Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
I don't get any profit from this story.
Bacalah AN untuk cerita ini. Karena AN akan memuat alasan gue untuk bikin tiap 'opini'. Gak juga sih, tapi intinya AN penting khusus buat cerita ini.
OPINI
-nine-
.
"Aku ingin bercerai."
Sasuke mengalihkan pandangan dari laptop, menatap istrinya bingung.
"Bisa kau ulangi?"
Sakura menghela nafas. Sekali lagi mengulangi ucapannya. "Aku ingin mengakhiri pernikahan kita, Sasuke-kun."
Sasuke terdiam, pria itu menatap was-was pada istrinya.
"Sakura, ini tidak lucu."
"Aku memang tidak sedang melucu." Sakura membuka galeri pada teleponnya dan menunjukan sebuah foto.
Tubuh Sasuke tegang melihat foto itu. Jantungnya berdetak cepat hingga pria itu hanya terdiam selama beberapa saat.
Sakura terdiam. Melihat reaksi dari suaminya yang bahkan tidak memberikan sangkalan membuatnya tersenyum sedih. Semua ini benar, suaminya benar-benar telah mengkhianatinya.
Di foto itu terlihat jelas sosok Uchiha Sasuke yang berada di dalam kantornya sedang mencium sekretarisnya sendiri yang Sakura tahu bernama Shion. Sakura mendapatkan foto itu seminggu yang lalu saat hendak mengantarkan makan siang kepada suaminya. Wanita itu tersenyum pedih, berusaha mengendalikan air matanya.
"Sakura.."
Sasuke mendongak menatap istrinya, namun Sakura mengalihkan pandangannya dan menghapus air matanya yang tak bisa dia tahan lagi.
"Sakura kumohon.."
Pria itu hendak meraih tangan istrinya namun Sakura menghindar.
"Aku akan meminta pengacara Yamato untuk mengurus perceraian kita."
Sasuke menggeleng. Tidak. Hal yang paling tidak diinginkannya adalah pergi dari hidup wanita ini.
"Sakura kumohon..kumohon.. aku hanya.."
Pria itu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak bisa menyusun kalimat apapun dengan benar karena jelas, tindakannya kali ini salah dan dia tidak bisa menyangkalnya.
Sakura tidak bisa menahan air matanya lagi. Wanita itu meringkuk di sofa dan menangis pilu. Sasuke merasa hancur melihat istrinya seperti ini.
"Sakura jangan menangis.."
Sasuke mendekat dan memeluk wanita itu. Sakura menjauh, berusaha melepaskan pelukan itu.
"Lepaskan aku..kau yang membuatku menangis.."
Sasuke terdiam.
"Apa yang tidak kumiliki sampai kau harus pergi ke wanita lain?" Sakura bertanya pelan.
Sasuke terdiam. Sakura sempurna. Banyak orang bilang dirinya beruntung bisa menikahi wanita itu. Ini bukan karena kekurangan Sakura, ini karena dirinya.
Sasuke menunduk. Tidak bisa menjelaskan apapun karena penjelasannya hanya akan menambah luka di hati istrinya.
Awal kedekatannya dengan Shion karena wanita itu yang selalu menemaninya di kantor dan kunjungan-kunjungan kerjanya. Shion selalu mengerti dengan masalah pekerjaannya dan membantunya meringankan beban fikiran itu. Sasuke tahu dirinya salah. Tapi dia tidak bisa menolak kenyamanan yang diberikan Shion saat pekerjaan benar-benar membuatnya pusing.
"Ceraikan saja aku."
Kalimat Sakura berhasil menyentakkan pikiran pria itu.
"Sakura, aku tahu aku salah. Tapi kita masih bisa membicarakan hal ini. Setidaknya fikirkan Sarada." Kata Sasuke memohon.
Sakura menatap pria itu. Pria yang sudah lima tahun menjadi suaminya.
"Apa lagi yang perlu dibicarakan? Semua sudah jelas. Kau berselingkuh dan yang kuinginkan hanya bercerai darimu. Kau pikir aku tidak memikirkan Sarada sebelum mengambil keputusan ini? Aku memikirkannya ribuan kali dan aku sadar, bahwa akan lebih baik bagi Sarada untuk tidak tinggal dengan keluarga seperti ini, di mana ayahnya tidak lagi mencintai ibunya."
Sasuke menggeleng. "Tidak, aku mencintaimu, sayang.."
Sakura menggeleng, mengusap air matanya yang masih tidak bisa berhenti. "Kau tidak mencintaiku, tapi kau menyakitiku."
"Sakura kumohon, beri aku kesempatan. Aku tidak akan mengulanginya lagi.." Sasuke memohon padanya dengan memelas.
"Dan apa jaminannya bahwa kau tidak akan mengulanginya lagi?"
Sasuke terdiam, tak bisa berkata-kata.
"Aku hanya ingin bercerai darimu." Ulang Sakura sekali lagi, sebelum pergi menuju kamarnya dan mengunci dirinya di sana.
Wanita itu menangis pilu, tidak menyangka bahwa pernikahannya akan seperti ini. Janji-janji dan sumpah penuh cinta hanyalah sebuah kata-kata yang tak berarti lagi.
End.
.
.
Rei : Iya boleh, kalau mau diajarin sama Sasuke harus bayar sejuta tiap jamnya, ya :)
Mirarerurero : Ya ampun, semoga hal kaya gitu gak terulang lagi ya. Saranku sih, mendingan kamu tegur aja si dia. Kasih tahu org di sekitarmu buat bantu negur. Hal kaya gitu tuh gak pantes buat dilakuin di tempat umum.
Mantika m : Setuju, kalau bagi aku, asmara itu subjeknya 2 orang. Jadi yang kerja ya dua-duanya. Gak cuma cowok doang atau cewek doang. ;)
.
.
AN
Hai, apa kabar?
Aku mau tanya, kalau kalian di posisi seperti itu, mau memberikan kesempatan kedua atau engga? Dan kenapa?
Banyak org di sekitarku yang mengalaminya dan memilih bertahan dengan alasan anak. Tapi bagiku, justru malah gak sehat kalau anak tinggal di lingkungan keluarga yang seperti itu. Ya kalau si pelaku benar-benar bertobat, kalau engga? Karena gak ada jaminannya dia bakal berhenti atau ngulangin lagi.
Oke, makasih buat yang udah baca. Maaf kalau masih banyak salah. Mohon kritik, saran, dan tanggapannya.
Btw, karena saya dan laptop lagi sama" sakit. Jadi, updatenya agak lama, sorry.
See you
1 Feb 2019
