Characters belongs to : Mashashi Kishimoto

Story belongs to : Hatake Aria

.

.

Captured in Her Eyes

.

.

Suami Idaman

.

.

.

November, 1936.

Sai melambaikan tangannya pada Shino sesaat setelah Ia turun dari Ukuru, salah satu Kapal Pertahanan Pesisir Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Satu tahun lebih bertugas di pesisir pantai Okinawa membuatnya benar-benar merindukan kampung halamannya di Tokyo. Ia mendapati salah satu pengawal Kakeknya yang tampak berlari kecil kearahnya.

"Letnan" hormat sang pria pada dirinya.

Sai mengangguk singkat.

"Letnan, sebelah sini, Saya diperintahkan Laksamana Shimura untuk menjemput Anda"

Sang pria mempersilahkan Sai untuk berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka, pria itu berlari kecil mendahului Sai, menunjukkan jalan untuk sang Letnan Muda.

Sai mendudukkan dirinya dikursi kemudi sesampainya mereka di mobil penjemputan yang telah disiapkan sang Kakek.

"Aku hanya satu tahun setengah tidak pulang, tetapi sudah banyak yang berubah disini" gumam Sai seraya menatap beberapa bangunan yang mereka lewati sepanjang perjalanan mereka.

Sang pria yang sekaligus sebagai supirnya kali ini tersenyum singkat.

"Apa kali ini Anda akan lama berada disini, Letnan?"

Sai memalingkan pandangannya pada sang bawahan.

"Aku tidak tahu, Aku belum mendapatkan lagi surat penugasan yang baru, setidaknya Aku harus benar-benar memanfaatkan waktu liburku selama 1 minggu kedepan"

Sang pria kembali tersenyum.

"Semoga liburan Anda menyenangkan, Letnan"

.

.

.

Sai yang kini dalam balutan pakaian santainya tampak berjalan pelan keluar dari pekarangan rumah sang Kakek. Tubuhnya terasa amat ringan saat Ia tidak harus mengenakan seragam militernya. Beberapa orang tampak membungkuk singkat padanya, saat tanpa sengaja Ia berpapasan dengan mereka di perjalanannya.

Di ujung jalan Ia melihat seorang wanita tampak sedikit kesusahan membawa beberapa barang bawaannya, refleks Ia berlari kecil menghampiri wanita yang sangat dikenalnya tersebut.

"Ayame-san" panggilnya.

Refleks wanita yang dipanggil menoleh kearahnya.

"Ah, Shimura-san"

Sai tersenyum.

"Tidak perlu seformal itu Ayame-san, Aku sudah mengenalmu sejak Aku masih kanak-kanak"

Ayame tersenyum, ya, Ia dulunya bekerja pada keluarga Shimura, menjadi pengasuh Sai sejak Ia masih kecil, seiring usia Sai yang semakin dewasa Ia pun mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan sekarang Ia lebih fokus membantu sang Ayah yang membuka kedai ramen.

Sai melirik barang bawaan Ayame, refleks kedua tangannya mengambil barang tersebut.

"Tidak-tidak, apa yang Kau lakukan? Aku bisa membawanya sendiri" Ayama berusaha menghalangi Sai yang mencoba membawa barang belanjaannya.

"Ayame-san, ini berat, biarkan Aku membantumu" Sai tetap memaksa membawa barang bawaan Ayame.

Ayame hanya tersenyum singkat, membiarkan Sai membawa barang bawaannya. Keduanya kini berjalan beriringan.

"Bukannya kita seharusnya melewati jalan ini?" tanya Sai yang bingung saat Ayame mengambil jalan lain, bukan jalan seperti biasa menuju kedai ramen sang Ayah.

"Beberapa hari kedepan, Kami membuka stand di Festival, kenapa Kau tidak mencoba menikmati hari liburmu dengan mengunjungi festival malam ini"

"Ah .."

Sai terdiam sesaat, Ia lupa dengan festival musim gugur yang diadakan di dekat kuil, festival yang diadakan setiap tahunnya di bulan November.

"Sepertinya liburanku tidak sia-sia kali ini"

.

.

.

Liburan Sai memang benar-benar tidak sia-sia tahun ini.

Siapa sangka, setelah mengantar Ayame dan barang bawaanya, Ia berhasil menemukan kembali sosok gadis yang 3 tahun lalu ditemuinya, saat dirinya sedang berjalan-jalan menikmati festival malam ini. Gadis bersurai senada dengan bunga matahari, dan beriris sebiru langit.

Ia tersenyum, bahkan tampak nyaris tertawa kecil. Mungkin karena terlalu bahagia bisa menemukan kembali gadis yang berhasil merebut hatinya sejak pandangan pertama.

Ia mengamati sang gadis yang tampak seperti mencari seseorang. Gadis itu tampak ragu saat hendak bertanya pada orang-orang disekitarnya, Sai bisa melihat pancaran kesedihan di kedua sapphire nya saat Ia melihat beberapa orang disekitar sang gadis memandangnya dengan tatapan aneh.

"Gaijin"

Samar-samar Sai mendengar kata tersebut keluar dari mulut seorang wanita yang berjalan didekatnya. Ia mendengus pelan, sebegitu rasis kah penduduk negerinya ini?

Ia berjalan pelan menghampiri gadis bersurai pirang tersebut, melihat ekspresinya yang seperti ingin menangis membuat hati kecilnya ikut bersedih.

"Kau tersesat, Nona?"

Refleks tubuh sang gadis menegang, saat tiba-tiba seorang pria dari arah sampingnya menyapanya. Perlahan Ia memalingkan wajahnya dengan ekspresi ketakutan, menatap pria yang kini berada dihadapannya, refleks Ia mundur beberapa langkah dari sang pria.

"Ah"

Sai terdiam sesaat, melihat ekspresi ketakutan dari gadis yang kini berada dihadapannya. Mungkin ini efek dari perlakukan orang-orang disekelilingnya sedari tadi.

"Jangan takut, Aku tidak menggigit" candanya, berusaha mencairkan suasana disekitar mereka.

Sang gadis masih betah dalam diamnya, dan tanpa mereka sadari kini keduanya telah menjadi pusat perhatian. Sai kini bisa melihat kedua sapphire nya yang mulai tampak berkaca-kaca.

Sai menatap keadaan disekitar mereka, refleks Ia menarik pergelangan tangan sang gadis, membawanya pergi dari tempat tersebut.

Ia bisa merasakan tubuh sang gadis yang sedikit kaku saat dipaksanya berjalan mengikutinya.

"Jangan takut, Aku bukan orang jahat, Aku hanya membawamu menjauh dari mereka, Aku tahu Kau tidak nyaman dengan tatapan mereka padamu"

Sang gadis masih betah dalam diamnya, namun kini Sai bisa merasakan tubuh sang gadis tampak lebih rileks saat berjalan mengikutinya. Sai mengernyit sesaat, saat disadarinya sedari tadi sang gadis tidak juga membuka suaranya.

"Ano, Kau bisa berbicara bahasa Jepang?" tanyanya sesaat setelah keduanya berhenti di tepi jembatan kecil.

"Aku bisa berbicara bahasa Jepang, Ibuku orang Jepang" ujar sang gadis seraya mengerucutkan bibirnya, dan melepaskan tangannya dari genggaman Sai.

"Kau juga mau menyebutku gaijin?" tambahnya lagi, Ia cukup kesal dengan perlakuan orang-orang dari negeri kelahiran sang Ibu, yang selalu menganggapnya alien, hanya karena surai dan warna kedua iris nya yang berbeda dengan kebanyakan penduduk pribumi negeri kelahiran sang Ibu.

Sai tersenyum, senyuman paling tulus yang pernah diberikannya pada seorang wanita.

"Kenapa Aku harus memanggilmu gaijin"

Sang gadis refleks memberi atensi sepenuhnya pada pria dihadapannya.

"Mereka hanya iri karena Kau lebih cantik dari mereka"

Naruto mengerjabkan kedua sapphire nya, menatap tak percaya pria yang baru saja memuji dirinya. Ia melihat senyum tulus di wajah Sai, bisa dipastikannya kata-kata yang baru saja terucap dari kedua bibir sang pria adalah tulus, bukan rayuan gombal semata.

"Apa Kau tidak bangga memiliki surai dan iris yang sama dengan Ayahmu?" lanjut sang pria kembali.

Lagi, Naruto menatap takjub sang pria.

"Kau mengenal orangtuaku?"

Sai mengangguk mantap.

"Maaf atas ketidaknyamanannya Nona, Kau putri dari Namikaze Minato, Duta dari Jerman untuk pemantapan Blok Poros, Jerman-Jepang-Italia, bukan?"

Naruto terdiam, berfikir bagaimana bisa pria asing ini mengenal orangtuanya.

"Ah" Sai buru-buru melambaikan kedua tangannya.

"Tenang saja, Aku bukan penguntit"

Perlahan Ia berdeham pelan.

"Namaku Shimura Sai, Aku cucu dari Laksamana Shimura Danzo, dulu Aku pernah melihatmu saat pertemuan antara Perwakilan Jerman dengan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang beberapa tahun lalu, Kau ingat"

Naruto mengerjabkan kedua sapphire nya beberapa kali, Ia mencoba kembali memanggil memori lama tersebut. Tampak kini Ia membuka lebar mulutnya, membentuk huruf O, hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang wanita sepertinya.

Namun tingkahnya tersebut membuat Sai kembali menyunggingkan senyuman di wajahnya.

Naruto buru-buru mengatupkan kembali kedua bibirnya, perlahan Ia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, rona tipis pun kini menjalar diwajahnya, Ia terlalu malu kedapatan bertingkah tidak sesuai etika dihadapan pria asing yang baru ditemuinya.

"Namikaze Naruto" ujarnya singkat, mencairkan suasana diantara keduanya.

Sai kembali tersenyum, Ia mengadahkan tangan kanannya, Ia ingat tata cara bagaimana orang Barat saling memperkenalkan diri mereka.

"Senang berkenalan denganmu, Naruto-chan"

.

.

.

Ayame menatap gadis bersurai pirang yang sedang duduk termenung menatap secangkir ocha ditangannya. Ia menatap sang gadis yang kini mulai tersenyum sembari masih memainkan cangkir ocha nya.

"Nona, sedari tadi Kau terus tersenyum, apa yang membuatmu sebahagia itu"

Ayame terdiam sejenak, sebenarnya Ia tahu betul apa yang membuat majikan barunya ini sebahagia itu. Beberapa minggu lalu Nyonya Kushina meminta dirinya untuk menjadi pelayan pribadi sekaligus sebagai teman untuk Naruto, namun Ia meminta izin agar masih bisa membantu sang Ayah di kedai ramen nya, setidaknya sampai sang Ayah menemukan orang yang dapat membantunya. Dan saat itulah Ia mendapati sang Nona muda bersama dengan seorang pria yang sangat dikenalnya masuk kedalam kedai ramen sang Ayah.

"Ah" Naruto terdiam sejenak.

"Apa sebegitu kelihatannya?" tanyanya seraya memegang kedua pipinya yag dirasanya mulai memerah.

Ayame tertawa kecil melihat tingkah laku sang Nona muda yang terlihat seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Hei, tidak tahukah Ayame, sang Nona memang baru pertama kali jatuh cinta pada seorang pria.

"Apa Aku terlihat begitu menyukainya?" tanyanya lagi.

Ayame tersenyum kecil.

"Dan Aku juga bisa melihat jika Dia juga menyukaimu, Nona"

Naruto terdiam sesaat, ingin rasanya Ia mempercayai perkataan Ayame.

"Tidak mungkin pria seperti Dia menyukai gadis asing sepertiku"

Ayame ikut bersedih melihat perubahan raut wajah sang majikan.

"Saya tahu betul sifat Shimura-san, bukankah Saya pernah mengatakan kalau Saya adalah pengasuhnya saat Dia masih kecil Nona"

Ayame mengelus surai pirang sang majikan yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.

"Dan apa Nona tidak bisa melihat ekspresi Shimura-san ketika bersama dengan Nona? Sudah dipastikan itu ekspresi pria yang sedang jatuh cinta"

Naruto kembali merona, Ia mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan sang pria bersurai kelam tersebut seminggu yang lalu, dan selama seminggu itu pula sang pria banyak menghabiskan waktunya dengannya, Ia mengantarnya pulang malam itu, dan setibanya Ia di gerbang rumahnya, Ayame telah menunggunya dengan raut wajah khawatir.

Hari-hari berikutnya, Shimura Sai sering berkunjung ke kediamannya, mengajaknya berkeliling distrik yang beberapa bulan ini telah menjadi tempat tinggal barunya, membawanya mencicipi makanan yang baru Ia tahu rasanya begitu enak, ramen.

"Nona"

Panggilan Ayame kembali membawa Naruto menuju alam sadarnya, Ia menoleh, menatap wanita didepannya.

"Lalu, apa yang terjadi saat kemarin Kau mengantarnya saat Ia kembali pergi bertugas?"

Ayame mengerucutkan bibirnya.

"Nona tidak membiarkanku ikut bersama Nona saat mengantarnya"

Wajah Naruto kembali memerah, Ia kembali teringat kejadian 2 hari yang lalu saat Ia mengantar Sai yang akan kembali pergi bertugas.

.

"Kali ini Kau mendapatkan penugasan dimana? Apakah sangat jauh?"

Sai menatap gadis bersurai pirang yang kini menatap sendu kearahnya. Ia membenarkan letak topi nya, kemudian merapikan seragam militernya.

"Aku mendapat tugas di pesisir Teluk Tokyo, tidak jauh, namun Aku belum tahu kapan bisa kembali"

Sang gadis tampak menundukkan kepalanya, terpancar raut kesedihan diwajahnya. Ia baru saja mendapat teman yang menerimanya saat kebanyakan orang lain menganggapnya alien, dan kini orang itu harus pergi meninggalkannya.

"Hei"

Sai menangkup wajah sang gadis dengan kedua tangannya, memaksa kedua sapphire nya untuk menatap wajahnya.

"Aku bukan pergi untuk berperang, jadi jangan berekspresi seperti itu"

Sang gadis masih betah dalam diamnya.

"Aku akan sering mengabarimu, Aku akan rajin mengirimu surat"

Naruto memegang punggung tangan Sai yang masih menangkup wajahnya.

"Kau janji?"

Pria itu tersenyum.

"Aku janji"

Dan saat itu Naruto mendapatkan ciuman pertamanya, ciuman pertama dengan pria pertama yang berhasil merebut hatinya.

.

.

.

Minggu dan bulan berlalu, momiji yang menguning telah berubah menjadi jingga dan merah, daun-daun beraneka warna tersebut perlahan berguguran seiring bergantinya musim. Dan ini adalah salju pertamanya di negeri sang Ibu.

Naruto bergegas menuju gerbang rumahnya tatkala mendengar suara pegawai pos. Ia berlari tanpa menyadari Ia belum menggunakan alas kakinya. Ibunya dan Ayame bahkan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkahnya.

"Namikaze Naruto" ujar sang pegawai pos.

"Ha'i" Naruto mengangguk dengan wajah sumringahnya, yang bahkan membuat sang pegawai pos sedikit merona.

"Surat untuk Anda"

Naruto segera mengambil surat yang diberikan sang pegawai pos padanya, Ia langsung bergegas menuju kamarnya setelah membubuhkan stempel keluarganya di buku tanda terima sang pegawai pos.

Ia merebahkan dirinya di kasurnya, membuka perlahan amplop surat dari Sai.

.

Naruto, bagaimana kabarmu?

Kuharap Kau saat ini sedang tidak kekurangan selimut tebalmu, musim dingin kali ini benar-benar sangat dingin.

Bahkan saat ini Aku benar-benar merindukan kuah kaldu hangat dari ramen Paman Teuchi,

Ah, Aku berbohong.

Yang paling kurindukan adalah dirimu.

Melihat senyumanmu rasanya mengingatkanku dengan musim panas, dan sepertinya Aku harus cukup puas hanya melihat fotomu saat ini.

Ah, musim panas.

Banyak festival dimusim panas, dan semoga Aku bisa mengajakmu ke festival itu musim panas tahun ini.

Naruto, ada yang ingin Aku katakan padamu

..

Ah, sepertinya Aku akan mengatakannya pada saat kita bertemu nanti.

Dan Aku benar-benar tidak sabar menunggu saat itu.

Jaga dirimu baik-baik.

Shimura Sai.

.

Naruto memeluk surat tersebut di dadanya, Ia tersenyum. Perlahan Ia melepaskan surat tersebut dari pelukannya, membawanya ke meja kecil yang terletak dekat meja riasnya. Ia membuka laci, terdapat tumpukan surat dari orang yang sama didalamnya. Perlahan Ia pun meletakkan surat Sai kedalamnya.

Ia mengambil selembar kertas dan pena disudut meja. Ia tersenyum, seraya memikirkan kalimat yang akan ditulisnya untuk Sai kali ini.

.

.

.

April, 1937

Sai kembali.

Ia kembali saat Sakura baru saja bermekaran. Namun wajahnya saat ini tidak secerah musim semi.

Naruto menatap iba Sai yang tengah membawa figura seorang pria, Ia kini berdiri disamping sang Ayah, menghadiri upacara pemakaman salah satu perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Laksamana Shimura Danzo.

Suara senapan yang ditembakkan kelangit menggema, mengantarkan kepergian sang Laksamana.

Beberapa pelayat tampak mencoba menyemangati sang pria, yang merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki Shimura Danzo. Satu persatu dari mereka pun pergi dari area pemakaman.

Minato menarik lengan sang anak, mengajaknya untuk pergi dari area tersebut. Namun sang anak menepis dengan lembut genggaman sang Ayah. Ia menatap sang Ayah, mencoba memberitahu lewat tatapannya, bahwa saat ini Ia belum bisa kembali bersama sang Ayah.

Minato mengangguk pelan, membelai lembut pipi sang anak. Ia kemudian menatap punggung anak gadisnya yang perlahan menjauh, menuju seorang pria bersurai kelam yang kini berdiri sendirian.

"Sai"

Sai mendengar suara lirih gadis yang kini berada dihadapannya.

"Sai"

Gadis itu kembali memanggil namanya, bahkan kini Ia merasakan jemari sang gadis mengusap lembut pipinya. Ibu jari sang gadis mengusap pelan lelehan air mata yang sejak tadi mengalir dari kedua iris hitamnya.

Sai menarik sang gadis kedalam pelukannya, Ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher sang gadis. Ia mengeratkan kedua tangannya di punggung sang gadis, memeluknya seerat mungkin.

Naruto mengusap perlahan punggung Sai, membisikkan kalimat penenang untuk sang pria, karena saat dilihatnya Sai menangis, tanpa disadarinya air mata juga ikut mengalir dari kedua sapphire nya.

"Sai, Kau tidak sendiri, masih ada Aku disini" bisiknya lagi.

Sai masih mengeratkan pelukannya pada tubuh sang gadis. Ia masih menangis tanpa suara, dan hal itu yang membuat Naruto semakin khawatir.

"Sai" lagi, Naruto memanggil namanya dengan lirih.

Perlahan Sai mengendurkan pelukannya, Ia mengangkat sedikit wajahnya, mensejajarkan bibirnya di telinga Naruto, membisikkan sang gadis dengan kata-kata yang sedari tadi berada diujung bibirnya.

"Naruto, kumohon, jangan tinggalkan Aku"

.

.

.

Juli, 1937

Musim panas telah tiba, namun bukan festival musim panas yang Naruto kunjungi bersama Sai tahun ini, seperti yang dijanjikan sang pria padanya melalui suratnya musim dingin yang lalu.

Disinilah Ia berada, berdiri di pelabuhan dengan Ayame yang berdiri disampingnya, tengah menunggu kehadiran seorang pria bersurai kelam, ya, hari ini Ia akan melepas kepergian sang pria menuju medan perang.

Naruto memegang kedua pipinya, semalaman Ia mengangis dikamarnya seorang diri.

Sapphire nya menangkap sosok pria yang tengah berlari kecil kearahnya, pria yang begitu dikenalnya, yang telah berhasil mencuri hatinya.

Sang pria kini telah berdiri dihadapannya, dan sapphire nya kembali berkaca-kaca.

Sai refleks menangkup kedua pipi sang gadis dengan kedua tangannya, membuat bibir sang gadis mengerucut lucu.

"Kau terlihat jelek kalau menangis"

Sang gadis hanya mendengus pelan mendengar ejekan sang pria, sementara Sai hanya tertawa kecil melihat ekspresi gadisnya.

Ayame tersenyum melihat tingkah keduanya, perlahan Ia berjalan menjauh, memberi privasi untuk pasangan tersebut.

"Ayolah, sudah berapa kali Aku katakan, jangan menangis, kalau Kau menangis, itu hanya akan membuatku semakin berat pergi meninggalkanmu"

Sai mengusap airmata yang perlahan keluar dari sapphire sang gadis dengan ibu jarinya.

"Kau pergi ketempat yang jauh, dan belum tahu kapan akan kembali" ujar sang gadis seraya memegang salah satu tangan sang pria yang masih berada di wajahnya.

Sai tersenyum lembut.

"Aku janji, Aku pasti kembali"

Perlahan kedua tangan Sai meninggalkan wajah Naruto.

"Kau janji?"

Sai mengangguk mantap.

Suasana hening sejenak, tampak sang pria menundukkan wajahnya sesaat, sebelum akhirnya Ia kembali mengangkat wajahnya, menatap tajam wanita dihadapannya.

"Ah, dan Naruto, ada yang ingin Aku katakan padamu"

Kali ini Sai memegang kedua bahu Naruto. Perlahan Ia kembali menundukkan wajahnya.

"Naruto, maukah Kau menikah denganku?" ucapnya lirih seraya mengangkat wajahnya perlahan.

"Aku akan menjadi pria yang pantas untuk menjadi suamimu, menjadi suami yang baik, Aku pria pekerja keras, Aku akan mengabarimu setiap saat dimanapun Aku berada, Aku akan selalu menepati janjiku padamu, Aku akan menjadi pria yang paling romantis saat Kita hanya berdua, Aku tidak akan minum minuman beralkohol, Aku tampan, dan anak-anak Kita kelak akan lahir setampan diriku atau secantik dirimu"

Sai tersenyum mengingat kalimat panjang yang baru saja keluar dari kedua bibirnya, kalimat untuk meyakinkan Naruto kalau Ia cukup pantas untuk menjadi suami sang gadis kelak.

"Kita akan menjadi keluarga yang sempurna nantinya, anak-anak Kita pasti sangat lucu dan menggemaskan"

Perlahan ekspresi diwajah Sai berubah, saat melihat Naruto yang hanya terdiam menatapnya.

"Um, Naruto" panggilnya pelan.

"Naruto, katakanlah sesuatu, Kau tahu, Aku sedikit gugup saat Kau tidak berkata sepatah kata pun seperti ini, apa ini terlalu cepat?" lanjutnya kembali seraya mengusap lembut pipi kanan sang gadis.

Naruto buru-buru menggelengkan kepalanya, saat dilihatnya ekspresi khawatir diwajah Sai. Perlahan tangan kirinya menggenggam punggung tangan kanan Sai yang ada diwajahnya.

"Kalau begitu cepatlah pulang, Aku akan menunggumu disini"

Sai tersenyum, perlahan Ia menarik sang gadis kedalam dekapannya.

"Aku tidak sabar mendengar orang-orang akan memanggilmu dengan sebutan Shimura-san"

.

.

.

Desember, 1941

"Shimura-san"

Naruto menatap pria bersurai raven yang kini tengah berdiri diambang pintu rumahnya.

"Uchiha-san"

Pria itu tersenyum.

"Masuklah" lanjutnya kembali.

Sang pria menggeleng pelan.

"Aku hanya sebentar disini, ada pertemuan yang harus Aku hadiri setelah ini"

Naruto mengangguk pelan, Ia menatap Sasuke yang kini mengambil sebuah buku kecil dari dalam sakunya.

"Aku ingin memberikan ini untukmu, ini peninggalan milik Sai"

Naruto mengambil buku catatan yang diberikan Sasuke padanya.

"Terima kasih, Uchiha-san"

Sasuke tersenyum.

"Mulai sekarang, panggil saja Aku Sasuke, tidak perlu seformal itu padaku"

Naruto mengangguk pelan, Ia pun membalas senyuman sang pria bersurai raven yang berdiri dihadapannya kini.

"Dan Kau juga bisa memanggilku Naruto mulai sekarang"

.

.

.

TBC

.

.

.

Take a deep breath,

It's really hard …

Membuat kisah romansa berlatar PD II, surat dari pos, gaya percintaannya.

Karna lebih mudah menulis romansa dengan setting masa kini, sebab gue anak zaman now (Hahaha)

Semoga tidak bosan dengan alur dan ceritanya.

Untuk chap kedepan dan seterusnya akan masuk Arc SasuFemnaru.

Eum,

Mind to gimme some review guys? I really want to know what do you think about this chapter.

Thank You,

Hatake Aria.