Naruto © Masashi Kishimoto

Warn : Gender Switch, AU, OOC, OC, typo(s), etc.


Hope u enjoy^^

Miss Stalker © Uchy Nayuki

Ch7 : Sasuke Suka Kau!

.

Sumpah, jauh dalam hati kecil Kyuubi, dia sudah tidak betah duduk berlama-lama di sini.

"Ah, Nii-san? Bagaimana jika aku memanggilmu Nee-san saja? Nii-san wanita 'kan?"

Bocah ini sebenarnya sudah keterlaluan.

"Tou-chan. Kita ajak Kyuubi-neesan makan malam di sini, boleh? Wanita 'kan tidak baik pulang sendiri malam-malam."

"Hm, tentu. Tou-san setuju denganmu."

Oh, dan tambahkan Si Keriput itu dalam daftar orang yang ingin Kyuubi remukkan wajahnya.

"Setelah makan malam sepertinya kita harus mengantar Kyuubi-neesan pulang. Aku takut terjadi apa-apa dengannya."

"Tou-san ada di belakangmu!"

"SUDAH. HENTIKAN!" Kyuubi angkat tangan tinggi-tinggi. Oke, dia menyerah. Dua orang ini benar-benar membuatnya depresi bahkan dalam waktu kurang dari 15 menit. "Kalian ini sebenarnya maunya apa? Sungguh, aku akan merasa jauh lebih berterimakasih jika aku boleh pulang sekarang. Nah, Shiro, bocah baik, bisa tolong bukakan pintunya?"

Shiro meringsut, merepet ke arah lengan sofa. Bocah itu menggeleng seraya meremat sesuatu dalam kantong celana pendeknya. "Tidak bisa! Nee-san baru boleh pulang setelah makan malam di sini. Iya 'kan, Tou-chan?"

Dan di belakang counter dapur, masih dengan sibuk mencincang lobak, terdengar suara sang Ayah yang menyahut. "Benar, Shiro-kun. Jangan biarkan dia mengambil kuncinya darimu!"

Shiro menoleh kembali, mengangkat dagunya tinggi seakan mengatakan : dua lawan satu, aku yang menang!

Kau cari mati, Nak.

"Kemari kau, Bocah!"

"Guuyaaaa!" Shiro melompati sofa dalam aksinya menyelamatkan diri. "Tou-chan, selamatkan aku!" kemudian menjerit saat Kyuubi hampir saja menangkap kerah baju belakangnya.

"Mati kau! Mati kau!" mata Kyuubi berkilat mengerikan, masih kekuh dalam usahanya mengejar Shiro, bahkan walau harus merangkak ke bawah meja, atau melompati setiap jejeran sofa, dia tidak akan berhenti sampai dia bisa menangkap bocah sialan itu.

Sampai pada akhirnya: "Hap! Kena kau, Bocah tengik!" dia menjepit telinga Shiro yang nyaris mengelinap di himpitan sofa. Lalu seringai muncul, cukup untuk membuat Shiro berkeringat dingin.

Kyuubi menuntun bocah itu berdiri, kemudian mengangkat telapak tangan. "Kemarikan kuncinya!" matanya berkilat, seakan menjanjikan sebuah hukuman mengerikan jika bocah itu tidak menurut.

Dan bukan Shiro namanya jika gentar begitu saja. "Tidak akan! Tidaktidaktidak!" bocah itu menggeleng, nyaris terlalu kuat sampai-sampai Kyuubi ngeri sendiri melihatnya.

Kepalang kesal, tangan Kyuubi rasanya gatal ingin melakukan sesuatu. "Tapi kau harus!" dan dia memang tidak mengacuhkannya.

Sementara itu, seorang pria dewasa yang semua bulu kuduknya nyaris berdiri, melirik waspada lewat bahu. Niat hati ingin menjadi Hero untuk si anak tercinta, tapi urung saat melihat wajah murka si rubah betina.

"Berjuanglah, Shiro-kun."

.

.

.

Sebenarnya, walau Sasuke jelas-jelas akan menyangkal, ada saat-saat dimana otaknya dengan sangat sialan memikirkan tentang keluarganya, Kakaknya, Ayah-Ibunya, juga Shiro, menjadi keluarga utuh sama seperti setahun lalu. Saat dimana rumahnya menjadi tempat yang dia pikirkan ketika jam-jam menjelang pulang sekolah, atau ketika Shiro yang menyelinap ke kamarnya setelah menonton film horor Jumat malam, atau ketika bocah itu dan Itachi menertawainya yang sedang menyiram bunga sang Ibu yang meminta tolong. Tidak ada satu inci pun dari semua itu yang tidak disukainya.

Sasuke bahkan sering berpikir, dengan semua kesempurnaan yang memenuhi rumah mereka, kenapa Ayah dan Ibunya menjadi pihak yang seperti tidak pernah merasa cukup?

Dia tidak ingin menyalahkan Ayahnya yang seorang gila kerja, atau Ibunya yang terlalu banyak menuntut, atau Itachi yang lelah menjadi pihak penengah. Dia mengerti. Sampai sekarang dia pun masih mencoba mengerti.

Tapi apa yang bisa dilakukan bocah sepertinya? Selain merasa kesal dan muak, dia tidak mengerti harus bagaimana. Naïf rasanya saat dia memasang wajah datar di depan banyak orang ketika dia pikir dirinya masih terlalu kekanakan. Dia berbeda dengan Itachi yang bisa mengatasi emosinya, atau Shiro yang entah kenapa terlihat tidak terlalu peduli selama dia masih bersama Ayahnya. Keahliannya hanyalah memakai topeng.

Dan ketika dipikir lagi, sepertinya dia kalah tegar dengan si kecil Shiro.

Bocah itu bahkan tidak pernah merengek kepada Ayahnya tentang seorang Ibu atau semacam itu, dia hanya pernah menanyakannya sekali, itu pun sekitar dua tahun lalu. Dan saat Sasuke menyuarakan pendapatnya kepada Itachi perihal dia yang sebaiknya menikah lagi, bukan untuk pria itu, tapi untuk Shiro, Kakaknya hanya menjawab; "Tidak ada wanita yang cukup baik untuk menjadi Ibu dari anakku." Dengan ekspresi datar yang terkesan tidak peduli. Sasuke ingin mengatakannya egois, tapi dia tidak bisa mengadili Kakaknya dengan ungkapan semacam itu.

Dia tahu Itachi hanya mencari-cari alasan, pria itu mengatakan ini-itu dengan menyeret nama Shiro padahal masalah utamanya adalah dirinya sendiri. Itachi hanya tidak ingin menikah dengan orang yang bukan pilihannya. Tanpa ungkapan Sasuke tahu itu dari dulu, dan semakin kesini sepertinya dia mulai mengerti tentang pemikiran kolot Kakaknya yang mungkin tidak berbeda jauh dengan dirinya sendiri.

Tidak menikah dengan orang yang tidak kau cintai…

Dasar Itachi sialan. Kau menularkan prinsip menjijikkan itu padaku!

Dan mungkin memang hanya Shion-san wanita di dunia yang punya cukup banyak ketidakberuntungan sehingga bisa berakhir dengan Si Itachi Keriput Uchiha itu.

Tapi bisa saja akan ada wanita lain yang sama tidak beruntungnya seperti Shion-san. Dan Sasuke tidak sabar untuk tahu siapa itu.

Dan, uh, bicara tentang wanita, sebenarnya ada satu hal yang mengganggu Sasuke dari beberapa detik lalu.

"Kau Bocah tengik seharusnya sadar siapa lawanmu!"

"Hiiyaaa! Jangan di situ!"

"Masih tidak mau mengaku kalah?"

"Hah? Bermimpilah!"

"Dasar kau Bocah kurang ajar!"

"Guuyaaa!"

Yang di dalam itu suara wanita 'kan? Hanya saja… siapa?

"Shiro-kun, berjuanglah nak!"

"Tou-chan, selamatkan aku!"

"Berani mendekat, ku kebiri kau!"

Uh, mereka heboh sekali.

Sasuke diam, dia bahkan tidak tahu sedang memasang wajah seperti apa sekarang. Kalau begini Sasuke jadi tidak ingin mengganggu permainan mereka, tapi dia harus masuk dan tidur. Sasuke sudah cukup lelah hari ini.

"Haah, kalau begitu anggap saja mereka kacang," pemuda itu menggumam malas, lantas merogoh kunci serep dalam saku celananya. Saat dia memutar knop pintu, dengan jelas dia mendapati suasana di dalam mendadak sunyi. Dan Sasuke hanya memikirkan satu kata : Persetan.

Dan begitu pintu sukses dibuka, dia mendapati Shiro dengan mata berkaca-kaca menatap dirinya dengan pelototan. Menoleh sedikit, ada seorang wanita tomboy di samping bocah itu yang juga menatapnya, hanya saja seperti terlihat terkejut, tapi Sasuke masa bodoh . Lalu ada Itachi di sana yang berkedip, kemudian berbalik mengaduk sup dalam panci dengan sunyi. Dan saat Sasuke merasa sudah cukup mengamati keadaan, kakinya dengan otomatis hendak mencapai pintu kamar sementaranya.

Sebelum satu-satunya wanita di sana berteriak.

"Uchiha Sasuke?!"

Sasuke heran, apa dia memang seterkenal itu?

.

.

.

Tidak jauh beda dengan Sasuke, Itachi pun sebenarnya heran. Dia ingat beberapa detik lalu wanita rubah itu sedang menjahili anaknya dengan menggelitiki si Bocah, sebelum kemudian Sasuke datang dan Kyuubi meneriakkan namanya. Bagaimana Sasuke bisa sebegitu terkenal sementara Kakaknya tidak?! Kurang lebih seperti itulah teriakan merana dari hati Uchiha Itachi.

Tapi, ya, bukan itu masalahnya sekarang.

Masing dengan mengaduk pelan sup kentangnya, Itachi menoleh sedikit untuk mencuri lihat. Dia mendapati Sasuke berbalik dan menatap Kyuubi dengan sebelah alis terangkat, sementara si peneriak tadi terlihat gelagapan, dia menggaruk lehernya canggung, lalu terkekeh pelan.

"Ah, ja-jangan salah sangka. Aku kenal kau karena kau satu sekolah dengan adikku," Kyuubi berdehem dan mulai memperbaiki tatanan duduknya. "Aku hanya tidak menyangka kau ada di sini. Ma-maksudku, apa hubunganmu dengan bocah ini," ujarnya lagi, dan tangannya dengan jengkel menarik pipi Shiro yang terbengong-bengong.

"Kau ingat tadi meneriakkan namaku dengan Uchiha? Bocah yang sedang kau aniaya sekarang juga bermarga Uchiha. Dan yang disebelah sana adalah Kakakku," Sasuke menjawab pelan, lalu melirik Itachi yang dia sadari mencuri pandang. "Nah, dan siapa adikmu yang satu sekolah denganku itu?" dia mengembalikan lagi perhatiannya, kali ini menatap Kyuubi dengan selidik.

Kyuubi terdiam sejenak. Ah, sekarang jelas sudah dari mana Shiro mendapatkan nama itu. Dia cucu dari Uchiha Fugaku, Ya Tuhan! Kyuubi nyaris menjerit karenanya.

"Adikmu?"

Kyuubi berkedip, sekali, dua kali, lalu ketika sadar lantas mengibaskan tangannya malas. "Kau tidak akan kenal dia."

"…"

"Oke, baiklah," Kyuubi memutar bola mata. "Kau kenal Naruto Namikaze, kohaimu dari kelas dua, gadis yang rambutnya pirang, yang cerewet dan menjengkelkan itu? Aku bersumpah demi keriput Kakakmu kau pasti tidak kenal."

Shiro tahu Ayahnya sangat bernafsu mencincang Kyuubi dengan pisau ditangannya sekarang.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, lalu mengangguk pelan. "Ah, dia. Pantas lumayan mirip," ujarnya datar, lalu dia setengah berbalik untuk memutar knop pintu kamarnya. "Dan…," Kyuubi melebarkan kedua mata saat mendapati sudut bibir Sasuke naik dengan samar. "… dia cukup baik."

Lalu Sasuke menghilang di balik pintu kamar.

Meninggalkan Kyuubi yang mulutnya terbuka lebar, lebar sekali, yang mengundang kebaikan hati Shiro untuk menutupnya segera. Tapi kemudian Kyuubi mengerutkan dahinya disertai cengiran lebar.

"Aku harus pulang sekarang."

"Makan malamnya?"

Kyuubi melirik malas, "Aku bisa makan di rumah. Yang terpenting sekarang pokoknya aku harus pulang."

Shiro mengedikkan bahu. "Terlalu terburu-buru. Tapi baiklah, hanya jika Tou-chan menemanimu."

Helaan napas panjang, "Oke, Si Keriput menemaniku," Kyuubi berbalik pada Shiro seraya meremas kepala kecil itu. "Kau benar-benar sialan."

Tapi Shiro hanya tersenyum manis.

.

.

.

"Sebenarnya rumahku tidak terlalu jauh. Hanya sekitar tiga blok dari sini."

"Oh, kalau begitu kita tidak perlu naik taksi, ya?"

Kyuubi meliriknya jengkel melalui ekor mata.

"Hei, aku harus berhemat kau tahu? Ini akhir bulan."

"…" dan berakhir memutar kedua bola matanya bosan.

Itachi terkekeh dalam diam, sekarang dia tahu kenapa Shiro suka mencari rusuh dengan wanita ini, ternyata memang cukup menyenangkan.

Tapi lalu dia heran saat mendapati Kyuubi memperhatikannya melalui lirikan samar.

"Ada apa?" tanyanya.

Kyuubi mengedikkan bahu, kemudian menyilangkan kedua tangan dibelakang kepala. "Kau, Shiro, dan Sasuke itu ternyata cukup terlalu mirip. Sial sekali aku baru menyadarinya sekarang."

Itachi mengangkat sebelah alisnya penasaran. "Apa saja yang adikmu katakan tentang adikku?"

Kyuubi menyeringai kecil, lalu dengan santai memutar balik badan dan berjalan dengan membelakangi trotoar. "Sasuke-senpaiteme yang menyebalkan, sialan, wajah nampan, tidak punya perasaan, yah hal-hal yang semacam itu."

Perkataan Kyuubi dengan sukses membuat sudut bibir Itachi berkedut hebat. "Begitukah?" wanita di sampingnya mengangguk dengan semangat. "Kurasa adikmu gadis yang cukup realistis. Dibanding menyukai adikku seperti yang biasa dilakukan teman-teman gadis Sasuke, dia malah mengatainya dengan begitu menyakitkan. Aku harus mengatakan : Wow!"

Kyuubi tertawa lebar, cukup menganggap lucu tanggapan yang diberikan Itachi. Tapi lalu dia terkejut ketika kepala belakangnya mengenai sesuatu.

Dia berbalik, lalu melotot kepada telapak tangan Itachi.

"Aku harus menghentikanmu sebelum kepalamu membentur tiang listrik," Itachi menarik tangannya kemudian nyengir kecil. "Kurasa kau tidak akan mau kepalamu benjol, hm?"

Kyuubi menatapnya lama sebelum mendengus kecil. "Ya, ya, aku perhatikan jalanku." Ujarnya dengan bersungut-sungut. Lalu berbalik untuk berjalan normal. Dia masih banyak bicara setelah itu, bahkan bertanya dimana Itachi berkerja. Dan lantas mengomel sepanjang jalan ketika tahu Itachi salah satu dosen dari Universitas Suna.

"Bagaimana bisa kau menjadi dosen di tempat menjijikkan seperti itu?"

"Berhentilah menjelek-jelekkan Universitas tempatku bekerja."

"Kau harusnya pindah ke Universitas Konoha saja!"

"Nah, aku tidak punya tempat di sana."

"Aku akan mengancam Rektor Hashirama agar menerimamu!"

"Berhentilah bersikap berlebihan, Kyuu."

"Tapi kau-" Kyuubi terdiam panjang, lantas menoleh pada Itachi dengan gerakan patah-patah. "Ka-kau… bilang apa tadi?"

Itachi mengernyitkan dahinya bingung. "Berhenti bersikap berlebihan?" ujarnya tak yakin.

Kyuubi menggeleng. "Bukan, bukan yang itu. Ma-maksudku, kau memanggilku dengan… dengan, yah, dengan namaku tapi, ungg…" Bagaimana bisa kau memanggilku dengan sok akrab begitu?! Kyuubi ingin berteriak seperti itu sebenarnya.

Itachi berkedip sekali, dan lantas melebarkan mata saat tahu apa yang sudah dikatakannya. Sepintas serbuk merah muda terlihat menaburi pipi putih nyaris pucat itu. "Ugh, oh, ya-yang itu. Mmm, itu kurasa hanya, uh… refleks. Yah, hanya ref-"

"Kyuu-nee?"

Itachi menoleh cepat, lalu mendapati sesosok bocah berambut merah yang berdiri di depan pagar sebuah rumah, sebelah tangannya terlihat menenteng seongok kertas kresek hitam yang besar.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Itachi melihat bocah itu menyipitkan mata ke arah Kyuubi, sebelum berbalik kepadanya. "Dengan seorang pria asing?"

Yang ditatap hanya berdehem singkat seraya mengalihkan pandangan.

Dia mendengar Kyuubi berusaha menjelaskan. "Uh, Sasori, sebenarnya dia ini-"

"Pacarmu?"

Itachi bisa merasakan matanya seperti ingin meloncat keluar. Tapi sebelum sempat menyuarakan teriakannya, Kyuubi terlebih dahulu menjerit horror.

"Hei, yang benar saja! Dia ini duda kau tahu? Dan berita baiknya lagi dia sudah punya anak!"

"Jadi kau pacaran dengan duda? Sudah punya anak juga?!"

"Ap- Bukan! Ya Tuhan, Sasori, aku tidak pacaran dengan duda, Idiot!" Kyuubi melotot pada si bocah, Itachi baru bisa memperhatikan wanita itu setelah sembuh dari shocknya. Kyuubi berbalik padanya sedetik kemudian. "Nah, sudah, kau pulang sana. Urusan ini biar aku yang menjelaskan," wanita itu lalu terdiam dengan wajah konstipasi berat. "Dan, uh, ini sangat memalukan, tapi… Terima kasih sudah menemaniku dan kau ternyataorangyangcukupmenyenangkanuntukdiajakbicara." Ujarnya cepat, tapi syukurnya Itachi masih bisa menangkap kata-kata itu.

Jadi jangan salahkan dia yang tiba-tiba jadi imitasi patung. Sungguh, Kyuubi baru saja memujinya? Kyuubi yang ini memujinya? Yang benar?

"Uh, y-ya sudah. Aku masuk," Kyuubi melipat bibirnya menjadi satu garis tipis. "Dan, um, se-selamat malam." Lalu tancap gas memasuki rumahnya setelah dengan paksa menyeret bocah tadi bersamanya. Bunyi bedebam keras masih bisa Itachi dengar jelas.

Dugdugdugdugdug…

"…"

Itachi seperti mendengar bunyi genderang. Dan dia berharap itu bukan dari balik dadanya.

.

.

.

"Jadi dia bukan pacarmu?"

Untuk yang kesekian kalinya, Kyuubi menghela napas. Sumpah, Sasori benar-benar seperti ingin menguji kesabarannya. "Bukan, Baka-outoto. Kau mengulang pertanyaan ini sudah duabelas kali, Ya Tuhan!"

Sasori mengangguk singkat. "Padahal menurutku dia lumayan tampan," dia bisa merasakan Kyuubi mempelototinya, "Tapi sayang sekali dia duda, sudah punya anak pula. Jika Otou-san tahu kau pacaran dengannya, dia akan mati lalu jadi arwah penasaran."

Suara geplakan terdengar, lalu pemuda itu mengaduh sekarat.

"Dia. Bukan. Pacarku!"

Sasori mengeram jengkel, "Iya, iya, aku hanya bercanda oke?" dia memutar bola matanya bosan.

"Nah, sekarang di mana Naruto?"

Pemuda itu mengerutkan dahi, lalu rebahan di atas tatami. "Dia di kamarnya. Sudah dari tadi dia seperti jinak begitu. Kerasukan roh Nenek Kaguya mungkin?"

"Jangan bercanda Sasori," Kyuubi meliriknya sejenak, lalu berdiri. "Kau sudah makan?" saat mendengar Sasori menggumam, dia mengangguk. "Apa Naruto menyimpan makan malam untukku? Kebetulan aku lapar."

"Ada di kulkas. Kau panaskan saja sendiri."

Kyuubi baru hendak melangkah ke dapur saat mendengar Sasori bertanya : "Siapa yang mengobati lukamu?"

Dia menyentuh luka di bahunya sejenak, kemudian menjawab : "Teman."

.

.

.

Sudah sejak selesai makan malam tadi, Naruto mengurung diri di dalam kamar. Dia rebahan di atas kasur, kedua tangannya meremat kamera digital Sasori di atas dada. Pikirannya terbang jauh kebeberapa jam lalu saat dia bisa begitu dekat dengan Sasuke.

"Sasuke? Kenapa kau terlihat tidak suka dengan gadis-gadis yang mendekatimu itu?"

"Kenapa bertanya?"

"… hanya ingin tahu?"

"Entahlah. Aku hanya merasa mereka begitu merepotkan."

"Kau benci mereka?"

"Tidak juga. Hanya merasa terganggu."

"Nah, bagaimana denganku? Aku juga mengganggumu?"

"…"

"…?"

"Sedikit. Tapi tidak apa-apa."

Saat itu Naruto hanya bisa mengomfirmasi kata 'sedikit', jadi dia mengomel panjang tentang dia yang bukan seorang pengganggu, dia yang baik hati, suka punya banyak teman, dan bukan seorang Sasuke Fans yang menggelikan itu.

Tapi sekarang, dia tahu jika yang harusnya dia pikirkan itu kalimat 'tapi tidak apa-apa' yang Sasuke katakan. Apa maksudnya? Apa itu semacam Naruto boleh dekat-dekat dengan Sasuke begitu? Sasuke tidak keberatan Naruto mengoceh panjang lebar saat di dekatnya atau apa? Sumpah, lama-lama dia pusing sendiri.

"NARUTO?!"

Naruto terlonjak bangun, matanya melotot ke arah pintu kamar. "Kyuu-nee?!" dia berteriak kesal, lalu mengelus dadanya pelan. "Apa-apaan kau? Jangan masuk ke kamar orang dengan berteriak begitu, Bodoh! Untuk aku bukan penderita gagal jantung!"

"Ya, untung," Kyuubi membeo, cukup terdengar menjengkelkan. Tapi lalu dia masuk dan duduk di kursi belajar Naruto. "Hei, aku bawa berita bagus."

Naruto melirik skeptis, "Berita bagus untukku atau untukmu?"

Wanita di sampingnya memutar bola mata, "Untuk kita berdua," ujarnya. Kemudian dia memasang senyum lebar. "Tapi sebelum itu aku ingin tanya. Apa saja yang sudah kau lakukan pada Uchiha itu? Kau mendekatinya atau bagaimana? Kau sudah dapat fotonya?"

Naruto mengerutkan dahi terganggu, "Belum," jawabnya kecil. "Tapi aku akan mendapatkannya segera," tambahnya yakin. "Sasuke memang cukup non-ekspresi, tapi tidak mungkin dia tidak pernah tersenyum. Aku akan cari tahu apa yang di sukainya, lalu aku akan dapatkan apa yang kau minta."

Kyuubi diam sejenak. Dia yang salah dengar atau memang Naruto baru saja memanggil Sasuke dengan hanya 'Sasuke'? Kapan mereka sedekat itu?

Dia melirik Naruto curiga, tapi tidak menyuarakan pertanyaannya. Memang apa hubungannya itu dengan dia?

"Aku tahu apa yang disukainya," Kyuubi memasang cengiran kecil, matanya menatap Naruto dengan jahil.

"Kau tahu?"

"Ya," dia mengangguk singkat, lalu menatap Naruto lama. "Itu kau."

Naruto terdiam panjang, berkedip beberapa kali, sebelum kemudian menjerit keras-keras.

"Mana mungkin?!"

"Ya mungkin saja 'kan?" Kyuubi menggerakkan tangannya dengan elegan. "Terlebih lagi, aku melihatnya tersenyum…" dia mendekatkan kepalanya ke arah Naruto. "… saat membicarakan dirimu."

Setengah roh Naruto seperti melayang keluar tubuhnya, "Kau pasti bercanda,"

Kyuubi mengangkat sebelah alisnya. "Ingin kuceritakan detail kejadiannya?"

Dan saat mendapati Naruto diam, dia memulai ceritanya yang panjang lebar.

.

.

.

Naruto mempelototi Kyuubi dengan tatapan macan kelaparan.

"Dongeng macam apa itu Kyuu-nee? Sasuke tidak mungkin tersenyum dan bilang aku orang yang baik, iya 'kan?"

Kyuubi membalas pelototannya dengan malas, "Jadi kau menganggap aku pembohong begitu?" tanyanya kesal. "Aku menceritakan kenyataannya, adik tersayang. Jangan menginjak harga diriku dengan menganggapku seorang pembohong."

"Tapi sejak kapan kau kenal Kakak dan keponakannya Sasuke?" Naruto menyipitkan mata curiga. "Dan bagaimana kau bisa begitu dekat dengan mereka? Sampai dipaksa pulang ke apartemen mereka hanya untuk mengobati luka? Itu terdengar berlebihan."

Kyuubi menghela napas panjang, lalu menatap Naruto lama. Dia melipat kerutan dalam di dahinya, "Kau tidak perlu tahu itu kurasa," ujarnya pelan. "Yang terpenting intinya aku tidak berbohong," tambahnya lagi seraya menyunggingkan senyum. "Kau bisa gunakan itu untuk lebih dekat dengan Sasuke dan dapatkan fotonya segera."

Naruto mengerutkan dahi, dia meremas jari-jari tangannya gugup. "Itu terdengar jahat, sepertinya," dia tahu Kyuubi sedang memutar bola mata sekarang. "Aku tidak peduli dia suka padaku atau tidak. Hanya saja, memanfaatkan kedekatan kami seperti itu agak sedikit kurang baik menurutku."

"Ayolah," Kyuubi melipat tangannya di belakang kepala. "Tidak perlu yang muluk-muluk. Berteman saja juga tidak apa-apa," ujarnya santai. "Kau hanya perlu selembar fotonya yang tersenyum. Apanya yang jahat."

Naruto diam. Dia tidak mengiyakan atau membantah pernyataan itu.

"Baiklah, kurasa aku ingin tidur sekarang," wanita itu merenggangkan otot-ototnya dengan malas lalu berdiri. "Selamat malam adikku tercinta," dia melemparkan secuil seringai jahil, kemudian melangkah kearah pintu kamar.

"Kyuu-nee?"

Tapi urung saat Naruto memanggilnya lagi.

"Hm?"

"Menurutmu kenapa Sasuke, Kakak dan keponakannya tinggal di apartemen itu? Bukankah Tn. Fugaku punya rumah besar di sekitar kompleks Sharingan?"

Kyuubi menoleh, dia mengerutkan dahinya dalam. "Entah. Ingin hidup mandiri mungkin?"

Naruto membalas tatapannya dengan sebelah alis terangkat, sangsi.

"Akan kucari tahu," Kyuubi lalu diam dan menatapnya lama, tapi sesaat kemudian dia tersenyum kecil. "Aku punya seseorang yang bisa ditanyai," tambahnya senang, sebelum pergi dengan siulan riang.

.

TBC

.

.

Wah, udah lama gak update ya?/liat tanggal terakhir update/ nyaris genap satu tahun ya ampuuun~!/tepuk tangan/digebukin warga sekampung/

Ahahaha, iya, iya, aku jahat sekali emang/nyadar/tapi daku sepertinya tidak bisa menelantarkan fict ini gitu aja. Kemarin sempat buka-buka email lagi, lalu liatin ada yang ngefollow/fav fict ini padahal udah lama banget gak update. Aku jadi merasa jahat banget. Sorry ya buat yang nunggu/itu pun kalo ada sih ya/ketahuan ngarep :D/

Alasan lama update sih sebenarnya simple aja, lagi gak ada feel sama fandom Naruto soalnya. Lagi suka-sukanya sama fandom-fandom tetangga/keseringan jadi silent reader daku sepertinya/belum lagi nonton marathon anime-anime kece tahun ini, tambahin season terdahulunya lagi/ya ampun ini anak /jadi jangan kaget kalo aku publish fict" fandom lain ya… :p

Yup, chap kali ini mungkin pendek. Tapi chap depannya aku usahain cepet/ ini lagi ngegarep chap 8 soalnya/doain aku gak kena wb lagi ya…

Big thanks : buat semua temen" yang udah review, follow, n fav/aku gak sempet nulis nama kalian satu"/but I luv u all

Salam cinta :

U. N