Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Family, Romance, Drama
Pairing : SasuFemNaru, slight others
Rate : T
Warning : Gender Switch, AU,OOC, OC, Tipo's, alur kecepatan, cerita pasaran, EYD ancur, alur mudah ditebak, bikin bad mood, dan segala kekurangan lainnya.
.
Miss Stalker
Chapter 6 : Sasuke?
By : Uchy Nayuki
.
Don't Like? Don't Read, please!
.
Yang Naruto tahu, misinya pasti tidak akan berakhir dengan mudah.
Gadis itu kesal, terlihat jelas dari tekukan dalam pada dahinya. Dan entah sudah berapa kali Naruto mengupat hari ini, merutuki si SenpaiTeme sialan yang masih saja harus dia buntuti. Inginnya Naruto memohon pada Kyuubi agar menarik perintahnya, tapi jelas Naruto tahu jika itu hanya akan terjadi dalam mimpi. Sampai mati pun dia tidak akan sudi memohon pada Iblis berkedok wanita urakan.
Mata sewarna safir melirik dengan waspada, berjaga-jaga seandainya pemuda Uchiha yang dibuntutinya kini tiba-tiba menoleh dan memergoki eksistensi dirinya. Dan sepertinya Naruto sedikit banyak bisa menghela napas lega, Sasuke-senpai sama sekali tidak terlihat melakukan gerakan-gerakan yang menunjukkan jika pemuda itu merasakan hawa keberadaannya.
Bukan tanpa alasan Naruto menjadi lebih waspada seperti ini. Jika kemarin dia bersama dengan banyak siswi-siswi yang juga menguntit Sasuke, sekarang dirinya hanya seorang diri. Bisa saja Sasuke merasakan keadaan aneh ini, dan seorang Namikaze Naruto tinggallah sepenggal nama.
Naruto tidak ingin membayangkan hal mengerikan apa yang akan terjadi jika Sasuke sampai mengetahui keberadaannya.
Sasuke berbelok, itulah yang tertangkap dalam penglihatan Naruto. Dengan masih menjaga jarak, dirinya mengikuti pemuda itu seraya bertingkah normal sebisa mungkin. Namun ketika dirinya menatap trotoar dibelokan jalan, sama sekali tidak ada kepala pantat ayam. Tidak ada pantat ayam berarti tidak ada Sasuke.
Kemana hilangnya SenpaiTeme itu!
"Mencari sesuatu, Nona?"
.
.
.
Sasuke sudah sadar akan adanya keanehan semenjak dirinya keluar gerbang sekolah. Seperti ada yang hilang, namun sesuatu yang hilang itu membuat dirinya menjadi lebih nyaman. Bukan dalam konteks bahagia. Terlalu berlebihan jika seandainya satu kata itu digunakan dalam kasus ini.
Dalam perjalanan menuju bengkel Kakashi, Sasuke mulai menyadari jika para penguntitnya tidak sama sekali mengikutinya hari ini. Aneh, perasaan itu menyelinap dalam benak Sasuke. Tapi entah kenapa dia masih merasa ada sesuatu, atau seseorang? Berada di belakang sana, memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Semua yang tidak seperti biasanya ini membuat rasa penasarannya muncul. Oleh karena itulah Sasuke memilih menunggu seseorang tersebut menunjukkan batang hidungnya. Saat mendapati belokan di depan trotoar, Sasuke berbelok, kemudian bersandar pada tembok bangunan yang berada tak jauh dari sana. Matanya menyipit, menunggu. Dan saat seonggok kepala kuning menyembul lalu bertingkah seakan mencari sesuatu, dahinya berlipat dalam kebingungan.
Sasuke sebenarnya tidak yakin jika gadis itu yang membuntuti dirinya.
"Mencari sesuatu, Nona?"
Namun, bukan berarti dia tidak patut untuk dicurigai.
.
.
Jantung Naruto nyaris keluar dari tempatnya. Melompat, lalu terjun bebas melalui tebing, sebelum sesaat kemudian RIP Naruto terletak tepat di samping pusara sang Ibunda.
Tapi tidak! Jika sampai dirinya mati, siapa yang akan mengurus dua lelaki dan satu wanita serampangan dalam keluarganya?
Setidaknya Naruto bersyukur kamera digital pemberian Sasori masih tersimpan aman dalam tas sekolahnya.
Mengelus dada yang berdetak super cepat, gadis itu mendongak, lantas mempelototi si Sasuke-senpai sialan. "Kau ingin mengirimku ke Surga? Oh, baik sekali. Tapi sayang, aku ingin mati dengan cara yang sedikit elegan. Bukan jantungan karena sebuah penampakan!" cibirnya dengan nada sinis. Oh, mungkin ini tertular dari si mulut pedas, Sasori.
Wajah Sasuke sedatar nampan. Namun bukan berarti dia tidak tersinggung. "Kau tahu itu bukan salahku," ujarnya dengan nada monoton. "Lagipula, sepertinya kau sedang mencari sesuatu. Ada yang hilang? Atau kau sedang membuntuti seseorang?" tanyanya penuh sarkasme.
Naruto gelagapan. Matanya menatap kesegala arah namun tidak kepada si Uchiha. Sesaat kemudian gadis itu menyadari jika tingkah lakunya akan semakin menimbulkan kecurigaan. Maka dari itu, dia berdehem sekali, lalu menatap Sasuke. "Tidak sedang mencari apa pun. Aku hanya ingin ke suatu tempat."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Nyaris nihil dia mendapati kebohongan dalam mata itu, namun bukan berarti tidak ada. "Oh, jadi kau beranggapan jika aku hanya berhalusinasi saat melihat tingkah lakumu yang seperti mencari sesuatu, begitu?"
Naruto menggigit pipi bagian dalam mulutnya, dan tanpa sadar menarik napas panjang. Berbohong memang bukan keahliannya, tapi ketahuan dihari kedua penguntitanmu sama sekali tidak keren. "Tersinggung jika aku mengatakan iya?"
Sasuke terdiam. Sulit dipercaya tapi gadis ini pandai bermain kata-kata. "Sedikit, kurasa," katanya tak acuh, memilih mengakhiri perdebatan. Gadis ini tidak ingin memberitahunya? Tidak masalah. Sasuke akan mencari tahu sendiri. "Jadi kearah mana tujuanmu?"
Naruto terdiam sesaat. Perasaannya saja atau memang Sasuke mengalihkan pembicaraan? "Kurasa Senpai tahu kearah mata tujuanku," ujarnya seraya mengulum senyum.
.
.
.
Dua kubu yang saling bertolak belakang itu berjalan bersisian, nyaris membuat setiap pasang mata yang melewati mereka berdua melirik meski untuk sesaat. Menarik perhatian adalah hal biasa untuk Sasuke. Namun kini terasa sedikit berbeda karena dia tahu bukan hanya dirinya yang menjadi objek perhatian.
Sasuke melirik gadis pirang disampingnya. Wajah gadis itu terlihat bosan, entah karena apa. Mungkin karena kesunyian diantara mereka? Entahlah. Sasuke sebenarnya juga tidak terlalu peduli.
Sementara dilain pihak, Naruto lupa sudah berapa kali dia memaki kesal dalam hati. Apa-apaan si SenpaiTeme ini? Tega sekali mendiamkan dirinya! Rasanya Naruto ingin menendang pemuda itu tepat dikepala buntut ayam milik si Uchiha!
Menyerah dengan kesunyian, Naruto menarik napas panjang. "Namaku Naruto Namikaze. Kurasa akan sangat tidak sopan jika aku tidak memperkenalkan diri," katanya cepat, dan jika ditelisik lebih dekat, pipi gadis itu terlihat dibumbui rona merah muda. Sungguh, sebenarnya dia malu berat saat ini.
"Sasuke Uchiha," jawaban yang terlontar itu sebenarnya tidak pernah Naruto prediksi, maka jangan salahkan jika matanya nyaris keluar hanya karena sepenggal nama.
"A-a…" gadis itu sukses kehilangan kata-kata. Lantas Naruto berdehem sekali, mengulas sebuah senyum kemudian menatap Sasuke dengan mata berbinar gembira. "Senang bisa berkenalan dengan Sasuke-senpai," Naruto jelas sudah mengenal Sasuke bahkan sejak dia masih berstatus siswi tahun ajaran baru. Tapi berkenalan secara formal seperti ini dengan pemuda itu, entah kenapa rasanya sedikit berbeda.
Seperti ada sesuatu yang meletup dalam dadanya.
"Hn," gumaman dipilih sebagai balasan. Sementara kepalanya memutar ulang kejadian yang berlangsung beberapa detik lalu. Sumpah, Sasuke yakin dia tidak pernah berpikir untuk menjawab pertanyaan si pirang. Semua terjadi begitu saja.
Kenapa?
.
.
.
Kakashi tahu jika dua sosok manusia bertolak belakang itu bersekolah di satu tempat yang sama. Hanya saja, bukan berarti kejadian yang sungguh menggemparkan ini akan lulus sensor otaknya.
"Naruto?" kembali menoleh kearah gadis manis di sampingnya, Kakashi memasang wajah paling bingung yang pria itu miliki. "Aku tidak tahu kau bisa akrab dengan tipe orang macam Sasuke."
Naruto berkedip, namun tak beberapa detik memasang cengiran senang. "Aku juga tidak mengeti Paman. Saat akan kesini aku bertemu dengannya, dan kami dekat begitu saja," katanya jujur. Dan Kakashi tidak cukup bodoh untuk menyadari kilatan aneh yang terpancar dari sepasang bola mata safir itu.
"Oh, begitukah?" Kakashi memilih mengikuti alur pembicaraan, mendengarkan dengan seksama saat Naruto menceritakan bagaimana pembicaraan super membosankan yang dilaluinya selama bersama Sasuke.
"Sasuke-senpai hanya menjawab 'Hn' 'Hn' 'Hn'. Sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata lainnya. Jika seandainya dia tidak membalas salam perkenalanku, bisa saja aku menganggapnya laki-laki bisu."
Dan meski nada kesal bisa Kakashi tangkap jelas selama Naruto bersuara, kenapa gadis itu tidak pernah melunturkan senyumnya?
"Oh ya, Paman?"
Kakashi menaikkan kedua alis saat Naruto menatapnya dengan pandangan penuh tanya.
"Sebenarnya aku sedikit penasaran," Naruto melirik Sasuke sesaat sebelum kembali fokus pada Kakashi. "Bagaimana Sasuke-senpai bisa berakhir disini? Maksudku, Paman tahu bukan, kurasa dia tidak perlu bekerja hanya untuk menambah uang saku."
Kakashi mengedikkan kedua bahunya ringan. "Sasuke adalah adik dari seorang temanku. Dan dia merekomendasikan Sasuke untuk bekerja disini," jelasnya singkat, dan saat mendapati dahi Naruto berlipat seraya menatap dirinya bingung, pria berusia 30-an itu kembali menambahkan. "Kakaknya mengatakan jika Sasuke butuh pekerjaan sebagai alasan untuk berada di luar rumah sedikit lebih lama."
Naruto mengedipkan matanya beberapa kali. Apa maksud dari perkataan Paman Kakashi? tanyanya bingung dalam hati. "Kenapa begitu?" Naruto tidak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas dirinya dilanda penasaran. Semua tentang Sasuke-senpai entah kenapa selalu menjadi misteri baginya.
"Jika kau ingin tahu, tanyakan saja pada Sasuke langsung."
"Jika aku berani, aku tidak akan bertanya padamu Paman!"
Kakashi tertawa kecil, lantas menatap Naruto seraya mengulum senyum. "Tidak semua bisa ku katakan padamu, Sayang. Jika masih penasaran, kau bisa mencari tahu sendiri."
.
.
.
Perkataan Paman Kakashi menguasai seluruh pikirannya, sukses membuat Naruto dilanda kesal. Apa-apaan Pamannya itu? Seperti anak kecil saja, bermain rahasia-rahasiaan!
Naruto melirik Sasuke, menatap pemuda itu seraya menggigit bibir bawahnya. Niatnya ingin mendekati si Uchiha dan mungkin mereka bisa mengulang pembicaraan membosankan ronde kedua, tapi gengsi tingginya melarang si pemilik surai pirang.
"Ada apa Naruto?" Kiba menatap bingung dirinya. "Kenapa kau memasang wajah tersiksa seperti itu? Menjijikkan kau tahu," tambahnya seraya memasang cengiran lebar.
Naruto memberi Kiba pelototan seekor beruang. "Apa katamu?!" tanyanya dengan nada melengking. "Sialan sekali kau! Jika memang hanya ingin membuatku semakin kesal, tidak perlu repot-repot. Melihat wajahmu saja sudah membuat mataku serasa ingin meledak," tambahnya seraya memicing.
Kiba ciut. Naruto sepertinya sedang dalam masa PMS. "Umm, maaf?"
Berdecih, Naruto lantas berdiri. "Perbaiki saja motor itu, aku tidak mau duduk dekat denganmu lagi," ujarnya seraya membuang muka.
Naruto melangkah terhentak, mendekati posisi Sasuke. Persetan dengan gengsi, Gaara-nii tidak bekerja hari ini dan Kiba sukses membuat darah tingginya naik drastis, terlebih Paman Kakashi hanya membuatnya kesal dengan tidak menjawab pertanyaannya sesaat lalu. Lebih baik dia berada di sekitar Sasuke, bisa saja dia mendapat jawaban dari pertanyaan tentang pemuda itu yang memenuhi kepalanya, bukan?
Sesaat kemudian dia mendaratkan pantatnya tepat disisi pemuda raven yang kini berbaring memperbaiki bagian bawah mobil. Merasa Sasuke tidak menyadari keberadaannya, gadis itu bersuara pelan. "Umm, Senpai?"
Selang waktu beberapa detik sebelum sebuah gumaman membalas pertanyaannya. "Hn"
Mendengar balasan Sasuke, Naruto beranggapan jika pemuda itu tidak keberatan dengan eksistensi dirinya. "Apa aku boleh bertanya?" tanyanya memulai percakapan.
Tidak ada jawaban.
Naruto menggigit bibir bawahnya gugup. Sialan sekali Sasuke-senpai ini! "Uh, itu, jika aku boleh tahu, sejak kapan Sasuke-senpai bekerja disini?"
Lama menunggu, dan sebuah suara bernada monoton terdengar. "Kenapa bertanya?"
"Umm, hanya penasaran," Naruto menggaruk pipinya canggung. "Jika Senpai keberatan, tidak masalah jika Senpai tidak menjawab," ujarnya seraya mengalihkan pandangan.
"Satu bulan lalu. Aku tidak ingat kapan pastinya," balas sang Uchiha dengan nada kalem. Naruto sama sekali tidak bisa melihat wajah sang Senpai karena terhalangi badan mobil. Tapi dia yakin jika wajah itu masihlah sedatar pantat wajan.
"Oh, begitu," ujarnya seraya mengangguk. Naruto melirik lagi, menatap Sasuke yang hanya kelihatan kakinya. Dia sebenarnya ingin menanyakan alasan Sasuke bekerja disini, tapi diurungkan, Naruto masih tahu apa itu yang namanya menghargai privasi. "Aku sebenarnya tidak menyangka jika Sasuke-senpai itu berbakat dalam bidang Otomotif. Mengejutkan sekali," tambahnya diiringi senyum. Mungkin dia bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan dalam kepalanya lain kali.
Sasuke mendorong papan beroda yang menjadi alas berbaringnya, sekedar hanya untuk menatap si gadis pirang. "Karena kurasa kau terlalu banyak melalui percakapan denganku, aku akan mengatakan ini," Sasuke menberinya tatapan tajam. "Berhenti memanggilku Senpai, kita sedang tidak di sekolah."
Naruto berkedip dua kali, kemudian mulutnya terbuka, hendak melayangkan protes, namun segera menutup kembali ketika merasakan Sasuke semakin mengintimidasinya.
"Jadi aku harus memanggilmu apa?" Naruto mencubit kecil dagunya, lalu mendongak. "Sasuke-san?"
Sasuke yang sesaat lalu kembali menghilangkan diri di balik badan mobil, berdecih penuh penolakan.
Mendengar jelas decihan itu, Naruto memutar otak untuk memikirkan panggilan lainnya. "Sasuke-nii? Ah, tidak. Memang seberapa jauh perbedaan umurku dengannya?" tanyanya pada diri sendiri, menggeleng kuat-kuat.
"Atau mungkin, Sasuke-ku-… Ugh, entah kenapa terdengar menjijikkan," tambahnya dengan wajah risih, kemudian kembali menggeleng.
Gadis itu terlalu sibuk mencari panggilan tepat untuk Sasuke, bahkan sampai tidak menyadari jika si pemilik nama kini menatapnya dengan satu alis terangkat, cukup menikmati pemandangan dimana wajah Naruto terlihat kebingungan.
"Sasuke-cha-… Umm, sepertinya tidak. Sasuke-senpai bisa saja memenggal kepalaku!" ujarnya ngeri, meraba lehernya takut-takut. "Oh, atau, Sasuke saja, ya?" tanyanya pada diri sendiri, dahinya menekuk dalam, berpikir.
Merasa tidak menemukan panggilan yang lebih tepat, Naruto mengangguk menyetujui. "Sasuke saja, bagaimana Senpai?" tanyanya lagi seraya menoleh, menatap kearah Sasuke, hendak meminta pendapat si pemilik nama. Namun ketika matanya bertatap langsung dengan sepasang hitam obsidian itu, dia membeku untuk waktu lama.
"Hn" sebelum sebuah gumaman berintonasi rendah menyadarkan dirinya.
Berkedip beberapa kali, Naruto lantas menyuarakan pertanyaan. "Jadi boleh hanya dengan Sasuke saja?" si pemilik nama membalasnya dengan anggukan kecil, cukup untuk membuat senyum Naruto melebar cerah. "Baiklah kalau begitu, Sasuke," seru si pirang dengan terlalu bersemangat.
Sasuke menatapnya sesaat sebelum kembali menghilangkan diri di balik badan mobil. Sementara itu, Naruto terus melanjutkan pembicaraan. Sasuke mungkin memang orang yang cukup membosankan untuk diajak berbincang, tapi entah kenapa setiap kali pemuda itu menjawab, Naruto seperti tidak ingin berhenti untuk mengeluarkan suara.
.
.
.
Di sepetak tanah kosong, di belakang bangunan tua.
Satu musuh yang tersisa jatuh setelah mendapat tinjuan keras pada tulang hidungnya.
"Ha! Lemah seperti perkiraanku," Kyuubi mendengus. Matanya melirik sinis, menatap sekerumunan manusia yang berjatuhan tepat di hadapannya.
"Kita memang tidak pernah kalah 'kan?" Kakuzu meliriknya melalui ekor mata sebelum kembali fokus merogoh saku celana mahasiswa Universitas Oto yang kalah dalam pertarungan. Tck, tidak banyak yang bisa di dapat, batinnya kesal. "Kalian yang hanya bermalas-malasan tidak akan mendapat komisi dariku, ingat itu!" tambahnya, melirik Hidan dengan kesal.
"Hei, aku sudah kelelahan menghadapi mereka tahu!" mencoba protes, Hidan berteriak keras. "Kau pungut saja apa pun yang bisa diambil, itu bagianmu. Dan biarkan aku beristirahat," laki-laki itu melirik jengah, kemudian mendudukkan dirinya diatas punggung salah satu korban yang pingsan.
Pain, selaku ketua geng, memutar matanya bosan. "Sudah, selesaikan dengan cepat Kakuzu. Aku tidak ingin ada sesuatu yang terjadi jika kita berlama-lama disini," katanya datar, lalu matanya beralih pada si rubah betina. "Ada luka pada pelipis dan bahu kirimu," ujarnya seraya menunjuk luka tersebut. "Konan, obati dia!"
Kyuubi menggeleng. "Tidak. Ini bukan masalah besar," katanya dengan nada kalem, sesaat kemudian dia beralih pada Kakuzu. "Aku tidak minta banyak, hanya sekardus apel untuk cemilan di markas," ujarnya santai. "Dan aku tidak menerima penolakan!" tambahnya lagi seraya memicing tajam.
Kakuzu yang hendak melayangkan protes lantas berdecih kesal. "Selalu seenaknya sendiri," desisnya menggerutu sebelum kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Kyuubi mengangguk senang ketika tidak mendapati kalimat sanggahan dari si mata duitan. "Ah ya, kurasa aku harus pulang sekarang," wanita itu melirik Pain dan Konan sesaat. "Kalian tahu aku tidak bisa mempercayakan Sasori untuk menjaga Si Kucing kecil," ujarnya seraya tersenyum samar.
Konan mendengus geli. "Yakin tidak ingin berpesta bersama kami? Kupikir kau akan senang dengan banyaknya apel lezat yang disediakan untukmu," godanya dengan nada jenaka, lantas terkikik geli ketika menyaksikan wajah tersiksa si sulung Namikaze.
"Jangan menggodaku Konan!" seru Kyuubi kesal, matanya menyipit dengan kilatan tajam. "Sudah, lebih baik aku pulang!" tambahnya seraya berbalik. Jika sampai dia terlalu lama berada disini, bukan tidak mungkin otaknya berkhianat dan memilih menerima ajakan si setan biru.
Konan tertawa lebar. "Hati-hati di jalan Kitsune sayang. Dan jangan lupa kirimkan salamku untuk Si Kucing pirang," ujarnya seraya melambai.
.
.
.
Kyuubi melangkah dengan terhentak. Bagus, sekarang pikirannya sudah beralih fokus pada perkataan Konan tentang apel merah menggiurkan. Otaknya secara otomatis hanya menampilkan gambar-gambar benda merah yang berkilauan itu. Sukses besar membuat si rubah betina bimbang dengan keputusannya sendiri.
Rasanya tidak masalah jika dia bergabung dengan Akatsuki.
Tapi, siapa yang akan menjaga Naruto dan Sasori? Dia jelas tidak bisa mengharapkan Minato karena si kepala keluarga lembur malam ini.
Gah, kepala Kyuubi pusing!
Dan bertambah tiga kali lipat lebih pusing ketika telinganya menangkap gelombang suara cempreng itu.
"Nii-san?!"
.
.
.
Itachi kelimpungan. Dia tidak bisa mendapati kepala si buah hati kemanapun dia mencari. Sebenarnya seberapa luas Super Market ini?! Dan kenapa dia tidak menyadari ketika Shiro tidak lagi menggenggam tangannya?!
Anak nakal! Batinnya mengupat.
Tuntas memutari seluruh lorong Super Market, Itachi berniat meminta bantuan kepada petugas bagian CCTV. Mungkin saja anaknya berada di suatu sudut tempat ini, dan hanya CCTV yang bisa membantunya.
Mengangguk sekilas, Itachi dengan tergesa melangkahkan kaki. Tapi, disaat Itachi menangkap suatu bayangan familiar menerobos pintu keluar, pria itu mematung.
Sialan, itu anaknya!
Seketika, raut cemas seorang Ayah yang semenjak tadi terpasang pada wajah Itachi, berubah suram. Terlihat sekali jika sosok sang Ayah sedang dilanda kesal berat. Tunggu sampai kita pulang ke rumah, Nak. Tunggu!
Itachi berniat mengejar si anak nakal, namun otaknya masih berpikir waras untuk tidak membawa serta barang belanjaannya. Bukannya mendapatkan si anak, dirinya malah dituduh mencuri dan berakhir adu otot dengan Security.
Berbalik, dirinya berjalan kearah meja kasir. Pria itu mencatat; setelah ini kurung saja Shiro di dalam kamar ketika dia hendak berbelanja.
.
.
.
Kyuubi memasang wajah datar. Oh, sekarang dia memilih percaya pada Sasori untuk menjaga Naruto. Dan dirinya mungkin tidak perlu berjalan pulang karena berpesta dengan anggota Akatsuki.
Tapi penyesalan selalu datang paling akhir, bukan?
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Nii-san disini," sosok bocah yang Kyuubi kenal bernama Shiro dan keturunan Uchiha, melangkah mendekat. "Sepertinya takdir sudah menuliskan jika aku dan Nii-san memang berjodoh," tambahnya riang dengan senyuman polos.
Kata-kata macam apa itu?! Kyuubi menjerit kaget dalam hati. "Apa mau mu, Bocah?" tanyanya setelah sukses menenangkan diri. "Jangan menggangguku untuk hari ini. Aku sedang tidak berminat meladeni setan kecil," tambahnya sinis, membuang pandangan kearah berlainan.
Lama menunggu, dan Kyuubi tidak mendengar balasan dari Shiro. Menekuk dahi dalam, wanita itu lantas menoleh untuk melihat wajah si bocah. Dan terlihatlah raut serius seorang Uchiha, menatap dirinya dengan mata memicing disertai wajah tegang.
"Kau kenap-"
"Ada apa dengan pelipis dan bahu kiri Nii-san? Kenapa bisa terluka?" Shiro mendongak lebih keatas, menatap langsung sepasang manik Ruby. "Kenapa tidak langsung diobati? Dan siapa orang yang membuat luka itu? Apa orang jahat? Dia masih di sekitar sini?" tanyanya dengan nada serius, wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seorang bocah yang dilanda khawatir, tapi Kyuubi bisa menangkap jelas kilatan cemas dalam sepasang manik hitam itu.
Kyuubi terdiam, dirinya tidak menemukan suara untuk mengeluarkan kata-kata. Shiro yang seperti ini entah kenapa menimbulkan sedikit sensasi aneh dalam dadanya. Seperti ada suatu bagian di dalam sana yang melonjak senang, tapi akal sehatnya segera menghapus itu semua secara singkat.
Kyuubi menggeleng, lalu menatap si bocah tajam. "Apa pedulimu, Bocah? Dan dengar, jikapun seandainya memang penjahat yang membuat luka ini, bukan aku yang kalah, tapi dia yang akan menyesal," tambahnya sinis. Mengangkat sedikit dagunya, membanggakan diri.
Shiro terdiam, perkataan Kyuubi yang panjang lebar tidak sama sekali merubah raut wajahnya. "Nii-san harus diobati. Jika tidak nanti bisa infeksi," ujarnya seraya melangkah mendekat, meraih pergelangan tangan Kyuubi.
"Hei! Aku tidak butuh rasa pedulimu, Bocah!" ujarnya berupa raungan. Peduli setan dengan banyaknya orang yang memperhatikan mereka kini. "Jangan paksa aku melakukan tindak kekerasan pada bocah ke-"
"Shiro-kun? Tou-san mencarimu kemana-mana dan kau disini bersama-…"
Onyx dan Ruby bertemu tatap.
"Oh, Kyuubi Namikaze, bukan? Senang bisa bertemu kembali," ujar Itachi dengan senyum kecil, lalu menoleh pada si anak nakal. "Tou-san tahu kau menyukai Nee-san ini, tapi tolong, pedulikan Tou-san yang kelimpungan mencarimu," tambahnya seraya melebarkan senyum, nyaris terlalu mengerikan untuk senyuman sesosok manusia.
Kyuubi merinding. Melihat senyum Itachi sukses mengingatkannya pada sang Otou-san saat dilanda murka besar.
Selang waktu panjang, dan jawaban yang Itachi tunggu tidak lantas terdengar, hanya ada wajah serius Shiro yang tertangkap indra penglihatannya. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya dengan nada khawatir, tidak di setiap saat Itachi bisa melihat wajah serius itu, pasti ada sesuatu yang terlewatkan olehnya.
"Apa Tou-chan bisa membantuku?" Shiro menatap sang Ayah datar. "Jika boleh, tolong seret Nii-san ini ke apartement kita, obati lukanya Tou-chan."
Kyuubi berkedip. Apa yang baru saja bocah ini katakan? "Oi, harus berapa kali ku katakan aku tidak butuh rasa pedulimu, Bocah. Lagipula aku bisa mengobati luka ini sendiri!" protes keluar spontan. Kenapa anak ini terlalu berlebihan hanya karena luka kecil?
Itachi memperhatikan Kyuubi sejenak, menekuk dahi dalam ketika mendapati luka di bagian pelipis dan bahu kiri wanita itu. "Kau benar Shiro-kun, luka-luka itu harus segera diobati," dia melirik si anak sesaat. "Tapi menyeret Nee-san ini sepertinya bukan jalan yang bagus, coba cara yang lainnya saja," tambahnya serius.
Shiro berpikir keras, sesaat kemudian dia melirik Kyuubi tajam. "Nii-san, jangan keras kepala, ikut saja dengan ku dan Tou-chan, oke?"
Kyuubi menaikkan sebelah alisnya. "Apa? Kau ingin mengancamku?" tanyanya menantang. "Jangan harap, Bocah. Aku tidak akan ikut bersamamu dan Ayah keriputanmu itu."
Ujung alis Itachi berkedut. Apa yang baru saja wanita urakan ini katakan tentang dirinya? Keriput? Hinaan macam apa itu? Dan lagi, apa-apaan wajah anaknya? Bocah ini ingin berpotensi menjadi anak durhaka 'kah?
Hidung Shiro kembang-kempis, hinaan Kyuubi pada Ayahnya sukses membuat wajah seriusnya lenyap seketika. Oh Tuhan, dia memang tidak salah menyukai orang ini. "Pffftt-su-sudah, Nii-san tidak punya pilihan, aku tidak mau tahu," bocah itu kembali menatap si rubah tajam, sebelum sesaat kemudian mengulas senyum manis. "Atau mungkin kita bisa mengulangi sesi ayah-muda-meninggalkan-anak yang pernah kita perankan saat di taman kemarin?"
Kyuubi mendelik. Bocah ini sungguhan mengancamnya? "Hah! Ancamanmu tidak mempan, Bocah. Perlu ku ingatkan, atau kau bisa melihat sendiri pria yang mirip denganmu itu?" tanyanya penuh sarkasme, melirik Itachi dengan sinis.
Shiro memasang wajah pongah, sama sekali tidak tertekan. "Oh, jadi Nii-san berharap aku mengganti peran kita menjadi ibu-berandalan-pelepas-tanggung-jawab? Boleh saja jika Nii-san tidak keberatan."
Mata Kyuubi melotot, selaras dengan Itachi yang tersedak ludah sendiri. "Apa?!" jerit mereka bersamaan. Sesaat kemudian mereka bertatap mata, sebelum kembali menoleh pada si bocah setan. "Jangan bercanda, Bocah!" Kyuubi yang pertama berseru kesal. "Tidak akan ada yang percaya jika aku ini wanita! Dan kau! Sejak kapan kau mengetahui genderku?!"
Shiro mengedikkan bahu ringan. "Kapan aku tahu itu tidak penting," ujarnya seraya mengibaskan tangan. "Dan untuk peran seorang Ibu, sepertinya Nii-san lupa jika wajah Nii-san tetaplah wajah seorang wanita," tambahnya disertai seringai.
Itachi menatap Kyuubi teliti, memperhatikan. Wajah itu memang cukup sangar, tapi entah kenapa masih terlihat cantik. Dadanya memang hampir rata, tapi ingat, garis bawahi kata hampir. Itachi tidak ingin mengakui ini, tapi anaknya benar. Meski urakan tingkat kronis, Kyuubi tetaplah sejenis kaum hawa.
"Apa yang kau perhatikan, Keriput mesum?!" jeritan Kyuubi sukses membuat Itachi mundur dua langkah. "Berani-beraninya kau! Ingin kutambah garis keriputmu itu, hah?!" tanyanya lagi, murka.
Itachi berkedip, dan ketika sadar, pipinya lantas diwarnai segaris samar merah muda. "Ti-tidak, uh, maksudku, aku tidak bermaksud. Sungguh!," dia menoleh pada si anak. "Ini semua salahmu, Shiro-kun!" ujarnya berupa geraman.
Shiro memasang tampang tidak peduli. "Jadi bagaimana Nii-san?" dia tersenyum manis ketika Kyuubi mempelototinya penuh dendam. "Baiklah, kurasa Nii-san lebih suka aku berakting menjadi anak cengeng," tambahnya seraya menggeleng pasrah. Sedetik kemudian dia menarik napas dan-
"Oke. Oke. Aku ikut denganmu!" Kyuubi cepat-cepat membekap mulut si bocah Uchiha. "Sialan kau bocah! Jangan harap aku tidak akan membalas semua ini," katanya berdesis, tubuhnya diselimuti aura suram.
Shiro memasang senyum sumringah. "Kalau begitu kita tidak boleh berlama-lama," ujarnya seraya menarik tangan Kyuubi. "Cepat Nii-san, Tou-chan, kita menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengobrol tadi," tambahnya lagi, kini meraih tangan Itachi dan menyeret mereka berdua untuk berjalan bersisian dengannya.
Jika diperhatikan lebih teliti, mereka terlihat seperti keluarga. Dan jelas ini hanya berlaku bagi beberapa orang yang menyadari gender Kyuubi. Sedangkan untuk beberapa lainnya, mungkin mereka akan berfikir jika Itachi dan Kyuubi adalah pasangan Gay dengan Shiro sebagai anak pungutan.
Ah, manusia dan prasangkanya.
Shiro berguman riang. Kyuubi memasang wajah risih dan Itachi tetap ingin mempertahankan tampang datar milik Uchiha. Pria itu menoleh sesaat pada anaknya, tersenyum samar ketika melihat tingkah kekanakan Shiro, sebelum beralih pada wanita urakan disisi lain sang bocah.
Kedua manik berbeda warna itu kembali bersitatap, lama. Sampai akhirnya, Kyuubi menjadi yang pertama memalingkan wajah.
.
.
.
Kyuubi disuguhkan secangkir teh, tapi dia tidak sedang bertamu, maka jangan harap dia akan menyentuh cangkir itu.
Shiro duduk pada sofa panjang disebelahnya, menatap Kyuubi dengan nyaris tidak berkedip. Apa yang bocah itu pikirkan, Kyuubi tidak tahu, dan jelas dia tidak akan pernah sudi untuk ingin tahu.
Itachi sedang tidak disana, dia memilih untuk minggat dan mencari kotak P3K yang menghilang. Pria itu menjelaskan jika Shiro memang bocah nakal yang suka memindahkan barang-barang. Sebelumnya dia sempat bertanya pada Shiro dimana dia meletakkan kotak itu, tapi si bocah hanya menggeleng dengan tampang sepolos anak beruang.
Sepertinya Kyuubi memang sedang ketiban sial.
"Ah, aku menemukannya!" seruan Itachi yang Kyuubi tidak tahu asalnya dari mana, memasuki gendang telinganya. Sesaat kemudian terdengar derapan langkah, dan si pria keriputan muncul tak beberapa lama setelahnya. "Shiro-kun, apa yang kau pikirkan saat meletakkan kotak ini dalam mesin pencuci piring, hm?"
"Ah, sekarang aku ingat!" satu-satunya bocah disana bertepuk tangan kekanakan. "Aku terpaksa meletakkannya disana karena aku tidak punya tempat bagus untuk menyimpan pensil wanra baru yang Tou-chan belikan," jelasnya seraya tersenyum polos, yang bagi Kyuubi itu sangat disengaja untuk dipolos-poloskan.
Ujung bibir Itachi berkedut. Dia tidak tahu anaknya ini sebodoh apa, tapi yang jelas alasan itu benar-benar tidak bisa diterima jika yang mengucapkannya adalah seorang Uchiha. "Baiklah, kita lupakan saja yang itu," ujarnya singkat, kemudian beralih pada Kyuubi. "Biar ku obati lukamu."
"Tidak!" Kyuubi berseru, terlalu cepat. "Aku bisa mengobati diriku sendiri," tambahnya menjelaskan, merebut kotak P3K dari tangan Itachi, lantas segera membukanya. Memilah-milah barang yang dibutuhkan, dan kepalanya blank seketika.
Oh Tuhan, sekarang Kyuubi ingat jika dia tidak pernah berurusan dengan barang-barang ini. Selalu Naruto atau Konan yang mengobatinya. Melilitkan perban rasanya dia juga tidak mengerti, yang mana obat merah dia juga sepertinya lupa wujud dari benda itu. Yang dia tahu hanya alkohol itu warnanya putih.
Apa yang harus kulakukan?! Kyuubi panik mendadak.
"Kenapa Nii-san?" Shiro menelengkan kepala bingung. "Apa ada yang salah? Atau obatnya habis?" tanyanya lagi seraya turun dari tempat duduknya, ikut memeriksa benda-benda dalam kotak P3K.
"Tou-san ingat jika obat merahnya masih ada. Alkohol dan kapasnya juga," Itachi menimpali, ikut memeriksa. "Nah, ini ada obatnya," tambahnya seraya menunjuk botol obat merah, kapas dan alkohol.
Kyuubi yang mengikuti arah tunjuk Itachi mengangguk mengerti. "Ah, tidak ada apa-apa. Kalian menyingkirlah," dia mendorong Shiro dan Itachi menjauh. "Biarkan aku mengobati diriku sendiri," tambahnya terdengar tajam.
Itachi dan Shiro mengangguk patuh, kemudian duduk bersisian, memperhatikan Kyuubi dalam diam.
Sedangkan sosok yang diperhatikan mulai berkeringat dingin. Kyuubi mencoba mengingat-ingat bagaimana proses Naruto mengobatinya. Pertama adalah meneteskan alkohol pada kapas dan mengoleskannya pada luka.
Kyuubi mengikuti gambaran yang terputar dalam kepalanya. Dia meneteskan alkohol pada kapas dan mulai menyapukannya pada luka. Itachi memperhatikan gerakan wanita itu yang sedikit kikuk.
Shiro geram melihat kerja Kyuubi yang terlalu lamban.
Selanjutnya mengoleskan obat merah pada luka. Kyuubi mengangguk ketika suara dalam kepalanya menuntun gerakannya.
"Sudah! Cukup!" Itachi mengangkat satu tangannya, wajah pria itu terlihat kaku. "Kemarikan obatnya! Biar aku yang mengobati," tambahnya terdengar kesal.
Shiro mengangguk terlalu kuat.
"Apa?!" Kyuubi jelas mengeluarkan protesan. "Aku bisa mengobati diriku, tahu," tambahnya kesal.
"Memang, dan itu membuat gusiku ngilu," Itachi berdiri cepat, merebut kapas dan botol obat merah dari tangan Kyuubi. "Diam saja, jangan banyak mengoceh!"
"Siapa yang mengoceh?!" Kyuubi bertanya dengan nada tinggi, tapi tidak menepis tangan Itachi yang mulai mengoleskan obat merah pada lukanya. Dia akui, mengobati diri sendiri, apalagi tidak berpengalaman sepertinya, itu menyusahkan.
"Hn" Itachi hanya membalas berupa gumaman. Tangannya bergerak cepat, menutupi luka di pelipis Kyuubi dengan kapas dan merekatkannya dengan plaster. Sedetik kemudian dia beralih pada luka di bahu si wanita urakan.
Itachi memutari sofa, membungkuk sedikit untuk mengobati luka Kyuubi. Dia memperhatikan jika luka itu seperti sayatan pisau, atau mungkin memang sayatan pisau?
Dia ingin bertanya, tapi diurungkan. Simpan pertanyaan itu untuk nanti, sekarang fokuskan perhatian untuk mengobati luka.
Itachi menyibak sedikit pakaian bagian leher yang Kyuubi kenakan, mulai membersihkan luka itu dengan alkohol. Wajahnya terlihat serius, Kyuubi memperhatikan melalui ekor mata. Dan ketika masih dalam proses membersihkan, ujung jari Itachi tidak sengaja bersentuhan dengan kulit mulus si wanita jejadian.
Gerakan terhenti seketika, selaras dengan Kyuubi yang melotot disisinya. Harap ingat jika wanita ini sangat sensitive dengan sentuhan, buat pengecualian pada sentuhan yang sejenis dengan pukulan.
"A-a-apa yang…?!"
"Maaf," Itachi berdehem, mulai meraih kapas baru dan meneteskan obat merah. "Lupakan itu. Aku hanya tidak sengaja," ujarnya dengan nada monoton, berbanding terbalik dengan jantungnya yang kini berdegup kencang.
Kyuubi diam, kemudian mendongak, memilih memandang jam dinding yang kini menunjukkan pukul setengah delapan malam. "Hm."
Shiro yang terlupakan, memasang senyum sejuta makna.
.
TBC
.
A/N : Yosh, akhirnya update! #diRajam. Gomennasai minna, saya tahu jika updatenya memang sangat keterlaluan lamanya #pundung.
Oke, seperti biasa, sebelum saya mengakhiri AN ini. Saya akan jawab beberapa pertanyaan^^
Kapan Sasu jatuh cintrong sama Naru? : Masih dalam prosesnya, Sayang^^. Tungguin yang sabar ya.
Even ItaKyuuShiro? : Tuh, diatas^
Ada yang kebingungan dengan alur cerita ini? : Jangan sungkan untuk bertanya, Honey. Author sarap ini akan menjelaskan sedetil yang bisa ia jelaskan #senyumGeje.
Oke, sepertinya hanya segitu dulu. Mohon maaf atas segala kekurangan^^
Big Thanks to :
Uchiha Annnie | Ale Genoveva | Rin SafOnyx | Daniel(titik)Sandra | Harpaairiry | Za666 | QuEE lu-VIZ | choikim1310 | Zora Fujoshi | Mimo Rain | Guest | Kris hanhun | HiNa devilujoshi | Aiko Vallery | Dwi341 | nurhasanah(titik)putri(titik)146 | Indah605 | Dewi15 | kaiLa wu | Arina Marioka | Hany Hyuuga | DheKyu | Guest(2) | uzumaki megami | Michiyo Oh | Nohara Rin(titik)chan | Vivinetaria | Sasunaru | alysha stewart |dwi2 |christinejoannita | Hiori Fuyumi | noname | Rizbas
Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama…
#WeDoCareAboutSfN
Review?
