Characters belongs to : Mashashi Kishimoto
Story belongs to : Hatake Aria
.
.
Captured in Her Eyes
.
.
Pria Bermarga Uchiha
.
.
.
Maret, 1945
Ayame menatap bocah lelaki berusia 4 tahun yang sedang bersembunyi dibalik pintu geser ruang utama. Netranya bersibobrok dengan manik kelam sang bocah.
"Akhirnya ketemu juga!" Ujarnya seraya berlari kecil menghampiri sang bocah.
Tidak ingin dirinya tertangkap, sang bocah segera berlari kembali, meninggalkan tempat persembunyiannya yang bukan lagi tempat persembunyian. Dengan gesitnya Ia berhasil melalui kepungan Ayame, berlari melalui celah tangannya. Ia tahu, jika dirinya tertangkap, Ia akan dipaksa untuk menghabiskan makan siangnya, tidak tahukah sang Bibi bahwa saat ini Ia sama sekali tidak lapar.
"Hiroshi!"
Ayame berteriak, menggelengkan pelan kepalanya seraya berkacak pinggang.
Bukannya segera berhenti, sang bocah malah tertawa kecil sambil terus berlari, hingga akhirnya Ia berlari masuk kedalam kamar sang Ibu.
Hiroshi terpaku didepan pintu, tawanya terhenti seketika, saat manik kelamnya menangkap sosok sang Ibu yang tampak tengah menangis sembari membaca sebuah buku kecil. Ia sering mendapati sang Ibu membaca buku tersebut, dan setiap sang Ibu membacanya, tetesan air mata selalu keluar dari kedua bola matanya yang berwarna biru.
"Ibu," panggilnya.
Refleks sang Ibu menghapus airmata yang meleleh dikedua pipinya, buru-buru Ia menutup buku catatan milik sang almarhum suami dan meletakkannya diatas meja kecil disamping tempat tidurnya.
Naruto merapikan kimononya, Ia menarik nafas perlahan, kembali menghapus jejak airmata dipipinya, Ia tak ingin sang anak melihatnya habis menangis.
"Hiroshi."
Sang anak yang disebut namanya berjalan kecil menghampiri sang Ibu.
"Ibu, Kau menangis lagi?" tanyanya seraya mengusap pelan jejak airmata dipipi sang Ibu.
"Ibu merindukan Ayah?" tanyanya lagi.
Naruto hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan sang anak, Ia kemudian menangkup wajah sang anak dengan kedua telapak tangannya.
"Apa Hiroshi tidak merindukannya?"
Hiroshi terdiam, Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin Ia merindukan sang Ayah yang bahkan rupanya saja Ia tidak pernah tahu? Mungkin sang Ibu dan Ayame pernah menunjukkan foto sang Ayah padanya, tapi tetap saja, baginya pria difoto tersebut tak lain hanyalah seorang pria asing. Ia tidak pernah mendengar bagaimana suara sang Ayah, melihat senyumnya, karena setiap kali ketika Ia bermain dengan beberapa anak kecil disekitar rumahnya, dan ketika beberapa dari mereka menanyakan tentang Ayahnya, maka hanya satu wajah yang selalu muncul dibenaknya, wajah seorang Pria bermarga Uchiha.
"Pos!"
Hiroshi refleks menjauhkan wajahnya dari keduatangan sang Ibu saat didengarnya suara pegawai pos menggema dari pintu depan.
"Ah!"
Hiroshi berteriak kecil, kemudian berlari meninggalkan sang Ibu.
"Hiro!"
Hiroshi tetap berlari menuju pintu utama, menghiraukan panggilan sang Ibu. Ia menatap Bibi Ayame yang sudah berdiri didepan pintu menyambut sang pegawai pos. Dilihatnya Ayame membubuhkan stempel dibuku Genma, sang pegawai pos yang selalu mengantarkan surat ke kediamannya.
Genma tersenyum kecil menatap Hiroshi yang tampak bahagia melihat surat yang dipegang Ayame.
"Hiro-kun, sampai jumpa lagi ya," pamit Genma sembari mengacak pelan surai hitam Hiroshi.
"Bibi Ayame berikan surat itu padaku," pinta Hiroshi seraya menaikkan kedua tangannya hendak menggapai surat yang ada ditangan Ayame.
Refleks Ayame mengangkat tangan kanannya, membuat Hiroshi mengerucutkan bibirnya karena tak dapat menggapai surat tersebut.
"Hiro."
Hiroshi menatap sang Ibu yang baru datang.
"Ibu, Bibi Ayame tidak mau memberikan suratku," adunya pada sang Ibu.
Naruto menatap surat yang ada ditangan Ayame.
"Aku akan memberikannya, setelah Kau menghabiskan makan siangmu!" Perintah Ayame mutlak.
Hiroshi menurunkan kedua bahunya, Ia kembali mengerucutkan bibirnya.
Naruto berjalan kearah Ayame, meminta Ayame memberikan surat tersebut, tanpa melihat nama pengirim surat tersebut, Ia sudah tahu surat dari siapa itu. Ayame memberikan surat tersebut kepada Naruto.
Hiroshi menatap surat yang kini telah berpindahtangan pada sang Ibu.
"Ibu akan membacakan surat ini untukmu, asal Kau segera menghabiskan makan siangmu."
"Ibu janji?"
"Ibu janji."
Hiro segera menarik tangan kiri Ayame, membawa sang Bibi menuju dapur. Hanya menghabiskan makan siang bukanlah masalah besar baginya, apalagi dengan hadiah sang Ibu akan segera membacakan surat dari sang Paman kesayangannya.
.
.
.
Hiroshi segera berlari menghampiri sang Ibu yang kini tengah duduk di pekarangan belakang kediaman mereka.
"Ibu," panggilnya seraya mendudukkan dirinya dipangkuan sang Ibu.
Naruto hanya bisa tersenyum melihat tingkah putra sematawayangnya, Ia mengelus surai kelam Hiroshi, wajah putranya benar-benar bagai renkarnasi sang suami, Shimura Sai.
"Ibu, Aku sudah selesai makan, sekarang bacakan suratku!"
"Suratmu?" Naruto menaikkan sebelah alisnya, Ia kemudian tersenyum jahil pada sang anak yang berada dipangkuannya.
"Paman Sasuke pasti menuliskannya untukku, lihatlah ini!"
Hiroshi mengambil surat yang berada disamping sang Ibu, Ia menunjuk nama yang tertera disurat, huruf kanji. Ia memang belum bisa membaca kanji, namun sang Paman pernah mengajarinya menulis namanya dalam huruf kanji, setidaknya Ia hapal bentuk dari tulisan namanya.
"Shimura Hiroshi."
Hiroshi menyebutkan namanya, memang huruf kanji tersebut jika dibaca akan berbunyi 'Shimura Hiroshi'.
Naruto kembali tersenyum, Ia pun segera mengambil surat tersebut dari tangan sang anak, membuka pelan amplop surat tersebut, sekarang tak ada lagi alasan baginya untuk tidak membacakan surat tersebut.
"Hm, berarti setelah ini Kau harus mulai belajar membaca dan menulis, Ibu tidak mau hanya menjadi juru baca untukmu."
Hiroshi hanya memberikan cengirannya pada sang Ibu, walau fisiknya 100% dari sang Ayah, namun sifatnya hampir 80% adalah warisan genetika sang Ibu.
"Bukannya diakhir surat Paman Sasuke biasanya juga menanyakan kabar Ibu, jadi bisa dikatakan surat ini juga untuk Ibu, jadi tidak ada pihak yang dirugikan disini."
Tanpa disadari Naruto Ia memutar kedua bola matanya, sejak kapan sang anak jadi pintar bernegosiasi seperti ini.
"Baiklah-baiklah, Ibu akan segera membacakannya untukmu."
Tanpa mengulur waktu lagi, Naruto segera mengeluarkan 2 lembar kertas dari dalam amplop tersebut. Ia berdeham pelan, sedangkan Hiroshi yang ada dipangkuannya tampak diam dan menatap dengan wajah serius surat yang dipegang sang Ibu.
.
Hiroshi,
Bagaimana keadaanmu? Paman harap Kau tidak menyusahkan Ibumu apalagi Bibi Ayame.
Apa Kau masih suka melewatkan makan siangmu?
.
Naruto menghentikan bacaanya, Ia menundukkan wajahnya, menatap sang anak yang juga tengah menatapnya.
"Aku janji, Aku tidak akan melewatkan makan siangku lagi!" gumam sang anak seraya menganggukkan kepalanya pelan.
Hiroshi memegang dagu sang Ibu, membuatnya kembali menatap surat yang ada ditangannya, seolah memberinya kode untuk melanjutkan membaca surat tersebut.
.
Saat ini Paman sedang berada ditempat yang sangat jauh dari Jepang,
Sebuah pulau, namanya Sumatera.
Paman akan menunjukkan letaknya di peta saat kembali nanti.
Tidak ada salju disini, sepertinya musim panas tidak pernah pergi dari negara ini.
.
"Ibu."
Naruto melirik sang anak yang memanggilnya, membuatnya menghentikan bacaannya.
"Apa ada negara seperti itu? Bukankah saat ini masih musim dingin?"
Naruto tersenyum.
"Tentu saja ada, ada beberapa negara diluar sana yang tidak pernah turun salju, tidak seperti negara Kita."
Hiroshi mengangguk pelan.
Naruto kembali melanjutkan bacaannya, selanjutnya tertulis cerita singkat Sasuke mengenai tugasnya dinegara tersebut, dan rencana Ia beserta beberapa pasukannya yang akan kembali ke Jepang dalam waktu dekat ini.
"Paman Sasuke akan kembali? Benarkah?"
Naruto mengangguk, setidaknya begitulah isi dari surat Sasuke kali ini.
"Yatta!"
Hiroshi yang bahagia refleks bangkit dari pangkuan sang Ibu. Ia kemudian melompat kecil dengan kedua tangannya berada diatas.
Naruto hanya bisa tertawa melihat reaksi sang anak yang tampak sangat bahagia menunggu kedatangan sang Pria bermarga Uchiha tersebut.
.
.
.
Dua minggu telah berlalu sejak surat terakhir dari Sasuke. Seperti siang-siang sebelumnya, Hiroshi kembali bermain kejar-kejaran saat hendak disuruh makan siang, namun kali ini bukan Bibi Ayame yang mengejarnya, melainkan sang Ibu sendiri.
Naruto berhenti sesaat, Ia mengelap peluh yang muncul di dahinya, Ia selalu tak habis pikir, kenapa Hiroshi selalu saja susah dibujuk untuk makan siang. Apakah semua anak seusia Hiroshi sangat susah untuk dibujuk makan? Lalu jika mereka tidak makan, apa yang akan dibakar tubuh mereka menjadi energi untuk bermain seharian?
"Hiro!"
Teriakannya kembali menggema di lorong rumahnya.
Bukannya berhenti, Hiroshi malah semakin mengencangkan larinya sembari tertawa melihat ekspresi kelelahan sang Ibu, mungkin Ia berfikir kapan lagi Ia bisa bermain seperti ini bersama sang Ibu.
Hiroshi berlari menuju pekarangan depan kediaman mereka, tanpa disadarinya ada seorang pria yang baru masuk dari pagar rumahnya yang tak dikunci.
"Tertangkap!" ujar sang pria seraya mengangkat tubuh Hiroshi.
Hiroshi refleks berteriak seraya menggoyangkan kedua kakinya yang kini tengah mengambang diudara, namun teriakannya perlahan berhenti tatkala manik kelamnya menangkan sosok pria yang tengah menggendongnya kini.
"Paman Sasuke!" teriaknya, yang dibalas dengan senyuman diwajah sang paman.
"Hei jagoan, lari dari makan siang lagi?" tanya Sasuke seraya merapatkan tubuh Hiroshi kedalam dekapannya.
Hiroshi hanya memberikan cengirannya pada sang paman.
"Bukankah Paman sudah bilang, jangan pernah melewatkan makan siangmu."
"Aku tidak melewatkannya, Aku hanya menundanya."
"Kau sudah pandai berkelit ternyata,"
"Hiro …"
Kata-kata Naruto terhenti tatkala sapphire-nya menangkap sosok Sasuke yang tengah menggendong putranya.
"Lihat, Kau membuat Ibumu yang cantik jadi terlihat berantakan karena mengejarmu."
Refleks Naruto membenahi kimononya yang mungkin tampak berantakan karena berlarian mengejar Hiroshi, Ia juga mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangannya. Rona merah pun langsung menjalar dipipinya mendengar ucapan Sasuke.
"Sasuke-san, Kau sudah kembali?"
Sasuke mengangguk singkat menjawab pertanyaan Naruto.
"Kapan Paman pulang?"
Atensi Sasuke kini kembali pada bocah lelaki digendongannya.
"Baru saja."
"Kenapa Paman tidak beritahu sebelumnya, Aku dan Ibu bisa menyambut Paman di pelabuhan."
Sasuke tersenyum kecil, Ia kemudian mengambil topinya dan mengenakannya dikepala Hiroshi.
"Paman ingin membuat kejutan untuk Hiroshi."
Hiroshi membetulkan posisi topi Sasuke yang menutupi sebagian wajahnya.
Naruto hanya tersenyum kecil melihat interkasi Sasuke dan Hiroshi dihadapannya.
"Sasuke-san, kenapa tidak sekalian ikut makan siang disini?"
Hiroshi mengangguk, meng-iya-kan saran sang Ibu, Ia kembali menatap Paman Sasukenya yang tampak sedang mempertimbangkan tawaran sang Ibu.
"Ayolah Paman, Paman tahukan kalau masakan Ibu sangat enak, lagipula Aku sudah tak sabar mendengarkan kisah bajak laut yang dulu pernah Paman ceritakan padaku."
"Hm, baiklah, sepertinya perut Paman juga sudah lapar karena perjalanan jauh."
Tampak binar bahagia di manik kelam Hirsohi mendengar jawaban Sasuke.
"Lalu, Ibumu memasak apa hari ini?"
"Sup tomat."
"Sup tomat?"
"Bukannya Paman sangat menyukainya? Karena itu Aku juga belajar menyukainya."
Sasuke melirik Naruto yang berjalan mengampiri mereka.
"Tampaknya bagi Hiroshi Kau adalah sosok panutannya, Ia sering bercerita kalau saat Ia besar nanti Ia ingin seperti dirimu, sampai-sampai Ia berusaha menyukai makanan yang juga Kau sukai."
Sasuke tertegun mendengar penuturan Naruto.
"Shimura Hiroshi, ayo turun, Kau tidak ingin membuat Paman Sasuke yang baru kembali kelelahan karena menggendongmu kan?"
Hiroshi menggeleng menatap sang Ibu yang tengah merentangkan kedua tangannya, Ia malah semakin mendekap erat tubuh Sasuke.
"Aku tidak kelelahan, biar Aku tetap menggendongnya sampai kedalam."
Sesampainya mereka didalam, sosok Ayame telah menunggu kedatangan mereka. Tampaknya begitu mendengar suara Sasuke diluar tadi, Ayame langsung buru-buru menyediakan makanan untuk Sasuke.
Keempatnya duduk dan mulai menikmati makan siang yang dimasak oleh Naruto dan Ayame, makan siang kali ini terasa sangat ramai karena celotehan Hiroshi, juga cerita fiksi dari Sasuke, tentang pelaut miskin pemberani yang berhasil mengalahkan bajak laut.
.
.
.
"Ayahku sangat hebat, Ia berhasil menangkap ikan sebesar ini kemarin malam."
Hiroshi menatap Souchiro yang merentangkan kedua tangannya selebar mungkin, menggambarkan besarnya ikan yang berhasil ditangkap sang ayah yang seorang nelayan kemarin malam.
"Tidak mungkin, Kau pasti berbohong, Ayahmu tidak mungkin menangkap ikan sebesar itu," timpal Ayumi dengan pose mencibir.
"Kau hanya berkata seperti itu agar Ayahmu terlihat sangat hebat bukan?" lanjutnya lagi.
Souchiro mengerucutkan bibirnya, pertanda Ia tidak senang dengan ucapan Ayumi barusan.
"Lalu, Kau pikir apa Ayahmu hebat?"
Ayumi menatap sinis kearah Souchiro.
"Tentu saja, Ayahku pernah menangkap ikan yang bahkan besarnya melebihiku," ujar Ayumi tak kalah antusias, menceritakan salah satu cerita sang ayah yang juga merupakan seorang nelayan.
"Tidak mungkin, Kau juga pasti berbohong." Souchiro tidak ingin terdengar kalah dari Ayumi.
"Aku tidak pernah berbohong."
Ayumi kemudian menatap Hiroshi yang sedari tadi terdiam mendengar dirinya dan Souchiro beradu mulut.
"Lalu, Ayah Hiroshi sendiri bagaimana?"
Souchiro refleks memberikan atensinya pada Hiroshi yang ditanya oleh Ayumi, teman mereka yang satu ini memang paling jarang dan nyaris tidak pernah membicarakan tentang ayahnya pada mereka.
"Ng …"
Hiroshi terdiam sejenak, apa yang harus diceritakannya, sama sekali tidak pernah tergambar seperti apa sosok sang Ayah dalam benaknya. Souchiro dan Ayumi tampak antusias menunggu kalimat yang akan keluar dari kedua bibirnya.
"Dia selalu pergi dengan kapal yang sangat besar, yang didalamnya bisa sampai ratusan orang, dan mereka selalu pergi ke negara-negara yang jauh."
Hiroshi tampak antusias menceritakan sosok yang refleks muncul dibenaknya, Paman Sasuke nya.
"Apa mereka juga menangkap ikan?"
Hiroshi menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Ayumi.
"Tidak, Dia Angkatan Laut Kekaisaran Jepang."
"Hebat," puji Souchiro dengan mata berbinar.
Ketiganya kemudian larut dengan cerita tentang masing-masing Ayah mereka, Ayumi yang tampak tak pernah mau kalah dari Souchiro, dan cerita Hiroshi tentang Ayahnya yang selalu sukses membuat kedua temannya kagum.
"Hei, Ibuku bilang bunga Sakura ditaman sudah mekar, Ibu dan Ayah mengajakku hanami minggu ini," ujar Ayumi mencoba mengganti topik pembicaraan mereka.
"Kau benar, Ibu dan kakakku juga bercerita tentang itu kemarin," timpal Souchiro tak kalah antusias.
"Lalu, apa kali ini Kau juga akan pergi bersama Ayahmu melihat bunga Sakura ditaman Hiroshi?"
"Ya, keluargaku dan Ayumi akan pergi melihat bunga Sakura hari minggu besok," lanjut Souchiro menimpali perkataan Ayumi.
Hiroshi menatap Ayumi dan Souchiro secara bergantian. Ia tidak pernah melakukan hanami bersama sang Ibu atau Bibi Ayame, namun sepertinya itu juga bukan ide yang buruk, dan kali ini Ia juga berniat untuk mengajak sang paman ikut dengannya.
"Hm, pasti. Aku dan keluargaku juga akan pergi melihat bunga Sakura minggu ini."
.
.
.
"Ibu, ayo kita pergi melihat Sakura."
Naruto refleks mengalihkan pandangannya dari vas bunganya kepada Hiroshi yang baru saja muncul.
"Ibu, Kau mau kan?" lanjut Hiroshi lagi seraya menarik kimono sang Ibu.
Naruto meletakkan seluruh rangkaian bunganya kedalam vas. Ia kemudian berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan sang putra.
"Kenapa tiba-tiba ingin melihat sakura? Biasanya tidak pernah," ujarnya seraya mencubit pelan hidung sang anak.
Refleks Hiroshi memegang hidungnya yang terasa sakit, Ia mengelusnya pelan, berusaha menghilangkan efek cubitan sang Ibu.
"Souchiro dan Ayumi bilang bunga sakura ditaman sangat cantik, hari minggu ini mereka akan pergi bersama Ayah dan Ibu mereka."
Naruto terdiam sejenak, saat ini sudah memasuki minggu pertama dibulan April, tampaknya musim semi datang tepat waktu kali ini. Namun Ia cukup tertegun saat Hiroshi meminta untuk melihat bunga sakura, karena di tahun sebelumnya Ia tampak tak menaruh minta pada hal-hal seperti hanami.
"Baiklah, kalau itu yang Kau mau, kapan Kita akan pergi?"
Tampak perubahan diraut wajah Hiroshi, Ia tampak sedang memikirkan waktu yang tepat untuk melihat bunga sakura bersama sang Ibu.
"Hm, tapi rasanya kurang seru jika hanya pergi berdua bersama Ibu," gumamnya kemudian, Hiroshi ingat saat ini Bibi Ayame sedang tidak berada bersama mereka, karena harus merawat Ayahnya yang sedang sakit.
"Bagaimana kalau kita mengajak Paman Sasuke? Pasti akan semakin menyenangkan kalau Dia ikut."
Naruto mengacak rambut sang anak.
"Kau tidak boleh mengganggu Paman Sasuke, Dia juga punya banyak pekerjaan."
Hiroshi mengerucutkan bibirnya.
"Kalau begitu Aku akan menanyakannya apakah Dia sibuk atau tidak hari minggu ini."
Naruto refleks menarik lengan Hiroshi yang hendak pergi.
"Hei Kau mau kemana?"
"Tentu saja ketempat Paman Sasuke."
"Kau tidak tahu rumahnya kan?" Naruto mencoba mencegah sang Anak, sebenarnya Ia tahu kediaman Sasuke, pria itu pernah memberitahunya, namun belum pernah sekalipun Ia ataupun Hiroshi berkunjung ke kediamannya.
Hiroshi tampak terdiam sejenak.
"Aku akan meminta Paman Lee mengantarku kesana, Dia pasti tahu."
Hiroshi kembali membalikkan badannya, hendak berlari meninggalkan sang Ibu, namun tangan sang Ibu yang gesit kembali berhasil menahan tubuhnya.
"Hei."
Naruto hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hiroshi.
"Paman Lee juga pasti sedang sibuk, jangan mengganggunya juga yah," ujarnya kembali seraya mengelus surai hitam sang anak.
Hiroshi tampak cemberut, Ia benar-benar ingin pergi melihat bunga sakura bersama sang paman tahun ini. Dan tampaknya Tuhan mengabulkan keinginan Hiroshi kali ini, terdengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang didepan sana. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Hiroshi berlari menuju pintu depan, Ia penasaran siapa tamu mereka sore ini.
"Paman Sasuke," ujarnya girang saat mengetahui pria yang kini berdiri didepan rumahnya adalah sang Paman yang sedari tadi ingin ditemuinya.
"Hei jagoan," panggil Sasuke seraya mengangkat tubuh Hiroshi kedalam gendongannya.
Naruto yang berlari kecil mengejar Hiroshi refleks berhenti tatkala sapphire-nya menangkap sosok Sasuke yang tengah berdiri didepan rumahnya.
"Sasuke-san," gumamnya.
Sasuke mengalihkan pandangannya pada wanita bersurai pirang didepannya.
"Apa kedatanganku mengganggu?"
"Tidak sama sekali," jawab Hiroshi spontan seraya menggelengkan kepalanya.
Sasuke hanya tertawa kecil melihat tingkah Hiroshi.
"Sebenarnya justru kedatangan Paman sangat diharapkan kali ini," lanjut Hiroshi lagi yang menuai kernyitan didahi Sasuke.
Sasuke melirik kearah Naruto berusaha meminta penjelasan.
"Ah, itu …" Naruto mengalihkan pandangannya dari kedua oniks Sasuke, keduatangannya mengapit kimononya.
"Ibu dan Aku akan pergi melihat bunga Sakura minggu ini, apa Paman mau ikut?"
Sasuke kembali menatap bocah lelaki yang digendongnya.
"Ayolah Paman, Paman harus ikut, karena jika hanya Aku dan Ibu yang pergi pasti tidak seru," lanjut Hiroshi tanpa menunggu jawaban dari Sasuke.
"Hiroshi,"panggil Naruto, ekspresinya menunjukkan bahwa Ia ingin Hiroshi tidak terlalu menekan Sasuke dengan permintaannya.
Sasuke tersenyum lembut, sepertinya tak butuh waktu lama untuk memikirkan ajakan Hiroshi.
"Tentu saja, ayo Kita pergi minggu ini."
Dan jawaban Sasuke membuat Hiroshi yang ada digendongannya refleks mengangkat keduatangannya diudara seraya berteriak kecil. Ia terlalu senang memikirkan keseruan hanami bersama sang paman hari minggu ini.
"Dan Paman, Kau juga datang tepat waktu kali ini, ikutlah makan malam dengan kami hari ini, hari ini Ibu memasak enak."
"Benarkah? Kalau begitu Paman beruntung."
Naruto hanya tersenyum kecil melihat interaksi keduanya.
"Aku akan menyiapkan makan malam dahulu," ujarnya seraya hendak pamit dari hadapan Sasuke.
Sasuke melangkahkan kakinya masuk kedalam kediaman almarhum sahabatnya itu, dengan Hiroshi yang masih berada didalam gendongannya.
"Aku akan membantu," ujarnya seraya berjalan mengikuti Naruto.
"Hiroshi juga."
.
.
.
TBC
.
.
