Crossover Naruto X Anime x Overs
Naruto hanya milik Masashi Kishimoto
Anime-anime lain hanya milik yang membuat animenya. (author mah hanya minjem )
Warning!!! Gaje, banyak Typo, garing plus ga mutu, aneh, banyak eyd yang salah, lime lemon misal kalo ada.
Rate : M
Pairing : Naruto x ?
[ Story by Yamanbagiri Kunihirou ]
Chapter 2
.
.
.
"Kalian membuatku muak!!". Dengan penuh amarah remaja blonde itu berteriak. Ia abaikan rasa sakit tubuhnya. Tangannya memegang sebuah belati berwarna silver dengan erat.
'Holy Blade : Shinji Kaihou'
Tak peduli dengan mana yang hampir habis, ia salurkan ke dalam belati itu membuat belati itu bersinar terang.
"Aku muak dengan penghinaan, aku muak dengan orang yang hanya bisa omong kosong, aku muak dengan ketidakadilan ini!!". Ucapnya dengan marah.
'Holy Destruction'
Ledakan besar terjadi di arena. Banyak dari yang melihat menatap silau ledakan dicampur cahaya yang terang itu.
.
.
Naruto bangun dari tidurnya yang lelap itu. 'Aku ketiduran lagi di ruang OSIS ya'. Sedikit menghela nafas kemudian bangkit meregangkan otot-otot tangannya.
Naruto duduk di kursinya, matanya menatap ke arah depan dengan diam. 'Mimpi itu lagi. Kenapa masa laluku itu terus menghantui tidurku?'. Entahlah dia juga tak tahu apa yang sebenarnya ia alami.
Naruto menggelengkan kepalanya, bukan saatnya untuk memikirkan hal yang tidak jelas. Naruto masih ada pekerjaan lain yang lebih penting daripada melamun tak jelas.
Flashback On
Naruto menatap seorang pemuda bersurai biru tua dengan tatapan serius.
"Ada masalah apa sampai kau menyuruhku kemari dengan cepat?". Tanya pemuda itu.
"Sesuatu yang sangat penting". Balas Naruto.
Pemuda bersurai biru tua itu menaikkan alisnya, "Apa itu?". Tanyanya kembali.
Naruto menceritakan semua yang disampaikan Azazel kepadanya. Pemuda itu merespon dengan tatapan biasa saja dan itu membuat Naruto kesal.
"Oy Oy, kenapa eskpresimu biasa saja Mikazuki!". Kesalnya.
Pemuda itu aka Mikazuki memasang wajah innocent. Senyum masih melekat di wajahnya saat melihat Naruto kesal karena ulahnya.
Mikazuki Munechika adalah seorang Ksatria Pedang, pedangnya sendiri konon dapat membelah sebuah bulan jika ia serius. Mikazuki sekelas dengan Naruto yaitu di Kelas Tingkat A.
"Saa jika begitu, apa yang kau cemaskan Naruto?". Mikazuki sedikit penasaran.
Naruto menghembuskan nafasnya, "Apa pedang yang kutitipkan padamu sudah kau perbaiki?". Tanya Naruto.
Mikazuki memegang dagunya, "Tunggu sebentar...". Sepuluh detik kemudian, "Ah ya aku sudah memperbaikinya". Jawabnya.
Naruto sedikit senang jika pedangnya sudah diperbaiki, "Souka, Arigatou. Bisakah aku mengambilnya".
Mikazuki mengangguk kemudian menciptakan sebuah celah dimensi, tangannya merogoh ke dalam kemudian mengeluarkan sebuah katana tipis bergagang putih.
"Aku tak tau keistimewaan katana ini, tapi jika itu membuatmu tertarik maka sudah dipastikan katana itu memiliki sesuatu yang spesial". Ucap Mikazuki.
Naruto menerima katana itu, ia lihat setiap inci katana itu. 'Bagus seperti baru'. Batinnya menjerit senang.
Pedang itu bukanlah pedang biasa. Pedang itu bernama Chakura no Tsurugi, seperti namanya pedang itu mengandung banyak chakra sehingga dapat menyembuhkan sang pengguna. Tidak hanya itu pedang itu memiliki ketajaman yang mampu membelah sebuah batu besar dengan halus.
"Ah arigatou Mikazuki". Naruto menatap ke arah jendela ruangannya. 'Dengan ini, aku tak harus menggunakan kekuatan itu'.
Flashback Off
Naruto dengan malas berjalan menyusuri koridor-koridor yang masih tampak sepi. 'hoam, masih jam 6 pantas Academy ini masih sepi'.
Naruto melirik ke arah ruangan bertuliskan Kelas A. Dengan malas ia masuk ke kelas itu. Seperti dugaannya masih sepi.
"Hah sepertinya aku terlalu pagi". Naruto menghela nafasnya.
~Gubraakk
Naruto melirik ke arah suara yang menganggunya, terlihat seorang gadis bersurai pirang jatuh terjungkal membuat celana dalam putihnya terlihat.
"Ittai...kenapa aku bisa kesandung sih?". Gadis itu menggerutu sebentar. Ia merasakan nyeri di pergelangan kakinya.
Sebuah derap langkah di depannya membuat gadis itu mendongak, sebuah uluran tangan seorang pemuda bersurai pirang berada tepat di depan wajahnya.
"Mari kubantu". Tawar Naruto dengan tersenyum.
Gadis itu memandang Naruto sebentar, "Arigatou". Ucap gadis itu menerima uluran Naruto.
"Ukh..i-ittaii". Gadis itu menahan nyeri di kakinya, sepertinya pergelangan kakinya keseleo.
Naruto menatap gadis itu sedikit cemas, "Daijobou desuka". Tanya Naruto sambil menyangga tubuh gadis pirang itu agar tak jatuh.
"A-ah gomenasai, sepertinya kakiku terkilir". Balas gadis itu, matanya melihat ke arah kakinya dengan pandangan sendu. 'M-mo..kenapa bisa jadi seperti ini'. Batinnya.
Naruto menatap ke arah kaki gadis itu, "Souka, lebih baik kuantar kau ke ruang pengobatan". Gadis itu menatap Naruto terkejut mendengar tawaran itu.
"Anone..apa tidak apa-apa?". Tanya gadis itu sambil menundukkan kepalanya menahan sesuatu yang muncul di pipi putihnya.
Naruto mengangguk dan tersenyum, "Hm, Daijobou. Aku senang membantu gadis cantik sepertimu". Jawab Naruto.
Gadis itu blushing melihat senyuman Naruto, ia memainkan jari-jarinya tanda gugup.
"Na-namaku Gabriel, aku baru pindah kemarin". Ucap gadis itu memperkenalkan dirinya.
Naruto menaikkan alisnya, 'Tanpa marga kah?'. "Namikaze Naruto, senang bertemu denganmu". Balas Naruto.
"Eto..maaf jika tak sopan, kenapa kau tak memiliki marga?". Mata Gabriel seketika redup mendengar pertanyaan itu.
Naruto merasa bersalah menanyakan hal pribadi dan reaksi Gabriel yang menunjukkan sorot kesedihan. "Ah gomenasai, jangan dijawab jika itu membuatmu sedih".
Gabriel menggeleng, "Iie, Daijobou. Mungkin itu semua karena dari lahir aku sudah berada di panti asuhan".
Naruto menatap mata Gabriel, 'Jadi begitu, dia gadis yang tangguh'.
Gabriel terkejut saat sebuah tangan mengelus kepalanya, "Hm, tidak masalah jika kau sendiri dulu. Tapi, untuk hari ini aku akan selalu bersamamu". Ucap Naruto dengan tersenyum.
Gabriel terdiam kemudian memasang raut lega, "Arigatou". Senyum indah melekat di paras cantiknya.
~Greb
Naruto menggendong Gabriel dengan bridal style. Gadis cantik itu bersemu saat Naruto menggendongnya. Ia merasa malu sekarang.
"Kenapa kau menggendongku Naruto-san?". Tanya Gabriel dengan masih blushing.
Naruto tersenyum tipis, "Bukan apa-apa, melihat keadaanmu sekarang pasti kau susah berjalan".
"Ijinkan aku membantumu Gabriel-chan". Pinta Naruto dengan tulus.
Gabriel merasa nyaman dengan posisi ini, entah mengapa dekat dengan pemuda yang baru ditemuinya ini membuat hatinya menghangat. 'Kenapa detak jantungku semakin lama semakin cepat'.
"M-mooo, baiklah Naruto-san". Ucap Gabriel dengan malu-malu.
Naruto tersenyum senang mendapat persetujuan gadis yang ada digendongannya ini. Matanya melirik ke arah jam yang ada di kelas. 'Masih jam setengah 7 kurang, mungkin sekolah masih sepi'.
Naruto dengan cepat membawa Gabriel ke ruang kesehatan. Untung setiap koridor yang dilewati sepi, jika tidak pasti murid-murid lain pada heboh dan keesokan harinya muncul gosip. Naruto merinding membayangkan hal itu.
Di Ruang Kesehatan
Naruto membaringkan Gabriel di ranjang UKS. Naruto menatap ke Gabriel yang nampak gugup, "Daijoubo, kakimu pasti akan sembuh".
Gabriel mengangguk, "Hai', sekali lagi Arigatou ne Naruto-kun". Ucap Gabriel sambil tersenyum manis.
Naruto mematung, 'senyumnya...indah sekali'. Pipinya sedikit blushing melihat senyum cantik milik Gabriel.
"Ara...ada apa sehingga Ketua OSIS datang kemari?". Sebuah suara dari seseorang membuat Naruto dan Gabriel terkejut. Terlihat seorang wanita bersurai hitam pendek memakai kemeja putih.
"Shizune-sensei?". Panggil Naruto kepada wanita itu.
Shizune melipatkan tangannya di dada, "Hai', ada keperluan apa kau kemari Naruto?". Tanya Shizune.
Shizune melirik ke arah ranjang di dekat Naruto yang terdapat gadis bersurai pirang panjang. "Gabriel-chan kah?".
Gabriel terkejut karena wanita bersurai hitam itu mengenalinya, "Hai' , bagaimana anda bisa tahu?". Tanyanya.
Shizune sedikit tertawa, "Para guru sering membicarakanmu loh dan kebanyakan guru laki-laki". Balasnya.
Naruto mengernyitkan keningnya, 'Apa-apaan itu? Dasar ero-sensei'. Naruto merasa sebagian dari hatinya tak terima dengan ketertarikan pria lain untuk Gabriel selain dirinya.
"Souka, wakatta ne". Gabriel mengangguk mengerti. Ekspresi polos terpasang di wajahnya.
Naruto merasa hatinya berdenyut, 'Cih apaan kau ini Naruto, jangan berpikir aneh-aneh'. Batinnya menyuruh untuk melupakan hal aneh yang ada di hatinya.
"Apa yang terjadi padamu Gabriel-chan?". Gabriel melihat ke arah kakinya. Shizune dengan cepat memeriksa Gabriel. 'Cuman terkilir, tidak luka serius'.
Naruto menatap kedua wanita itu dengan tatapan gelisah, "Ne...aku serahkan Gabriel pada Shizune-sensei. Aku masih ada urusan".
Shizune hanya mengangguk, Naruto segera pergi dari ruang kesehatan. Dia harus menenangkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat. 'Ck, kenapa dengan diriku ini'. Bingung ingin kemana, Naruto memutuskan untuk ke ruang OSIS.
Langkahnya semakin melebar ingin segera cepat sampai ke ruang OSIS. 'Sedikit lagi, kurang sedikit lagi'. Naruto tersenyum saat melihat pintu ruang OSIS terlihat di atensinya.
~Brukk
Karena fokus Naruto hanya pada pintu itu membuatnya menabrak sesuatu. Naruto membuka matanya, 'Eh kenapa lembut sekali'.
"Ahh~". Suara desahan khas perempuan memasuki indra pendengaran Naruto.
'Eh suara gadis? Naniii???'. Naruto melihat tangannya memegang sesuatu yang empuk yang hanya dimiliki kaum wanita.
"GYAAAAA!". Teriak Naruto terkejut jika ia memegang sebuah oppai dari seorang gadis.
Naruto segera bangkit membenarkan posisinya kembali diikuti gadis itu. "Gomenasai gomenasai gomenasai". Naruto bersujud-sujud meminta maaf karena kecelakaan nikmat (lucknut :v) berkat ulahnya.
Gadis bersurai biru keputihan itu menatap Naruto dengan semburat merah, "Hentai! Echii! Bakaaaaa!".
Naruto sweatdrop saat mendengar ejekan dari gadis itu. Sedikit menghela nafas, "Gomenne aku tak sengaja". Naruto merutuki nasib sialnya hari ini.
Gadis itu melipatkan tangannya di dada, tatapannya menjadi tajam saat meneliti yang menabraknya adalah si peringkat satu di Magic Academy ini.
Bibirnya yang tadi menunjukkan raut malu menjadi menyeringai, "Namikaze Naruto kah? Hm...aku tak tau kau mesum juga".
Naruto terkesiap saat mendengar pernyataan gadis di depannya. "Cih, itu kecelakaan". Decihnya tak suka.
Naruto melihat ke arah gadis di depannya dengan teliti. Naruto seperti pernah melihatnya, tapi ia lupa dimana. Dengan berusaha ia gali memori-memori yang ada di otaknya. Naruto ingat, dia kemudian tersenyum miring.
"Ara...Esdeath-senpai. Sudah lewat berapa bulan dari kekalahannya?". Tanya Naruto sedikit mengejek.
Esdeath berada di kelas 3 tingkat A. Kekuatannya adalah sebuah elemen es. Tidak hanya itu, ia juga memiliki sebuah pedang yang sangat tajam menyamai Murasame.
Esdeath menggeram kesal, ingin sekali ia bekukan remaja di depannya ini. "Aku waktu itu hanya memberi kesempatan bagimu untuk membanggakan diri".
Naruto tertawa meremehkan, "Souka? Tapi bukankah waktu itu kau bilang sudah memakai kekuatan penuhmu?".
Esdeath terdiam kemudian berdecak kesal. Memang benar ia waktu itu kalah telak oleh kouhainya ini. Bahkan dengan kekuatan penuhnya tak mampu membuat Naruto menggunakan senjata terkuatnya waktu melawannya.
"Ck, cukup basa-basinya. Untuk kecelakaan tadi lupakan saja. Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu". Ucap Esdeath dengan raut serius.
Naruto menaikkan alisnya, "Ah baiklah, tapi lebih baik kita bicarakan di ruang OSIS". Saran Naruto sedangkan Esdeath mengangguk setuju.
Di ruang OSIS
"Jadi.." Naruto duduk di kursinya, "apa hal yang ingin Senpai katakan?".
Esdeath menyerahkan sebuah gulungan kertas berpita hitam. Naruto melihat ke arah kertas itu, 'Apa ini?'. Batinnya.
Naruto melepaskan tautan pita yang terikat di kertas itu. Tangannya membuka kertas kemudian membacanya dengan teliti. Matanya bergerak mengikuti alur dalam kertas itu. Awalnya nampak biasa tapi saat ia membaca bagian terakhir ia sangat terkejut.
"Sial, mereka tak jadi menantang Magic Academy". Naruto meremas kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
Di kertas itu tertulis jika Kuoh Academy membatalkan tantangan mereka. Itu semua karena Kuoh Academy menilai bahwa perwakilan dari Magic Academy tidak sepadan dengan perwakilan Kuoh Academy. Mereka menantang agar wakil Magic Academy dapat membuktikan kemampuannya di Liga besar yang akan diadakan 3 Minggu lagi.
"Mereka boleh membatalkannya tapi, penghinaan mereka padaku secara tak langsung membuatku ingin menghancurkan Academy itu". Naruto menggeram marah.
Menantangnya di Liga Besar? Naruto sama sekali tak gentar. Tangannya mengepal erat, "Akan kumenangkan Liga itu dan menjadi yang terkuat".
Esdeath menatap Naruto dengan tatapan teduh, "Hm, buktikan jika sekolah kita itu sangat hebat Kouhai-kun". Ucapnya dengan tersenyum manis.
Naruto menatap terkejut Esdeath, 'Apa dia baru saja mendukungku'. Naruto mengangguk kemudian ikut tersenyum.
"Ah ya aku juga lupa mengatakan ini". Naruto mengernyitkan keningnya mendengar ada lagi yang ingin disampaikan Esdeath.
"Nani Senpai?". Tanyanya.
"30 menit lagi akan ada acara sambutan murid baru". Jelas Esdeath.
Mata Naruto melotot, "Heh? Penyambutan? Kenapa aku baru tahu?". Naruto menangis ala anime, padahal ia Ketua OSIS tapi mengapa dirinya tak tahu acara penting itu.
Esdeath menghela nafas melihat Naruto, "Wajar kau tak tahu, karena yang mengurus semua acara itu adalah Squad Komite Academy". Naruto bangkit dari tingkah absurdnya.
Squad Komite Academy adalah organisasi selain OSIS yang mengurus semua event yang ada di Academy ini. Beda halnya dengan OSIS yang mengurus semua urusan Sekolah, SKA (biar singkat) lebih di titik beratkan untuk mengurus sebuah acara yang akan diselenggarakan di Magic Academy.
"Jadi, apa itu saja yang ingin Senpai sampaikan?". Esdeath mengangguk merespon pertanyaan Naruto.
"Jika begitu aku kembali ke kelas dulu". Pamit Esdeath di balas 'iya' oleh Naruto.
Setelah ruangan OSIS sepi dan hanya tersisa Naruto, pria bersurai kuning itu menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya. Pikirannya masih mengingat kertas yang berisi penghinaan dari Kuoh Academy. Matanya melirik ke arah tong sampah di pojok ruangan. 'Kuoh Academy, aku tak tahu maksud kalian tapi, aku Namikaze Naruto tak akan ragu menghancurkan murid terbaik kalian'. Seringainya.
With Gabriel
"Ah Shizune-sensei Arigatou gozaimasu". Ucap Gabriel menundukkan kepalanya.
"Iie douitashimashite Gabriel-chan". Balas Shizune.
Gabriel keluar dari ruang Kesehatan itu. Matanya menatap ke arah jam yang ada di tangannya, "Nani?? jam 7 kurang 5". Gabriel buru-buru menuju ke kelasnya, ia sebagai murid baru tak ingin dianggap buruk oleh murid-murid lain.
Belum setengah perjalanan ia sudah harus berhenti karena mendengar sebuah pengumuman. "Mohon perhatian kepada seluruh murid Academy berkumpul di aula sekarang". Gabriel terdiam, 'Aulanya ada dimana? Moo..aku kan masih murid baru'.
~Tep
Sebuah tangan seseorang menyentuh pundak gadis bermahkota pirang itu. Gabriel tersentak kemudian melihat ke arah pemilik tangan.
"Siapa kau?". Gabriel melihat seorang pemuda bersurai hitam pendek yang tidak ia kenal.
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ah perkenalkan namaku Kurogane Ikki. Aku berada di tingkat F". Ucapnya memperkenalkan diri.
"Watashi wa Gabriel dari kelas Tingkat A". Balas Gabriel dengan tersenyum.
Kurogane Ikki merupakan murid terlemah di Academy ini. Tapi justru kelemahannya itu menjadi tipuan untuk para murid-murid yang tak mengenalnya lebih dekat. Ikki merupakan Ksatria Pedang yang sanggup menyamai Kirito sang peringkat satu pengguna pedang di Magic Academy.
Pemuda yang bernama Ikki itu gelagapan saat mengetahui gadis itu berada di tingkat A. "Eto..gomenasai telah membuatmu terkejut. Tapi, apa kau sedang bingung?".
Gabriel terkesiap, "Yah begitulah, aku baru masuk kemarin jadi belum tahu banyak sekolah ini". Jujurnya.
"Souka jik-". "Ara..ara ternyata kau disini Ikki-kun". Belum juga Ikki menyampaikan bantuan sudah dipotong oleh seorang gadis bersurai pink diikat twintails, mata merahnya menatap Ikki tajam saat melihatnya dengan seorang gadis.
Gabriel menatap ke arah gadis yang baru datang dengan tatapan bertanya, "Anata wa dare desuka".
Gadis itu menggeram, "Seharusnya aku yang tanya begitu, siapa kau dan kenapa Ikki-kun bisa bersamamu?".
Gabriel semakin bingung dengan gadis itu. Apa salahnya dengan pemuda di sebelahnya ini? Mereka saja baru bertemu beberapa menit yang lalu. Sedangkan Ikki nampak menghela nafas sabar, hah bisa mati muda dia dengan sikap gadis bersurai pink itu.
"Begini Stella-chan, aku hanya bertemu beberapa menit dengannya. Kuulangi 'baru bertemu' dengannya". Stella tak peduli dengan alasan Ikki.
Matanya melotot ke arah Ikki membuat pemuda itu menciut takut. "St-stella-chan sudahlah jangan begitu". Stella hanya mendengus.
Stella Vermilion merupakan anak bangsawan dari keluarga Vermilion. Dia berada di tahun ajaran pertama kelas Tingkat A dan kekasih Kurogane Ikki. Stella memilih sebuah pedang yang dapat mematahkan semua serangan baik itu sihir ataupun pertahanan fisik.
Gabriel nampak tak enak menganggu kedua orang itu, "Gomenasai saya akan pergi dulu". Dengan cepat ia berlalu melewati pasangan itu.
Ikki ingin mengejarnya tapi tangannya di tahan oleh Stella, 'Kejar atau kubakar anumu'. Batinnya dengan melotot seram. Karena masih sayang itunya maka dengan pasrah Ikki mengikuti perintah kekasihnya itu.
Sedangkan dengan Gabriel, ia masih berjalan tak tentu arah entahlah Gabriel tak tahu ingin kemana.
~Bruggh
Tak melihat sekitar membuat Gabriel menabrak dada bidang seorang pemuda. Gabriel sedikit pusing, keseimbangannya juga oleng namun tak jatuh.
"Ah gomenasai telah menabr- Naruto-kun!". Gabriel terkejut saat melihat orang yang ia tabrak ternyata pemuda bersurai pirang yang menolongnya tadi pagi.
Naruto memiringkan kepalanya, "Gabriel-chan? Apa yang kau lakukan disini?". Tanya Naruto.
Gabriel memainkan jarinya, "Eto...aku tersesat". Pernyataan Gabriel membuat Naruto melongo.
"He?". Kemudian Naruto tertawa keras membuat Gabriel cemberut melihat. Pipinya yang gembul itu membuat kesan wajahnya semakin imut.
Naruto berhenti tertawa karena melihat ekspresi cemberut gadis di depannya, 'Kawaii, uh.. menenangkan jiwa'.
Naruto menggelengkan kepalanya menghilangkan benak anehnya, "Jadi, mau ke aula bersama?". Tawar Naruto.
Tanpa pikir panjang Gabriel mengangguk menyetujuinya. Dia tak mau tersesat lagi, itu sedikit membuatnya malu. Masak ada murid yang tersesat di sekolahnya sendiri, kalo ada mungkin murid itu mengidap hilang ingatan sementara layaknya Dor* di film Finding Dor*.
Dengan langkah biasa mereka menuju ke arah aula Academy. "Ne..Naruto-kun, apa sukanya masih jauh?".
Di Academy sebesar ini pasti tak heran jika jarak antar gedung satu dengan yang lainnya bisa dibilang cukup jauh, bahkan setiap tingkat kelas memiliki jarak yang bisa dibilang sedikit jauh. Tapi beruntungnya, asrama mereka berdekatan dengan kelas masing-masing.
"Hampir sampai, terakhir kita naik tangga itu dan perjalanan kita sudah selesai". Gabriel melihat sebuah tangga yang di tunjukkan Naruto. 'Huh, untung tangganya tak terlalu tinggi'.
Setiap anak tangga mereka lewati satu demi satu. Gabriel sedikit tak enak jika datang dengan Naruto, 'Ah, sebaiknya aku tak terlihat bersamanya'. Gabriel sadar diri, Naruto terlalu sempurna untuknya.
Dengan sedikit memelankan jalanya Gabriel telah berada di belakang Naruto. Sedangkan Naruto tak menyadari bahwa Gabriel berada di belakangnya.
Sebuah Aula tertutup Gabriel masuki, ia melihat banyak siswa yang sudah ada di sana. Dalam hati ia sedikit lega, 'Fiuhh, untung belum dimulai'.
Naruto menatap sebelahnya yang tak ada siapa-siapa, ia menaikkan alisnya. 'Are? dimana Gabriel?'. Naruto mencari ke arah belakangnya tapi tak ada Gabriel di sana. Atensi terus mencari hingga terkunci pada gadis pirang yang sedang ada di jajaran murid baru.
Sedikit lega saat menemukan gadis itu, niat hati ingin menghampiri Gabriel tapi hal itu harus tertunda karena tugasnya sebagai Ketua OSIS Magic Academy.
Naruto menuju ke barisan member OSIS yang ada di kursi yang sudah disiapkan. Kedatangan Naruto membuat seluruh murid Academy diam, Naruto cuek tak mempedulikannya kemudian menaruh pantatnya di kursi empuk itu.
Bisik-bisik menyelimuti aula setelah kedatangan Naruto. Para murid baru banyak mengungkapkan rasa kagum terhadap Naruto dan tak banyak juga yang mencibirnya.
Keheningan kembali terjadi karena melihat Kepala Sekolah Magic Academy datang menempati kursinya.
"Ehem, Namaku Azazel dan seperti yang kalian tahu saya adalah Kepala Sekolah Magic Academy. Pertama-tama saya ucapkan pada kalian murid baru yang berhasil masuk ke Academy ini. Dan kudengar juga kalian termasuk angkatan paling menjanjikan yang pernah ada di Academy ini". Para murid baru yang mendengar pujian itu senang dan bersorak.
Azazel mengangkat tangannya, "Sampai tahun lalu, Academy ini selalu memilih perwakilan untuk mengikuti Liga Besar berdasarkan nilai kemampuan seorang individu".
"Tapi mulai tahun ini, perwakilan diambil lewat turnamen penyeleksian. Mereka yang lolos 10 besar akan dipilih sebagai perwakilan Magic Academy di Liga Besar nanti". Jelas Azazel.
Naruto terdiam mendengarnya, 'Apa rencanamu yang sebenarnya Azazel?'. Naruto sedikit penasaran dengan kebijakan baru dari yang disampaikan Azazel.
"Aturannya mudah dan cukup adil. Begitulah, turnamen akan dimulai besok lusa. Sedikit info, murid yang ada disini sekitar 250 orang, jadi hitunglah berapa kemenangan yang harus kalian capai agar bisa lolos". Sedikit saran dari Azazel tapi dimanfaatkan oleh banyak murid cerdas.
Naruto sedikit berpikir, 'Hm, Liga besar dimulai kurang lebih tiga Minggu lagi. Kuperkirakan turnamen hanya diadakan sampai dua minggu. Souka, jadi untuk lolos kita harus menang sebanyak kurang lebih sebelas pertandingan'.
"Manfaatkanlah waktu kalian besok untuk latihan. Harapan saya semoga kalian apalagi para murid tingkat satu ada yang lolos". Harap Azazel.
Seluruh murid pun keluar dari aula saat pengumuman yang disampaikan Kepala Sekolah selesai. Kebanyakan dari mereka semangat dan tak sabar untuk bertarung di turnamen nanti.
Begitupun dengan Naruto yang sekarang sedang berjalan menuju kelas A dengan Gabriel di sisinya. "Bagaimana menurutmu dengan turnamen nanti Gabriel-chan?". Tanya Naruto mencairkan suasana.
"Itu membuatku senang, dengan adanya turnamen yang akan diadakan dapat membuatku tahu batas dari kemampuanku sekaligus mendapat pengalaman tambahan". Ucapnya dengan tersenyum.
Naruto menganggukkan kepalanya, "Souka, ganbatte yo Gabriel-chan". Gabriel terkejut dengan dukungan Naruto.
Ia pun tersenyum, "Hai', Naruto-kun sendiri semoga dapat lolos dari turnamen itu". Naruto mengangkat jempolnya sebagai jawaban.
To be Continued
Yo! para readers setiaku, khukhukhu kira kira siapa yang menjadi pair Naruto, apakah Gabriel? Esdeath? Akame? atau justru menjadi harem (plakk sekalian echii kalo harem).
Bagaimana chap ini, apakah masih menarik atau hum membosankan, ehem kalian bisa review jika ada yang aneh dari fic ini.
huhu like juga yahhh :)
aku suka kalian yang mendengar bacotan saya, uhum untuk yang ingin tanya bisa via pm karena author ga punya wa hiks.
oke oke segitu dulu, sampai jumpa di chap yang akan datang emm mungkin hari rabu paling lambat sabtu :v .
