Naruto belongs to Masashi Kishimoto

I don't get any profit from this story

.

OPINI

-seven-

.

.


"Sasuke-kun, Ino terkena AIDS."

Ucapan Sakura membuat Sasuke terdiam sejenak, lalu pemuda itu menghela nafas pelan. "Ya, masuk akal." Ujarnya pelan.

"Apa maksudmu?" Sakura merasa tidak suka dengan tanggapan Sasuke karena Ino yang dikenalnya rasanya tidak akan mungkin terkena penyakit seperti itu.

"Ino itu bukan perempuan yang suka sex bebas atau mengkonsumsi narkoba. Dia gadis baik-baik, aku masih tidak percaya jika dia benar-benar seorang odha sekarang."

Sasuke terkekeh pelan. "Sedalam apa kau kenal dengan Ino, Sakura?"

"Kami sudah bekerja bersama sejak setahun lalu dan dia sangat baik padaku, Sasuke-kun." Sakura mengingat bagaimana Ino yang sabar mengajarinya saat dia masih menjadi pegawai baru.

"Ya, baiklah, anggap saja temanmu ini memang wanita baik-baik, tapi bagaimana dengan kekasihnya? Apa kau mengenalnya?"

Sakura menggeleng. "Ino tidak pernah menceritakan hubungan pribadinya."

"Lihat, kau tidak mengenalnya dengan dekat bukan." Sasuke menyeringai, membuat Sakura mendengus.

"Sai, teman Naruto adalah kekasih Ino dan Naruto bilang, pria itu suka sekali sex bebas sejak mereka masih kuliah."

Berita itu membuat Sakura kaget. Jiwa perempuannya merasa kasihan dengan Ino karena harus mendapatkan seorang pasangan seperti Sai.

"Kurasa mungkin virus itu berasal dari Sai dan Ino yang tidak mengetahuinya mau saja diajak utuk berhubungan intim." Jelas Sasuke.

"Bagaimana kau bisa tahu jika mereka memiliki hubungan?"

"Aku tidak sengaja melihat mereka berciuman saat pesta tahun baru."

Sakura mendesah lemas, masih tidak percaya jika hal ini menimpa temannya.

"Tapi, kini itu tidak lagi penting." Sakura menggelengkan kepalanya.

"Aku mengkhawatirkan Ino. Apa kini penderita AIDS bias sembuh?"

Sasuke menggeleng. "Aku tidak tahu pastinya, tapi ada kabar jika mereka bisa sembuh."

"Kuharap Ino bisa sembuh. Sejak kabar itu beredar, dia memutuskan keluar dari perusahaan karena banyak karyawan yang membicarakannya." Sakura tersenyum sedih saat mengingat Ino yang menangis di toilet setelah beberapa karyawan secara terang-terangan mengatainya.

"Itu hal yang sudah biasa Sakura." Sasuke menyaut datar.

Sakura menatap Sasuke sebal. "Tapi itu sikap yang tidak pantas untuk ditujukan! Ino membutuhkan dukungan!" Balasnya kesal.

"AIDS bukanlah penyakit yang biasa, mengingat apa penyebab dari penyakit ini saja sudah dapat memberikan kesimpulan bahwa penderitanya memiliki pergaulan yang kurang bagus. Meski mungkin ada beberapa kasus yang memang membuat mereka menjadi korban, seperti pemerkosaan. Tapi orang-orang tidak akan bertanya apa yang menyebabkanmu menderita AIDS Sakura, mereka hanya tahu kau seorang odha."

Sakura mendesah pelan. "Ya, aku mengerti, tapi selain melihat dari hal itu, banyak orang yang menjauhi penderita AIDS karena mereka mengira hanya dengan berbicara saja penyakit itu bisa menular, padahal kan tidak."

Sasuke mengangguk setuju. "Kurasa edukasi mengenai hal ini memang kurang. Masyarakat hanya tahu penyakit ini berbahaya dan penderitanya harus dihindari, tapi mereka tidak mengetahui sebab-sebabnya dengan jelas. Mereka hanya tidak tahu, kita tidak bisa menyalahkannya."

"Kupikir, sudah banyak organisasi atau komunitas tentang penyakit ini."

Sasuke mengangguk. "Ya, memang banyak, mungkin masyarakat saja yang sudah terlalu ketakutan. Kita tidak bisa mengubah pendapat dan pandangan seseorang dengan mudah, Sakura. Terlebih ini penyakit yang berbahaya."

"Kau benar." Sakura mengangguk setuju.

"Temanmu itu seharusnya tidak mau begitu saja melakukan sex dengan Sai."

Kata-kata itu tiba-tiba membuat Sakura tersentak. Gadis itu memandang Sasuke dengan melotot ketakutan. "Sasuke-kun, apa kau..apa kau..sehat?"

Sasuke mengernyit bingung. "Ya, aku baik."

Sakura menggeleng keras. "Tidak, maksudku, kau tidak terkena juga kan?" Sakura bertanya dengan perasaan was-was.

Begitu mengetahui maksudnya, pemuda itu langsung tertawa. "Oh, sayang hanya kau satu-satunya gadis yang pernah kucicipi dan aku tidak menginginkan yang lain."

Kata-kata itu membuat Sakura memerah. "Tetap saja, kita tidak boleh melakukan ini lagi. Aku takut. Lagi pula kita kan belum menikah, ini memang sudah salah dari awal."

Sasuke tersenyum minta maaf. "Ehm, sebenarnya aku sudah lama berencana untuk melamarmu, tapi aku selalu lupa membawa cincinya. Mungkin besok kau bisa ingatkan aku? Jadi kita bisa segera menikah. Bagaimana jika bulan depan?"

Sakura menganga tak percaya. "Sasuke-kun, kau ini bicara apa? Jangan bercanda mengenai pernikahan!"

Sasuke hanya terkikik geli lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya dan memasangkannya di jari manis Sakura.

"Menikah denganku bulan depan, oke!"

Lagi-lagi, Sakura hanya menganga.

.

End

.

.


Bales review

To : Mbk gitazahra, jangan nyerah ya, pasti selalu ada jalan. Ada saudaraku yang lima tahun belum punya anak, tapi dengan usahanya dari mulai ke dokter dan segala amacam, akhirnya kini dia udah punya. Semangat! :)

To : mantika m, makasih ya udah dibaca semua ehehe.. semoga bermanfaat :)


AN

.

Halo, apa kabar?

Jadi, gimana pendapat kalian?

Atau mungkin kalian pernah ngalamin atau melihat hal seperti ini?

Jadi cerita ini tuh req dari salah satu guest dari jaman dahulu kala, gue gak tahu ini sesuai ekspetasinya atau engga. Tapi ya inilah versi opini gue. Kalian bebas bisa setuju atau engga.

Btw, gak nyangka opini udah sampek chapter 7. Menurut kalian cerita ini gimana sih? Kadang pas nulis ini tuh suka ngerasa aneh karena gue ngerasa kaya curhat gitu. Sorry yaaa.

Makasih buat yang sudah baca. Semoga cerita ini menghibur dan bisa ngasih manfaat.

Sorry kalau masih banyak kesalahan. Mohon kritik, saran, dan tanggapan dengan bahasa yang baik.

See you

23 Jan 2019