Mama Huang tak kuasa menahan air matanya saat di bandara. Seberapa kuat pun beliau meyakinkan dirinya untuk tidak menangis, pada kenyataannya mama Huang malah menitikkan air mata sembari mencengkram lengan kurus Renjun. Diusapnya air mata sang ibunda tercinta dan dipeluknya tubuh wanita paruh baya itu. Renjun yang memang dasarnya sensitif, malah ikutan menangis. Ningning yang tidak ingin ketinggalan momen haru tersebut, ikutan memeluk sang kakak. Mereka bertiga berpelukan dan papa Huang hanya bisa mengusap-usap punggung istrinya.

"Sudah sudah, kalian jangan sedih. Renjun hanya satu bulan di Perancis." Ucap Renjun, berusaha terdengar stabil.

Mama Huang dan Ningning masih bergeming, tidak berniat melepas pelukan mereka.

"Sayang, sudahlah. Ini keputusan Renjun, jangan buat ia terbebani." Bisikan papa Huang pada istrinya itu berhasil membuatnya melepaskan pelukannya walau dengan sangat amat terpaksa.

"Renjun, berjanjilah untuk menjaga dirimu selama disana. Makanlah dengan teratur, agar tidak sakit. Tidurlah jika kau kelelahan belajar. Tetaplah sopan agar mereka mau menerimamu. Jangan suka keluar sendiri, nanti kau tersesat. Jangan mau menerima ajakan orang asing. Dan—"

"Jangan lupa hubungi mama, papa, dan Ningning. Ma, Renjun bersumpah ini sudah keseribu kalinya mama mengatakan itu. Renjun mengerti apa yang harus Renjun lakukan, mama jangan khawatir."

"Ge, hubungi aku jika ada yang berani macam-macam dengan gege." Ningning melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya dengan kasar.

"Memangnya kamu mau apa?"

"Aku akan melawannya!"

"Memangnya kamu bisa?"

"Tidak bisa, sih... hehe." Ningning menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kemudian, terdengar pembina yang meminta para mahasiswa pertukaran pelajar untuk siap-siap dan berkumpul. Bersamaan dengan itu, para mahasiswa berpamitan pada keluarga mereka. Begitu juga Renjun yang memberikan pelukan untuk keluarganya sebelum ia terbang ke Perancis.

"Jaga diri baik-baik ya, nak. Kami akan sering menghubungimu." Ucap papa Huang sembari tersenyum dan menepuk pundak anak laki-lakinya.

Renjun mengangguk dan mengucapkan salam perpisahan untuk keluarganya. Ia kemudian berlari kecil ke arah rombongan mahasiswa pertukaran pelajar.

Enchanté

"Permisi... permisi..."

Seorang pemuda dengan sopan meminta izin untuk lewat sembari mencari nomor bangkunya. Ia terus menggumamkan nomor bangkunya hingga matanya menangkap hal yang ia cari. Kedua ujung bibirnya tertarik keatas setelah ia tahu dengan siapa ia akan duduk. Dengan cepat, pemuda itu melangkahkan kaki panjangnya menuju bangkunya yang juga bangku seorang pemuda manis yang baru ia temui.

"Hai"

Renjun menoleh dan mendapati seorang pemuda yang ia ketahui sebagai salah satu peserta pertukaran pelajar sedang tersenyum padanya.

"Oh— halo." Jawab Renjun sambil sedikit membungkuk.

"Kamu salah satu peserta pertukaran pelajar, kan?" Pertanyaan yang retoris. Sebenarnya pemuda tampan itu bermaksud basa-basi, tapi karena terlalu gugup malah itu yang keluar dari mulutnya. Padahal, pemuda tampan itu telah menaruh perhatian pada pemuda manis di sebelahnya sejak beberapa menit yang lalu.

"Mmm... ya..."

"Perkenalkan, namaku Hyunjin. Hwang Hyunjin." Ia tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Renjun mengakui senyum itu sangat manis hingga mau tak mau Renjun ikutan tersenyum.

"Aku Huang Renjun. Panggil saja Renjun."

'Namanya Huang Renjun!! Marga kami sama!!" Teriak Hyunjin dalam hati karena berhasil mengetahui nama pemuda manis incarannya. Mereka asyik mengobrol hingga ada saat dimana ucapan Hyunjin membuat Renjun sedikit tidak nyaman.

"Aku masih tidak percaya bisa satu bangku denganmu, Renjun. Memang jodoh tidak kemana. Iya, kan? Bahkan marga kita sama. Aku tidak percaya ini..." Hyunjin mencengkram lengan kanan Renjun yang sontak membuat mata pemuda manis itu membulat sempurna.

"Hehe..." Renjun tertawa hambar. Perlahan melepaskan cengkraman Hyunjin dari lengan kurusnya. Awalnya, Renjun biasa saja dengan ucapan Hyunjin, namun pemuda itu semakin sering menyelipkan kalimat itu ditengah-tengah obrolan mereka dari semenjak pesawat take-off hingga saat ini. Hal itu membuat Renjun tidak nyaman.

Tiba-tiba, datanglah seorang pemuda yang tampak tergesa sambil menengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada pramugari yang mengawasinya. "Hei, maaf mengganggu. Bisakah kita bertukar tempat duduk?"

"Kau bicara apa? Ini seat-ku dan akulah yang seharusnya duduk disini." Hyunjin terlihat kesal pada seorang pemuda lain yang memintanya untuk tukar seat. Enak saja pikirnya, ia sedang proses pendekatan dengan Renjunnya.

"Iya, aku minta maaf. Tapi, ini sangat penting. Aku mohon!" Pemuda itu menempelkan kedua telapak tangannya dengan tatapan memelas berharap bahwa pemuda tampan di hadapannya ini mau bertukar tempat duduk dengannya.

"Tidak!" Hyunjin menegaskan. "Kembalilah ke seat-mu atau aku akan melaporkanmu pada nona pramugari!"

Renjun menengok pemuda yang sedang memohon pada Hyunjin itu dan sedikit mencondongkan badannya ke depan untuk melihat name-tag nya. Sebuah lampu imajiner di kepala Renjun menyala, ia menyeringai tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

"Yangyang?"

Hyunjin dan pemuda yang sedang memohon tadi sontak menoleh pada Renjun. "Kamu mengenalnya?"

"Iya, dia Yangyang temanku saat di Cina.— Hai Yangyang, kau ingat aku? Aku Renjun." Renjun melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria seakan-akan ia telah mengenal Yangyang sejak lama.

Awalnya, pemuda yang dipanggil Yangyang itu kebingungan. Namun, otaknya memproses dengan cepat bahwa itu adalah sebuah kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidupnya untuk menghindari teman sebangkunya. "Ah, ya! Aku mengingatmu, Renjun! Kau ikut pertukaran pelajar juga?"

Renjun hanya mengangguk mengiyakan. Melihat interaksi antara dua pemuda yang baru ditemuinya beberapa jam yang lalu itu lantas membuat Hyunjin kebingungan.

"See? Dia temanku saat di Cina dan kita butuh untuk duduk bersama untuk saling bertukar cerita."

"Ya, ya. Aku mengerti kalian teman, tapi bukan berarti kau bisa duduk di seat-ku. Iya kan, Renjun?" Hyunjin menatap Renjun penuh harap.

"Maaf, Hyunjin. Tapi, kau tahu kan perasaan bahagia seorang anak yang baru saja bertemu teman lamanya?" Renjun mengucapkannya dengan nada yang lembut ditambah puppy eyes-nya. Sial! Hyunjin lemah! Dan ia menyalahkan dirinya sendiri untuk itu karena pada akhirnya, Hyunjin menyerah untuk memberikan bangkunya pada pengacau bernama Yangyang itu dan beranjak dari sana. Dengan sumringah, Yangyang mendudukkan dirinya di bangku yang tadinya Hyunjin tempati itu.

"Terima kasih, Renjun. Hahh, akhirnya aku bisa bebas dari si tukang pamer Felix itu. Dia tidak bisa diam, sepanjang perjalanan ia hanya akan bercerita tentang dirinya yang pernah mengunjungi Perancis. Padahal ia hanya kesana sekali saja! Bisa kau bayangkan betapa panasnya telingaku mendengarkan ocehannya tentang Perancis ini, Perancis itu sepanjang perjalanan. Ia bahkan sudah menceritakannya padaku saat pertama kali ia menghubungiku. Aku sampai hafal semua ceritanya! Menyebalkan. Maaf, ya aku cerewet. Aku hanya merasa lega akhirnya bisa terpisah dari si tukang pamer Felix itu."

"Tidak apa-apa, kok." Renjun hanya bisa tertawa mendengar curhatan panjang lebar Yangyang.

"Oh, ya. Ngomong-ngomong, apakah kita pernah mengenal sebelumnya? Aku terkejut kau tahu darimana nama dan asalku."

"Tidak, tidak pernah. Aku hanya melihat name-tag mu dan berasumsi bahwa kau adalah orang cina."

"Daebak!"

"Kalau begitu, ayo kita berkenalan secara resmi. Aku Liu Yangyang. Aku berasal dari Cina." Yangyang menjulurkan tangannya sembari tersenyum.

"Aku Huang Renjun, aku juga berasal dari Cina." Renjun menerima uluran tangan Yangyang dan balas tersenyum.

"Oh iya, ngomong-ngomong, Renjun. Kenapa kau mau membantuku supaya aku bisa duduk disini?"

"Hmm, entahlah. Ketika melihatmu memohon seperti tadi, rasanya aku akan menyesal jika membiarkanmu begitu saja."

"Ups, kurasa aku telah membuatmu menyesal karena telah menolongku. Kau sudah menolongku dan bukannya terima kasih, aku malah curhat. Maaf, ya?" Yangyang mengerucutkan bibirnya lucu.

Renjun meletakkan jari telunjuknya di dagu dan malirik keatas, membuat gestur berpikir. "Hmm tidak apa-apa, kurasa aku akan lebih menyesal jika tetap membiarkanmu." Renjun tersenyum simpul membuat Yangyang ikutan tersenyum.

"Kau baik sekali. Kau juga punya senyuman yang indah, Renjun. Aku harap, kita akan tinggal di rumah keluarga yang sama saat di Perancis nanti." Yangyang berujar penuh harap dan Renjun menemukan itu sangat imut.

"Aku harap juga begitu." Well, Renjun merasa Yangyang cocok dengannya dan ia juga berharap agar mereka berdua bisa menjadi seorang sahabat.

Enchanté

Jeno baru saja pulang dari kegiatan di kampusnya dan melewatkan makan malamnya karena terlalu lelah. Ia berencana untuk langsung masuk ke kamarnya, mandi dan lanjut untuk tidur. Namun, kamar tamu yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamarnya telah mencuri perhatiannya. Kaki panjangnya melangkah menuju kamar tamu itu, tangannya meraih gagang pintu dan membukanya. Kamar tamu itu terlihat lebih layak dan nyaman karena ibunya telah mengganti catnya dan melengkapi fasilitas kamar itu. Tidak dapat dipungkiri kalau Jeno merasa sedikit penasaran dengan orang yang akan menjadi tamunya satu bulan kedepan. Ya, kamar itu akan menjadi kamarnya yang mana sangat dekat dengan kamar Jeno.

Drrt drrt

Jeno merasakan ponselnya bergetar di dalam sakunya. Ia lantas mengambil ponselnya dan melihat layar yang menampilkan satu notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal.

'Kau tidak ingin kembali ke Korea?' Rahangnya mengeras karena membaca pesan itu sekilas. Ia tahu siapa dalang dibalik nomor tidak dikenal itu karena selama beberapa bulan belakangan ini, orang itu selalu mengiriminya pesan dengan nomor yang berbeda-beda karena Jeno sudah memblokirnya berkali-kali.

'Kau tidak ingin mengunjungi ibumu?' Ponselnya bergetar lagi dan Jeno semakin geram dengan isi pesan tersebut karena orang itu membawa-bawa ibunya.

'Ya, tentu saja kau tidak akan kembali. Jaehyun sepertinya sudah benar-benar memberimu kehidupan yang sempurna hingga kau lupa daratan hahaha.'

Jeno semakin mengeratkan cengkraman pada ponselnya. Giginya bergemeletuk menahan amarah. Orang itu telah membawa-bawa ibu dan ayahnya untuk memancing Jeno agar mau membalas pesan darinya. Dengan cepat, ia mencari opsi 'block' dan mengetukkan jempolnya disana. Jeno sungguh muak dengan kehidupannya yang tidak pernah bisa lepas dari orang yang telah membuatnya sengsara. Mau sejauh apapun Jeno berusaha lari, orang itu seperti menghantuinya setiap waktu dan tidak akan pernah melepaskannya.

Jeno memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kemudian berbalik dan membanting pintu kamar tamu itu. Perasaan Jeno campur aduk antara marah, benci, sedih, kecewa, takut dan Jeno muak dengan semua itu. Ia benar-benar lelah dan perlu mengistirahatkan fisik dan pikirannya.

À suivre (tbc)