"004…"
Dengan reflek, Taehyung menyentuh lehernya yang dilapisi oleh perban yang melilit lehernya sehingga kulit putih bagian lehernya tertutup.
"Hm? Ada apa, Taaehyung-ah?" tentu saja itu membuat Jimin menanyakannya.
"Tidak…" mencoba mengalihkan percakapan dia malah menanyakan "…Oh, iya. Boleh aku tahu siapa nama orangtuamu?" 'Apaan sih, Tae. Kenapa kau menanyakannya.' Gerutunya dalam hati.
"Boleh, namun kau jangan terkejut. Appa-ku CEO di Park corp, Park Chanyeol, dan eommaku pernah menjadi model, namun akhir-akhir ini dia jarang melakukan pekerjaannya lagi."
"Park Baekhyun…" Taehyung sedikit kaget dengan nama tersebut, dia tidak pernah mendengar atau melihat nama tersebut pada buku agenda panti asuhan. Apakah dia yang tidak teliti? Atau memang tidak ada yang namanya Baekhyun? Ah, mugkin dia yang tidak teliti.
"Oh, iya. Jim—" KRIIINGGG pangginnannya teritrupsi oleh bel masuk yang tiba-tiba berbunyi.
Jimin berangkat dari bangku yang mereka tempati tadi. "Ayo, tae. Kita balik." ajak Jimin kepada Taehyung.
Taehyung hanya membalas uluran tangan Jimin dan mereka berdua berjalan menuju kelas mereka. Karena di samping kelas mereka adalah lapangan basket dan guru yang akan mengajar di kelas mereka adalah guru ilmu sosial sekaligus guru BK. Guru tersebut memilih pergi ke lapangan ketimbang mengajar di kelas Jimin danTaehyung. Sebab, dua orang kapten tim basket sedang berkelahi. Membuat semua murid berteriak heboh karena dua orang idola mereka sedang bertengkar.
"Hei, hei hei, ada keributan apa ini?" tanya guru tersebut saat berlari menuju lapangan yang sedang ricuh.
Masing-masing anggota basket melerai kapten mereka.
"M-maaf, ssaem. Hanya masalah biasa, sebaiknya ssaem kembali mengajar. Biar kami yang mengurusi ini." ucap seorang namja yang merupakan anggota basket sembari menghadang amukan kapten mereka.
"Seokjin! Berhenti sok tau! aku akan menghabisi pria brengsek ini!"
"Apa? Dasar payah! Kau pikir bisa mengalahkanku dengan mudah, hah?! Jangan seenaknya bicara, Namjoon!"
Keributan masih terjadi, sehingga guru ilmu sosial sekaligus guru Bk tersebut harus turun tangan dan menarik paksa kedua lengan kedua kapten basket tersebut kasar. Anggota yang lain melonggarkan kekuatan tangan mereka dan membiarakan guru tersebut menarik kedua pemuda itu kasar. BUG dengan tegannya, guru tersebut melantakkan kepala yang satu dengan yang lainnya. Sehingga kening mereka berbentur satu sama lain.
Pemuda berkulit Tan memegang bagian kepalanya yang memerah akibat benturan dengan kepala lawan mainnya tadi.
"Waahh… Kim ssaem mengeluarkan jurus andalannya." bisik seorang siswa yang tadi hanya menonton saja dengan siswa lain.
Taehyung reflek memegang dahinya "Pasti sakit" batinnya. Jimin hampir tertawa melihat temannya. Mereka kembali berjalan dan memasuki ruang kelas mereka. Siswa yang lainnya juga melakukan hal yang sama, namun setiap anggota basket mengikuti kapten mereka yang tangannya ditarik paksa oleh Kim ssaem. Sepertinya para classmate Taehyung akan berteriak ria karena akan ada jamkos. Taehyung merasakn ada yang menyentuh bahunya dan menoleh kebelakang untuk melihat siapakah gerangan yang sudah menyentuh bahunya.
"Hei, kenapa lehermu diperban?" tanya pemuda tersebut.
"Um… hanya luka sedikit—" "Kau yakin tidak menyembunyikan sesuatu?" Tanyanya lagi mengintrupsi jawaban Taehyung. "Ah, Yoongi-ya!" panggil Jimin kepada pria tersebut
"Sudah, jangan kau ganggu dia." seorang pemuda menepuk pundak Yoongi. "Jungkook?" Yoongi melepaskan tangannya yang masih menyentuh pundak Taehyung.
"Maaf, kami harus pergi!" Taehyung ,menarik pergelangan tangan Jimin paksa. "Hei, tunggu! Masih ada yang inginku ta—" KLANG sebuah bola tenis hijau melesat dari dalam kelas Taehyung, menghancurkan jendela kaca ruangan tersebut dan mengenai pipi kanan Taehyung. Membuat goresan pada pipi mulus tersebut karena adanya serpihan kaca yang masih menempel pada permukaan benda bulat tersebut. Serpihan kaca itu membuat pipi kanan Taehyung tergores sedikit dalam dan sebagian serpihan tersebut bersarang didalam goresan yang benda itu buat.
Perih. Hanya berdiri mematung. Tidak ingin menggerakkan bibirnya untuk meringis, karena serpihan tersebut akan membuat rasa perih pada luka di pipi kanannya makin bertambah.
"Seseorang panggil perawat UKS!" dari sekian banyak orang yang menyaksikan, hanya Yoongi yang memiliki raut wajah dingin malah lebih iba dan reflek berteriak untuk memanggil petugas kesehatan sekolah.
.
.
.
Tiga hari berlalu. Jimin masih terdiam karena tidak dapat melakukan apa-apa kepada teman barunya yang sekarang cuti sekolah karena luka di pipi kanannya. Memang cuma goresan, sih. Tapi sangat berbahaya sehingga petugas kesehatan sekolah harus memanggil pihak rumah sakit untuk menangganinya. Butuh ketelitian untuk mengeluarkan serpihan kaca yang bersarang di goresan yang tidak bisa di bilang ringan tersebut.
Mendengar langkah kaki seseorang yang memasuki ruang kelasnnya, Jimin mendongkakkan kepalanya. Karena sudah pasti pada waktu sepagi ini, pasti Taehyung-lah yang datang. Walapun hari pertama sekolahnya sangat berantakan, dia mengetahui bahwa temannya tersebut adalah anak yang rajin untuk berangkat sekolah sangat pagi. Dan dugaannya tepat sekali, dia langsung menemui teman baiknya yang sekarang pada bagian kanan wajahnya tertutup oleh kapas tebal dan lakban bening.
"Taehyung-ah! Kau baik-baik saja?"
"Iya, Cuma luka sedikit." Ucap Taehyung sembari menyentuh pipinya yang tertutup kapas tebal.
"Sedikit? Tapi kenapa kau absen 2 hari, eoh?" kemudian Jimin memeluk temannya dimana mereka berdua masih berada di tengah pintu sehingga membuat seorang pemuda berdehem agar menyadarkan mereka karena pemuda itu ingin memasuki ruang kelas mereka."Ekhem…"
Menyadari ada orang lain selain mereka, Jimin reflek melepaskan pelukannya. "Ooh, Guanlin. Maaf mengganggu."
"Tidak apa, lanjutkan." pemuda yang dipangil Guanlin tersebut menampilkan senyum lucunya setelah mengatakannya.
"Ya!"
Teman sekelas dari China tersebut berjalan menuju bangkunya masih dengan terkekeh kecil.
.
.
.
Menghabiskan berjam-jam untuk belajar memang membuat cacing-cacing di perut berdisko ria. Usai pelajaran ini, Taehyung akan langsung pergi ke kantin sebab pelajaran ini selesai sebelum istirahat.
KRIIINGGG akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Taehyung bergegas memasukkan alat-alat tulisnya dari atas meja saat TEP Jimin, teman baiknya, memukul pelan meja Taehyung tanpa membuat barang pada permukaan atas meja tersebut tidak mengeluarkan bunyi yang tidak keras.
"Taehyung-ah, bisa bantu aku?"
Taehyung mengernyitkan alisnya. Di abenar-benar lapar sekarang. Tetapi teman boncelnya ini malah membuat dia menunggu di samping kolam sekolah dengan memegang sebuah formulir.
.
.
.
.
.
"Taehyung-ah, bantu aku, yah."
Taehyung mengehemat suaranya karena dia sudah benar-benar lapar mengingat tadi pagi dai tidak sarapan. "Iya, ada apa?" jawabnya sigkat.
"Sebenarnya aku ingin masuk sebuah klub. Tapi aku masih belum tahu harus daftar dengan siapa." Jimin menyerahkan selebaran kepada Taehyung. "Mau tidak bantuin aku mencari ketua osis dan memberikan formulir ini."
"Mwo?"
"Aku yang akaun mencari ketua klubnya, kau mencari ketua osis, yah."
Bukan Jimin saja yang tidak mengerti, Taehyung juga tidak mengerti dengan peraturan sekolah mewah ini. Kenapa siswanya tidak diberitahu dengan siapa mereka akan mendaftar masuk sebuah klub?
"Baiklah, akan aku bantu."
.
.
.
Dan disinilah dia sekarang. Taehyung menunggu seseorang keluar dari ruang ganti di dekat kolam sekolah. Dia sempat bertanya kepada seorang siswa yang kebetulan lewat dan memberitahukan kalau ketua osis mereka sedang mengganti pakaian karena sebentar lagi ia akan bertanding. Seseorang menepuk bahunya tiba-tiba, membuatnya kaget dan hampir menjatuhkann sebuah kertas yang diyakini adalah formulir pendaftaran.
"Hei, kau si leher perban." sahut pria tersebut.
Mendengar suaranya saja sudah bisa diketahui kalau pria tersebut adalah pria yang bernama Yoongi, walaupun dia tidak tahu nama marganya. Pria tersebut menyentuh leher Taehyung dengan tidak sopannya membuat sang empu terbelak kaget.
"Apakah benar, tidak ada yang kau sembunyikan?" tangan nakalnya mungusap-usap leher berbalut kain putih tersebut.
"Cuma luka kecil, kok. Lihat, seperti luka di wajahku." ucap Taehyung lalu menunjukkan pipinya yang ditutupi kapas tebal.
Yoongi melihat kapas tersebut dengan mata tajamnya. Membuat Taehyung bergidik ngeri dan BYUR Taehyung terjatuh ke dalam kolam yang cukup dangkal tersebut. Meringis kesakitan karena kembali merasakan perih di pipi kanannya. Siapa yang tidak kesakitan coba. Luka yang masih segar dan belum seutuhnya sembuh, terkena air dingin secara tidak langsung karena terhalang kapas. Sedikit demi sedikit benda cair tersebut mengenai luka yang makin terbuka lepas karena sang empu wajah merintis kesakitan.
Mencoba meraih tangga kolam, tangan kiri Taehyung mencoba meraih aluminium panjang tersebut. Sementara tangan kanannya digunakan untuk menghalang air menyentuh lukanya. Bersusah payah meraih tiang tersebut, kaki Taehyung masih mencoba untuk tidak menapak pada dasar kolam. Bukannya Taehyung tidak bisa berenang, namun kedua tangannya sibuk sekarang.
Melihat korbannya kesusahan mencoba untuk meyelamatkan dirinya, Yoongi malah menampilkan smirk pada wajah pucatnya. Taehyung yang berhasil menggenggam tangga kolam tersebut, mencoba untuk membawa tubuhnya keluar dari kolam jernih tersebut. Tertarik oleh tangan Yoongi yang tiba-tiba, Taehyung berhasil namun dia malah menopang tubuhnya dengan dua tangan dan lututnya.
Rasa sakit tersebut kembali terasa, mencoba menegluarkan air yang kemungkinan masuk ke dalam rongga mulutnya. Yoongi, sang pelaku berlutut menatap korbannya yang tersengal-sengah mengeluarkan liquid bening yang merambat keluar dari mulutnya. Menyentuh kapas tebal yang tertempel di pipi kanan Taehyung tanpa adanya rasa bersalah.
"Maaf…" perkataan yang tidak sesuai dengan tindakan. Sentuhan Yoongi sangatlah kasar, sehingga sang empu harus merasakan sakit dua kali lipat.
PLOK… PLOK… PLOK… tanpa sadar seorang pria bertubuh tinggi melihat peristiwa tadi. Dia bertepuk tangannya pelan dan tersenyum.
"Wah, wah, wah. Min Yoongi. Kau berani juga, yah." ucap pria tersebut.
Keduanya melihat pria tersebut serempak. Sudah yakin bahwa pria tersebut adalah pria yang ia cari, sang ketua osis… dan salah satu kapten klub basket. Entah kenapa, klub basket di sekolah ini ada dua. Yang satu anggotanya berisikan anak kelas dua dan yang satunya lagi anak kelas tiga. Mereka memang sering berselisih bukan karena pertandingan, tetapi karena adanya 'perebutan'. Dan yang sedang berdiri di sini adalah kapten klub basket yang beranggotakan anak kelas dua, Kim Namjoon .
"Kapten…" Kapten? Min Yoongi anggota basket, kah?
Tanpa mempedulikan kedua pria tersebut, Taehyung memilih untuk pergi menuju tempat di mana teman baiknya berada tanpa menghiraukan seseorang yang ia cari-cari berada tepat di belakangnya.
"Eoh… dia pergi toh, Yoongi."
To be continue…
