Dear diary,

Namaku Sasuke, Uchiha Sasuke. Hari ini aku sudah belajar tentang Flask dan mencoba untuk merubah web site institusi dengan menggunakan python supaya tidak begitu ketinggalan zaman, dan juga aku memang perlu beberapa library untuk menggunakan machine learning dan python merupakan salah satu yang terbaik di kelasnya.

Design dan konsep presentasi dari Tsunade-sensei soal penerimaan maba juga sudah selesai, dan aku puas dengan semua itu.

Visualisasi data untuk skripsi juga kelar, tinggal analisis yang harus kulakukan besok. Hmm…! Apalagi yang sudah kulakukan hari ini ya? Mungkin sebagian besar hanya itu sih.

Dan untuk Hinata… Mungkin sebaiknya tidak terlalu kupikirkan karena untuk saat ini aku harus fokus dalam menyelesaikan studiku. Selain itu, ada banyak hal juga yang harus aku lakukan sebelum aku bisa ngurusin anak orang. Ada banyak ilmu yang belum aku kuasai, banyak tempat yang belum kujelajahi, banyak hal yang belum kupraktekkan.

Yah… Masalah Hinata ntar aja deh, meskipun kuakui kalo aku sebenernya kangen banget sama dia, kangen yang sungguh menyiksa…

Salam

Uchiha Sasuke

_.o0o._

Hidden Story in Diary

For Myself

_.o0o._

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku, SasuHina

Genre : Slice of Life

Happy Read

Sinar matahari pagi memang bagus sekali untuk tulang karena dapat mengubah provitamin D dalam kulit menjadi vitamin D. Tak heran banyak sekali orang yang bersemangat dalam kegiatan outdoor saat sinar matahari sudah mulai menyengat kulit. Tak terkecuali kegiatan outdoor di Konohagakure Boarding University.

Beberapa mahasiswa tampak sedang melakukan sedikit peregangan dengan mengenakan jaket olahraga dan sepatu larinya sambil bercengkrama tentang berbagai hal dan tertawa bersama. Beberapa saat kemudian mereka pun berhenti dan memutuskan untuk jogging keliling kompleks karena jadwal kuliah mereka tidak begitu padat hari ini.

Tapi, lain halnya dengan seseorang dengan tubuh rampingnya yang masih setia duduk di meja kecil yang dipergunakan untuk meja kerja di kamarnya. Mata onyxnya tampak membaca sebuah buku tulis sederhana miliknya dengan wajah serius. Sebuah ballpoint hitam juga tampak masih bertengger diatas telinganya seperti tukang bangunan meskipun wajahnya yang bersih dan tampan itu jelas tidak mencerminkan sebuah pekerjaan kasar tukang bangunan.

Dia lah Sasuke, Uchiha Sasuke, seorang mahasiswa tingkat akhir yang terkenal karena keterampilannya dalam mengoperasikan komputer.

Sasuke's POV

Aku sudah menyelesaikan hampir semua jobku untuk minggu ini, tinggal besok aku harus menemui dosen pembimbing skripsiku untuk konsultasi masalah data yang aku gunakan dalam skripsi. Yah… Berarti hari ini aku harus belajar Flask lagi deh.

"Sasuke, kau ada acara hari ini" Sebuah suara tiba-tiba masuk kedalam telingaku bersama dengan seorang pemuda berambut coklat panjang yang tiba-tiba nongol di depan pintu kamarku. Aku pun mengangkat pandanganku kearah mata lavender yang menatapku dengan tatapan datarnya.

"Tidak juga, ada acara apa emangnya" Tanyaku sambil menutup buku catatanku dan mengambil hapeku dan segera bergegas tiduran di atas ranjangku. Pemuda berambut coklat tersebut a.k.a Neji tampak sedikit senang dengan jawabanku barusan.

"Bantuin yuk… Masukin data buat mahasiswa baru" Kata Neji. Aku pun mengangkat sebelah alisku heran mendengar ucapan Neji.

"Sama dobe?" Tanyaku.

"Entahlah, tapi katanya Naruto ada sesuatu yang harus dia kerjakan buat hari ini" Jawab Neji. Pasti pemuda berambut duren itu ngerjain animasi fluida itu lagi deh, soalnya kemaren Sakura bilang bahwa animasi buatan Naruto revisi.

"Hmmm… Baiklah. Kapan inputnya?" Tanyaku sambil mematikan layar hape dan kemudian beralih pada Neji.

"Mungkin sekitar jam 10 an" Yah… Masih 3 jam lagi kan…

"Ah… Ya udah. Ntar tak bantuin. Ngomong-ngomong, ada berapa anak yang daftar untuk semester ini" Tanyaku mencoba untuk membuka percakapan dengan Neji. Pemuda berambut coklat itu pun mengeluarkan hapenya dan kemudian me-scroll layarnya untuk melihat chat sebelumnya.

"Gak begitu banyak sih, hanya ada 4 orang. Maklum lah pertengahan tahun seperti ini juga jarang ada yang masuk, kalo S2 mungkin masih banyak, cuma disini kan tidak menerima S2" Jelas Neji. Aku pun hanya manggut-manggut paham dengan apa yang dibicarakan oleh Neji.

"Cewek semua?" Tanyaku.

"Ya, cowoknya hanya satu sih… Mungkin kalo cowok sudah ngerasa bebas diluar kali daripada masuk sini" Jawab Neji sambil terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.

"Untuk masuk sini, kau harus melihat IP mereka dulu kan? Gimana menurutmu IP mereka?" Tanyaku mencari informasi yang sedikit mendetail.

"Biasa aja tuh, nanti juga kau bakalan tau sendiri kalo udah input data" Jawab Neji singkat. Aku pun hanya bisa manggut-manggut mendengar jawaban dari Neji. Hening sejenak, karena aku sudah mendapatkan beberapa informasi tentang mereka.

"Tapi, mungkin ada seseorang yang menarik disini, Sasuke. Dia memiliki IP 4 untuk 3 semester awalnya" Kata Neji. Hal ini membuatku terkejut.

"Wow… Mengejutkan"

-0-

"Teme, kau gak mau cari makan?" Tanya seseorang ketika dia melihatku keluar dari kamar. Aku pun menoleh kearah sumber suara yang merupakan seorang pemuda dengan rambut pirang jabrik mirip duren yang sepertinya juga baru saja keluar kamar. Tampilan acak-acakan seperti biasanya dan dari wajahnya, aku tahu kalo dia baru saja mencoba untuk mendesign animasi milik Sakura.

"Hn. Aku juga mau cari makan" Jawabku singkat sambil berjalan kearah lorong menuju pintu keluar. Pemuda jabrik itu pun dengan wajah semangat dan cengiran innocentnnya berlari kearahku dan kemudian berjalan tepat disampingku.

"Ne, ne, ne, gimana kalo kita masak mie bareng aja. Daripada jauh-jauh cari makan" Sarannya. Aku pun menolehkan kepalaku sambil menatapnya dengan wajah heran. Yah… Pendapatnya lumayan bagus sih, aku juga lagi males untuk keluar, apalagi abis ini Neji masih butuh bantuanku.

"Ide bagus. Jadi kita beli mie di koperasi nih" Tanyaku yang hanya dijawab dengan anggunakan pelan oleh Naruto. Kami pun menyusuri lorong tersebut diiringi gelak tawa dari Naruto dan sedikit komentar sarkasme dan pedas dari mulutku. Yah… Mungkin hal ini sudah benar-benar biasa, jadi jangan kaget melihat pasangan ajaib seperti kami berjalan bareng.

Koperasi Konohagakure Boarding University merupakan sebuah usaha yang dipelopori oleh pengurus siswa dalam menyediakan berbagai macam kebutuhan dari mahasiswa termasuk dalam hal makanan dan snack yang menjadi komoditas utamanya. Penjaga koperasi dibagi dengan bagian yang sama, yaitu cowok diwaktu malam dan cewek diwaktu siang.

"Beli mie instan dong, dua" Kata Naruto pada seorang cewek pirang kucir empat yang terlihat sedang duduk di balik etalasi. Mata hijau cewek tersebut tampak sedikit berputar pelan sebelum akhirnya menyerahkan dua bungkus mie instan pada kami berdua.

"Mie aja terus… Ntar kamu jadi bodoh kayak dia loh Sasuke" Ledek cewek bernama Temari tersebut pada Naruto.

"Enak aja bilang bodoh" Sungut Naruto yang sepertinya tidak diterima jika dia dibilang bodoh oleh Temari.

"Udah, jangan menyangkal kenyataan seperti itu dong, dobe" Kataku menambah tingkat ledekan dari Temari, dengan nada datar tentunya, tapi sedetik kemudian bibirku menyunggingkan seulas seringaian meremehkan pada teman rambut durenku.

"Naruto… Jawab chatnya dong" Sebuah suara tampak keluar dari sisi kanan Temari. Seorang cewek dengan rambut pink permen karet tiba-tiba saja muncul dengan seulas senyuman kesal. Aku pun menatapnya dengan tatapan datar sebelum akhirnya kualihkan pandanganku pada Naruto yang tampak masih nyengir innocent sambil mengambil dua bungkus mie nya.

"Sorry, tadi hapenya tak tinggal diatas" Kata Naruto.

"Udah sekalian aja bilang, udah ketemu juga" Sahutku sambil memutar bola mataku kearah dua orang yang lagi ngobrol dengan kikuk tersebut. Cewek berambut pink bernama Sakura tersebut tampak seolah meminta izin pada Naruto untuk membicarakan hal tersebut disini, sedangkan Naruto tampaknya tidak peka tentang hal tersebut.

"Yah… Masalah itu, Sasuke-kun… Animasinya kan dosennya minta 3D kan… Jadi aku minta pendapat tentang kelompok yang katanya gambarnya udah bener kemaren" Kata Sakura. Tampaknya dia tidak peduli dengan izin dari Naruto setelah kutatap matanya dengan tatapan 'cepet deh, kami berdua laper tau'. Sekarang pandanganku beralih pada Naruto yang tampaknya masih belum peka.

"Gimana sih gambarnya? Sepertinya kemaren udah ku kasih saran supaya pake realistic illustration deh sebelum ke 3D" Tanyaku. Menunggu Naruto peka pastinya akan memakan banyak waktuku.

"Iya… Bener, Teme. Gambar yang dikirimin itu kayak gambar yang dibuku-buku itu loh, yang biasanya pake gradasi. Terus tadi tak coba pake bayangan sama highlight, hasilnya lumayan sih, tapi aku juga ga tau maunya dosennya dia gimana" Jawab Naruto.

"Ya udah… Ntar biar diselesain sama dia, kalo ada revisi ntar bilang aja" Kataku menutup permasalahan. Bibir Sakura tampak mengulum senyuman kecil yang terkesan energik setelah mendengar ucapanku.

"Hehe… Arigatou, Sasuke-kun, Naruto"

-0-

"Fyuh… Kenyangnya…" Kata Naruto sambil menepuk-nepuk perutnya setelah selesai makan mie. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat temen yang bisanya cuma malu-maluin temen sepermainannya ini.

"Eh… Teme, abis ini kau ada kerjaan gak?" Tanya Naruto.

"Mungkin bantuin Neji buat input data mahasiswa baru" Jawabku singkat. Pandanganku tampak terbentur pada seorang gadis indigo yang membawa tumpukan file yang, dapat dikatakan cukup berat sehingga membuatku berjalan kearahnya untuk menawarkan bantuan.

"Taruh situ aja, Hinata" Kataku dengan nada datar, meskipun sebenernya aku kasihan melihat gadis imut tersebut membawa berkas yang cukup berat. Hinata pun menaruh file tersebut diatas kursi penerima tamu.

"Neji-nii ada tidak?" Tanyanya.

"Iya, udah kubawakan aja untuk Neji nanti. Dia udah nunggu di aula mungkin" Jawabku singkat.

"Yo, Hinata. Banyak banget kertasnya" Komentar Naruto yang tiba-tiba saja datang kearah Hinata sambal nyengir innocent. Hinata tampak tersenyum malu sambil berbalik keluar dari asrama putra. Sebuah benak yang sedikit aneh tampaknya segera terlintas di kepalaku.

Apakah Hinata menyukai Naruto?

Ah… Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan siapa menyukai siapa… Tapi entah mengapa benak bahwa Hinata menyukai orang lain selalu terlintas di pikiranku. Hal itu membuatku terus termotivasi untuk menjadi yang terbaik, sampai Hinata tidak menemukan seorang pun yang patut disukainya selain diriku.

Oh… Iya, aku tau apa yang sedang kupikirkan tadi.

"Hinata" Panggilku sebelum gadis berambut indigo tersebut berjalan keluar dari gerbang. Gadis itu pun berhenti dan kemudian menoleh sambil menatap heran kearahku. Aku pun tanpa persetujuan langsung menarik Naruto untuk menemaniku menemui Hinata yang sedang menunggu disamping gerbang.

"Kalo boleh tau, kira-kira nanti berkas-berkas kayak gitu dimasukkin dalam apa ya? Apa dalam excel?" Tanyaku ketika sampai di sana.

"Biasanya sih begitu, kenapa emang?" Kata Hinata bertanya balik.

"Hm… Gimana kalo tak buatin website buat database biar orang mau daftar itu bisa online gitu. Tapi nanti kita juga sediain slot buat daftar offline" Saranku. Gadis itu pun memiringkan kepalanya seolah meminta penjelasan lebih lagi tentang ideku barusan.

"Mungkin Sasuke-senpai bisa usulkan hal itu pada Neji-nii. Bukan aku kan yang memutuskan?" Jawab Hinata.

"Yah… Aku juga tau kalo Neji yang mutusin, tapi yang menjalankan kan kamu. Jadi kalo gitu kira-kira enak gak? Daripada bawa berkas kesana kemari kayak gitu" Kataku. Wajah Hinata tampak berubah menjadi mode menimbang-nimbang saran dariku sebelum akhirnya aku mendeteksi adanya sedikit senyuman geli yang tipis sekali dari bibir merahnya.

"Kayak gitu bagus juga. Manajemennya nanti juga bagus kalo seperti itu, mungkin kayak gitu bisa diusulkan" Jawab Hinata sambil tersenyum kecil. Baiklah, ada projek baru.

"Ya udah deh. Ntar tak bilangin Neji soal ideku barusan" Kataku menyimpulkan.

"Hmmm…. Ada yang mau dibicarakan lagi, senpai?" Tanya Hinata. Aku pun menggelengkan kepalaku pelan sehingga gadis berambut indigo tersebut hanya menganggukan kepalanya seolah memberikan salam kepadaku sambil berjalan keluar dari gerbang.

"Idemu barusan bagus juga. Aku juga barusan sebenernya mau usul itu waktu mubes besok" Celetuk Temari yang sepertinya sedang membaca buku di koperasi.

"Wow… Sepertinya kita sependapat ya…" Kataku sambl tersenyum kecil.

"Itu idenya temenku sih"

-0-

"Sudah kan, Neji?" Tanyaku pada Neji yang sedang berkutat untuk membereskan berkas tersebut.

"Iya, dan untuk idemu tadi akan aku masukkan dalam usulan rapat pengurus Yayasan nanti" Kata Neji dengan keadaan tetap sibuk membereskan banyak sekali berkas yang sudah dibawa oleh adiknya tadi.

"Arigatou" Jawabku sambil berdiri dan kemudian berjalan kearah kamarku. Ku ambil hape yang tergeletak di meja untuk melihat apa yang belum kulakukan. Tampaknya ada notifikasi WhatsApp deh. Aku punya banyak sekali grup WhatsApp sehingga aku harus membisukan semua notifikasi grup karena jika tidak maka notifikasi penting pasti akan tertutup oleh notifikasi grup tersebut. Artinya notifikasi hanya akan muncul apabila aku di PM.

Sasuke-senpai, bisa bicara sebentar? Aku perlu bantuan

Dahiku berkerut begitu melihat siapa yang nge-chat diriku barusan.

Ini Hinata. Ada apa gerangan dia meminta bantuanku? Bukannya dia mahasiswi rajin yang memiliki IP hampir cum laude dan telaten dalam mengurusi masalah kuliahnya?

Iya, Hinata. Apa yang bisa dibantu?

Centang satu, dua, biru, mengetik. Oh… Rupanya dia sedang online, apa dia sudah bersiap dengan chatku terus terbuka ya? Ah…. Singkirkan pemikiran kayak gitu.

Hmmm… Waktu Sasuke-senpai tadi usul untuk membuatkan website manajemen, aku jadi kepikiran buat jadiin itu sebagai projek akhir semester ini. Dan saya butuh bantuan senpai

Ah, iya. Hinata kan ilmu administrasi ya. Pantes aja jika ginian jadi projek akhirnya.

Terus, aku bisa bantu apa?

Beberapa menit kemudian sebuah balasan yang panjang berisi deskripsi dari website yang diinginkan oleh Hinata pun muncul di WhatsApp ku. Otakku langsung bekerja setengah mati untuk memroses banyak deskripsi tersebut dengan pengetahuanku seolah sedang dibanjiri oleh kesemangatan yang tanpa batas.

"Wow…. Sepertinya ini bakalan menarik"

TBC

Dear, Diary

Hari ini hari sosial yang jarang. Biasanya aku menghabiskan hariku dengan mendekam di kamar dan mempelajari sesuatu yang mungkin akan bermanfaat buat karirku kelak.

Dan juga hari ini ada sesuatu yang mungkin dapat ku pelajari.

Hidup bukan untuk menjadi bahagia, tapi hidup adalah untuk menjadi berguna

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang dapat memberikan manfaat untuk dirinya maupun manusia yang lain.

Hal ini juga sepertinya merupakan suatu insting yang kuat dalam diri laki-laki sehingga meraka akan bahagia apabila mereka dibutuhkan oleh orang lain dan dapat melakukan sesuatu yang bagus dan berguna untuk mereka, apalagi untuk orang yang mereka cintai.

Yah… Itu dari pengalamanku hari ini yang seolah kebanjiran semangat saat Hinata meminta tolong padaku untuk mengerjakan projek akhirnya.

Salam

Uchiha Sasuke