krikkkk krikkk Awuuuuu

berbagai macam bunyi serangga dan hewan, tertangkap oleh Indra pendengaran Naruto. mata emas datarnya menatap lurus kedepan tanpa menghiraukan keadaan hutan yang terasa begitu sepi dan mencekam.

sudah dua hari sejak Naruto meninggalkan Kyoto, dan saat ini dirinya berada di kawasan hutan belantara.

jujur saja, sejak Naruto memutuskan untuk berkelana dan mencari informasi, dia sama sekali tidak mengetahui dimana saat ini dirinya berada, dia hanya mengikuti insting untuk menjelajahi dunia baru tanpa memperhitungkan apapun. menurutnya, penjelajahan tanpa mengetahui arah adalah salah satu sarana terbaik untuk menikmati indahnya suatu petualangan.

untuk soal pakaian, bayangkan saja pakaian Sasuke dalam anime Boruto tapi tanpa pedang dan rambutnya berwarna merah jabrik. aneh memang mengingat saat ini dirinya berada di dunia yang terlihat begitu maju dan modern, tapi pakaiannya seperti itu. namun bukan Naruto namanya jika dia mau memperdulikan hal tersebut.

Srekkkkk

tanpa menghentikan langkahnya, Naruto melirik kesamping kiri saat telinganya menangkap adanya bunyi semak-semak di sana.

'hmm... dua orang? dari energinya, jelas bahwa mereka bukan manusia'

Syutttttt

Selebbbb

tidak perlu terkejut, Naruto hanya memiringkan sedikit kepalanya saat sebuah anak panah hendak mengenainya dan tertancap di dahan pohon.

Syuttttt Syutttt Syuttttt

lagi, kali ini beberapa anak panah meluncur bersamaan menuju Naruto. namun tanpa menghentikan langkahnya, Naruto kembali dengan mudah menghindari semua itu, bahkan matanya sama sekali tidak melihat kearah anak panah tersebut.

"ckk! dia dapat menghindarinya dengan mudah!"

"jangan menyerah, sekarang coba yang ini!"

walau samar, Naruto masih bisa mendengar adanya suara dari semak-semak tersebut.

'hm? anak kecil?'

Syutttt

bersamaan dengan itu, sebuah anak panah yang terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya kembali meluncur kearah Naruto. namun kali ini yang diincar bukanlah kepala atau tubuh, melainkan... tanah!

Dhuarrrrr

sebuah ledakan cukup besar terjadi di tempat Naruto berpijak, hal itu juga menimbulkan ketakutan bagi para burung hingga mereka semua terbang kesegala arah untuk menyelamatkan diri.

"Yataaaa, kita berhasil!"

sang pelaku melompat keluar dari semak-semak dan berteriak kegirangan. suara cempreng miliknya menunjukan bahwa pelakunya adalah seorang bocah laki-laki.

Srekkkkk

setelah itu, seorang gadis juga ikut keluar dari semak-semak tersebut dan berdiri di samping si bocah laki-laki. berbeda dengan laki-laki di sampingnya, gadis itu lebih menatap tajam kearah tempat target serangan mereka berada. asap masih mengepul sehingga membuat pandangan sedikit terhalang.

tidak lama kemudian, akhirnya asapun menghilang dan memperlihatkan sebuah kawah sedang dengan adanya sosok yang terlihat sedang terbaring di tengahnya. melihat hal tersebut, dengan cepat mereka berdua menghampiri kawah hasil pekerjaan kedua bocah itu.

setelah sampai, si bocah laki-laki berjongkok dan memastikan bahwa pria yang menjadi incarannya telah tewas.

"sepertinya dia telah mati. bagus, dengan begini Valir-sama pasti akan senang!" ucap sang lelaki dengan cengiran khas miliknya.

namun sama seperti yang tadi, gadis yang berada di sampingnya masih menatap tajam mayat sang target. wajahnya tidak terlihat karena tubuh gosong itu terbaring dengan posisi tengkurap. dari penglihatannya, dia merasakan sesuatu yang aneh.

"ada yang aneh!"

bocah yang satunya menatap heran kearah sang gadis.

"apanya yang aneh?" tanyanya.

"sebelumnya, dia dapat dengan mudah menghindari semua serangan kita bahkan tanpa melihatnya sedikitpun! jadi, rasanya sedikit aneh kalau dia tidak menyadari serangan yang terakhir ini!"

"huhhh... jangan terlalu berlebihan! mungkin saja sebelumnya dia hanya berun~ Wawww!"

dengan reflek yang baik, gadis itu melompat menjauh saat tiba-tiba seseorang muncul di belakang mereka lalu mencengkram kerah bajuh si lelaki, dan mengangkatnya layaknya seekor Anjing.

kuda-kuda khas seorang pertarung dia keluarkan. matanya semakin menatap tajam sosok yang telah mengagetkan mereka.

"hey, apa-apaan ini! lepaskan!" mencoba merontah, namun tubuh pendeknya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. tapi saat kepalanya mendongak untuk melihat siapa yang telah berani mengangkatnya, tubuhnya seketika membeku dan keringit dingin mulai mengeluar.

betapa terkejutnya dia saat menyadari bahwa sosok itu adalah pria yang seharusnya terbaring di sa-

Boftttt

matanya membulat saat tiba-tiba tubuh yang dia kira adalah mayat, malah berubah menjadi sebongkah kayu.

"a-apa yang terjadi" ucapnya terkejut.

lalu dengan rasa ketakutan tiada tara, bocah itu kembali merontah sekuat tenaga.

"GAHHH... LEAPSKAN AKU!" dia berteriak kencang tapi tetap tidak membuahkan hasil.

Naruto menatap datar kedua bocah itu. terlihat yang perempuan memakai kaus berwarna putih dengan adanya beberapa kancing di bagian dada, dan juga rok sependek lutut. sedangkan yang laki-laki, dia memakai kaos berlengan panjang polos berwarna hitam, dan celana sependek lutut berwarna abu-abu.

dari semua itu, Naruto menyadari bahwa pakaian yang mereka kenakan benar-benar jauh dari kata layak untuk dipakai. berbagai macam robekan di sana sini, kulit yang terlihat kusam dan kotor, tidak memakai alas kaki, dan tentu saja bau busuk yang cukup menyengat hidung.

dalam hal fisik, si gadis memiliki rambut hitam kusam sepanjang pungung, mata hijau, dan tinggi yang hanya mencapai 130 cm. sedangkan yang satunya, memiliki rambut orange dengan poni memanjang hingga menutupi setengah wajahnya, mata berwarna hitam, dan tinggi yang hanya mencapai 135 cm. dari semua itu, jelas mereka berdua berada di kisaran umur 10-12 tahunan.

entah apa yang terjadi dengan kedua bocah ini sampai mengalami hal seperti itu. namun Naruto cukup tertarik dengan gadis yang saat ini sedang menatapnya tajam dengan kuda-kuda bertarung yang terlihat cukup kokoh untuk anak seusianya. lebih dari itu, dia juga merasakan adanya energi asing yang sangat jauh berbeda dari manusia, tapi penampilannya tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya.

"lepaskan Ichigo-nisan!" gadis itu berbicara tajam sambil menyebut nama bocah yang masih mencoba untuk melepaskan diri dari Naruto.

'dari refleks dan postur tubuh, gadis ini tentu memiliki kemampuan dan pengalaman untuk bertarung' pikir Naruto dan melirik anak yang ada di cengkramannya. 'bodoh dan ceroboh, tapi kualitas bidikannya sudah sangat baik untuk anak seusianya'

Naruto lalu kembali melihat si gadis yang sepertinya hendak melakukan sesuatu.

'hn? bocah yang menarik!'

slashhhhh

memanfaatkan keadaan musuh yang terlihat sedang melamun, si gadis berlari maju kearah Naruto. lalu saat jaraknya sudah mulai menipis, dengan cepat dia mengeluarkan sebuah pisau dari pinggangnya dan berusahan untuk menyerang bagian perut Naruto.

Syaatttt

namun dengan santai, Naruto memiringkan tubuhnya hingga anak itu hanya menyayat udara kosong. mengetahui serangannya gagal, dia lalu kembali melakukan gerakan dimana pisau yang sebelumnya berada di tangan kanan, langsung berpindah di tangan kiri dan melakukan putaran untuk menusuk perut Naruto.

Syattt

lagi-lagi gagal saat Naruto melompat jauh kebelakang. namun Naruto menyipitkan matanya saat melihat gadis itu malah menyeringai tipis.

Tap

"kena kau!"

shingggg

mata Naruto sedikit membulat saat tiba-tiba sebuah lingkaran sihir muncul di tempatnya berpijak, dan setelah itu...

Slurrrrrrr Grebbbb

beberapa akar tanaman keluar dari sana dan langsung melilit Naruto dengan kuat.

Brukkk

"Itaii!"

karena hal tersebut, akhirnya bocah bernama Ichigo itu bebas dan membuatnya terjatuh hingga membentur tanah.

melihat bocah yang ternyata adalah kakaknya itu telah bebas, dengan cepat si gadis berlari kearahnya dan membantunya untuk berdiri.

"Ni-san tidak apa-apa?"

"aku tidak apa-apa, terima kasih karena sudah menolongku!" balas Ichigo dengan senyumnya.

lalu dia kembali menatap kearah Naruto yang melihat semua itu dengan ekspresi yang sama, yaitu datar.

"khee.. itulah akibatnya karena berani menyerangku! bagaimana? tidak bisa keluar bukan!" walau berbicara seperti itu, tapi sebenarnya Ichigo cukup kesal saat melihat ekspresi Naruto yang sama sekali tidak berubah.

melirik kebawah, Naruto dapat melihat semua sulur itu berasal dari tanah. lingkaran aksara dan dapat memanipulasi sesuatu? kalau tidak salah, inilah yang dinamakan sihir! Naruto pernah beberapa kali bertemu dengan makhluk Supranatural yang menggunakan kemampuan yang sama. sebuah lingkaran sihir akan selalu muncul disaat mereka hendak melakukan serangan. dalam penggunaannya, lingkaran sihir sebenarnya memiliki peran yang sama dengan segel tangan, hanya saja interval waktu untuk mengeluarkan sihir, lebih cepat dari orang yang menggunakan segel tangan.

namun dirinya tidak menyangka, anak semudah itu dapat mengeluarkan sihir dengan interval waktu yang sangat tepat. menurutnya, level penggunaan sihir anak ini sudah setara dengan beberapa manusia jadi-jadian yang pernah dia lawan saat pertama kali menginjakan kaki di tanah manusia.

tidak, bukannya dia tidak bisa menghindari sihir ini, melainkan dia sengaja terkena untuk melihat tipe sihir apa yang bisa digunakan oleh gadis tersebut. dan dirinya tidak menyangka dia memiliki sihir tanaman yang mirip dengan Hasirama Senju, walaupun tentu saja masih jauh lebih lemah dari sang legenda itu.

"heyy, jangan mengabaikanku!"

Naruto mengalihkan pandangannya kedepan untuk melihat kedua bocah tersebut. si gadis yang masih menatapnya dengan tajam, dan bocah laki-laki bernama Ichigo yang terlihat masih kesal dengan berbuatannya.

"bagaiamana?, apa yang akan kita lakukan pada pemuda bermuka tembok ini?" Ichigo bertanya, tapi si gadis hanya menggelengkan kepalanya.

"hmmm?" dia sedikit berpikir. "kalau begitu, kita bawah saja ketempat Valir-sama! bagaimana?" lagi-lagi pertanyaan itu dijawab dengan isyarat anggukan dari gadis tersebut.

'valir-sama?' Naruto dapat mendengar sebuah nama yang terasa asing baginya. dari ucapan Ichigo, dia bisa menyimpulkan bahwa orang itu adalah tuan dari kedua anak ini.

"sudah diputuskan, kau akan kami bawa kedesa!" ucap Ichigo kegirangan disertai senyum kemenangan.

masih tetap tenang tanpa berniat untuk memberontak, Naruto masih memfokuskan pandangannya kearah dua bocah tersebut. sejauh yang dia raskan, dia yakin bahwa anak-anak itu bukanlah manusia, tapi tetap saja dia tidak tau makhluk jenis apa yang menjadi lawannya kali ini.

dari penggunaan sihir, anak ini tidak berbeda dari makhluk Supranatural pada umumnya. selain itu, dia juga merasakan bahwa gadis tersebut memiliki tingkat energi yang terbilang besar untuk anak seusianya. untuk bocak lelaki bernama Ichigo, dia juga merasakan energi asing namun tidak sebesar gadis yang ada di sampingnya.

hmmm? sudah diputuskan, dia akan melihat lebih dalam untuk mengetahui jati diri dari kedua anak itu. walau bagaimanapun, dia adalah pemuda dengan rasa keingin tahuan yang sangat tinggi, apalagi terhadap hal yang membuatnya sangat tertarik.

.

.

.

.

.

"kita sudah sampai!"

setelah beberapa menit, akhirnya mereka telah tiba di tempat tujuan. mata emasnya melirik kebelakang untuk melihat panjangnya sulur tanaman yang membawanya melayang ketempat ini. di samping kiri kanannya juga terdapat dua orang bocah yang sebelumnya menjadi lawannya.

pandanganya kembali kedepan untuk meneliti tempatnya berada sekarang. bagaiaman yahh? kalau boleh dibilang, kesan pertama dia melihat tempat ini adalah... sampah! mau bagaimana lagi, deretan rumah yang hampir tidak memiliki bentuk, beberapa manusia yang terlihat hanya duduk bersandar pada dinding rumah dengan ekpresi blank dan pakaian yang sudah tidak layak pakai. jangan lupakan bau busuk yang bisa menusuk hidung bagi siapa saja yang datang kemari. namun ada satu hal yang Naruto sadari! sepanjang dia melihat, mata emasnya sama sekali tidak menemukan adanya seorangpun wanita.

masih dalam keadaan terikat dan melayang sekitar beberapa senti dari tanah, Naruto dibawa melewati semua pemandangan mengerikan itu hingga tiba di sebuah kawasan yang satu-satunya memiliki keadaan yang layak untuk dihuni. rumah besar dengan gaya jepang kuno disertai bederetnya pagar dinding kayu yang cukup tinggi, menyambut kedatangan Naruto. dilihat dari segimanapun, bangunan ini jelas jauh lebih bagus dari bangunan lainnya.

tidak berhenti sampai di sana, kedua bocah itu masih membawanya hingga melewati gerbang kawasan tersebut. barus setelah tiba di hadapan rumah yang cukup megah tersebut, merekapun berhenti.

Ichigo melihat kearah si gadis dan berbicara.

"mulai dari sini, serahkan padaku!"

mendengar hal itu, membuat perhatian Naruto teralihkan untuk melihat ekspresi takut dari sang gadis saat dia mengangguk paham. Naruto sedikit menyipitkan matanya ketika merasakan adanya hal aneh dari sikap gadis tersebut.

tanpa menunggu lama, sulur yang mengikatnya kembali bergerak mengikuti Ichigo yang hendak memasuki kediaman itu meninggalkan si gadis yang hanya diam dan masih dengan ekspresi ketakutan.

Naruto lalu mengalihkan pandangannya untuk melihat rumah yang sebentar lagi akan dia masuki.

'aku tidak merasakan ada yang aneh dari rumah ini' setidaknya, itulah yang dia pikirkan sebelum dia memasuki rumah tersebut.

Kreeettttttttt

Bhowhssssss

namun saat pintu besar terbuka, hembusan angin kencang disertai pancaran energi gegelapan seketika menerpa Naruto dan bahkan membuat Ichigo sedikit termundur kebelakang.

menaikan satu alisnya, Naruto merasa bodoh karena baru menyadari hal sesederhana itu.

'hohhh.. penghalang, kah?' pikirnya saat baru menyadari bahwa seluruh bagian dari rumah tersebut dikelilingi oleh kekai yang sepertinya mengekang energi yang ada di dalamnya. tapi karena pintu terbuka, maka semua energi tersebut secara serentak keluar dan membuat badai kecil di hadapannya.

gegelapan, nafsu, dan rasaha haus darah, adalah hal pertama yang Naruto rasakan dari energi yang telah menerpa dirinya.

'hmm? kalau tidak salah, energi ini sama dengan makhluk buruk rupa yang pernah aku lawan saat berada di Kyoto' pikirnya.

tidak hanya itu! bau amis darah disertai aroma bangkai langsung saja menyambut hidung Naruto dan menusuknya hingga ketulang. seandainya pemeran utama kita adalah seorang amatiran, pasti saat ini dia sudah muntah tidak tahan akan semua bau itu.

"Khakhakhakhakha! ayo terus, goyangkan pinggulmu seperti sapi! khakhakahakha"

"..."

ohhh.. ternyata ada satu hal lagi yang menyambut kedatangan Naruto, dan hal itu adalah suara berat khas seorang pria yang terdengar begitu sangat menjijikan.

dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya, Ichigo memberanikan diri untuk berdiri dan menatap kedalam.

"a-ayo masuk!" walau susah, dia mencoba untuk berbicara kepada Naruto.

sulur itu kembali bergerak dan mulai memasuki rumah mengikuti Ichigo dari belakang. dan saat setelah sampai di dalam...

Deggg

"..."

pandangan Naruto tiba-tiba menjadi kosong saat melihat apa yang ada dalam ruangan tersebut.

tidak, tidak! dia tidak terkejut akan banyaknya potongan tubuh yang berhamburan memenuhi ruangan itu. akan tetapi, dia terkejut saat mendapati adanya puluhan wanita telanjang yang berserakan di lantai penuh darah tersebut. luka goresan di dada, lebam di beberapa anggota tubuh, dan yang paling parah adalah... robekan menganga yang terdapat di daerah kewanitaan mereka.

bahkan Ichigo yang seharusnya sudah sering melihat hal ini, masih belum terbiasa dan berusaha menahan isi perutnya agar tidak keluar.

sungguh pemandangan yang sangat mengerikan. bagi orang normal, tentu saja semua itu dapat menimbulkan emosi tersendiri di hati mereka, dan tidak terkecuali untuk pemeran utama kita.

wajahnya mengeras dan ekspresinya menjadi jauh lebih dingin dari sebelumnya. hanya satu yang ada dalam pikiran Naruto saat ini, yaitu...

Siapa yang berani melakukan semua ini!?

"cihh! siapa yang berani mengganggu kesenanganku!?"

"..."

sepertinya... pertanyaan Naruto akan segera terjawab.

dengan cepat, Ichigo langsung bersujut takut saat suara tersebut kembali terdengar.

Naruto mengalihkan pandangannya kedepan dan mempertajam penglihatannya karena kurangnya pencahayaan. setelah beberapa saat, akhirnya dia dapat melihat semua yang terjadi.

mata emasnya dapat melihat adanya sesosok pria tinggi besar dengan kepala menyerupai banteng. dia tidak memakai baju sehingga memperlihatkan otot kekar dengan beberapa tato hitam menyelimuti tubuhnya. tapi ada satu hal yang menarik perhatian Naruto, yaitu adanya seorang wanita telanjang yang kedua kakinya dipegang oleh pria berkepala banteng tersebut hingga wajah dan setengah badanya menempel di lantai. dibagian selangkangan, terlihat darah mengalir pelan saat kejantanan yang memiliki ukuran kelebihan besar itu masuk kedalamnya. wajah cantinya tampak kusam dan pandangan matanya sudah tidak memiliki cahaya yang menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan... tewas!

melihat semua itu, Naruto sedikit menunduk hingga wajahnya terhalang oleh bayangan rambut pirang miliknya.

"ma-maaf atas kelancangan hamba Valir-sama! sa-saya datang kemari u-untuk membawakan makan siang" dengan perasaan takut, Ichigo mencoba untuk berbicara.

"cihhh! mengganggu saja, birahiku jadi hilang karena kedatanganmu!" balas pria jadi-jadian itu sambil melihat wanita yang ada dibawahnya. "huhh.. sudah mati rupanya, dasar jalang tidak berguna!"

lalu bagikan seonggok sampah, tubuh wanita itu dilempar kedepan dan berhenti saat membentur lantai tepat di hadapan Ichigo.

Brukkk

"ma-maafkan hamba Valir-sama!" dengan rasa takut luar biasa, Ichigo berusaha untuk meminta maaf. namun saat kepalanya mendongak untuk melihat apa yang ada di depannya...

Degggg

"..."

dirinya terdiam!

pupilnya kemudian melebar, mulutnya menganga, dan air mata mulai mengalir membasahi pipinya. dengan tatapan tidak percaya, dia merangkak mendekati tubuh wanita telanjang yang terlihat sangat mengenaskan itu.

tangannya terangkat untuk mengelus pipi lebam dari sang wanita. matanya bertatapan langsung dengan mata buram dari wanita tersebut, lalu diapun berkata dengan lirih...

"Ka-kachan?"

tidak ada respon...

sedikit menggoyangkan tubuh...

"Oka-chan!"

tidak

dia tersenyum sambil mencoba untuk menggoyang-goyangkan tubuh sang Ibu sekali lagi.

"ja-jangan bercanda Oka-chan! ayo bangun, ka-kami sudah pulang!"

tidak

"Ka-chan!"

tidak

"KA-CHAN!"

tidak

Deggg

Ichigo terdiam... pandangannya menjadi kosong, hilang ditelan oleh kegelapan.

tidak

kenyataan ini...

tidak

bukan, pasti hanya mimpi...

tidak

yahhh... ini pasti hanya mimpi!

Tap Tap Tap

"khukhukhu... sepertinya kau membawakan mangsa yang bagus!"

Degggg

mata ciliknya sedikit melirik keatas saat melihat sang pelaku berbicara dan berdiri dihadapannya sambil menatap lapar kearah Naruto yang masih menunduk diam. alat torpedonya yang telah loyo tertampang jelas dimata Ichigo.

"kenapa?"

suara dingin menusuk mengalihkan pandangan Valir.

"hmm?"

"kenapa kau melakukan ini kepada Ka-chan?"

bukannya merasa bersalah, Valir malah menyeringai Iblis dan sedikit berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan Ichigo.

"khukhukhu... tentu saja semua itu karena salahmu, kau membuatku terlalu lama menunggu. karena bosan, akhirnya aku bermain-main sedikit dengan wanita jalang ini!"

Degggg

"tapi, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak mengganggu Ka-chan sampai kami kembali?" sekali lagi, suara datar nan dingin dikeluarkan oleh bocah itu.

"khukhu...khakhakha! jangan membuatku tertawa bocah, bagaimana mungkin aku mau membuat perjanjian dengan sampah seperti kalian! khakhakha..."

Degggg Deggg Deggg

Shuuuuuuuhhh

tanpa disadari oleh Valir yang masih sibuk mengeluarkan tawanya, aura hitam pekat mulai mengeluar dari tubuh Ichigo. secara perlahan, dia berdiri dengan kepala yang masih menunduk hingga ekpresinya tidak terlihat.

"khakahkha~hah?" menghentikan tawanya sejenak, Velir akhirnya menyadari aura hitam yang keluar dari tubuh Ichigo. matanya menyipit saat melihat Ichigo yang berdiri diam di hadapannya dengan energi hitam pekat yang terus mengeluar dari tubuhnya.

"apa yang ter-"

Dhuakkkkkk

"Choghhhh!"

Whushhhhhh Blarrrrrrrr

sebuah kejadian tidak masuk akal barus saja terjadi. bagaimana mungkin seorang bocah melancarkan pukulan yang mampu membuat pria dengan tubuh sebesar itu terlempar jauh kebelakang hingga mengahancurkan singgasana yang menjadi tempat kekuasaan Valir.

bocah yang sebelumnya tanpak polos dan bodoh, sekarang malah menjadi makhluk yang terlihat begitu mengerikan. aurah hitam pekat terus mengeluar dari dalam tubuhnya, mata yang sebelumnya hitam kini berubah menjadi merah menyala, dan rambut yang terangkat keats sehingga menampilkan seluruh wajah yang nampak mengeras.

Blarrrrrr

ledakan kembali terjadi ditempat Valir berada hingga menerbangkan puing singgasana yang menguburnya.

"KURANG AJAR! BERANINYA BOCAH SEPERTIMU MEMUKULKU!"

dengan murka, Valir berteriak dan menatap tajam Ichigo yang hanya diam dan ikut menatapnya tajam.

Degggg

Brukkkk

"Ughhh!"

namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja Ichigo ambruk dan berdiri dengan kedua lututnya. tubuhnya bergetar, matanya melebar, dan kedua tangannya berusaha untuk mencengkram dada yang terasa begitu sakit.

melihat hal tersebut, takala membuat bibir Valir menyerigai tajam.

"khukhukhu... walau kekuatanmu meningkat, tapi semua itu tidak akan berguna jika tubuhmu tidak bisa menampungnya!" sedikit menunduk untuk membuat kuda-kuda,...

Wushhhh

dengan cepat Valir langsung melesat kearah Ichigo yang hanya bisa diam dan menahan sakit di dadanya.

"SEKARANG MATILAH!"

CRASHHHH!

"..."

keheningan terjadi beberaap saat, ketika Valir berhenti dan tidak menemukan Ichigo di tempatnya.

"dimana bocah sialan i~" ucapannya terhenti saat merasakan panas pada tangan kanannya.

"hmm?" melirik kesana, Valir terdiam dengan wajah membeku saat melihat linangan liquit merah terus saja mengeluar dari hasil buntungnya lengan kanan miliknya.

"ta-TANGANKU! ARHGHHHHH!"

terikan pilu langsung saja dia keluarkan saat baru menyadari bahwa tangan kannya telah buntung.

brukkk

Valir terduduk sambil memegang bahu kanannya yang terasa berdentut nyeri dan terus saja mengeluarkan darah segar.

"Si-sial,.. ughhh! a-apa yang terjadi?!"

Tap Tap Tap

suara langkah kaki mengalihkan pandangan Valir untuk bisa melirik kebelakang. matanya menyipit saat tidak bisa melihat siapa sosok yang berdiri disana karena bagian dada hingga wajah, tertutup oleh bayangan.

"si-siapa ka-"

Dhuakkk

"Choughh!"

Valir tidak bisa melanjutkan perkataannya saat sebuah tendangan membuat matanya melotot dan mulutnya langsung saja memuntahkan darah.

brakkkk brakkk sretttttt

tubuhnya beberapa kali terpelanting kebelakang dan terseret hingga berhenti cukup jauh dari sosok tersebut.

"U-Ughhh!" sumpah demi apapun, itu adalah tendangan paling menyakitkan yang pernah diarasakan selama dia hidup. dia yakin, saat ini dadanya pasti telah hancur akibat tendangan tersebut.

"menyedihkan!"

walau sudah diambang kesadaran, namun Valir masih bisa mendengar ucapan yang dia yakini sebagai pelaku dari tendangan tadi. dalam keadaan tengkurap, dengan susah payah dia mencoba untuk mengangkat kepalanya untuk melihat siapa gerangan makhluk yang berani menyerangnya.

untuk sesaat, pandanganya sedikit mengabur. tapi lama-kelamaan, akhirnya dia bisa melihat seperti apa bentuk dari sosok tersebut.

sepasang mata emas menyala, menyambut penglihatannya dan membuat kedua mata Valir melebar sempurna.

"ka-kau!" tidak ada ekspresi lain yang mampu dia tunjukan selain rasa terkejut yang teramat sangat.

saat ini di hadapannya, telah berdiri dengan gagah sang pemeran utama kita dengan adanya Ichigo yang sepertinya telah pingsan berada di bahu kanannya. sepasang mata emas miliknya, menatap tajam sosok Valir yang hanya bisa terdiam dengan mata melotot.

dengan pelan, Naruto berjalan mendekati Valir dengan eskpresi yang begitu dingin hingga menjanjikan rasa sakit tiada tara bagi siapa saja yang berani macam-macam padanya.

tidak lama, Naruto lalu berhenti satu meter dari tempat Valir berada. melihat hal itu, tak kala membuat tubuh Valir bergetar ketakutan saat merasakan hawa gelap paling mencekam dari diri Naruto. namun karena ego yang melekat pada dirinya, membuat Valir lupa akan fakta yang ada.

"ku-kurang ajar! beraninya kau melakukan hal ini padaku,.. Ughh!" darah kembali dia muntahkan saat berusaha untuk berbicara. tapi hal itu tidak menyurutkan keinginannya untuk melanjutkan ucapan. "ka-kau akan menerima akibatnya!"

CRASHHH

"ARGHHHHH!"

entah apa yang terhadi, tiba-tiba saja tangan kiri Valir kembali terpotong tanpa sebab yang jelas. darah segar menyembur keluar dan semakin membasahi lantai yang sebelumnya telah penuh akan genangan darah.

"ughh!" dirinya meringis kencang saat merasakan kedua tangannya telah tiada. walau susah, dia mencoba untuk membalikan badannya agar bisa bernafas dengan leluasa.

"hahh..hahh..hahh!" nafas memburu dan pandangannya semakin mengabur.

"a-apa yang terjadi sebenar~"

CRASHHHH!

"ARGHHHHH!"

lagi-lagi Valir mengeluarkan teriakan pilu yang menjadi saksi betapa sakitnya hal yang dia rasakan. untuk kali ini, salah satu kakinya ikut terpotong masih dengan ketidak jelasan.

Naruto yang melihat semua itu, hanya menatap datar tanpa niatan untuk membantu atau menolong makhluk yang ada di hadapannya.

"aku memang menyukai hiburan..."

CRASHHH! CRASHHH!

"ARGHHHH!"

"... tapi tidak dengan hal menjijikan"

lengkap sudah! semua alat penggerak yang ada di tubuh Valir, telah terputus tanpa sebab yang lagi-lagi tidak jelas.

Tap Tap Tap

Valir melirkan matanya sayu kesamping hanya untuk melihat Naruto yang semakin mendekat padanya.

"a-ampuni a-aku..choughh!" akhir yang sungguh menyedihkan, dimana sejak tadi dialah yang selalu tertawa, sekarang malah meminta pengampunan dengan tubuh yang sudah terlanjut cacat.

Naruto berhenti beberapa senti dari tempat Valir berbaring. matanya tajam, sangat tajam, bahkan mampu membuat makhluk jadi-jadian itu hanya mampu bergetar pelan dengan darah yang terus mengeluar dari tubuh yang buntung, hingga mulutnya.

"hohh" sebuah gumaman tanpa arti yang jelas, dikeluarkan oleh pemeran utama kita.

Grebbb

namun matanya sedikit melirik kebawa saat sesuatu tiba- tiba menggenggam salah satu kakinya.

"to-tolong..."

seoanggak tubuh tidak berbusana dengan banyaknya luka di beberapa bagian tubuh, mengeluarkan suara gelap penuh kebencian.

"to-tolong,... bunuh dia!" dengan sayu, wanita itu kembali berbicara untuk mengutarakan keinginannya dan membuat genggaman tangannya di kaki Naruto terlepas. ini adalah kejadian langkah, dimana tubuh yang sudah tidak bernyawa masih bisa mengutarakan keinginannya karena adanya perasaan kuat dari sang pemilik tubuh.

mata Naruto seketika menggelap mendengar hal itu. lalu jawaban datarpun dia lontarkan...

"dengan senang hati!"

langkah pelan dengan suara pijakan yang begitu menggemah, membuat Valir yang sudah tidak berdaya bergetar hebat.

"a-ampuni aku!" walau dengan rasa sakit yang teramat sangat, Valir masih mencoba memohon ampun kepada Naruto yang terus saja berjalan mendekati dirinya.

"ada dua hal yang paling aku benci di dunia ini. yang pertama...

BRAKKKKK BLARRRRR

"ARGHHHH!"

lantai ruangan seketika pecah dan menimbulkan kawah yang lumayan dalam saat kaki Naruto menginjak keras jidat Valir yang masih dalam keadaan terlentang.

"... adalah rasa bosan..."

terlihat dengan sangat jelas, dahi Valir telah mengalami cedera parah yang membuatnya masuk kedalam dengan banyaknya darah yang terus saja mengeluar dari sana.

"to-tolongg..choughh...a-ampun!"

tanpa punya rasa belas kasihan, Naruto kembali mengangkat kaki kanannya keatas yang menjadi media penyiksaan untuk Valir.

"bunuhhh!"

"bunuhhh!"

"bunuh dia!"

tatapan Naruto berkilat tajam saat berbagai macam suara yang dapat didengar oleh telinga miliknya. dia asumsikan, semua suara itu adalah arwah penasaran dari semua nyawa yang telah direnggut oleh manusia jadi-jadian ini.

"dan yang kedua..."

"BUNUHH KEPARA ITUU!"

BRAKKKKK CRASHHHH BLARRRRRR

"... menyiksa wanita!"

".."

tidak ada lagi suara teriakan kesakitan, yang ada hanyalah keheningan dari mulut yang tidak dapat lagi untuk mengeluarkan suara.

sungguh, entah sudah berapa lama sejak terakhir kali Naruto merasakan yang namanya amarah. lihat saja, organ yang selama ini menjadi pusat penggerak bagi seluruh tubuh kita, telah hancur dan berceceran dimana-mana bahkan sampai mengotori jubah hitam milik Naruto.

bangunan yang sebelumnya tampak kokoh dan kuat, sekarang telah mengalami kerusakan parah mulai dari lantainnya yang hancur tidak karuan dan dipenuhi oleh genangan darah, serta dinding dan tiang yang sudah retak dan hendak roboh.

sang pelaku yang melakukan semua itu, hanya menatap kosong tanpa ada berasaan jijik maupun bersalah sama sekali.

"te-trima kasih"

"terima kasihh!"

"terima kasih!"

bibir itu sedikit terangkat saat kembali mendengar suara penuh akan kelegahan yang menggemah di dalam kepalanya.

sedikit melirik kebelakang, mata emasnya dapat melihat banyaknya arwah-arwah gentayangan yang berbaris dibelakangnya lalu secara serempak mereka semua menunduk hormat kepada Naruto. setelah itu, merekapun terbang menuju angkasa, menembus atap dan hilang dalam kedamaian.

namun sesaat sebelum itu, dia masih dapat mendengar suara lain yang membuatnya sedikit bingung untuk menanggapinya.

'hmmm? menjadi pengasu, kah?'

Naruto mengalihkan pandangannya untuk menatap seonggak tubuh kecil yang sejak tadi berada di atas bahu kirinya. oke... sebelumnya dia harus menarik pendapatnya yang sebelumnya mengira bahwa gadis tadi adalah bocah yang paling menarik perhatiannya. namun ternyata, bocah bernama Ichigo ini jauh lebih menarik perhatiannya.

menyadari sesuatu, dirinya juga sedikit melirik sedikit agak jauh ke samping lebih tepatnya kearah teras pintu masuk, untuk melihat adanya tubuh lain yang nampak pingsan dengan adanya cairan aneh berwarna hijau yang keluar dari mulutnya.

'huhh... ini pasti akan merepotkan'

.

.

.

.

.

.

DISCLAIMER

: NARUTO DAN SEMUA KARAKTER DALAM CERITA, BUKANLAH KEPUNYAAN SAYA. (KECUALI KARAKTER OOC).

.

WARNING:

SMART NARU! GOOD LUCKE NARU! OOCC!

PAIRING : XXXXX [RAHASIA].

.

.

CHAPTER 4.[Kaisar Surga]

.

.

.

Dewa

merupakan perwujudan dari imajinasi manusia yang bertujuan untuk mempercayai adanya hal-hal yang patut untuk disembah. semua itu berawal dari munculnya perasaan takut dari diri manusia, sehingga mendorong mereka untuk mencari perlindungan kepada hal yang melebihi eksitensi mereka sendiri. mengikuti perasaan naluria, akhirnya sebuah kepercayaanpun muncul untuk menyembah makhluk yang sebenarnya hanyalah hasil dari khayalan makhluk fana tersebut.

sering berjalannya waktu, kepercayaan tersebut mulai berkembang dan memiliki pengikut yang selalu bertambah dari waktu kewaktu. lalu pada suatu saat, akhirnya alam menjawab kepercayaan mereka!

secara bertahap, sebuah eksitensi yang berada diluar kehendak sang ilahi, mulai tercipta satu demi satu untuk mewujutkan keinginan dari manusia. pada awalnya, kepercayaan itu ada hanya untuk menunjang perasaan takut yang mereka miliki, namun seiring berjalannya waktu, berbagai macam perasaan lain timbul dari dalam diri manusia. rasa iri, dengki, dan dendam mulai berkembang secara signifikan di kalangan masyarakat. lalu secara ajaib, alam kembali menjawabnya dan menciptakan makhluk yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

dari situlah, kita semua bisa mengenal adanya berbagai macam Dewa yang menjadi primadona bagi kepercayaan di zaman kuno. tapi walau seperti itu, sebenarnya sampai sekarang kepercayaan mereka hanya sebatas bantuan abstrak yang tidak bisa dibuktikan secara nyata, sehingga membuat berbagai macam kepercayaan tersebut secara perlahan mulai menghilang. namun, ada beberapa kepercayaan yang masih sanggup bertahan, tumbuh, dan berkembang jauh melebihi manusia itu sendiri! kejadian itu tidak lepas dari mereka yang selalu menimbulkan bencana saat para pengikutnya tidak melakukan pemujaan untuk dirinya, sehingga hal itu dapat membuat keperecayaan terhadap mereka meningkat pesat.

walau kita mengetahui bahwa eksitensi itu tercipta dari Imajinasi manusia, namun kenyataan menyatakan bahwa derajat makhluk astral tersebut jauh lebih tinggi dari penciptanya itu sendiri. manusia dipandang rendah, hina, dan hanya dianggap sebagai wadah untuk meningkatkan kekuatan mereka.

sebenarnya itu wajar jika kita melihat dari apa sebenarnya mereka berasal, yaitu...

rasa takut manusia!

tapi jika dipikirkan lagi, maka kita pasti akan menyadari bahwa seharusnya manusialah yang memiliki derajat lebih tinggi disini. walau bagaiamanpun juga, para Dewa hanyalah mkhluk yang tercipta dari imajinasi manusia. namun sayang, semua kenyataan itu tidak disadari oleh manusia dan pada akhirnya... sampai sekarang mereka hanya dijadikan susu perah bagi kaum Supranatural.

.

.

.

dunia yang terlihat begitu subur dengan rerumputan luas, gunung tinggi menjulang, dan angin semi yang menerpa diri. bisa dibilang, mungkin inilah keindahan alam yang sesungguhnya.

"hahahahah... hiburan yang cukup menarik! aku tidak menyangka Sekiryuutei bisa mendapat kekuatan dari hal seperti itu!" nada sombong disertai tawa yang penuh akan kearoganan, dikeluarkan oleh satu-satunya sosok yang ada dalam dunia tersebut.

sosok itu tampak masih muda dengan kisaran umur antara 25-27 tahun, memiliki gaya rambut potong samping, mengenakan kacamata hitam bundar, kaos aloha, dan berlian disekitar lehernya.. dia terlihat sedang asik meminum secangkir teh sambil menonton sebuah siaran Live dari layar hologram nyata yang tertampang di hadapannya. sebagai dudukan, dia mempunyai sebuah Kursi yang nampak terbuat dari emas murni dan beberapa berlian dengan gaya arstiketur khas India kuno.

terlihat saat ini dirinya serta seluruh benda yang ada di situ, sedang melayang jauh di angkasa. sepertinya, dia sedang begitu menikmati pertunjukan yang tertera dalam layar hologram miliknya.

Slashhhhhh

namun tiba-tiba saja sebuah pusaran dimensi muncul dibelakang tempatnya bersantai, dan tentu saja hal itu sedikit membuat fokus dari sosok tersebut teralihkan. melirik kebelakang, dirinya dapat melihat seorang pria keluar dari dalam pusaran dimensi tersebut dan ikut melayang sejajar dengan dirinya.

seorang pria berambut hitam panjang dengan gaya ekor kuda, serta memakai setelah jubah hitam berpola awan merah, sedang menatapnya datar dengan pola mata aneh yang belum perna dirinya lihat.

"hohoho... ada tamu rupanya!" setelah mengatakan itu, kursi yang menjadi tempat bernaungnya berputar pelan untuk mengahadap sosok yang sudah mengganggu kesenangannya.

kedua mata berbeda warna saling bertemu. yang satu dengan pandangan datar biasa, dan satunya lagi dengan pandangan tertarik dan senyuman seimpul.

"hohhh? apa yang membuatmu bisa datang kemari?" pertanyan itu dilontarkan oleh tuan dari tanah ini.

"[Heavenly Emperor], [Emperor of Heaven], dan [God of Heaven] Sakra... apakah itu be~"

BLASTTTTTTT

SHINGGGGG

BLARRRRRRR

bagai sebuah mimpi, dalam hitungan detik gunung yang sebelumnya memiliki ukuran dan tinggi mencapai ribuan meter, kini telah hancur dan rata dengan tanah.

gila memang jika kita melihat sebuah beam penghancur dengan ukuran yang tidak masuk akal keluar dari jari telunjuk Sakra dan melibas apa saja yang dilewatinya. terlihat dengan sangat jelas, lintasan kawah berdiameter ratusan meter tercipta memanjang lurus hingga ke arah daratan tandus yang sebelumnya adalah tempat bernaung bagi sebuah gunung.

Syurpppp

"ahhhhh..."

seteguk teh membuat tenggorokan dari sang Kaisar Surga itu menjadi segar kembali karena sebelumnya telah dicemari oleh debu yang memenuhi hampir semua wilayah yang ada dalam jangkauan lasernya.

"berani mengabaikan pertanyaanku, tentu saja kematian adalah hukuman yang pantas untuknya" ucapnya tenang tanpa merasa bersalah sedikitpun.

begitulah sifat dari makhluk yang bernama Dewa, sedikit saja tidak di hormati, maka kematian adalah hal yang mutlak bagi siapa saja yang dia anggap memiliki derajat lebih rendah.

matanya lalu kembali melihat semua dampak mengerikan dari hasil beam penghancur miliknya.

"hmm? sepertinya aku sedikit berlebihan" ucapan yang sangat bertentangan dengan nada tenangnya.

tapi tidak lama, matanya menangkap sesuatu yang melayang berhamburan cukup jauh dari hadapannya.

'apa itu?' menajamkan penglihatannya, seketika raut wajah Sakra mengkerut saat melihat puluhan kertas yang sebelumnya berhamburan, kini secara perlahan mulai menyatu dan membentuk sebuah tubuh.

Sakra cukup melongo melihat hal tidak masuk akal tersebut.

"hohohoo... ini sungguh menarik" ucapnya disertai senyum yang memanjang hingga hampir menyentuh daun telinga.

SHINGGGGG

kilauan menyilaukan terpancar dari area sekitar Sakra, dan dalam sekejap semua perabotan yang sedari tadi menemani waktu santainya, telah hilang satu persatu hingga hanya menyisakan Sakra yang sedang melayang dalam posisi duduk bersila di udara.

"aku cukup terkesan! apa yang kau lakukan bocah? bagaimana bisa kau menyatukan tubuh yang sebelumnya telah hancur?" pertanyaan demi pertanyaan dia lontarkan untuk mengutarakan semua hal yang sedang membuat bingung otaknya.

seharusnya, menyatukan tubuh yang telah hancur adalah hal yang paling mustahil bahkan bagi makhluk sekelas dirinya. tapi kemustahilan itu telah hilang dengan bukti nyata yang terpampang di depan matanya sendiri.

pemuda yang sebelumnya terkena libasan laser milik Sakra, sekarang sedang melayang santai dan menatap datar Dewa perang tersebut. tidak ada yang tau apa yang sedang dia pikirkan, ekpresi wajahnya dapat menyembunyikan semua hal yang mungkin dapat kalian semua sadari. dan hal itu juga berlaku bagi Sakra! dia sama sekali tidak bisa membaca ekpresi pemuda ini.

"masih tidak mau menjawab yahh?"

JEDARRRR

entah dari mana datanganya, tiba-tiba saja bunyi sambaran petir menggelegar dan menyambar tangan kanan Sakra yang terancung kesamping. lalu dalam sekejap, sebuah tombak petir berwarna kuning telah berada dalam genggamannya.

"walau ini tidak sekuat petir milik si tua bangka cabul itu, tapi kekuatannya sudah cukup untuk meratakan sebuah kota dalam sekejap. selain itu, petir ini juga akan menghancurkan sel dalam tubuhmu hingga ketitik dimana sel-sel tersebut akan musnah dalam ketidak adaan..."

sedikit menjeda ucapannya, Sakra lalu kembali melanjutkan.

"...kita lihat, apakah kau masih bisa bertahan dari serangan ini"

SHINGGGGG JEDARRRR

bunyi gear sebuah mesin jet disertai sambaran petir yang begitu memekakan telinga, dikeluarkan oleh tombak petir milik Sakra. kecepatannya sungguh fantastis, bahkan hanya dalam hitungan 0.5 detik...

BLARRRRRR JEDARRRRR

... serangan tersebut berhasil mengenai target.

bunyi ledakan dan sambaran petir, menghiasi seluruh tempat itu hingga membuat area dalam radius puluhan kilo meter hancur berantakan. bahkan Sakra sendiri harus menciptakan pertahanan untuk bisa terhindar dari dampak serangan maha dahsyat tersebut.

detik demi detik berlalu, akhirnya fenomena mengerikan itu telah berakhir. asap mengepul hebat, dan kehancuran dapat dengan sangat jelas terlihat. gunung dan pohon yang belumnya menjadi penyangga bagi dunia itu, kini telah hilang dan hanya menyisahkan sebuah kawah dengan luas ribuan meter, dan kedalaman yang tidak dapat dijangkau oleh mata.

kalau tingkat keruskaannya saja bisa sampai seperti itu, maka sudah jelas target yang menjadi sasarannya pastilah telah musnah! mungkin itulah yang kalian pikirkan bukan?

namun sayang, sang empuhnya tidaklah berpikir demikian!

ekpresinya mengeras dan pandangan matanya menajam saat dirinya dapat kembali melihat ribuan kertas yang berterbangan, secara perlahan mulai kembali menyatu membentuk sosok yang sempat menjadi target serangannya tadi.

pemuda itu. yahh... pemuda itu masih dalam posisi sebelumnya dengan wajah datar tanpa ekpresi padahal telah terkena serangan yang mampu membuat kota sebesar Kyoto akan hilang dalam sekejap.

'tidak berguna, yah? apakah ini yang dinamakan sebagai makhluk abadi?' itulah yang sempat dipikirkan oleh Sakra untuk saat ini. namun dirinya kembali teringat, bahwasanya tidak ada yang namanya keabadian sempurna dalam diri makhluk yang mampu bernafas.

"jika serangan jarak jauh tidak berhasil, lalu bagaimana dengan..."

Shingggg

Crashhhhh

"...serangan jarak dekat!"

"...?"

tidak ada suara, bahkan suara jeritanpun tidak bisa di dengar oleh Sakra. matanya menyipit tajam saat melihat tatapan datar dengan pola mata yang sangat aneh, menatapnya dingin seakan serangan yang dia lakukan bukanlah apa-apa. jarak yang mereka miliki sangatlah dekat, bahkan hnaya beberapa senti.

merasa aneh, matanya lalu menatap kebawah untuk melihat sebenarnya apa yang terjadi. dan kali ini, dirinya dibuat sangat terkejut dengan kenyataan yang ada.

sungguh, Sakra benar-benar tidak bisa mempercayai hal ini! bagaimana mungkin tubuh yang telah tertembus oleh tangan kanan miliknya, sama sekali tidak mengeluarkan setetspun darah dan hanya terlihat seperti kumpulan kertas yang disobek.

dengan cepat, dia menarik tangannya kembali dan mundur beberapa meter kebelakang. tidak ada lagi ekspresi tenang maupun arogan dalam wajahnya, yang ada hanyalah tatapan tajam dan rasa penasaran yang teramat sangat. apa lagi saat dirinya kembali melihat lobang yang dia hasilkan, dengan cepat kembali menutup seperti sedia kala.

'regenerasi yang luar biasa, bahkan dengan hancurnya semua sel yang ada, sama sekali tidak menghambat regenerasi yang dia miliki.' pikir Sakra sambil terus meneliti semua keanehan yang dia rasakan.

'ditambah lagi, dia sama sekali tidak memiliki energi kehidupan, pembuluh darah, maupun organ dalam. apakah ini ilusi?'

mencoba untuk merasakan jika adanya kejanggalan sirkulasi mana, namun hasilnya nihil. dia tidak menemukan apa-apa yang mungkin saja menjadi jawaban dari semua pertanyaan.

'cihh... ini membingungkan!' pikirnya.

"kau sungguh menarik bocah, aku belum pernah melihat kemampuan seperti itu sebelumnya. apa sebenarnya yang kau inginkan sehingga berani menemuiku?" pertanyaan itu sepertinya berhasil mendapat respon dari pemuda tersebut.

"tidak ada, aku hanya diberi tugas untuk menemukan lokasi keberadaanmu"

ucapan yang penuh akan aksen kedataran, seketika membuat kening Sakra semakin mengkerut. sudah cukup! semua penghinaan ini sungguh menginjak harga diri sisi keDewaannya.

"selama aku hidup, belum pernah ada yang berani mempermainkanku seperti ini, bahkan untuk Dewa penghancur sekalipun!"

kali ini nada tajam dikeluarkan oleh Sakra bersamaan dengan mengeluarnya energi merah dari dalam tubuhnya.

GRUUUUUU

energi itu terus mengeluar hingga membuat daratan bergetar pelan dan beberapa kerikil secara ajaib naik keatas untuk melawan gaya grafitasi.

mengangkat tangan kanannya keatas, seringaian Iblis dia kelurkan dan berbicara...

"jika serangan biasa tidak mampan padamu, maka akan aku berikan yang jauh lebih besar dari yang tadi!"

JEDARRRRR

seketika petir raksasa kembali menyambar hingga membuat daratan tersebut berdengung.

GROARRRRR

dan sesaat kemudian, raungan keras terdengar hingga memaksa mata pemuda itu untuk menengok keatas hanya untuk melihat petir merah yang mengambil bentuk seekor Naga beserta raungannya.

"Nostalgia, kah?"

bukannya takut, sosok itu malah menyunggingkan senyum simpul tanpa mengalihkan pandangannya dari atas, dan tentu saja hal itu semakin membuat sang Kaisar Surga tergulut emosinya.

"lenyaplah dalam lautan petir..."

Lightning Dragon God

[KIRIN]

bersamaan dengan itu, Sakra menarik tangannya kebawah dann...

Cittt cittt citttt BLARRRRRRR

ledakan maha dahsyat kembali terjadi di udara hingga membuat bulatan petir merah raksasa yang menyambar segala hal yang ada dalam sekelilingnya. sungguh serangan yang sangat mengerikan, lihat saja seluruh dunia dari dimensi itu telah hilang dan hanya menyisahkan ruang kosong berwarna putih.

*888*46"

dengan senyum kemenangan, Sakra melayang angkuh di udara masih dengan kedua tangan yang terlipat di dada. mungkin kalian akan bertanya, bukankah serangan itu akan percuma saja mengingat bahwa lawannya saat ini adalah seorang edo tensei? memang benar serangan itu tidak akan berpengaruh pada tubuh edotensei karena akan terus beregenerasi. namun, bagimana jika serangan tersebut terus terjadi secara real time tanpa henti selama berjam-jam?

itulah yang saat ini dilakukan oleh Sakra. terlihat dengan jelas, bulatan petir raksasa itu masih saja menyambar dan mengurung targetnya kedalam siksaan yang tidak akan berhenti selama berjam-jam. jika kita melihat kedalamnya, maka kita dapat menemukan tubuh edo tensei itu terus saja di koyak tanpa diberi kesempatna untuk beregenerasi.

Sakra tidaklah bodoh seperti yang kalian kira. dia tau serangan biasa tidak akan berpengaruh pada lawannya kali ini, karen itulah dia membuat inisiatif untuk melakukan serangan yang akan terus merusak hingga pada batas yang sudah ditentukan, dan sepertinya hal itu berhasil.

"aku tidak tau trik apa yang kau gunakan, tapi semua akan percuma jika tubuhmu tidak diberi kesempatan untuk beregenerasi" ucap Sakra

akan tetapi ... sepertinya dia sedikit salah perhitungan!

DHUMMMMMM

Sakra sedikit tersentak saat melihat serangannya tiba-tiba meledak dan menimbulkan kepulan asap yang begitu tebal hingga menutup area pandangannya.

"apa yang~"

pertanyaan yang hendak dia sampaikan, tercekat di tengah jalan ketika ia dapat melihat adanya sesosok makhluk astral dengan ukuran yang luar biasa besar melayang cukup jauh dari hadapannya.

tinggi dari makhluk itu mencapai lebih dari 200 meter, berwarna merah transparan, memiliki enam pasang sayap gagak, dua buah tanduk yang menghiasi wajahnya, memakai pakaian khas zaman perang edo, dan jangan lupa dua buah pedang dengan bentuk menyerupai DNA berwarna hitam pekat berada di kedua tangannya.

jauh di atas atau lebih tepatnya di dalam dahi makhkuk astral tersebut, terdapat sosok pemuda bermata aneh. dia terlihat melayang dan nampak menjadi pusat dari sosok raksasa tersebut.

mengangkat tangannya, mata itu menatap tertarik kesana saat merasakan kekuatan yang sangat jauh berbeda saat diriny masih hidup dulu.

"besar sekali, aku tidak menyangka dia mencampurkan gen Juubi kedalam tubuh buatan ini" gumamnya kagum, walau ditutupi oleh ekpresi datar miliknya.

"hohhh..?" walau sempat terkejut, kali ini Sakra malah kembali menyeringai senang melihat hal yang baru saja terjadi di hadapannya.

'khukhu... luar biasa! dari auranya saja, dapat membuatku merinding!'

kalau tidak salah, terakhir kali dirinya merasakan yang namanya nikmat pertarungan adalah saat melawan Ashura dulu. namun setelah itu, tidak ada lagi hal yang dapat menarik perhatiannya selain para Dewa superior dan tiga eksitensi Dewa Naga. tapi sekarang, dirinya kembali dihadapkan dengan sosok misterius dengan kemampuan dan energi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. namun tiba-tiba...

Deggg

'tunggu dulu! sepertinya aku mengenal jenis energi ini?!' batinnya mencoba untuk mengingat sesuatu.

'tidak salah lagi, ini adalah jenis energi yang sama dengan milik 'Nya'!'

SHINHGGGG

Fokus Sakra teralihkan saat sebuah cahaya terang berwarna merah terpancar dari sosok astral tersebut, lalu secara perlahan sosok itu mulai mengecil dan kembali kebentuk semula, yaitu pemuda yang sejak tadi mengganggu aktifitas sang Dewa perang.

"sudah kubilang, kedatanganku kesini hanya untuk memeuhi permintaan seseorang. dan sepertinya, kau sudah mengenalnya?"

pernyataan disertai dengan pertanyaan itu membuat wajah Sakra mengeras. timbul sebuah rasa kesal di dalam hatinya saat mengetahui siapa 'sosok' yang dimaksud oleh pemuda ini.

"hahhhh..." tapi pada akhirnya, Indra hanya menghela napas lelah.

"cihh... jadi si bangsat itu sudah mulai bergerak yah?" dia menutup mata dan melipat kedua tangannya di dada. "kalau benar seperti itu, maka tidak ada yang bisa aku lakukan. jadi, apa yang sedang direncanakan oleh si kepala duren itu?"

cara bicara dan intonasinya, jelas bahwa Sakra telah membuang jauh sikap arogan dan ketamakannya. walau bagaimanapun juga, dia bukanlah makhluk yang bodoh untuk tidak mengetahui dimana batas kekuatannya. buktinya, dia sendiri sadar bahwa kekuatan yang dia miliki saat ini bahkan belum mampu untuk menyamai tiga Dewa utama dalam mitologi Hindu-Budha ataupun ke tiga Dewa Naga. apalagi dengan sosok yang di sebutkan oleh pemuda ini, menmabah rasa sadar bahwa betapa kecilnya makhkuk yang katanya masuk dalam jajaran Top sepuluh dari makhluk paling Superior dalam Sejarah.

"bagimu yang baru mengenalnya, mungkin kau tidak akan mengetahui bagaimana sifat dari si bodoh itu. tapi mungkin kau bisa membayangkan akan adanya panggung permainan yang dimana tempat dan bidaknya adalah... seluruh dunia dan makhluk yang ada di dalamnya"

salah satu alis Sakra sedikit terangkat yang menandakan bahwa dirinya cukup tertarik dengan pembahasan ini.

"hohhh.. dari ucapanmu, sepertinya dia mengalami rasa kebosanan yang jauh lebih parah dari diriku ini. yahh, hal itu memang sangat wajar jika mengingat seberapa tidak masuk akal kekuatan yang dia miliki itu. harusnya makhkuk seperti dia tidak seharusnya ada di dunia ini, kau tau!" ucapnya lelah.

"dan juga, apakah kau salah satu dari orang terdekatnya? tapi lupakan, aku tidak peduli dengan hal itu! yang lebih penting, sebenarnya makhluk apakah kalian ini?"

seperti tadi, pemuda tersebut hanya diam saat ditanyai soal identitas mereka. karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Sakrapun menyerah.

"terseralah! aku harap, panggung hiburan yang kau maksud itu, bisa juga membuatku terhibur"

bersamaan dengan ucapan Sakra, pemuda tersebutpun hilang ditelan oleh pusaran dimensi meninggalkan Sakra yang hanya terdiam sambil menatap datar tempat berdirinya pemuda tadi.

'panggung permainan yah? untuk eksitensi sekelas dirinya, aku rasa itu adalah cara yang wajar untuk mencari hiburan. yahh, walaupun hal tersebut bisa saja menimbulkan kehancuran'

tanganya terangkat, dan berhenti saat menyentuh dadanya sendiri. 'huhh.. aku tidak menyangka, satu pukulannya bisa membuat luka yang tidak pernah bisa sembuh.. dasar sial!' batin Sakra dengan senyum mirisnya.

jika dilihat sekilas, tidak ada apa-apa di dada bidang sang Dewa. tapi jika kita melihat lebih teliti, maka kita bisa menemukan adanya cekungan dalam di bagian dada atasnya.

dia tidak akan pernah melupakannya! sosok yang mampu membuat makhluk sekelas dirinya bertekuk lutut hanya dengan satu pukulan. sungguh, kejadian yang tidak akan pernah bisa diterima oleh akal sehat!

.

.

.

.

.

.

.

T~B~C

.

.

.

...? halo, bagaimana kabar kalian? semoga saja baik yahh...

hummm? apa yah? mungkin saya hanya ingin mengucapkan maaf karena sangat terlambat dalam masalah update. jujur saja, saya sedang tidak mud untuk mengetik.

jangn tanyakan kenapa, seorang author pasti tau apa alasannya! salah satu yang paling susah dalam menulis fic adalah, penggambaran suasana, pertarungan, ekspresi, dan menggunakan kata yang baku dan sesuai dengan keadaan. itu adalah hal tersulit yang kadang membuat kita jenuh.

sekali lagi saya minta maaf karena terlambat untuk update. kalau ada kesalahan, mohon dimaklumi karena saya menulis apa adanya saja.

untuk pertanyaan dan saran, saya sudah baca dan akan saya pertimbangkan. pertanyaan akan terjawab seiring berjalannya waktu.

saya kira itu saja.. saya usahakan akan update secepatnya. tapi jangan terlalu berharap, karena mengetik itu capek, memakan waktu, dan yang terpenting... tidak di bayar!

sampai jumpa lagi!