerakan cepat, dia sudah menekan luka sang bocah. Tidak terlalu kuat, namun sanggup membuat anak itu memekik karenanya.

"Ouch, sakit Nii-san"

"Sudah kukatakan, jaga bicaramu itu di depanku bocah"

Shiro terlihat meniupi lukanya yang baru saja di tekan Kyuubi. Matanya berkaca-kaca, sementara mulutnya komat-kamit merutuki 'pemuda' di sampingnya ini. "Nii-san yang kejam. Tak punya perasaan. Tidak lihat apa kalau aku sedang terluka?"

Kyuubi menghela napas mendengar kata-kata ejekan mengarah lagi padanya. Yah, meskipun Shiro tidak mengatakannya langsung, tapi tetap saja dia bisa mendengar itu.

Tangannya pun bergerak. Mengeluarkan sapu tangannya yang ada dalam saku celana. Dia membuka lipatan sapu tangan, kemudian merobek benda itu menjadi dua.

"Tunggu sebentar disini!"

Shiro menoleh kearah Kyuubi. Tapi 'pemuda' itu sudah berdiri dari duduknya. Dalam penglihatannya saat ini, dia bisa melihat Kyuubi berjalan kearah kran air tak jauh dari mereka. Membasahi salah satu sapu tangannya yang sudah di robeknya tadi dengan air.

Setelah selesai dengan membasahi sapu tangannya. Dia langsung berbalik kembali kearah sang bocah. Matanya menatap bocah itu bosan. "Kemarikan lututmu!" perintahnya kemudian.

Shiro mengedipkan matanya sekali. Perasaannya saja atau memang gelagat kakak garang ini ingin mengobati lukanya? Berbagai pemikiran tentang perubahan sikap Kyuubi yang tiba-tiba berputar di kepalanya. Dia mengira-ngira, apa mungkin Kyuubi itu seorang penculik bocah-bocah tampan seperti dirinya yang nanti akan berakhir dengan sang penculik yang meminta tebusan ratusan juta kepada orang tua sang bocah.

Oh tidak, tou-chan tidak punya uang sebanyak itu untuk menebusku! Batinnya histeris.

Sedangkan Kyuubi, dia menghela napas lagi. Dia yakin anak ini bepikir buruk tentang dirinya di balik kepala hitamnya itu. Padahal dia sudah bersikap baik, tapi entah kenapa sikap baiknya akan selalu berakhir dengan orang-orang yang berpikir ada maksud terselubung di baliknya.

"Tenang saja, aku tidak ada maksud untuk menculikmu" kata Kyuubi kemudian. Matanya menatap jengah sang bocah. "Memangnya penculik mana yang akan menculik bocah bermulut ketus seperti dirimu?" tanyanya bosan.

Shiro terlihat tidak terima dengan pertanyaan Kyuubi. Meskipun dia tidak ingin di culik, tapi tetap saja perkataan Kyuubi yang seperti itu melukai harga dirinya sebagai seorang Uchiha yang tampan. "Nii-san tidak lihat wajahku ini. Aku ini tampan sama seperti Tou-chan ku" katanya kemudian. Tangannya bergerak, menunjuk wajahnya sendiri dengan bangga. "Asal Nii-san tahu saja, Tou-chan ku itu sangat tampan seperti artis. Banyak wanita yang mengejar-ngejarnya" serunya lagi, membuat Kyuubi mendengus karenanya.

"Terserah kau saja bocah" Kyuubi berujar malas. Tangannya bergerak meletakkan kaki kanan Shiro yang terluka keatas kursi, dan mulai mengelap luka itu dengan sapu tangannya yang basah. "Oh ya, kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanyanya.

"Oh, ini karena aku tidak sengaja terjatuh saat berlari ke sini tadi" jawab sang bocah polos. Pemikirannya tentang Kyuubi yang seorang penculik itu menghilang entah kemana.

"Dasar ceroboh"

"Aku tidak ceroboh! Hanya sedikit kurang hati-hati saja"

"Hm, memang apa bedanya?" balas Kyuubi terkekeh.

Shiro mengeram, kesal dengan kata-kata yang keluar dari mulut Kyuubi. "Tentu saja ada bedanya" jawabnya kemudian, keras kepala.

"Hm" Kyuubi hanya bergumam. Menyerah meladeni bocah keras kepala ini. Yah, tapi setidaknya dia berhasil untuk mengedalikan tangannya yang serasa kebas karena tidak bisa menodong bocah itu dengan pisau lipatnya, akan sangat berbahaya ketika banyak orang-orang melihat tindak kriminalnya itu.

"Lalu dimana Tou-chan tampanmu itu? Tega sekali dia membiarkan anaknya yang berkepala batu ini sendirian" tanya Kyuubi lagi kemudian. Tangannya sekarang bergerak lincah membalut luka sang bocah dengan sebelah sapu tangannya yang tidak terbasuh air.

Selesai! Batinnya puas.

"Tou-chan sedang bekerja. Sebentar lagi dia juga akan menjemputku" jawab Shiro senang. "Dan aku tidak keras kepala" matanya mendelik kearah Kyuubi.

"Terserah" Kyuubi memutar bola matanya bosan. Dia pun berdiri dari duduknya, berniat segera pergi dari sana. Lama-lama disini, dia tidak bisa memastikan jika tangannya tidak bergerak otomatis menodong bocah itu. "Aku pergi dulu" katanya seraya melangkah.

"Eh, Nii-san ingin kemana?"

Langkah Kyuubi berhenti seketika. Kepalanya menoleh sedikit, menatap Shiro dengan kernyitan kecil di dahinya. "Tentu saja pulang. Memangnya aku harus kemana?" tanyanya sarkastis. Sebelum berbalik, hendak melangkah lagi.

"Nii-san disini saja menemani ku"

Sebelum terhenti ketika mendengar perkataan bocah itu.

"Apa katamu tadi?" Kyuubi segera berbalik. Dia bertanya kepada Shiro dengan nada yang sarat akan rasa ketidakpercayaan. "Kau ingin aku menemanimu? Menemani bocah bermulut ketus sepertimu?" tanyanya lagi beruntun.

"Oh Sorry, aku banyak pekerjaan lain yang lebih penting" katanya final. Dia berniat kembali pergi dari sana, sebelum merasakan tarikan kecil pada ujung bajunya.

"Ayolah Nii-san, kau tidak akan mati hanya dengan menemaniku" Shiro menatap Kyuubi santai. Tidak peduli jika mata beriris merah Kyuubi balik menatapnya tajam. Entah kenapa dia senang berdekatan dengan kakak garang ini.

Dia hanya merasa nyaman ketika berdekatan dengan Kyuubi. Kakak itu pun punya mulut yang benar-benar bisa mengimbangi keketusan mulut miliknya ini.

Ah, kami berdua sangat cocok. Itu pikirnya.

"Hei, dengar ya bocah!" Kyuubi segera berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan sang bocah. Sungguh, Kyuubi sekarang bertanya-tanya kenapa dia masih bisa sabar menangani bocah ini. "Aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Kau tahu, aku bisa saja membunuhmu disini sekarang. Bersyukurlah karena kau masih ku beri kesempatan untuk hidup" katanya berdesis tajam.

"Oh begitu" Shiro masih terlihat santai. Dia menatap Kyuubi dengan matanya yang berkilat tenang, tidak gentar sama sekali. "Tapi aku masih tetap pada keinginanku. Aku ingin Nii-san disini. Terserah Nii-san ingin mengancamku seperti apa pun, aku tidak akan takut" katanya egois. Sekarang dia mengulum senyum kecil.

Saat Shiro berumur 3 tahun, dia sudah mencatat pernyataan ini dalam kepalanya.

Uchiha adalah makhluk egois.

Sedangkan di pihak Kyuubi, sekarang dia benar-benar dilanda emosi berat. Di remas tangannya sendiri agar dia tidak benar-benar mencekik bocah ini. Dia masih punya hati untuk menyakiti seorang bocah, yang meskipun harus diakuinya sangat menyebalkan itu.

Tenang Kyuubi, tenang. Tolak keinginan bocah ini secepatnya dan pergilah dari sini sekarang juga.

"Aku menolak" dan dengan satu kalimat itu pun, Kyuubi langsung melangkahkan kakinya tanpa ada niat berbalik lagi, meskipun Shiro sudah memanggilnya berkali-kali.

Sebelum-

"Hiks… Hiks… Huuaaa, Tou-san ingin kemana? Jangan tinggalkan Shiro Tou-san!"

Tap

Kyuubi sukses menghentikan laju kakinya pada langkahnya yang kesepuluh. Dia berdiri mematung di sana. Saraf tubuhnya seakan konslet, karena sama sekali tak bisa digerakkan ketika kepalanya sekarang benar-benar sudah menderingkan alarm tanda bahaya.

"Hiks… Tou-san bilang ingin mengajakku main. Ta-tapi kenapa sekarang meninggalkanku sendiri? Hiks, aku tahu aku nakal. Tapi jangan ma-marah padaku Tou-san"

Kyuubi berdiri kaku di sana dalam kurun waktu lama. Matanya melirik-lirik kecil orang-orang yang sekarang menatap iba pada Shiro dan malah memberikannya tatapan tajam. Kenapa dia seperti seorang pendosa di sini? Apa salahnya? Hei, dia masih sangat muda untuk punya anak. Umurnya bahkan masih 20 tahun. Dan lagi, sejak kapan dia berubah gender menjadi laki-laki?

Oh God. Kenapa kau menciptakan anak sialan ini? batinnya meraung.

"Jahat sekali dia, meninggalkan anaknya sendiri"

"Aku tahu, dia pasti salah satu remaja labil yang terjerumus pergaulan bebas dan akhirnya memiliki anak. Tapi dia tidak mengharapkan anaknya itu dan berniat membuangnya. Ckckck, kasihan sekali anak itu, padahal dia tampan"

"Muda-muda tapi sudah punya anak. Ckck, dia tidak bisa di harapkan sebagai penerus bangsa"

Cukup sudah! Kenapa semua orang mengatakan bocah terkutuk itu anakku?

Kyuubi membatin histeris. Dan dalam gerakan cepat, dia sudah berbalik dan melangkah menuju anak itu. Menarik pergelangan tangan Shiro kasar, sebelum akhirnya mendudukkan mereka berdua di kursi panjang tempat mereka bertemu tadi.

Dan di detik berikutnya, mata Kyuubi sudah memberikan tatapan mematikannya pada kerumunan orang-orang itu.

"Apa lihat-lihat? Menyingkir dari sini atau aku akan mencongkel mata kalian!" teriaknya mengancam.

Semua orang itu merinding disko. Mereka meneguk ludah sekali, sebelum akhirnya dengan terburu-buru melanjutkan aktivitas mereka masih-masing. Berlagak seolah tak pernah terjadi apa pun beberapa detik lalu.

"Hahaha…"

Kyuubi menoleh keasal suara tawa kecil itu. Matanya berkedut ketika mendapati Shiro yang sekarang terlihat sibuk meredakan tawanya. Sungguh, lama-lama di sini Kyuubi bisa menderita penuaan dini.

"Berhenti tertawa bocah!" Kyuubi mengeram marah. Dan detik berikutnya, sebuah pisau lipat teracung tepat ke dagu bocah itu. "Kau benar-benar mengesalkan. Sudah ku katakan, aku tidak ingin menemanimu. Tapi kau sangat keras kepala dan malah menangis serta mengaku sebagai anakku. Sialan sekali kau!" katanya dengan desisan rendah.

"Haha.. maafkan aku" bocah itu meminta maaf seraya masih mencoba meredakan tawanya. Sungguh, dia tidak berbohong, melihat Kyuubi yang mati kutu di hadapan orang banyak itu sangat lucu. Dia bahkan masih tidak percaya bahwa aktingnya di percayai mereka semua.

Dasar orang-orang bodoh. Batinnya terkekeh.

"Apanya yang minta maaf?" Kyuubi mendelik. Sementara pisau lipatnya masih setia berada dalam jarak dua centi dari dagu Shiro. "Kau melukai martabatku sebagai remaja baik-baik. Kau membuatku dianggap sebagai remaja labil dengan nafsu di atas langit. Aku bahkan dianggap sebagai ayah yang tak bertanggung jawab. Kau benar-benar melukai harga diriku!"

Shiro menelengkan kepalanya ketika mendengar perkataan panjang lebar Kyuubi itu. Berlagak seolah tak mengerti, padahal dalam hati dia sudah tertawa laknat karenanya. Oh ya ampun, sejak kapan dia bisa merasa sesenang ini jika berdekatan dengan orang lain selain Tou-san dan Jii-sannya itu?

"Nii-san bilang apa?" tanyanya berlagak polos.

Kyuubi menghela napas. Tertipu dengan tampang polos Shiro. Dia menurunkan pisau lipatnya dan kembali memasukkannya dalam saku celana. Matanya melirik jengah bocah itu, sedangkan hatinya masih sibuk komat-kamit mengutuki Ayah bocah ini.

Lha, kenapa malah jadi Ayahnya?

"Kapan Tou-sanmu akan menjeputmu?" Kyuubi akhirnya buka suara setelah berhasil meredam amarahnya. "Aku tidak ingin menunggu lama disini" katanya lagi.

"Mungkin sebentar lagi" Shiro menjawab santai. Dalam hati dia berharap agar Ayahnya itu akan sangat terlambat menjemputnya. Tidak bisa di pungkiri jika dia sangat ingin berlama-lama dengan kakak ini.

"Lalu kemana Ibumu?" Kyuubi bertanya lagi. Dia bergerak tak sabaran dalam duduknya. Dia ingin segera pergi dari sini. "Kenapa tidak dia saja yang menjemputmu?"

Hening

Kyuubi segera menoleh kearah bocah itu ketika tak mendengar jawaban. Dia terdiam lama menatap wajah bocah yang beberapa saat lalu masih sangat mengesalkan untuknya itu sekarang terlihat muram. Apa dia salah bicara? Batinnya bertanya.

Sedangkan Shiro. Dia menengadah kepalanya ketika merasa Kyuubi menatap ke arahnya. Wajahnya terlihat datar, tak ada ekspresi yang berarti. Namun, Kyuubi bisa melihat kilatan kesedihan pada mata sang bocah.

"Dulu, saat umurku 4 tahun, aku pernah bertanya pada Tou-chan dimana Kaa-chan" bocah itu pun mulai berbicara. "Dari sejauh yang ku ingat aku tak pernah bertemu dengan Kaa-chan sebelumnya. Dan ketika aku menanyakan pada Tou-chan, Tou-chan bilang kalau Kaa-chan sedang pergi jauh dan akan kembali suatu hari nanti. Saat itu aku sangat percaya pada kata-kata Tou-chan…

… Tapi sekarang aku bukan bocah yang bisa di bohongi lagi. Aku tahu kalau Kaa-chan memang sudah pergi jauh, tapi dia tidak akan pernah kembali"

Kyuubi terdiam lama medengar penuturan Shiro. Mata rubinya yang biasa berkilat mengerikan itu pun melembut. Ternyata dia dan bocah ini tak ada bedanya. Wajar jika bocah ini bertindak agak sedikit menyebalkan, mereka sama-sama kekurangan kasih sayang Ibu rupanya.

Dia ingat, saat umurnya 15 tahun, dia harus kehilangan sang Kaa-san dalam sebuah kecelakaan kereta. Setelah itu Kyuubi benar-benar hilang kendali. Beruntung dia masih mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya. Membuatnya tak perlu tenggelam dalam keterpurukan lagi.

Dan sekarang dia bertemu dengan seorang bocah yang bernasib sama seperti dirinya. Bahkan bisa di kategorikan lebih menyedihkan karena bocah ini harus kehilangan sosok sang Kaa-san tanpa bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu.

"Hei bocah" Kyuubi menegur. Dia sekarang mengukir senyum lembut pada wajahnya. Membuat Shiro terbatu di tempat. "Kau tidak perlu memasang wajah suram seperti itu. Kau tahu, aku juga kehilangan Kaa-sanku sama seperti mu. Sangat menyedihkan memang. Tapi bukankah kau masih mempunyai seorang Ayah? Aku yakin, Ayahmu pasti sangat menyayangimu"

Shiro terdiam. Tiba-tiba sosok sang Ayah yang tersenyum lembut menyapa pikirannya, membuatnya mengangguk senang. Sedangkan Kyuubi terkekeh karena itu. Tangannya pun secara otomatis bergerak sendiri menyentil kecil dahi Shiro.

"Kau mungkin bocah yang sangat menyebalkan. Tapi jangan pernah menunjukkan wajah surammu itu di hadapanku. Aku tidak suka, mengerti?"

Shiro mengangguk menjawab pertanyaan itu. Tangannya sekarang sibuk menggosok dahinya yang baru saja di sentil Kyuubi. Entah kenapa, rasanya hangat.

"Nii-san?"

"Hm?"

"Apa aku boleh tahu nama Nii-san?"

Kyuubi tiba-tiba terkekeh mendengar pertanyaan itu. Dia baru ingat bahwa sedari pertama mereka bertemu, dia tak tahu nama bocah ini. "Aku Namikaze Kyuubi. Kau?"

"Aku Uchiha Shiro. Dan aku menyukaimu Nii-san!"

Kyuubi tertawa keras ketika mendengar pernyataan blak-blakan bocah itu padanya. Tapi tak bertahan lama, karena setelahnya tawa Kyuubi menggantung di udara.

Tunggu dulu, bocah ini bilang apa tadi?

Uchiha?

"Kau anak Uchiha Fugaku?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

"Hah? Uchiha Fugaku? Ah bukan, aku anak dari-"

"Shiro-kun? Apa Tou-san terlambat menjemput…"

"…"

"…"

"Siapa dia?"

.

.

.

Naruto bergerak gelisah dalam duduknya. Dalam hati dia komat-kamit mengutuki Kakashi yang telah membawanya dalam Neraka ini. Ingin sekali rasanya Naruto menjambak rambut lelaki ubanan itu. Tapi sayang, Naruto terlalu takut melakukannya ketika mengingat wajah mengerikan Minato jika seandainya Kakashi melaporkan tindak kriminalnya itu kepada sang ayah.

Ah, Naruto terlalu banyak berkhayal.

Tapi sungguh, Naruto mati kutu ketika berada disini. Tidak, bukan karena dia di kelilingi para pegawai bengkel sang paman. Oh ayolah, hal itu sudah sering terjadi. Dia bahkan sudah menganggap mereka semua seperti saudara sendiri.

Tapi seseorang yang berada di antara merekalah yang menjadi masalahnya sekarang. Pemuda yang pada saat pertama kali bertemu sudah sanggup membuat jantung Naruto seakan di jatuhi batu meteor, sekarang sedang menatap kearahnya.

Sekali lagi dia umumkan. PEMUDA ITU MENATAP KEARAHNYA!

Oh mimpi apa Naruto semalam? Sampai dia bisa berada disini sekarang. Menatap pemuda yang tidak berani di tatapnya selama ini karena kadar ketampanannya itu sanggup membuat Naruto gigit jari. Membuat tubuhnya beku, seakan mati.

Oh, Kami-sama~ dialah makhluk ciptaan mu paling sexy! Batinnya sarap.

"Naruto? Kau kenapa?"

"Ah!" Naruto tersentak kecil. Sial, dia terlalu banyak melamun. "Ah, tidak. Aku tidak apa-apa" dia menunjukkan senyuman lima jarinya, meski jelas terlihat kikuk.

"O ya Naruto, kau belum kenal dia bukan?"

Naruto segera menatap Kiba sang penanya. Laki-laki yang setahun lebih tua darinya itu sekarang menunjuk seorang yang Naruto pikirkan semenjak tadi. Terlihat pemuda itu menunjukkan senyum kecil pada dirinya. Oh tidak, rasanya Naruto ingin pingsan disini.

"Perkenalkan, namanya Sabaku Gaara"

Perkataan Kiba tadi akhirnya menjawab pertanyaan Naruto selama ini. Jujur, semenjak tadi dia memang ingin menanyakan nama pemuda itu, tapi keberaniannya seakan sirna saat mata jade manawan itu menatap kearahnya. Membuatnya hanya bisa kembali berpura-pura seakan sedang bercanda dengan pegawai lainnya.

"A-aku… Namikaze Na… Naruto. Se-se… senang bisa ber… kenalan de-denganmu Ga… Gaara-san" Naruto merutuki mulutnya yang tiba-tiba kaku seperti ini. Gah, kenapa dia malah tertular kegagapan Hinata ketika berada di hadapan pemuda ini. Oh ya ampun, aku sangat mamalukan.

"Senang bisa berkenalan denganmu juga" terlihat laki-laki itu melebarkan senyumannya. Membuat Naruto seakan ingin meleleh. "Dan panggil aku Gaara saja. Penambahan suffix itu membuatku sedikit tidak nyaman" katanya lagi kemudian.

"Ta-tapi…" Naruto terlihat ingin membantah. "A-anda lebih tua dariku"

"Kalau begitu, kau bisa memanggilku Gaara-nii"

"A-ah, ba… baiklah" Naruto mengangguk dengan wajahnya yang sekarang merah padam.

"Hei Gaara, bisa kau ke sini sebentar?" terlihat seseorang yang di kenal bernama Yamato itu, memanggil Gaara dari kejauhan sana.

"Hm" setelah bergumam demikian. Gaara pun melenggang pergi dari hadapan Naruto. Membuatnya sedikit banyak bisa menghela napas lega.

"Hei Naruto" tiba-tiba Kiba menyikut kecil tangannya. "Kenapa kau terlihat kikuk begitu di hadapan Gaara? Dan kenapa juga wajahmu memerah?" tanyanya beruntun, di sertai senyuman jahil pada wajahnya. "Ah, biar ku tebak, kau menyukainya ya?"

Mata Naruto melotot mendengar pertanyaan Kiba itu. Dia pun segera memasang wajah sangarnya, meskipun tidak bisa di pungkiri jika wajahnya saat ini sedang memerah malu. "Jangan bicara macam-macam Kiba. Aku tidak mungkin menyukai Gaara-nii" bantahnya.

"Lalu, buktinya tadi kau memerah malu begitu" Kiba masih tak ingin kalah. Dia semakin melebarkan seringaiannya ketika melihat wajah bersemu Naruto. "Jangan berbohong padaku Naruto. Jujur saja lah"

"Aku tidak menyukainya Kiba!"

"Na-"

"Kiba, berhentilah menggoda Naruto"

Kata-kata Kiba terhenti di ujung lidah ketika tiba-tiba Kakashi datang menghampiri mereka. Terlihat pria berumur sekitar tiga puluhan itu sekarang medudukkan dirinya di samping Naruto. Menatap putri dari Minato yang sudah di anggapnya keponakan sendiri itu dengan senyum manis di wajah.

"Jadi sekarang katakan, apa kau benar-benar menyukai Gaara?"

Naruto kembali melotot mendengar pertanyaan Kakashi itu. Kepalan tangan Naruto pun melayang, meninju kecil bahu sang paman.

"Jii-san~" katanya setengah merengek. Kenapa orang-orang disini sangat senang menggodanya?

"Haha.. aku hanya bercanda Naruto" Kakashi sekarang terlihat sibuk tertawa. Bahkan Kiba yang ada di antara mereka pun sekarang memegang perutnya seraya berguling menahan tawanya. Gah, mereka sama saja, batin Naruto kesal.

"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf" Kakashi mengulum senyum geli. Tidak tahukah Naruto jika wajah cemberutnya itu benar-benar lucu? Kakashi bahkan harus menahan diri agar tidak mencubit pipi tembem gadis itu sekarang. "Kiba hentikan tawamu!" katanya kembali, sekarang melirik kearah Kiba yang masih asik tertawa.

"Hahaha.. maafkan aku Naruto" Kiba memasang senyum lebar. Memamerkan deretan giginya yang putih. "Salahmu sendiri sudah lama tak datang ke sini. Kau tahu, aku benar-benar rindu untuk bermain denganmu" katanya kembali tanpa dosa.

"Kau pikir aku anjingmu apa?"

Dan sekarang, satu bengkel tertawa keras mendengar teriakan Naruto itu. Naruto bahkan harus bersembunyi di balik punggung Kakashi ketika tak sengaja melihat sang pujaan hati yang juga ikut tertawa. Saking sibuknya dia dengan dunia sendiri, dia bahkan sampai melupakan niat awalnya datang kemari.

Laki-laki bermanik sewarna malam itu hanya memperhatikan dalam diam wajah merona Naruto. Dia tidak tertawa, bahkan wajahnya tak menunjukkan ekspresi berarti. Lama dia menatap gadis itu, sebelum akhirnya fokus kembali pada motor di hadapannya yang harus di perbaiki.

.

.

.

Dengan tatapan tajamnya, Itachi masih setia menatap sosok itu. Bagaimana dia tidak seperti ini? Mendapati anakmu sedang duduk dengan seseorang yang memiliki wajah mencurigakan tentu saja akan membuat naluri kewaspadaan seorang ayah meningkat.

Hei, wajah sangar penuh tindikan seperti itu tentu saja adalah ciri-ciri seorang berandalan bukan?

"Tou-chan!" Itachi tersentak kecil ketika mendengar seruan itu. Terlihat Shiro mulai menuruni kursi dan melangkah ke arahnya. "Tou-chan datang terlalu cepat. Harusnya Tou-chan menjemputku lebih lama lagi"

Itachi lantas mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa Shiro ingin di jemput lebih lama di saat biasanya bocah ini akan mengomel panjang ketika dia terlambat menjemput bahkan walau itu hanya satu menit? Itachi tak habis pikir dengan ini.

Dia pun berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala Shiro lembut. "Tou-san sudah sangat terlambat menjemputmu. Tou-san hanya tidak ingin kau menunggu terlalu lama" katanya seraya tersenyum. Tapi senyuman itu lentur ketika matanya mendapati suatu yang mengganjal pada Shiro. Dahinya mengernyit, lantas dia menatap anaknya bertanya.

"Kenapa lututmu?"

"Oh, ini" Shiro menunjuk lututnya yang terluka. "Hanya luka kecil yang kudapat karena tersandung batu saat aku datang kesini tadi" katanya menjelaskan.

"Hn, begitu" Itachi mengangguk. "Lain kali, kau harus lebih berhati-hati" katanya menasehati, yang dibalas anggukan kecil oleh Shiro. "Lalu, siapa yang mengobatimu?" tanyanya lagi, sekarang menatap intens kain merah yang membalut lutut sang anak.

"Orang yang mengobatiku adalah orang yang menemaniku sedari tadi" Shiro memasang senyum lebar. Kakinya pun melangkah, sekarang berdiri tepat di samping Kyuubi yang masih tak beranjak. "Nii-san ini yang mengobatiku. Dia benar-benar baik" adunya pada Itachi.

Kyuubi tersedak ludahnya sendiri. Bocah ini bilang apa tadi? Dia baik? Oh tidak, Namikaze Kyuubi bukan orang baik. Dia hanya sedikit kasihan ketika melihat seorang bocah terluka, hanya itu. Dan sekarang bocah ini mengatakan di depan Ayahnya jika dia orang baik?

Mau taruh dimana muka ku ini?

"Ehem, itu hanya bantuan kecil" tak ingin repotasinya sebagai anggota Akatsuki paling kejam tercoreng. Dia pun angkat suara. Matanya menatap Shiro tajam, sebelum beralih menatap Ayah sang bocah datar. "Jangan berpikir itu sebuah kebaikan. Aku hanya tidak tahan melihat seorang bocah menangis" katanya lagi, sekarang berdiri tepat di depan Itachi.

"Hei, aku tidak menangis" protes Shiro cepat.

"Hm, kau tidak menangis. Tapi merengek"

"Itu penghinaan. Aku juga tidak merengek"

"Lalu siapa bocah yang merintih kesakitan di sampingku tadi?"

"Itu bukan rintihan. Itu hanya ringisan"

"Nah, itu kau mengaku jika kau merengek"

"Itu bukan rengekan!"

Itachi mengerjabkan matanya beberapa kali. Imaginasinya saja, atau memang dua manusia di hadapannya ini terlihat sangat akrab? Kapan Shiro bisa dekat dengan orang lain selain dia dan Sasuke? Bahkan kepada Nenek dan Kakeknya saja anak ini tak akan sedekat itu. Apa yang dilakukan sosok itu pada Shiro?

"Harus ku katakan berapa kali, jika aku tidak menangis, tidak merengek, dan tidak merintih!"

"Kau tak perlu mengatakannya bocah. Karena bagiku, kau tadi menangis, merengek, dan merintih"

"Bisakah Nii-san berhenti mengatakan tiga hal menjijikkan itu padaku?"

Kyuubi terkekeh kejam. Matanya menatap Shiro dengan kilat menyenangkan. Melupakan sosok reven lainnya yang ada di sana. "Tidak akan. Karena itu menyenangkan" katanya lagi, membuat Shiro semakin gondok karenanya.

"Ehem!"

Adu mulut itu terhenti seketika ketika mereka mendengar deheman dari sosok lain yang ada di sana. Kyuubi dan Shiro saling tatap, merenungkan apa yang baru saja mereka lakukan tadi. Beberapa detik berlalu, lantas dengan cepat Kyuubi menegapkan badannya kembali. Wajahnya sebisa mungkin menampilkan raut datar. Aku memalukan sekali, itu batinnya dalam hati.

"Nah, bocah. Tou-sanmu sudah menjemput bukan?" ujarnya seraya menatap Itachi. "Jadi kalau begitu, aku ingin permisi dulu" katanya lagi mulai melangkah pergi. Sebelum akhirnya harus terhenti ketika dia merasakan tarikan kecil pada ujung bajunya.

Kyuubi menghela napas. Dan dengan lirikan kecil, dia menatap sosok bocah yang menarik bajunya itu. "Apa lagi?" tanyanya malas.

"Kapan kita bisa bertemu lagi?" Shiro bertanya dengan mata yang berkilat antusias. "Aku ingin kembali bertemu dengan Nii-san" katanya terdengar semangat.

"Huh?" Kyuubi menaikkan sebelah alisnya elegan. Dan di detik berikutnya, mata rubi Kyuubi kembali bersibobrok dengan manik onyx Itachi. "Entahlah bocah. Tapi aku berharap tak akan bertemu denganmu lagi" karena kau bisa menghancurkan image berandalanku. Sambungnya dalam hati, miris.

Dan setelah mengatakan itu, dia pun berbalik. Melangkah menjauhi dua sosok reven itu. Dia hanya melambai tanpa membalikkan badannya ketika mendengar seruan Shiro. Entah kenapa dia mempunyai firasat tidak akan bisa pergi dari sana jika sampai dia menatap bocah itu lagi.

"Tou-chan, bukan'kah dia Nee-san yang baik?"

Pertanyaan dari Shiro membuat fokus Itachi yang semula tertuju kepada Kyuubi beralih padanya. Alisnya bertaut ketika mendengar panggilan sang anak kepada Kyuubi yang terdengar berbeda dari yang tadi.

"Kenapa kau memanggilnya Nee-san? Bukankah dia seorang laki-laki?"

"Ternyata Tou-chan tertipu juga ya?" Shiro memasang senyum miring ketika mengatakan itu. "Yah, aku juga sempat tertipu tadi. Tapi Tou-chan tahu sendiri bukan, tak ada yang bisa membohongi penglihatan seorang Uchiha" katanya kembali seraya memasukkan tangannya kedalam saku celana seragam TK-nya.

Itachi terdiam lama, sebelum akhirnya terkekeh mendengar itu. Ah, anaknya memang seorang Uchiha. "Jadi, apa kau akan memberitahu Tou-san siapa namanya?" tanyanya seraya melangkah dengan Shiro di sampingnya.

"Namanya Namikaze Kyuubi" Shiro tersenyum ketika mengatakan nama kakak itu. Entah kenapa ada sengatan menyenangkan ketika nama itu meluncur dari mulutnya. "Nama yang keren menurutku" katanya kembali.

"…"

Dahi Shiro bertaut ketika tak mendapati tanggapan dari sang Ayah. Dia pun menoleh kearah Itachi, dan mendapati sang Ayah sekarang terdiam dengan kernyitan dalam pada dahinya. Apa yang sedang Tou-chan pikirkan? Tanyanya dalam hati.

Sedangkan Itachi, dia sibuk dengan pemikirannya saat ini. Sepertinya nama itu tidak asing di telinganya. Dia yakin pernah mendengar nama itu beberapa kali. Tapi dimana?


"Orang yang telah menghajar setengah dari geng Oto adalah Kitsune. Kalau tidak salah nama aslinya Namikaze Kyuubi"

"Aku mendengar jika Akatsuki akan menantang kampus kita. Dan yang menjadi profokatornya adalah Namikaze Kyuubi. Dia memang sangat ingin menghajar berandalan dari kampus Suna"

"Kau pernah dengar jika Namikaze Kyuubi, anggota paling menakutkan dari geng Akatsuki adalah perempuan? Sumpah, aku tidak bisa percaya itu"

"Ketua geng Akatsuki mungkin memang Pein. Tapi yang paling menakutkan dari mereka adalah Namikaze Kyuubi. Dia bisa membantaimu tanpa belas kasihan"


Kilasan memori yang pernah dia tangkap ketika tak sengaja mendengar pembicaraan beberapa Mahasiswa ketika dia berada di kampus tempatnya berkerja memenuhi kepala Itachi. Matanya lantas menoleh cepat kearah Shiro, menatap sang anak khawatir.

"Kau yakin dia orang baik?" tanyanya sanksi. "Tou-san tahu tentangnya. Dan dia adalah orang dengan riwayat hidup bermasalah jika kau ingin tahu" katanya menjelaskan.

Shiro menaikkan sebelah alisnya bingung. Jadi, Ayahnya ini tahu tentang Kyuubi, dan apa kata Itachi tadi, Kyuubi mempunyai riwayat hidup bermasalah?

Shiro tertawa kecil setelah itu. Membuat Itachi bingung karenanya.

"Apa ada yang lucu?"

Shiro berhenti melangkah, membuat Itachi juga mengikutinya. "Sekali lihat saja aku tahu jika Nee-san itu adalah seorang berandalan, Tou-chan. Dia bahkan sempat menodongku dengan pisau" jelasnya.

"Apa?" Itachi makin khawatir. Dia pun bergerak cepat, memeriksa tubuh anaknya. "Dia melukaimu? Bagian mana yang sakit? Kau ingin Tou-san jebloskan dia kepenjara? Akan Tou-san lakukan sekarang"

Shiro menghetikan tangan Itachi yang terlihat akan mengambil Handphone dari saku celananya. Dia menghela napas, terkadang Ayahnya ini memang bertingkah berlebihan. "Tou-chan lupa pada lukaku? Aku sudah mengatakan siapa yang mengobatiku tadi bukan?"

Itachi mengerjabkan matanya beberapa kali. Ah, dia lupa itu. Tapi, apa mungkin Namikaze Kyuubi luluh dengan seorang bocah? Dia masih tidak yakin.

"Terserah Tou-chan ingin berpikir apa tentang Kyuubi-neesan" Shiro memutar bola matanya bosan. Dia pun kembali melangkah, diikuti Itachi di belakangnya. "Tapi aku tetap menyukai Nee-san itu. Dia wanita yang sangat menyenangkan. Berbeda sekali dengan wanita-wanita yang sering datang ke apartement kita itu" katanya lagi dengan wajah cemberut. Sungguh, wanita-wanita berpenampilan menor yang sering datang ke apartementnya dengan sang ayah itu sangat menjijikkan. Apalagi senyum centil yang mereka tunjukkan kepada Ayahnya. Membuat Shiro ingin sekali melempar mereka dari atap gedung apartement.

"Haha… begitukah?" Itachi tertawa canggung ketika mendapati mood anaknya yang berubah drastis. "Yah, harus bagaimana lagi. Kita tidak mungkin mengusir tamu" katanya kembali.

"Hn" hanya gumaman yang di keluarkan Shiro sebagai jawaban.

.

.

.

Sudah berapa kali dia melirik jam tangannya? Ah, sepertinya dia lupa. Tapi sungguh, sekarang dia benar-benar di landa emosi berat. Bagaimana mungkin dia masih harus berada di sini untuk menunggu keajaiban Dewi Fortuna yang sangat lama itu? Bisa-bisa dia mati karena jamuran.

"Tck, ini sudah semakin sore dan aku harus segera pulang untuk membuat makan malam" dia menggigit jari telunjuknya frustasi. "Tapi, jika aku tidak mendapatkan foto Senpai Teme itu sekarang. Aku harus kembali menguntitnya besok" gerutunya seraya menatap sosok yang masih setia dengan pekerjaannya itu tajam.

"Kenapa kesialan selalu datang padaku?" tanyanya entah pada siapa.

"Hei, Naruto" Kiba yang semenjak tadi sibuk dengan pekerjaannya entah kenapa sekarang sudah berada di samping sang blonde. "Kau kenapa? Terlihat stress sekali"

"Aku memang sedang stress!" sembur Naruto keras. Membuat Kiba sukses terjungkal karenanya. Bahkan seluruh pegawai bengkel yang lain tersentak mendengar teriakan itu. Kenapa dengan Naruto? batin mereka dalam hati.

"Ya-yah, jika kau sedang stress. Setidaknya jangan jadikan aku pelampiasanmu Naruto" kata Kiba seraya bangkit dari posisi tak elitnya itu. Dia menatap Naruto takut-takut, entah kenapa gadis pirang itu terlihat menyeramkan sekarang.

Naruto menghela napas lelah. Matanya menatap Kiba merasa bersalah. "Maafkan aku Kiba. Aku hanya sedikit pusing" katanya seraya memijat pelipisnya.

"Kau sakit?"

Naruto harus berjengit kaget ketika Gaara tiba-tiba berada di depannya. Dia menatap Gaara terkejut, sebelum merasakan panas mengalir ke wajahnya. Oh tidak, jangan lagi.

"Ti-tidak. A-aku tidak sakit. Hanya pusing, se-sedikit" katanya menjelaskan, dengan cengiran kaku di wajahnya.

"Jika kau tidak enak badan, sebaiknya kau segera pulang Naruto" sekarang Kakashi yang melangkah mendekatinya. "Kau bisa pulang sendiri? Apa perlu aku antar?"

"Kurasa aku memang harus pulang" katanya seraya menghela napas lagi. "Dan tidak, aku tidak perlu diantar. Aku bisa pulang sendiri" ujarnya seraya tersenyum pada Kakashi. Yah, sepertinya dia harus menguntit Senpai menyebalkan itu lagi besok. Tidak mungkin dia mengesampingkan membuat makan malam untuk keluarga kecilnya hanya agar mendapatkan foto Sasuke itu bukan?

"Baiklah, kurasa aku akan pulang sekarang" Naruto segera berdiri dari duduknya. Dia tersenyum kearah semua pegawai bengkel kecuali pada sosok yang ada di pojokan sana. Dia benar-benar benci laki-laki itu karena kepelitannya dalam hal tersenyum. Tak tahukan Sasuke jika kepelitannya itu penderitaan bagi Naruto?

"Hm, hati-hati di jalan Naruto" kata Kakashi membalas senyuman gadis itu. "Dan sampaikan salamku pada Minato-san" tambahnya lagi.

"Ha'I" Naruto mengangguk. Dan dengan itu dia melangkah menjauh dari sana.

Setelah yakin berada cukup jauh dari bengkel sang Paman. Tangannya pun bergerak, mengambil kameranya yang sedari tadi dia sembunyikan dalam tas sekolahnya. Dia menghela napas ketika mendapati tak ada satu pun foto Sasuke yang sedang tersenyum. Hanya ada foto-foto menyebalkan sang Uchiha dengan tampang datarnya itu. Huh, benar-benar menyebalkan, batinnya kesal.

Kembali, helaan napas keluar dari mulutnya. Ini masih hari pertama, dan dia sudah seperti ini. Bagaimana hari-hari selanjutnya? Naruto bahkan tidak bisa membayangkan itu. Pasti akan sangat melelahkan. Itu pikirnya.

Kakinya pun kembali bergerak, melangkah gontai menuju rumahnya. Beruntung lokasi bengkel Kakashi dengan rumahnya tak terlalu jauh. Akan sangat melelahkan jika dia harus naik bus untuk pulang kerumah.

'Kami-sama, tolong bantu aku'

Itu yang selalu di rapalkannya dalam hati. Yah, berharap dengan itu, Kami-sama akan meringankan bebannya.

.

TBC

.

Hallo, saya balik lagi! #plakk. Hehe, gomen update telat, yah harus bagaimana lagi, UAS nguras waktu nulis saya. Nah, chap kali ini kebanyakan scene-nya Kyuubi, Shiro ya? ah, tak apa itu,'kan awal pendekatan ItaKyuu, hihihi…

Ada dari kalian yang masih bingung kemana Kushina? Nah ini udah di jawab. Padahal saya udah coba menjelaskan di chap 2, tapi kayaknya gak jelas ya? Gomen T.T.

Kenapa kebanyakan pada nebak jika sosok itu Gaara ya? Padahal saya awalnya mau nempatin si Sai pada perannya si Gaara. Tapi, saya kembali terlena pada Gaara-sama yang keren itu saat melihat dia bertarung dengan ayahnya sendiri. Aaah, saya ingin sekali menghapus air mata yang mengalir di pipinya Gaara-sama #diKuburGaaraFG

PS : Sekedar pemberitahuan bagi yang tidak mengerti. Itachi itu dosen di kampus Suna lho^^

Yokeh, thanks banget bagi kalian yang udah RnR fict abal-abal ini. Juga bagi yang udah Favorite and Follow. Dukungan kalian benar-benar berpengaruh besar dalam kelanjutan fict ini. Arigatou^^

Big Thanks To :

akarui kurai shiko deli-chan | luviz hayate | veira sadewa | Ryuusuke583 | Dewi15 | Harpaairiry | hanazawa kay | Kyuuuuu | Call Me L | AprilianyArdeta | IfUchiha | saphire always for onyx | Hyull | alta0saphire | Ale Genoveva | Indah605 | SNlop | ZeeZeee | zadita uchiha | choikim1310 | HafizaKun | Mimo Rain | InmaGination | 3nd4h | Aiko Michishige | Corderique

.

#WeDoCareAboutSFN

.

Mind to Review?