Woojin bukan tipikal anak teladan yang selalu menuruti perkataan kedua orang tuanya. Bukan juga tipikal anak berprestasi yang selalu memenangkan olimpiade sains atau anak populer yang digandrungi banyak siswi. Dia hanya anak biasa, dengan nilai akademik biasa-biasa saja, dan ketenaran yang terbatas pada teman sekelas.

Namun, siapa sangka kalau ayahnya merupakan pemilik perusahaan raksasa yang merajai industri hiburan, alat-alat kesehatan, dan teknologi. Tanpa perlu sepintar Einstein, Woojin sudah pasti mewarisi setidaknya satu perusahaan cabang. Apalagi dia merupakan anak lelaki satu-satunya yang akan menjadi penerus dikemudian hari.

Tidak banyak yang mengetahui hal ini karena orang tuanya sendiri tidak membiarkan publik menyita kehidupan anak-anaknya. Mereka ingin anak-anaknya hidup normal dalam lingkungan normal seperti anak-anak normal lainnya. Tanpa gelimang harta berlebihan, dan orang-orang yang mendekati karena mau memanfaatkan mereka.

Woojin sih tidak masalah dengan semua itu. Toh, dia tidak pernah tertarik untuk menjadi pusat perhatian dan menjalin hubungan dengan banyak orang. Menurutnya, hubungan manusia itu tidak ada gunanya. Semua orang terlihat sama memuakkan untuknya.

Hingga dibangku kuliah identitas Park Woojin masih terjaga apik, hanya beberapa kolega bisnis ayahnya yang tahu, itupun demi hubungan bisnis. Dan, mereka dengan senang hati tidak membeberkannya kemana-mana.

Sewaktu kuliah Woojin mengenal seorang senior tingkat dua, lima tahun lebih tua darinya, yang memiliki kegemaran sama pada bidang fotografi. Untuk pertama kalinya dinding kokoh yang ada dalam hatinya mulai retak karena hubungan manusia tidak sepenuhnya buruk.

Minhyun, seorang pria yang baik hati dan penuh ketulusan. Mengenalkan dunia fotografi lebih dalam padanya dengan penuh ketelatenan. Tidak ada kecacatan dalam sifatnya seolah dia seorang saint atau semacamnya. Bahkan, tanpa mengetahui identitas aslinya, Minhyun rela menyisihkan sebagian uang part timenya untuk membantu Woojin. Padahal kalau dia tahu, angka nominal dalam tabungan Woojin mungkin jauh lebih banyak dari akumulasi gaji part timenya seumur hidup.

Di luar dari itu semua, Woojin menyukai sifat lembut Minhyun. Hingga tanpa sadar Minhyun sudah menjadi salah satu orang terpercaya bagi Woojin.

Tapi, apa kau tahu? Tidak ada manusia yang sempurna. Memasuki tahun akhirnya, Minhyun harus merelakan kuliahnya karena menghamili kekasihnya sendiri. Bae Irene, mengandung janin berusia enam bulan. Tanpa keluarga dan keadaan ekonomi yang buruk, memaksa mereka harus banting tulang untuk mengumpulkan uang demi kelahiran si buah hati.

Minhyun bekerja tiga kali lipat lebih keras, memakai waktu pagi-siang-malam untuk bekerja diberbagai tempat. Tinggal dalam ruang bawah tanah yang tak layak disebut rumah. Rasa kecewa Woojin berubah menjadi iba.

Dia memperkenalkan Minhyun pada ayahnya, yang terkejut karena Woojin tak pernah sekalipun mengenalkan orang lain padanya. Bahkan Woojin merekomendasikan Minhyun dan mengatakan segala hal baik tentangnya. Berkat itu, Minhyun mendapat pekerjaan disalah satu anak perusahaan dan melanjutkan kuliahnya hingga selesai. Mendapat kenaikan jabatan yang sesuai dengan tingkat akademisinya dan memulai kehidupan yang layak untuk keluarga kecilnya.

Seketika Woojin menjadi penyelamat hidup Minhyun beserta istri dan anaknya. Tidak terhitung berapa kali Minhyun mengucapkan terimakasih padanya semenjak itu.

Akan tetapi, Woojin tetaplah Woojin. Iba tidak cukup untuk mencairkan tembok yang telah kembali kokoh. Minhyun menjadi salah satu dari kerumunan orang yang dia anggap memuakkan. Hingga saat kelulusannya tiba dan dia sempat menemui Minhyun untuk sekedar basa-basi sebelum berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi.

Minhyun menunjukan foto bayi laki-laki mungilnya pada Woojin dan menceritakan dengan bangga bagaimana bayi itu mengatakan papa sebagai kata pertama yang bisa ia ucap untuk pertama kalinya. Hati Woojin berdesir aneh saat melihat bayi itu. Rasanya lebih hebat dari saat ia mengagumi Minhyun dulu, seakan bayi itu berhasil mendominasi seluruh dunianya.

Semenjak itu, mengetahui segala hal tentang Bae Jinyoung dan mengunjunginya setiap tahun menjadi agenda wajib Woojin disela kesibukannya. Sebab dia telah jatuh cinta pada bayi yang bahkan belum mengenal arti kata cinta.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Woojin mengernyit bingung ketika tiba di rumah dan mendapati pintu depannya tidak terkunci. Dengan panik dia bergegas menuju lantai dua, tepatnya kamar Jinyoung, untuk mendapati seorang wanita berperawakan mungil tapi berisi berdiri di depan pintu itu dengan wajah penasaran.

"Park Jihoon." desisnya hingga sang pemilik nama menoleh. "Apa yang kau lakukan disini?!"

Wanita itu berjengit mendengar nada bicara Woojin yang terkesan marah. Senyum cantiknya luntur dan berganti dengan rengutan.

"Begitu caramu menyambut calon istri yang tidak kau temui sebulan penuh?" cibir Jihoon, Woojin tak mengindahkan perkataannya dan menarik Jihoon menuju ruang tamu di lantai dasar.

"Pulang. Kita bicara nanti. Dan jangan kemari lagi."

Alis Jihoon saling bertaut dan matanya memicing tajam, tapi tetap meninggalkan kesan imut. Dia tahu Woojin itu pribadi yang dingin tapi haruskah sedingin itu padanya setelah tidak bertemu sebulan penuh?

"Kenapa?! Aku kan kesini karena merindukanmu! Apa susahnya berpura-pura kalau kau merindukanku juga?!" bentaknya sambil menghentakkan kaki. Woojin mengurut pelipisnya yang mendadak pening. Mulai lagi.

"Aku tahu kau tidak mencintaiku. Aku tahu kita hanya dijodohkan karena bisnis. Aku tahu itu semua. Tapi tidak bisakah kau berpura-pura menganggapku ada? Padahal aku sangat menyukaimu tapi kenapa kau jahat sekali..." marahnya dengan suara memelan di akhir. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, siap turun kapan saja.

"Pulanglah. Aku lelah. Aku akan memesankan taksi untukmu." ucap Woojin memilih untuk meninggalkan Jihoon.

Jihoon mendelik kesal.

"OPPA!!" teriaknya dengan suara parau.

Duk Duk Duk

Mata Woojin membulat. Dia berlari ke arah Jihoon yang berhenti menangis dan menatap ke atas dengan bingung.

"Suara itu lagi.."

Woojin langsung menarik Jihoon keluar rumah sebelum gadis itu sempat berpikir yang tidak-tidak.

"Tunggu! Aku mendengar suara aneh dari atas. Dari ka—"

"—pulang. Sekarang." ujarnya cepat memotong perkataan gadis itu dengan penuh penekanan.

Jihoon mencebik sebal. Woojin langsung menutup pintu tepat di depan mukanya, bahkan suara kuncinya terdengar sampai ke luar. Jihoon lantas menelpon supir pribadinya sambil mendumal.

"Memesankan taksi apanya. Dasar kejam."

.

.

.

.

.

Woojin berderap cepat menuju kamar Jinyoung. Suara ketukan itu masih terdengar walau mulai memelan. Tiga ketukan ia lakukan pada pintu sebagai balasan.

"hhhyung..." lirihan Jinyoung nyaris tak terdengar. Begitu serak dan tak bertenaga. Wajar saja, sudah terhitung 36 jam sejak Woojin menguncinya dalam kamar gelap. Tanpa minuman dan makanan.

"Apa kau sudah merenungi perbuatanmu, Baeby?" Woojin menempelkan telinganya pada pintu.

"I...yaa.." jawab Jinyoung terputus-putus.

Woojin menaikkan sudut bibirnya, "Janji takkan melawan lagi?"

"... Iihya.."

Senyum Woojin kian lebar, "Janji akan menuruti semua perkataanku dan takkan kabur lagi?"

Suara Jinyoung kian lemah di dalam sana. Woojin harus menggunakan ekstra indera pendengarannya untuk menangkap suara itu.

"..i..y..a..." lirihnya. Woojin tersenyum lebar, mengambil kunci dari sakunya dan membuka pintu kamar bercat biru itu.

Jinyoung tergeletak mengenaskan di lantai tanpa alas ataupun selimut yang menyelimuti. Woojin mengangkat tubuh lemas itu menuju kamarnya dan merebahkannya pada ranjang. Matanya terlihat sangat sayu dengan bibir pucat, Woojin memeriksa suhu tubuhnya dan meringis. Jinyoung demam tinggi.

"Tunggu di sini. Hyung akan mengambilkan air." ujarnya sebelum meninggalkan Jinyoung.

Jinyoung mengedarkan pandangan pada kamar luas tapi kosong tanpa hiasan atau perabot berarti sebelum memejamkan mata. Satu hal terlintas dalam pikirannya sebelum benar-benar terlelap. Kamar itu tampak kesepian sama seperti orang yang meninggalinya, pamannya kesepian.

Tiga hari lamanya Woojin merawat Jinyoung dengan telaten. Berbekal pengetahuan dari dokter pribadinya, ia merawat Jinyoung seorang diri. Memasakan bubur dan menyuapinya, tiap jam makan siang ia secara khusus meluangkan waktu untuk pulang ke rumah di hari kerja.

Keadaan Jinyoung berangsur-angsur pulih, panasnya juga turun berkat plester penurun panas yang selalu menempel pada kening dan obat yang diberikan Woojin. Tubuhnya tidak selemas saat Woojin mengeluarkannya dari kamar tiga hari lalu. Bahkan sudah bisa berlari ke sana ke sini kalau tidak langsung diomeli Woojin yang terus menerus menyuruhnya istirahat.

"Baeby, cepat kembali ke ranjang sebelum hyung marah." ancam Woojin kesekian kalinya tak diindahkan oleh Jinyoung.

Anak itu malah asyik bermain di sofa lalu berlari lagi ke lemari buku kemudian kembali ke sofa lagi dengan buku tebal yang kemungkinan besar tidak dimengertinya. Woojin cuma bisa geleng-geleng kepala dari ranjang.

Selama Woojin merawatnya, Jinyoung tidak lagi menghindarinya seperti dulu. Entah bagaimana dalam kurun waktu tiga hari anak itu mulai tampak nyaman berada didekatnya, mungkin karena selama itu Woojin tidak pernah benar-benar marah. Jadi, Jinyoung hanya menganggap ancamannya tidak sungguh-sungguh dan rasa takutnya menguar entah kemana.

Seperti sekarang Jinyoung berlari menghampirinya lalu menatapnya penasaran dengan alis mengerang.

"Apa?"

"Hmm" gumam Jinyoung, masih menatap dengan alis mengerang. "Kenapa disini tidak ada foto satupun?"

Woojin menaikan sebelah alis, pertanyaan random tapi cukup sulit dijawab. "Karena tidak perlu?"

"Masa hyung tidak memasang foto ayah atau ibu atau foto hyung sendiri. Papa saja selalu mengambil foto kami setiap tahun dan memajangnya di dinding sampai penuh!" celoteh Jinyoung riang, tersenyum lebar saat menceritakan papanya.

"Tidak perlu memajang hal seperti itu. Tidak penting. Lagipula aku tak suka foto." balas Woojin.

Jinyoung mengernyit, "Bohong! Papa memajang foto kalian berdua tuh, ada tiga malah."

"Benarkah?" Jinyoung mengangguk cepat, poni menyerupai mangkuknya ikut bergoyang.

Woojin terkekeh, "Itu karena papamu terlalu mencintai hyung." candanya.

"Kalau begitu kenapa hyung tidak memajang fotoku? Kan hyung mencintaiku." Pertanyaan polos keluar begitu saja dari mulut bocah itu. Woojin langsung terdiam lalu tersenyum kecil.

"Kau mau aku memajang fotomu?" Jinyoung mengangguk.

"Kemarilah. Sudah waktunya tidur." Woojin menggeser posisi dan menyingkap selimut untuknya. Jinyoung merangkak naik dan merebahkan diri pada bagian kosong, disamping Woojin.

Woojin langsung menyelimutinya dan menepuk pelan selimut yang membungkus anak itu hingga terlelap, seperti biasa. Ia selalu melakukan ini sebelum Jinyoung tidur semenjak merawatnya.

"Papa pernah menunjukkan kartu pos dari hyung. Kata papa itu hyung sendiri yang foto. Jinyoung suka sama taman penuh kelinci itu. Lucu.. hoam" celotehnya diakhiri menguap lebar.

Woojin tetap menjadi pendengar setia, sesekali tersenyum tiap nada bicara Jinyoung terdengar lucu.

"Taman bunga sama kincir raksasa itu juga bagus... terus..."

Woojin menengok ke bawah, Jinyoung sudah terlelap dengan wajah damai. Ia mengecup kening anak itu sebelum turun perlahan dari ranjang. Tangannya meraih kunci dalam saku dan menatapi gembok besi model lama yang mengunci ruang lain tepat di depan kamarnya.

Perlahan gembok itu terbuka bersama pintu yang bertahun-tahun lamanya tertutup. Udara pengap berdebu yang langsung menyambut saat ia melangkah masuk. Puluhan figura yang menempel pada dinding dan jejeran alat pengambil gambar berbagai model tertutup debu tebal.

Woojin mengambil salah satu favoritnya dulu. Kamera pertama yang ia beli dengan susah payah tanpa menggunakan uang orang tuanya, ia meniup debu pada lensanya dan terbatuk.

"Ck, ruangan ini perlu dibersihkan." Decaknya lalu menelisik seluruh ruangan.

Atensinya jatuh pada satu figura berukuran paling besar di tengah ruangan. Modelnya sederhana dengan lis hitam di sisinya, tapi senyuman lebar dari objeknya yang membuatnya tampak luar biasa. Senyuman seorang malaikat sesuai judul yang Woojin sematkan padanya. Engelslächeln.

"Kau akan terkejut kalau melihat ini semua, Baeby. Bahkan tua bangka itu sampai mengataiku tidak waras. Haruskah aku memulainya lagi?" monolognya pada udara kosong.

.

.

.

.

.

-Bersambung-