Naruto belong to Masashi Kishimoto.
I don't get any profit from this story.
Bacalah AN untuk cerita ini. Karena AN akan memuat alasan gue untuk bikin tiap 'opini'. Gak juga sih, tapi intinya AN penting khusus buat cerita ini.
...
OPINI
-three-
"Ibu memintaku menikah denganmu."
Perkataan itu sukses membuat Sasuke menghentikan kunyahannya. Haruno Sakura, sejak pukul enam pagi gadis itu sudah datang dan merecoki apartemennya. Padahal ini hari Minggu, kesempatan besar bagi Sasuke untuk tidur seharian, tapi gagal karena gadis berhelaian merah muda itu datang ke sarangnya.
"Kenapa?" Sasuke bertanya bingung.
"Katanya kau itu tampan, mapan, dan sopan. Tiga hal yang menurut ibuku adalah kriteria suami idaman."
Sasuke tertawa. "Jadi, kau setuju kalau aku ini tampan, mapan, dan sopan."
Sakura berdecak. "Sudah kubilang itu menurut ibuku. Aku punya kriteria sendiri."
"Oh, aku tahu. Tipemu pasti berisik seperti Naruto."
Sakura mendelik, merasa tak terima karena senior favoritnya dikatakan berisik. "Dia tidak berisik, tapi ceria!"
Sasuke mendengus. " Ya, rambutnya yang kuning itu memang simbol dari keceriaan. Norak sekali."
Tidak mau kalah Sakura pun membalas. "Apa-apaan sih kau ini. Lihat sendiri rambutmu yang mencuat itu. Jelek sekali seperti pantat ayam!"
"Setidaknya rambutku tidak mencolok dan norak seperti rambut Naruto!"
Sakura berdecak sebal. "Ck! Sudahlah Sasuke. Lihat, kau memang benar-benar bukan tipeku!"
"Kau juga bukan tipeku!"
Hening. Dua orang itu memilih untuk saling diam. Sasuke meneruskan sarapannya. Sementara Sakura menonton berita pagi tanpa minat.
"Memangnya orang yang biasa-biasa saja itu tidak pantas untuk dinikahi?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Sakura membuat Sasuke menoleh. "Jika aku mencintai pemuda biasa saja, ingin menikah, punya anak dan hidup dengannya. Apa tidak boleh. Aku tidak terlalu mementingkan materi. Cukup dengan hidup bahagia dan penuh cinta saja."
Sasuke mendengus. "Kau terlalu naif Sakura. Memangnya hidup bahagia dan penuh cinta itu tidak membutuhkan uang? Kau bilang tidak mementingkan materi? Itu hanya omong kosong. Biar kuberi contoh, kau bisa bahagia jika tidak kedinginan di musim dingin, tapi karena suamimu tidak punya uang, rumahmu tidak memiliki penghangat dan kau tidak punya cukup banyak selimut untuk anak-anakmu. Nah, apa kau masih bisa berkata bahwa materi itu tidak penting?" Pemuda itu tersenyum sinis.
"Ibumu sayang padamu, makanya dia ingin kau menikah dengan orang yang tampan, mapan, dan sopan agar hidupmu bisa terjamin." Katanya menambahkan.
Sakura mendengus kesal. "Jadi menurutmu orang-orang yang tidak tampan, mapan, dan sopan itu tidak layak untuk dipilih?"
"Well, tiap orang punya standar dan selera masing-masing Sakura. Apapun pilihamu, terserah padamu. Hanya saja kuharap kau tidak buta karena cinta dan rela menderita. Gunakan juga otakmu jangan hanya hatimu."
Sakura hanya mengangguk-angguk acuh tak acuh. "Well, terimakasih atas pidato singkatnya Tuan Uchiha."
"Sama-sama Nyonya Uchiha."
Balasan itu membuat Sakura mendelik pada Sasuke.
"Kenapa memanggilku begitu?"
"Bukankah kau calon istriku, ibumu sendiri yang menyuruh kita menikah."
Sakura makin mendelik. "Aku kan tidak mau!"
Sasuke menyeringai samar "Tapi aku mau." Dengan cepat pria itu mencuri sebuah ciuman di bibir Sakura, membuat gadis itu terkejut dan merona merah.
End.
AN.
Gue gemes kalo ada org yg rela disakitin karena cinta-cintaan apalagi sampek rela mati, OMG.
Disini gue bukannya mau bilang bahwa cowok yg gak tampan, mapan, dan sopan itu gak pantas ya. Pendapat gue kurang lebih sama kayak Sasuke. Bagi gue, tiap org itu harusnya sadar buat memperbaiki kualitas diri, itu bukti bahwa dia peduli sama dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya. Masak sih loe mau nikah sama org yg malas-malasan, gak peduli gak ada uang buat beli makan. Kalo menurut kalian gimana?
Jadi, cerita ini emang bakal memuat opini gue ya, gue harap kalian juga ikut beropini lewat kolom review. Gue gak masalah kalo kta beda pendapat, tetep gue hargain kok. Kalian bebas berpendapat asalkan sopan.
oiya, gue juga bales review kalian lewat pm bukan disini, karena enak, bisa lebih panjang dan leluasa.
Makasih buat yang udah baca, semoga cerita gue bisa bermanfaat dan menghibur kalian.
Sorry kalo masih banyak kesalahan. Gue mohon kritik, saran, dan tanggapannya.
Sampai ketemu di cerita lainnya.
