Characters belongs to : Mashashi Kishimoto
Story belongs to : Hatake Aria
.
.
Captured in Her Eyes
.
.
Hanya Dia Yang Ada Dimatamu
.
.
Mei, 1945
Sasuke berdiri ditepi teluk Tokyo, kedua tangannya Ia masukkan kedalam saku celananya. Oniksnya menatap lurus laut yang tenang dengan cahaya jingga yang tampak diujungnya, suara burung camar menambah ketenangan senja saat itu.
Suara deru ombak kecil yang membentur dinding pembatas pantai kembali membawa sang raven keingatannya beberapa tahun yang lalu, dimana Ia dan Sai pertama kali bertugas.
Mengingat wajah sang sahabat, Ia kembali teringat pada Shimura Naruto. Wanita itu tampak enggan menghilangkan marga sang suami yang merupakan sahabat karibnya. Masih jelas di ingatannya kejadian dua hari lalu disaat Ia akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada wanita bersurai pirang tersebut. Tidak tepat juga jika dikatakan 'mengungkapkan perasaan' karena pada kenyataannya Ia hanya 'meminta' pada wanita itu untuk menggantikan posisi Sai sebagai sosok Ayah bagi Hiroshi. Sangat jelas diingatannya ekspresi terkejut diwajah wanita itu, dan bagaimana Naruto perlahan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke. Wanita itu tidak menjawab, Ia hanya terdiam sembari menundukkan wajahnya. Sasuke masih bertahan untuk tidak melepaskan pergelangan tangan Naruto sampai sang wanita memberikan jawaban atas pertanyaannya. Dan saat suara tangis Hiroshi yang terdengar dari arah depanlah yang akhirnya membuat Sasuke melepaskan genggamannya dan membiarkan Naruto pergi meninggalkannya tanpa memberi jawaban sedikitpun.
Suara deru ombak yang membentur dinding pembatas kembali terdengar, perlahan Sasuke memejamkan kedua oniksnya, pikirannya kembali berkecamuk.
"Sai, apa aku salah kalau aku mencintainya?"
"Apa kau akan marah padaku, kalau aku menginginkannya untuk mencintaiku?"
Perlahan Sasuke membuka kedua oniksnya, Ia tersenyum getir mengingat pertanyaannya pada Sai yang tak akan mungkin terjawab. Ia menundukkan wajahnya, menghela nafasnya kasar yang tanpa disadarinya sejak tadi ditahannya.
"Aku sahabat yang buruk ya," lanjutnya lirih.
"Kau memintaku menjaganya, namun aku malah mencintainya dan berniat menggantikan posisimu dihatinya."
Tentu tak akan ada jawaban dari setiap pertanyaan yang diucapkan Sasuke, hanya suara deburan ombak yang memenuhi indra pendengarannya.
Tes, tes ..
Rintik hujan perlahan turun, Ia menatap langit yang masih tampak cerah. Ia pernah mendengar mitos yang mengatakan jika hujan turun disaat cuaca cerah adalah pertanda buruk.
Sasuke menghela nafasnya, ia merapatkan jaketnya, perlahan ia berjalan meninggalkan bibir pantai menuju tempat ia memarkirkan mobilnya.
Sasuke membuka pintu rumahnya dan oniksnya langsung disuguhkan oleh beberapa tumpukan surat yang terletak diatas meja ruang tamu miliknya. Perlahan Ia menyampirkan jasnya yang terkena hujan, menggosok pelan kedua lengan kemejanya yang sedikit basah. Ia berjalan pelan menuju tumpukan surat tersebut, sepertinya sang ibu kembali datang untuk membersihkan kediamannya, dan membawa masuk surat-surat yang ada dikotak pos didepan rumahnya.
Oniksnya menatap fokus tumpukan surat tersebut, jemarinya dengan pelan memilah surat-surat tersebut, hingga sebuah nama pengirim membuat jemarinya berhenti.
Hatake Kakashi,
Tanpa berfikir panjang lagi jemarinya langsung mengambil surat tersebut, Ia menarik kursi dan mendudukkan dirinya. Perlahan Sasuke merobek ujung amplop tersebut, mengeluarkan isinya dan membuka lipatan kertas tersebut. Ia menumpukan kedua siku lengannya diatas meja, oniksnya menatap kata demi kata yang tertulis di selembar surat tersebut.
Secarik kertas itu hanya memuat pesan singkat dimana ia diminta untuk segera kembali bertugas, dan bergabung dengan sang atasan di Akagi yang akan bertolak menuju lautan pasifik, tampaknya semenjak pengeboman Pearl Harbour 4 tahun yang lalu, hubungan Jepang dan Amerika semakin memanas. Dan kali ini sang Laksamana memintanya untuk bergabung dengannya di garis depan. Berada digaris depan bukanlah sesuatu yang baru bagi Sasuke, lencana dan pangkat yang didapatnya merupakan bukti nyata dari setiap misi yang telah dijalaninya.
Sasuke kembali melipat surat tersebut, Ia kemudian merapikan beberapa surat yang tersisa diatas mejanya. Saat ini Ia belum berniat untuk membaca surat-surat tersebut. Perlahan ia menggeser kursinya dan bangkit dari duduknya. Sebelum beranjak menuju kamarnya, diliriknya kembali surat dari Laksamana Hatake. Ia menghela nafasnya kasar.
Masih ada satu hal yang harus diselesaikannya sebelum ia berangkat menuju garis depan. Ia harus menemui Naruto sekali lagi, dan kali ini Ia akan mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya pada wanita itu. Mengatakannya padanya kalau ia benar-benar mencintainya.
.
.
Sasuke menatap pintu utama kediaman Shimura, tanpa disadarinya sudah 20 menit telah berlalu semenjak dirinya memasuki pekarangan kediaman almarhum sahabatnya itu. Dan disinilah ia yang masih setia berdiri didepan pintu, mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk mengetuk pintu tersebut dan bertemu dengan Naruto.
Ia menghela nafasnya, ini sudah terlalu malam, dan tak seharusnya ia berada disini.
Sasuke memasukkan kedua tangannya kedalam saku jasnya, ia bersiap untuk meninggalkan kediaman Naruto sebelum akhirnya indra pendengarannya menangkap suara pintu yang perlahan terbuka. Perlahan sosok Naruto muncul dari balik pintu tersebut, membuat kedua oniks Sasuke melebar sempurna.
Naruto yang berada di lain sisi terdiam sesaat setelah melihat seseorang yang berada dibalik pintunya, niat awalnya yang ingin mengambil mainan Hiroshi yang tertinggal di halaman rumahnya langsung Ia lupakan saat ditatapnya wajah Sasuke. Refleks tangannya kembali mencoba menutup pintu rumahnya, Ia belum siap untuk bertemu dengan Sasuke saat ini, kejadian beberapa hari yang lalu dimana pria yang berada dihadapannya kini mengungkapkan perasaannya padanya.
Tidak, Ia belum siap untuk menatap wajah Sasuke saat ini.
Namun belum juga tangannya berhasil menutup pintu rumahnya, tubuhnya telah ditarik oleh Sasuke.
Blam,
Suara pintu yang ditutup paksa terdengar menggema. Refleks kepala Naruto mengarah kebelakang, Ia takut suara pintu yang ditutup paksa oleh Sasuke membangunkan Hiroshi yang sudah tertidur, ataupun membuat Ayame yang berada didapur khawatir.
Sasuke menatap pergelangan tangan Naruto yang digenggamnya.
Sekarang, atau tidak sama sekali.
"Naruto," lidah Sasuke mendadak kelu saat menatap wajah Naruto yang tertunduk dihadapannya.
Perlahan Ia mengendurkan genggamannya pada pergelangan tangan Naruto, dan langsung saja wanita itu menarik tangannya dari genggaman Sasuke.
Sasuke menatap Naruto yang masih betah menundukkan wajahnya sembari mengelus pergelangan tangannya yang tadi dicengkram olehnya, sesaat terbesit rasa bersalah pada dirinya, Ia takut kalau tadi Ia terlalu kuat mencengkram pergelangan tangan wanita bersurai pirang tersebut.
"Maaf," lirihnya kemudian.
Naruto perlahan mengangkat wajahnya, menatap pria yang kini tengah menatap serius wajahnya.
"Aku tahu, aku mungkin terlalu terburu-buru mengatakannya padamu saat itu, tapi aku hanya ingin kau tahu, kalau aku bersungguh-sungguh pada ucapanku saat itu."
Sasuke menjeda kalimatnya, ditatapnya kedua sapphire wanita dihadapannya yang tampak mulai berkaca-kaca. Ia tahu, saat ini wanita dihadapannya ini sangat ingin melarikan diri darinya, tapi bolehkah ia bersikap egois saat ini? Ia ingin wanita dihadapannya ini tahu seberapa besar ia menyukainya.
"Naruto,"
Wanita itu masih betah dengan diamnya.
Perlahan jemari Sasuke menyentuh pipi Naruto dan kemudian turun hingga ke dagunya, Sasuke memegang lembut ujung dagu Naruto, menaikkannya, memaksa kedua sapphire itu untuk menatapnya.
"Aku bersungguh-sungguh saat mengatakan bahwa aku ingin menjadi bagian dari keluarga kecilmu, aku ingin menjadi sosok figur seorang ayah bagi Hiroshi, aku .."
Sasuke terdiam, Ia tersenyum kecut, perlahan ia menarik tangannya dari ujung dagu Naruto. Ia benar-benar seperti orang munafik, menjadikan anak kecil sebagai alasannya, karena ia tahu, alasan terbesarnya bukanlah Hiroshi.
"Aku menginginkanmu."
"Aku menginginkanmu karena aku sangat mencintaimu, aku telah mencintaimu jauh sebelum kau mengenalku,"
Sasuke perlahan menarik tangan Naruto, meletakkannya pada pipinya.
"Aku menginginkanmu dalam hidupku, menemaniku hingga akhir hayatku, aku akan membahagiakanmu dan juga Hiroshi, kita akan membangun keluarga kecil kita, dan kita akan .."
Sasuke seketika menghentikan kalimatnya saat Naruto menarik paksa tangannya dari genggaman Sasuke.
"Aku .., aku tidak mungkin menghianati Sai," cicit Naruto, dan kali ini air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya lolos dari kedua sapphire nya.
"Aku tidak memintamu untuk melupakan Sai, dan aku tidak mungkin membiarkan Hiroshi melupakan siapa ayah kandungnya."
Sasuke terdiam sesaat, sepertinya ia terlalu percaya diri bahwa wanita dihadapannya ini menaruh perasaan yang sama padanya, mungkin ia terlalu besar kepala, ia merasa sikap pemalu Naruto saat bersamanya selama ini merupakan bukti kalau wanita itu menaruh rasa padanya, atau setidaknya ada sedikit perasaan untuk dirinya. Namun tampaknya ia salah besar, hanya Shimura Sai yang masih tertangkap di netranya.
"Bukankah wajahku mirip dengan Sai?"
Dan tiba-tiba sebuah ide gila terbesit dipikiran Sasuke.
"Jawab aku Naruto, bukankan wajahku mirip dengannya? Aku sangat mirip dengan Sai bukan? Kalau begitu, tidak akan sulit bagimu untuk menerimaku bukan?"
Bahkan Sasuke telah rela walaupun ia harus hidup dalam bayang-bayang Sai, asalkan ia bisa bersama Naruto.
Cinta memang gila.
"Kau dan Sai berbeda, kalian berdua berbeda."
Naruto menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu beri aku kesempatan," ujar Sasuke seraya menangkup wajah Naruto dengan kedua tangannya.
"Kumohon Sasuke, hentikan .." lirih Naruto.
Sasuke menggelengkan kepalanya, menulikan pendengarannya, ia ingin egois kali ini.
"Aku mencintaimu."
Perlahan Sasuke menarik wajah Naruto mendekat, dan bibirnya langsung mengklaim bibir sang wanita. Jika perasaannya lewat kata-kata tak tersampaikan pada sang wanita, maka kali ini lewat ciumannya ia ingin mengatakan pada Naruto bahwa ia sungguh-sungguh mencintainya.
.
.
Sasuke memandang sebuah surat yang terletak diatas meja kerjanya, sebuah surat yang ditulisnya untuk Naruto. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil surat yang sedari tadi dipandangnya. Digenggamnya surat tersebut, kemudian berjalan kearah tas dan koper miliknya. Dua hari telah berlalu sejak pengakuannya pada Naruto, namun hasilnya tak seperti yang dibayangkannya.
Wanita itu mendorong tubuhnya saat ia mencium paksa dirinya, ia telah berfikir sebuah tamparan akan mendarat di pipinya, tapi Naruto sama sekali tidak melakukannya. Wanita itu hanya menundukkan wajahnya, sembari menangis dan meminta maaf pada Sasuke.
Untuk apa Naruto meminta maaf pada dirinya? Seharusnya ia lah yang meminta maaf pada wanita itu karena telah mencium paksa dirinya, apa Naruto meminta maaf karena ia tidak bisa membalas perasaan Sasuke padanya?
Sasuke hanya bisa tersenyum getir jika kembali mengingat memori tersebut. Ia sadar ini hanya sebuah cinta satu arah, namun apa daya jikalau hatinya tidak pernah mau mengerti.
Hari ini ia harus kembali pada Armadanya, kembali ke garis depan menuju Lautan Fasifik sesuai surat perintah dari Laksamana Hatake. Dengan kondisi Jepang dan Amerika yang tampak semakin memanas saat ini, dirinya yang biasa sangat optimis pun menjadi pesimis kali ini. Entah berapa lama waktu yang harus ia tempuh agar bisa kembali lagi kerumah. Satu bulan? Dua bulan? Satu tahun? Dua tahun? Entahlah, yang pasti dia benar-benar sangat pesimis kali ini. Ingin rasanya ia memarahi dirinya yang berpikiran negatif seperti itu. Tentu saja ia harus kembali, ada kedua orangtuanya yang akan menanti kepulangannya, ada Hiroshi yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri yang siap mendengarkan seluruh ceritanya, dan juga ada juga seorang wanita bersurai pirang yang ia inginkan dapat membalas perasaannya, dan memberikannya sebuah pelukan selamat datang saat ia menginjakkan kakinya kembali di pelabuhan.
Pikirannya kembali pada surat yang ada dalam genggamannya, semalaman ia gunakan untuk menulis sebuah surat sebelum ia pergi untuk Naruto, terdengar seperti sebuah surat perpisahan, tetapi didalamnya ia menuliskan sebuah permintaan maaf pada wanita itu karena telah lancang menerobos zona privasinya, atau karena mencoba untuk membuatnya membalas perasaannya dan menerima dirinya, tetapi yang paling penting, didalam surat tersebut ia menuliskan betapa ia mencintai wanita itu dan awal mula ia jatuh cinta pada wanita bersurai pirang tersebut.
Diliriknya jam yang ada diatas meja kerjanya, waktunya berangkat pikirnya kemudian. Ia segera mengangkat tas dan koper miliknya, membawanya kedepan rumahnya, dimana sebuah mobil telah menunggunya. Ia mulai menaruh seluruh barang bawaanya kedalam mobil tersebut, ia menatap Lee yang tengah membantunya menaikkan seluruh barang bawaannya.
Lee mempersilahkannya untuk naik, hari ini Lee yang akan mengantarnya menuju pelabuhan. Suara mesin mobil yang dinyalakan pun terdengar, perlahan mobil pun bergerak meninggalkan kediamannya.
Sasuke menatap Lee dari kursi penumpangnya, ia pun kembali menatap surat yang tadinya sempat ditaruhnya didalam saku seragamnya. Ia mengambil surat tersebut, dan mengarahkannya pada Lee.
"Lee, bisa kau berikan surat ini pada Naruto setelah mengantarku?"
Lee melirik surat yang diberikan Sasuke, dan tanpa ragu pria itu mengambil surat tersebut dari tangannya.
"Surat untuk Nyonya Shimura? Baik pak, saya akan memberikannya!"
.
.
Naruto membungkukkan tubuhnya sebagai ucapan terimakasih dan salam perpisahan pada Lee yang tengah berpamitan di depan pintu rumahnya. Pria itu memberikannya sebuah surat, "surat dari Mayor Uchiha" ujarnya. Naruto mengambilnya, dan pria itu langsung berpamitan setelah menyelesaikan tugasnya, yaitu memberikan surat Sasuke pada Naruto.
Naruto menatap nama yang tertulis di ujung amplop surat tersebut.
Uchiha Sasuke.
Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar, ia tidak sadar sudah berapa lama ia menafan nafasnya saat Lee memberikan surat Sasuke padanya. Ia menutup pintu dan membawa surat tersebut masuk.
Ia berjalan ke pekarangan belakang kediamannya, mendudukkan dirinya di salah satu sudut pelataran rumahnya yang menghadap kesebuah kolam ikan.
Perlahan ia membuka amplop tersebut, dan mengeluarkan dua lembar kertas didalamnya. Kedua sapphire-nya membaca perlahan kata demi kata yang tertulis didalamnya, dan tanpa disadarinya jemarinya meremat ujung kertas tersebut, dan air mata menetes dari kedua sapphirenya.
Naruto buru-buru menghapus airmata dipipinya tatkala ia mendengar langkah kaki seseorang yang menghampiri dirinya. Ia melirik orang tersebut yang kini tengah duduk disampingnya, yang tak lain adalah Ayame.
"Apa itu surat dari Uchiha-san?"
Naruto mengangguk, meng-iyakan pertanyaan Ayame.
Ayame menundukkan wajahnya, mendekatkan tubuhnya pada Naruto yang sudah dianggapnya bagaikan adik kandungnya sendiri.
"Uchiha-san sangat mencintaimu, aku bisa melihat dari tatapannya dan perlakuannya padamu, apa kau tahu itu?"
Naruto menatap Ayame yang tengah menatapnya. Apa sebegitu jelasnya kah perasaan Sasuke padanya? Apa cuma dirinya yang tidak pernah menyadari hal tersebut? Bahkan sampai Ayame bisa mengatakan hal seperti itu pada dirinya. Naruto kembali menundukkan wajahnya.
"Dia mengungkapkan perasaannya padamu beberapa hari yang lalu bukan?"
Tubuh Naruto menegang, yang disadari oleh Ayame.
Tidak, Ayame sama sekali tidak menguping pembicaraan Naruto dan Sasuke saat itu, ia hanya penasaran saat Naruto yang pergi kepintu depan namun tak juga kunjung kembali setelah beberapa waktu berlalu, dan karena rasa penasaran dan khawatir itulah Ayame memutuskan untuk pergi kedepan menghampiri Naruto, namun tampaknya ia hampir mengganggu pembicaraan keduanya. Ia datang disaat Sasuke mengucapkan bahwa pria itu mencintai Naruto, karena ia sadar pembicaraan yang saat itu Sasuke dan Naruto lakukan benar-benar pembicaraan pribadi, maka buru-buru ia pergi meninggalkan keduanya. Namun sejak saat itu Naruto tampak enggan membicarakan tentang kedatangan Sasuke, dan Ayame pun tidak berniat untuk menanyakannya.
Namun kali ini, setelah ia melihat Naruto yang menangis setelah membaca surat dari Sasuke yang diberikan oleh Lee tadi, ia pun tak bisa lagi menahan perasaannya untuk tidak ikut campur dalam masalah ini. Ia sangat menyayangi Naruto, seperti ia yang juga menyayangi Sai. Dan ia berpikir Sai juga mungkin tidak akan marah jika suatu saat posisinya dihati Naruto sedikit tergeser oleh orang lain, apalagi orang lain tersebut adalah orang yang sangat dikenalnya yang pastinya dapat melindungi dan menyayangi keluarganya sama besarnya dengan dirinya.
"Apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan sama sekali pada Uchiha-san?"
Ayame kembali menodong Naruto dengan pertanyaannya.
Wanita bersurai pirang itu menggeleng pelan.
"Entahlah, aku tidak tahu."
Naruto menaikkan kedua kakinya, kemudian membenamkan wajahnya diatasnya.
"Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku padanya, aku .."
Ayame kemudian mengusap pelan surai pirang Naruto saat wanita itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Saat ini Naruto tampak seperti remaja yang baru saja mengenal cinta.
"Sebenarnya kau juga menyukainya, hanya saja kau takut untuk mengakui hal itu."
Naruto buru-buru mengangkat wajahnya, Ia kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku sama sekali tidak mencintainya."
"Aku bukannya mengatakan bahwa kau mencintainya, tetapi menyukainya. Mungkin masih butuh waktu bagimu untuk mencintainya, tetapi kau tidak boleh membohongi dirimu dengan mengatakan bahwa kau sama sekali tidak menyukainya."
Ayame menarik perlahan tangannya dari surai Naruto, kemudian mengusap pelan pipi Naruto, menghapus sisa airmata yang membasahi pipinya.
"Aku tidak mungkin menghianati Sai, Ayame-nee."
"Siapa yang mengatakan bahwa dengan menyukai Uchiha-san itu berarti kau menghianati Sai? Diatas sana mungkin sebenarnya Sai juga ingin melihatmu bahagia, tidak berlarut dalam kesedihan sepeninggalannya, mungkin waktu untuk Sai membahagiakanmu telah berakhir, dan sekarang waktu untuk orang lain yang membahagiakanmu, dan kurasa Uchiha-san adalah orang itu."
Ayame kembali mengelus surai pirang Naruto, sementara wanita bersurai pirang tersebut masih betah menundukkan wajahnya.
"Hiroshi juga butuh figur seorang ayah, dan tampaknya ia sangat menyukai Uchiha-san, ia menganggap Uchiha-san seperti ayah kandungnya sendiri."
Perlahan Ayame menangkup kedua pipi Naruto, membawa wajah wanita itu untuk menatapnya.
"Mungkin sekarang waktunya untuk memulai kehidupan baru, beri kesempatan pada Uchiha-san, karena aku tahu sebenarnya jauh dilubuk hatimu kau juga menyukai pria itu."
.
.
Naruto menatap Hiroshi yang telah terlelap, diusapnya pelan surai hitam Hirsohi. Bahkan sebelum tidurpun Hiroshi masih sempat menanyakan keberadaan Sasuke padanya, dan bertanya mengapa sang paman tidak berpamitan padanya sebelum dirinya pergi kembali bertugas. Dan Naruto harus terpaksa berbohong pada sang anak, dengan mengatakan bahwa sang paman mendapat panggilan mendadak untuk kembali bertugas.
"Kapan paman akan kembali lagi? Apa kali ini paman akan pulang lebih cepat?"
Pertanyaan Hiroshi tadi masih terngiang di telinganya.
"Ibu tidak tahu kapan paman akan kembali lagi, tapi Ibu juga berharap kalau paman Sasuke segera kembali kesini."
Itu bukan sebuah kebohongan untuk menenangkan Hiroshi, karena jauh dilubuk hatinya, Naruto juga menginginkan pria itu untuk kembali secepatnya.
Naruto menutup perlahan pintu kamar Hirsohi, dan berjalan pelan menuju kamarnya.
Ia menatap surat milik Sasuke yang diletakkannya disudut tempat tidurnya, perlahan ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidurnya, jemarinya kemudian meraih surat milik Sasuke.
Kata-kata Ayame sore tadi masih terngiang ditelinga Naruto, jemarinya menggenggam surat tersebut, pikirannya pun melayang ke masa-masa dimana ia menghabiskan waktunya bersama Sasuke. Ia masih enggan untuk meng-iyakan perkataan Ayame yang mengatakan bahwa sebenarnya dirinya juga menyukai pria itu, tidak, itu bukan perasaan suka, ia hanya merasa nyaman bersama dengan Sasuke, pria itu adalah pria kedua selain Sai yang ia biarkan dekat dengannya, pria yang membuat ia merasa aman jika bersamanya.
Ia menyukai setiap interaksi Sasuke dengan Hiroshi, bagaimana pria itu meladeni setiap pertanyaan anaknya, menemani Hiroshi bermain padahal ia tahu saat itu Sasuke baru saja pulang bertugas, pria itu juga selalu menyempatkan untuk menulis surat pada Hiroshi sesibuk apapun dirinya, dan Naruto tahu semua yang dilakukan Sasuke bukan semata-mata untuk menarik perhatiannya, tetapi pria itu benar-benar menyayangi Hiroshi seperti anak kandungnya sendiri.
Naruto tersenyum getir, mengapa pria sebaik Sasuke bisa menyukai dirinya. Padahal diluar sana masih banyak gadis yang lebih layak bersanding dengannya.
Naruto kembali membaca kata demi kata yang tertulis didalam surat tersebut, surat yang berisi curahan hati dari seorang Uchiha Sasuke, airmata kembali mengalir dari kedua sapphirenya walau Ia telah membacanya untuk kesekian kalinya.
Maafkan kelancanganku saat itu,
Maaf jika aku memaksakan kehendakku padamu, memaksamu untuk membalas perasaanku,
Maafkan aku juga karena telah menciummu tanpa seizinmu,
Tapi asal kau tahu, semua itu aku lakukan karena aku benar-benar mencintaimu.
Aku ingin kau mengetahui satu hal, aku telah jatuh cinta padamu bahkan jauh sebelum kau mengenalku.
Mungkin saat itu kau belum mengenalku,
Musim panas, dipelabuhan sebelum akun dan Sai menuju Tiongkok.
Aku melihat seorang gadis bersurai pirang tengah kesusahan menahan kimononya agar tidak tertiup angin,
Hal yang pertama kali aku lihat adalah gadis itu sangat cantik,
Bahkan aku sampai lupa untuk berkedip,
Dan saat aku sadar ternyata aku telah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.
Namun rasa sukaku saat itu harus aku kubur dalam-dalam tatkala aku melihat sosok Sai yang tengah berlari kearahmu.
Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi,
Namun tampaknya takdir berkata lain.
Terkadang aku merasa bersalah pada Sai,
Aku bukanlah sahabat yang baik, karena menginginkan miliknya.
Aku mencoba untuk melupakanmu,
Aku mencoba untuk menghapus perasaanku padamu,
Namun kau selalu menempati ruang dihatiku,
Karena aku benar-benar mencintaimu.
Maukah kau memberiku kesempatan,
Aku akan menunggumu untuk bisa membalas perasaanku,
Dan aku berharap, jika kita bertemu kembali aku bisa mendengar jawabanmu,
Mendengar kalimat bahwa kau juga mencintaiku.
.
.
Juli, 1945
Sasuke berdiri diburitan kapal, menatap langit biru dihadapannya. Dirasakannya angin yang bertiup membelai surai kelamnya. Sudah dua bulan ia berada disini, dan sebulan lalu Laksamana Hatake meninggalkannya untuk kembali ke markas pusat. Ia baru saja membaca laporan dari dua kapal perusak mereka yang berpatroli tak jauh dari Akagi. Tidak ada serangan berarti dari pihak musuh, namun hal itu belum bisa membuat Sasuke tenang.
Dihirupnya udara lautan yang sangat jauh berbeda dengan udara di Tokyo, membuatnya semakin merindukan kampung halamannya. Sesaat wajah Hiroshi dan Naruto muncul dibenaknya. Betapa ia merindukan keduanya, namun jika mengingat saat terakhir kali ia berpisah dengan wanita itu, ia hanya bisa tersenyum getir.
Ia sangat mencintai Naruto, namun jika mengingat wanita itu tidak akan pernah bisa membalas perasaannya membuat hatinya sakit, ternyata seperti ini rasanya patah hati.
Sasuke menghela nafasnya kasar.
"Lapor Mayor!"
Suara Suigetsu membuyarkan Sasuke pada lamunannya.
Sasuke menganggukkan kepalanya pelan, membuat Suigetsu menurunkan hormatnya.
"Mayor, kita mendapat surat perintah dari Laksamana Hatake, sebagian pasukan termasuk Mayor Uchiha diminta untuk bertolak ke Hiroshima."
Suigetsu memberikan secarik kertas pada Sasuke.
"Hiroshima ya," gumam Sasuke pelan namun masih dapat didengar oleh Suigetsu.
"Terimakasih, kau boleh kembali."
Suigetsu memberi hormat sekali lagi, kemudian beranjak pergi meninggalkan Sasuke.
Suara burung menarik kembali atensi Sasuke untuk menatap langit. Lagit yang tadi cerah perlahan mulai tertutupi awan. Sasuke menatap sekelompok burung laut yang terbang rendah menjauhi lautan menuju ketengah daratan.
Ia menghela nafasnya kasar.
"Sepertinya akan terjadi badai besar."
.
.
TBC
