Characters belong to : Mashashi Kishimoto

Story belong to : Hatake Aria

.

.

Captured in Her Eyes

.

.

Persahabatan Antara 2 Pria

.

.

.

Agustus 1933, Kamp Pelatihan Militer

"Hei Shimura-san, Kau benar-benar hebat, Kau bisa membidik nya dengan tepat walau dengan jarak sejauh ini" ujar salah seorang pria sembari menepuk pundak Sai.

"Ya, ya, bahkan Kau telah mengalahkan rekor sang Uchiha" ujar pria yang satunya lagi seraya menunjuk pemuda bersurai raven yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Haahh, padahal kalian masih anak baru, tapi bakat kalian luar biasa, yah wajar saja cucu dari Laksamana Shimura Danzo dan anak bungsu dari Menteri Angkatan Darat Uchiha Fugaku benar-benar luar biasa"

Sai yang dipuji hanya bisa menyunggingkan senyum segarisnya pada dua pria tersebut.

Duarr ..

Suara tembakan kembali terdengar di lapangan tempat latihan tersebut, refleks ketiga nya menoleh ke arah suara, yang tak lain adalah suara tembakan milik Uchiha Sasuke.

"Sugoi, Shimura-san lihat, si Uchiha itu baru saja mengalahkan rekormu"

"Yare yare, ternyata rekormu tidak bertahan sampai 5 menit" timpal pria yang satunya lagi.

Sai hanya tersenyum kecil, sungguh dirinya sama sekali tidak berniat untuk mencoba menjadi yang terhebat saat ini.

"Hei, Aku tidak sedang berusaha untuk menandingi nya" ujar Sai mengklarifikasi.

Sai menatap pria bersurai raven yang tengah fokus pada papan tembak yang ada di hadapan mereka.

"Sayangnya meski dirinya hebat namun jika sikapnya yang terlalu dingin seperti itu membuat dirinya tidak memiliki teman. Haaahhh, apa karena Dia anak seorang Menteri makanya sifat nya jadi seperti itu? Tapi Aku cukup kaget juga, Uchiha Fugaku mengirim putra bungsunya untuk ikut wajib militer ini, padahal dengan kekuasaan Ayahnya Dia tidak harus ikut wajib militer ini, mungkin karena putra pertamanya sudah terlebih dulu terjun di dunia militer, makanya Ia juga ingin putra keduanya terjun di dunia militer juga"

"Hei, tidak baik berkata seperti itu, kupikir Uchiha-san bukan orang yang seperti itu" Sai mencoba berfikir positif.

"Mencoba menyemangati diri sendiri heh?" ujar pria yang bernama Shigure seraya menyeringai kecil ke arah Sai.

Sai menghela nafasnya kasar.

"Kudengar Kau pindah barak mulai malam ini, dan sialnya lagi ranjangmu bersebelahan dengan si Uchiha itu bukan?" timpal Shigure seraya menepuk pundak Sai.

"Berisik, sudahlah lebih baik Aku kembali ke barak untuk memindahkan barang-barangku" ujar Sai seraya berlalu pergi meninggalkan kedua temannya tersebut.

"Ya, hati-hati dengan tetangga barumu itu Shimura-san"

Sai hanya mendengus pelan menanggapi ejekan Shigure, dengan perlahan Ia berjalan menuju baraknya untuk merapikan barang-barang nya yang akan dipindahkan menuju barak yang baru.

.

Sai dengan telaten menyusun baju miliknya kedalam lemari disebelah ranjangnya. Sebenarnya Ia sangat tidak menyukai hal yang disebut berberes seperti ini, bayangkan saja Kau harus menyusun baju milikmu dengan ukuran dan panjang lipatan yang sama, susunannya harus simetris, sehingga mau tak mau Sai harus mengorbankan jatah tidurnya yang sebenarnya sangat sedikit untuk membereskan pakaiannya di lemari. Sial, inilah yang paling tidak disukainya dari pindah barak. Tapi membayangkan Komandanmu akan memeriksa lemarimu dan mengacaknya jika tidak rapi plus kena hukuman dipermalukan didepan seluruh kompi membuat Sai sedikit bergidik ngeri, sembari menghela nafas Ia pun kembali merapikan pakaiannya.

Kriett,

Sai melirik pemuda pemilik ranjang disebelahnya yang tak lain adalah Uchiha Sasuke yang tengah membuka lemarinya. Yang Ia tahu dari teman-temannya, mereka mengatakan bahwa pemuda bersurai raven ini sangat sedikit berbicara, dan Sai membenarkan hal tersebut. Ia telah bertemu dengannya sejak sore tadi, tapi sepatah katapun seperti 'hai' saja tidak keluar dari bibir sang bungsu Uchiha tersebut. Tampak Sasuke tengah mengambil sesuatu dari dalam lemarinya, yang membuat kedua manik kelam Sai bebas menjelajahi isi lemari milik bungsu Uchiha tersebut.

"Wow, bagaimana bisa pakaian milikmu benar-benar tersusun rapi" Sai sedikit membelalakkan kedua matanya, kata-kata yang dikeluarkannya untuk sang bungsu Uchiha bukan hanya sebatas basa-basi, tetapi karena benar adanya, pakaian milik Sasuke benar-benar tertata sangat rapi di dalam lemarinya.

Bukannya membalas pujian Sai, Sasuke hanya sedikit menolehkan kepalanya beberapa derajat sembari melirik Sai.

"Bisa Kau rapikan pakaian milikku juga?"

Dan pertanyaan Sai barusan telah sukses membuat sang bungsu Uchiha menolehkan kepalanya 90 derajat, sehingga oniks kelamnya bertatapan langsung dengan milik Sai.

"Hah?" dan itu adalah kata pertama Sasuke untuk seorang Shimura Sai.

"Hahaha, Aku hanya bercanda, tapi kalau Kau tidak keberatan Aku pasti dengan senang hati membiarkanmu merapikan pakaian milikku" Sai mencoba tertawa.

"Kau masih bisa bercanda disaat seperti ini? Seharusnya Kau diam saja dirumah dan membiarkan para pelayan Kakekmu melayanimu, Shimura-san"

Perkataan tajam dan dingin Sasuke sontak mengubah raut wajah Sai.

"Kau mengenalku?"

Sasuke mengehela nafasnya, kemudian jemarinya menunjuk sebuah papan nama disudut kanan lemari milik Sai yang tepat bersebelahan dengan miliknya.

"Aahh.." Sai hanya bisa membukakan mulutnya, benar saja, bagaimana Ia bisa lupa setiap lemari pasti akan diberi nama sesuai dengan nama pemiliknya.

Sebenarnya Sasuke sama sekali tidak mengenal pria disampingnya ini, tetapi begitu Ia membaca nama keluarga yang tertera di atas lemari tersebut barulah Ia menyadari bahwa ternyata tetangga barunya ini adalah cucu dari Laksamana Shimura Danzo yang terkenal itu. Ia sering mendengar nama itu disebut-sebut oleh sang Ayah.

"Dan Kau sendiri, bagaimana bisa seorang tuan muda sepertimu berada ditempat ini?"

Sasuke menatap tak suka kearah Sai, inilah hal yang paling tidak disukainya saat orang lain menyinggung keluarganya.

"Kupikir semenjak Aku menginjakkan kaki pertama kali di kamp ini, Aku tidak ada hubungannya dengan Menteri Angkatan Darat Uchiha Fugaku, Aku hanyalah seorang Uchiha Sasuke, jadi jangan pernah bawa-bawa namanya disini"

Sontak adu mulut keduanya sedikit menarik perhatian beberapa orang didalam barak tersebut. Sadar dirinya dan Sasuke menjadi perhatian, Sai refleks mengendurkan sedikit bahu nya yang semula sempat tegang karena adu mulutnya dengan sang bungsu Uchiha.

"Hei, sepertinya kita telah menarik perhatian orang-orang didalam barak ini"

Sasuke mengedarkan pandangannya menatap orang-orang yang tengah menatap mereka berdua, refleks orang-orang tersebut mengalihkan pandangannya saat kedua oniks kelam milik Sasuke menatap mereka.

"Yah, Kau jangan mengintimidasi mereka, lihatlah mereka tampak ketakutan Kau tatap sepeti itu" ujar Sai seraya menepuk pelan kepala belakang Sasuke.

Sontak kelakuan Sai kembali menarik perhatian orang-orang di barak tersebut, ini pertama kalinya ada seseorang yang berani beragumen dengan Uchiha Sasuke, bahkan sampai berani memukul kepalanya. Shimura Sai memang menakjubkan.

"Yaah, Kau" refleks Sasuke memegang belakang kepalanya yang tadi dipukul oleh Sai, tidak sakit memang, tapi ini pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang berani memukul kepalanya.

Sai hanya tertawa kecil saat Sasuke menatap tajam dirinya.

"Semoga kita bisa menjadi partner yang baik mulai sekarang yah, Uchiha Sasuke"

.

.

.

Perlahan namun pasti, hubungan keduanya semakin dekat, bahkan semua orang telah beranggapan bahwa keduanya merupakan saudara kembar yang akhirnya bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, jika mengabaikan silsilah keluarga keduanya. Uciha Sasuke yang terkenal dinginpun akhirnya bisa mengeluarkan berbagai macam ekspresi jika berada didekat Shimura Sai. Bahkan sampai di cap 'dimana ada Sasuke pasti disitu ada Sai'.

Tap .. tap ..

Terdengar suara derap langkah beraturan di sore hari itu, seperti biasa setiap sore para siswa melakukan lari sore mengelilingi kamp pelatihan tersebut. Tak jarang beberapa warga sipil yang tinggal di dekat kamp tersebut yang sebenarnya merupakan keluarga dari para tentara pelatih tersebut mencuri-curi pandang para pemuda yang sedang berlari berkelompok seraya bernyanyi.

Tampak Sai berusaha mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan, Sasuke melirik pria yang berlari disampingnya yang beberapa menit lalu telah berhenti bernyanyi.

"Sebentar lagi, rumah dengan pagar berwarna hijau, arah jam 10"

Refleks Sasuke menoleh ke kiri saat Sai berbisik kecil padanya. Tampak seorang gadis remaja mencuri-curi pandang kearah mereka.

"Kau melihatnya kan? Sudah seminggu belakangan ini Dia selalu berada didepan rumahnya setiap jadwal kita lari sore"

Sasuke sedikit memicingkan matanya, berusaha mencerna perkataan Sai.

Sai hanya mendengus pelan, bagaimana bisa seseorang sejenius Uchiha Sasuke bisa mendadak bodoh saat berhubungan dengan yang namanya wanita, hal inilah yang selalu menjadi tanda tanya dibenak Sai, sudah setengah tahun lebih keduanya berteman tak pernah sekalipun Ia mendengar Sasuke membicarakan tentang wanita, sedangkan dirinya jangan ditanya, bahkan disaat Sasuke tidak ingin mendengarkan ceritanya, Ia tetap menceritakan tentang gadis-gadis yang pernah mampir dikehidupannya, terutama tentang seorang gadis yang baru ditemuinya beberapa minggu lalu saat dirinya mengambil izin keluar.

"Kau ini benar-benar tidak peka, atau pura-pura tidak peka? Gadis itu selalu memperhatikanmu" ujar Sai seraya berbisik kepada Sasuke, takut jika ketahuan mereka sedang mengobrol.

"Ada 31 orang dalam barisan ini, bagaimana bisa Kau menyimpulkan Dia memperhatikanku"

Sai memutar kedua bola matanya bosan.

"Kemarin saat Kau tidak ikut lari sore, Ia seperti kecarian seseorang, dari situ Aku menyimpulkan, orang yang diperhatikannya adalah Kau" ujar Sai seraya tersenyum jahil.

Kali ini Sasuke yang memutar kedua bola matanya bosan menanggapi ucapan Sai.

"Hei, respon lah sedikit, gadis ini manis juga, besok saat jam istirahat Aku bisa menemanimu kesana dan menjumpai Dia dan .."

"Dan setelah itu Kita ketahuan Kapten Hatake dan dihukum? Tidak, terima kasih" lanjut Sasuke memotong perkataan Sai.

"Tentu saja Kita melakukannya secara diam-diam, Kita akan dihukum hanya jika Kita ketahuan" ujar Sai seraya tersenyum.

"Aku tidak berminat"

"Hei hei, jangan bilang Kau tidak tertarik dengan wanita" Sai sedikit memicingkan matanya menatap Sasuke yang berlari disampingnya.

"Tentu saja Aku tertarik bodoh!" tanpa sadar Sasuke sedikit menaikkan nada suaranya.

"Uchiha, Shimura, tambah 5 putaran lagi!"

Sasuke dan Sai refleks menatap Kapten Hatake Kakashi yang memimpin pleton mereka, awalnya Sai mengira karena posisi mereka yang berada di barisan paling belakang tidak akan ketahuan jika sedang mengobrol, namun salahkan saja Sasuke, karena suaranya lah akhirnya mereka berdua ketahuan sedang mengobrol didalam barisan.

"Siap Kapten!" ujar keduanya pasrah.

.

.

.

Sai menatap Sasuke yang tengah duduk didepan barak mereka sembari membersihkan senjatanya. Kedua nya saat ini tengah mendapat giliran menjaga barak mereka untuk satu jam kedepan, sebelum nantinya mereka akan bergantian dengan 2 rekan mereka yang lain untuk berjaga di satu jam selanjutnya.

Sai ikut mendudukkan dirinya disebelah Sasuke, setelah beberapa saat yang lalu Ia berpatroli disekitar barak mereka, memastikan keadaan aman saat penjagaannya.

Haahh,

Ia menghela nafasnya kasar, membuat sepasang oniks disampingnya kini menatapnya.

"Terkadang Aku ingin terlahir bukan di masa peperangan seperti ini" keluhnya pelan, seraya menyandarkan dagunya dijung senapannya.

Refleks Sasuke menarik senjata milik Sai, membuat wajah pria itu jatuh kedepan.

"Yaah" protesnya kemudian.

"Sudah kukatakan berapa kali, jangan bermain dengan senjatamu, bagaimana kalau tanpa Kau sadari jemarimu menarik pelatuk dan peluru itu menembus rahang bawahmu"

Sai kembali menarik senjatanya, perlahan Ia menjauhkan benda tersebut dari wajahnya.

"Kau membuatku takut saja"

Sasuke hanya memutar kedua bola matanya bosan menanggapi perkataan Sai.

"Hahh, Kapten Hatake itu, yang benar saja, sudah menghukum kita menambah 5 putaran, Ia masih juga menyuruh kita membersihkan semua barak sore ini, badanku benar-benar lelah" keluh Sai seraya memukul pelan kedua bahunya bergantian.

Ya, selain menambah lari 5 putaran, Kapten Hatake juga menghukum keduanya untuk membersihkan seluruh barak di sore hari itu, yang dalam waktu hampir 1 jam setengah baru dapat diselesaikan oleh 2 pria dengan surai senada tersebut.

"Itu gara-gara Kau yang mengajakku mengobrol saat lari sore tadi, seharusnya Aku yang mengeluh disini"

Sai hanya tertawa kecil mendengar keluhan sang sahabat.

"Aku sampai lupa, percakapan Kita terhenti karena Kapten Hatake, Aku masih belum mendengar pendapatmu tentang gadis itu, bagaimana, apa Kau tertarik? Aku bisa menemanimu nanti untuk bertemu dengannya"

Sai memicingkan matanya tatkala melihat Sasuke yang tak kunjung memberi respon pada perkataannya barusan, sahabatnya itu tampak masih setia memainkan senjata yang tengah dipegangnya.

"Hei" ujarnya seraya menyenggol bahu Sasuke.

"Apa?"

Sai memutar kedua bola matanya bosan.

"Kau tahu apa yang tengah Aku bicarakan Sasuke, atau jangan-jangan benar kata mereka kalau Kau seorang gay?"

"Yaahh"

Kali ini Sasuke memberi atensi penuh pada pria yang duduk disampingnya.

"Habisnya, Kau memperlakukan perempuan layaknya mereka sebuah batu, sepertinya ada yang salah dengan kelenjar bawah otakmu, seharusnya pria akan bereaksi melihat seorang gadis cantik yang jelas-jelas tampak menaruh hati padanya"

"Kau tahu Aku datang ke kamp ini untuk berlatih, bukan untuk mencari wanita, bukannya Kau sendiri sadar, Kita hidup di zaman peperangan"

Sai menghela nafasnya pelan.

"Bukan berarti Kau tidak dibenarkan untuk menikmati hidupmu juga kan, Sasuke"

Sai menjeda kalimatnya sejenak, Ia perlahan menundukkan wajahnya.

"Aku tahu, Kau terobsesi ingin mengungguli kakakmu, Ia sudah mendapat pangkat tinggi diusianya yang masih muda, namun bukan berarti Kau merelakan dirimu untuk tidak menikmati kehidupan muda mu, Kita hidup cuma sekali"

Sasuke memalingkan wajahnya dari sang sahabat.

"Karena Kita cuma hidup satu kali, Aku ingin semuanya sempurna"

Sai mendecih pelan, untuk hal ini Ia sedikit berbeda pendapat dengan sang sahabat.

"Hei, Kau mau mendengar ceritaku saat beberapa minggu lalu Aku izin keluar"

Sasuke melirik Sai sembari kedua tangannya masih setia memainkan senjata yang dipegangnya.

"Kau sudah menceritakannya minggu lalu padaku"

Sai kembali mendecih.

"Tapi Aku belum bercerita secara detil padamu"

Sai terdiam sesaat.

"Kau ingat saat itu Aku bercerita kalau Kakek memintaku untuk menemaninya bertemu dengan salah satu perwakilan Jerman yang datang ke Jepang beberapa waktu lalu"

"Hm, sepertinya Kita benar-benar serius beraliansi dengan mereka" timpal Sasuke.

Sai mengangguk pelan.

"Tampaknya aliansi dengan mereka bukan hanya sekedar wacana lagi, tapi sayang, Kakek tidak banyak bercerita padaku tentang hasil pertemuannya, ah, mungkin Kau bisa bertanya juga pada Ayahmu nanti"

Jemari Sasuke terhenti tatkala mendengar nama sang Ayah disebut, dan hal tersebut tak luput dari pengamatan seorang Shimura Sai.

"Ah lupakan, Kau tahu, ada yang menarik perhatianku saat itu" Sai mencoba mengalihkan pembicaraannya, Ia tahu dari cerita sang sahabat bagaimana hubungan kedua Ayah dan Anak tersebut.

"Salah satu perwakilan Jerman itu datang membawa anak perempuannya, astaga, Kau mau tahu Sasuke, Dia wanita tercantik yang pernah Aku lihat, surainya yang seperti bunga matahari, ditambah warna bola matanya yang seperti warna langit biru, benar-benar seperti peri musim panas"

"Gaijin?"

Sai refleks memiringkan wajahnya, menatap Sasuke yang menatapnya penuh tanya.

"Yaah, kenapa Kau juga mengatakannya gaijin, itu tidak sopan, dan kalau tidak salah, Ibunya adalah orang Jepang"

Sasuke terdiam sesaat.

"Ah, maaf" sesalnya.

"Tapi sungguh, Dia benar-benar cantik, Kau pasti akan jatuh hati ketika pertama kali melihatnya"

Sasuke memutar kedua bola matanya bosan mendengar Sai, perlu digarisbawahi, pria yang bercerita disampingnya adalah seorang Shimura Sai, setiap makhluk berjenis kelamin perempuan akan dikatakannya cantik.

"Ha'i, ha'i"

Sai mendecih pelan.

"Kau tidak percaya padaku, kan?"

Sai sedikit mengerucutkan bibirnya layaknya wanita yang sedang merajuk.

"Lalu, siapa nama perempuan itu?"

Sai mengendurkan kedua bahunya, perlahan terdengar Ia menghela nafas.

"Sayangnya Aku tidak sempat menanyakannya, dan sepertinya Dia juga sudah pulang kembali ke negaranya"

Ia terdiam sejenak.

"Ah, cinta pada pandangan pertamaku yang berakhir dengan patah hati"

Sasuke melirik raut wajah Sai yang berubah lesu, Ia selalu menganggap Sai suka menghiperbola, tapi bisa dipastikannya kali ini pria disampingnya benar-benar serius dengan apa yang baru saja diucapkannya.

"Haahh .."

Sai kembali menghela nafasnya, perlahan Ia bangkit.

"Kalau Aku berjodoh dengannya, pasti Aku akan bertemu kembali dengannya"

.

.

.

Pesisir Pantai Jepang, Juli 1937

"Letnan"

Sasuke menoleh pada pria yang baru saja memanggilnya dengan pangkat Sersan Mayor. Pria itu memberi penghormatan padanya, yang dibalas oleh Sasuke.

"Lapor, Pleton 15 telah siap untuk berangkat"

Sasuke mengangguk, Ia adalah Komandan untuk Pleton 15 ini, mereka akan memulai perjalanan menuju Tiongkok untuk mempertahankan Manchuria.

Ia menatap matahari yang posisinya hampir diatas kepala.

'Sebentar lagi akan berangkat' batinnya.

"Pastikan seluruhnya sesuai rencana, Kita akan berangkat sebentar lagi" ujarnya pada sang bawahan, sang bawahan kembali memberi penghormatan sebelum pergi meninggalkan dirinya.

Sasuke menatap sekelilingnya, oniksnya berusaha mencari sesosok yang sangat ingin ditemuinya. Dua tahun lebih mereka terpisah karena tempat penugasan yang berbeda, sehingga Ia benar-benar senang saat mengetahui Ia akan mendapatkan tempat penugasan yang sama dengan sang sahabat lama.

Letnan Shimura Sai.

Begitulah sang sahabat kini dipanggil, pangkat yang sama dengan dirinya.

Ia berjalan pelan menyusuri pelabuhan, tampak beberapa Klasi memasukkan beberapa perlatan kedalam kapal. Di tepi pelabuhan tampak beberapa keluarga yang melepaskan sanak saudara mereka yang akan pergi menuju medan perang.

Ia menatap seorang wanita paruh baya yang tengah memeluk seorang pria berpangkat Klasi, mungkin wanita itu adalah Ibunya, Ia bisa melihat sang wanita paruh baya meneteskan airmatanya, seolah berat untuk melepaskan kepergian sang anak yang umurnya terlihat masih sangat belia.

Ia tersenyum getir, Ia kembali teringat saat sang Ibu memeluknya sebelum Ia berangkat ke pelabuhan. Berat memang, saat harus melepaskan kedua putra nya untuk maju kemedan perang diwaktu yang bersamaan.

Oniksnya kembali mencari sosok yang sedari tadi dicarinya, namun Ia tak kunjung menemukan pria bersurai hitam tersebut, sampai pada akhirnya oniksnya menangkap sosok wanita bersurai senada dengan bunga matahari.

Angin pantai yang berhembus membuat surai panjangnya seolah menari, jemari mungilnya tampak kesulitan menahan surai keemasannya dari terpaan angin. Dan salah satu tangannya Ia gunakan untuk menahan kimononya agar tidak terangkat karena angin pantai yang kuat.

Sasuke tertegun sesaat, tanpa Ia sadari Ia belum mengedipkan matanya sejak pertama kali sosok sang wanita tertangkap oleh netranya.

Cantik.

Hanya satu kata itu yang bisa Ia gumamkan.

Sasuke menundukkan wajahnya yang dirasanya mulai memanas, rasanya Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sang wanita. Ia kembali mengangkat wajahnya, dan mendapati sang wanita kini tertawa kecil sembari sedikit menutup mulutnya dengan punggung tangannya, karena perkataan yang terlontar dari seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda darinya yang berdiri disampingnya.

Ingin rasanya Sasuke mendengar seperti apa suara yang keluar dari bibir wanita itu, apakah semerdu suara tawanya yang sayup-sayup didengarnya barusan.

Namun rasa sukanya pada sang wanita harus Ia kubur dalam-dalam tatkala oniksnya menangkap sesosok pria bersurai hitam yang tengah berlari kecil kearah sang wanita. Wanita itu tersenyum menatap sang pria, Ia bisa melihat pancaran cinta dari tatapan wanita itu pada sang pria, sang pria kini tampak menangkup wajah sang wanita dengan kedua tangannya, membuat sang wanita memanyunkan bibirnya yang malah membuat sang wanita terlihat sangat menggemaskan, dan sang pria hanya tertawa menatapnya, siapapun yang melihat bisa memastikan bahwa pria bersurai kelam itu adalah kekasih sang wanita, pria yang sedari tadi dicarinya.

Shimura Sai.

.

.

.

Desember 1941.

Sasuke membuka kembali oniksnya tatkala mendengar suara senapan yang ditembakkan ke udara, sebagai penghormatan terakhir untuk para prajurit yang mangkat di medan perang.

Beberapa pelayat telah kembali seiring selesainya upacara pemakaman, walau tak ada jasad yang akan dimakamkan disana.

Ia menatap wanita bersurai pirang yang berjalan meninggalkan tempatnya dengan seorang wanita yang menuntunnya. Ia ingin menghampiri wanita itu, namun langkahnya terhenti saat salah satu bawahannya memanggilnya.

"Mayor"

Sasuke menatap Suigetsu yang berjalan kearahnya.

"Saya mendapat ini dari salah satu awak Akagi, sepertinya ini milik Mayor Shimura"

Sasuke segera mengambil sebuah buku catatan yang diberikan oleh Suigetsu padanya, Ia menatap buku catatan tersebut, tampaknya lebih baik Ia memberikannya pada istri sahabatnya, namun baru saja Ia ingin memberikan buku tersebut, sosok Naruto telah menghilang dari pandangannya.

Suigetsu mengamati gerak-gerik sang atasan yang tampak mencari seseorang.

"Mayor? Kau mencari seseorang?"

Sasuke kembali menatap Suigetsu, Ia kemudian perlahan menggelengkan kepalanya.

"Tidak" bohongnya singkat.

"Terimakasih karena telah memberikan ini padaku" lanjutnya seraya menunjukkan buku kecil tersebut kehadapan Suigetsu.

Suigetsu mengangguk, Ia pun membungkuk singkat pada sang atasan sebelum berlalu pergi.

Sasuke kembali menatap buku catatan yang ada ditangannya, Ia membawanya masuk kedalam mobilnya, dimana salah seorang bawahannya tengah menunggunya dikursi kemudi.

Ia mendudukkan dirinya dikursi penumpang, perlahan jemarinya membuka lembar demi lembar catatan yang memuat tulisan sang sahabat disana.

.

10 Mei 1941

Astaga, apa yang harus Aku katakan.

Aku benar-benar bahagia.

Tuhan terimakasih karena memberiku kesempatan untuk menjadi seorang Ayah.

.

5 Agustus 1941

Tak kusangka, Aku kembali ke Kaga, Kapal Induk yang membawaku ke Tiongkok beberapa tahun lalu.

Sebenarnya sangat berat meninggalkan Naruto yang tengah hamil seperti saat ini, namun Aku tidak mungkin menolak perintah Laksamana Hatake.

Ya Tuhan, kumohon lindungi istri dan anakku.

.

15 November 1941

Laksamana Hatake memintaku untuk bergabung dengannya di Akagi.

Katanya ini akan menjadi misi penting.

Sebenarnya sebelum pergi Aku benar-benar ingin bertemu dengan Naruto, namun tampaknya Aku harus mengurungkan niatku.

Maaf tidak bisa menemanimu saat ini, padahal Aku sudah berjanji pada almarhum orangtuamu untuk selalu berada disampingmu.

.

25 November 1941

Besok Akagi akan berlayar menuju Pearl Harbour, dan tak kusangka Aku bertemu Sasuke hari ini.

Sepertinya benar kata Sasuke, Aku seperti prajurit yang baru pertama kali ikut dalam perang.

Bahkan sampai saat ini tanganku masih bergetar mengingat misi kami ke Pearl Harbour.

.

1 Desember 1941

Ini sudah hari ke-6 perjalanan Kami menuju Pearl Harbour, dan sudah bulan ke 8 usia kandungan Naruto.

Ah, Aku benar-benar Ayah yang buruk, bahkan sampai sekarang Aku belum memikirkan nama untuk anak Kami kelak.

Ah, jika perempuan mungkin akan kuberi nama Yuki, Shimura Yuki terdengar cukup bagus.

Tapi sepertinya Aku punya firasat anakku pasti lelaki, karena Ia kelak harus bisa menjaga Ibunya menggantikan ku.

Hiroshi, Shimura Hiroshi.

Nama itu terdengar bagus, Aku ingin anak lelakiku tumbuh sesuai arti namanya.

Dermawan dan murah hati.

.

6 Desember 1941

Aku menatap jajaran pesawat pembom di Akagi yang siap meluluhlantakkan Pearl Harbour esok pagi.

Rasanya Aku kembali teringat kata-kata ku dulu pada Sasuke.

'Andai Aku terlahir bukan dimasa seperti ini'

Tapi, di masa apapun Aku terlahir, kumohon ..

Izinkan Aku tetap bertemu dengan Naruto.

.

Itulah kalimat terakhir yang ditulis oleh seorang Shimura Sai, dimana lembar-lembar selanjutnya hanya menjadi lembaran kertas putih yang kosong.

.

.

.

TBC

.

.