Disclemer : Masashi Kishimoto

Genre : Family, Romance, Drama

Pairing : SasuFemNaru slight other

Rate : T

Warning : Gender Switch, AU,OOC, OC, Tipo's, alur kecepatan, cerita pasaran, EYD ancur, alur mudah ditebak, bikin bad mood, dan segala kekurangan lainnya.

.

Miss Stalker

Chapter 5 : Mesin Minum dan Bento Titipan

By : Uchy Nayuki

.

.

DON'T LIKE

DON'T READ

.

Selepas rutinitas makan malam yang selalu berakhir kacau. Yah, tentu saja kacau. Apa hal yang akan berjalan tenang jika seorang Namikaze Kyuubi berada satu meja dengan segerombolan orang-orang normal? Ya, setidaknya Naruto berpikir seperti itu.

Dia masih menganggap dirinya normal.

Sekarang gadis berumur 17 tahun itu, berjalan bolak-balik menulusuri rumahnya yang tidak terlalu besar. Kenapa dia seperti ini? Jangan bertanya, dia sedang dilanda stres berat.

Bagaimana tidak? Mendapati dirimu yang sudah dengan susah payah untuk mendapatkan foto Senpai paling menyebalkan, yang meskipun berakhir gagal total. Harus mendapatkan omelan dari sang kakak tercinta yang selalu ingin Naruto kubur hidup-hidup. Itu sangat menyebalkan. Dia masih ingat dimana telinganya seperti terbakar mendengarkan ceramahan panjang lebar Kyuubi tentang foto Uchiha yang terkenal seperti inilah, seperti itulah.

Ingatkan Naruto untuk membantai semua Uchiha itu malam ini juga.

"Arggh, sudah di cari kemana-mana, tapi tidak ketemu!" tiba-tiba dia mengerang frustasi. Dia menjambak rambut twintyle-nya kasar. Namun, itu tak berlangsung lama. Karena setelahnya dia terdiam membatu.

Ah, sepertinya dia tahu harus bertanya pada siapa.

Dia pun berjalan cepat, melangkah mendekat kearah pintu berwarna merah dengan goresan-goresan aneh pada daun pintunya. Entah apa yang sang pemilik kamar lakukan pada pintu tersebut. Tapi yang pasti, sang pemilik adalah orang paling abnormal yang pernah Naruto ketahui.

Ya, siapa lagi kalau bukan Namikaze Kyuubi, sang Kakak tercinta.

Naruto tanpa menunggu lama segera mengetuk daun pintu. "Nee-san, kau ada di dalam?' tanyanya. Dan tanpa menunggu jawaban dari si pemilik kamar, dia langsung melenggang masuk kedalam sana.

Hal pertama yang dilihatnya adalah-

Merah. Hitam. Berantakan. Kacau. Kotor. Dan masih banyak kata-kata lain yang bisa menggambarkan keadaan kamar Kyuubi saat ini.

"Apa yang kau lakukan, hah?" Kyuubi yang duduk di atas ranjangnya mendelik tajam kearah Naruto, terganggu. Sekarang dia mengenakan baju kaos tanpa lengan dan celana jeans pendek selutut sebagai bawahannya, setelan pakaian santai khas Kyuubi. Sedangkan di tangannya saat ini terdapat sebilah pisau yang sepertinya sedang di lap oleh sang empunya. Oh, dan jangan lupakan beberapa benda tajam yang berderet manis di depannya. "Kenapa kau main masuk begitu saja? Apa aku sudah mengizinkanmu?" tanyanya lagi tajam.

Naruto meneguk ludahnya sekali. Posisi Kyuubi yang sekarang memegang pisau itu entah kenapa membuat bulu kuduk Naruto berdiri.

"Ma-maaf Nee-san, aku hanya ingin tanya" mengabaikan tubuhnya yang tiba-tiba berasa dingin. Dia tetap berdiri diam di depan pintu. Tak berani melangkah lebih dalam. "Apa kau tahu dimana cat airku? Aku sudah mencarinya dimana-mana, tapi tidak ketemu" katanya lagi.

"Cat air?" Kyuubi membeo. Kemudian mengangguk. "Kalau tidak salah tadi aku lihat Sasori masuk ke dalam kamarmu. Dan saat keluar, dia menenteng sekotak cat air" katanya menjelaskan. "Jangan tanyakan apa pun padaku. Aku tidak tahu" tambahnya lagi, ketika melihat gelagat Naruto yang ingin buka suara. Kemudian, dia fokus kembali pada pisaunya.

"Oh, begitu ya?" Naruto berdesis rendah. Dan di detik berikutnya, dia sudah melenggang pergi dari sana.

"Woi, Naruto! Tutup kembali pintunya!"

Kemudian kembali lagi, ketika mendengar teriakan sang kakak.

BRAKK

Dia menutup pintu itu dengan frustasi.

.

.

.

BRAKK

"SASORI?!"

Sret

"Oh, tidak"

Sasori menatap tak percaya pada lukisan yang ada di hadapannya. Kenapa Kami-sama? Kenapa? Dia sudah mengerjakan ini susah payah. Dan kenapa kau mengirimkan makhluk kuning sialan itu untuk menghancurkan karya seninya ini?!

Akan ku bunuh kau Naruto! batinnya murka.

"APA?" dia berteriak keras. Menghujani Naruto dengan tatapan mata hezelnya yang sekarang berkilat mengerikan. "TIDAK BISAKAH KAU MENGETUK PINTU DULU?" tanyanya lagi dengan gigi bergemeratuk geram. "LIHAT SEKARANG! LIHAT! KAU MENGHANCURKAN LUKISANKU!" tambahnya lagi seraya menunjuk sebuah kanvas berlukiskan seorang wanita berambut pirang diikat tinggi, yang sekarang terdapat sebuat coretan memanjang di wajahnya.

Padahal aku ingin memberikan ini pada Deidara sebagai hadiah ulang tahunnya, batin Sasori miris.

"O-oh itu…" Naruto bergerak gelisah, menatap Sasori takut-takut. "Yah, salahmu sendiri mengambil cat airku tanpa pemberitahuan. Aku'kan jadi susah mencarinya kemana-mana" kata Naruto menjelaskan, masih dengan tubuhnya yang berdiri kikuk. "Jika kau mengatakannya dulu padaku. Aku pasti tidak akan teriak-teriak seperti ini" katanya lagi hati-hati.

Lha, bukankah harusnya dia yang marah-marah disini? Kenapa malah nyalinya yang ciut? Kemana amarahnya yang membludak tadi?

Harus di ketahui, Naruto paling takut dengan Sasori yang sedang di landa emosi. Mata hezel yang biasa berkilat tenang itu seperti menusukmu jika sang pemilik sedang dalam mood murka.

"Jadi, karena cat air?" Sasori berdesis, masih dengan tatapan tajamnya. "Baiklah, karena kau sudah menghancurkan lukisanku. Cat air itu tak akan ku kembalikan" katanya tenang, namun penuh penekanan. "Itu ganti rugi atas apa yang telah kau lakukan" tambahnya lagi.

"Hei, kau tidak bisa melakukan itu!" Naruto berteriak tidak terima, dia menunjuk Sasori nyalang. "Itu cat air ku. Aku butuh itu untuk menyelesaikan tugas seniku" katanya lagi, seraya mendekat kearah Sasori. "Kembalikan cat airku. Se-ka-rang!" perintahnya dengan menengadahkan telapak tangannya.

Sasori menatap tangan Naruto, kemudian beralih menatap sang empunya tangan, bosan. "Jika aku tidak mau. Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya menantang, dihiasi seringain kecil pada wajahnya.

Naruto menggertakkan giginya geram, mempunyai adik seperti Sasori adalah kutukan baginya. Sungguh, sudah dari dulu Naruto ingin membunuh adiknya ini. Tapi apa yang akan dikatakan Minato jika anak perempuannya yang paling manis ini melakukan hal itu? Dia yakin, ayahnya pasti akan menangis sesugukan di depan pusara sang ibu selamanya jika itu terjadi.

"Cih, lupakan" Naruto akhirnya mengalah. Dia menurunkan tangannya, tapi masih menatap Sasori tajam. "Baiklah, karena kau sudah mengambil cat airku. Sekarang aku butuh yang baru" katanya dengan nada suara yang lebih tenang. "Jadi, kau harus menemaniku untuk membelinya" tambahnya lagi seraya bersidekap.

"Menemanimu?" Sasori menaikkan sebelah alisnya sinis. Kemudian mendengus. "Kau tidak lihat aku sedang sibuk. Aku tidak punya waktu untuk menemanimu" katanya lagi, sekarang mulai sibuk mengganti lukisan itu dengan kanvas yang baru. "Kau ajak saja Kyuu-nee. Atau… kalau kau tidak mau pergi dengannya, kau bisa pergi sendiri" tambahnya lagi tidak peduli.

"Ta-tapi ini sudah malam, Sasori" Naruto melirik jam dinding yang sekarang menunjukkan pukul 08:47 malam. Nada suaranya terdengar ketakutan. "Mana bisa kau membiarkan kakakmu ini pergi sendirian. Kalau aku diculik hantu bagaimana?" tanyanya seraya memeluk dirinya sendiri. "Jika aku tidak ada, siapa yang akan memasak makanan untuk kalian? Seharusnya kau pikirkan itu Sasori!" katanya lagi, seraya mencengkram bahu sang adik.

Sasori memutar bola matanya bosan. "Hantu itu tidak ada Nee-san" katanya malas. "Dan meskipun kau menghilang. Aku tidak akan pernah peduli" tambahnya seraya melepaskan genggaman tangan Naruto pada bahunya.

"Kau jahat sekali" Naruto mulai sesugukan. Dia mengelap ingus pada hidungnya secara dramatis. "Sangat tidak berartikah aku untukmu? Apa kau tidak mencintai kakakmu satu-satunya yang paling normal ini? Kenapa kau berkata seperti tidak menginginkanku Sasori?!" tanyanya beruntun, penuh penghayatan artis amatiran.

"Hn" tapi Sasori tidak peduli. Dia malah sibuk dengan lukisannya. "Kau tidak perlu berakting disini Nee-san. Aktingmu itu tidak akan berpengaruh padaku" katanya seraya mulai menggambar sketsa wajah Deidara. "Dan cepatlah enyah dari sini. Atau kau ingin ku tendang keluar, hah?" tanyanya berdesis tajam.

Naruto mengerucutkan bibirnya kesal. "Kau benar-benar tidak ingin menemaniku?" tanyanya memastikan. Tak lagi berakting seperti sebelumnya.

"Hm, ya" Sasori mengangguk pelan. "Kau sudah cukup besar hanya untuk di temani adikmu sendiri" matanya bergerak, melirik Naruto malas. "Jadi, bisakah kau meninggalkanku? Aku butuh konsentrasi untuk menyelesaikan lukisan ini" katanya seraya menggerakkan kuas yang ada di tangannya, seakan mengusir Naruto.

Naruto menghentakkan kakinya kesal. Dia pun melangkah menuju pintu kamar Sasori. Dan sebelum benar-benar menghilang dari sana. Dia menoleh untuk menatap adiknya kembali.

"Mempunyai adik sepertimu memang sebuah kutukan!"

Dia pun pergi dengan terus menggerutu.

Dan Sasori hanya mengedikkan bahu tak acuh untuk itu.

.

.

.

Sasuke memasukkan baju terakhirnya ke dalam tas. Selesai dengan itu, dia terdiam lama menatap gundukan tasnya yang lumayan besar. Matanya menatap kosong, sebelum tangannya benar-benar bergerak menenteng tas itu di bahunya. Membawanya serta keluar kamar.

Mungkin aku akan menyuruh Aniki untuk mengambil sisa baju dan barang-barangku besok. Pikirnya seraya mengangguk.

Di lantai bawah, dia bisa melihat dua orang dewasa itu yang kembali berteriak satu sama lain lagi untuk malam ini. Salahkan Fugaku yang kembali dari pekerjaannya. Sasuke bahkan sempat berharap pria itu tak akan pernah kembali ke rumah, menghilang pun dia tidak akan peduli. Namun harus bagaimana, dia tidak mungkin menendang Fugaku yang jelas-jelas punya hak atas rumah ini.

Sedangkan Ibunya. Sama seperti pertengkaran mereka yang lalu-lalu. Dia tetap tidak ingin kalah, meskipun matanya sudah basah dengan air mata. Sasuke bertanya-tanya, apa yang sebenarnya Mikoto harapkan dari Fugaku? Kenapa dia tidak langsung minta cerai saja? Bukankah itu jalan yang lebih mudah?

"Sasuke, kau mau kemana?"

Sasuke melirik kecil Ibunya. Terlihat wanita paruh baya itu saat ini sedang sibuk menghapus air matanya. Kemudian matanya bersibobrok dengan manik kelam sang Ayah. Dia tetap diam seperti itu hingga beberapa detik kedepan. Membuat Mikoto kembali buka suara.

"Sebenarnya kau ingin kemana, Sasuke? Dan kenapa kau membawa tas sebesar itu?"

"Ke apartement Aniki" Sasuke menjawab cepat. Dan mulai melangkah menuju pintu. Tapi, baru saja dia ingin melangkah keluar, niatnya harus terhenti ketika mendengar suara sang Ayah.

"Kau akan tinggal di apartemen Aniki-mu itu?"

Sasuke melirik kecil sang Ayah melalui bahunya. Matanya menatap tanpa ekspresi pria itu. Sebelum akhirnya melangkah kembali tanpa ada niatan untuk menjawab pertanyaan Fugaku. Menutup pintu dua daun itu perlahan, dan mulai menjauh dari sana.

Dia berdiri di sisi trotoar jalan dengan mata yang menatap kosong. Sibuk dengan pemikirannya sendiri. Dia tahu semua ini pasti akan terjadi. Saat dimana dia tidak akan tahan lagi dengan semua pertiakan Ayah dan Ibunya itu. Jengah? Tentu saja. Memilih untuk tinggal di apartemen Itachi mungkin memang pilihan yang tepat.

Memberhetikan sebuah taksi. Laki-laki yang sekarang memasuki tahun ketiga di Konoha High School itu pun menuju tempat yang menjadi tujuannya. Dia hanya memilih diam di dalam perjalanan. Sebelum tiba-tiba tubuhnya tersentak karena taksi yang di tumpanginya berhenti tiba-tiba.

"Maaf, Tuan. Sepertinya ada yang salah dengan mobil ini" sang supir taksi menoleh ke jok penumpang. "Saya akan segera memeriksanya" tukasnya kemudian, lalu segera keluar dari dalam taksi.

Sasuke hanya diam. Dia terus seperti itu dalam beberapa saat, sebelum akhirnya dia memutuskan keluar dari dalam taksi. Dia memperhatikan sang supir yang sedang memeriksa kap mobil bagian depan, kemudian melangkah mendekat.

Sasuke menyodorkan beberapa lembar uang pada sang supir. "Saya akan berjalan kaki dari sini. Terima kasih" setelah menyerahkan uang tersebut, dia melangkah pergi dari sana. Meninggalkan sang supir yang hanya bisa memasang tampang bingung.

.

.

.

Naruto baru saja keluar dari sebuah Minimarket seusai membeli cat air yang dibutuhkannya. Matanya melirik kanan kiri dengan waspada, antisipasi seandainya ada sesuatu yang tidak diinginkan muncul tiba-tiba dan membuatnya sport jantung. Merasakan keadaan aman, dia menarik napas dalam dan mulai berjalan dengan berusaha santai.

Sebelum tiba-tiba kakinya berheti sesaat ketika matanya menatap sebuah mesin minum yang berdiri gagah tak jauh dari sisinya. Dia meraba tenggorokannya yang kering. Ah, kenapa baru sekarang dia menyadarinya? Hm, itu mungkin karena di Minimarket tadi sang kasir tidak pernah melepaskan tatapan matanya dari Naruto, terlebih lemparan senyum mesumnya itu. Mendadak Naruto bergidik.

Dia menoleh kebelakang. Tidak ada yang mengikuti? Oh, syukurlah.

Dan tanpa basa-basi, Naruto lantas mendekat kearah benda yang telah membuatnya dehidrasi. Merogoh saku celana jeansnya kemudian mengeluarkan sebuah koin. Dia memasukkan koin tersebut, lalu memilih minuman yang di gemarinya, jus jeruk.

Beberapa detik dia menunggu, hanya hening yang melanda. Dia membungkuk, melongok kearah tempat seharusnya jus jeruknya terjatuh, tapi tidak ada. Dia memasang raut kesal, lantas menggebrak benda itu.

"Oi, jus jerukku mana?!" dan dengan tololnya dia berteriak pada sebuah benda mati.

Melihat usahanya tidak membuahkan hasil. Dia dengan beringas menendang benda laknat itu. Untung jalan tempatnya berada kini sedang sepi, jika tidak, mungkin orang-orang akan menganggapnya pasien RSJ yang melarikan diri.

"Hei, mesin minum sialan! Jika kau tidak ingin mengeluarkan jus jeruk untukku. Setidaknya kembalikan uangku!"

Sementara gadis itu terus berteriak dengan suara seriosanya. Seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari sana hanya diam mengamati. Dia sebenarnya tidak berniat untuk membantu dan lebih memilih untuk menyebrang jalan. Tapi ketika lagi-lagi suara cempreng yang melengking itu memasuki gendang telinganya, dia memutuskan untuk sekedar memberi sumbangan tenaga.

Naruto yang tanpa sengaja sedikit mengalihkan perhatiannya dari sang mesin minum, berdiri kaku ketika menyadari ada seseorang yang berjalan mendekat kearahnya. Apalagi sosok itu adalah orang yang dia incar selama ini. Uchiha Sasuke! Oh, Kami-sama, Naruto mendadak sangsi ketika bersitatap dengan pemuda raven itu.

Apa dia tahu jika aku membututinya seharian ini? Apa dia berniat melakukan tindak kekerasan padaku karena hal itu? Kami-sama, lindungilah hambamu yang manis ini!

BRAK!

Suara keras itu mengembalikan Naruto dari dunia fantasinya. Dia melirik kearah mesin minum yang sesaat lalu mendapat tendangan dari sang bungsu Uchiha. Mulutnya sedikit terbuka dengan mata melotot tidak percaya.

Tak! Tong! Klontang! Klontang!

Sasuke membungkuk kemudian memungut jus jeruk kalengan yang sesaat lalu telah terjatuh. Selesai dengan itu, dia kembali berdiri tegak. Tangannya terangkat, menyodorkan jus jeruk kepada sang gadis pirang.

Naruto mengedipkan matanya beberapa kali. Tangannya dengan sedikit kikuk terangkat dan menerima jus tersebut dari Sasuke. Bibirnya terbuka-tutup seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Naruto masih sangat terkejut dengan apa yang baru saja Sasuke lakukan.

Sasuke tidak mempunyai niat berlama-lama, maka dari itulah dia segera berbalik dan mulai menggerakkan kakinya. Namun baru sekitar dua langkah ditempuh, jaket bagian lengannya mendadak tertarik kecil.

Si pirang secepat kilat menarik kembali tangan kanannya. Dia menggigit kecil bibir bawahnya saat lirikan penuh intimidasi Sasuke lemparkan padanya. Naruto menunduk seraya memerhatikan kaleng jus jeruk dalam genggaman, kemudian kembali mendongak, menatap Sasuke tepat dimata.

"Te-terima kasih, Sa… suke-senpai" ujarnya terbata.

Sasuke terdiam. Dia menatap Naruto lama sebelum akhirnya mengangguk dengan gumaman pelan mengiringi. Tanpa basi-basi sang pemuda segera berbalik dan kembali berjalan menuju tempat tujuannya. Tidak menyadari mata Naruto tidak pernah lepas memandangi punggungnya.

Sasuke-senpai akan kemana dengan tas sebesar itu? Dan lagi…

Naruto menarik keluar ponselnya dari saku celana. Menatapnya sebentar sebelum kembali menoleh kearah punggung sang Uchiha. Dia mengangguk sekali ketika niatan ingin membututi Sasuke memasuki kepalanya. Dan tanpa menunggu lama, dia melangkahkan kaki secara pelan-pelan. Kertas kresek berisikan cat air ditangannya masih ditenteng erat.

Sementara sosok yang dibuntuti sama sekali tidak menyadari keberadaan sang Stalker dibelakang. Namun itu hanya berlangsung sampai beberapa menit. Karena ketika dia berbelok pada sebuah tikungan, matanya melirik kecil melelaui bahu, mulai merasakan keanehan disekitarnya.

Naruto dengan sigap menyembunyikan dirinya dibalik tembok. Napasnya memburu seakan telah usai lari marathon. Dia menelus dadanya yang berdenyut panik, takut jika sang Uchiha menyadari keberadaannya.

Dan terpanjatkanlah syukur Naruto Namikaze kepada sang Kami-sama. Karena sosok yang di buntutinya tidak mengacuhkan lagi keadaan disekitarnya. Naruto menghela napas lega untuk itu, sebelum kembali melakukan aktivitasnya semula.

Sampai akhirnya, terdamparlah dirinya disini. Di depan sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi tepat di depan mata. Sasuke telah memasuki gedung tersebut dan tak mungkin Naruto membututinya kembali. Maka dari itulah dia memutar tubuhnya kearah berlawanan dengan raut wajah mendadak lesu.

Meski begitu, pertanyaan seputar kenapa Sasuke membawa tas besar itu memenuhi pikirannya. Apa mungkin dia tinggal di salah satu apartemen disana? Tapi bukankah dia punya mansion mewah untuk ditinggali. Atau apa mungkin dia ingin hidup mandiri, buktinya dia bekerja di bengkel Paman Kakashi, bukan?

"…"

Ah, sudahlah. Memikirkan tentang lelaki itu membuatku pusing mendadak.

.

.

.

Naruto sudah berusaha pasrah dengan segala cobaan yang Kami-sama berikan padanya. Oh sungguh, Naruto sangsi jika ada anak gadis di dunia yang bisa sesabar dirinya. Naruto sungguh percaya diri dengan hal itu. Mempunyai dua saudara titisan Satan sudah cukup menjadi cobaan berat baginya. Belum lagi sikap mereka yang seakan menjadikannya tumbal pada setiap keadaan rumit. Naruto ikhlas.

Naruto juga tidak masalah mempunyai sahabat yang tingkat fansgirling-nya kepada sang Uchiha melebihi rasa cinta gadis itu kepada fashion. Lagipula, sebenarnya, rasa suka Ino kepada senpainya itu tidak ada sangkut pautnya dengan Naruto. Biarlah Ino menyukai siapa saja, asalkan gadis itu bahagia. Itu yang Naruto pikirkan, berusaha melakoni perannya sebagai seorang sahabat sejati.

Tapi kali ini, lain lagi ceritanya. Jika sudah menyangkut dengan yang namanya harga diri, Naruto tidak akan berpikir dua kali untuk mengatakan tidak, bahkan meski dia disogok uang satu juta dolar. Berbeda dengan Kyuubi yang matanya mendadak hijau walau hanya mendengar nominalnya saja.

"Ayolah Naruto, aku sudah menyiapkan ini mulai dari pagi buta"

"Tidak!"

"Setega itukah kau pada sahabat sendiri?"

"Kubilang tidak, ya, tidak!"

"Kumohon Naruto…"

"Tidak!"

Naruto sebenarnya tidak tega melihat Ino memasang tatapan anak kucing minta dipungut seperti ini. Jika masalahnya berbeda, mungkin Naruto akan mengiyakan tanpa pikir panjang. Tapi… Hei, siapa yang akan menuruti permintaan seseorang yang menginginkanmu untuk memberikan bekal makan siang kepada sosok yang tidak kau sukai? Bermimpilah jika Ino berpikir Naruto akan melakukannya.

"Kau tahu aku sedang tidak enak badan Naruto. Jika aku bisa, aku pasti sudah mengantarkannya sendiri kepada Sasuke-senpai. Tolong bantu aku, berikan bento ini kepadanya dan katakan itu dari Ino Yamanaka, siswi kelas 2-C"

Untuk kesekian kalinya, Naruto menggeleng tegas. "Maaf Ino, aku sudah mengatakan jika aku tidak akan melakukan hal itu"

Ino memasang raut kesal. Meminta kebaikan hati Naruto ternyata sesusah meminta Chouji untuk diet. Tapi itu hanya sesaat, karena tak lama setelahnya, sang Yamanaka mencetak seringaian lebar pada wajahnya. Membuat gadis itu terlihat layaknya pemeran tokoh antagonis dalam serial film dorama.

"Oh, begitu?" Naruto tidak bisa memungkiri jika sekarang bulu kuduknya berdiri sempurna ketika mendengar suara merdu Ino yang dibumbui nada misterius. "Kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan jika aku sedang menginginkan sesuatu bukan, Na-ru-to?"

Si pirang melotot dengan ekrpresi ngeri, entah kenapa Ino yang ada dihadapannya saat ini terlihat lebih mirip Mia yang kerasukan roh jahat dari film Evil Death yang pernah ditontonnya. Dia meneguk ludahnya yang serasa sebesar batu, dengan susah payah dia mencoba menanggapi pertanyaan gadis itu.

"Me-memang, apa yang bisa ka-kau lakukan?"

Ino semakin memperlebar seringain pada wajahnya. "Yakin ingin mengetahui hal itu dan membuang kesempatanmu untuk hidup, ahn?" tanyanya dengan nada manis, terlalu manis.

Naruto dibuat bungkam. Wajahnya pucat pasi antara menahan takut dan harga diri. Dia tahu Ino bukan gadis yang mudah marah. Tapi Naruto sungguh tidak bisa membayangkan jika seandainya hal itu terjadi saat ini, padanya.

"Baiklah, baiklah. Kemarikan bento itu!" ujarnya dengan nada keras. Tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Jika dia sampai mati, siapa yang akan mengurus dua lelaki dan satu wanita serampangan dalam keluarganya? Arwahnya yang penasaran?

Oh, sepertinya Naruto terlalu menganggap serius ancaman Ino.

Gadis Yamanaka tersenyum penuh kemenangan. "Ini bentonya. Jangan lupa katakan pada Sasuke-senpai jika ini adalah bento dariku" ujarnya seraya menyerahkan bento berbalutkan kain ungu kepada Naruto.

"Ya, ya! Aku mengerti!" Naruto memutar bola matanya bosan sembari mulai berdiri dari duduknya. Melangkah malas kearah pintu keluar dan menghilang tak lama setelahnya.

"Ah, Naruto. Kau terlalu polos, Sayang" Ino terkekeh geli atas kemenangannya. Memang apa yang bisa Ino lakukan untuk menyakiti Naruto? Belum apa-apa dia pasti sudah mengalami sekuhara dari dua saudaranya si Namikaze. Naruto benar-benar tidak menyadari keberadaan dua tameng penjaganya yang selalu senantiasa melindungi sang gadis.

Tiba-tiba Ino memegang kepalanya yang berdenyut sakit. "Ah, Tenten. Bisa kau bawa aku keruang kesehatan? Kepalaku sakit lagi"

"Hm, baiklah"

.

.

.

Naruto memasang ekspresi ngeri ketika menyaksikan keadaan kelas 3-A. Oh, ini benar-benar diluar nalar kewajaran. Sebenarnya seberapa terkenal Sasuke Uchiha itu sampai-sampai peminatnya saja setia mengerubungi dan berdesak-desakan hanya untuk memberikan bento padanya?

Si pirang tidak sudi. Naruto tidak akan pernah sudi jika seandainya dia sampai terjepit-jepit dalam kumpulan gadis-gadis itu. Dan dengan berbekal tampang idiot, Naruto berdiri temangu di depan pintu kelas seraya menggenggam erat bento yang ada di genggamannya.

Seorang senpai yang hendak masuk kelas memandang bingung Naruto yang masih setia berdiri di depan pintu masuk. Dia menepuk bahu Naruto kecil, menyadarkan Naruto dari lamunannya.

"Apa lagi yang kau tunggu? Kau ingin memberikan bento kepada Sasuke Uchiha bukan? Cepatlah, sebelum kesempatanmu direbut gadis-gadis itu"

Naruto menatap sang senpai datar. "Aku dipaksa memberikan bento titipan temanku ini kepada senpai ayam itu. Dan maaf, aku tidak ingin berdesak-desakan disana" ujarnya dengan nada monoton seraya menunjuk kerumunan siswi dengan dagunya.

Sang senpai menaikkan sebelah alisnya takjub. "Kau ini tipe tsundere, ya?"

A-apa?

"Maaf, bisa senpai ulangi sekali lagi?"

Laki-laki itu memasang raut bingung, kemudian tersenyum dengan polosnya. "Tipe tsundere. Aku pernah baca pada sebuah buku jika tipe itu bersifat malu-malu tapi mau" jelasnya tanpa dosa.

Naruto semakin tremor. "Ya, aku tahu senpai. Tapi, kau menyebutku apa tadi? Aku tipe tsundere, begitu?" tanyanya dengan hati-hati.

Sang senpai tersenyum lagi. "Sudah jelas bukan? Kau ingin memberikan bento itu kepada Sasuke tapi kau malu untuk mengakuinya dan malah mencari-cari alasan, itu namanya tsundere" ujarnya penuh keyakinan. Tanpa menyadari aura gelap mulai mengurubungi sosok Naruto yang tak bergeming di tempat.

Naruto memutar kepalanya kearah sang senpai. "Baiklah senpai, karena aku adalah gadis cantik yang baik hati aku akan memberikan dua pilihan bagus untukmu" perlahan gadis itu membentuk senyuman manis, bahkan lebih manis dari senyuman Ino. "Pilih mana, kupotong burungmu sampai akar, atau kujual kau pada porstitusi homo?"

Seluruh kelas mendadak hening. Tidak sengaja mencuri dengar tawaran sang gadis pirang pada seorang pemuda berkulit pucat yang ada di sampingnya. Mereka memasang raut horor, merasakan terror yang akan menghantui jika seandainya mereka berada dalam posisi si lelaki pucat.

Sosok pucat yang dimaksud meneguk ludahnya dengan susah payah. Pertama kali. Pertama kali dalam hidupnya dia merasakan intimidasi mengerikan seperti ini.

"A-apa katamu tadi?"

"Hooo, tidak mau memilih, ya?" Naruto memasang ekpresi riang. Dia mengalihkan tatapannya sesaat dari sang senpai, hanya untuk memanggil seseorang yang bersedia memegangi bento milik Ino. Seorang gadis yang berada paling dekat dengan Naruto berjalan maju dengan ragu-ragu, menerima bento yang di berikan sang gadis masih dengan sama kikuknya.

"Baiklah senpai, sudah sampai mana kita tadi?"

Lelaki itu mundur teratur saat Naruto mulai berjalan mendekat kearahnya. Dia melotot horor kearah sang gadis, namun sayang, Naruto terlalu baik hanya untuk memperdulikan hal itu. Ah, seharusnya Naruto memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebagai saudari dari dua makhluk titisan Satan, mungkin pemuda ini akan berpikir lebih dari seribu kali untuk mengatakan hal tidak senonoh tadi padanya.

.

.

.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya heran saat gadis yang di ingatnya pernah mendatangi tempatnya berkerja sekaligus orang yang dibantunya semalam, berdiri tegak di depannya dengan raut wajah kesal yang sangat kentara. Matanya lirik kecil kearah Sai yang sesaat lalu menjalin perkenalan singkat dengan si gadis pirang. Oh, mendadak mata Sasuke iritasi ketika melihat tampang sang pemuda pucat saat ini.

Mengerikan.

"Ini, bento dari Ino Yamanaka, siswi kelas 2-C. Terserah senpai ingin memakannya atau tidak, aku tidak peduli. Jika tidak enak, dibuang saja pun tak apa. Atau jika senpai tidak tega membuangnya, berikan saja pada orang yang membutuhkan. Sekian, terima kasih"

Setelah berhasil memukul mundur seluruh siswi yang mengurubunginya, gadis itu hanya mengatakan beberapa kalimat dengan nada ketus. Hal yang tidak pernah terjadi pada Sasuke sebelumnya.

Matanya melirik setiap langkah gadis tersebut yang keluar dari dalam ruangan. Suasana kelas masih hening dalam beberapa saat, sebelum kemudian beberapa orang berdiri dengan panik dan menuju kearah Sai sembari melempar pertanyaan yang berjibun. Ada pula yang membuka lebar mulutnya dengan sangat tidak elit, baru berani mengekspresikan rasa terkejut mereka seusai sang gadis menghilang.

Sasuke kembali memusatkan perhatiannya kepada kotak bento yang ada ditangan. Menatapnya sesaat sebelum meletakkan bento tersebut di sudut meja. Tangannya memangku dagu, kepala diputar kesamping, menatap pemandangan langit dari balik jendela. Matanya menutup tak lama kemudian, menikmati belaian angin yang masuk dari jendela yang terbuka.

Ah, pagi ini agak sedikit aneh, ya?

.

TBC

.

A/N :

Yosh, balik lagi dengan author yang tidak konsisten ini #diSekuhara. Gomennasai jika masa hiatus saya malah saya ambil jeda lebih lama. Oh, jangan tanyakan alasannya, Honey. Aku tidak bisa berbohong pada kalian semua jika sebenarnya diriku memang sedang dalam masa malas-malasnya T.T

Baiklah, ini hints SasufemNaru-nya muncul. Masih belum puas? Kita tunggu saja dichap2 selanjutnya oke? #kedipImut. Dan soal fict2 saya yang lainnya, sekarang masih dalam proses pengerjaan.

Uzumaki Girl : 60%

Mission Complete : Idenya masih ngambang. Alias belum sempet nulis sedikit pun #gomennasai.

Red Chain : 30%

Oke, sampai saat ini, hanya itulah yang baru sempat saya tuntaskan. Maaf, jika mengecewakan T.T.

Big Thanks to :

Guest | choikim1310 | ZeeZeee | Ryuusuke583 | Ale Genoveva | No-VIZ HB | Fatinah | Indah605 | SNlop | Vivinetaria | arafim123 | HiNa devilujoshi | veira sadewa | hanazawa kay | rei diazee | Mimo Rain | sepp | saphire always for onyx | Aiko Vallery | Kakuraishi deli-chan | Siti583 | Kei Deiken | Dewi15 | tanoyuka0307 | kat(titik)mini(titik)718 | zadita uchiha | kimm bii | kaiLa wu | Za666 | Dwi341 |Arina marioka(titik)darkbrown eyes | Kris hanhun

Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama…

Mind to Review?