TRIMESTER PERTAMA : Chapter 3

"PERSETAN DENGAN MU!" Iruka berteriak dan membanting pintu kamar mandi lalu duduk meringkuk kembali menenggelamkan wajah nya ke lengan tangan yang terlipat diatas lutut.

Itu tidaklah seperti Iruka yang biasanya (well keadaan saat ini yang menjadikan Iruka 'sedikit' berbeda).

Di sisi luar rest room terdengar Kakashi membalas teriakannya, "Persetan juga denganmu dan rengekan mu yang konyol!"

Iruka menggigit lidahnya agar dia tidak menanggapi pertengkaran itu.

Dia menghela nafas perlahan dan berusaha menenangkan perutnya yang bergejolak.

Sebelumnya saat Iruka dan Kakashi beradu argumen, saling meneriakkan alasan masing-masing, terasa biasa. Tapi dengan keadaannya yang sekarang, entah mengapa saat Kakashi tak bersamanya Iruka merasa ada yang protes dalam perutnya.

Tak lama Iruka merasa ada yang mengaduk isi perutnya dan berusaha keluar. Dia berlari menuju wastafel, sarapannya yang tak seberapa tadi pagi muncul dalam bentuk lain dan berakhir tak berguna diwastafel.

Sembari menyeka mulut dengan tisu Iruka berusa mengatur nafasnya kembali. 'Kami-Sama' batinnya. 'Apa untuk beberapa bulan kedepan dia bisa bertahan? Apalagi saat nanti bayi ini lahir'?

Morning sickness setiap hari, sungguh membuat dirinya lelah. Sakit kepala dan pusing yang dialaminya membuat Iruka hanya ingin meringkuk ditempat tidur dan melupakan segalanya. Mood-nya yang tiba-tiba berubah membuatnya frustasi, suhu tubuhnya yang selalu merasa panas, bahkan Iruka mengalami perubahan warna kulit dibeberapa bagian tubuhnya.

Dokter Kaho menjelaskan kalau hal itu lumrah dialami saat kehamilan, hanya saja Iruka ragu apa dirinya sanggup menjalani ini semua untuk enam bulan ke depan. Semua terasa seperti mimpi buruk.

Parahnya lagi dia dan Kakashi menjadi lebih sering bertengkar. Ya mereka memang sering beradu argumen sejak awal hubungan, kebanyakan karena Iruka yang terlalu supel dan Kakashi yang mudah cemburu. Tapi setelah keadaan yang Iruka sembunyikan ini, pertengkaran dan adu argumen menjadi lebih sering, Iruka merasa mungkin sementara dia harus cuti, atau mungkin membatasi diri dari orang lain. Tapi untuk berapa lama? Bagaimana mungkin menyembunyikan bayi yang nanti akan menanyakan siapa ayah dan keluarganya? Kami-Sama! Iruka merasa benar-benar sendirian.

Sebuah ketukan halus terdengar dari luar pintu restroom.

"Iruka"? Suara Anko terdengar diseberang pintu "Kau baik? Kakashi sudah pergi jika kau mau keluar."

Iruka mengusap kasar matanya. Merasa dirinya seperti remaja labil yang sedang menangisi pacarnya- well, iya pacar, tapi tidak untuk diratapi.

"Kemana dia pergi?" Iruka akhirnya keluar dari restroom dan menatap Anko.

Sedikit ragu dan ingin tahu Anko menjawab "Yamato ada di ruangannya, dan sedang bicara dengan Kakashi."

Iruka membulatkan kedua bola matanya, panik. Entah mengapa Iruka selalu berfikir saat Yamato dan Kakashi bersama, Yamato akan mengadu pada Kakashi. Dalam pikirannya Yamato mungkin secara tidak sengaja bicara soal bayinya dan aborsi yang Yamato pikir telah Iruka lakukan.

"Ada apa Iruka?" Anko memberanikan diri bertanya, "Soal apalagi kali ini?" ada sebuah kesabaran dikalimatnya.

"Tadi itu- itu, ak-aku tak ingat lagi". Iruka menghela nafas dalam. "Sesuatu soal meeting." Pertengkaran mereka tadi adalah soal Iruka yang makin sering absen saat meeting dengan klien, dan memilih untuk istirahat di restroom, dan meninggalkan para staff dan Kakashi untuk melayani pertanyaan para petinggi perusahaan. Dan Iruka tak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya pada Kakashi. Sekarang ini Iruka membiarkan Kakashi berfikir kalau Iruka itu seorang pemalas.

"Kau seharusnya bicara padanya."

"Apa?" Iruka sedikit terkejut, dia tidak sedang melanturkan?

"Apapun itu yang sedang kau pikirkan."

Kembali Iruka menhela nafas "Ka-kau tak akan mengerti Anko. Maaf tapi, ini adalah...".

"Adalah hal yang membuat kita semua ikut terlibat," Anko memotong kalimat Iruka. "Lihat kenyataannya Iruka, Kami semua mulai memilih membela siapa. Saat kau dan Kakashi bertengkar, perusahaan juga terseret ke dalamnya".

Dan itu tidaklah adil. Iruka tahu, tak bisa lagi dia menutupi tentang hal ini. Tak bisa lagi Iruka berpura-pura sampai bayi ini lahir dan melanjutkan hidupnya begitu saja. Dan mungkin, mungkin dengan bicara pada Kakashi soal ini, tidaklah begitu buruk.

"Kakashi ada diruangan nya kan"? Iruka bertanya. Anko mengangguk pelan dan tersenyum tulus pada Iruka.

Iruka keluar dari restroom dan berjalan menuju ruang kantor Kakashi. Pintunya terbuka, Iruka berdiri mematung di depannya. Masih dapat dilihatnya Yamato sedang berbicara pelan pada Kakashi, tapi Iruka tak dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.

"Hei,," Iruka menatap Kakashi yang sedang duduk dikursi direkturnya. "Bisa kita bicara?"

Wajah terkejut yang diperlihatkan oleh Kakashi terlihat menyakitkan, Iruka sadar bahwa saat-saat seperti inilah Kakashi akan meminta maaf setelahnya, dan menawarkan Iruka apapun yang dimintanya, kemudian tidak lagi mempermasalahkan siapa yang salah soal ini.

Yamato pamit dan menutup pintu ruangan Kakashi, memberi mereka privasi untuk bicara.

"Kakashi" tiba-tiba saja tenggorokan Iruka kering, "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu."

Kakashi mengangguk "Aku juga."

"Kau saja dulu." Iruka berjalan perlahan mendekati Kakashi, dan mulai meyusun kalimat bagaimana dia bisa hamil dan sudah berjalan selama tiga bulan ini.

Kakashi menghirup nafas dalam-dalam. "Aku rasa kita harus berpisah dulu. Bukan break seperti biasanya, tapi kita mungkin harus bertemu dengan orang baru. Iruka, hubungan kita menyakiti semua orang dan perusahaan. Dan aku tak bisa membiarkan hal itu."

Iruka seperti ditampar. Dia berdiri membeku "Berpisah?" ulang nya, wajahnya terlihat panik.

"Ya". Kakashi mencengkeram rambut peraknya perlahan, frustasi. "Kita- hubungan kita- ini tak behasil, Iruka".

"A-ak-aku," Iruka tiba-tiba menghamburkan dirinya kepelukan Kakashi, melingkarkan kedua lengan nya dileher kekar Kakashi, pertama kali dalam beberapa bulan terakhir ini, Iruka tak peduli saat perutnya bersentuhan dengan Kakashi. "Aku pun berfikir seperti itu." Iruka berbisik lirih ke telinga Kakashi. Dan kalimat itu adalah kebohongan terbesarnya! Melebihi kebohongan nya saat menutupi soal bayi ini dari Kakashi!

-TBC-

So? Suka? Benci dan muak dengan Fic ini? Review ?

Atau sampai disini saja?