Trimester Pertama : Chapter 2

Butuh waktu lebih dari tiga minggu untuk memutuskan, dan tiga minggu lagi untuk meyakinkan diri bahwa hal yang akan dilakukannya adalah benar. Kemudian dia memberanikan diri, membuat janji bertemu dengan dokter dan bersiap dengan segala resiko yang akan terjadi. Iruka meminta Yamato pergi bersamanya, karena dia membutuhkan dukungan dan Iruka merasa dia tidak cukup kuat pergi sendiri. Dia membutuhkan teman yang bisa diandalkan demi menanggung beban bersamanya. Dia membutuhkan seorang sahabat, dan Yamato satu-satunya teman yang tahu soal bayinya, juga Yamato adalah seorang teman yang selalu mengerti.

"Tidak," Yamato menjawab dengan lugas, hingga membuat Iruka sedikit bergidik. "Aku tak bisa, Iruka. Jangan minta hal seperti itu padaku,"

"Kenapa?" Iruka bertanya, dengan suara panik yang memenuhi sekujur badannya. "Aku butuh dukunganmu."

Yamato mencengkeram segenggam rambutnya sendiri, bingung, "Aku setuju untuk menjaga rahasiamu. Tapi aku tidak bisa tetap diam saat kau akan membunuh jabang bayi sahabatku. Aku tak bisa menghentikanmu, dan aku tak bisa mengkhianatimu dengan mengadukanmu pada Kakashi. Jika kau mau menggugurkan bayi itu kau akan melakukannya sendiri. Aku tak akan ikut denganmu."

Pada akhirnya Iruka pergi sendiri, dan disinilah dia sekarang, duduk diruang tunggu kantor dokter, berusaha meyakinkan diri sendiri kalau apa yang akan dilakukannya adalah yang terbaik. Telapak tangannya membelai perut yang masih rata. Aborsi adalah satu-satunya jalan. Dia tak bisa menjaga seorang bayi sekarang ini!

"Umino-san?"

Iruka mendongakkan kepalanya, seorang perawat wanita berdiri dengan sebuah clipboard didepannya. "Apa anda baik-baik saja?"

Iruka mengangguk kaku, dia TIDAK baik-baik saja.

"Baiklah, jika anda siap mari silakan ikuti saya,"

Perawat itu membawanya berjalan ke ruangan diujung koridor, dan menyuruhnya duduk dimeja periksa.

Dokter Kaho tersenyum menyambut Iruka.

"Umino-san, langsung saja, kita akan melakukannya hari ini, anda sudah bicara dengan perawat kami bukan," tipikal prosedur disebuah klinik.

"Ya, aku bicara beberapa kali lewat telfon," jawab Iruka gugup. "Aku harus melakukannya hari ini juga."

Dokter Kaho menatapnya serius, "Anda sepenuhnya sadar bahwa setelah hal ini dilakukan, anda takkan bisa menariknya kembali. Terlalu banyak anak muda yang saya jumpai menyesalinya. Umino-san, anda takkan bisa menariknya kembali. Anda harus seratus persen yakin akan hal ini."

"Ak...aku y..yakin..," Iruka bicara dengan terbata-bata. "Aku sudah memikirkannya. Ini pilihan yang tepat."

"Baiklah," Dokter Kaho berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kotak kabinet penyimpanan obat. "Kondisi kehamilan anda masih sangat awal jadi saya akan meresepkan pil ini. Dokter Kaho menyerahkan sebuah botol obat pada Iruka. "Anda akan minum satu dosis disini sekarang, lalu akan saya monitor efek samping selama setengah jam. Lalu setelah itu anda harus bisa merasakan sendiri kondisi anda 48 jam kedepan."

Iruka menggenggam erat benda yang ada ditangannya, "Seberapa bahaya efek dari pil ini?"

"Saya tidak akan berbohong," sahut dokter Kaho, "Semua metode aborsi ada resiko tersendiri, dengan pil ini anda akan merasakan kram perut dan mual. Itu normal. Efek lain adalah sakit kepala, muntah, pusing dan pingsan. Tapi jika hal-hal tersebut terjadi terus menerus anda harus segera ke bagian emergenci. Ada beberapa kondisi sampai meninggal yang disebabkan reaksi alergi dan kondisi lemah pasien."

Kami-sama! Iruka sadar akan hal ini. Dia akan menjalani aborsi! Memikirkannya membuat Iruka mual.

Dokter Kaho menepuk pundak Iruka dan berkata "Anda yakin akan hal ini?"

Iruka tersenyum getir, "Dokter, anda terdengar seolah tidak mendukung keputusan si pasien."

Dokter Kaho menggelengkan kepalanya perlahan, "Hanya memastikan anda tidak melakukan kesalahan. Tugas saya adalah menjaga pasien, dan memastikan pasien tidak dipaksa untuk aborsi oleh siapapun, bahkan oleh diri si pasien sendiri."

Iruka menghirup nafas perlahan "Tapi aku tak bisa memiliki bayi saat ini."

"Kalau tujuh bulan lagi?"

Iruka terdiam mematung, lalu tanpa menatap Dokter Kaho, dia mengembalikan botol pil nya. "Aku tak bisa," Iruka berdiri dari meja periksa.

"Ya Umino-san?"

"Anda benar, aku belum yakin. Aku butuh waktu lagi."

Dokter Kaho mengangguk "Masih ada waktu jika anda ingin berfikir ulang Umino-san."

Iruka kembali memakai jaket yang tadi dipakainya, "Ya," jawabnya singkat, meskipun Iruka yakin dia tidak akan kembali kesana. Dia tak mungkin melakukannya, dia tak bisa. Iruka tak mengerti apa yang akan terjadi nanti. Akan ada banyak hal yang berubah. Tanggung jawab yang harus dia lakukan, hanya saja mungkin untuk sekali ini Iruka merasa menjadi egois.

Iruka kembali ke apartemen (yang perusahaan sediakan untuk nya, atas paksaan Kakashi, karena menurutnya tinggal dirumah keluarga Senju hanya akan membatasi waktu kebersaman mereka, seakan Tsunade bisa mengusir Kakashi yang keras kepala) dengan taksi, menyembunyikan mata sembabnya dengan Sunglasses. Iruka tidak menangis, belum, tapi kedua bola matanya selalu mengkhianati perasaannya. Kakashi akan tahu sesuatu telah terjadi, dan akan memaksa Iruka sampai dia bicara.

"Iruka?" Yamato menyapa, terkejut saat Iruka berlalu begitu saja di Front Office. Yamato tidak berfikir akan bertemu Iruka setelah tahu dia akan melakukan aborsi.

Iruka berlalu tanpa menjawab. Dia berlari ke dalam lift, setengah berlari saat tiba dilantai nya, dengan tergesa membuka kunci pintu utama dan langsung berlari menenggelamkan tubuhnya diatas tempat tidur. Iruka meringkuk, memeluk kedua lututnya dan menutup diri dari dunia. Memejamkan kedua bola matanya kuat-kuat, dan berpura-pura seolah dia tak mendengar Yamato mengikutinya sampai kedalam.

"Iruka?" tanya nya lagi "Iruka. Ba-bagaimana? Ka-kau baik-baik saja?"

Iruka menutup matanya lebih erat. Kedua tangan nya melayang menutup telinga. Iruka tidak bisa bicara dengan Yamato sekarang ini. Iruka mengerti mengapa Yamato menolak ikut dengan nya untuk aborsi, Iruka mengerti loyalitas Yamato pada Kakashi, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.

Mungkin jika saat itu Yamato mengantarnya, Iruka sudah mengaborsi janin ini.

Saat Yamato meraih bahunya, Iruka mundur. "Pergi." bisik Iruka pelan, "Please, pergi."

"Kau mau ku telfonkan Kakashi?"

Iruka menggeleng kasar "Pergi."

Yamato berusaha mengatasi rasa bersalahnya "Apa ada yang sakit? Kau ingin ku ambilkan sesuatu?"

Iruka menatap Yamato dengan marah, air mata nya akhirnya leleh "Pergi! Pergi yang jauh dan tinggalkan aku sendiri!" Iruka kembali membenamkan diri dengan bantal dan selimut.

Yamato berdiri membeku. "Iruka," dia berbisik lirih, berusaha menenangkan sahabatnya. "Maafkan aku," Yamato akhirnya dengan lunglai pergi, dan saat itu juga Yamato tahu dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Atau Yamato juga tidak pernah tahu Iruka bisa memaafkan nya...

-TBC-