AN : gomen nee.. maaf atas keterlambatan update nya. Padahal tulisan ini sudah memiliki akhir & akan ada sekitar 9-10 chapter saja. Tapi ya itu, :D tidak ada yg bantu ngedit dll. Kadang masih harus perbaikan sana sini, soalnya ada kalimat2 yg jatoh nya malah bikin bingung pemirsa...
Jadi karena Iruka batal aborsi & yakin akan menyimpan bayi nya, ada ide kah si bayi ini nantinya cewek/cowok? Atau kembar? Atau kembar 3 ? :D
TRIMESTER KEDUA : Chapter 5
Hal seperti ini tidak bisa jadi rahasia selamanya, itu yang Iruka tahu pasti. Reaksi Kakashi, Nona Tsunade dan yang lain sangat syok pada awalnya dan Iruka tidak mengharap lebih. Tapi selanjutnya, mereka terlihat men-support, senang mungkin? Nona Tsunade mencalonkan diri untuk menjadi God Mother si jabang bayi. Bersumpah akan melindunginya atas nama tahta Senju, yang menurut Iruka terlalu berlebihan. Tapi karena Nona Tsunade dalam keadaan 'sedikit' mabuk, Iruka hanya meng-iyakan nya. Karena tanpa anggukan itu Nona Tsunade tidak melepas cengkraman di tangannya.
Anko pun selalu tampak takjub dengan perut Iruka. Uuuhhhh agak menjengkelkan untuk Iruka. Dan Yamato, tidak berbeda jauh dari Anko. Walau yang dilakukan Yamato tidak lain adalah selalu mengikuti Kakashi kemana pun dia pergi.
"Aku khawatir Kakashi akan melakukan sesuatu ke Scooter" jawab Yamato saat Iruka bertanya.
"Scooter? Kau memanggil anakku Scooter?" Iruka bertanya lagi tak paham.
Yamato menggendikkan bahu nya. "Kau tak akan percaya apa yang Anko dan Tuan Jirayya memanggil bayi mu, Iruka. Panggilanku untuknya masih normal."
Dan Iruka tak mau bertanya lagi dan tak mau tahu lagi apa yang seluruh Kantor akan manyebut anaknya nanti. Toh bayi ini miliknya.
Pagi itu seperti biasa, Iruka yang menumpang mobil jemputan Kakashi. Sejak Iruka bekerja di White Fang inc, Iruka sering dijemput saat berangkat waktu ada pekerjaan yang belum mendapat persetujuan dari para petinggi perusahaan, alias Kakashi-Senpai.
"Kau perlu melihat lagi bagian ini Kakashi, mereka perlu persetu..." kalimat Iruka terpotong karena mobil mereka berhenti mendadak. Iruka melihat keluar jendela mobil "Kita masih diluar area parkirkan?"
Iruka menaruh kembali dokumen yang digengamnya ke jok mobil. Dan melihat kedepan.
"Uhhh Kakashi-Senpai". Panggil Yamato yang duduk disamping supir "Kita harus menerobos ini atau mundur saja?"
Mata Iruka membulat tak percaya. Iruka berharap berita kalau kehamilannya bisa ditunda sedikit lebih lama. Dirinya baru saja berdamai dengan keadaan bahwa beberapa bulan kedepan dia akan punya bayi yang 50% mirip dirinya dan 50% mirip Kakashi. Tapi kenyataan tidak mendukung Iruka.
"Kau membuat masalah apalagi Kakashi?" Tuduh Iruka pada atasannya.
"Apa?" Tanya balik Kakashi tak paham.
Memicingkan matanya Iruka menjawab "Semua orang tau kalau wartawan ini berkumpul pasti karena tingkah mu, foto atau video apalagi yang tersebar kali ini?"
"Hei! Aku tidak pernah lagi pergi ke bar dan mabuk lalu merayu wanita yang ku temui setelah kita berkencan Iruka! Kau jangan menuduhku!" Bantah Kakashi, tanpa sadar kalau bukan hanya Yamato yang ada didalam mobil itu. "Lagi pula mmmppphhhh..." kalimat nya terpotong oleh tangan Iruka yang menutup mulut Kakashi.
"Iruka, aku rasa seluruh kantor sudah tau kalau kau dan Kakashi-san pernah punya hubungan," Aoba sang supir menanggapi sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
"APA!?"
Kakashi melepaskan tangan Iruka dari mulutnya "Sekarang bagaimana kita keluar dari sini?"
Iruka melemparkan tatapan marah ke arah Kakashi, uuhhh marah yang terlihat imut dimata Kakashi.
"Aku sudah hubungi pengawal mu Senpai, mereka akan tiba sebentar lagi," terang Yamato yang sibuk mengirim pesan singkat lewat ponsel nya.
Tak lama kemudian jendela kaca mobil dimana Yamato duduk diketuk, diturunkannya kaca mobil "Kami sudah disini, Kakashi-san bisa keluar bersama kami".
Iruka melihat dari balik bahu Kakashi ada 3 pengawal pribadi nya, Shiranui-San dan Namiashi-san lalu seorang lagi yang Iruka hanya bisa melihat punggung nya.
"Ya," jawab Yamato "Kau sudah siap Senpai?" tanya nya lagi ke Kakashi.
Kakashi menjawabnya dengan anggukan, lalu menoleh ke Iruka "Tetap berada didekat ku dan aku bukan penyebab masalah ini", jelasnya ke Iruka dengan tatapan serius.
Iruka menelan ludahnya dan menggangguk. Didalam hati nya, Iruka sungguh masih sangat menyayangi Kakashi. Masih sangat menginginkan kehadiran nya, meski hal itu Iruka tutupi. Sakit saat Iruka menyaksikan Kakashi terlihat dekat dengan beberapa wanita.
Sebenarnya fans mob atau wartawan pencari berita bukan kali ini saja mengejar Kakashi, sudah sering dulu saat mereka berdua diam-diam berkencan diluar. Main kucing-kucingan dengan paparazi atau co-worker, yang menurut Iruka mereka (co-workers) itu tidak tahu kalau mereka punya hubungan. Oh what an innocent thought, pemikiran mu sangat lugu, Iruka ^^
Iruka menarik nafas dalam-dalam sambil memegangi perutnya yang bulat. Berlari benar-benar bukan pilihan yang bagus untuk dirinya saat ini. Kehamilannya yang sudah memasuki usia 5 bulan ini, Iruka merasa dia selalu membawa beban setengah berat tubuhnya.
Saat pintu mobil dibuka, saat itu juga Iruka merasa ingin menghilang. Lampu kilatan kamera dan teriakan paparazi membuatnya sesak. Iruka bukan orang yang claustrofobia, tapi dirinya merasa seperti itu saat melihat betapa crowded-nya keadaan yang dihadapinya sekarang.
"Kakashi-San!" Benarkah Anda sekarang berpacaran dengan Hanare-San?"
"Kakashi-San! Tolong komentar nya sedikit mengenai ... !"
"Kakashi-san!"
"Kakashi-San!"
Iruka merasa dirinya hanyut dalam lautan manusia, walaupun dengan pengawalan ketat Tim security White-Fang. Iruka merasa keadaan disekitarnya mulai sesak, udara disekitarnya mulai memanas, pandangan Iruka mulai memudar.
Tangan-tangan paparazi itu mulai menyentuh kulitnya. Membuatnya gatal dan ingin lari.
"Iruka-San! Bagaiman dengan berita soal bayi mu adalah milik Kakashi-san?"
Tiba-tiba Iruka merasa paparazi mulai mendesak maju ke arah nya. Iruka kehilangan keseimbangan, dirinya merasa seakan melayang. Tanpa sadar dirinya berusaha meraih Kakashi dan menjerit. Tenggorokan nya terasa kering dan Iruka menjadi panik. Sedetik kemudian lutut Iruka kehilangan kekuatan nya, 'aku akan jatuh! Bayiku!' Pikirnya kalut.
Disaat yang bersamaan, Iruka merasa sebuah lengan kekar melingkar diantara pinggang nya. Membawanya kembali ke alam nyata. Dan sesaat setelah itu, Iruka sadar, wangi cologne yang familiar. Percaya dengan lengan kekar dan wangi itu, Iruka membiarkan dirinya dibimbing keluar dari barisan Paparazi.
'Kakashi' guman Iruka.
Ya! Kakashi. Kakashi akan menjaga nya. Kakashi mendorong barisan Paparazi dan melindungi Iruka dari mereka.
"Mundur kalian!" Iruka mendengar Kakashi berteriak "minggir! Beri jalan!".
Lalu, Iruka merasa angin segar menerpa wajah nya. Detik itu juga Iruka tahu jika dirinya sudah aman dan memasuki area lobby kantor.
Jari-jari Iruka meremas lengan Kakashi dan membisikkan do'a untuk sejenak saja agar bisa sedikit lebih lama dekat dengan Kakashi.
Kakashi telah mengetahui tentang kehamilan nya. Berminggu-minggu setelahnya Kakashi dan dirinya bahkan tak berbicara satu sama lain, rasa sakit dan pengkhianatan terlukis jelas di wajah Kakashi. Selama itu juga Iruka ingin sekali menjelaskan siapa ayah dari bayinya. Dan setelah masa-masa itu belum pernah sekalipun dirinya merasa dekat dengan Kakashi.
Iruka belum mau melepaskan pelukan nya. Adrenalin yang mengalir dalam darah nya sejak dalam mobil tadi belum lah hilang. Perlahan Iruka membuka bola matanya, yang sedari kejadian 'fans mob' ditutup rapat-rapat, "Terima kasih." Bisik Iruka pelan.
"Kau baik-baik saja, tidak ada yang sakitkan?" Bisik Kakashi juga, "maksud ku kalian berdua?" Perlahan tapi pasti, tangan besar Kakashi menyentuh perut bulat Iruka. Berusaha untuk waspada kalau-kalau Iruka tidak ingin dirinya disentuh oleh Kakashi.
Iruka menahan nafas nya, dijawabnya pertanyaan itu terbata-bata "Yaa -yaaa- Kami, bayi ku dan aku, kami-ba-baaiikk." Tangan Iruka mengikuti gerakan Kakashi. Saling mengenggam dan membelai perutnya. Iruka berusaha tegar, menunggu sikap Kakashi berikutnya. Sebelum nya belum pernah Iruka merasa Kakashi ingin membelai perutnya, ada beberapa waktu Iruka memergoki Kakashi sedang menatap perutnya. Dan diwaktu itu Iruka merasa Kakashi membenci bayi nya.
"Di-diaa apa sudah bergerak?" tanya Kakashi canggung.
Senyum kecil terukir dibibir Iruka. "Belum, tapi dia akan mulai menendang diminggu-minggu ini."
Tangan Kakashi mulai mengelus bulatan perutnya perlahan, dan Iruka menyambutnya, ada rasa hangat menjalar dalam dadanya.
"Bayi ya?" Gumam Kakashi lagi. "Ini seperti langkah yang besar untuk kau ambil. Kau selalu bilang tidak ingin memiliki anak, setidak nya bukan untuk saat ini."
"Ak-aku sendiri juga tak mengira." Jemari Iruka menggenggam tangan Kakashi. "Tapi aku menjalani nya. Hanya saja aku tak akan sanggup untuk menghadapi ini sendiri."
Kakashi menarik nafas panjang, "Ada aku, kau tak perlu sendirian."
"IRUKAAA!" jeritan Anko menggema keseluruh lobby. Iruka dan Kakashi langsung melepas genggaman tangan mereka. Iruka mengerang pelan, sebenar nya ingin sedikit memaki juga.
"Iruka! Kau tidak apa-apakan?" Tanya Anko, khawatir.
Iruka memalingkan pipi nya yang memerah, 'dasar tidak lihat-lihat situasi'
"Irukaaa!" Rajuk Anko lagi "kalian kenapa sih?"
Iruka hanya menggelengkan kepalanya dan menghindari tatapan mata Kakashi. 'tadi itu apa?' Pikir Iruka tak mengerti.
Bersambung :) :) :) :)
Jika ada pertanyaan atau komentar, (nyinyir juga boleh) silakan review :))))))
