(Important Note: Ada perubahan umur dari chapter pertama)


Maybe you think that you can hide

I can smell your scent for miles

Just like animals

.

.

.

"Omega menemui heat pertamanya ketika dia bertemu seseorang yang akan menjadi mate-nya."

.

Hidup yang penuh kebohongan masih berlanjut bagi Ivan Braginsky.

Hanya saja... tidak seburuk dulu.

Hari demi hari terus berlanjut dan Ivan tahu satu-satunya perasaan yang tidak bohong di dalam dirinya ini terus berkembang. Ivan masih tetap menunggu di lokasi pertama mereka bertemu. Memegang harapan kecil untuk bisa bertemu dengannya lagi. Dan kali ini… mungkin dia bisa berbicara normal dengannya.

Tapi, tak peduli berapa lama Ivan menunggu—

—hari itu tak pernah datang.

Entah mengapa bola sepak tidak pernah lagi terbang ke arahnya. Ivan tidak tahu harus merasa lega atau sedih karena tidak ada lagi alasan untuk pemuda itu menemuinya. Terlebih dengan kenyataan bahwa mereka berbeda kelas atau bahkan angkatan, membuat Ivan tak bisa mencari Omega yang mencuri hatinya semudah itu.

Kalaupun ada saat-saat Ivan berhasil melihatnya, dia pasti sedang dikelilingi oleh banyak temannya. Lalu hal ini membuat Ivan yang sebenarnya pemalu itu reflek bersembunyi di balik tembok. Begitu meyakinkan diri bahwa laki-laki albino itu tidak menyadari keberadaannya, Ivan akan kembali mengintip dari sela tembok. Memperhatikan wajahnya saat tertawa senang bersama orang-orang selain dirinya dan tidak dia kenal itu.

Perlahan tapi pasti, kedua pipi Ivan akan memerah. Tersenyum kecil dan ikut merasa senang, meskipun dia tahu pemuda itu tidak sedang tersenyum untuknya. Diam-diam, dia akan terus mengucapkan berbagai macam doa agar pemuda yang dia sayangi itu tetap tersenyum dengan kebahagiaannya sendiri.

Sungguh... Ivan tak pernah menyangka hari dimana dia merasakan perasaan seperti ini akan datang.

Bodoh tapi terasa hangat. Seakan Ivan Braginsky baru saja menemukan alasan untuk tetap hidup di dunia yang fana ini.

Tapi, semakin terus Ivan menjaga jarak dan memperhatikannya dari jauh... maka semakin banyak pula hal-hal tentang pemuda itu yang tidak ingin diketahuinya. Salah satunya adalah kenyataan dimana Omega itu ternyata dekat dengan rival yang dibencinya, seorang Alfa berambut pirang.

Lalu bagian terburuknya adalah...

"HEI, GILBERT!"

"WA—ALFRED! JANGAN MENGAGETKANKU, SIALAN!"

...gerak-gerik Gilbert Beilschmidt yang sangat jelas menunjukkan bahwa dia memiliki perasaan khusus kepada Alfred F. Jones.

Dari posisinya sekarang, Ivan bisa melihat Alfa yang selalu membuatnya kesal itu merangkul Gilbert dari belakang. Tentu saja karena kekuatannya yang terlalu berlebihan, Omega berambut perak keputihan itu nyaris terdorong ke depan seandainya Alfred tidak menahan bahunya. Gilbert langsung menoleh dengan ekspresi marahnya dan mengomeli Alfred yang hanya terkekeh kecil sembari mengucapkan maaf.

Namun, warna merah di kedua pipinya itu tidak akan lolos dari kedua mata Ivan.

Untuk pertama kalinya, Ivan dapat merasakan dadanya tercubit dengan sangat kuat. Rasa sakit yang bahkan tidak bisa dia abaikan seperti biasanya. Padahal saat mendengar asumsi sepihak dari orang-orang di sekitarnya, Ivan masih bisa melupakan rasa sakit itu dengan lari ke kegiatan yang jauh lebih bermanfaat. Tapi sekarang, Ivan tahu semua usahanya percuma dan dia hanya akan kembali memperhatikan Gilbert dari jauh lagi.

Benar-benar... bodoh.

Seakan Gilbert memegang seluruh tali kendali yang terpasang di tubuh boneka rusak sepertinya.

Setelah merasa puas melihat, Ivan menghela napasnya pelan lalu menarik diri dari posisinya. Seperti hari-hari sebelumnya, Alfa berambut beige itu kembali pada kenyataan dimana tak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya. Saat berbalik, syal Ivan yang panjang itu sempat teriup angin hingga keluar dari balik tembok meski hanya sekilas.

"...Ng?"

Merasa melihat sesuatu dari ujung matanya, Gilbert berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Nihil, tak ada apapun membuat Gilbert sedikit membuka mulutnya dan mengernyitkan alisnya bingung.

"Rasanya... tadi ada..."

Melihat Gilbert tak kunjung melanjutkan langkahnya, Alfred dan dua teman lain mereka ikut berhenti, "Kenapa, Gil?"

Pertanyaan itu membuat Gilbert tersentak dan kembali menoleh ke arah teman-temannya. Masih belum menjawab, dia melihat ke belakang lagi. Setelah memastikan tidak ada yang aneh, pemuda Albino beriris merah itu memejamkan kedua matanya dan menggeleng.

"Tidak. Bukan apa-apa."

Hari-hari menyedihkan tanpa adanya kemajuan ini terus berlanjut hingga waktu perpisahan tiba. Tentu saja Gilbert yang setahun lebih tua dari Ivan dan Alfred pergi lebih dulu. Di hari perpisahannya, Ivan masih mengintip dari jauh, mengenakan kacamatanya, dan menyembunyikan sebagian besar wajahnya di balik syal tebalnya. Kedua tangannya terus meremas tembok di dekatnya. Memikirkan haruskah dia maju sekarang atau...

...menyerah pelan-pelan dari sekarang.

Dan Ivan tahu, pada akhirnya Alfa pengecut seperti dia akan mengambil pilihan kedua.

Menundukkan kepalanya, Ivan tersenyum kecil dan melepaskan tangannya. Berjalan menjauh dengan sosok Gilbert yang mengenakan baju wisuda itu sebagai rekaman terakhir yang akan dia ingat selamanya.

"Selamat tinggal... Gilbert."

Lebih baik. Gilbert Beilschmidt akan jauh lebih baik dan bahagia tanpa mengenal Alfa seperti dirinya.

Sudah waktunya perasaan ini menghilang.

Tidak apa-apa.

Ivan Braginsky akan baik-baik saja.

...Begitu pikirnya sendiri tanpa bisa berbagi dengan siapapun selama lima tahun.

Meski perasaan ini membeku, Ivan tidak memiliki pilihan selain melanjutkan hidupnya. Sebagai Alfa yang memiliki nasib cukup beruntung, Ivan dapat fokus untuk berkarir. Melanjutkan perusahaan ayahnya, membantu keuangan keluarga terutama untuk saudara-saudara perempuannya. Terus menyibukkan diri di dunia pekerjaan hingga dia sendiri dan semua orang dapat melihat seorang Ivan tanpa memikirkan status seksualnya.

Sampai suatu hari—

"Vanya, bukankah sudah waktunya kau memiliki Omega dan membangun keluargamu sendiri?"

—sang kakak yang sudah lama tak ditemuinya, mengajaknya bicara empat mata.

Sejujurnya, Ivan tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Katyusha Braginskaya. Kakak perempuan Ivan yang selama ini bersikap pasif dan mendukung apapun pilihan adiknya dalam diam. Ivan berhenti menulis di atas bukunya dan mendongakkan kepalanya. Menatap kakaknya yang duduk di depannya dengan senyuman lembut di wajah cantiknya.

Menyadari sang kakak serius, Ivan sedikit membuka mulutnya sebelum menutupnya kembali. Dia menggeleng pelan, "Aku tidak tertarik untuk itu, sestra." Lalu melanjutkan kegiatannya kembali.

Jawaban ini membuat Katyusha bimbang. Wanita berambut pendek itu sudah mengira namun juga sedikit tidak menyangka sang adik benar-benar menjawabnya seperti ini. Senyuman telah hilang dari wajahnya dan Katyusha menundukkan sedikit kepalanya, "Tapi, Vanya..." entah mengapa kata-kata Katyusha sempat menggantung di udara. Kedua tangannya meremas celana yang menutupi kedua lututnya, "...aku tahu... kau selalu terlihat kesepian."

Untuk yang ke sekian kalinya, Ivan berhenti menulis.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi di kehidupanmu, karena aku sendiri tidak pernah bertanya," penjelasan yang jujur itu membuat Ivan terdiam, "tapi sejujurnya, aku selalu memperhatikanmu. Saat terakhir kau terlihat menikmati hari-harimu hanya ketika kau masih di SMA, bukan? Waktu itu aku pikir kau sudah menemukan sesuatu yang berharga. Sampai akhirnya kau kembali terlihat sedih hingga hari ini."

Ivan mulai sedikit membuka mulutnya. Di saat yang sama, Katyusha mendongakkan kepalanya dan mengepal kedua tangannya di depan dadanya, "A-Aku tidak tahu apakah menemukan Omega mate-mu bisa membuatmu bahagia, ta-tapi... maukah kau mencobanya dulu?" tanya Katyusha dengan sedikit tergesa-gesa.

Meskipun Ivan mengerti, tetap saja dia tidak bisa langsung menerima permintaan kakak kesayangannya itu bulat-bulat. Meremas bulpen di tangannya, Ivan menatap kosong bukunya, "...Mencoba... ya..." gumamnya pelan. Kemudian dia memejamkan kedua matanya perlahan tapi pasti.

Apakah bayangan cinta pertamanya itu masih tersisa di dalam kepalanya?

...Ya, namun mulai memburam.

Mungkin ini memang sudah waktunya.

Ivan tidak tahu apakah ini pilihan terbaik atau tidak. Tapi di sisi lain, dia merasa tidak bisa mengabaikan satu-satunya permintaan sang kakak yang tidak pernah memaksakan apapun padanya. Lagipula ini juga demi kebaikan dirinya sendiri yang terus terkekang oleh perasaan semu yang tidak akan pernah terbalas.

Katyusha terlalu menyayanginya sampai rasanya menyakitkan.

Ivan tersenyum tipis sebelum akhirnya tertawa kecil, "...Baiklah." Melihat wajah Katyusha langsung berubah cerah dengan air mata lega di ujung kedua matanya membuat Ivan membuang wajahnya yang ikut memerah, "Tapi, aku hanya mencoba sekali. Jika tidak, semuanya terserah padaku." Ucapnya pelan sembari memutar bulpen di tangannya.

Katyusha mengangguk cepat, "Da! Tidak masalah!" dia langsung maju dan menarik tangan Ivan, Memeluknya terlalu kuat hingga Ivan bisa merasakan dada besar sang kakak, "Aaah! Aku senang sekali! Kalau begitu, kapan kita bisa ke gedung fasilitas Omega? Aku akan menemanimu, apa kau ingin Natalya ikut juga?"

Mendengar nama adiknya yang sangat over protective padanya, Ivan tertawa hambar dan melirik ke arah lain, "Sepertinya itu bukan ide yang bagus."

"Oh iya, kau benar," melepas tangan Ivan, Katyusha kemudian berdiri tegak, "hm baiklah... bagaimana kalau besok, Vanya?"

Untuk sesaat, Ivan terlihat diam memikirkannya. Dia memegang dagunya lalu mengangguk sekali, "Da, sepertinya bisa."

Dengan senyum yang kembali mengembang, Katyusha ikut mengangguk, "Oke, aku akan menjemputmu besok pagi ya! Oh!" teringat oleh sesuatu, Katyusha mengambil hp dari dalam kantong celananya dan membukanya, "Sudah waktunya Eduard pulang, baiklah aku pulang dulu, Vanya!" setelah menyebut nama kekasihnya itu, Katyusha langsung berbalik dan mengambil tasnya di tengah ruangan.

Ivan ikut berdiri lalu berjalan melewati mejanya. Mengantar kepergian sang kakak yang kini sedang mengenakan jaketnya kembali, "Hati-hati di jalan." Ucap Ivan singkat.

Katyusha tersenyum dan berjinjit untuk mencium pipi adiknya, "Da, pilih pakaian terbaikmu. Kita tidak ingin calon Omega-mu kecewa melihat penampilan pertamamu, 'kan?" Ivan hanya tersenyum kaku dan mengangguk apa adanya. Menarik tangannya dari pipi Ivan, Katyusha bergegas menuju pintu, "Do svidaniya!"

"...Proshchay." Tepat setelah Ivan mengatakan itu, pintu tertutup. Ivan mendengar seksama langkah keras Katyusha sebelum wanita itu keluar dari rumahnya dan apartemen besarnya terasa dingin lagi seperti biasanya.

Memastikan Katyusha tidak akan kembali, Ivan mengeluarkan helaan napas yang panjang. Dia berjalan menuju kasur lalu membanting tubuhnya di atas sana. Ivan menutup kedua tangannya dengan lengannya. Tenggelam semakin dalam di setiap kenangan yang semakin memburam seolah memang meminta Ivan untuk segera melupakan semuanya.

"Omega...ku..." Ivan terus bergumam pelan hingga dia sendiri kehilangan kesadarannya, "...bagaimana kalau dia... membenciku?" bisiknya terakhir sebelum jatuh terlelap.

Keesokan harinya tiba. Sesuai yang diperintahkan Katyusha, Ivan telah siap mengenakan syal dan pakaian paling rapi miliknya. Katyusha sempat tidak puas tapi akhirnya menyerah juga setelah menyadari dia sendiri dikejar waktu. Kedua kakak beradik itu pergi ke gedung fasilitas Omega secara acak, sesuai pilihan hati mereka. Walau sebenarnya Ivan sendiri yang asal memilih karena tidak terlalu berharap dengan hasil pencarian mereka.

Benar, ini yang pertama dan terakhir.

Setelah ini... mungkin Ivan benar-benar akan menyerah.

Baik dalam Omega, pasangan soulmate, dan kebahagiaannya, Ivan akan merelakan semuanya.

"Lihat Vanya, kita sudah sampai!"

Tersentak dari lamunannya sendiri, Ivan menoleh ke arah gedung di sampingnya. Katyusha yang menyetir—dia memaksa—kini sedang memposisikan mobil mereka di tempat parkir. Perlahan tapi pasti Ivan bisa merasakan jantungnya kembali berdebar cepat dan kuat. Keringat dingin mengalir di sisi wajahnya meskipun sudah tenang sebelumnya.

"Ayo turun," ucap Katyusha setelah keluar dari mobilnya melihat Ivan masih duduk kaku di kursinya. Ivan menoleh lalu mengangguk kaku sebelum keluar sendiri dari pintu di sampingnya. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu masuk gedung tersebut.

Merasakan ketegangan adiknya, Katyusha tersenyum lembut dan mengelus punggung Ivan, "Tenanglah, semua akan baik-baik saja," tertawa kecil, Katyusha melanjutkan, "padahal seharusnya Omega yang merasa tegang seperti ini. Kau benar-benar Alfa yang berbeda ya, Vanya."

Ivan sedikit tergagap saat mendengar ini, "Bukan begitu—"

NGIIINGG

Suara bel yang sangat keras menarik perhatian seluruh orang di sana termasuk Ivan dan Katyusha. Ivan masih terlihat bingung sementara wanita berambut pendek itu langsung menarik tangannya dan lari terburu-buru, "Sudah dimulai, Vanya! Ayo cepat!" teriaknya panik.

Ivan yang merasa seharusnya mereka tidak perlu buru-buru seperti ini sebenarnya ingin berjalan pelan-pelan. Namun pada akhirnya dia mengalah dan terbawa dengan pace Katyusha. Di dalam, Katyusha langsung berjalan ke resepsionis dan mendaftarkan adiknya secepat yang dia bisa. Dia kembali dengan kartu yang dia serahkan ke Ivan lalu segera mendorong adiknya ke depan pembatas yang sedang terbuka untuk para Alfa dan Beta yang akan dipersilahkan masuk ke kawasan Omega sebentar lagi.

"Aku akan menunggu selama satu jam. Jika kau tidak keluar setelah itu, aku akan berasumsi kau telah menemukan Omega-mu lalu pulang duluan, oke?" jelas Katyusha selama mendorong adiknya itu. Ivan hanya mengangguk saja. Pikirannya lebih fokus dengan kemungkinan para Omega di dalam sana, "Dan ingat untuk segera datang ke rumahku lalu ceritakan semuanya! Mengerti?"

"D-Da, aku mengerti," jawab Ivan kaku. Wajahnya semakin panik melihat seorang Beta telah menjelaskan aturan-aturan di dalam dan memegang tombol untuk membuka pintu, "sestra, jika aku tidak menemukan Omegaku—"

"Kita bicarakan itu lain kali!" potong Katyusha cepat. Sepertinya tidak mau memikirkan kemungkinan buruk untuk salah satu adik yang paling disayanginya tersebut. Setelah memberi sekali dorongan keras hingga Ivan harus menahan dirinya agar tidak jatuh, Katyusha melambaikan tangannya, "Semoga beruntung, Vanya!" teriaknya. Menyeimbangkan dengan suara-suara orang lain yang memberi semangat pada para Alfa dan Beta yang akan pergi bersama Ivan.

Pria beriris violet itu pun mengangguk dan menghadap depan. Dia mengambil langkah pertama dan berjalan masuk bersama para pencari mate yang lain. Tak lama setelah Ivan masuk, pembatas di belakangnya tertutup, menandakan kuota Alfa dan Beta sudah terpenuhi untuk mencari Omega yang telah siap di kursinya masing-masing.

Ivan menelan ludah untuk yang ke sekian kalinya. Dia melihat sekelilingnya. Tempat fasilitas Omega yang selama ini hanya dilihat melalui buku kini berada di depan matanya. Dari posisi ini Ivan bisa melihat para Omega yang memasang ekspresi bermacam-macam. Ada yang berharap sekali mendapatkan mate, ada yang tidak peduli dia akan dapat mate sekarang atau tidak, dan bahkan ada yang tidak berharap sama sekali.

Sedikit banyak, Ivan mengerti perasaan mereka.

Bagaimanapun juga Omega adalah status seksual yang bisa dikatakan paling tidak beruntung di dunia ini.

Ivan masih diam berdiri di posisinya, memperhatikan wajah-wajah Omega yang bisa dilihatnya. Namun saat dia baru saja akan melangkah karena merasa tidak ada yang aneh, jantungnya tiba-tiba terasa berhenti berdetak ketika kedua matanya melewati sesuatu.

DEG!

"Apa..."

DEG!

"...tidak mungkin..."

Mulut Ivan terasa mengering. Dia mengatup rapat bibirnya dan reflek berlari ke salah satu Omega yang terasa seperti dikenalinya. Melewati beberapa orang yang juga penasaran karena rupa Omega yang jarang terlihat itu. Atau bahkan karena jelas tertulis di biodatanya, bahwa ini kali pertama Omega itu datang ke gedung fasilitasnya.

Setelah berhasil melewati orang terakhir, Ivan bisa merasakan kedua matanya membulat sempurna dan bergetar.

Itu dia.

Omega yang seharusnya sudah dia relakan.

"...Gilbert..."

DEG!

"Ha? Akhh—"

Tepat setelah Ivan berdiri di depannya—meski masih berjarak beberapa meter—Omega yang di papannya bertuliskan nama Gilbert Beilschmidt itu tiba-tiba merintih. Semua orang di sana, terutama Alfa dan Beta langsung memperhatikannya. Menyadari sudah ada satu Omega yang bereaksi dengan Mate-nya.

"Ada Omega yang masuk heat di ruang K!"

Teriakan itu mengkonfirmasi segalanya. Ivan bisa merasakan kedua alisnya bertaut. Kedua tangannya mengepal erat dan dia menelan ludahnya sendiri. Panik... kecewa... tidak terima... kedua mata Ivan menunjukkan pergolakan batin yang hebat saat melihat Omega yang selama ini memenuhi kepalanya kini terkulai ketakutan tanpa bisa melihat siapa yang membuatnya seperti ini.

Antara itu atau...

...tubuhnya bereaksi karena heat Gilbert.

Mungkinkah... mereka—?

"Jadi, siapa yang akan maju lebih dulu?"

Suara wanita Beta itu menggema. Ada yang memikirkan kemungkinan bahwa mereka adalah Mate Gilbert, namun ada juga yang langsung tahu bahwa mereka bukan orang yang berhasil membuat Omega itu masuk ke dalam heat. Ivan sendiri masuk di antara keduanya. Dia tidak yakin tapi—

TEP

—dia tahu... dia tidak akan menyerahkan Gilbert pada siapapun.

"Aku."

Tidak lagi.

Meski begitu, kemungkinan Gilbert akan menolaknya masih menakutinya. Keringat dingin Ivan masih mengalir. Tidak ada lagi ludah yang bisa dia telan di dalam mulutnya yang telah mengering karena rasa tegang menguasai tubuhnya. Walau begitu mengalahkan segala ego dan mengikuti nalurinya yang masih perlu dilatih, Ivan maju.

Dan tangan Gilbert langsung meraihnya dengan kuat. Ivan terkejut sehingga tidak sempat menahan kekuatannya, dia ditarik oleh kekuatan Gilbert yang frustasi. Omega itu mencengkeram tangannya, kepalanya mendekat tepat di depan perut Ivan agar hidungnya bisa menghirup bau Alfa yang membuatnya seperti ini. Rintihannya terdengar memilukan, seolah memohon pada Ivan untuk segera menghentikan rasa sakit di tubuhnya.

"Tolong…"

Benar.

"…hentikan semua ini."

Ivan tahu dia tidak perlu memikirkan apapun lagi sekarang.

Ivan Braginsky adalah Alfa milik... Omega ini.

Teriakan orang-orang di sekitar mereka yang menandakan bahwa satu pasangan telah menemukan Mate mereka satu sama lain tidak dipedulikan lagi oleh keduanya. Ruangan tertutup telah dibuat untuk mereka berdua. Mengetahui apa yang akan terjadi setelah ini membuat Ivan yang wajahnya telah memerah itu memejamkan kedua matanya. Tangannya yang mengelus kepala Gilbert akhirnya berhenti dan dia menurunkan tubuhnya.

Sang Alfa menghirup dalam-dalam bau Omega yang pernah lepas dari genggamannya. Memastikan tidak ada siapapun yang memilikinya selain dia. Berbisik dalam hati tanpa membiarkan Omega itu mengetahuinya.

"Gilbert."

Dia tidak akan melepaskan Omeganya lagi.

"Seharusnya kulakukan ini dari dulu."

Tidak akan pernah mengalah lagi.

"Maafkan aku."

...Meskipun Omega itu sendiri akan berusaha lari dan membencinya.

.

.

.

.

.

Hetalia © Hidekazu Himaruya

Animals (Song) © Maroon 5

Story © Kira Desuke

Rate M Yaoi Omegaverse

Romance/Hurt/Comfort/Friendship

RuPru (Russia x Prussia)/IvanGil (Ivan x Gilbert)

.

.

.

ANIMALS

Chapter 2

.

.

.

"Ha! Ah—tidak—"

Suara derit kasur memenuhi isi kamar mereka. Meraih sprei kasur di depannya yang sudah sangat kusut, Gilbert meremasnya kuat sementara dia terus turun hingga ikut menggigit bantal di bawahnya. Air matanya terus mengalir dari ujung matanya, begitu pula garis saliva yang mengalir keluar dari mulutnya.

Gilbert dapat merasakan dirinya ketakutan. Takut karena dirinya tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi rasa nikmat yang dihujamkan padanya secara sepihak. Takut karena dia tidak bisa melakukan apapun. Takut dia menjadi semakin bodoh dan lemah di tangan pria yang merengkuhnya.

Dia takut… tubuhnya semakin berubah hingga dia sendiri tidak dapat mengenalinya.

"—hentikan… Ivan!" Gilbert terus berteriak di tengah tangisannya. Bagian atas tubuhnya telah jatuh tak bertenaga di atas kasur mereka. Hanya bagian pinggangnya ke bawah yang ditahan agar masih bisa menerima tusukan dari sang Alfa. Kedua tangannya meremas sprei dengan sisa-sisa tenaganya.

Ivan masih diam, mulutnya terbuka hanya untuk mengeluarkan engahan napasnya. Selebihnya dia fokuskan pada gerakan tubuhnya untuk mencari ujung klimaks mereka berdua. Ivan memejamkan kedua matanya erat begitu dia merasakan bagian dalam Gilbert yang meremasnya semakin kuat.

"Gil…" Ivan memanggilnya pelan dengan suara yang berat. Gilbert hanya membalasnya dengan erangan, menyadari Ivan bergerak semakin kuat dan menurunkan tubuhnya sehingga Alfa berbadan besar itu seakan ingin menindihnya.

Menurunkan wajahnya tepat di belakang kepala Gilbert, Ivan menghirup bau Omega miliknya itu sedalam mungkin yang dia bisa. Sebelum dia membuka mulutnya dan menggigit leher Gilbert yang juga sudah penuh dengan tandanya. Untuk yang ke sekian kalinya Gilbert mengerang. Rasa sakit yang entah kenapa mendorong tubuhnya mencari kepuasan yang diinginkannya sebagai Omega.

Lagi.

Gilbert tahu dia akan membenci lagi tubuhnya yang terus mengharapkan Ivan setelah ini.

"Wa—ah! Ha! Tidak! Ivan—" Gilbert masih belum bisa bergerak bebas karena Ivan masih menggigitnya. Akhirnya kepalanya terkulai pasrah di atas bantal saat dia mulai mengisak, "—jangan… jangan di dalam…" bisiknya berulang kali seperti kaset yang rusak. Tidak bisa melakukan apapun selain berharap saat gerakan tubuh Ivan semakin dalam menghujamnya.

Perlahan tapi pasti, Ivan bisa mendengar permohonan Gilbert meski samar. Alfa itu melepaskan gigitannya dan bangkit dari posisinya. Kedua matanya yang sempat terpejam kini terbuka dan melihat Gilbert yang bergetar ketakutan di bawahnya. Omega yang masih belum bisa menerima sang Alfa sepenuhnya itu menutupi wajahnya, hanya mulutnya yang sedang menggertakkan giginya yang terlihat.

Ivan hanya diam, gerakannya juga menjadi pelan. Seperti memikirkan sesuatu lalu dia sendiri menggertakkan giginya. Saat knot hampir terbentuk, Ivan langsung menarik dirinya keluar tanpa pemberitahuan apapun. Membuat Gilbert tersentak kaget dan reflek memekik kecil.

Merasakan kekosongan secara tiba-tiba membuat lubang Gilbert masih berkedut, sama dengan tubuhnya yang juga masih sedikit menegang dan sensitif. Gilbert langsung meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri. Enggan menoleh meski dia jelas dapat merasakan Ivan sedang memperhatikannya dalam diam. Ivan sendiri masih merasa perih karena knot yang sudah hampir terbentuk itu membuat miliknya tak bisa langsung lemas seketika.

Pada akhirnya mereka berdua hanya diam di sana dengan posisi saling membelakangi satu sama lain. Menunggu tubuh mereka tenang sendiri tanpa kontak apapun. Hal yang terus terjadi semenjak dua bulan berlalu mereka memutuskan tinggal bersama di apartemen—meski di pihak Gilbert masih sangat keberatan, tapi akhirnya dia menurut karena adiknya juga mengusulkan hal yang sama 'demi kebaikan sang kakak'.

Tapi, meski begitu…

...bukan berarti jarak di antara mereka bisa menghilang begitu saja.

Gerakan kasur membuat Gilbert yang nyaris menutup kedua matanya karena kelelahan itu tiba-tiba terbuka lagi. Dia melirik ke belakang dengan waspada. Memastikan Ivan tidak bergerak mendekatinya. Kalaupun dia tidak bisa melawan untuk sekarang, setidaknya dia bisa mempersiapkan hatinya dulu.

Namun suara samar kaki yang menyentuh karpet menyadarkan Gilbert bahwa laki-laki itu telah turun dari kasur. Ivan memang sempat diam sebentar, itupun tidak lama. Dia langsung berdiri dan berjalan keluar kamar. Gilbert sedikit merubah posisinya untuk melihat punggung Ivan yang pergi meninggalkannya. Bekas cakaran Gilbert masih tersisa dengan jelas di sana dan beberapa lukanya bahkan masih terlihat merah. Walau begitu dari caranya melangkah, Ivan tidak terlihat kesakitan atau memikirkannya sama sekali.

Wajah Gilbert masih memerah setelah menangis sebelumnya dan sekarang dia merasa malu melihat apa yang telah dia lakukan pada Alfa itu. Meski bukan kesalahan dia sepenuhnya karena Ivan pantas mendapatkan itu. Pria albino tersebut mencoba bergerak diiringi rintihan beberapa kali.

Setelah berhasil duduk, Gilbert menatap bagian kaki telanjangnya sedang setengah bersila. Memperhatikan juga sprei dan selimut yang sudah tidak terbentuk disertai dengan beberapa cairannya dan Ivan yang masih belum kering. Menghela napas, Gilbert menggaruk belakang kepalanya lalu hanya duduk di sana beberapa saat sebelum dia ikut turun dari kasur. Mengambil celana dalam dan kemeja yang bisa digapai lalu memakainya, Gilbert menyusul keluar kamar, mengikuti kemana kakinya akan membawanya.

Ivan sedang berdiri di depan TV, fokus menonton berita yang menayangkan kabar-kabar terkini. Dia memegang kaleng berisi vodka selama menonton, mengesampingkan bagian belakang tubuhnya terekspos jelas. Gilbert menggerutu kesal melihat itu dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin.

Suara kulkas yang terbuka membuat Ivan berhenti minum dan menoleh sedikit. Menyadari itu Gilbert, Ivan hanya tersenyum penuh arti dan duduk di sofa. Gilbert sendiri terlihat berjalan mendekati sofa namun tidak ikut duduk, hanya melihat Ivan kesal sebelum berdiri membelakangi Alfanya itu dan menonton TV dalam diam sembari meminum kaleng beer miliknya.

Acara berita mulai terasa membosankan, Ivan meraih remote dan mengganti channel TV secara acak. Melihat tak ada protes dari Gilbert, Ivan terus menekan asal hingga—

["—Jadi, tunggu apa lagi? Segera siapkan masa depanmu dengan si kecil dimulai dari sekarang!"]

Teriakan presenter di seberang TV itu menggema terlalu keras diiringi dengan slide pasangan model Alfa dan Omega yang sedang berpelukan sembari memeluk anak mereka.

Mengabaikan topik iklan tersebut, suara TV yang terlalu keras membuat baik Gilbert dan Ivan reflek menegang kaget. Gilbert menoleh dengan ekspresi jengkel yang sangat kentara, membuat Ivan tertawa kikuk dan segera menurunkan volume-nya sebelum meletakkan remote kembali ke atas meja.

"Jangan berdiri saja, ayo duduk, Gil." Ivan akhirnya bersuara setelah sekian lamanya. Gilbert masih melihatnya kesal dan bau kecurigaan menguar kuat dari dalam dirinya, "Tenang, aku tidak akan melakukan apapun. Toh, aku sudah cukup puas melakukannya sejak semalam, Da!"

Skak mat. Wajah Gilbert langsung memerah, "H-Ha? Siapa yang takut karena itu!?" teriak Gilbert. Dan sebagai bukti kata-katanya, dia langsung duduk namun di paling ujung. Memberi jarak yang sangat lebar antara dirinya dan Ivan yang hanya melihatnya dengan senyuman tenang. Pria albino itu mendengus kesal, menyilang kakinya, lalu membuang mukanya.

Melihat reaksi ini, Ivan hanya tertawa kecil hingga kedua matanya menyipit senang. Dia kembali melihat TV di depannya dan menonton dalam diam. Tidak ada suara dari Ivan lagi membuat Gilbert melirik sebelum ikut melihat layar TV.

Iklan yang sebelumnya sudah lewat itu ternyata kembali muncul setelah jeda film sebelumnya. Dan kali ini... mereka bisa melihatnya dari awal sampai akhir. Suara seorang presenter yang sedang memperkenalkan pasangan pria Alfa dan wanita Omega yang terlihat sedang sangat bahagia itu menggema.

["Benar, kami tak menyangka bisa sebahagia ini."] Wanita itu menatap suaminya dan tersenyum kecil, ["Ya memang, ini di luar rencana kami. Tapi, meski begitu kami tetap menjalankan amanah yang sudah Tuhan berikan. Dan kami sama sekali tidak menyesal atas keputusan yang kami ambil."] Jelasnya panjang lebar.

Tentu saja tidak ada yang tidak tahu apa yang dimaksud wanita itu.

["Terima kasih sudah datang ke dunia kami, jagoan kecil."]

Terutama ketika pelukannya pada balita di gendongannya terlihat menguat dan suaminya merangkul mereka.

Setelah mengatakan itu, dimulailah promosi iklan yang sesungguhnya yaitu susu bayi yang memang merk-nya sedang naik daun. Pasangan itu mempromosikan susu yang—menurut mereka—baik untuk kesehatan hingga kecerdasan anak. Iklan ini terasa lama hingga akhirnya berganti... menyisakan dua manusia di depan TV itu tenggelam di dalam pikiran mereka masing-masing.

Ah, iya. Mereka juga Alfa dan Omega.

Berarti kemungkinan itu... ada, 'kan?

Ivan jelas terpikirkan oleh hal ini. Dia yang merupakan Alfa dan memegang tanggung jawab jika keluarga kecilnya benar-benar akan terbentuk. Tapi, mengingat bagaimana dia dan Gilbert sekarang rasanya masih mustahil. Tidak ada yang perlu dipertanyakan.

Hanya saja jika dia bisa membuat Gilbert yang menginginkannya lebih dulu...

...bukankah itu lebih baik?

Gilbert tidak mengatakan apapun, tapi dari baunya yang seperti menahan atau menunggu sesuatu membuat Ivan bergerak dari posisinya. Dia duduk semakin tegak saat Gilbert merasa tubuhnya berjengit.

"Gil—"

TRRIT TRRIITT

Telepon yang tiba-tiba datang dari hp Ivan itu menginterupsi segalanya. Ivan menoleh ke arah hp-nya berada sementara itu Gilbert merasa dirinya menghela napas lega. Dia melirik Ivan yang telah berdiri dari posisi duduknya lalu menghampiri hp-nya untuk melihat siapa yang menelepon. Ivan terlihat memberi jeda sejenak meskipun dia telah melihat siapa yang menghubunginya. Dari helaan napasnya sebelum mengangkat telepon, Gilbert bisa menebak Ivan tidak terlalu ingin menerima telepon itu.

"Ha? Kau cari saja sendiri." Suara Ivan menggema setelah dia mengangkatnya. Berbincang tentang hal yang tidak terlalu Gilbert mengerti sampai kata-kata terakhir Ivan membuatnya menoleh, "Dasar bodoh."

Gilbert belum sempat bertanya siapa itu sampai Ivan tiba-tiba melempar hp ke arahnya. Tentu saja Gilbert langsung kaget dan reflek menerima hp tersebut dengan panik. Dia memegang hp Ivan dengan bingung sampai suara orang yang masih tersambung di sana terdengar, "Ivan!? Oi, aku belum selesai bicara!" teriaknya kesal.

"...Alfred?" bisik Gilbert akhirnya. Kini dia mendekatkan layar hp itu di dekat telinganya.

"Suara ini... Gilbert? Oh, kalian sedang bersama," gumam Alfred. Dari suara di sana, sepertinya dia menggeleng lalu melanjutkan, "ah, ya sudahlah. Gil, maaf boleh aku minta tolong sesuatu?"

Pertanyaan ini membuat Gilbert mengedipkan kedua matanya, "...Apa?"

"Apa kau punya materi presentasi untuk klien besok?" Gilbert mengedipkan kedua matanya beberapa kali saat Alfred melanjutkan, "Aku benar-benar lupa dan tadi flashdisk-ku ter-format, padahal aku belum mempelajarinya aaakh!"

Gilbert hanya tertawa kaku, "Kenapa tidak minta Arthur saja? Dia pasti punya, 'kan?"

"Kau tahu dia akan membunuhku jika dia tahu soal ini."

"Yah, tidak ada salahnya mencoba."

"No, Gil! He will—oh shit, he's coming. Ok, bye Gil!"

PIP—TUUT TUUT

Telepon diputus secara sepihak tanpa memberi Gilbert kesempatan untuk bicara lagi. Namun, sudah terbiasa dengan ini, Gilbert hanya menghela napas dan menurunkan hp dari depan telinganya. Dia melihat layar itu telah menggelap sebelum dia berdiri dan menghampiri Ivan yang sedang meminum vodka-nya lagi.

"Apa maksudmu melempar teleponnya padaku?" tanya Gilbert langsung. Tidak berniat menyembunyikan rasa kesalnya sama sekali. Dia meletakkan hp Ivan dengan kasar di atas meja, menimbulkan suara keras yang menggema di antara mereka.

Walau begitu, Ivan tetap tenang. Kaleng Vodka yang telah kosong itu dia masukkan ke tempat sampah sebelum berbalik dan melihat Gilbert masih menatapnya marah. Dua alisnya bertaut dalam. Jelas menunggu penjelasan yang memuaskan dari Alfanya itu.

Ivan menghela napas pelan sebelum menjawab sambil berjalan melewati Gilbert, "Its okay,right? Toh, kau sudah lama tidak berbicara dengan pria yang kau suka."

Kata-kata itu tepat sampai di telinga Gilbert saat Ivan berpapasan dengannya. Hal yang membuat Gilbert membuka kedua matanya lebih lebar. Melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ivan sendiri tidak berhenti sedikitpun setelah mengatakan itu, langsung berjalan lurus ke dalam kamar mereka. Mungkin mencari baju untuk menutupi badannya mengingat luka di punggungnya sudah mengering. Atau bisa saja dia ingin langsung mandi.

Yang jelas, Gilbert masih belum membalikkan tubuhnya. Dia berdiri di sana, dalam posisi yang membuat dirinya dan Ivan saling membelakangi. Sementara dia diam, Ivan terus berjalan memberi jarak yang jelas semakin terlihat masih ada di antara mereka.

Tidak peduli berapa banyak gigitan Ivan di leher Gilbert.

"Jerk."

Pada akhirnya, mereka tahu itu semua masih belum berarti apa-apa.

#

.

.

.

.

.

#

Setelah libur beberapa hari, Gilbert Beilschmidt akhirnya kembali ke kantornya. Kali ini dia berjalan tanpa ditemani oleh siapapun karena meskipun Ivan Braginsky memiliki ruangan juga di gedung kantornya, dia masih perlu bolak-balik ke kantornya sendiri. Dan Gilbert tidak mempermasalahkannya.

...Justru lebih baik jika dia memiliki waktu istirahat dari melihat wajah Alfa mate-nya yang menyebalkan itu.

Iya, benar sekali.

Hanya saja, rasa berat setiap dia ingat akan kembali menemui seseorang yang masih mencuri hatinya itu masih ada. Gilbert menghela napas berat sebelum dia berbelok dan akan melihat tempat duduknya, "Selamat pagi—"

"WHY YOU ALWAYS LIKE THIS!?"

Teriakan berlogat British itu membuat Gilbert tersentak kaget dan membuka kedua matanya. Mengenali siapa yang berteriak itupun tidak membuat semuanya menjadi lebih baik.

Arthur Kirkland terlihat menggertakkan giginya, kedua tangannya terkepal saat dia menatap penuh amarah pada kekasihnya dan juga salah satu rekan utamanya di kantor ini, Alfred F. Jones. Pria keturunan British dan American itu masih sering bertengkar hingga berdebat mengesampingkan status mereka yang sudah berubah entah sejak kapan.

Walau begitu, semakin ke sini mulai beredar rumor bahwa itu hanya salah satu dari cara mereka mendekatkan diri. Pasangan bodoh yang tidak tahu kapan bisa jujur terhadap satu sama lain. Gilbert mungkin tahu itu karena dia sudah cukup lama bersama dengan keduanya, waktu kebersamaan yang sudah bisa membuat Gilbert yakin dia mengenal mereka dengan sangat baik.

Tapi, bagi orang luar... mereka hanya berasumsi dari gigitan di leher Arthur yang kian hari semakin jelas menunjukkan bahwa sang Alfa serius dengannya.

Kenyataan yang membuat Gilbert terus mengunci mulutnya hingga hari ini.

Mendengar langkah yang mendekat, dua pria berambut pirang itu langsung menghilangkan ekspresi marah mereka dan menoleh. Melihat Gilbert yang datang, keduanya langsung merasa lega meski hanya sekilas. Tidak memperhatikan ini, Gilbert hanya memasang senyuman lebarnya seperti biasa, "Seriously, guys? Ini masih pagi lho." Ucapnya sembari terkekeh.

Arthur baru saja mau bicara ketika kekasihnya tiba-tiba lari ke belakang Gilbert dan memegang pundak sahabat baiknya itu, "Ya ya, katakan pada dia, Gil!" teriak Alfred di belakang Gilbert sembari menunjuk Arthur yang wajahnya sudah semerah tomat menahan marah dan malu, "Aku lelah harus mendengar ceramahnya tiap pagi. Memangnya aku anak kecil!?"

"...Kau memang seperti anak kecil sih."

Mendengar Gilbert mengatakan itu dengan bisikan yang sengaja dikeraskan membuat Alfred melihatnya dengan syok, "Wa—Gil, kau mengkhianatiku!?"

"Al! Jangan mengganggu Gilbert terus, bodoh!" teriakan Arthur menggema lagi. Membuat Gilbert dan Alfred kembali fokus dengan Omega yang juga adalah bos mereka, "Kau beruntung karena sekarang tidak ada Ivan, bagaimana kalau—"

"Sudahlah Artie, jangan cemburu begitu. Gilbert 'kan sahabatku."

Yang membuat Gilbert dan Arthur sama-sama syok adalah Alfred tiba-tiba memeluk Gilbert dari belakang semakin kuat. Alfa itu menyandarkan dagunya di atas bahu Gilbert sementara kedua tangannya masih memeluk Omega itu dengan sangat kuat. Dia tidak merasakan apapun—tentu saja—bau Gilbert kini tertutupi oleh bau Ivan sepenuhnya yang membuat Alfred tenang karena Omega di dekapannya ini sudah dimiliki oleh Alfa lain. Dan mengingat sejarah di antara mereka berempat, seharusnya tidak ada masalah.

Toh, semua ini hanya... lelucon.

Sama sekali tidak ada pertimbangan di sisi Gilbert dan Arthur yang mengetahui jauh lebih dalam dari dirinya.

Dimulai dari kedua mata Gilbert yang membulat, dia bisa merasakan tubuhnya menegang perlahan tapi pasti. Mungkin kali ini, Gilbert harus berterima kasih pada Ivan karena baunya yang menunjukkan perasaan yang sesungguhnya, disembunyikan oleh bau Ivan dengan sangat baik. Hanya saja, kehangatan Alfred masih sangat nyata. Wajah Gilbert perlahan tapi pasti memerah hingga telinganya dan dia mulai menunduk sembari menggertakkan giginya.

Kalau... Alfred menggigitnya meskipun mereka bukan mate...

...bagaimana?

Tapi, apapun jawabannya... apakah rasa sakit di dadanya ini akan tetap ada?

"ALFRED!" teriakan Arthur untuk yang ke sekian kalinya membuat Gilbert kembali bernapas dan membuka matanya pada kenyataan. Gilbert menelan ludahnya dan kembali berdiri tegak, "Kau ini semakin dibiarkan benar-benar semakin bodoh! Argh, menyebalkan!" teriak Arthur lalu mulai mendekat dengan emosi.

Gilbert tahu ekspresi Arthur itu. Bukan ekspresi saat dia cemburu atau bagaimana, tapi tatapannya lebih menunjukkan rasa kasihan.

Tentu saja Gilbert tahu apa maksudnya sehingga dia langsung membuang mukanya.

Arthur langsung meraih telinga Alfred dan menjewernya kuat. Alfred langsung melepas pelukannya dari Gilbert dan mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, "Aduh aduh sakit! Artie, hentikan—"

"BODOH! INI BARU PERMULAAN!" teriak Arthur dengan emosi yang sepertinya sudah meledak-ledak. Dia menarik Alfred menjauh lalu menoleh ke arah Gilbert yang masih diam, "Gil, maaf—"

"Hahahaha, beri dia pelajaran yang sempurna, Artie!" potong Gilbert sebelum Arthur sempat melanjutkan kata-katanya. Melihat ini, alis tebal pria British itu kembali mengerut sebelum akhirnya dia sedikit menunduk lalu kembali melihat ke depan. Dia masih menarik telinga Alfred yang terus menyuarakan protesnya, "Bye Alfred, sampai bertemu lagi nanti." Ucapnya santai.

"GIIILL!" teriak Alfred dengan suara penuh pilu. Merespon ini, Gilbert hanya tertawa dan melambaikan tangannya dengan santai. Dia masih menunjukkan deretan gigi putihnya sampai pasangan itu menghilang di belokan gang.

Setelah keberadaan mereka sepenuhnya tak terlihat lagi, Gilbert menghilangkan senyumannya dan menurunkan tangannya. Dia sedikit menunduk lalu memegang dadanya... hingga akhirnya bagian lehernya yang masih terasa sangat panas seolah wajah Alfred masih di dekatnya.

Walau begitu, lekukan yang bisa Gilbert rasakan di lehernya mengusir segala pikiran yang diinginkannya. Pria albino itu membuka mulutnya, menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. Dia memejamkan kedua matanya dan kembali duduk di tempatnya sendiri. Menunggu waktu berjalan kembali dan membuat hari ini terlewati dalam keheningan sebagaimana biasanya.

...Dan dia berhasil.

Setelah Alfred kembali dari ceramah rutinnya, dia langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja lalu menceritakan pada Gilbert seluruh keluh kesahnya. Gilbert hanya merespon dengan tawa seadanya sembari mengerjakan pekerjaannya sendiri. Begitu pula dengan Alfred yang tak perlu waktu lama telah kembali ke mode profesionalnya sebagai seorang eksekutifmanajer.

Jam kerja telah selesai, ternyata hari ini Ivan tidak datang ke kantor sehingga Gilbert pulang sendiri. Di depan apartemennya, Gilbert masuk tanpa mengucapkan permisi. Tahu Ivan belum pulang dari keadaan sepi di dalam dan bau Alfa yang tinggal bersamanya hanya tercium samar-samar. Tanpa melihat kanan maupun kiri, Gilbert langsung melepaskan sepatunya, meletakkan tas kerjanya, lalu melepas pakaian di tubuhnya satu persatu selama perjalanan menuju kamar.

Gilbert langsung membanting dirinya di atas kasur dengan posisi telungkup. Mengambil udara sebanyak-banyaknya meskipun akhirnya dia hanya menghirup baunya dan Ivan yang menyatu. Gilbert mengernyitkan kedua alisnya, tangannya mulai bergerak meremas sprei tak bersalah di bawahnya.

Rasanya... seratus kali lebih melelahkan dibanding sebelumnya.

Apakah dia sudah sampai pada batasnya?

Mungkin juga karena pengaruh mereka berdua yang telah memiliki mate masing-masing. Bagi Alfred memang tidak berarti apa-apa, tapi hari-hari yang dijalani Gilbert rasanya semakin menyiksa. Dia sudah tidak bisa lagi berbicara lebih banyak seperti biasanya atau bahkan tertawa sekeras-kerasnya. Seakan Gilbert mulai melupakan bagaimana melakukan semua itu perlahan tapi pasti.

Aah, menyebalkan. Tidak awesome sama sekali—

KLAP

Suara pintu depan yang terbuka membuat Gilbert tersadar dan membuka kedua matanya. Ivan sudah pulang, dia harus menyembunyikan baunya secepatnya. Gilbert langsung mendudukkan dirinya di tengah kasur, mengambil hp dan berpura-pura sibuk dengan apapun konten yang ada di sana. Langkah Ivan semakin mendekat, Gilbert mengernyitkan kedua alisnya untuk berusaha fokus dengan hal yang tidak bisa membuatnya tertarik sama sekali.

Pria berambut cokelat beige itu akhirnya terlihat berdiri di depan kamar. Dia melihat Gilbert yang enggan menoleh ke arahnya dan sibuk dengan hp-nya sendiri. Ivan hanya mengedipkan kedua matanya sebelum masuk dan menarik syal dari lehernya, "Ada apa? Baumu lebih jelek dari biasanya."

Ugh.

Langsung memasang ekspresi kesal, Gilbert membanting hp malang itu ke atas kasur, "Urus saja urusanmu sendiri!" ucap Gilbert tanpa menurunkan volume suaranya. Namun entah kenapa Ivan justru tertawa kecil sehingga membuat wajah Gilbert semakin memerah dan reflek melempar bantal di dekatnya, "JANGAN TERTAWA, SIALAN!"

"Haha, tidak... hanya saja kau ini benar-benar lucu." Balas Ivan sembari menangkap bantal yang Gilbert lempar ke arahnya. Masih dengan mata menyipit, dia menoleh ke arah Gilbert, "Baru sedetik tadi kau mati-matian menyembunyikan baumu dariku, tapi sekarang kau mengeluarkan semuanya. Kau ini seperti balon yang meledak karena kepenuhan udara, da!"

Rasanya Gilbert semakin menekuk wajahnya, "Mati sana."

"Nanti kau semakin merana saat tidak ada yang menemanimu heat lho."

"Dan heat-ku datang karena terpancing baumu. Kalau kau tidak ada seharusnya heat-ku tidak akan datang lagi."

Penjelasan Gilbert ini membuat Ivan mendengus lalu menahan tawanya di balik tangannya. Tentu saja ini membuat wajah Gilbert semakin panas. Dia menggertakkan giginya, menahan diri untuk tidak berteriak dan membuat Ivan semakin senang. Dia membuang mukanya ketika Ivan berjalan mendekatinya lalu duduk di tepi kasur.

"Tapi, bagaimana? Sudah merasa lebih baik, 'kan?"

Pertanyaan itu membuat Gilbert kehilangan ekspresi kesalnya dan kembali melihat Ivan dengan bingung. Mendapatkan perhatian ini, Ivan hanya menaikkan kedua alisnya dan tersenyum menunggu jawaban dari Gilbert. Beberapa detik berlalu tanpa suara hingga Gilbert membuka mulutnya dengan sedikit tergagap.

"A-Apa pedulimu..." Gilbert mendengus dengan kedua pipi yang mengeluarkan semburat merah tipis dan kembali melihat ke arah lain, "...kau hanya senang melihat aku bertahan dengan perasaan sepihak yang bodoh ini, 'kan?"

Tanpa Gilbert sadari, senyuman di wajah Ivan menghilang.

"Pasti menyenangkan jadi orang yang tidak perlu mengharapkan sesuatu."

Kata-kata ini membuat Ivan membuka sedikit mulutnya sebelum menutupnya lagi. Dia berjalan meletakkan syalnya di gantungan lemari lalu menarik dasi dan membuka kancing kerahnya. Dia berjalan mendekati Gilbert yang masih terus bicara, "Kau senang melihatku menderita seperti yang kau bilang. Bagaimana jika kau tertawa seka—"

Kata-kata Gilbert terhenti begitu Ivan memegang bahunya dengan kuat. Melihat tangan Ivan itu sebelum Gilbert mulai mendongak perlahan. Ivan masih menatapnya dengan senyuman lebar, membuat Gilbert mengernyitkan kedua alisnya dan keringat dingin mengalir di sisi wajahnya saat menatap Ivan.

"Ya, mungkin kau benar. Aku memang beruntung, da," Gilbert semakin bingung. Kedua tangannya mulai menahan diri di atas kasur ketika Ivan terus menekan bahunya, "aku pernah mengharapkan sesuatu. Sangat mengharapkannya dan aku tidak melakukan apapun seperti orang bodoh. Tapi, apa kau tahu?"

Dalam sekali dorongan, kekuatan Gilbert kalah dan Ivan memaksanya berbaring di atas kasur. Gilbert memejamkan sebelah matanya erat sebelum melihat Ivan yang telah mengurungnya. Iris dark red dan violet itu saling menerobos masuk, mencari arti tatapan satu sama lain.

"Berkat kesabaranku, aku bisa memilikinya sekarang."

Aura Alfa yang Ivan keluarkan membuat Gilbert membuka mulutnya. Terlebih ketika tangan Ivan mulai bergerak menuju kerahnya dan melepaskan kancingnya. Menyadari apa yang akan dia lakukan, Gilbert langsung memegang tangan pria di atasnya itu, "Mau apa kau?" tanyanya dengan nada dalam yang tajam. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Ivan seakan ingin menghancurkanya, "Jangan macam-macam atau aku akan—"

"Akan apa?" Ivan menurunkan tubuhnya dengan cepat hingga ujung hidungnya dan Gilbert bertemu. Melihat kerutan alis Gilbert mulai rusak, Ivan menyeringai semakin lebar, "Aku ingin lihat sejauh mana kau bisa melawanku, Gil."

Setelah Ivan mengucapkan itu, dia mengendus leher Gilbert dan semakin turun ke bawah. Gilbert mulai tersentak dan segera berontak... hanya untuk membuat Ivan menahan kedua tangannya di atas kepalanya.

"Alfred, Alfred, Alfred... hanya itu yang ada di pikiranmu seperti kaset rusak." Kata-kata ini membuat Gilbert membuka sedikit sebelah matanya yang sudah terpejam. Dia semakin panik, entah bagaimana caranya dia harus segera lari sebelum heat-nya terpancing, "Mau sampai kapan kau berdelusi lagi? Kau benar-benar berharap mate bisa dibuat paksa sesuai keinginanmu? Lucu sekali." Ucapnya dengan nada yang semakin dalam membuat Gilbert sadar betapa seriusnya lelaki itu sekarang.

"Ivan—hah!" Gilbert reflek berteriak ketika Ivan turun dan menjilat nipple miliknya yang belum menegang. Semakin panik, dia mulai menjambak dan memukul kepala Ivan dengan satu tangannya yang berhasil lolos, "Kau… berhenti sekarang, sialan! Kita sudah sepakat untuk tidak melakukannya di hari kerja!" teriak Gilbert mengesampingkan telinganya yang juga mulai ikut memerah.

"Hm, kalau begitu bagaimana jika kau berjuang menghentikanku lebih keras?" tanya Ivan sembari melirik ke atas. Gilbert telah melihatnya kesal sembari mengatur napasnya hingga dadanya naik turun dengan sangat kentara. Tak butuh waktu lama hingga Ivan sedikit mendongakkan kepalanya, "Kau pasti bisa, 'kan? Karena bagaimanapun juga—"

Entah kenapa Gilbert bisa melihat senyuman Ivan yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

"—aku bukan Alfred."

Kata-kata ini membuat ujung mata Gilbert berkedut. Namun sebelum dia mengeluarkan amarahnya, Ivan sudah kembali membuka mulutnya dan memasukkan seluruh nipple milik Gilbert di sana. Menghisapnya kuat, membuatnya jauh lebih merah dari sebelumnya. Tangan Ivan meraih nipple Gilbert yang lain dan mencubitnya kuat setara dengan hisapannya.

"AH! IVAN—" sakit. Tapi masih ada rasa lain yang membuat Gilbert tidak bisa fokus dengan rasa sakit itu. Kedua kakinya di sisi kanan-kiri Ivan mulai bergerak-gerak tak nyaman, membuat sprei di atas kasur semakin kusut, "—hentikan…Hahn! Sakit… brengsek!" bentaknya, masih berusaha memaki dengan kesal.

Mungkin memang benar, seandainya Gilbert mau melawan lebih keras seharusnya dia bisa mendorong Ivan jika dia mau. Tapi, kenyataan bahwa dia adalah Omega yang sedang bersama mate-nya membuat kekuatannya menurun drastis dan baik Ivan maupun Gilbert sendiri tahu sekali akan hal itu. Walau begitu, Gilbert masih mencoba melawan dan Ivan… dia akan melupakan seluruh hal itu.

Sadar atau tidak, amarah telah membutakan segalanya.

Terus fokus dengan usahanya, Ivan menghisap nipple Gilbert dan sesekali menjilatnya. Seperti anak bayi yang sedang mencari susu dari ibunya. Ivan terus menekan kekuatannya sehingga Gilbert semakin kehilangan kekuatannya. Kedua tangan Gilbert telah bebas namun dia hanya bisa meremas rambut Ivan dan memegang tangan Ivan yang masih memainkan nipple-nya yang telah menegang. Seiring dengan napasnya yang memberat, tenaga Gilbert akhirnya menghilang perlahan tapi pasti.

Lalu yang paling buruk dari semuanya adalah… Gilbert bisa merasakan celananya menyempit. Mengernyitkan kedua alisnya, Gilbert memiringkan kepalanya dan menutup mulutnya, menggigit jarinya sendiri sementara tangannya yang lain masih menjambak rambut Ivan meskipun lemah.

Merasa sudah tidak ada perlawanan, Ivan membuka mulutnya lalu menjilat sekali nipple yang telah menegang dan memerah itu sebelum bangkit dan melihat tubuh Gilbert yang bergetar di bawahnya. Untuk yang ke sekian kalinya, Gilbert menutup wajahnya, memperlihatkan giginya yang digertakkan menahan amarah.

Ivan masih diam melihat itu sembari mengatur napasnya. Sampai dia mencoba menjulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Gilbert dan pria itu dengan cepat mundur menjauhinya.

Ah… masih sama.

Laki-laki itu masih membencinya.

Tangan Ivan masih diam di udara sebelum akhirnya terkepal lalu meraih tangan Gilbert dan menariknya paksa. Gilbert yang tidak menyangka itu reflek membuka mulutnya, "Wha—"

Ivan memegang kedua tangan Gilbert di sisi-sisi kepalanya lalu maju dan mencium bibir Gilbert yang terbuka. Lidah Ivan menerobos masuk dan mengamuk di dalam mulutnya membuat Gilbert yang tidak menyangka serangan ini langsung mendesah tertahan. Kerasnya ciuman Ivan membuat Gilbert reflek memejamkan kedua matanya erat dan mencoba membalasnya meski tidak seberapa.

Berulang kali mereka berciuman dengan kasar dan ceroboh hingga mereka tidak tahu lagi siapa yang menelan saliva siapa. Ivan sengaja menyentuh langit-langit mulut Gilbert, membuat pria itu terus bergerak hingga tak sengaja mengenai titik sensitifnya sendiri. Setiap Gilbert ingin membuka mulutnya, Ivan dengan cepat menekannya hingga dia tersedak.

"Ha—Iva…n—hmph," suara Gilbert yang parau menggema di dalam kamar mereka. Bau mereka yang menguar dan bercampur di udara membuat feromon mereka terpicu untuk melakukan lebih. Ivan mulai melepaskan pegangannya, menuntun Gilbert untuk memeluk lehernya hingga menjambak rambutnya. Apapun tidak masalah selama Omega itu berpegangan padanya.

"Gil…"

Karena hanya dia yang ada di sini.

"…lihat aku."

Dan ingatan bodoh di antara mereka kembali datang. Saat Ivan masih senang memakai kacamata baca miliknya dan menutupi mukanya dengan syal, dia melihat Gilbert dari jauh yang sedang bermain bersama teman-temannya. Sampai Alfred datang dan semua perhatian terfokus padanya.

Memang, berbeda seratus delapan puluh derajat dari Ivan Braginsky waktu itu, Alfred F. jones adalah pusat. Seakan dia adalah matahari yang dikelilingi seluruh tata surya. Mana mungkin… Ivan yang juga hanya seorang nerd di pojok ruangan memiliki kesempatan untuk mengalahkan Alfa seperti itu. Bahkan meskipun dari status sosial hingga kekayaan Alfred masih di bawahnya, tetap saja Ivan tahu dia telah kalah.

Karena kedua iris merah yang sangat dia sukai itu hanya tertuju pada sang matahari.

Setiap mengingat ini, Ivan bisa merasakan tubuhnya semakin lelah. Dia lelah mengejar. Dia lelah berharap. Dia lelah ditinggalkan. Ivan tidak peduli lagi jika Gilbert akan mendorongnya atau bahkan menghajarnya nanti, dia hanya ingin memejamkan kedua matanya dan tidur di atas bahu Gilbert sembari menghirup bau yang dia sukai satu-satunya di dunia ini.

"…Aku ada di sini… Gil." Bisiknya pelan sebelum jatuh tertidur meninggalkan Gilbert yang kebingungan dengan posisinya sekarang.

Setelah memastikan Ivan tidak akan melakukan apapun lagi, Gilbert akhirnya bisa bernapas lega. Heat-nya masih belum terpancing sehingga dia masih bisa menenangkan dirinya. Walau sedikit terganggu, Gilbert yakin dia bisa membawanya tidur sebentar lagi. Setelah napasnya sudah cukup terkendali, Gilbert melirik Ivan yang tertidur pulas sembari memeluk tubuhnya dengan kuat.

Menggertakkan giginya, Gilbert kembali menutup matanya dengan lengannya, "Apa-apaan…" bisiknya pelan.

Dia tidak mau menerima ini.

Dia membenci Ivan dan seharusnya akan terus seperti itu.

Ya… dia hanya menyukai Alfred. Kalaupun tidak berhasil, dia akan menyimpan perasaan ini sendiri. Tidak ada yang mengerti dengan dirinya dan Gilbert juga tidak berniat untuk membuka dirinya pada siapapun. Sangat keras kepala, Gilbert menutup mata dari semua orang yang mengaku terang-terangan bahwa mereka peduli padanya.

Hidup Gilbert Beilschmidt telah selesai sampai di sini.

Walau begitu, seandainya semua titik yang dia dapatkan belakangan ini cocok dan saling menyambung pada satu sama lain. Maka siapa Ivan, apa yang selalu Ivan kenakan, bagaimana sikap Ivan padanya, dan masa lalu Ivan… mungkin akan membuat Gilbert menemukan jawaban dari salah satu pertanyaan tak terucapkan yang selalu berada di dalam kepalanya.

Laki-laki yang dulu selalu mengikutinya dari jauh. Dia selalu di sana, duduk dengan bukunya, menatap Gilbert sesekali seolah berharap dirinya atau bahkan Gilbert mengajak salah satu dari mereka bicara. Sayangnya setiap Gilbert terpikir untuk melakukan itu, dia sudah lebih dulu menutup bukunya lalu pergi. Dia hanya menghilang saat Alfred datang. Hingga akhirnya dia benar-benar hilang saat kelulusan SMA.

Gilbert telah melupakan sosok itu sepenuhnya—

"Ivan…"

—sampai semua ingatan itu kembali saat Ivan Braginsky datang menjadi Alfanya.

"…apakah kau—"

#

.

.

.

#

Apapun yang terjadi saat itu, Gilbert tidak akan menganggapnya ada.

Setelah malam itu berakhir, Ivan masih berperilaku seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Gilbert sendiri juga masih meresponnya dengan perilaku yang sama... namun entah Ivan tahu atau tidak jika bagian dalam Gilbert mulai berubah perlahan tapi pasti.

Saat Ivan tidak melihat, Gilbert akan melirik kembali ke arah pria itu. Menatapnya dalam diam seolah menilainya. Tanpa mengatakan apapun, Gilbert mencoba mengingat sosok yang sempat dia lupakan dan mencoba mencocokkannya dengan Ivan. Membuatnya jadi lebih memikirkan dan mengamati Ivan jauh lebih sering dari biasanya.

Ah, tapi... sebagai mate yang sah, bukankah ini hal yang wajar?

Menyadari sesuatu, wajah Gilbert memerah. Sebelum dia menggeleng cepat dan mengepalkan tangannya dengan kuat.

Tidak, tidak, tidak—

"Kenapa, Gil? Kau baik-baik saja?"

"WA—!? IYA AKU BAIK-BAIK SAJA, AKU BAHKAN TIDAK MEMIKIRKAN ALFA SIALAN ITU, MEMANG KENAPA, HAH!?" teriakan pria berambut putih itu yang penuh emosi membuat pria berambut pirang dan memakai kacamatanya itu ikut kaget. Dia sedang memegang tumpukan buku di tangannya ketika Gilbert akhirnya selesai berteriak. Mereka saling bertatapan dan mengedipkan kedua mata masing-masing dalam gerakan lambat.

"Err, Gil?" panggil Alfred untuk yang ke sekian kalinya. Dia tertawa bingung dan memiringkan kepalanya, "Maaf mengganggu fantasi liarmu, tapi Artie bilang kau mengabaikan pesannya sedari tadi dan kau tidak merespon panggilanku. Jadi—"

"Oh? Ah! Sorry!" balas Gilbert cepat sembari menyalakan layar laptopnya. Menyadari sudah ada beberapa chat masuk dari profil skype yang memang biasa digunakan untuk komunikasi para karyawan di kantor ini. Gilbert menggaruk rambutnya sembari mengetikkan kata-kata balasan untuk bosnya tersebut, "Scheisse! Benar-benar menyebalkan." Gerutunya kesal sebelum menghela napas kasar dan mengambil gelas berisi air putih di dekatnya.

Alfred masih diam memperhatikan sahabatnya yang terlihat kalut sendiri itu. Dia menaikkan sebelah alisnya sebelum mendengus menahan tawa. Alfred meletakkan dokumen-dokumen yang dia kumpulkan di atas meja, sembari merapikannya dia bertanya, "Kau sedang ada masalah dengan Ivan?" tanyanya tiba-tiba.

Tentu saja Gilbert nyaris meruntuhkan pertahanannya dan mengelak sekuat mungkin, tapi mencoba tenang, Gilbert tahu dia tidak bisa terus menunjukkan sisi kekanakannya, "Tidak. Dia adalah masalahku setiap hari." Jawabnya ketus. Jawaban yang membuat Alfred reflek mengeluarkan tawa kencangnya.

"Ha... Hahaha! Leluconmu memang yang terbaik, Gil!" Alfred masih tertawa hingga nyaris menjatuhkan kepalanya di atas meja. Melihat ini, Gilbert hanya mendengus kesal dan membuang mukanya, "Tapi, kalian sudah cukup lama menjadi mate dan tinggal bersama, 'kan? Percaya padaku, Gil. Hanya tinggal menunggu waktu~" goda Alfred sembari menyikut Gilbert yang langsung menampik tangannya.

Gilbert memutar kedua bola matanya dan kembali menghadap laptopnya, "Sampai anjing mengeong pun, perasaanku tidak akan berubah." Ucapnya tegas, menunjukkan kekeraskepalaan yang luar biasa. Alfred sendiri hanya memutar kedua bola matanya dan masih tertawa. Tak lama setelah itu, Gilbert mengedipkan kedua matanya ketika melihat ada satu pemberitahuan yang datang, "Oh, Arthur memanggil kita berdua."

"Really? Geez, that old man." Mengabaikan keluhan Alfred, Gilbert lebih dulu berdiri dari kursinya. Dia mendorong kursinya ke dalam meja ketika Alfred ikut berdiri menyusulnya, "Apa lagi yang akan dibicarakan ya? Bukankah meeting soal pasar transportasi baru sudah dibicarakan kemarin?"

"Mana kutahu." Jawab Gilbert cepat dengan nada malas yang sangat kentara. Dia melirik Alfred yang berjalan di sampingnya, "Atau mungkin dia ingin mengumumkan nama seseorang untuk dipecat." Gilbert menyeringai melihat Alfred meliriknya dengan kesal.

"Itu sangat tidak lucu, seriously."

"Oh come on, just laugh, man!" protes Gilbert sembari tertawa dan memukul lengan Alfred beberapa kali. Membuat Alfred mencoba menghindarinya dan membalas dengan pukulan main-main yang kurang lebih sama.

Kedua pria dewasa itu terlihat saling membalas ejekan dan bercanda di sepanjang lorong menuju lift. Ruangan Arthur yang akan mereka kunjungi ada di lantai dua belas—mereka sekarang di lantai tujuh. Alfred dan Gilbert terus seperti ini hingga memasuki lift dimana kali ini hanya ada mereka berdua di sana.

Ya. Mereka memang tidak pernah berubah. Dua laki-laki yang telah berteman sejak SMA itu memiliki banyak kemiripan sehingga membuat keduanya nyaman dengan satu sama lain mengesampingkan perbedaan status mereka.

Hal yang bahkan tidak bisa diubah dengan mudah begitu saja oleh penentu takdir sepihak bernama 'mate'.

"Kira-kira apa ya?" mendengar pertanyaan Alfred itu, Gilbert menoleh dan menatapnya bingung, "Yang akan dibicarakan oleh Arthur." Tambah Alfred untuk memperjelas.

Gilbert membuka mulutnya saat mendengar ini, dia kemudian menatap depannya, "Pasti masalah pekerjaan, 'kan? Memangnya apa lagi?"

Pertanyaan balik ini membuat Alfred melirik Gilbert sebelum mendengus menahan tawa, "Iya juga." Alfred sempat diam sejenak, sampai senyuman hilang dari wajahnya. Lalu dia menoleh, "Gilbert—"

NGUUNG GRAK

Tersentak kaget, baik Alfred dan Gilbert langsung terhuyung di dalam kotak besi yang tiba-tiba bergetar hebat dan berhenti. Hanya saja keadaan yang tiba-tiba ini membuat keduanya panik hingga Alfred meraih tangan Gilbert dan menariknya kuat. Membuat Gilbert mendarat di atas dadanya sehingga tidak terjadi benturan keras yang fatal.

Tentu saja di tengah guncangan yang masih tersisa, Alfred memegang kepala Gilbert dan memeluknya kuat seakan dia ingin melindungi Omega itu dengan tubuhnya. Dalam keadaan panik, tidak ada satupun dari mereka yang memikirkan apa yang terjadi sekarang.

Sampai akhirnya guncangan itu mereda perlahan tapi pasti. Begitu keadaan sudah tenang, Alfred yang lebih dulu mendongakkan kepalanya dan melihat lampu lift yang telah berkedip. Meski begitu, posisinya yang memeluk Gilbert masih belum berubah, "Apa-apaan sih, kenapa lift ini selalu berulah!?" protesnya kesal entah pada siapa. Menandakan bahwa ini bukan kali pertama kotak besi tersebut mengalami error.

Sesungguhnya, Gilbert setuju dan ingin merespon dengan cepat kata-kata sahabatnya itu… namun begitu menyadari posisinya sekarang—

—mulutnya terkunci total.

Kedua pipi Gilbert dengan cepat memerah hingga ke telinganya. Hanya saja itu cepat menghilang dan dengan sigap, dia langsung menarik dirinya untuk duduk tegak di depan Alfred yang ikut kaget. Pria berambut pirang dengan antena di poninya itu mengedipkan kedua matanya dan tertawa kaku, apalagi ketika dia melihat Gilbert membuang wajahnya, "Ah… iya, maaf. Tadi aku reflek." Jawabnya jujur.

Hanya saja perkataan Alfred itu tidak didengarnya. Gilbert terlalu terpaku dengan apa yang dia rasakan. Sesuatu yang membuatnya bingung dan terpaku di posisinya hingga tidak bisa mendengar panggilan Alfred padanya. Dia baru saja berdekatan dengan lelaki yang disukainya, 'kan? Lalu kenapa—

—dia tidak merasakan apapun?

"Gil? Kau baik-baik saja?" tanya Alfred melihat Gilbert yang sedari tadi masih diam saja. Dia mengedipkan kedua matanya bingung melihat Gilbert namun akhirnya memilih untuk berdiri lebih dulu. Alfred menekan tombol emergency yang biasanya ada di dalam lift. Menurut pemberitahuan di sana, mereka hanya perlu menunggu lima menit sebelum lift kembali berjalan normal.

Alfred mendengus melihat pemberitahuan itu lalu kembali melihat Gilbert yang masih duduk di posisinya, "...Apa kau memang se-syok itu, Gil? Seingatku ini bukan pertama kalinya kita terjebak di dalam lift, 'kan?" tanyanya apa adanya. Karena lift ini sendiri memang sudah sangat tua sehingga sering terjadi kemacetan, hanya saja sekarang memang pertama kalinya guncangannya sekuat ini.

Gilbert tersadar dari lamunannya. Dia memejamkan kedua matanya lalu berdiri sembari menepuk-nepuk celananya, "Ya, hanya... kaget saja," tidak salah juga sih, karena dia memang kaget... meski karena hal lain.

Menoleh begitu Gilbert berdiri di sampingnya, Alfred hanya tersenyum penuh arti dan menundukkan kepalanya, "...Oh, begitu." Gumamnya pelan. Lalu entah kenapa suasana di antara mereka berubah awkward. Alfred melihat kemanapun yang berlawanan dari posisi Gilbert begitu pula Omega di sampingnya.

Rasanya... lima menit jadi sangat lama. Seakan mereka sedang terkunci dengan orang asing sekarang.

Padahal biasanya mereka begitu dekat hingga keberadaan mate masing-masing tidak bisa menghalangi mereka.

Mate? Mengingat wajah pasangannya yang sedang menunggu mereka, Alfred mendengus mengeluarkan tawa. Tak butuh waktu lama hingga dia benar-benar tertawa kecil, membuat Gilbert menoleh pelan dengan ekspresi bingung di wajahnya, "Jika Arthur melihat kita, dia pasti akan marah sekali dengan warna merah memenuhi wajahnya." Setelah mengucapkan itu, dia teringat dengan mate Gilbert di sampingnya, "Lalu Ivan tetap tersenyum, namun kau bisa merasakan aura dingin keluar darinya yang bisa membuatmu membeku di tempat hahaha."

Masih diam, Gilbert hanya menatap depannya dan ikut tertawa kaku. Ya, dia yakin Ivan seratus persen akan melakukan itu. Setelah tawa mereka lama-lama berhenti, Alfred akhirnya menghela napas panjang.

"Mereka benar-benar merepotkan ya. Padahal seharusnya mereka mengerti kita berdua sudah bersama jauh lebih lama daripada mereka." Memejamkan kedua matanya, Alfred mendongakkan kepalanya, "Aah, permainan takdir benar-benar menyebalkan."

Kata-kata ini terdengar rancu dan aneh bahkan untuk seorang Alfred sekalipun. Menaikkan sebelah alisnya, pria albino itu menoleh bingung, "Alfred—"

"Haah, Gil... " menoleh cepat, Alfred menunjukkan deretan gigi putihnya, "...seandainya kita adalah mate... bagaimana ya?"

Ah.

Pertanyaan macam apa... itu.

Gilbert membuka mulutnya namun ekspresi kedua matanya tidak terlihat. Sementara itu, Alfred menggaruk belakang kepalanya dan tertawa kecil, "Sepertinya semua akan berjalan lebih mudah haha." Jeda sejenak, Alfred menunggu reaksi Gilbert namun masih tidak ada reaksi juga. Akhirnya Alfred tertawa kaku, "Hei, Gil. Jangan terlalu dibawa serius—"

"Kau benar-benar bodoh ya, Al."

Ucapan Gilbert yang tiba-tiba membuat Alfred terdiam bingung. Namun sebelum sempat bertanya, lift mereka telah kembali bergerak menuju lantai yang mereka inginkan. Di saat itu, Gilbert kembali bersuara meski dia masih menundukkan kepalanya sehingga meskipun Alfred menoleh, dia tidak bisa melihat apapun.

"Oh, lift-nya sudah bergerak lagi." Ucap Alfred, lebih seperti basa-basi. Dia tertawa kaku untuk yang ke sekian kalinya dan menoleh pada Gilbert, "Syukurlah, ya 'kan?" tanyanya pada Gilbert dengan tawa yang dia usahakan untuk mencairkan suasana di antara mereka.

Lalu di sisi ini, Alfred bisa melihat Gilbert tersenyum tipis.

"Ya benar, aku bersyukur mendapat kesempatan seperti ini." Memiringkan kepalanya, Gilbert mendengus pelan, "Apa kukatakan saja sekarang ya?"

"Gilbert—"

"Al," menoleh langsung membuat Alfred kaget, Gilbert memasang ekspresi seriusnya, "aku menyukaimu."

Dan iris merah darah itu menusuk biru langit di depannya.

"...Eh?"

TING

Di lain tempat, Ivan dan Arthur yang sedang berjalan di lorong, saling berbincang pelan untuk proyek baru mereka, "—Ngomong-ngomong, kenapa Alfred dan Gilbert lama sekali?" tanya Arthur sembari tetap berjalan dan melihat ke depan.

Mendengar dua nama yang tidak dia sukai bersama itu membuat Ivan kehilangan senyumannya dan ikut menatap depan, "Entahlah. Mungkin terjebak di dalam lift." Tebak Ivan asal. Nadanya menunjukkan bahwa dia menjawabnya dengan malas.

Arthur sempat terdiam dengan mulut terbuka sebelum dia mendengus pelan, "Kau bisa bercanda juga." Ucapnya dengan nada sarkastik. Ivan masih belum ikut tertawa dengan ini sementara Arthur di sampingnya sudah menyeringai, "Tapi jika kata-katamu benar, berarti Alfred memang tipe pria yang mudah mendapat sial." Gumamnya.

Kali ini Ivan tersenyum, "Benar juga. Kudengar kalian menjadi mate saat terkunci di dalam gudang?" tanyanya sembari melirik Arthur yang lebih pendek darinya.

Arthur mendengus kesal namun telinganya memerah, "...Benar, bodoh sekali, 'kan?" dia melipat kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk pertahanan sementara Ivan menyatukan kedua tangannya di belakang punggung sembari tetap memperhatikan Arthur, "Sebagai dua orang yang sama-sama menganggap keberadaan soulmate itu bullshit, kami benar-benar dipaksa menelan ludah kami sendiri secara bersamaan. Menyebalkan." Gerutunya.

Ivan hanya tertawa kecil mendengar ini. Dia kembali menghadap depan ketika Arthur sedikit menunduk dan bergumam pelan, "...Padahal kalau kami bukan mate, mungkin... dia dan Gil..."

"Ng?"

Mendengar suara Ivan yang teralihkan lagi padanya, dengan cepat Arthur mengibaskan tangannya, "Haha tidak—" mereka berdua telah sampai di ujung koridor dan berbelok bersamaan, "—bukan apa... apa..."

Suara Arthur tiba-tiba menjadi semakin pelan. Kedua iris hijau emerald-nya membulat sempurna saat melihat sesuatu yang lurus di hadapan mereka dimana seharusnya hanya ada lift di ujung lorong. Sampai akhirnya Ivan ikut menoleh ke arah yang Arthur lihat tersebut.

Dan kedua iris violet-nya ikut membulat sempurna.

Di dalam lift yang pintunya baru saja terbuka itu, dua orang yang mereka tunggu sejak tadi ternyata berada di sana. Hanya saja, tanpa menyadari keberadaan mereka berdua, Alfred F. Jones dan Gilbert Beilschmidt terlihat menyatukan bibir mereka. Dengan posisi Gilbert yang terlihat mencondongkan tubuhnya dan memiringkan kepalanya sementara Alfred masih membuka kedua matanya yang terlihat syok.

Melihat ini, rahang Ivan mengeras. Dia bisa merasakan darahnya berdesir hebat karena amarah. Walau begitu, ada sesuatu yang membuatnya tetap di tempat dengan kedua tangan terkepal. Sementara itu, tanpa disadarinya, Arthur mulai menundukkan kepalanya.

Gilbert akhirnya melepaskan ciumannya. Dia memundurkan tubuhnya dan karena kepalanya menunduk, Alfred tidak bisa melihat ekspresi kedua mata Omega berambut perak itu, "G-Gil?"

Suara Alfred membuat Gilbert membuka mulutnya seperti tersadar akan sesuatu. Dia kembali menutup mulutnya sebelum tersenyum tipis. Gilbert mendongakkan kepalanya dan menunjukkan kedua matanya yang terlihat menyipit senang.

Tapi, Alfred tahu... setidaknya sekarang dia tahu...

...bahwa senyum sahabatnya itu palsu.

Sahabatnya? Apa dia masih bisa menyebut Gilbert seperti itu?

Memegang bahu Alfred, Gilbert berkata pelan, "...Maaf," dan sebelum Alfred sempat menyela, dia telah mendorong Alfa itu keluar dari lift. Gilbert segera menekan tombol 'close' sembari berkata, "katakan pada Ivan dan Arthur aku pulang lebih awal. Aku sedang tidak enak badan."

"Apa? Tunggu, Gil—"

Pintu lift terlanjur tertutup. Terlalu bingung dan kaget dengan situasi sekarang membuat gerak reflek Alfred jauh lebih lambat dari biasanya. Memegang pintu besi di depannya, Alfred mulai bisa mengumpulkan semua keping puzzle satu persatu di dalam kepalanya. Kedua tangan Alfred di atas lift perlahan tapi pasti terkepal dan dia menggertakkan giginya erat.

BANG

"FUCK!"

Ivan masih memasang ekspresi datar melihat Alfred yang masih belum menyadari keberadaan mereka. Meski begitu, entah kenapa Alfa berambut pirang itu terlihat sangat kesal hingga memukul pintu besi di depannya. Ivan tidak memperhatikan Arthur lagi sampai pria British itu berdiri tegak dan kembali berjalan ke arah ruangan mereka berada tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Pria Russian itu hanya diam melihat punggung Arthur sebelum kembali melihat punggung Alfred yang telah menjatuhkan dirinya dan menunduk.

Menghela napasnya, Ivan memejamkan kedua matanya dan mengikuti arah yang tadi dilewati Arthur sebelumnya. Namun, bedanya dia menuju pintu tangga darurat untuk turun dari sana.

"Gil... kau benar-benar..."

Karena bagaimanapun juga, Ivan harus menahan diri untuk tidak menghajar Alfa bodoh yang telah membuat Omeganya menunggu bertahun-tahun tanpa kepastian seperti anjing yang dibuang oleh pemiliknya.

"...menghancurkan semuanya."

Di sisi lain, Gilbert yang masih berada di dalam lift menundukkan kepalanya. Perlahan tapi pasti, dia semakin turun dan berjongkok di tengah kotak besi yang terus bergerak turun ini. Sebelah tangannya menutupi mulutnya yang baru saja mencium cinta pertamanya.

Hanya saja, bukan itu yang membuatnya bergetar ketakutan.

"...Kenapa?"

Gilbert memejamkan kedua matanya erat. Mencoba mengingat rasa yang terus mengikis hingga benar-benar hilang sampai Gilbert tidak bisa menemukannya lagi. Tubuh Gilbert kehilangan keseimbangan sehingga dia harus menahan tubuhnya dengan dua tangannya di atas lantai. Menatap kedua tangannya itu, bibir Gilbert mulai bergetar.

Saat mencium Alfred tadi, Gilbert tahu dia akan menerima seluruh resikonya. Bahkan meskipun dia akan berhadapan lagi dengan mate asli-nya lalu kehilangan semua pilihan yang bisa dia ambil untuk bahagia.

Yang penting, dia bisa menyatakan perasaan dan menyentuh bibir Alfa yang dia sukai itu... sekali saja.

Ya, seharusnya begitu.

"Kenapa aku... tidak merasakan apapun?"

Tapi, begitu dia menyentuh bibir Alfa berambut blonde itu, kenyataannya sama sekali beda.

Yang ada di kepalanya justru punggung pria yang selalu mengenakan syal. Di dalam bayangannya, Gilbert bisa melihat tangannya menjulur ke depan seakan memintanya berbalik untuk kembali tersenyum padanya. Padahal sampai kemarin, Gilbert yakin dia tidak ingin terlibat apapun bersama pria yang seharusnya dibencinya itu.

Apakah ini salah takdir soulmate yang memutuskan semua tanpa persetujuan darinya?

Ataukah... ada hal lain yang jauh lebih dalam dan masih belum dia mengerti?

"...Ivan..."

Apapun itu, Gilbert tahu dia telah egois. Dia telah menghancurkan segalanya.

Apa dia masih boleh... berada di sini?

#

.

.

.

.

.

#

Hal terakhir yang Gilbert ingat saat dia kembali ke apartemennya bersama Ivan, dia telah mempersiapkan diri seandainya Ivan akan bertanya macam-macam padanya. Namun tak peduli berapa lama dia menunggu, Ivan tak kunjung pulang. Gilbert hampir tidak pernah menanyakan dimana atau kabar Alfanya itu karena dia memang selalu memaksakan diri untuk tidak peduli. Lagipula Ivan cenderung mengabarinya dengan inisiatif sendiri.

Hanya saja di hari ketiga, akhirnya Gilbert menyerah dan mencoba mengirim satu pesan singkat.

'Kau dimana?'

Setelah mengirim pesan itu, Gilbert kembali meringkuk di pojokan. Dan suara hp yang terdengar beberapa saat kemudian membuatnya langsung bergerak cepat untuk membuka pesan yang muncul tanpa melihat lagi siapa yang membalasnya.

'Sedang banyak kesibukan di kantorku. Aku akan lebih sering pulang ke rumah, tidak perlu menungguku.'

Jawaban itu membuat Gilbert terdiam seribu bahasa. Akhirnya menahan diri untuk tidak menghela napas, Gilbert menutup kembali hp-nya lalu menundukkan kepalanya di atas kedua lututnya yang ditekuk.

Selama ini... dia yang selalu membenci keberadaan Ivan di dekatnya lebih dari apapun. Dan setelah semuanya yang terjadi, dia mengharapkan Alfanya itu kembali datang menenangkannya?

Memangnya siapa dia?

Hanya seorang mate bodoh yang tidak mengenal rasa terima kasih.

Perlahan tapi pasti rasa insecure mulai menyerang Gilbert yang telah mengalami penurunan drastis terhadap kepercayaan dirinya. Entah kenapa rasanya Ivan tidak memberi jawaban yang jujur. Gilbert terjebak di pilihan ingin menekan Ivan mengatakan yang sesungguhnya atau segera menjadi egois dan memintanya berada di sini sekarang. Dengan tangan bergetar, Gilbert kembali mengambil hp-nnya.

Mengetik cepat di balik selimut, Gilbert mencoba menyampaikan apa yang dia inginkan dari Ivan sekarang.

'Cepat pulang.'

...Delete.

'Kapan kau pulang?'

...Delete.

'Maukah kau pulang ke sini?'

...Delete.

'Ivan, bisakah kita bertemu?'

...

Setiap tangannya selesai menulis, Gilbert merasa jarinya bergetar hingga akhirnya dia menekan tombol delete lalu menulis lagi dari awal. Terus begitu, rasa takut akan kejujuran atau mungkin karena dia memang tidak terbiasa membuatnya tidak bisa mempercayai siapapun lagi termasuk dirinya sendiri. Gilbert menggertakkan giginya kesal, kali ini menekan cancel, dia membanting hp-nya lalu tidur meringkuk di balik selimut.

"Bodoh..." semakin meringkuk dalam, Gilbert memejamkan kedua matanya erat, "...aku memang bodoh." Ucapnya berulang kali dengan suara serak karena tidak makan dan minum dengan benar sejak tiga hari yang lalu.

Mungkin di titik ini, Gilbert telah menyadari bisa jadi waktu itu Ivan melihatnya dan Alfred di dalam lift. Ya, pasti begitu. Tidak ada alasan selain itu yang dapat membuat Ivan meninggalkannya tanpa pemberitahuan yang jelas. Pada akhirnya laki-laki Russian itu akan muak dan menghapus Omega kotor dari dalam hidupnya.

Lagipula dengan kekayaan yang Ivan Braginsky miliki, memutuskan Omega mate-nya lalu mencari Omega lain yang benar-benar mau dengannya bukanlah hal yang sulit.

Yang seharusnya sadar dimana dia berdiri adalah Gilbert Beilschmidt.

Membiarkan stress menggerogoti tubuhnya semakin dalam, Gilbert memejamkan kedua matanya di tengah dingin malam yang menusuk kulitnya tanpa ampun. Detik berikutnya begitu dia sadar... hari telah kembali menemui pagi lagi.

Hari keempat, Gilbert bangun dengan kantung mata di bawah matanya. Tanda bahwa dia tidak bisa benar-benar tidur nyenyak untuk yang ke sekian kalinya. Meraba kasur di dekatnya, Gilbert mengambil hp untuk melihat jam di layar.

"...Sudah jam segini lagi." Gumamnya pelan. Dia meletakkan benda elektronik tersebut sebelum tertawa miris pada dirinya sendiri, "Jika aku tidak masuk lagi, tinggal menunggu waktu sampai Arthur memecatku, kesese." Ucapnya sembari menurunkan kedua kakinya ke atas karpet.

Tangan Gilbert masih menutupi setengah dari wajahnya. Dia terdiam memikirkan kata-katanya sebelumnya sampai senyuman tipisnya terukir.

"Memang lebih baik... seperti ini, 'kan?"

Gilbert memejamkan kedua matanya perlahan.

"Aku tidak perlu bertemu dengan Alfred lagi."

TING TONG

Tersentak kaget, Gilbert membuka kedua matanya dan menoleh ke arah pintu depan berada. Kedua alisnya mengernyit dalam dan bingung, siapa yang bertamu sepagi ini?

"...Ivan?" jeda sejenak, Gilbert menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak. Untuk apa dia membunyikan bel di apartemennya sendiri?" bisik Gilbert ragu. Dia berdiri ketika suara bel terdengar lagi.

"Atau mungkin... dia ingin aku berpikir seperti itu?" terus bergumam pada dirinya sendiri, Gilbert mengambil jaketnya lalu melangkah menuju pintu depan selama bel terus terdengar, "Tapi... untuk apa?" tambahnya pelan.

Hingga akhirnya dia telah sampai, lalu membuka pintu depannya pelan. Gilbert tidak membukanya terlalu lebar dan mengintip keluar, "Ya—"

Melihat sosok yang dikenalinya, kedua iris merah Gilbert membulat sempurna. Pria berkacamata dan berambut pirang alami itu menunjukkan deretan gigi putihnya seperti biasa dan dia mengangkat tangannya dengan kikuk sebagai bentuk sapaan.

"Ah, umm... hey." Ucap Alfred singkat, meski masih diakhiri dengan tawa kaku.

Baru mengatakan itu, Gilbert langsung menahan napasnya dan reflek mendorong pintu untuk menutupnya. Tentu saja. Pertama, dia masih belum siap sama sekali untuk bertemu Alfred F. Jones dari seluruh kemungkinan orang yang bisa menemuinya sekarang. Kedua, dia tidak mau membahas masa lalu yang baru saja tadi dia putuskan untuk dilupakan.

GRAK

Hanya saja seolah sudah memperkirakan ini, gerakan Alfred lebih cepat. Dia menahan ujung pintu Gilbert dengan kuat. Gilbert menggertakkan giginya, masih berusaha melawan. Meskipun dia sendiri salah satu yang paling tahu jika Alfa itu serius, dia bisa mengeluarkan kekuatannya yang melebihi akal sehat manusia—mungkin terkesan berlebihan, tapi kadang itulah kenyataannya.

"Gilbert, dengarkan aku dulu—"

"NEIN, AL!" reflek mengeluarkan bahasa tanah kelahirannya, Gilbert berteriak hingga tenggorokannya mengering. Sebagai buktinya, Gilbert langsung terbatuk dan itu membuat kekuatannya ikut menurun, saat inilah Alfred langsung mengerahkan seluruh kekuatannya dan mendorong pintu hingga Gilbert dipaksa menarik tangannya, "APA YANG KAU—"

Sebelum Gilbert sempat berteriak, Alfred memegang tangannya dengan kuat. Tangan Gilbert yang terkepal itu ditariknya mengarah ke wajahnya sendiri dan—

BHUAG

Gilbert terkejut melihat ini, Alfred mengayunkan tangan temannya itu hingga menonjok pipi Alfred dengan sangat kuat. Alfa berambut pirang itu dipaksa menghadap ke samping. Gilbert masih melihat Alfred dengan kebingungan, tangannya yang telah bebas itu kembali turun ke sisi tubuhnya. Alfred masih menundukkan wajahnya dan tangannya yang lain terlihat mengusap-usap pipinya sebelum dia berdiri tegak.

Saat dia tertawa sembari menggaruk belakang kepalanya, kedua alis Gilbert bertaut melihat sedikit luka di ujung mulut Alfred, "Ahaha, aku tidak mengantisipasi rasanya sesakit ini," tidak ada respon dari Gilbert, membuat Alfred berhenti tertawa dan dia melirik ke samping dengan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Suasana di antara mereka kembali awkward.

"Kau—" / "Anu—"

Mengucapkan kata-kata mereka bersamaan, Alfred dan Gilbert langsung berhenti dan bergerak gelisah. Hingga akhirnya Gilbert menghela napasnya, "Kau dulu."

Perintah yang terdengar tidak bisa dibantah itu membuat Alfred membuka mulutnya. Dia menutup mulutnya lagi sampai mendengus pelan dan memasang senyumannya meski kedua alisnya masih bertaut. Dia menundukkan kepalanya di depan sahabat baiknya tersebut.

"...Seharusnya aku yang minta maaf."

Ucapan Alfred itu masih belum membuat Gilbert mengubah emosinya. Pria albino itu hanya diam dan melirik ke ujung kanan bawahnya, "Maafkan aku yang bodoh ini." Suara Alfred terus menggema di dalam telinganya, "Ini memang terlambat, tapi setidaknya lebih baik dari tidak sama sekali."

Gilbert menahan diri untuk tidak menghela napas, sementara itu Alfred melanjutkan, "Sejujurnya aku lega dan kuharap kau juga begitu." Kata-kata ini akhirnya membuat Gilbert kembali melirik Alfred, "Mengesampingkan aku yang tidak pernah menyadari perasaanmu, kau masih mau berteman denganku. Jadi, kuharap setelah inipun... kau masih mau berteman denganku." Ucapnya apa adanya.

Mungkin Omega berambut putih keperakan itu akan bermisuh pelan seandainya Alfred tidak menghela napas dengan suara keras. Kembali bingung dengan perubahan sikap Alfa di depannya, Gilbert menaikkan sebelah alisnya melihat Alfred mendongakkan kepalanya dan menutup kedua matanya dengan tangannya yang bebas.

"Al?"

Panggilan Gilbert membuat Alfred berhenti berteriak. Dari posisi ini, Gilbert hanya bisa melihat jakun Alfred yang masih terus mendongak, "Tapi sejujurnya, aku memang kecewa kenapa terlambat..." jeda sejenak, Alfred menundukkan kepalanya kembali dan kedua matanya di balik kacamata itu menyipit penuh arti, "Seandainya kita mau jujur pada satu sama lain sebelum menemui mate kita masing-masing, mungkin hasilnya akan berbeda."

Dan di sini... Gilbert merasa ada yang aneh, walau dia tidak mengerti apa.

"...Kita?"

Alfred hanya diam. Dia kembali tersenyum tenang seolah mengabaikan pertanyaan yang Gilbert tunjukkan dari wajahnya, "Yah, itu sudah berlalu jadi ya sudahlah hahaha!" tawanya yang keras itu membuat Gilbert sadar Alfred telah kembali seperti biasanya. Hal yang membuat Gilbert mendengus kesal dan kembali membuang mukanya.

"Yang penting sekarang, apa kau tidak mau menemui Ivan?"

Inilah pertanyaan yang sesungguhnya. Ekspresi Omega yang memiliki satu adik itu mulai berubah sedikit. Rahangnya terlihat mengeras sebelum dia menjawab, "Ivan... sepertinya dia sudah membenciku." Gumamnya pelan, berharap Alfred tidak mendengarnya meski percuma.

Ucapan ini membuat Alfred mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sebelum memegang dagunya sendiri, "Hmm bagaimana ya Gil, sejujurnya aku merasa Ivan adalah orang terakhir di bumi ini yang bisa membencimu." Gilbert kembali melihat Alfred dengan ekspresinya yang tidak yakin. Alfred menjentikkan jarinya, "Kalau kau mau, mungkin kau bisa ke apartemennya?"

Gilbert mendengus sebelum menjawab, "Tidak mungkin. Di rumahnya ada adik dan kakaknya, lalu—" seperti tersadar akan sesuatu, Gilbert melihat Alfred dengan bingung, "—tunggu, kau bilang apartemennya?"

Pria tampan beriris biru langit itu menyeringai dan mengangguk, "Ya, dia memiliki apartemen lain, tempat dimana biasanya dia ingin sendiri tanpa diganggu siapapun." Melihat ekspresi bingung Gilbert, Alfred hanya tertawa santai, "Kebetulan aku tahu tempat itu, beberapa kali Ivan mengajakku karena kadang dia meninggalkan pekerjaannya di sana. Waktu itu aku pernah iseng bertanya mengapa aku tidak pernah melihatmu di sana dan dia bilang dia memang tidak memberitahumu tempat itu."

Mendengar ini, kedua iris Gilbert membulat sempurna.

"Ini hanya firasatku saja... tapi mungkin, Ivan sebenarnya ingin suatu hari nanti kau akan datang dengan inisiatifmu sendiri ke sana." Dengan senyum penuh artinya, Alfred terus melanjutkan tanpa melepaskan pandangannya dari Gilbert, "Karena itu dia memberitahuku secara tidak langsung agar aku bisa menyampaikan padamu saat waktunya tepat." Tutupnya.

Melihat Gilbert masih tidak juga meresponnya, Alfred menghilangkan senyumannya, "Gilbert, mungkin kau tidak mengakuinya..."

Saat iris merah dan biru itu kembali bertemu, Alfred mencoba masuk ke dalam tatapan yang masih kehilangan arah hidupnya.

"...tapi saat ini, hanya ada Ivan di dalam kepalamu, 'kan?"

Seandainya Gilbert masih seorang Gilbert Beilschmidt yang kemaren, seharusnya itu adalah pertanyaan yang akan langsung dibantah olehnya dengan mudah.

"Aku—"

Mate adalah sesuatu yang bullshit.

Bagaimana caranya dia mengatakan itu lagi sekarang?

Gilbert sudah... tidak tahu lagi.

Menyadari sahabat baiknya sedang dalam kebimbangan, Alfred tahu dia hanya bisa melakukan satu hal, "Lebih baik kau temui dia secepatnya." Mengeluarkan secarik kertas yang sepertinya telah dia siapkan sebelum datang ke sini, Alfred meraih tangan Gilbert dan memaksa Omega itu menerima kertasnya.

"Bisa gawat jika dia sudah bosan menunggu, kau tidak akan mau membuatnya marah."

Setelah mengatakan itu, Alfred menunjukkan deretan gigi putihnya. Seperti yang selalu dia lakukan setiap dia dan Gilbert bertukar canda. Namun kali ini, suasana hati masih belum sepenuhnya bisa membuat Gilbert membalas senyuman lima jari tersebut. Dia menatap kertas di tangannya sebelum tangan itu mengepal.

"Aku akan... memikirkannya." Ucap Gilbert, meski terselip nada dusta di dalam sana.

Dusta yang bisa Alfred ketahui dan membuat pria itu tersenyum tenang, "Tidak masalah, just take your time, buddy." Alfred berjalan keluar apartemen Ivan dan Gilbert lalu menoleh ke belakang, "Aku duluan ya. Cepat kembali ke kantor, Gil. Artie masih meletakkan tumpukan dokumen di meja kosongmu. Percaya padaku, kau tidak akan mau melihatnya semakin tinggi." Tambah Alfred sebelum tertawa kecil.

"Kami selalu menunggumu, Mr. Awesome!"

Dan kali ini, Gilbert kembali memasang ekspresi kagetnya. Alfred hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Tanpa menunggu balasan dari Gilbert, Alfred langsung berjalan pergi meninggalkan sahabatnya tersebut. Cukup yakin bahwa Gilbert tidak akan mengambil pilihan bodoh. Setidaknya untuk sekarang.

Entah Alfred menyadarinya atau tidak ketika Gilbert mendengus menahan tawa sebelum menutup pintunya.

"...Terima kasih, Al."

Waktunya bersiap mengakhiri semua ini.

Di sisi Alfred, dia terus berjalan hingga akhirnya sampai di gerbang depan apartemen temannya. Alfred menoleh dan melihat kekasihnya yang sedang menyandar pada tembok itu akhirnya berdiri tegak dan berjalan menghampirinya.

"...Sudah?"

"Ya, tidak perlu khawatir. Gilbert yang kukenal tidak akan kabur dari kenyataan." Jawab Alfred to the point. Dia tertawa kecil sebelum kembali melihat depan, "Dan hal itu yang selalu kusukai darinya."

Arthur Kirkland masih menutup mulutnya saat mendengar ini, lalu bertanya, "Apa kau yakin?" pertanyaan ini membuat Alfred berhenti dan menoleh ke pria British yang masih menatapnya dengan dua alis tebal yang mengernyit dalam, "Kau masih bisa kembali."

Omega berambut pirang alami itu mengepal kedua tangan di sisi-sisi tubuhnya.

"Ivan juga... aku yakin dia akan menyerah jika kau bersungguh-sungguh mengambil Gilbert darinya."

Awalnya Alfred terlihat memberi jeda dan tidak mengatakan apapun selama beberapa detik. Hingga tiba-tiba dia mendengus menahan tawa membuat Arthur membuka kedua matanya lebih lebar.

"Kau ini bicara apa?"

Alfred menjulurkan tangannya untuk mengusap rambut Arthur pelan sebelum menetap di sana. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan agar wajahnya dan Arthur sejajar.

"Aku 'kan sudah punya kau."

Arthur tersentak dan ekspresinya membatu saat Alfred menarik tangannya kembali, "Gilbert dan aku hanya sahabat. Apalagi berkat ciuman itu... aku jadi sadar dan bisa benar-benar maju sekarang."

Arthur kembali memasang ekspresi sedihnya yang tertahan, "...Alfred." bisiknya pelan.

"Gilbert memang keren. Tapi, kau yang masih mau menerima Alfa yang penuh dengan kekurangan seperti diriku juga sangat keren, Artie!"

Mendekati Arthur, Alfred langsung memeluk Omeganya itu hingga Arthur tidak sempat membalasnya. Wajahnya memerah karena bingung sementara Alfred memeluknya semakin kuat.

"Aku bersyukur sekali bisa memiliki sahabat seperti Gilbert dan mate sepertimu, Tuhan benar-benar memberkatiku ya, hahaha!" ucapnya sembari menenggelamkan wajahnya di tengkuk Arthur.

Untuk beberapa saat, Arthur tidak bisa bergerak. Hanya bisa diam dan ikut mendekatkan hidungnya pada tengkuk Alfred. Mencium bau khas Alfa itu yang seperti mint di dalam green forest. Setelah merasa cukup, Alfred melepaskan pelukannya lalu meraih tangan Arthur dan menggenggamnya.

Tanpa menunggu Arthur lagi, Alfred langsung menariknya dan berjalan duluan, "Let's go to the new cafe over there, Artie! Ada yang bilang kopi dan teh buatan mereka enak, kita harus mencobanya!" ajak Alfred antusias sebelum fokus dengan jalanan di depannya.

Arthur masih belum bisa membalasnya, kedua matanya memperhatikan punggung Alfred yang masih terus menarik tangannya. Hingga akhirnya dia ikut mendengus dan memasang senyumnya, "This stupid git." Bisiknya sebelum mensejajarkan jalannya dengan Alfred. Memeperdalam genggaman tangan mereka berdua.

Di saat yang sama, mereka berdua bisa merasakan angin berhembus melewati mereka berdua. Arthur menutupi wajahnya hingga kepalanya mengenai bahu Alfanya, sementara Alfred menahan rambutnya sendiri dan mendongakkan kepalanya. Melihat betapa cerahnya cuaca hari ini membuat dia dapat merasakan sesuatu yang baik akan segera menghampiri mereka semua.

Alfred F. Jones tersenyum semakin lega dan membuka mulutnya.

"Terima kasih, Gil."

#

.

.

.

#

Di suatu tempat yang sebenarnya tak jauh dari posisi tiga orang berada, Ivan Braginsky menatap jendela besar di dalam ruangannya. Berada di lantai pencakar langit membuat Ivan bisa melihat langit biru yang begitu bersih dengan awan-awan putih yang terlihat lembut tetap berarak dengan tenang seolah angin di sekelilingnya tidak bisa membuatnya goyah. Belum lagi dengan para burung yang terbang dengan ceria tanpa peduli akan seluruh konflik di dunia.

Cuaca yang cerah ini rasanya tidak sesuai dengan keadaan batin di dalam dirinya sekarang. Menutup kedua matanya, pria berambut cokelat beige itu membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan menuju meja terdekatnya.

Ivan berniat mengambil salah satu kaleng vodka di atas meja itu sampai dia sadar seluruhnya telah kosong. Menghela napas pelan, Ivan mengambil kaleng-kaleng kosong tersebut untuk dibuangnya ke tempat sampah. Saat ini dia tidak mengenakan atasan, seperti biasa berjalan di dalam apartemen pribadinya hanya dengan celana panjang. Lagipula toh, tidak ada yang akan merasa terganggu di sini dengan apapun yang dipakainya sekarang.

Ya, karena dia sendirian.

Dan bukan tidak mungkin... dalam waktu dekat, status ini akan menetap pada dirinya selamanya.

Menyadari pikiran negatif ini kembali menyerangnya, Ivan berdecak kesal dan membuka keran pada tempat pencuci piring. Begitu air mengalir, Ivan langsung membasahi kepalanya sekilas sebelum dia kembali berdiri tegak. Menghela napas panjang, Ivan menyisir rambut depannya yang telah basah itu ke belakang. Memperlihatkan dahinya yang berkerut karena alisnya masih mengernyit dalam.

"Menyebalkan..."

Ivan mengusap wajahnya dan menurunkan kedua tangannya perlahan.

"...mau sampai kapan aku lari dari Gilbert seperti ini?"

Pertanyaan itu menggantung di udara dan Ivan tidak berharap lebih akan ada yang menjawabnya. Membereskan urusannya di dapur, Ivan berniat kembali ke ruang tengah sampai dia melihat bayangannya yang terpantul di cermin. Iris violet miliknya seolah menatapnya balik, memperlihatkan sosok pengecut yang tidak tahu kapan harus berhenti.

Tertawa kecil, Ivan memegang cermin di depannya, "Kau pikir... kau predator?" kelima jarinya menekuk seakan ingin mencakar bayangan di depannya itu. Senyuman Alfa itu hilang tepat saat pupil di kedua matanya mengecil perlahan tapi pasti.

Naluri Alfa yang muncul seolah ingin menakuti bayangan di depannya.

"Kau bahkan tidak bisa menaklukkan satu mangsa, da."

Lalu Ivan menarik tangannya dan pergi. Meninggalkan bekas cakaran yang terlihat sangat jelas di atas cermin bening yang tidak bersalah itu.

Ivan mendecih pelan dan mengambil kaleng vodka lagi untuk yang ke sekian kalinya sebelum membanting pintu kulkas dengan keras. Mood-nya semakin jelek, membuat pengendalian emosinya semakin buruk hingga dia akan cenderung berperilaku kasar untuk beberapa waktu ke depan. Seperti mengeluarkan kepribadiannya yang lain sejak dia mendapat hasil sebagai seorang Alfa bertahun-tahun yang lalu.

Saat Alfa mulai berperilaku agresif seperti ini sebenarnya ada dua kemungkinan.

Yang pertama, dia memang sedang mengalami konflik internal karena lingkungan sekitarnya. Sudah bukan rahasia umum jika Alfa memiliki pengaturan emosi yang lebih buruk dari Beta hingga Omega pada umumnya. Terutama jika sudah marah.

Lalu yang kedua... adalah kemungkinan yang paling tidak ingin Ivan akui. Tidak untuk sekarang.

Menggertakkan giginya, Ivan hampir mendekatkan ujung kaleng di bibirnya ketika suara bel dibunyikan menghentikannya.

TING TONG

"...Ha?" mencengkeram kalengnya berlebihan hingga menekuk ke dalam, Ivan menatap kesal ke arah pintu, seakan dia ingin tatapannya bisa menghancurkan pintu itu. Mendecih kesal, Ivan meletakkan kalengnya kasar di atas meja hingga air di dalamnya bercipratan keluar, "Siapa yang datang ke sini? Alfred? Seriously?" tanyanya entah pada siapa sembari berjalan mendekat ke arah pintu.

"Bisa-bisanya dia memiliki muka untuk datang ke sini," gerutu Ivan yang ke sekian kalinya. Dia berjalan cepat dan tanpa berpikir dua kali, langsung membuka pintu di depannya, "mau apa lagi, brengsek—"

Suara Ivan tercekat ketika dia mengantisipasi biru langit menyebalkan tiba-tiba yang ada di hadapannya adalah sepasang iris merah yang juga tidak berniat menyembunyikan amarahnya. Hanya saja ketika menyadari Ivan keluar dengan rambut basah disisir ke belakang dan tidak mengenakan atasan, membuat pria yang bertamu itu reflek melirik ke arah lain dengan kedua pipi yang memerah.

"Okay, this is too much even for the awesome me." Bisiknya sembari mengumpat.

Mungkin dia beruntung karena Ivan tidak terlihat mendengarnya, "Gilbert?" suara Ivan kembali mengingatkan sang Omega tujuan pertamanya datang kemari, "Kenapa... bagaimana kau—"

"Kenapa kau tidak memberitahuku soal apartemen ini!?"

Teriakan itu membuat Ivan tersadar, dia bisa melihat Gilbert berdiri dengan muka merah antara kesal dan malu itu lebih jelas. Ivan masih membuka-tutup mulutnya ketika Gilbert yang mengenakan jaket dan kaos putihnya itu mendorong tubuh Ivan menggunakan lengannya. Setelah mereka berdua di dalam, Gilbert langsung menutup pintu di belakangnya dengan kuat hingga suara kunci otomatis terdengar.

Butuh waktu untuk Ivan sadar, "Oh, benar. Alfred yang memberitahumu ya?" pertanyaan itu membuat Gilbert berhenti berjalan dan membalikkan tubuhnya, "Si bodoh itu... akh, sudahlah. Lebih baik kau pulang, Gil. Aku sedang ingin sendiri." Lanjut Ivan sembari berjalan melewati Gilbert yang masih belum mengalihkan perhatiannya dari Alfanya itu.

"Aku sudah datang ke sini, apa yang kau bicarakan?" berlari mengejarnya, Gilbert mencoba meraih bahu Ivan meski ditampik berulang kali oleh Alfa itu, "IVAN! JANGAN MEMBUATKU KESAL, SIALAN!" teriak Gilbert yang akhirnya meledak juga.

"SEHARUSNYA AKU YANG BILANG BEGITU!" tiba-tiba Ivan ikut berteriak. Dan karena ini pertama kalinya, Gilbert tersentak kaget hingga reflek mengambil satu langkah mundur. Menatap bingung dan takut ke arah Alfa yang auranya terasa jauh lebih intense daripada biasanya.

Menyadari tatapan Gilbert, Ivan menggertakkan giginya dan menutup setengah wajahnya, "Minggir... Gilbert." Ucapnya pelan dan dalam, penuh dengan nada bahaya yang membuat Gilbert menurut secara insting. Ivan langsung jalan melewati Gilbert dan memasuki kamar tidurnya di sana yang masih gelap dan duduk di tepi kasurnya.

Tanpa penerangan, hanya segaris cahaya yang berhasil masuk dari balik gorden yang tertarik sedikit. Gilbert berdiri di pinggir pintu memperhatikan Ivan yang perlahan tapi pasti mulai menggeram pelan seperti menahan sesuatu, dia duduk dengan menunduk dan mencakar sisi-sisi kepalanya sendiri.

"...Ivan."

Suara Gilbert kembali menggema, namun geraman Ivan masih belum berhenti.

"Jangan bilang... kau terkena rut?"

Dan satu kata itu berhasil membuat Ivan membuka kedua matanya. Tanpa merubah posisinya, dia melirik ke arah dimana dia memperkirakan Gilbert berada, "Kalau kau sudah tahu, pergilah." Semakin gawat, Ivan bisa merasakan tubuhnya mulai bergetar karena kemungkinan terburuk yang tidak bisa dikendalikannya, "Kali ini aku benar-benar tidak akan berhenti meskipun kau menangis. Jadi, kumohon..." suaranya semakin pelan hingga akhirnya Ivan hanya melanjutkan di dalam hatinya.

"...aku tidak mau kau membenciku lebih dari ini."

Napas Ivan terdengar semakin kasar dan memburu. Sementara itu, entah dia sadar atau tidak ketika baunya telah memenuhi ruangan hingga Gilbert dapat menciumnya. Kedua alis Gilbert semakin bertaut merasakan bau Alfa itu mempengaruhinya. Gilbert mengepalkan tangannya di sisi pintu dan dia mulai menyandarkan tubuhnya yang semakin terasa berat di sana.

Jika diingat penyebab Alfa memasuki rut adalah salah satu pergolakan batin yang tidak stabil...

...sedikit banyak, Gilbert sadar bahwa semua ini terjadi karena dirinya sendiri.

Gilbert membuka mulutnya, membiarkan napasnya mengepul di udara. Wajahnya memerah saat dia sadar sepenuhnya telah jatuh ke dalam pengaruh rut Alfa-nya. Tinggal hitungan detik, Gilbert tahu dia akan memasuki heat dan mungkin... mereka akan melakukan sex lagi. Sex yang sama sekali beda dari sebelum-sebelumnya.

Karena kali ini... Gilbert menginginkannya.

Tidak. Sebelumnya, Gilbert masih harus menyampaikan tujuan utamanya datang ke sini. Menelan ludahnya, pria berambut putih keperakan itu mulai mengambil langkah ke dalam. Dari gerakan Ivan yang mulai mengangkat kepalanya, sepertinya dia telah sadar Gilbert mendekat. Terlebih ketika dia berbalik dan menatap Gilbert marah.

"Sudah kubilang, 'kan!? Jangan—"

"Kau... Kau anak yang selalu duduk di kursi halaman belakang sekolah, 'kan?" pertanyaan ini membuat lidah Ivan membeku. Kedua iris violet-nya membulat sempurna ketika Gilbert terus berjalan mendekatinya hingga dia berhenti dan terbatuk-batuk sebelum melanjutkan, "Anak yang... selalu melihatku seperti orang bodoh. Selalu mengenakan syal hingga mulutnya tertutup, belum lagi kacamata setebal botol susu sapi yang selalu menutupi kedua matanya."

Ivan kehilangan kata-katanya. Terlebih ketika Gilbert menatap langsung kedua matanya dengan seringai yang seolah mengatakan dia sedang menang sekarang.

"Hei, bagaimana? Aku benar... 'kan?"

Namun sebelum Ivan sempat menjawab itu, Gilbert terjatuh dengan lututnya yang menyentuh karpet lebih dulu. Dia menahan tubuhnya dengan tangan di atas kasur Ivan meski gagal. Ivan sendiri sempat panik hingga dia berdiri dan ikut berjongkok di depan Gilbert.

"Gil..." berniat memegang bahu Gilbert, tapi Gilbert sudah lebih dulu meraih tangannya dan menggenggamnya. Gilbert berpegangan pada itu untuk membantu tubuhnya berdiri. Dan setelah berhasil, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Ivan di depannya, "...he-hei, Gilbert... ini bahaya—"

"Dasar... bodoh!" sesungguhnya kepala Gilbert sangat pusing mencium bau rut sedekat ini untuk pertama kalinya. Tapi, dia tidak akan mundur sekarang, "Kalau saja kau bukan pengecut... seharusnya kau sudah mendapatkan aku lebih cepat!" teriaknya dan kini kedua tangannya telah memeluk badan besar atletis di hadapannya.

"Kau bilang kesabaranmu membuahkan hasil? Ha, jangan buat aku tertawa..."

Kali ini, wajah Ivan yang memerah hingga sampai ke telinganya.

"...kau hanya mengulur waktu agar aku tersiksa sendirian dan memohon padamu untuk kembali, dasar licik!"

Kata-kata ini membuat Ivan menggigit bibir bawahnya. Bau heat dari tengkuk Gilbert juga mulai mempengaruhinya. Membalas pelukan Omega itu, Ivan ikut menurunkan kepalanya dan mencium tengkuk Gilbert sembari memeluk erat tubuh yang selama ini dibutuhkannya.

Ya. Seperti ini. Gilbert meraih punggung Ivan untuk dicakarnya sementara tangannya yang lain bergerak ke atas dan sedikit menjambak rambut Ivan yang mulai menghisap lehernya.

Lagi. Terus menggesekkan tubuh mereka hingga bau keduanya saling mengikat di udara.

Setidaknya sampai Ivan kembali mengeluarkan suara, "Tapi kau... dan Al..."

Kembali teringat, Gilbert membuka kedua matanya, "Oh iya... itu salah kau juga," jawab Gilbert acuh, hal ini membuat Ivan membuka kedua matanya, "aku sampai harus memastikan perasaanku dengan mencium Alfred. Benar-benar... kau seharusnya bisa menjagaku lebih baik." Gerutunya pelan.

Meski sebenarnya Gilbert sendiri tahu dia hanya membuat alasan untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya saat ini sedangtidak awesome sekali.

Sayangnya kali ini... Ivan tidak dalam posisi yang bisa mengalah.

"Hmm?" ekspresinya menggelap dan dia melepaskan pelukan mereka. Gilbert mulai merasa bulu kuduknya berdiri, terlebih ketika Ivan memegang kedua bahunya dan menatapnya lurus dengan senyuman twist, "Jadi maksudmu, kau yang juga menunggu dengan perasaan bertepuk sebelah tangan seperti orang bodoh dan tidak berani menyatakan perasaanmu pada Alfred selama bertahun-tahun adalah salahku?"

Gilbert menelan ludahnya dengan susah payah.

"Jangan berpikir terlalu tinggi atas dirimu, Gil. Kenyataan bahwa kau ditolak dan kalah dalam permainanadalah bukti bahwa kemampuanmu hanya segitu."

Tangan Ivan bergerak sehingga menangkup wajah yang telah memanas dan memerah di hadapannya.

"Dan Tuhan mengirimku sebagai mate-mu karena semata-mata kasihan dengan dirimu yang menyedihkan ini."

Walau tahu bau Ivan telah mendominasinya, Gilbert tetap enggan mengalah. Dia memegang kedua tangan Ivan di wajahnya, berusaha menggerakkannya meski tidak bergeming sedikitpun, "A-Apa maksudmu mengirimmu? Kau sendiri yang akan menangis sampai akhir jika tidak mendapatkan aku, dasar cengeng!"

"Oh ya? Mohon maaf, tolong jelaskan siapa yang sekarang menangis karena hampir kuusir?"

"I-Ini bukan karena kau usir, baumu menekanku, brengsek!"

"Tenang saja, aku tetap senang karena pada akhirnya kau berinisiatif sendiri datang ke tempatku, Gil!"

Wajah Gilbert yang merah terlihat semakin tegang dan berusaha melihat kemanapun selain Ivan, "K-Kesese, tentu saja. Aku khawatir kau akan merusak properti orang lain jika terus kubiarkan mengambek seperti ini. Lihat? Sekarang saja kau sudah masuk rut!" ucapnya bangga pada dirinya sendiri namun juga panik di saat yang bersamaan, "Sudah, 'kan? Sekarang lepaskan aku—"

"Tapi..." bisikan dalam yang memotong ucapannya itu kembali memberi Gilbert mimpi buruk, "...aku tetap tidak suka kau menjadikan aku pelampiasan karena tidak berhasil mendapatkan Alfred, da."

"SEKARANG KAU BARU PROTES SOAL ITU!?"

Dan teriakan Gilbert kembali teredam begitu Ivan melepas wajahnya, memegang pergelangan tangannya dengan kuat, lalu melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Gilbert jatuh dengan posisi wajahnya mengenai kasur lebih dulu sebelum dia cepat-cepat bangkit dan membalik tubuhnya. Melihat Ivan yang telah bersiap melepas celananya membuat Gilbert menarik tubuhnya mundur pelan-pelan.

"I-Ivan... tunggu dulu."

Tidak ada jawaban, Gilbert tahu dia berada di ujung tanduk sekarang. Entah sejak kapan, bau rut dan heat telah berkumpul menjadi satu, memenuhi kamar mereka. Gilbert semakin pusing dengan semua ini, namun dia merasa masih bisa berpikir jernih dibandingkan Ivan yang terlihat sudah tenggelam jauh ke dalam rut-nya sendiri. Ivan membuka mulutnya, napasnya yang keras menggema, taringnya yang terlihat semakin tajam membuat Gilbert tahu sebentar lagi bekas gigitan di tubuh putihnya akan bertambah.

Gilbert tahu dia juga sudah mulai tidak bisa melawan nafsunya sendiri. Meski begitu, kata-katanya yang berharap agar Ivan tidak memperlakukannya kasar hilang entah kemana. Seakan kedua manusia itu telah masuk ke dalam sisi binatang mereka hingga lupa bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik dan benar.

Hingga akhirnya Gilbert menelan ludahnya dan merangkak mendekat. Dia memegang tangan Ivan yang akan menurunkan celananya sendiri, menggantikan tugas Alfa itu dan mengeluarkan milik sang Alfa yang telah berdiri tegak sempurna. Ivan mengernyitkan kedua alisnya bingung, "Gil—hwaa?"

Tanpa pemberitahuan apapun, Gilbert membuka mulutnya dan memasukkan milik Ivan itu ke dalam. Dengan kedua alis yang mengernyit dalam, Gilbert terus berusaha bergerak hingga ujungnya menabrak tenggorokannya. Merilekskan seluruh bagian dalam mulutnya, Omega itu akhirnya berhasil memasukkan seluruhnya ke dalam. Dia diam sesaat untuk membiasakan diri sebelum akhirnya bergerak membuat Ivan semakin menahan napasnya.

Ivan mengerang nama Gilbert berulang kali sementara Omeganya itu telah menggerakkan lidahnya dengan kuat demi meraba permukaan milik Ivan yang diam-diam telah dihafalnya. Gilbert nyaris berhasil menemui dasar dari keseluruhannya setidaknya sampai dia tersedak dan berusaha mundur lagi. Namun itu semua tak bertahan lama karena Ivan menjambak rambutnya lalu menggerakkan kepala Gilbert kasar saat merasa dirinya akan datang sebentar lagi.

"Hmph!"

"Gilbert... ha..." kedua tangan Ivan bertahan di kepala Gilbert yang secara tak sadar telah dia mainkan demi mencapai klimaksnya, "...maaf, aku... ggh!"

Untuk yang ke sekian kalinya, kedua iris Gilbert melotot kaget saat milik Ivan mengeluarkan cairan yang memenuhi kerongkongannya. Gilbert menelan seluruhnya, memperlihatkan jakunnya yang bergerak setiap dia merasakan cairan tawar itu masuk ke dalam tubuhnya. Bukan hanya itu, tusukan Ivan sepertinya menyentuh titik-titik sensitif yang bahkan Gilbert tidak tahu dia memilikinya.

Ivan menarik miliknya perlahan, namun itu masih memberi gesekan yang membuat tubuh Gilbert tidak berhenti bergetar. Saat Ivan berhasil menarik seluruhnya, lidah Gilbert masih menjulur keluar, memperlihatkan sis-sisa cairan kental yang menempel di sana. Sekali lagi Ivan menahan napas, sebelum Gilbert sempat duduk dengan benar dan memasukkan lidahnya itu, Ivan dengan cepat menahannya dengan jempol dan mendorong Gilbert terbaring di atas kasur.

"W-Wha—"

"Gawat sekali, Gil." Bisikan Ivan yang terdengar sangat berat itu membuat Gilbert melirik panik. Setidaknya sampai dia merasakan milik Ivan yang masih tegang itu berusaha menusuk lubangnya yang masih tertutup celana, "Kau benar-benar membuatku ingin menghamilimu sekarang." Lanjutnya lagi dengan nada semakin parau. Dari sudut ini, Gilbert bisa melihat dengan baik taring yang semakin panjang saat Ivan menggertakkan giginya.

Aah.

Sungguh... binatang liar macam apa yang baru saja dia bangkitkan?

Rasanya seakan kedua iris merah Gilbert telah berkabut. Tubuhnya bergetar ketakutan namun juga antusias di saat yang bersamaan. Gilbert menutup mulutnya, menghisap jempol Ivan. Tangannya yang lain menuntun Ivan untuk masuk ke balik kaosnya, meraba nipple-nya yang menegang. Setelah semuanya di tempat, Gilbert mulai bersusah payah membuka celananya sementara kedua matanya terpejam erat merasakan setiap bagian yang sedang Ivan sentuh.

"I...vanh."

"Kau..." semakin menekan jarinya di dalam mulut Gilbert dan mencubit nipple itu, Ivan merubah posisinya sehingga mengurung Omeganya sendiri, "...menginginkannya?"

Suara Gilbert tercekat saat mendengat itu. Dia tidak mengatakan apapun, hanya menutup kedua matanya dengan lengannya yang bebas, "Lakukan saja... bodoh!" teriaknya pada akhirnya.

Masih tidak mau jujur seperti biasa, walau begitu kali ini Ivan tersenyum tipis, "Kalau begitu..." membuka mulutnya, dia kembali menggigit tengkuk Gilbet dengan cukup dalam, "...aku akan melakukan sesukaku."

Tepat setelah mengatakan itu, Ivan membalikkan tubuh Gilbert sehingga dia melakukan serangannya dari belakang. Sesuai dengan permintaan terdalam Gilbert, Ivan melepas seluruh pakaian yang Gilbert kenakan, di saat yang sama dia hanya mencium dan mengendus sekitar leher Gilbert. Tangannya masih meraba bagian depan tubuh pria itu, meski tidak melakukan lebih dari meraba atau sekedar mencubit pelan.

Semua perlakuan setengah hati ini membuat Gilbert semakin frustasi. Dia masih memejamkan kedua matanya erat dengan mulutnya yang ditutupi dengan tangannya sendiri. Saat dia merasakan angin mengenai bagian bawah tubuhnya langsung, dia sedikit berharap sentuhan Ivan akan sedikit mengurangi fokus dinginnya di sana.

Tapi, sentuhan itu tidak kunjung datang.

Ivan terus menyerang daerah bahu hingga lehernya, tapi dia seolah sengaja mengabaikan bagian yang paling membuat Gilbert bergerak tak nyaman sekarang. Tubuh mereka telah dipenuhi peluh, Gilbert hanya bisa bernapas dari mulutnya yang terus terbuka mengumpulkan oksigen. Ivan memeluknya dari samping, masih menyerang tengkuknya sementara Gilbert menahan diri dengan meremas sprei di dekatnya. Dia mulai melirik ke arah Ivan frustasi sembari mendekatkan bagian bawah tubuhnya ke milik Ivan yang sedari tadi hanya menyentuhnya tanpa melakukan lebih.

"Ivan... sudah cukup..." bisiknya memohon. Walau begitu, Ivan masih belum berhenti menggigit bahunya. Apalagi sekarang Ivan justru menahan tubuhnya untuk tidak bergerak, mencengkeram pinggangnya dengan kuat, "...Van...Vany—ah!" ucapnya reflek menjambak rambut pria di belakangnya.

Pria berambut cokelat beige itu memberi jilatan terakhir sebelum melepas dirinya dari Gilbert, "Kau tidak sabaran sekali, Gil," menyeringai penuh arti, Ivan hanya menyandarkan kepalanya di atas bantal sembari menunggu Gilbert menoleh ke belakang, "memangnya apa yang kau inginkan? Kita perlu melakukan semuanya secara bertahap, da." Ucapnya asal, tahu sebenarnya dia hanya ingin menggoda Omeganya itu. Sedikit penasaran dengan jawaban keras kepala apa lagi yang akan diberikan pria albino tersebut.

Hanya saja kali ini, Ivan sadar dia belum siap menantikan semuanya.

"Tahapan itu... tidak perlu."

Gilbert bangkit dari posisinya, sedikit kepayahan sebelum menjatuhkan diri dengan posisi menungging. Ivan membuka mulutnya yang terasa mengering ketika Gilbert menyandarkan kepalanya di atas bantal sementara kedua kakinya menahan pinggangnya tetap di atas. Gilbert memasukkan dua jarinya langsung ke dalam lubang yang terus mengeluarkan cairan pelumasnya dan berkedut seolah mengundang sang Alfa ke dalam sana.

"Mess me up completely, you stupid!"

Wajah Ivan langsung berubah merah sepenuhnya. Tidak mengantisipasi serangan semacam ini, dia menutup wajahnya yang terasa beruap dan bisa meledak kapan saja. Melihat ini, Gilbert nyaris berteriak kesal hingga tiba-tiba Ivan meraih rambutnya dan menekannya kasar di atas bantal.

"Akh! Ivan—!?"

"Gil... sudah kuduga, aku memang—" tubuh Gilbert menegang ketika Ivan memposisikan dirinya. Milik Alfa yang sangat besar dan juga siap menghajar prostatnya itu membuat wajah Gilbert memucat ketika dia mencoba melihat ke bawah, "—tidak pernah salah memilih Omegaku."

Bau Alfa yang sedang rut seketika kembali mendominasi seisi ruangan. Walau begitu, Gilbert tidak bisa konsentrasi merasakan Ivan yang langsung memasukkan seluruhnya dalam sekali gerakan. Menghajar titik yang sedari tadi tak tergapai karena posisinya yang terlalu di dalam. Bau sang Alfa kemudian titik sensitifnya yang akhirnya tersentuh membuat Gilbert berteriak tanpa suara, kedua pupilnya membulat sempurna dan lidahnya nyaris menjulur keluar.

Ruangan yang langsung menyempit membuat Ivan menggertakkan giginya. Menyadari mengapa, Ivan tertawa kecil sembari menyisir sebagian rambutnya ke belakang, "Langsung keluar, da? Sudah berapa lama kau menahannya?" tidak ada jawaban—tentu saja, Gilbert menundukkan kepalanya semakin dalam, membuat lehernya yang merah menggoda terekspos semakin jelas.

"Berisik... hngh—diam dan bergeraklah..." bisikan Gilbert membuat Ivan kehilangan senyumannya. Terlebih ketika Gilbert menoleh ke belakang dengan seringai yang masih terpasang di wajah tampannya, "...tidak mungkin kau hanya sampai sini, 'kan? Tuan Alfa."

Dan kata-kata itu memicu insting Ivan dengan sangat baik. Ivan maju dan kembali menggigit leher Gilbert sementara kedua tangannya meraih dada Gilbert dan mencubitnya kuat. Bagian bawah Ivan bergerak cepat dan kasar, menghajar titik yang sama seolah memastikan Gilbert kehilangan suaranya.

Gilbert mendesah keras di dalam ruangan ini, kedua tangannya hanya bisa meremas sprei kusut di bawahnya. Rasanya seolah kedua matanya akan berputar ke belakang merasakan kenikmatan yang terus menerjang begitu dia membiarkannya. Namun rasa takut yang juga menekannya membuat Gilbert tidak memiliki pilihan lain untuk melawan, entah bagaimana dia bisa mempercayai Ivan dan menyerahkan seluruh tubuhnya pada beast itu.

"Gil... apa kau tahu..." tanpa berhenti bergerak, Ivan mulai mencium pucuk kepala Gilbert yang hanya bisa membalasnya dengan desahan, "...aku tidak pernah meraihmu karena aku memang pengecut, tapi ada alasan lain yang membuatku bertahan."

Menggigit cuping telinga Gilbert, Ivan memberi tusukan terakhir yang sangat dalam.

"Aku tahu... suatu hari nanti kau akan kembali padaku."

Gilbert tidak diberi kesempatan untuk menjawab begitu Ivan langsung memasukkan dua jarinya ke dalam mulut Omega itu. Menjepit lidah Gilbert di antara dua jarinya.

"Detik saat kedua mata kita bertatapan untuk pertama kalinya, aku tahu kau akan menjadi milikku cepat atau lambat."

Tertawa kecil meski terdengar nada lelah di sana, Ivan memejamkan kedua matanya.

"Aku penasaran apakah ini karena instingku sebagai Alfa? Bagaimana menurutmu?"

Meski tahu pertanyaan itu tidak akan bisa dijawab, Ivan tetap tersenyum. Dia menarik tangannya yang telah penuh dengan saliva Gilbert, membiarkan kepala Omeganya itu terjatuh lagi di atas bantal. Dia kembali berdiri tegak sembari mengusap lekukan punggung Gilbert dengan jari yang penuh saliva milik Gilbert sendiri. Ivan menahan sisi-sisi pinggang Gilbert dan menghujam sekali lagi.

"Ha!? A-Aakh! Ivan, Ivan!"

"Ggh... Gil..."

Untuk pertama kalinya, mereka tidak memisahkan diri begitu Ivan mengeluarkan seluruh cairanya ke dalam. Gilbert merasa tak nyaman, perutnya seperti diisi oleh cairan hangat yang mau tidak mau dia tahu itu apa. Belum lagi dengan ikatan knot yang membuat Gilbert tidak mungkin bisa bergerak lagi lebih dari ini.

Ivan telah... mengikatnya sepenuhnya.

Gilbert jelas tidak bisa mundur lagi sekarang.

Sebelum Gilbert tahu dia akan memikirkan semua pilihan ini lagi, Ivan turun dan memeluknya dari belakang. Alfa itu mencari posisi yang nyaman untuk mereka berdua selama penyatuan ini berlangsung. Sesekali Gilbert mendesah menahan sakit juga gesekan di dalam yang membuatnya tidak bisa melakukan apapun selain pasrah dengan tuntutan Alfa di belakangnya.

Ivan meraih milik Gilbert yang juga masih menegang dan mengocoknya dengan kecepatan stabil. Memberi kenyamanan Omega itu selama proses knot berlanjut. Saat itu pula, Gilbert memiringkan kepalanya membuat iris violet dan dark red itu kembali bertemu.

Gilbert yang lebih dulu menjilat bibir Ivan sebelum akhirnya Ivan merespon dengan membuka mulutnya. Mereka kembali berciuman setelah sekian lamanya, melilitkan lidah masing-masing, dan menuntut perlawanan untuk membuat ciuman liar ini semakin panas.

Setidaknya mereka berdua tahu.

Seteleh knot ini selesai pun, tidak mungkin mereka akan selesai hanya sampai di sini.

Masih banyak waktu terbuang yang perlu mereka gantikan saat ini.

Selama mereka berciuman dan saling menukar saliva satu sama lain, rasanya seperti dimensi di dunia lain juga berputar. Di dalam memori yang tidak pernah dijelaskan bagaimana kelanjutan ceritanya, sosok mereka yang masih mengenakan baju SMA itu terlihat berdiri berhadapan.

Gilbert Beilschmidt sedang memegang bola sepaknya.

Dan Ivan Braginsky sedang memeluk buku tebalnya.

Jarak sekitar sepuluh meter di antara dua anak manusia itu membuat mereka tidak bisa melihat wajah satu sama lain dengan jelas. Belum lagi dengan kabut yang menghalangi pandangan siapapun yang berada di sana. Mereka berdua hanya tahu ada seseorang di depan mereka namun mereka tidak bisa melihat jelas siapa itu dan apa yang sedang mereka lakukan.

Tapi, entah kenapa... baik Ivan dan Gilbert itu tersenyum.

Saling berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan, mereka akhirnya berpisah...

...hanya dengan satu keyakinan, bahwa suatu hari nanti mereka akan bertemu lagi.

"Sampai jumpa, mate."

#

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#

Beberapa minggu setelahnya...

"—Well, aku tahu dia memang tipe pria yang selalu moody di waktu yang tidak tepat, tapi bukan berarti aku harus melayani moody-nya itu setiap saat, 'kan?"

Alfred F. Jones menghela napas panjang yang sangat kentara.

"Aku benar-benar lelah, Gil. Kenapa Omegaku harus seperti ini!? Aaaaaa!"

Gilbert Beilschmidt hanya tertawa untuk yang ke sekian kalinya. Seolah dia sudah terlalu sering mendengar keluhan ini hingga rasanya sudah dia hafal di luar kepala. Hal yang membuat Gilbert tidak perlu mendengar celotehan sahabatnya itu lebih dalam dan dia bisa tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.

Hanya saja di kasus Alfred dengan Omeganya yang bernama Arthur Kirkland itu, mungkin kesalahan ada di pihak dua-duanya. Alfred yang tidak terlalu peka—atau bahkan kadang memilih pura-pura tidak peka. Dan Arthur yang tidak mau jujur—diperparah dengan sikap gengsi yang selalu ingin meninggikan dirinya.

Semua pasangan memang memiliki masalah mereka masing-masing sih.

Gilbert dan pasangannya sendiri bukanlah pengecualian.

"Hei, Gil... kau dengar aku, 'kan?" raung Alfred lagi begitu dia mendengar Gilbert kembali menarikan kesepuluh jari di atas keyboard -nya. Menyandarkan dagunya di atas sandaran kursi, Alfred menggeser kursi itu ke samping sahabatnya, "Menurutmu kenapa ya? Kalian sama-sama Omega, so... help me out here, will ya?"

Mendengar suara permohonan Alfred, memancing rasa iba juga pada laki-laki yang lemah dengan siapapun yang lebih muda darinya tersebut, "Ya itu—"

"Pikirkan sendiri dengan otakmu yang sudah karatan, Alfred."

Sama-sama tersentak kaget karena mendengar suara yang mereka kenal, Alfred dan Gilbert menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari mereka, Ivan Braginsky berdiri dengan senyuman dingin tertera jelas di wajahnya. Gilbert hanya tertawa kaku melihat Alfanya sementara sang Alfred masih melihat Ivan dengan malas.

"Kalau anakku ketularan bodohmu, aku akan membunuhmu lho."

Alfred mendengus keras. Dia menopang dagunya dengan tangan di atas meja, "Haa? Kalau dia bodoh sih itu karena kau—"

Jeda sejenak, Alfred seperti tersadar akan sesuatu. Alfa American itu langsung berdiri tegak hingga kursinya terjatuh dan menimbulkan suara keras.

"—eh tunggu, kau bilang apa?"

Ivan tidak menjawab apapun, hanya tersenyum penuh arti dan memiringkan kepalanya. Saat Alfred melirik Gilbert pun, sahabatnya itu hanya menghela napas dan memijat pelipisnya dengan lelah, "Kau tidak perlu mengatakannya seperti itu." Gerutu Gilbert sembari mendengus kesal.

"Tidak apa-apa, 'kan? Daripada kau harus melayani omongannya yang tidak penting." Balas Ivan apa adanya. Dia memegang bahu Gilbert dan sedikit memijatnya, "Lagipula aku sudah bicara dengan Arthur untuk mengurangi jam kerjamu agar lebih banyak istirahat." Tambahnya.

Gilbert masih diam walau dalam hati dia menyetujui perkataan Alfanya itu, "...Terserah kau saja."

Alfred masih terpaku di posisinya berdiri. Sampai dia tersenyum lebar dan menyisir rambutnya ke belakang, "Wow, guys... really?" tertawa keras, Alfred menunjukkan ekspresi ikut senangnya dan mungkin nyaris memeluk pasangan di depannya, "CONGRAT—"

"ALFRED!"

Teriakan Arthur dari jauh membuat Alfred kaget dan reflek bergidik. Dia dan juga kedua temannya melihat Arthur berdiri di ujung lorong dengan sebelah tangan di pinggang, sebelah tangannya lagi memegang beberapa lembaran kertas yang sepertinya adalah laporan Alfred padanya hari ini.

"Aku sudah bilang untuk segera ke ruanganku jika sudah selesai, 'kan!? Kau ini—ukh!"

Tiba-tiba Arthur memegang mulutnya dan menundukkan kepalanya. Tentu saja Alfred kaget melihat ini, "Artie!?" dia berniat untuk lari mendekati Omega-nya yang kini sedang menyandarkan tubuhnya pada tembok di dekatnya.

"Oi, Al!" panggilan Gilbert membuat Alfred berhenti dan berbalik. Saat itu pula, Gilbert langsung melempar suatu benda dan Alfred reflek menangkapnya. Melihat apa benda itu, Alfred tersentak kaget. Wajahnya memerah ketika dia melihat Gilbert yang menyeringai dari kursinya, "Beri aku game terbaru jika hasilnya positif, bodoh."

Alfred hanya tertawa kaku lalu mengangguk sebelum melanjutkan perjalanannya. Setelah kedua orang itu menghilang, Ivan mendengus pelan dan duduk di kursi Alfred, "Aku tidak mengizinkanmu menerima game baru itu." Ucapnya tiba-tiba membuat Gilbert menoleh.

"Ivan—"

Tanpa mau menerima protes lagi, Ivan langsung menangkap bibir Gilbert, "Ha!? He-Hei, tunggu—hmph!?" Omega berambut putih keperakan itu mencoba melawan, namun perbuatannya justru membuat Ivan menekan ciumannya lebih dalam. Ivan berdiri lagi dan mendorong Gilbert hingga terbaring di atas mejanya sendiri. Menggeser seluruh peralatan di sana, Ivan memeluk tubuh Gilbert dan memperdalam lidahnya untuk menjelajahi mulut di bawahnya itu.

Meski terkesan kuat, Ivan tetap merengkuh tubuh Gilbert hati-hati. Bagaimanapun juga, sekarang ada tambahan nyawa di antara mereka yang harus membuatnya lebih menghargai keinginan tubuh Gilbert. Walau dari desahan dan suara basah yang muncul di antara mereka jelas memberi tanda bahwa Gilbert tidak keberatan sama sekali.

"Ya lyublyu tebya, Gil."

Bisikan yang Ivan keluarkan menggunakan bahasa kelahiran di dekat telinganya itu membuat Gilbert terdiam sejenak untuk mengatur napas. Setidaknya sampai dia ikut tertawa pelan lalu memegang sisi-sisi kepala Ivan, memaksa Alfanya itu agar kedua mata mereka bisa saling menatap lurus.

"Ich auch, idiot." Kembali mencium bibir Ivan sekilas, Gilbert mendorong Ivan agar dia bisa kembali berdiri dengan benar sembari merapikan kemeja kerjanya, "Tapi, aku akan lebih senang jika kau mau mengurangi cemburumu pada Al, karena sejujurnya kadang kau berlebihan sampai terasa menyebalkan."

Ivan menggembungkan kedua pipinya dan melirik ke arah lain, "I can't help it." Pria berdarah Russian tersebut melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku tidak mau mengambil resiko karena serigala bisa mencuri kapan saja."

"Hey, come on—"

DRAP

DRAP

DRAP

Suara seseorang berlari kencang ke arah mereka berada membuat Gilbert dan Ivan menoleh. Ketika pasangan itu melihat Alfred yang muncul dari balik tembok, mereka menunggu terlebih dahulu sampai dia berhenti mengatur napasnya yang kewalahan. Alfred berdiri tegak dengan senyum sumringah di wajahnya, kedua tangannya mengepal erat di depan dadanya saat kedua iris biru langitnya berbinar.

Aah, tentu saja.

Senyuman Ivan dan Gilbert yang menyusul berindikasi bahwa mereka semua telah mengerti...

"GILBERT! IVAN!"

...sekarang waktunya membuka lembaran baru.

.

.

.

.

.

So, if I run it's not enough

You're still in my head forever stuck

You can do what you wanna do

I love your lies, I'll eat 'em up

.

But don't deny the animal

That comes alive when I'm inside you

- Maroon 5 (Animals)

.

.

.

THE END

.

.

.

Google Translate

Sestra (Russian)= Sister

Ya lublyu tebya (Russian)= I love you

Ich auch, idiot (German)= Me too, stupid

.

Niat hati mau bikin fic RuPru lemonan doang, kenapa jadi drama NTR begini— Tapi ya ampun aku khilaf banget nulis sebanyak ini HAHA MAAP WOOHOO OTP-KU SAYANG~~ #YE

Anyway, yang masih menunggu kuucapkan terima kasiiih~~! Kemaren-kemaren harus kelarin commish dan banyak kerjaan heuheu. Jadi terima kasih bagi yang masih sabar menunggu, silahkan dinikmati lanjutannya :"D As you can see, di sini sebagian besar misteri sudah dijelaskan ya... paling sebenarnya ada tambahan yang pengen kujelasin antara Alfred dan Gilbert wkwkwkwk well, maybe later in another part though— #oi

Yang pasti, fic Animals ini sudah kelar yeeeey banzaaai~~~! Untuk bagian Alfred dan Gilbert sepertinya cuma short fic terpisah ntar, tapi gak perlu itupun harusnya udah jelas sih di sini WKWK #mananya Baru sadar juga fic ini delay-nya nyaris setahun heuheu untung gak jadi beneran setahun, I'm ashamed hshshs #halah

Once again, thank you for reading! Sorry for all the mistakes. Fave, alert, and share are really appreciated! Mind to review, please? Thanks before! :3