Naruto belong to Masashi Kishimoto.
I don't get any profit from this story.
Bacalah AN untuk cerita ini. Karena AN akan memuat alasan gue untuk bikin tiap 'opini'. Gak juga sih, tapi intinya AN penting khusus buat cerita ini.
OPINI
-eight-
.
"Hidup ini penuh dengan pilihan."
Sakura mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Naruto.
"Kau harus memilih antara menjadi dokter atau arsitek. Kuliah di Suna atau Konoha. Lee atau Kiba."
Sakura mendengus mendengar kalimat terakhir.
Naruto hanya tersenyum menggoda padanya.
"Intinya, Tuhan memberi kita banyak pilihan dan apa yang kau pilih akan menimbulkan akibat. Baik buruknya akibat itu, kau harus bertanggung jawab."
Sakura mengangguk paham. "Kau bijak sekali hari ini? Hinata's effect?"
Sakura tertawa melihat Naruto yang merona.
"Hinata adalah salah satu pilihan terbaikku." Naruto tersenyum mengingat gadisnya.
"Ya, aku bisa melihat efeknya." Sakura mengangguk setuju.
Keduanya terdiam sejenak. Sakura menyeruput lemon teanya dan Naruto menjilati es krimnya yang sudah setengah mencair.
"Apa kematian dan kehidupan juga termasuk pilihan?"
Naruto terdiam sejenak. "Ehm, kita ambil contoh orang yang melakukan tindakan bunuh diri. Dia masih bisa hidup, tapi dia memilih mengakhirinya."
Sakura mengangguk setuju.
"Atau orang yang merokok. Mereka bisa memilih berhenti dan menjaga kesehatan, tapi mereka memilih untuk tetap merokok dan mengabaikan efeknya. Padahal kita tahu, kematian bisa saja menjadi akibatnya."
Naruto mendengus pelan. "Kau menyindirku."
Sakura terkekeh. "Kau sadar rupanya."
Naruto mendesah lelah. "Tidak mudah untuk lepas dari rokok."
Sakura memutar bola matanya bosan, alasan yang sudah basi, pikirnya. "Kita bahas lain kali saja."
"Memutuskan suatu pilihan itu tidak mudah." Naruto berujar pelan.
"Kita bisa saja mengambil keputusan secara rasional, tapi mengabaikan kehendak hati juga terasa berat."
Sakura terdiam. Ini seperti kasusnya. Sisi rasionalnya memintanya untuk menyerah mengharapkan Sasuke, tapi hatinya tidak menginginkan itu.
Sakura mendesah lelah. "Hah..meski sudah berbicara denganmu, aku masih saja bingung."
Naruto menatapnya heran. "Sebenarnya apa masalahmu? Kau sudah membuatku membatalkan kencan dengan Hinata, kau tahu."
Sakura tersenyum meminta maaf.
"Apa yang harus kulakukan dengan perasaanku pada sahabat Uchihamu itu Naruto?"
Sakura akhirnya menceritakan pokok masalahnya.
"Uchiha siapa? Kak Itachi? Paman Obito?"
Sakura mendelik karena Naruto masih juga berpura-pura bodoh dan malah menyebut kakak dan paman Sasuke.
"Ha ha, tidak lucu!" Gadis itu berkata sarkastik.
Naruto tertawa melihatnya.
"Sakura, aku tahu bagaimana perasaanmu pada Sasuke. Tapi, dari apa yang kulihat, kau sama sekali tidak ada usaha untuk hal itu. Jadi apa yang kau harapkan? Kau pikir Sasuke akan langsung menyukaimu begitu saja saat tahu kau juga menyukainya?"
Sakura mendengus. "Kau tidak tahu bagaimana rasanya. Sasuke berbeda dengan Hinata."
"Oh, apa kau menganggap Hinata itu mudah dan Sasuke sulit? Kau anggap apa perjuangan cintaku selama ini?" Naruto berkata tak terima.
"Oke, akui saja bahwa kau itu penakut dan pengecut."
Sakura langsung melotot tak terima. "Hei! Aku tidak seperti itu!"
"Tapi kenyataannya memang begitu!"
Sakura mendengus keras, berusaha memadamkan perasaannya yang tersinggung.
"Pilihanmu hanya dua, Sakura. Berjuang atau menyerah."
Sakura tahu apa yang Naruto katakan benar. Mencintai Uchiha Sasuke adalah pilihannya dan memendam perasaan itu juga pilihannya. Akibatnya, Sakura tersiksa, sakit hati tiap kali melihat pria itu dekat dengan gadis lain, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
Sakura memilih memendamnya karena dirinya takut. Takut akan penolakan dan membuatnya semakin jauh dengan Sasuke. Tapi hanya diam seperti ini juga tidak akan berefek apapun. Maka, ketika sorenya Sakura melihat pria itu selesai futsal dengan teman-teman satu jurusannya, Sakura memutuskan untuk mendekat.
"Hei, lelah?" Sapanya sambil memberikan sebotol air minum dingin.
Sasuke tampak terkejut, namun pemuda itu mengangguk dan menerima airnya. Sakura tersenyum, perjuangan cintanya akan dimulai. Jika ini berhasil, dia akan mentraktir Naruto.
.
.
End.
.
.
for mantika m, thank you so much for your support, gue udah kirimin banyak cinta ke rumah loe ehehehe
AN.
Halo, apa kabar?
Ada yang lagi diam-diam suka? Cieee
Jadi, inti dari cerita ini adalah,
1. Apa pilihan loe, ya itu hasilnya, loe harus tanggung jawab. Kalau gak mau menyesal, ya harus dipilih dengan bener-bener. Pake pemikiran yang matang, jangan hanya nurut apa kata hati.
2. Kalau loe cuma diem aja, loe gak bakal dapet apa-apa. Karena semua itu butuh usaha. Bayi aja, kalau laper karena dia belum bisa ngomong, jadi dia harus nangis biar ibunya tahu. Itu udah bagian dari usaha.
3. Bahagia itu pilihan!
Jadi, i don't know, awalnya ceritanya tadi gak gini, tapi jadinya gini. Seperti biasa, gue sering banget ngambil jalan lain secara tiba-tiba di tengah jalan. Hm.
Tapi, gue puas sama cerita ini! Meski Sasuke cuma muncul seuprit di akhir, tapi ini gue sukaaaa.
Sebenarnya, gue ragu harus masukin ini ke opini atau engga. Tapi karena bagi gue opini itu udah kaya "pengingat" jadi gue masukin ke sana, biar kalau gue khilaf, gue bisa baca dan inget deh.
Udah ya. Makasih banget buat yang sudah mau baca sampai tuntas. I know, cerita ini mungkin less conflict, lempeng, dan ya gitu lah.. tapi gue harap cerita ini bisa bermanfaat, gak sekedar bisa menghibur kalian :)
Sorry kalau masih banyak salah. Mohon kritik, saran, dan tanggapannya.
See you
29 Jan 2019
