Characters belongs to : Mashashi Kishimoto
Story belongs to : Hatake Aria
.
.
Captured in Her Eyes
.
.
Ayah Untuk Hiroshi
.
.
.
Sasuke menatap figura yang terletak disamping tempat tidurnya, foto dirinya dengan seluruh teman satu pletonnya saat masa pelatihan dasar dahulu. Disampingnya berdiri Shimura Sai yang tersenyum seraya merangkul pundaknya. Melihat foto sang sahabat, Ia kembali teringat pada Hiroshi, fisiknya benar-benar mengingatkannya pada sang sahabat, terlebih Hiroshi yang juga mewarisi senyuman Sai. Hiroshi bagaikan reinkarnasi sang sahabat.
Sasuke melirik jam yang menggantung di dinding rumahnya, sepertinya Ia harus segera berangkat. Ia ingat, Ia telah berjanji pada Hiroshi untuk melihat bunga sakura ditaman hari ini.
"Kau mau pergi?"
Sasuke menatap sang Ibu yang membawa selimut baru yang hendak diletakkannya diranjang Sasuke.
"Ibu?"
Wanita paruh baya yang dipanggil tersebut segera menoleh, sepertinya Ia bisa membaca ekspresi kaget diwajah anaknya.
"Ibu, sudah Aku katakan, Ibu tidak perlu repot-repot untuk datang kerumahku hanya untuk membereskan rumahku, atau mengantarkan makanan untukku," lanjut Sasuke seraya berjalan mendekati sang Ibu, mengambil selimut yang dibawanya, dan segera meletakannya diatas tempat tidurnya.
"Apa Ibu tidak boleh mengunjungi anak Ibu?"
Sasuke tersenyum kecil kearah sang Ibu.
"Tentu saja boleh, tapi Ibu tidak harus membawakan makanan untukku, apalagi sampai membersihkan seluruh rumahku."
"Kau hanya mendapat jatah libur sebentar, Ibu tidak ingin Kau menghabiskan waktu liburmu dengan kelelahan hanya karena membereskan rumahmu yang sudah lama tidak ditempati ini."
Sasuke menyenderkan tubuhnya dipintu kamarnya, Ia melipat kedua tangannya didepan dadanya, Ia menatap sang Ibu yang hendak memeriksa pakaian kotornya.
"Bahkan laba-laba juga tidak bisa membuat sarangnya dirumah ini, karena selama Aku bertugas, Ibu selalu datang dan membersihkannya."
Sasuke beranjak dari senderannya dan berjalan menghampiri sang Ibu.
"Dan Ibu, tidak ada lagi pakaian kotor, Aku bisa menyucinya sendiri, dan Ibu apa Kau lupa, selama 6 bulan di kamp pelatihan dasar Aku telah terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, jadi jika hanya menyuci pakaianku sendiri itu masalah kecil."
Mikoto hanya bisa menatap sang anak dengan sedikit kesal karena niat awalnya yang ingin membereskan pakaian sang anak tidak kesampaian.
"Kalau begitu, segeralah menikah, agar Ibu lebih tenang lagi karena sudah ada seorang wanita yang akan mengurusmu."
Sasuke terdiam sejenak mendengar perkataan sang Ibu.
"Kau menolak perjodohan dengan keluarga Hyuga, padahal menurut Ibu Hinata gadis yang baik, dia pasti bisa menjadi istri yang sempurna untukmu."
"Ibu,"
"Tenang, Ibu dan Ayah tidak akan memaksamu jika memang Kau tidak ingin menikah dengan Hinata," Mikoto menjeda sejenak kalimatnya, Ia kembali bangkit dari posisi setangah berdirinya dari sudut lemari pakaian Sasuke.
"Walaupun reaksi Ayahmu seperti itu, sebenarnya Ia bukan marah atau kecewa pada sikapmu yang telah menolak perjodohan dengan keluarga Hyuga, karena pada dasarnya Ia juga ingin melihatmu bahagia, tidak masalah bagi Kami jika wanita yang kelak menjadi istrimu bukanlah berasal dari pilihan Kami, asalkan wanita itu bisa membuatmu bahagia, itu sudah lebih dari cukup."
Sasuke menatap wajah sang Ibu yang kembali terdiam.
"Karena Kau satu-satunya putraku yang tersisa, karena itu, Ibu ingin yang terbaik untukmu."
Tanpa Mikoto sadari setetes airmata jatuh dari manik kelamnya, Ia kembali mengingat putra sulungnya yang telah gugur dimedan perang.
"Ibu,"
Mikoto segera memberi kode pada Sasuke untuk tidak mendekat kearahnya, Ia pun segera menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Dan terkadang Ibu ingin sekali Kau tidak pergi kegaris depan, karena setiap kali Kau pergi bertugas, Ibu pasti akan selalu cemas menanti kabar darimu."
"Ibu, bukannya Aku selalu mengirimmu surat? Aku pasti akan mengabari Ibu, dan Ayah pasti juga tahu kabarku dari laporan Angkatan Laut kepada Kementerian."
Mikoto menghela nafasnya pelan, menjadi bagian dari militer telah menjadi karir turun menurun keluarga Uchiha. Dan Ia tahu, putranya menjadi bagian dari militer merupakan pilihannya sendiri, pilihan dimana Ia ingin mengabdi untuk negaranya.
"Sudah, lupakanlah," Mikoto tidak ingin membahas lebih lanjut lagi.
"Lalu, Kau mau pergi kemana hari ini?" melihat dari gerak gerik sang anak sewaktu Ia datang tadi, Ia tahu Sasuke hendak pergi, dan sepertinya Ia bisa menebak putra bungsunya ini akan pergi menemui siapa.
"Kau ingin pergi mengunjungi wanita itu? Mm, maksud Ibu, kediaman Shimura?"
Sasuke tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya dari sang Ibu.
"Tidak perlu menutupinya, Ibu tahu dari Shisui, bukankah selama bertugas Kau juga sering mengirimkan surat kepadanya?"
Sasuke masih betah dalam diamnya, Ia baru mengetahui kalau Ibunya tahu sampai sejauh ini.
"Dia istri mendiang sahabatmu bukan? Shimura Sai, pria yang ada difoto ini bukan?" lanjut Mikoto kembali seraya menunjuk foto seorang pria yang ada difigura milik Sasuke.
"Sejak kapan Ibu mengetahuinya?"
Mikoto tersenyum, kemudian Ia meletakkan kembali figura yang sempat diambilnya kesamping tempat tidur Sasuke.
"Saat Kau menolak perjodohan dengan keluarga Hyuga, ekspresi wajahmu yang mengatakannya, yah katakanlah itu insting seorang Ibu, darisitu Ibu tahu, Kau menolak perjodohan itu karena ada wanita lain yang Kau cintai."
Sasuke menaruh keduatangannya kedalam saku celananya, wajahnya sedikit merona, Ia merasa saat ini dirinya bagaikan seorang remaja yang sedang diintrogasi oleh Ibunya mengenai cinta pertamanya, padahal kenyataannya wanita itu memanglah cinta pertamanya.
"Apa Ibu memberitahu Ayah mengenai ini? Maksudku …"
"Tidak, Ibu hanya mengatakan kalau Kau mungkin telah memiliki wanita lain yang Kau sukai, Ibu tidak mengatakan detil siapa wanita yang Kau sukai itu," Mikoto segera menjawab Sasuke, seakan mengerti apa kalimat selajutnya yang akan keluar dari bibir putra bungsunya tersebut.
Mikoto melirik putranya yang tampak menghela nafasnya lega.
"Kenapa Kau tidak pernah menceritakannya pada Ibu? Apa Kau takut Ibu atau Ayah akan menolaknya karena Dia seorang janda yang memiliki seorang anak, dan terlebih Ia adalah istri mendiang sahabatmu sendiri?"
Sasuke kembali terdiam, Ia seakan terpana dengan kalimat yang baru terlontar dari bibir sang Ibu, Ibunya benar-benar bisa membaca isi pikirannya.
"Ibu dan Ayah tidak seperti yang Kau bayangkan, mungkin orang lain akan berfikiran negatif jika Kau memiliki hubungan dengan wanita itu, tapi Ibu tidak peduli, asalkan Kau bahagia bersamanya itu sudah lebih dari cukup bagi kami."
Mikoto ikut terdiam melihat sang anak yang sedari tadi hanya terdiam tanpa berusaha menjawab perkataannya.
"Jadi, apa Kau memang benar-benar mencintai wanita ini?"
Sasuke mengangkat wajahnya, menatap sang Ibu sepenuhnya yang tampak menjeda kalimatnya.
"Dan apa wanita itu juga mencintaimu sama besarnya seperti Kau mencintainya?"
.
.
.
"Paman, Kau melamun."
Sasuke mengerjabkan kedua oniksnya, Ia segera menatap Hiroshi yang berjalan disampingnya sembari memegang tangannya.
"Tidak," elaknya pada anak kecil disampingnya.
Hiroshi mengerucutkan bibirnya, Ia tahu Pamannya ini sedang berbohong.
"Kalau begitu, coba apa yang baru saja Hiro katakan?" ujinya pada sang Paman.
Sasuke tersenyum simpul, seorang bocah 4 tahunan sedang mengujinya.
"Hm," Sasuke memasang pose berfikir, jemari tangannya yang menganggur Ia gunakan untuk memegang ujung dagunya.
"Kau baru mengatakan kalau Souchiro mungkin berbohong ketika Ia bercerita kalau musim dingin lalu Ayahnya bertemu dengan Yuki Onna, benarkan?"
Sasuke kembali tersenyum melihat ekspresi tak percaya diwajah Hiroshi.
"Hei, sudah Paman katakan, Paman mendengar seluruh ceritamu."
"Tapi, tadi Paman terlihat seperti sedang melamun."
"Bukan melamun, tapi berfikir," Sasuke segera mengkoreksi ucapan Hiroshi.
Sementara itu Naruto yang berjalan disamping Sasuke hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kedua lelaki beda generasi disampingnya.
"Lebih baik Paman menggendongmu saja, kalau Kau berjalan selambat ini Kita akan lama sampai di tamannya."
Sasuke segera mengangkat tubuh Hiroshi kedalam gendongannya.
"Enak saja, bukan Hiro yang berjalan lambat, tapi Ibu, seharusnya Paman menggendong Ibu, bukan Hiroshi."
Perkataan polos Hiroshi sontak membuat wajah Naruto dan Sasuke merona.
"Hiro …"
Perkataan Naruto langsung terpotong karena teriakan Hiroshi.
"Ah, Kita sudah sampai, lihat, bunga Sakuranya sangat indah bukan"
Naruto menatap pemandangan yang tersaji didepannya. Benar kata Hiroshi, bunga Sakura ditaman ini benar-benar sangat indah, Ia jadi bersyukur karena mengiyakan ide Hiroshi yang memintanya untuk melihat bunga sakura tahun ini. Sasuke yang berdiri disampingnya juga tampaknya terpesona dengan keindahan bunga sakura tersebut, yang dibuktikan dengan senyuman yang menghiasi wajahnya saat menatap jejeran pohon sakura didepannya.
Ketiganya mengistirahkan diri diatas alas kain yang baru saja dibentangkan oleh Naruto, Hiroshi masih saja menatap takjub jajaran pohon sakura disekelilingnya. Dahulu kata sang Ibu, dipekarangan rumahnya terdapat sebuah pohon Sakura, kakek Danzo yang menanamnya, namun karena usia pohon tersebut yang sudah tua, akhirnya pohon sakura tersebut mati saat usia Hiroshi masih 2 tahun.
"Sayang, bunga sakura seindah ini hanya mekar beberapa minggu saja."
Sasuke mengacak rambut Hiroshi yang duduk dipangkuannya.
"Kalau begitu, Kita tinggal datang dan melihatnya lagi ditahun depan."
Hiroshi segera menoleh kebelakang, menatap Sasuke dengan mata berbinarnya.
"Benarkah?"
Sasuke hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Hiroshi.
"Hiroshi."
Hiroshi menatap Ayumi yang memanggilnya dari kejauhan, refleks Ia segera berdiri dari pangkuan Sasuke. Ia menatap sang Ibu, seolah mengerti arti tatapan sang anak, Naruto perlahan menganggukkan kepalanya. Hiroshi segera berlari menghampiri Ayumi yang tak lama kemudian Souchiro juga ikut bergabung dengan keduanya.
Sasuke hanya tersenyum melihat Hiroshi yang tengah bermain bersama teman-temannya. Ia menyangga tubuhnya dengan keduatangannya dimasing-masing sisi tubuhnya.
"Jangan menjanjikan sesuatu pada Hiroshi, walau itu masih sangat lama, tapi daya ingat anak itu sangat kuat, Dia pasti akan menagihnya."
Sasuke refleks menoleh kearah Naruto yang sedang menata makan siang mereka disampingnya.
"Janji? Ah, maksudmu melihat bunga sakura di tahun depan?"
Sasuke menjeda kalimatnya, Ia kembali tersenyum kecil.
"Aku bersungguh-sungguh, Aku bukan hanya memberi janji palsu padanya, yah itu kecuali kalau Kau tidak ingin pergi bersamaku lagi ditahun depan."
Naruto menundukkan wajahnya, dan hal itupun tak luput dari pengamatan Sasuke.
"Aku tidak keberatan kok, hanya saja …" Naruto menghentikan kalimatnya sejenak.
"Hanya saja, Aku tidak ingin Sasuke-san jadi terbebani karena itu, mungkin saja ditahun depan …"
"Sasuke, sudah Kukatakan berkali-kali cukup panggil Aku dengan Sasuke saja, Kau masih saja bersikap formal denganku," ujar Sasuke refleks seraya memegang tangan Naruto.
Melihat raut wajah Naruto yang mendadak berubah saat melihat tangan Sasuke yang mengenggam tangannya, saat itu Sasuke tersadar akan tindakannya, dan buru-buru meminta maaf.
"Ah, maaf."
Wanita disampingnya hanya menggeleng pelan.
"Lagi pula siapa yang mengatakan Aku terbebani, malah sebaliknya, Aku suka menghabiskan waktuku bersama kalian."
Sadar akan ucapannya barusan, Sasuke buru-buru mengklarifikasinya.
"Maksudku, Aku telah lama mengenalmu dan Hiroshi, jadi kalian bukan lagi orang asing bagiku."
Kali ini Sasuke kembali memberanikan diri mengenggam tangan Naruto, seolah ingin meyakinkan wanita bersurai pirang tersebut seluruh perkataannya barusan. Dan kali ini Naruto membiarkannya mengenggam tangannya walau hanya bebera detik, karena setelah itu wanita bersurai pirang tersebut segera menarik tangannya, mengambil sesuatu dari keranjang bekal mereka.
Naruto mengeluarkan kotak bekal berisi onigiri, dan menyodorkannya kepada Sasuke.
"Aku hanya membuat bekal yang sederhana, kuharap Kau menyukainya."
"Kau tahu, Aku selalu menyukai apapun yang Kau masak," ujar Sasuke seraya mengambil sebuah onigiri dan langsung memakannya.
Rona tipis menghiasi wajah Naruto karena perkataan Sasuke barusan, namun Ia segera menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menghilangkan rona tersebut dari wajahnya.
Sasuke kembali mengambil onigiri tersebut, sepertinya pria bersurai raven tersebut terlalu fokus pada makanannya sehingga tidak menyadari sedari tadi Naruto menatap dirinya.
Naruto tertawa kecil saat menyadari ada beberapa butir nasi tersisa disudut bibir Sasuke, dimatanya saat ini Sasuke terlihat seperti Hiroshi yang sedang makan.
Sasuke yang sadar refleks menoleh pada Naruto yang masih tertawa menatapnya, wanita itu hanya menunjuk sudut bibirnya dengan jari telunjukknya. Sasuke segera menyentuh sudut bibirnya dengan ibu jarinya, dan benar saja, ada butiran nasi yang tersisa disana. Refleks Sasuke ikut tertawa kecil bersama Naruto, menertawakan tingkahnya.
Tak terasa senja telah tiba saat ketiganya menikmati hari mereka ditaman, memandang bunga sakura yang bermekaran, Hiroshi juga terlihat sangat asik bermain dengan kedua sahabatnya.
"Aku akan menjemput Hiroshi," ujar Sasuke seraya bangkit dari duduknya.
Naruto hanya mengangguk pelan, sembari membereskan kotak bekalnya, memasukkan kembali kedalam keranjang.
Sasuke berjalan menghampiri Hiroshi dengan keduatangannya yang Ia masukkan kedalam saku celananya. Hiroshi yang masih fokus pada sahabatnya, tidak menyadari kehadiran Sasuke dibelakangnya.
"Sudah saatnya pulang jagoan," ujar Sasuke seraya menundukkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hiroshi.
"Ah, Paman!"
Refleks Hiroshi menoleh kebelakang, dan langsung mendapatkan senyuman dari sang Paman.
Kedua bocah yang tengah bermain bersama Hiroshi refleks menoleh kearah Sasuke.
"Apa Dia yang selalu Kau ceritakan pada Kami Hiro?"
Sasuke menatap jemari Ayumi yang menunjuk kearahnya.
"Hm," angguk Hiroshi seraya tersenyum kecil.
"Hei, Ibumu sudah menunggu, ayo Kita segera pulang."
Sasuke meraih tangan Hiroshi, membantunya berdiri. Samar-samar terdengar juga suara kedua orangtua Souchiro dan Ayumi memanggil, kedua bocah itupun langsung berlari menghampiri orangtua mereka.
Hiroshi melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke, perlaha Ia mulai membersihkan bajunya dari debu yang menempel, dan Sasuke membersihkan surai kelamnya dari kelopak bunga sakura yang menempel. Bocah lelaki itu kembali mengambil tangan Sasuke, membiarkan pria itu menggandeng tangannya.
Sasuke menggenggam tangan Hiroshi, keduanya kini berjalan pelan menuju tempat dimana Naruto telah menunggu mereka.
"Hei, apa yang Kau ceritakan tentang Paman pada mereka?"
Hiroshi refleks menoleh pada Sasuke yang menatapnya, perbedaan tinggi keduanya yang begitu ketara membuat dirinya harus menengadahkan kepalanya lebih tinggi.
Hiroshi tersenyum tipis, kemudian Ia kembali menundukkan kepalanya.
"Souchiro dan Ayumi, mereka selalu membicarakan tentang kehebatan Ayah mereka, sedangkan Aku, Aku tidak tahu seperti apa Ayahku dulu, jadi sebagai gantinya Aku bercerita tentangmu Paman."
Sasuke refleks menghentikan langkahnya, Ia terdiam sejenak. Ia lupa, bahkan sejak didalam kandungan Hiroshi sudah harus kehilangan sang Ayah, jelas, tidak ada satupun kenangan dengan sang Ayah selama hidupnya.
Sasuke mengangkat anak lelaki mendiang sahabatnya ini kedalam gendongannya.
"Bukankah Paman pernah menceritakan tentang Ayahmu, Dia seorang perwira yang hebat, namun Tuhan tampaknya sangat sayang padanya, sehingga Ia harus meninggalkan dunia ini, Ibumu, Hiroshi dan juga Paman lebih dahulu."
Hiroshi terdiam, Ia menatap oniks Sasuke yang kini sejajar dengannya, perlahan bocah lelaki itu mengalungkan keduatangannya keleher Sasuke, membenamkan wajahnya diperpotongan leher sang Paman.
"Pasti akan lebih menyenangkan kalau Paman adalah Ayahku."
Sasuke terdiam dengan kalimat yang baru saja keluar dari bibir Hiroshi, sekelebat rasa bersalah muncul dibenaknya. Ia senang Hiroshi menginginkan dirinya sebagai sosok Ayah bagi bocah tersebut, namun Ia tidak ingin menghilangkan sosok Sai yang merupakan ayah kandung dari sang bocah. Ia tidak ingin sosok sang sahabat perlahan menghilang dari memori Hiroshi.
.
.
.
Sasuke meletakkan perlahan Hiroshi yang tertidur digendongannya keatas ranjang. Ia menatap bocah lelaki yang tengah tertidur dengan pulasnya sejak dalam gendongannya selama perjalanan mereka pulang kerumah. Perlahan Sasuke mengelus surai kelam Hiroshi, menatap wajahnya yang benar-benar mirip dengan mendiang sahabatnya.
Perlahan Ia menarik kembali tangannya dari surai lembut Hiroshi, oniksnya kini tertuju pada sebuah figura kecil yang ada disudut tempat tidur, sebuah figura yang memuat foto mendiang sahabatnya, ayah kandung sang bocah, Shimura Sai.
Sasuke kembali teringat dengan perkataan Hiroshi ditaman sore tadi, perasaan bersalah kembali merasuki dirinya.
"Maafkan Aku, Aku berjanji tidak akan membiarkan sosokmu menghilang dari ingatannya," gumamnya pada foto sang sahabat.
Sasuke kembali menatap Hiroshi yang tertidur pulas, sekali lagi dielusnya surai kelam Hiroshi. Perlahan Ia mendekatkan bibirnya, mengecup singkat kening Hiroshi.
Sasuke membetulkan selimut yang menutupi tubuh Hiroshi, perlahan Ia berjalan keluar, meninggalkan Hiroshi yang tengah tertidur pulas.
"Terimakasih karena sudah menidurkan Hiroshi."
Refleks Sasuke menoleh kearah sumber suara, disudut ruangan tampak Naruto tengah berdiri dengan secangkir teh ditangannya.
"Aku membuatkanmu secangkir teh."
Sasuke mengangguk singkat sebagai ucapan terimakasih pada Naruto.
"Aku akan meletakkannya diatas meja makan."
Naruto berjalan perlahan menuju dapur dengan diikuti oleh Sasuke dibelekanganya. Dengan hati-hati Ia meletakkan teh tersebut diatas meja.
"Duduklah, Aku akan menyiapkan makan malam untukmu," lanjutnya lagi sesaat setelah melihat Sasuke yang berdiri disebrang meja.
Naruto kembali kedapur, melihat nasi yang tadi ditanaknya, kemudian Ia beralih mengambil beberapa sayuran untuk dicuci.
"Butuh bantuan?"
Refleks Naruto menoleh kesumber suara, dbelakangnya kini tengah berdiri Uchiha Sasuke yang sedang menggulung lengan bajunya, bersiap untuk membantu Naruto.
Wanita itu tersenyum simpul.
"Tidak perlu, Aku bisa melakukannya."
"Tapi Aku ingin," jawab Sasuke seraya ikut berjongkok, mengambil sayuran yang sudah dipisahkan Naruto untuk dicuci.
Sasuke mengangkat sayuran tersebut, mencucinya, dan segera memberikannya kembali pada Naruto.
Naruto mengambil sayuran yang diberikan Sasuke, dan mulai memotongnya. Keduanya larut dalam diam, hanya suara pisau yang bersinggungan dengan alas kayu menghiasi ruangan.
"Hm, tadi sore apa yang Kau dan Hiroshi bicarakan."
Sasuke refleks menatap Naruto yang masih fokus pada sayuran yang tengah dipotongnya. Tanpa sadar Ia menggaruk belakang lehernya yang sama sekali tidak terasa gatal.
"Bukan apa-apa."
Kali ini giliran Naruto yang menatap Sasuke, perlahan Ia menghentikan kegiatan memotong sayurnya, Ia tidak puas dengan jawaban Sasuke barusan.
"Kau berbohong, sepertinya kalian bercerita banyak tadi."
Sasuke tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat ekspresi diwajah Naruto, tapi apa yang harus dikatakannya, haruskah Ia jujur, karena Ia tahu suasana akan langsung berubah jika Ia menceritakan apa yang tadi dibicarakannya dengan Hiroshi.
"Hiroshi hanya menceritakan tentang cerita sahabatnya."
Naruto kembali kekegiatannya memotong sayuran.
"Apa yang dikatakannya?" lagi, Ia masih penasaran dengan pembicaraan Sasuke dan Hiroshi.
Sasuke terdiam, masih berfikir, haruskah Ia mengatakannya pada Naruto.
"Dia bilang, Dia iri melihat teman-temannya memiliki seorang Ayah."
Refleks Naruto menghentikan kegiatan memotong sayurannya, tangan kanannya yang memegang pisau dibiarkan menggantung diudara.
Sasuke menyadari ketengangan yang muncul diantara mereka, sedekat atau selama apapun Ia telah mengenal Naruto, belum pernah sekalipun Ia membahas hal ini dengan wanita bersurai pirang tersebut.
"Naruto, tidak pernahkah Kau berfikir untuk menikah lagi," Sasuke menjeda sejenak kalimatnya.
"Maksudku, tidakkah Kau pernah berikir kalau Hiroshi membutuhkan figur seorang Ayah?"
Naruto meletakkan pisau yang sedari tadi dipegangnya, pembicaraan ini adalah hal yang paling tidak disukainya, mungkin ini pertama kalinya Sasuke membahas hal ini dengannya, namun pertanyaan ini bukanlah yang pertama kali terlontar untuknya, Ayame sering menanyakan hal yang serupa padanya. Namun seperti biasa, Ia akan selalu menghindar. Baru saja Ia akan beranjak pergi, namun tangan Sasuke telah mencengkram salah satu pergelangan tangannya, membuat tubuhnya refleks menatap pria bersurai raven tersebut.
"Kau mau tahu apa yang selanjutnya Hiroshi katakan? Dia mengatakan akan lebih menyenangkan jika Aku bisa menjadi sosok Ayahnya."
Kedua sapphire Naruto membulat sempurna mendengar kalimat yang baru terlontar dari kedua bibir Sasuke.
Sasuke menundukkan wajahnya perlahan melihat ekspresi terkejut diwajah Naruto, namun jemarinya masih mengenggam erat pergelangan tangan Naruto. Mungkin ini saatnya Ia menyampaikan isi hatinya pada wanita yang berada didepannya kini, perlaha Ia kembali mengangkat wajahnya, menatap lurus kedua sapphire Naruto.
"Tidak bisakah Kau mempertimbangkan Aku untuk mengisi posisi itu?"
.
.
.
TBC
.
.
.
Ditunggu kembali review nya semuanya.
- Hatake Aria
