Sekolah yang sangat mewah. Bangunannya sangat besar. Lapangan yang sangat luas. Indah. Sejuk. Elite. Aku tidak percaya aku akan bersekolah di sini. Gedung putih sekolah ini berpadu dengan sempurna dengan indahnya tanaman yang tumbuh di sekitar. Semua kelihatan sangat mewah dan dilindungi kebersihannya. Aku masih tidak percaya akan bersekolah di sini.
Namun sebelum itu…, aku melihat kondisi apartemen yang akan aku tempati.
"Lumayan…"
"Setidaknya aku tidak akan tinggal di rumah kumuh."
"Untung saja apartement ini…"
"biasa saja."
.
.
.
1 January 2019
Dear Diary,
Aku akhirnya meninggalkan panti dan tinggal sendiri.
Seperti yang tertulis di buku hyung.
Namun, kami berdua menyadari seperti tidak dilakukan apa-apa.
Aku juga tidak bisa mengumbar semua itu pada teman-teman.
…
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari penerimaan siswa baru di sekolah khusus laki-laki terbesar dan juga merupakan sekolah dimana sebagian besar anak yang sekolah di sini berasal dari keluarga kaya. Kim Taehyung, seorang anak yang termasuk di bagian anak yang bisa dibilang dari keluarga yang kaya. Sebab dia dari panti asuhan sekaligus perusahan pembuat obat-obatan yang memiliki banyak anak asuh yang entah dari mana asalnya. Rumor mengatakan bahwa panti asuhan yang menaungi Taehyung selama ini memiliki rahasia mengerikan terhadap anak asuh mereka dikarenakan banyak anak asuh mereka yang hilang tanpa jejak. Pemerintah tidak memiliki hak untuk menuntun perusahan tersebut karena para anak asuh tersebut merupakan penemuan yang 'dibuat' oleh para pengurus panti.
"Ingat yah, 421."
"Mulai sekarang kau akan bersekoah di akademi ini." ucap seorang pria tang menunjukkan sebuah foto kepada seorang pemuda yang mengenakan baju khas pasien rumah sakit.
"Sepertinya kau dan 4 orang lainnya yang berhasil dalam percobaan ke-52 ini."
"Dan sepertinya kau udah tahu dengan rencana kami."
"Namun aku akan bilang satu hal…"
"Ini adalah kata-kata yang aku ucapkan kepada setiap anak yang akan meninggalkan panti ini."
"Sekarang carilah pasangan hidupmu dan tunjukkan bahwa percobaan kami berhasil."
"Mengerti tidak mengerti, kau harus menjalankannya."
"Dan mulai sekarang kau bukan lagi 421."
"Namamu 'Taehyung'. Kim Taehyung"
.
.
.
.
.
Masih mengingat apa yang dipesankan oleh orang yang sudah membersarkannya selama 16 tahun tersebut, Taehyung hanya menunduk melihat fotonya juga teman-temannya dan beberapa orang pemilik panti. Dia tidak menyangka kalau yang tertulis pada buku seseorang yang ia panggil hyung itu benar. Namun, apakah orang lain juga tahu? Apakah mereka akan menerimanya begitu saja? Hanya itu yang ada dibenak Taehyung sekarang.
Melupakan soal itu. Yang paling penting sekarang adalah merapikan tempat ini dan meletakkan barangnya dari dalam koper besar tersebut. Merapikan isi tas tersebut dan meletakkannya di dalam lemari yang sudah tesedia di apartemen minimalis tersebut. Taehyung menghela nafas dan memikirkan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
Apakah dia akan menurut dan menjadi gay hanya karena dia dipaksa begitu saja? Tidak, bahkan Taehyung jarang sekali melihat para hyung nya yang lain yang mengirimi pesan kalau mereka sudah menikah atau anak mereka sudah mereka kirimkan lagi ke panti asuhan. Dia hanya akan berfikir apa yang sebenarnya terjadi pada hyung-hyung nya.
Matahari sudah terbit. Malam sudah berganti pagi. Saatnya bagi Taehyung untuk bersekolah di sekolah elit tersebut. Dia sudah diterima di sekolah yang sangat mewah tersebut. Berjalan dengan hati gembiranya dan langsung mencari kelas yang didepan pintunya tergantung sebuah papan kecil nan tipis bertulis '1-B'.
Karena pukul menunjukkan bahwa sekarang masih sangat dini untuk dikatakan bahwa pelajaran segera dimulai. Tanpa ragu-ragu, Taehyung langsung menempati sebuah bangku paling depan dan paling ujung yang berdekatan dengan jendela namun jauh dengan pintu yang ia masuki tadi. Melihat sekeliling, sekitar 3 atau 4 siswa yang berada di sana jika ditambah dengan Taehyung.
Taehyung mengambil ponselnya dari tas berwarna hijaunya. Mengetahui kalau tidak ada larangan membawa ponsel di sekolah ini, Taehyung dengan leluasa mengusap-usap permukaan atas benda berbentuk persegi panjang tersebut. Satu persatu siswa memasuki ruangan tersebut disaat Taehyung masih asyik dengan gadget tersebut.
DING~ DONG~ suara bel mengintrupsi kegiatan para siswa di sana. Terlihat disini bahwa seorang guru bertubuh tinggi sedang memasuki ruangan tersebut sembari membawa beberapa buku di tangan kekarnya. Semua para siswa sedang komat-kamit merapikan bagku dan meja yang akan menjadi tempat unutuk mereka belajar dengan gelisa. Terdapat sebuah bangku yang kosong.
Selang beberapa menit, seorang guru menjelaskan pelajaran dengan cekatan walaupun dirinya masih kelihatan muda. Beberapa menit kemudian, seorang siswa berlari dan memasuki sebuah kelas yang sunyi dan hanya terdengar suara seorang guru yang menjelaskan sebuah pelajaran untuk para penghuni kelas tersebut.
"Maaf, Pak. Saya telat." ucap pemuda tersebut dengan keras sembari menundukkan badannya.
"Hm… baru pertama kali masuk, kau sudah telat saja." jawab guru tersebut lalu melipatkan tangannya kedepan.
"Maaf, Pak..." pemuda itu mengangkat tubuhnya dan mengalihkan pandannya kepada pria di depannya.
"Karena ini adalah hari pertama, saya tidak akan menghukumu. Sana duduk!"
"Baik, soengseam-nim." Ucap pemuda tersebut setelah membungkuk lalu berlari ke sebuah bangku tanpa penghuni yang ada pada kelas tersebut.
Semua siswa seolah mengabaikan pemuda tersebut dan melanjutkan kegiatan mereka, melihat penjelasan guru mereka yang mulai mengajar kembali.
KRIINGG suara bel yang menginterupsi semua kegiatan yang dilakukan oleh setiap orang yang ada pada sekolah tersebut.
Para siswa dengan cepat meninggalkan ruang kelas mereka. Kebayankan siswa memiliki satu tujuan yang sama, kantin. Sementara siswa yang di seragamnya memiliki pin bertulis 'Kim Taehyung', melirik kea rah ponsel yang berdering di dalam laci mejanya. Dilihatnya layar ponsel tersebut. Sebuah pesan masuk dari orang yang tidak masuk dalam kontak Taehyung. Dia membuka pesan tersebut.
08XX-OOOO-XXXX
Taehyung-ah
Ini aku
Kau belum tahu?
Aku masih sibuk sekarang
Tapi jika ingin bertemu, aku akan menunggumu di Han-gang pukul 20:00 minggu ini
Aku tidak memaksamu untuk datang
.
.
.
Namun, dengan tidak sopannya. Seseorang merangkul Taehyung yang masih serius membaca pesan yang tertera pada layar ponselnya.
"Hallooo… Kenapa kau masih di sini? Lagi ngapain?" ucapnya tanpa bersalah karena sudah membuat Taehyung kaget dan hamper membuat ponselnya terjatuh.
"um… tidak. Aku hanya melihat sebuah pesan…" Taehyung mematikan ponselnya dengan cara menekan langsung tombol power yang ada pada sisi kanan benda tersebut.
"Aku tidak akan campur tangan dengan apa yang menjadi urusan pribadi seseorang. Btw, kita belum kenalan, yah…" pemuda tersebut berdiri dan mengangkat tangannya kedepan untuk menerima jabatan tanagn dari Taehyung. "Aku Park Jimin, panggil aku Jimin. Kalo kamu?" sambung pemuda tersebut, pemuda yang tadi telat ternyata bernama Park JImin.
"Aku Kim Taehyung." Taehyung berdiri dan menjabat tangan Jimin. "…Senang bertemu denganmu, Jimin-sshi." Sambung Taehyung lalu mmeberi senyum manisnya kepada Jimin yang sudah tersenyum sedari tadi.
"Hei, Taehyung-ie, kau tidak lapar? Kita ke kantin, yuk." Jimin memegang tangan Taehyung dan mengajak Taehyung untuk pergi kantin sekolah yang letaknya tidak bisa dibilang dekat dengan kelas mereka.
"Boleh… ayuk…"
Mereka berjalan sembari menikmati indahnya lingkungan sekolah mereka. Seolah mengetahui letak kantin sekolah baru mereka ini, Jimin berjalan dan di belakangnya ada Taehyung yang setia mengikutinya. Taehyung masih penasaran kepada Jimin yang telat masuk tadi pagi. Dia menanyakan pertanyaan absurd yang mungkin dapat menyinggung objek yang ditanya.
"Hei, Jiminnie…"
"Hm? Ada apa Taehyung-ie?"
"Bolehkah aku bertanya alasan kenapa kau tadi telat?"
"Boleh… aku tadi telat karena harus melihat orang tuaku yang masih bertengkar pada pagi yang cerah tadi…" jelas Jimin yang masih menuntun Taehyung menuju tempat tujuan mereka.
"Kau tahu, aku sebenarnya jarang sekali telat dan… orang tuaku juga jarang sekali bertengkar…" sambungnya, sementara Taehyung masih setia mendengar penjelasan teman barunya ini.
Bicara soal orang tua, Taehyung bahkan belum tahu rupa dari dua pasangan suami-istri yang membuat dia melihat dunia yang indah ini.
"Enak sekali, yah…" ucapnya dengan sedikit menundukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Apa maksudmu? Telat itu gaenak tau!" ketus Jimin yang dibalas tawa garing dari Taehyung.
"Bukan, maksudku orang tuamu!"
"Mereka bertengkar dan itu berisik sekali, loh."
"Hahaha… bukan itu maksudku… Enak sekali, yah bisa mekihat orang yang sudah melahirkan kita."
"Taehyung-ie…"
"Hm…?"
"Kau tidak pernah melihat orang tuamu?"
Taehyung hanya menganggukkan kepalanya. Jimin pun memeluknya dengan rasa bersalahnya.
"Maaf, aku tidak tahu, Taehyung-ie…"
"Tidak, tapi bolehkah aku bertanya tentang keluargamu?"
"Boleh, sih…" Jimin melepaskan pelukkannya.
Mereka belum sampai di kantin. Namun mereka duduk di bangku dekat dengan taman sekolah dan melanjutkan pembicaraannya tadi.
"Taehyung-ah, memangnya kau selama ini bersama siapa?" Tanya JImin kepada Taehyung.
"Aku dibesarkan di panti asuhan dekat hutan. Ada banyak teman di sana dan kami semua sangat dekat, ada ahjusshi yang selalu menjaga kami dengan baik." jawab Taehyung dengan antusias.
"Hahaha… malah kau yang menjelaskannya…" Jimi terkekeh pelan dan tersenyum dengan Taehyung.
"Aku anak tunggal di keluaraga Park, jadi aku selalu dimanjakan eomma dan appa."
"Benarkah? Seperti apa eomma dan appa-mu?"
"Em… appa-ku pria yang lucu dan sangat giat dalam bekerja. Dia juga hebat dalam bermain alat musik dan membuat lagu."
"Kalo eomma-ku itu, dia… sangat hyperactive dan sering menjahili appa walaupun appa juga akan membalas kejahilannya."
"Hahaha… aku baru kali ini mengetahui kalau seorang wanita itu suk jahil. Biasanya mereka itu kalem-kalem kayak drama yang sering aku tonton… hahaha…"
"Tae…"
"Iya…?"
"Ibuku seorang pria…"
"Apa?" Taehyung berhenti dari tawanya dan menatap Jimin serius.
"Em… apa kau tahu kalau sekarang ini kaum perempuan sudah banyak terkena penyakit yang sangat mematikan?"
"Tidak… a-aku baru tahu…"
"Hahaha… kau tidak pernah lhat berita atau semacamnya apa? Populasi wanita di dunia ini sudah sangat minim, namun ada ilmuan yang membuat percobaan yang dapat membuat pria dapat melahirkan, loh. Hahaha… kau lucu sekali…"
"Hei, Jimin-ah…"
"Nde, Taehyung-ah?"
"Apakah eomma-mu memiliki sebuah nomor di lehernya?"
Jimin terdiam sesaat dan menjawab pertanyaan temannya "…iya"
.
.
.
"004"
To be continue…
