TRIMESTER KEDUA : Chapter 4
Iruka merasa dirinya tak akan bisa lagi menyangkal dan menutupi kehamilan nya. Empat bulan! Well, kenyataan nya selama Iruka mengenakan kemeja dengan 1 atau 2 size lebih besar, dia bisa terlihat seolah lebih gemuk. Tapi tidak selamanya Iruka bisa mengandalkan kemeja dan celana besar. Co-worker di kantor mulai melihatnya dengan tatapan curiga. Apalagi Nona Tsunade. Beliau mulai mengikuti Iruka dengan tatapan nya yang terkenal bisa menembus dinding. Bisikan-bisikan soal kenapa Iruka-San sering bolos dan ke kamar mandi, membuat Iruka agak risih. Mereka mulai memaksa Iruka mengatakan yang sebenarnya.
Karena suka atau tidak, perut Iruka mulai membulat!
Ya walau belum sebesar itu, tapi jika Iruka meletakkan tangan didadanya dan mengelus sampai ke perut, ada bulatan yang Iruka tak bisa lewatkan kalau bayi nya mulai tumbuh!
Iruka tidak berfikir kalau hal itu akan membuatnya kesal. Dan dia sedang ada di trimester kedua nya. Menuju bulan ke lima, terlalu cepat untuk sebuah kehamilan. Saat Iruka menelfon Dokter Kaho soal keadaan nya, Dokter Kaho menenangkannya kalau hal ini biasa, dan Iruka tidak perlu panik. Seiring pertumbuhan si jabang bayi, tubuh Iruka juga akan membesar.
Jadi, Iruka merasa dipaksa untuk memberitahu semua orang tentang hal ini. Selain itu Dokter Kaho juga sudah memperingatkan Iruka tentang gaya hidup nya yang harus dirubah. Agar kehamilan nya bisa sehat tanpa harus membahayakan si bayi atau kelahiran yang cacat. Meskipun Iruka merasa dia jauh dari siap untuk memiliki seorang bayi, jika Iruka akan tetap menyimpanya, dia akan melakukan apapun asal si bayi tetap sehat. Dokter Kaho menyarankan agar Iruka mengambil cuti dari kegiatan pekerjaan nya yang tidak mengenal waktu.
Hari Sabtu itu, kebetulan Nona Tsunade sedang berkunjumg ke White Fang Inc, membahas soal kerjasama dengan Senju Corp. Sabtu sebenarnya office tidak ada kegiatan, Iruka merasa kunjungan itu hanya alasan Nona Tsunade kabur dari kantornya sendiri dan dengan bebas bisa minum sake dengan para petinggi WF. Jadi saat Nona Tsunade dan Anko sedang berkelakar soal taruhan, Yamato sibuk dengan proposal "Selamatkan Bumi Dengan Menanam Pohon" (Senju Corp mendukungnya), dan Tuan Jiraya membujuk Kakashi untuk membantunya menerbitkan novel yang dia sebut akan meledak dipasaran (siapa yang tahu?) Iruka memutuskan untuk menguak nya sekarang.
Dengan mengenakan celana yang biasa dia kenakan (Dokter Kaho tidak akan menyukai ini) dan kemeja yang sesuai dengan size nya. Iruka bercermin dan memastikan kalau 'Baby Bump' nya terlihat. Iruka tidak ingin dianggap halu oleh Co-Workernya. Terakhir Iruka kenakan Coat-nya yang sepanjang lutut.
"Soal apalagi ini? Kakashi memutar kursi nya menghadap Iruka, menghentikan tawaran Jiraya yang menggebu-gebu. "Aku harus segera pergi, ada meeting dicabang perusahaan." Ucap Kakashi sambil melirik jam tangan nya.
Iruka memicingkan matanya. Dia tahu yang Kakashi maksud adalah dia ada kencan dengan seseorang di meeting itu! Sakit, saat beberapa minggu setelah perpisahan mereka, Iruka menemukan Kakashi sedang bersama seseorang. Beberapa kali Iruka memergoki mereka sedang ngobrol berdua di ruangan Kakashi. Rambut coklat panjang dan mata yang jernih. Hanare? Atau siapa? Iruka tahu dari Anko kalau Hanare adalah Head Office White Fang inc. di luar Konoha. Iruka yakin Kakashi dan orang itu sedang dalam suatu ikatan. Berkencan mungkin? Iruka merasa mual, bukan karena kandungannya tapi saat dia melihat Hanare selalu bersama Kakashi.
"Ini penting dan tidak akan lama." Iruka menunggu sampai Tuan Jiraya selesai bergumam karena diabaikan oleh semua orang. Dan Anko mengakhiri pembicaraanya dengan Nona Tsunade. Juga Yamato yang meletakakan lagi proposalnya dimeja.
"Soal apa Iruka?" Tanya Anko tertarik, Iruka bisa melihat itu dari matanya yang tulus.
"Aku- uhhgg, aku sudah ke dokter dan memastikan keadaanku saat ini. Juga aku mengunjungi Beberapa ahli nutrisi dan terapi."
Kakashi nampak terkejut. Dia menegakkan cara duduk nya. "Dokter? Kau kenapa?" Ada rasa kawatir yang terdengar disana tapi Iruka tak ingin terlalu berharap.
"Iruka?" Panggil Yamato pelan "apa ini soal..."
"Soal apa!?" Ucap Kakashi marah. Dilemparnya tatapan kesal ke Yamato. Iruka melihat wajah Kakashi yang terlihat cemburu.
Iruka berbicara sekali lagi dengan gugup "Empat bulan yang lalu aku periksa ke dokter karena merasa pusing dan mual. Ak-akkuu tidak mengatakan apapun karena aku tak mau membuat semua orang khawatir. Aku juga merasa masih sanggup menangani kewajibanku di perusahaan. Aku tak bisa mengacaukan White Fang ataupun Senju Corp."
"Seburuk itu"? Tanya Anko, suaranya bergetar, "Kau sakit apa Iruka?"
"Kenapa kau tak bicara pada kami Iruka"? Tuntut Nona Tsunade "Kami semua pasti mengerti. Tidak ada yang lebih penting daripada kesehatan kita semua."
Seperti yang sering terjadi, semua orang mulai berspekulasi sendiri-sendiri. Pembicaraan yang seharusnya fokus pada Iruka mulai melebar. Iruka hanya bisa berdiri dan memperhatikan, Kakashi dan Yamato berdebat soal 'kenapa masih ada rahasia yang Yamato tidak sampaikan ke Kakashi' apalagi menyangkut soal Iruka, dan Nona Tsunade serta Anko saling berpendapat 'sakit' apa yang sudah di idap oleh Iruka, lalu Tuan Jiraya ikut menimpali perdebatan keduanya. Membuat Iruka tambah khawatir karena penyakit yang dipikirkan oleh ketiga nya menakutkan semua, lebih menakutkan daripada rahasianya soal bayi ini.
"Hei," Iruka mencoba mengembalikan perhatian semua orang pada dirinya, Iruka menghembuskan nafas kesal karena diabaikan. Dia melepas Coat-panjang nya dan melemparnya begitu saja kelantai. Kedua telapak tangan dia letakkan diatas perutnya yang bulat (walau belum terlalu bulat). "HEI!" Teriak Iruka lagi, dan kali ini cukup keras.
Orang pertama yang mendengar seruan Iruka adalah Anko. "Kau Hamil!" Dan seisi ruang meeting itu langsung sunyi.
Iruka mengangguk. "Empat bulan- Ak akkuu benar-benar minta maaf. Aku tak pernah menginginkan ini terjadi".
"Kupikir kau sudah melakukan aborsi!" Yamato berdiri dari kursinya, berteriak tak percaya.
"Aborsi?" Kakashi ikut berdiri, wajahnya semakin kesal. Di raihnya kerah baju Yamato, layaknya sehelai kertas, Kakashi mencengkeram leher Yamato "Kau tahu soal ini dan diam?"
Nona Tsunade berulang-ulang mengambil nafas dalam-dalam. Berkali-kali dilihatnya Iruka sambil bergumam "Kami Sama". Dan Tuan Jiraya mencuri kesempatan untuk memeluk eehhmmm menenangkan Nona Tsunade.
Dan Anko, berkati Anko wahai Kami-Sama, berdiri dan berjalan ke arah Iruka lalu memeluknya. "Boleh aku sentuh?" Tanya Anko tulus, Iruka yakin mata Anko terlihat seperti anak umur 5 tahun yang sedang berada ditoko mainan.
"Ya, tentu. Tapi, dokter bilang ini masih terlalu dini untuk merasakan gerakan nya".
Anko membelai lembut perut Iruka. "Wow," ucap Anko tak percaya. "Kau tau Iruka, kau bisa mengandalkan ku, aku akan membantumu mengasuhnya. Well, kami semua akan bantu".
Iruka terkekeh pelan, lalu tersenyum saat Anko memeluknya dan berbisik ucapan selamat.
Selepas pelukan Anko, tiba-tiba Iruka merasakan cengkraman dilengan nya. Dan tatapan Kakashi yang menghakimi "Bayi ini milik ku?"
"Bayi ini milik mu"? Iruka mengulang pertanyaan Kakashi. Kami-sama! Ingin rasanya Iruka menjerit. Kau pikir siapa lagi kalau bukan milikmu?
"Ya?" Kakashi mencari di kedua bola mata Iruka. "Milik ku atau bukan?" Ulang nya lagi.
Jika bukan karena ada kesempatan dan tidak ingin Iruka mengacaukan kehidupan Kakashi, ingin rasanya Iruka beradu argumen lagi kalau dia tidaklah tidur dengan sembarangan orang. Tapi Iruka mengalihkan tatapan nya dan menjawab "Bukan."
Iruka bergidik mendengar pintu ruang meeting dibanting oleh Kakashi saat dia berjalan keluar.
Iruka melihat saat Nona Tsunade juga ikut keluar mengikuti Kakashi, Tuan Jiraya juga sebelum meninggalakn ucapan selamat pada Iruka. Anko dengan senyumnya dan lambaian tangan pun ikut keluar. Memberi Iruka sedikit ruang. Alasan mereka.
Tinggallah Yamato dan dirinya.
"Kenapa kau membiarkan ku berfikir kalau kau sudah melakukan aborsi?" Tanya Yamato ke Iruka tanpa nada menghakimi. "Aku akan membantu mu Iruka."
"Seperti saat aku akan aborsi?" Tanya Iruka kembali. "Tolong Yamato" Iruka memijat pelan kening nya yang mulai berputar. "Aku butuh waktu cukup lama untuk memutuskan hal ini. Tolong jangan paksa aku lagi untuk menjawab pertanyaan mu."
Yamato, berusaha menjadi teman yang bisa diandalkan, meraih Iruka dan memeluknya "Kau berbohong pada Kakashi," tekan Yamato lagi. "Dan aku mengerti perasaanmu."
Iruka memejamkan matanya dalam pelukan Yamato "Thanks."
-TBC-
NB: Male!iruka or Female!iruka, i leave it to your imagination folks!
AU!kakairu pair is so much easier than Canon!kakairu. Percayalah pemirsa, saya ingin ketik fic about shinobi kakairu. But i just can't! D':
And leave a review maybe?
