Naruto belong to Masashi Kishimoto.

I don't get any profit from this story.

Bacalah AN untuk cerita ini. Karena AN akan memuat alasan gue untuk bikin tiap 'opini'. Gak juga sih, tapi intinya AN penting khusus buat cerita ini.

OPINI

-four-


Sakura Haruno, 18 tahun, sedang berusaha keras agar bisa lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri jurusan kedokteran.

Gadis itu tengah asik mengerjakan latihan soal matematika diiringi lagu favoritnya ketika ada sebuah pesan masuk di ponselnya.

"Ingin masuk perguruan tinggi negeri atau swasta ternama? Kami bisa mewujudkan cita-cita anda. Jurusan apapun dan dimana pun dapat anda tembus dengan mudah. Kami adalah agen-agen yang telah dipercaya bertahun-tahun membantu setiap murid meraih impian mereka. Anda tertarik? Hubungi segera nomor ini. Mari bersama meraih impian!"

Sakura ternganga.

Sasuke menggeleng pelan. Gadis itu meneror rumahnya berkali-kali lalu memohon-mohon padanya sambil menangis hanya untuk meminta diajari matematika, namun kini dia malah melihat gadis itu bermain ponsel.

"Ck!" Berdecak kecil, Sasuke langsung merampas ponsel gadis itu, membuat Sakura terkaget dan mengatupkan mulutnya yang masih menganga.

"Jika kau tak niat untuk belajar, aku akan pulang."

Tersadar atas kesalahannya, Sakura langsung menggeleng keras memohon pada Sasuke agar tidak pulang.

"Sasuke jangan pulang, kumohon, aku sangat membutuhkan bantuanmu!"

"Kalau begitu matikan ponselmu!"

Sakura mengangguk mantab, menuruti perintah Sasuke dan langsung mematikan ponselnya. Namun dia kembali teringat dengan pesan yang didapatnya tadi.

"Sebelum kumatikan, ada yang ingin kuperlihatkan padamu."

Gadis itu menunjukan pesan yang diterimanya. Sasuke membacanya dengan seksama lalu tersenyum sinis.

"Oh, jadi kau tertarik dengan hal semacam ini.."

Sakura menggeleng. "Tentu saja tidak! Lagipula tidak ada jaminan bahwa orang ini bisa dipercaya, bisa saja ini hanya sms penipuan."

"Baguslah kalau begitu." Sasuke mematikan ponsel Sakura lalu melemparnya ke atas kasur.

"Tapi Sasuke, memangnya hal seperti ini memang ada?"

Sasuke mengangguk. "Ini sudah biasa terjadi."

"Lalu, apakah ada orang yang bisa masuk dimanapun dan jurusan apapun dengan cara seperti ini?"

Menghela nafas pelan, Sasuke berusaha menjelaskannya.

"Sakura, kalaupun ada memangnya kau mau apa? Ingin mencobanya juga? Jikapun kau berhasil dengan cara seperti itu, tidak akan ada orang yang bangga padamu."

Sakura terdiam, tentu saja dirinya tidak ingin berhasil dengan cara seperti itu.

"Dengarkan aku, ujian dilakukan untuk melihat apakah kau benar-benar pantas dan mampu. Bayangkan saja, jika ada orang yang sangat ingin menjadi atlet lari, tapi tidak mampu lari karena memiliki asma lalu dia tetap memaksakan diri untuk menjadi atlet dengan memakai cara kotor seperti itu. Menurutmu apa yang akan terjadi?"

Sakura berfikir sejenak. "Karena dia memaksa untuk menjadi atlet, mungkin asmanya akan kambuh dan dia bisa saja mati."

Sasuke menjentikkan jarinya. "Tepat sekali. Pada akhirnya kau hanya akan merugikan dirimu sendiri dan orang lain. Orang tua, sahabat, dan gurumu, mereka semua hanya akan kecewa padamu. Pihak yang menawarkan jalan pintas membuat orang yang seharusnya tidak layak menjadi layak. Seperti ikan yang harusnya basi, tapi diberi formalin agar terlihat baik. "

Sakura menunduk, membayangkan wajah kedua orang tuanya jika dirinya menjadi seperti itu.

"Tapi Sasuke, bagaimana denganku, aku sangat ingin menjadi dokter, hanya karena aku gagal ujian haruskah aku mundur?"

"Ujian belum dimulai, kenapa kau sudah pesimis?" Pemuda itu mengacak pelan surai merah muda Sakura, membuat Sakura merengut kesal.

"Aku tidak mengatakan padamu untuk menyerah hanya karena kau gagal ujian Sakura. Jika kau memang sangat ingin mewujudkan impianmu yang harus kau lakukan hanyalah terus berusaha sampai hal itu terwujud. Kau ingat dulu Naruto harus lima kali ujian sampai akhirnya dia diterima di jurusan arsitektur. Tidak ada jalan yang mudah, semua orang harus berusaha."

Sakura merengut, dalam diam dia membayangkan jika dirinya harus mencoba ujian berkali-kali agar bisa diterima di fakultas kedokteran. Membayangkannya saja sudah membuat gadis itu lelah.

"Tapi, bagaimana jika aku masih juga gagal setelah ujian ke sepuluh, sebelas, dua belas, bahkan ke seratus?"

Sasuke mendengus jengkel. "Itu berati kau bodoh! Sudahlah, jangan banyak bertanya, kerjakan saja soalmu!"

Sakura melotot jengkel, tidak terima dirinya dikatai bodoh. Gadis itu langsung menyambar buku matematikanya lalu mulai mengerjakan. Suasana menjadi hening ketika gadis itu mulai fokus pada soalnya. Namun, lima menit kemudian keheningan itu terpecah.

"Ehm, Sasuke, nilai dari cos 60 derajat itu berapa ya?"

Sasuke menganga tidak percaya. "Kau bilang mau masuk jurusan kedokteran, tapi cos 60 saja kau tidak tahu? Lupakan saja impianmu Sakura.. lupakan!"

Sakura tertawa kencang. "Kenapa kau sentimen sekali Sasuke, aku kan hanya bercanda."

Cup.

Sebuah kecupan mendarat di pipi pemuda itu.

"Sudah jangan marah-marah, aku minta maaf, Oke!"

Pelan-pelan rona merah menjalar. Sasuke berusaha menutupinya dengan sebuah buku besar, membuat Sakura lagi-lagi tertawa melihatnya.

End.


AN

Halo, apa kabar? Akhirnya bisa gue publish!

Well, hal ini beneran terjadi ke temen gue loh! Suer deh! Kalian pernah dapet sms kayak gini gak? Kok gue gak pernah ya. Seringnya tuh, sms mama minta pulsa atau undian berhadiah hahaha..

Saran gue sih, jangan percaya guys. Kita kan gak tahu itu bener atau enggak. Kalaupun emang beneran sih, apakah loe mau menggunakan jalan seperti itu?

Gue minta maaf karena lama gak update. Nenek gue baru aja meninggal dan gue juga lagi ngadepin ujian-ujian. Buat pejuang ujian semangat ya!


Ijinkan gue membalas review ch 3 disini, buat para pembaca yg gak login yaaa

-Kyla

"Hai Kyla! Makasih udah mau baca ceritaku. Rasulullah emang suka kesederhanaan. Gue juga suka, percayalah, gue tuh suka ngirit dan sederhana hehehe. Tapi, menurut gue mau hidup sesederhana apapun pasti akan tetep butuh materi. Karena materi itu emang penting, tapi materi bukan segala-galanya. Seperti nyawa seseorang lebih penting dari materi kan. Itu salah satu poin yg mau gue tekanin di ch 3 kmrin. Gue seneng loe mau berpendapat. Makasih ya."

-NNNN

"Hai NNNN, makasih udah mau baca dan beropini juga. gue setuju sih sama loe. kita emang harus punya banyak plan dan nggak hanya menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan. "

-sasusaku zt

"Hai sasusaku zt! Makasih udah mau baca, btw loe kok masih inget cerita gue yang itu ya. gue jadi terharu.. udah gue tulis sih, tp masih setengah mateng. sabar ya. maaf lama gak update si comeback."

-nerd94

"Hai Nerd94! Aku juga mau berterimakasih ke kamu karena udah mau baca ehehehe..semoga cerita ini bermanfaat ya!"

-guest

"Hai guest! Entah kenapa kalo ada guest yang ngereview gue selalu dag dig dug hehe.. makasih udah mau baca dan infonya soal kanker. Soal sarann loe buat ngebahas AIDS tunggu ya..insyaAllah kelar!"

-tre

"Hai Tre! makasih udah mau baca cerita aku. semoga ini bisa bermafaat buat kamu dan yang lainnya ya..ehehe

Makasih banget buat semua reviewnya! maaf buat review lain yang mungkin belum terjawab.


Makasih udah mau baca, semoga cerita gue bisa bermanfaat dan menghibur kalian.

Maaf kalo masih banyak kesalahan, mohon kritik, saran dan tanggapannya.

Sampai jumpa di cerita lainnya.