Characters belongs to : Mashashi Kishimoto

Story belongs to : Hatake Aria

.

.

Captured in Her Eyes

.

.

Cahaya Dilangit Jingga

.

.

21 Juli 1945

Sasuke menatap tumpukan berkas pada meja kerjanya, sudah satu minggu lebih ia berada di Hiroshima, kali ini ia diminta untuk menetap di Hiroshima, padahal kondisi dimana Ia diminta untuk meninggalkan Pasifik saat itu tidaklah terlalu bagus. Ia mengambil salah satu laporan yang baru saja diberikan Kapten Suigetsu padanya, didalam laporan tersebut tertulis mengenai kondisi terakhir mengenai perang pasifik. Keadaan semakin sulit dengan banyaknya serangan agresif dari pihak sekutu, walau saat ini mereka sudah dibantu oleh pihak Thailand, namun perbandingan jumlah lawan yang lebih besar pasti menjadi salah satu faktor penyulit.

Sasuke menghela nafasnya kasar, diambilnya lagi laporan dari salah satu kapal perusak milik armada Kekaisaran Jepang, sama seperti laporan yang telah dibacanya sebelumnya, isinya juga tidak terlalu menggembirakan.

Sejak bulan Mei lalu, dimana Jepang menolak memenuhi tuntutan Sekutu untuk menyerah tanpa syarat, ia tahu keadaan akan semakin memanas, karena itulah ia diminta untuk kembali ke Pasifik secepatnya kala itu.

Diliriknya sebuah figura foto berwarna hitam putih yang terletak dimeja kerjanya. Foto seorang wanita dan seorang anak kecil. Ah, betapa ia merindukan keduanya, sudah hampir tiga bulan sejak kepergiannya dan ia sama sekali belum pernah memberikan kabar kepada keduanya. Lupakan mengenai pernyataan cintanya yang menyedihkan, kali ini ia akan menuliskan surat untuk keduanya.

Sasuke mengambil selembar kertas dan pena, jemarinya mulai merangkai kata demi kata.

Apa kabar?

Bagaimana keadaanmu dan Hiroshi saat ini? Kuharap kalian berdua baik-baik saja.

Saat ini aku sedang berada di Hiroshima, sepertinya keadaan terlihat tidak baik saat ini.

Sekarang sudah memasuki musim panas, aku harap kalian dapat menjaga kesehatan kalian,

Jangan sampai kalian terkena flu musim panas.

Jemari Sasuke terhenti sesaat, sedikit aneh rasanya jika ia menulis surat seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya.

Naruto, sekali lagi aku minta maaf untuk kejadian saat itu.

Kau bisa melupakannya dan menganggap tidak terjadi apa-apa.

Awalnya sedikit aneh bagiku saat hendak menuliskan surat ini padamu,

tapi saat ini aku benar-benar sangat merindukan kalian berdua,

dan satu-satunya cara untuk mengobati rinduku adalah menuliskan surat ini pada kalian.

Aku pernah berjanji pada Hiroshi untuk menangkap kumbang di musim panas.

Jika aku bisa kembali sebelum musim panas berakhir,

aku akan membawanya untuk pergi menangkap kumbang.

.

.

Juli 1945, New Mexico

"Bagaimana rencana ujicobanya?"

Terlihat 2 orang yang mengenakan jas laboratorium menyerahkan berkas kepada orang tersebut.

Pria berpangkat Letnan Jendral yang bertanya tersebut mengambil berkas yang diserahkan kepadanya, ia membaca judul dari berkas tersebut, Manhattan Engineering District. Proyek Mahattan yang dikembangkan oleh Amerika Serikat dengan bantuan Inggris dan Kanada untuk mengembangkan senjata nuklir pertama.

"Hari ini kita akan menguji coba bom nuklir berbahan dasar plutonium, sedangkan yang menggunakan uranium masih dalam tahap pengembangan."

Terdengar suara sang Letnan Jendral mendecih pelan.

"Kudengar cukup susah untuk membujuk ilmuan pengungsi Yahudi itu untuk bekerjasama dengan kita dalam proyek ini."

Salah satu ilmuan yang berada didalam laboratorium itu menundukkan kepalanya, memang mereka mencoba membujuk salah satu rekan mereka bernama Albert untuk memperingati sang Presiden Amerika tentang bahayanya projek mematikan ini.

"Ini semua demi pembalasan kita terhadap Pearl Harbour juga," ucap sang Letnan Jendral kembali.

"Lapor Jendral!"

Suara seorang Mayor menghentikan permbincangan mereka.

Sang Letnan Jendral menganggukkan kepalanya pertanda sang bawahan untuk menurunkan hormatnya.

"Uji coba akan segera dilaksanakan, Jendral diharap untuk segera berada diruang pantau," sang mayor mengakhiri laporannya.

Sang Letnan Jendral kembali mengangguk, kemudian ia mulai berjalan meninggalkan ruangan laboratorium tersebut diikuti sang mayor.

"Aku sudah tidak sabar untuk melihat efek senjata nuklir yang telah kita rancang tersebut."

.

.

Agustus 1945, Jepang

Naruto melihat tanggal yang berada di kalender yang tergantung diruang tamunya.

"Dua Agustus," gumamnya kemudian.

Tap, tap ..

Suara langkah kaki terdengar menggema membuat Naruto mengalihkan pandangannya dari kalender. Dan tak berapa lama suara Hiroshi yang memanggilnya terdengar.

"Ibu!"

Naruto segera menoleh kearah sang anak yang telah memeluk kakinya.

"Hm, ada apa?" ujarnya seraya berjongkok perlahan, menyamakan tingginya dengan sang anak.

Ia menatap Hiroshi yang membawa jaring yang biasa digunakan untuk menangkap serangga.

"Kau mau pergi kemana membawa jaring ini?"

Hiroshi melepasakan pelukannya, kemudian menunjukkan barang bawaannya kehadapan sang ibu.

"Souchiro dan teman-teman mengajakku untuk menangkap kumbang, mereka bilang di hutan dekat bukit banyak kumbang yang besar."

Naruto tersenyum melihat Hiroshi yang tengah bersemangat seperti itu.

"Selain dengan Souchiro, kalian akan pergi dengan siapa lagi?"

Hirsohi menggelengkan kepalanya, yang berarti hanya anak-anak seumuran dengannya lah yang akan pergi.

Naruto langsung menegakkan tubuhnya, kemudian wanita bersura pirang itupun berkacak pinggang.

"Tidak, ibu tidak mengizinkanmu pergi, hutan di dekat bukit itu cukup jauh, dan sangat berbahaya jika hanya anak-anak seumuran kalian yang pergi kesana."

Hiroshi refleks mengerucutkan bibirnya pertanda ia tidak menyukai perkataan sang ibu.

"Ibu, ayolah, tidak akan terjadi apa-apa, Hiroshi sudah besar, Hiroshi dan teman-teman bisa menjaga diri kami sendiri."

Naruto menghela nafasnya, Hiroshi bahkan belum genap berusia 5 tahun, tentu saja apapun rengekan Hiroshi ia tetap tidak akan mengizinkan sang anak untuk pergi.

"Tidak boleh, selama tidak ada orang dewasa yang ikut, ibu tidak akan mengizinkannya."

"Tapi, musim panas akan segera berakhir," Hiroshi masih terus merengek.

Ditengah suara rengekan Hiroshi, terdengar samar-samar suara seorang pria memanggil dari arah pintu depan. Hiroshi langsung menghentikan rengekannya, menajamkan indra pendengarannya.

Refleks kedua oniks kelamnya membulat sempurna, ia menjatuhnkan jaring yang sedari tadi dibawanya dan bergegas berlari kerah pintu depan.

"Itu Paman Genma!"

Sekarang Naruto paham kenapa Hiroshi langsung melupakan rencana menangkap kumbangnya ke hutan didekat bukit, itu semua karena suara Shiranui Genma, atau Hiroshi biasa memanggilnya Paman Genma, karena Paman Genma akan selalu datang bersama sebuah surat.

"Paman Genma," sapa Hiroshi sesaat setelah ia membukakan pintu.

Genma tersenyum seraya membungkungkan badannya agar sejajar dengan Hiroshi, kemudian pria itu mulai mengusap surai hitam anak kecil dihadapannya.

"Hai Hiroshi, bagaimana keadaanmu?"

Hiroshi tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya.

"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan paman? Paman jangan sampai terkena flu musim panas."

Genma tertawa mendengar ucapan Hiroshi yang terdengar seperti nasihat. Pria itu menegakkan kembali tubuhnya sesaat setelah sosok Naruto muncul dihadapannya.

"Ah, selamat siang Shimura-san."

Naruto membungkuk singkat, kemudian membalas sapaan Genma.

"Paman, apa ada surat untukku hari ini? Apa surat itu dari Paman Sasuke?"

Genma mengangguk singkat menanggapi cecaran pertanyaan Hiroshi, ia merogoh tas nya untuk mengambil surat yang sudah disisihkannya.

"Shimura-san, ini surat untuk anda," ujarnya seraya memberikan sebuah surat pada Naruto.

Hiroshi hanya bisa mengerucutkan bibirnya melihat Paman Genma yang memberikan surat kepada sang Ibu.

"Jadi itu bukan surat untukku? Itu bukan surat dari Paman Sasuke?"

Genma buru-buru melambaikan tangannya saat melihat wajah sedih Hiroshi.

"Tidak-tidak, itu surat dari Paman Sasuke, dia menuliskan nama ibumu, mungkin Hiroshi bisa meminta ibumu untuk membacakannya untukmu," jelas Genma.

Hiroshi masih menatap Genma dengan tatapan heran, biasanya sang paman akan mengirimkan surat atas namanya. Akhirnya Hiroshi mengangguk pelan, yang penting Paman Sasuke nya masih mengirimkan surat.

"Terimakasih telah mengantarkan surat ini Shiranui-san," ujar Naruto seraya membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terimakasih.

"Itu sudah tugasku, tidak perlu berterimakasih," ujar Genma seraya mengangguk pelan.

Pria itupun berpamitan dengan keduanya.

Hirsohi menggenggam jemari Naruto, refleks wanita itu menatap sang anak.

"Ibu aku tidak jadi pergi menangkap kumbang, sebagai gantinya ayo kita membaca surat dari Paman Sasuke, aku benar-benar merindukan Paman."

.

.

Naruto membetulkan posisi Hiroshi yang duduk dipangkuannya, keduanya saat ini sedang duduk dipelataran belakang kediaman mereka. Suara gemericik air kolam ikan didepan mereka dan semilir angin membuat udara musim panas terasa sedikit lebih sejuk. Perlahan Naruto mengambil surat yang tadi diberikan Genma padanya, sejujurnya ia sedikit terkejut mengetahui bahwa Sasuke mengirimnya sebuah surat.

Masih segar diingatannya isi surat terakhir yang diberikan oleh Sasuke padanya, dan selama beberapa bulan ini juga ia selalu mempertanyakan pada dirinya sendiri bagaimana perasaannya pada pria bermarga Uchiha tersebut.

"Ibu, cepat buka surat dari paman!" perintah Hiroshi yang membuyarkan lamunan Naruto.

Naruto tersenyum tipis pada sang anak, kemudian ia merobek pelan ujung amplop tersebut, mengeluarkan selembar kertas didalamnya.

Ia membaca perlahan isi surat Sasuke, dan Hiroshi terlihat sangat antusias mendengarnya, sampai sebuah kalimat membuat ia menghentikan bacaannya.

Naruto, sekali lagi aku minta maaf untuk kejadian saat itu.

Kau bisa melupakannya dan menganggap tidak terjadi apa-apa.

Menganggap tidak terjadi apa-apa?

Tentu saja tidak semudah itu, disaat ia mulai ragu dengan perasaannya sendiri, Sasuke malah menyuruhnya untuk melupakannya.

Bagaimana kalau ia katakan ia ingin membalas perasaan pria itu padanya, mungkin waktu sebulan atau dua bulan belumlah cukup bagi Naruto untuk menata perasaannya pada pria itu, bukankah dulu pria itu mengatakan ia akan menunggu sampai dirinya bisa benar-benar mencintainya?

"Ibu," suara Hiroshi yang sembari menarik bajunya membuat Naruto tersadar dari lamunannya.

"Ibu, kenapa berhenti? Ayo lanjutkan membaca surat paman."

Naruto mengangguk pelan, kemudian ia melanjutkan membaca surat Sasuke.

.

aku akan membawanya untuk pergi menangkap kumbang.

Naruto menutup kembali surat tersebut, Ia menatap Hiroshi yang tampak menerawang jauh kedepan.

"Musim panas tinggal sebentar lagi, apa paman bisa pulang sebelum musim panas berakhir?"

Naruto meletakkan surat tersebut, kemudian ia membetulkan posisi Hiroshi yang berada dipangkuannya.

"Paman pasti akan segera kembali, kita harus mendoakan agar dia cepat kembali."

Hiroshi memutar tubuhnya untuk menatap sang Ibu.

"Ibu, bolehkan aku memanggil paman dengan sebutan ayah?"

Kedua sapphire Naruto melebar sempurna sesaat setelah mendengar permintaan Hiroshi.

"Tidak boleh ya?"

Hiroshi yang seolah dapat membaca pikiran sang Ibu melalui ekspresi wajahnya perlahan memalingkan tubuhnya dari sang ibu.

"Aku sangat menyukai paman, dan akan lebih menyenangkan jika kita bisa tinggal bersama dengan paman. Apa ibu tidak menyukai paman?" lanjut Hiroshi kembali, namun saat ini ia mengatakannya tidak sambil menatap sang ibu.

Naruto menatap Hiroshi yang tengah memainkan ujung bajunya, perlahan ia mengusap surai hitam sang anak.

"Kau sangat menyukai Paman Sasuke?"

Hiroshi mengangguk pelan.

"Bagaimana dengan ibu?"

Naruto menyandarkan dagunya pada kepala Hiroshi, ia memeluk sang anak dengan erat, membuat Hiroshi sedikit menaikkan wajahnya untuk melihat ekspresi sang ibu.

Sesaat, seluruh memorinya bersama Sasuke selama ini muncul dibenaknya. Tak pernah sekalipun dalam ingatannya ia bersedih saat bersama pria itu, ia kembali teringat beberapa kejadian dimana pria itu berhasil membuat wajahnya merona, apakah selama ini tanpa disadarinya ia telah menyukai pria itu?

"Ibu?"

Naruto kembali tersadar dari lamunannya, sepertinya ia harus berterimakasih pada Hiroshi yang telah membukakan pikirannya, membuatnya akhirnya sadar.

"Ah, ibu juga menyukai Paman Sasuke."

.

.

6 Agustus 1945

Amerika Serikat menjatuhkan Little Boy di Hiroshima, untuk pertama kalinya dalam sejarah senjata nuklir dipergunakan dalam perang. Awan jamur raksasa menghiasi langit Hiroshima, puluhan ribu orang baik tentara maupun warga sipil tewas seketika akibat serangan bom atom berbahan dasar uranium tersebut.

Presiden Amerika Serikat meminta Kekaisaran Jepang untuk menyerahkan diri sekaligus memberi peringatan akan bertambahnya serangan dari mereka.

"Kalian akan melihat hujan reruntuhan dari udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi."

Sebuah ancaman yang sangat mengerikan. Mungkin bagi Amerika, ini adalah pembalasan dendam mereka yang manis.

Berita mengenai serangan di Hiroshima langsung menyebar luas keseluruh Jepang, dan seluruh kota-kota penting masuk dalam zona siaga satu.

Keadaan panik menyebar diseluruh negri, para penduduk di kota-kota penting segera diungsikan ketempat yang lebih aman, terlebih setelah ancaman yang diberikan oleh pihak Amerika kepada Jepang. Terdengar suara isak tangis ditempat pengungsian, setelah mendengar kabar mengenai luluh lantaknya Hiroshima akibat serangan bom nuklir tersebut. Menangisi sanak saudara mereka yang mungkin menjadi korban dari ledakan maha dahsyat itu.

Naruto mengeratkan pelukannya pada Hiroshi, mengabaikan Hiroshi yang sedari tadi mencoba memanggilnya.

"Ibu."

Naruto tidak menjawab, ia malah semakin kuat memeluk sang putra, air matanya sedari tadi tak kunjung berhenti mengalir, sementara bibirnya tak hentinya memanjatkan doa. Mendoakan agar pria itu selamat, agar pria itu bisa kembali, pria itu, Uchiha Sasuke.

.

.

3 Agustus 1945,

Tiga hari sebelum Little Boy mendarat di Hiroshima.

"Bagaimana persiapannya?"

Sasuke menatap Suigetsu yang tengah mengecek laporan yang diberikan bawahannya.

"Semuanya sudah siap pak, dan sepertinya keadaan di Pasifik tidak terlalu bagus, walau kita berhasil membuat angka korban dari pihak musuh semakin meningkat, namun serangan mereka juga semakin agresif. Saat ini tentara Sekutu semakin masuk kedalam wilayah Jepang."

Sasuke mengangguk, mendengar laporan Suigetsu.

Sasuke mengambil beberapa laporan yang ada dimejanya, ia membaca salinan laporan yang diberikan kepada Kementrian Angkatan Darat. Dari laporan tersebut tercatat kondisi perekonomian Jepang yang semakin memburuk, kelangkaan bahan mentah, ketiadaan kapal nelayan yang membuat hasil tangkapan ikan menurun drastis akibat Perang Pasifik yang berkepanjangan ini.

Sasuke kembali menatap telegram berisi surat perintah padanya sehari yang lalu.

"Lalu, kapan kita akan berangkat ke Kokura?" lanjut Sasuke menatap Suigetsu.

"Kita diperintahkan untuk berangkat ke Kokura saat ini juga pak!"

"Baiklah, kita segera berangkat."

.

.

7 Agustus 1945, Kokura

Sasuke membaca laporan mengenai bom di Hiroshima, tangannya gemetar sembari meremas selembar kertas tersebut. Puluhan ribu orang tercatat tewas seketika dihari yang sama setelah kejadian serangan bom tersebut.

"Sial."

Umpatnya sembari memukul meja kerjanya.

Pihak sekutu benar-benar berhasil membuat Jepang semakin tersudut, 16 jam telah berlalu sejak ultimatum yang diberikan oleh Amerika kepada Jepang untuk menyerah. Namun sampai saat ini juga berita tentang penyerahan Jepang belum terdengar.

Beberapa kota besar saat ini sedang siaga satu, termasuk Kokura, dimana ia saat ini bertugas. Ancaman mereka untuk kembali dengan serangan bom atomnya kembali mengusik pikiran Sasuke. Kokura bisa jadi target yang empuk, mengingat salah satu pabrik amunisi terbesar di Jepang berada dikota ini.

Sasuke segera bergegas keluar dari ruang kerjanya, begitu mendengar panggilan salah satu bawahannya dari luar. Sepertinya rapat penting yang tadi direncakan akan segera dimulai.

.

.

8 Agustus 1945, Amerika

"Tampaknya Jepang masih berkeras untuk tidak menyerah juga."

Seorang pria berpangkat Mayor menatap sang Letnan Jendral yang tengah menyeringai.

"Serangan kita dua hari yang lalu tampaknya tidak juga membuat mereka takut, padahal Presiden sudah mengancam mereka, namun mereka tidak juga gentar."

Sang bawahan mengangguk, menyetujui perkataan sang atasan.

"Bagaimana pemantauan cuaca di Kokura dan Nagasaki?"

"Menurut laporan dari angkatan udara, cuaca di 2 kota tersebut tidak baik, sepertinya kita akan melakukan serangan lebih cepat dari rencana semula."

Sang Jendral mengangguk.

"Jadwal penyerangan Kokura dan Nagasaki akan dimajukan menjadi besok, awak Sweeny pengangkut Fat Man telah dipersiapkan dengan target utama kita adalah Kota Kokura, dan target kedua adalah Nagasaki."

"Lakukan sesuai rencana, tidak boleh ada kesalah dalam misi besok."

"Baik Jendral!"

.

.

9 Agustus 1945,

Sebuah kesalah yang seharusnya tidak boleh terjadi, hanya sebuah kesalah kecil namun memberi efek yang sangat besar. Awak pesawat telah diberitahu sebelumnya mengenai pompa bahan bakar yang tidak aktif, namun masih tetap menggunakan pesawat tersebut.

Dilain pihak, sebuah parik baja terbesar di Kokura sengaja membakar tar batu bara mereka untuk menghasilkan awan hitam, seolah tahu akan tujuan misil hari ini. Saat ini 70 persen wilayah Kokura terselimuti awan hitam, sehingga mengaburkan titik acuan bom.

Seusai melakukan tiga penerbangan pengeboman di atas kota Kokura dengan bahan bakar rendah akibat kegagalan pompa, awak pesawat amerika terbang ke target kedua, Nagasaki.

Kokura selamat dari target serangan misil hari ini, namun tidak dengan Nagasaki.

.

.

14 Agustus 1945,

Sang Kaisar akhirnya menyerah, ia tidak ingin bertambah lagi jumlah korban yang tak bersalah. Ia mengumumkan penyerahan dirinya yang disiarkan diseluruh Jepang. Walau terdapat beberapa pemberontakan kecil dari kaum militeris yang menolak menyerah, namun kalimat sang kaisar akhirnya mampu meredamnya.

"Saat ini musuh telah memiliki senjata baru dan mengerikan yang mampu melenyapkan nyawa orang-orang tak bersalah dan menimbulkan kerusakan tak ternilai. Bila kita terus melawan, bukan saja bangsa Jepang yang akan runtuh dan musnah, seluruh peradaban umat manusia juga akan musnah."

Dan jika mengingat kembali kejadi di Hiroshima dan Nagasaki saat itu, maka mungkin saja jika perang ini terus terjadi, seluruh peradaban umat manusia pasti akan musnah.

.

.

September 1945,

Waktu sudah memasuki pertengahan September, keadaan perlahan mulai pulih pasca ledakan maha dahsyat yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki saat itu. Sejak pemberitaan penyerahan diri Kaisar terhadap Sekutu Agustus lalu, para penduduk yang mengungsi berangsur kembali ke kediaman mereka.

Tampak Ayame yang sedang membantu Naruto di dapur, ia mengambil sayur yang hendak dicucinya, sementara Naruto tampak sedang mengiris bawang.

"Ah," jerit Naruto yang langsung mendapat perhatian dari Ayame.

"Kau tidak apa-apa Naruto?" tanyanya sesaat setelah Ayame berdiri disamping Naruto.

Ayame bisa melihat darah segar yang mengalir dari jari telunjuk Naruto, tampaknya wanita itu tidak sengaja mengiris jarinya.

"Maaf, aku hanya kurang hati-hati."

Naruto segera berjalan mengambil selembar kain untuk menutup lukanya.

"Kau menangis?" Tanya Ayame saat melihat airmata yang meleleh dipipi Naruto.

Refleks Naruto mengelap airmata dipipinya dengan ibu jarinya.

"Ah tidak, ini karena aroma bawangnya terlalu menusuk."

"Kau berbohong," sanggah Ayame yang mengetahui kebohongan Naruto.

"Apa kau sedang memikirkan Uchiha-san?"

Tampaknya tebakan Ayame benar tatkala dilihatnya ekspresi pada wajah Naruto berubah.

Kali ini Naruto tidak berusaha menahan airmatanya, ia biarkan tangisnya pecah didepan Ayame.

"Sampai saat ini belum ada kabar apapun mengenai dia, surat terkahir yang aku terima mengatakan ia sedang berada di Hiroshima."

Ayame refleks memeluk Naruto, berusaha menenangkan wanita bersurai pirang itu.

"Yang bisa kita lakukan saat ini hanya berdoa, berdoa agar dia selamat, dan dia .."

"Ibu!"

Suara teriakan Hiroshi memotong kalimat Ayame, dan refleks membuat wanita itu melepaskan pelukannya.

"Ibu, ada Paman Lee didepan, ayo cepat, katanya dia ada pesan penting."

Hiroshi segera menarik sang Ibu, yang membuat Naruto terpaksa berjalan cepat mengikuti ritme sang anak. Ia kemudian menghapus bekas airmatanya.

"Ah Nyonya Shimura!"

Panggil Lee sesaat setelah Naruto tiba didepan pintu.

Naruto menatap Lee yang tampak tengah mengatur nafasnya, tampaknya pria itu terburu-buru datang ke kediamannya.

"Lee-san, kau terlihat sangat kelelahan, masuklah dahulu, aku akan membawa segelas air untukmu."

Lee melambaikan tangannya, menolak tawaran Naruto. Ia akui ia memang kelelahan setelah berlari dari Kediaman Uchiha, dan langsung kemari. Namun setelah mendapatkan telegram pagi tadi Ia langsung pergi untuk memberitahukan sebuah kabar.

"Tidak perlu Nyonya Shimura, aku hanya sebentar disini, aku hanya ingin memberitahu .."

Kalimat Lee terputus, tampaknya ia masih cukup lelah, ia kembali mengatur nafasnya.

"Mayor Uchiha selamat, dan mereka dalam perjalan pulang ke Tokyo, kapalnya akan tiba besok."

Naruto refleks berlutut, ia kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya, airmata tak hentinya mengalir dari kedua sapphire nya. Walau terdengar lirih, sayup-sayup terdengar ia mengucapkan syukur.

"Sykurlah, sykurlah .."

.

.

Sasuke menginjakkan kakinya kembali di kampung halamannya. Beberapa awak klasi memberikan hormat padanya yang dibalasnya dengan anggukan. Ia mengapit topinya di lengan kirinya, oniksnya menatap langit sore yang berwarna jingga.

Perang telah berakhir,

Ia bahkan masih tidak bisa percaya ia masih bisa hidup sampai saat ini, jika kembali mengingat kejadian bulan lalu. Walau tidak seperti Hiroshima dan Nagasaki, keadaan di Kokura saat itu juga bisa dibilang tidak terlalu baik, apalagi mengingat kota itu hampir menjadi target misil Amerika.

Sasuke menggelengkan kepalanya, mencoba untuk melupakan kejadian mengerikan itu. Oniksnya kembali menatap area disekelilingnya. Tampak beberapa prajurit yang kembali bersama dengannya tengah dijemput oleh keluarga mereka.

Kemarin ia mengirimkan telegram dari markas mereka di Kokura, berisi mengenai keadaanya saat ini untuk disampaikan kepada Ibunya dan juga Naruto. Mereka pasti khawatir dengan keadaannya pasca bom bulan lalu.

Ia kembali berjalan melewati kerumuman orang disekitarnya, mencoba mencari keberadaan Lee yang sudah berjanji untuk menjemputnya sore ini di pelabuhan, sampai sebuah suara membuat langkahnya terhenti.

"Paman!"

Sebuah teriakan anak kecil, Sasuke segera memutar tubuhnya mencari sumber suara tersebut.

"Paman," panggil suara itu lagi.

Dan kali ini Sasuke berhasil melacak sumber suara tersebut.

"Paman, disini."

Sasuke melihat Hiroshi yang melambaikan tangannya padanya, dibelakang Hiroshi tampak Naruto yang berdiri memegang pundak Hiroshi.

Ia berjalan pelan mengahampiri keduanya, semakin dekat ia berjalan, semakin jelaslah wajah keduanya.

Hiroshi berlari mengejar sang paman, dan langsung menghadiahi sang paman dengan pelukannya walau ia hanya bisa memeluk sang paman sampai sebatas kakinya.

Baru saja Sasuke hendak menunduk untuk menggapai Hiroshi, namun diurungkannya saat ia melihat Naruto yang juga berlari kearahnya. Wanita itu juga tanpa aba-aba langsung memeluknya, dan membenamkan wajahnya didadanya. Terdengar suara tangis dari bibirnya.

Naruto semakin mengeratkan pelukannya saat dirasanya Sasuke yang masih membeku ditempat, sepertinya pria itu masih terkejut dengan kehadiran mereka. Namun Naruto tidak peduli, ia semakin mengeratkan pelukannya, dan kedua sapphire nya yang seolah berkhianat terus mengeluarkan airmata, padahal ia sudah berjanji tidak akan menangis dihadapan pria ini.

Sasuke perlahan mengangkat tangannya, sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap surai pirang Naruto, mencoba untuk menghentikan tangis wanita itu, namun Naruto malah semakin erat memeluknya, seolah takut kehilangan dirinya.

Sasuke mengeratkan keduatangannya dipunggung Naruto, membalas pelukan sang wanita. Perlahan ia benamkan wajahnya diperpotongan leher Naruto, menghirup aroma tubuhnya yang sangat disukai dan dirindukannya.

Wanita itu tidak mengatakan sepatah katapun, namun Sasuke tahu walau tanpa sepatahkatapun wanita itu akhirnya membalas perasaannya. Perasaannya yang dikiranya hanya bertepuk sebelah tangan akhirnya terbalaskan.

Sasuke semakin mengeratkan pelukannya, mendekatkan bibirnya ditelinga Naruto, dan berbisik,

"Aku pulang."

.

.

Naruto perlahan menghentikan tangisnya, walau masih jelas terdengar isakan dari bibirnya, ia akhirnya bisa membalas ucapan Sasuke.

"Selamat datang."

.

.

FIN

.

.

.

Terimakasih buat semuanya yang masih menunggu update fic ini.

Mungkin aku harus menambahkan Wikipedia sebagai source juga, karena aku banyak mengambil referensi dari situs itu.

Juga dari beberapa novel ber-genre perang yang pernah aku baca seperti A Farewell to Arms karyanya Ernest Hemingway. Dan termasuk pengalam pribadi di Kamp Pelatihan Militer Ridam Jaya selama satu bulan setengah ternyata bermanfaat juga.

Kalau ingat pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, aku jadi teringat waktu liburanku di Jepang Agustus tahun lalu, tampaknya setiap tahunnya selalu diputar kejadian pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki di TV Nasional, dan saat aku menontonnya di Hotel kala itu, cuma satu kalimat dipikiranku, "Itu mengerikan!"

Agak sedikit belajar sejarah yah di chapter ini, semoga tidak bosan.

Alright, aku sadar akan banyak yang protes dengan ending fic ini yang dianggap terlalu singkat atau apalah, tapi serius, cukup susah membuat fic berlatar sejarah nyata seperti ini.

Walau aku nggak sempat membalas semua review teman-teman pembaca, tapi aku sangat mengharapkan komentar nya akan fic ini.

Sekali lagi aku ucapkan terimakasih buat semuanya.

~ Hatake Aria