warn;full of explicit content

.

.

.

Bermimpi menginjak tanah basah, diterpa hamparan sinar matahari dan angin bertiup adalah hal yang tidak pernah dilakukan anak-anak pada umumnya. Jangankan bermimpi, sekedar menghiraukannya saja tidak. Tapi lihat yang dilakukan Bae Jinyoung sekarang.

Duduk bersila di balkon seorang diri sambil berharap sinar matahari menerpanya, atau setidaknya hilangkan atap penghalang itu agar hujan dan matahari bisa menemuinya.

Jinyoung jadi terpikir kapan terakhir kali dia terkena hujan atau berlari bebas saat hari terik. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melakukan itu. Mungkin minggu lalu? Entah dia tak lagi mengenal jangka waktu semenjak berada di sini. Hari apa sekarang pun dia tidak tahu, yang dia tahu saat Woojin berangkat kerja tandanya hari libur telah berakhir.

Akan tetapi, liburnya Woojin itu singkat sekali sampai Jinyoung lebih sering ditinggal seorang diri di rumah sebesar ini. Tanpa pernah menginjakkan kakinya keluar barang selangkah pun.

Woojin tak pernah membiarkannya keluar rumah. Pintu-pintu itu selalu terkunci mau ada atau tidaknya lelaki itu. Setiap kali Jinyoung bertanya, dia pasti akan mengalihkan pembicaraan atau menyuruh tidur.

Satu-satunya akses Jinyoung untuk menghirup udara luar atau melihat langit hanya dari balkon di lantai dua. Pintunya tidak pernah terkunci, mungkin Woojin memang sengaja membiarkannya terbuka untuk Jinyoung. Untuknya melihat dunia luar seperti sekarang, Jinyoung menarif nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.

Sejujurnya dia merindukan dunia luar. Dia rindu sekolahnya. Rindu pada teman-temannya. Rindu melihat jejeran toko dan orang lalu lalang tiap kali ia berangkat. Rindu menerobos hujan dan bermain-main di bawah rinainya sampai mama mengomel. Rindu makan kimbab di kedai bibi di seberang jalan atau bermain sepak bola bersama teman-teman. Dan, segala aktivitasnya dulu sebelum berakhir terkurung dalam rumah ini.

Jinyoung lebih menyukai hal-hal sederhana itu daripada tumpukan komik atau video kartun serta gim konsol yang dibelikan Woojin untuknya. Semuanya membosankan, tidak seru. Apalah artinya gim-gim terbaru kalau tak ada teman untuk menemaninya bermain. Apalah arti komik atau kartun favorit kalau tak ada orang yang bisa dia ajak bicara tentangnya.

Mengeluh atau protes pun selalu urung dilakukan karena takut membuat lelaki itu marah. Jinyoung sudah bersyukur belakangan Woojin tak lagi memarahi atau menghukumnya lagi, malah cenderung perhatian padanya. Tetapi tetap saja, keinginan untuk keluar dan merasakan lagi hal-hal yang telah hilang darinya tetap ada.

Langit mulai menggelap oleh gumpalan awan hitam yang berarak. Suara geruduk saling bersahutan disertai kilat cahaya menusuk dari awan kelabu. Tak lama tetesan air mulai menghujam bumi, berupa gerimis yang semakin deras.

Sorak senang terdengar disertai tepukan pada celana jeans selutut dan derap langkah kaki. Jinyoung berdiri di pinggiran balkon dengan tangan terulur ke depan, mencoba menggapai air hujan yang tampias dari atap.

Berharap buliran air itu bisa sedikit mengobati rindunya. Tetapi tanganya tak cukup panjang untuk menggapai tetesan air itu, ia harus menaiki besi melintang di sela pagar pembatas untuk mencapainya.

Senyum lebar terpatri dalam wajah mungilnya. Bertambah lebar kala ujung tangannya mulai basah oleh air hujan. Jinyoung jadi makin bersemangat untuk meraih hingga sepersekian detik kemudian tubuhnya melayang.

Jinyoung tergantung pada balkon setinggi empat meter. Yang menahan berat badannya hanya cengkraman sebelah tangan pada pagar besi.

Wajahnya memucat. Buku-buku jarinya mulai memutih saking kuatnya cengkraman pada pagar pembatas. Bukannya mencoba naik atau mencari tumpuan, ia malah melihat ke bawah pada tanah yang dipenuhi rumput tinggi dan tanaman tak terawat. Bayangan dirinya terjatuh dengan kepala lebih dulu serta tulang-belulang yang retak membuatnya ketakutan.

Teriakan minta tolong bergaung tanpa ada sahutan. Jinyoung mulai merasakan nyeri hebat pada pangkal lengannya yang sepertinya takkan sanggup menahan beban tubuhnya lebih lama lagi. Lolongan minta tolongnya mulai terdengar putus asa.

Ia semakin panik tatkala jemarinya mulai kehilangan tenaga. Hanya tinggal menghitung jari sampai pegangannya terlepas dan menghempaskannya pada tanah. Tanah basah yang dirindukannya.

Benar saja. Tak sampai hitungan kesepuluh jemarinya menyerah. Ia reflek memejamkan mata, menunggu kematian datang menjemputnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Woojin mendesah frustasi usai kepergian kepala keluarga Park dari ruang pribadinya. Kedatangan mendadak pria tua itu berhasil membuat bawahannya kalang kabut, sebab jarang-jarang komisaris datang mengunjungi kantor cabang tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Padahal tujuan kunjungannya hanya untuk membuat sang anak pusing tujuh keliling dengan berita pernikahan yang dipercepat.

Penolakan Woojin untuk menunda kali ini tidak membuahkan hasil, ayahnya telah memutuskan dengan mantap tanpa bisa diganggu gugat. Ia yakin keputusan ayahnya ini bukan tanpa sebab. Pasti ada dorongan dari pihak lain entah untuk mempercepat pelebaran bisnis atau memang desakan dari si mempelai wanita sendiri. Yang jelas, Woojin tidak bisa menerima ini semua.

Bagaimana mungkin ia menikahi wanita itu disaat sang pujaan hati hampir menjadi miliknya?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jinyoung membuka matanya perlahan manakala benturan itu tak kunjung datang. Hal pertama yang tertangkap maniknya adalah sebuah tangan kekar dengan urat mencuat sedang menggenggam pergelangannya kuat, menahannya agar tak terjatuh.

Tapak kakinya berusaha mencari pijakan ketika tangan itu menariknya ke atas. Bertumpu pada tembok penyangga di bawah pagar, ia berhasil mencapai ujung pagar dan melewatinya berkat gendongan seseorang.

Jinyoung menatap si penyelamat yang menurunkannya. Niat hati ingin berterima kasih tapi wajah murka disertai kilatan marah yang tertuju padanya memaksanya bungkam.

"APA YANG KAU LAKUKAN?! MENCOBA BUNUH DIRI SEKARANG?!" suara Woojin menggelegar bersama gemuruh petir di luar sana, Jinyoung menunduk dalam. Tak berani menatap langsung lelaki itu, kali ini Woojin tampak lebih mengerikan dari sebelumnya.

"Ti-tidak hyung." cicitnya pelan dengan bahu bergetar.

Woojin mengusap wajahnya gusar lalu berlutut untuk menyamakan tinggi dengan anak itu. Ia meraih dagu Jinyoung yang masih terisak tanpa suara untuk menatapnya.

"Ssshh don't cry, Baeby." Woojin menghapus aliran sungai pada pipi si kecil.

"Maaf, hyung ngga bermaksud marah. Hyung cuma ngga mau kehilangan, Baeby. Baeby mengerti kan?" ujarnya dengan intonasi lebih pelan. Ada nada menyesal dalam ucapannya.

Jinyoung menatap mata elang itu sebelum mengangguk pelan kemudian menceritakan kejadian sesungguhnya pada sang paman. Woojin mendesah pada akhir cerita,

"Kenapa nekat begitu cuma karena hujan? Baeby bisa mati tadi kalau sampai jatuh. Jangan lakukan hal berbahaya lagi, kau hampir membuatku jantungan."

"Jinyoung... cuma rindu main hujan hyung." cicitnya hampir seperti berbisik.

Woojin mengernyit heran, "Kau bisa sakit kalau bermain hujan."

"Iya tapi Jinyoung rindu main di luar hyung. Main ayunan di taman, main hujan-hujanan, main kejar-kejaran, main mafia, main sepak bola disekolah, makan topoki di kedai depan sekolah—ups." Jinyoung buru-buru menutup mulutnya, merutuki kebodohannya sendiri yang keceplosan tanpa sadar. Kali ini ia akan benar-benar habis oleh Woojin.

Lihat saja sekarang, semenit telah berlalu dan lelaki itu sama sekali tak menjawab. Jinyoung tak berani menatap langsung untuk mengecek ekspresi apa yang dibuatnya, kepalang takut karena kebodohannya sendiri. Tangan Woojin terangkat ke atas, Jinyoung reflek memejamkan mata.

"Jadi Baeby mau main ke luar?"

Sesuatu menyentuh kepalanya, berupa elusan lembut pada surai hitamnya. Jinyoung membuka mata, senyuman manis terpatri dalam wajah tampan itu. Pamannya sama sekali tak marah?

"Hyung ngga marah?"

"Baeby mau main keluar?" ulang Woojin.

"Boleh?" tanya Jinyoung sangsi.

Woojin tersenyum manis, kembali mengusap surai halus si kecil penuh sayang. "Boleh, tapi ada syaratnya."

"Apa?!" pekik Jinyoung, terlonjak senang.

Senyum Woojin kian lebar, "Kita bermain seperti waktu itu baru hyung ijinkan Baeby main di luar, bagaimana?"

Kesenangan anak manis itu tak berlangsung lama, bahu yang sempat naik karena terlalu senang mulai merosot bersama lunturnya senyumannya.

"Ta-tapi—"

"—tenang. Kali ini hyung akan lebih lembut dan ngga akan biarin Baeby kesakitan kaya waktu itu. Hyung janji, gimana?"

Kening si kecil mengerut, sedang berpikir keras untuk mempercayai perkataan sang paman atau tidak. Permainan yang dimaksud jelas masih meninggalkan luka begitu dalam untuknya, bukan hanya sekedar rasa sakit tapi trauma yang dialaminya waktu itu masih menghantui walau sikap Woojin belakangan memang berbeda.

"Ah iya, kalau Baeby setuju, hyung janji kita akan ke taman bermain atau lihat taman kelinci yang Baeby suka itu. Gimana?" tawar Woojin. Jinyoung tampak semakin bimbang dengan keputusannya.

"Ta-tapi hyung janji ngga akan sakit?"

"Baeby bisa pegang janji hyung." Pada akhirnya Jinyoung mengangguk pelan sebagai persetujuan.

Woojin bersorak senang dalam hati. Siapa sangka disaat keadaanya lagi tak baik karena kabar pernikahan itu, ia malah akan mendapat hiburan dari sang pujaan hati?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan, disinilah mereka sekarang. Duduk saling berhadapan dengan canggung di atas ranjang sewarna salju dalam kamar utama.

Ah sedikit koreksi, hanya salah seorang yang terlihat canggung sedangkan satunya tengah menatap dengan gemas.

Woojin menahan tawa melihat ekspresi gugup si kecil. Jinyoung duduk bersila dengan mata berlarian kesana kemari dan jemari yang saling meremat sedari tadi.

"Baeby, kemari. Kalau kau tegang begitu hyung jadi ingin cepat-cepat memakanmu."

Si kecil terlonjak, jelas terkejut saat mendengar kata makan-memakan. Ayolah dia masih diselimuti ketakutan sekarang. Woojin malah tergelak, puas menggodanya.

"Astaga aku hanya bercanda. Jangan terlihat seperti akan menangis begitu. Kemarilah hyung takkan menyakitimu."

Jinyoung menyambut uluran tangannya dan mengikuti Woojin yang membawanya pada pangkuan. Woojin menghadapkan tubuh mungil itu padanya kemudian menelusupkan kedua tangan dipinggang rampingnya.

Maniknya menelusuri tiap lekuk wajah mungil itu, dan tak berhenti berdecak kagum dalam hati atas mahakarya Tuhan yang satu ini. Ekspresi apapun yang dibuatnya entah senang, sedih, marah atau gugup sekalipun seperti sekarang tetap tak mengurangi keindahannya barang sedikitpun.

"Du bist mein Engel, der ist lustig, schön, freundlich und sehr lieb zu mir, Jinyoung-ah (Kau adalah malaikatku yang lucu, indah, baik, dan sangat aku sayangi, Jinyoung-ah)"

Jinyoung melayangkan tatapan bingung begitu mendengar bahasa yang asing baginya tapi dia tahu kata-kata itu tertuju padanya sebab paman menyebut namanya tadi.

"Wie kann Gott Kreaturen schaffen, die so schön sind wie Sie? Hat er es absichtlich gemacht, um mich verrückt zu machen? (Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan makhluk seindah dirimu? Apa dia sengaja melakukannya untuk membuatku gila?)" lanjut Woojin semakin menambah kerutan bingung di kening Jinyoung.

"Hyung bilang apa?" tanyanya penasaran.

Woojin enggan menjawab malah membawa si kecil dalam pelukan hangat. Tangannya melingkar dengan erat pada pinggang si kecil hingga tubuh mereka menempel tanpa adanya jarak sama sekali.

Tak adanya penolakan memberanikannya menyimpan dagu pada bahu si kecil. Menghirupi dalam-dalam aroma manis yang menguar dari ceruk leher dan tak lupa membubuhinya dengan beberapa kecupan.

Jinyoung mulai menggeliat saat benda kenyal dan basah menggerayangi lehernya yang terasa geli. Jilatan-jilatan kecil itu berubah menjadi hisapan pelan. Menggoda si pemilik leher.

"hhyuuung" rengek si kecil, mencoba menjauhkan kepala sang paman dari lehernya.

"hm?" Deham Woojin lalu kembali melanjutkan aktivitasnya tadi, memberi tanda semu merah pada leher jenjang si kecil.

Bibir Jinyoung mengerucut lucu, "Ihh geli hyuung. Sudaaah"

Woojin mendadak tuli. Ia tetap asyik menggigiti leher Jinyoung hingga si pemilik menjerit kecil lalu merajuk lagi karena jilatan pada bekas gigitannya. Baru puas setelah leher si kecil dipenuhi tanda merah miliknya.

"Hyung vampir!" misuh Jinyoung, Woojin tergelak sampai perutnya sakit.

Pernyataan polos itu bukan candaan, Jinyoung benar-benar memeriksa lehernya untuk mencari luka di sana. Pada titik-titik yang mulai terasa nyeri.

"Hyung mau ubah Jinyoung jadi vampir juga ya?" tanyanya penuh selidik, Woojin menahan tawa.

"Iya. Sebentar lagi Baeby akan haus dan harus minum darah. Mau coba gigit?" balasnya dengan wajah seserius mungkin.

"Eh? tapi Jinyoung belum haus."

"Lebih baik sebelum haus, jadi Baeby ngga akan kesakitan."

"Begitu.." usai menggumam Jinyoung mendekat pada leher Woojin. Keraguan sempat terlintas dalam ekspresinya tapi dia tetap menancap deretan giginya di sana lalu menggigitnya sekuat mungkin.

"Akkh"

Woojin mengaduh cukup keras, gigitan Jinyoung berhasil merobek kulitnya. Anak itu panik, reflek melepas gigitannya dan menatap dengan khawatir.

"Hyung ngga apa-apa?"

"Ah Baeby menyia-nyiakan darahnya."

Bukannya menjawab pertanyaan Woojin malah menunjuk lukanya yang mengeluarkan darah. Jinyoung tampak heran tapi sesaat kemudian mulai menjilati darah yang merembes dari luka dan menyesapnya sampai tak ada lagi yang keluar.

"Ewh rasanya aneh. Ngga enak hyung."

Ekspresi jijik terlintas dalam wajah mungilnya, Woojin tergelak lagi karena pernyataan polos anak itu. Apa Jinyoung bisa lebih menggemaskan dari ini? Bisakah dia tetap semenggemaskan ini selamanya? Rasanya Woojin jadi tak ingin Jinyoung cepat-cepat tumbuh dewasa.

Satu kecupan mendarat pada bibir cherrynya, Jinyoung sedikit terkejut tapi mulai terbiasa dengan kecupan-kecupan itu. Ia bahkan membiarkan Woojin melumat bibirnya seolah mau memakannya. Sekaligus bertanya-tanya dalam hati apa bibir termasuk makanan vampir.

Lumatan pelan itu berubah menuntut. Woojin menghisap bibir cherry Jinyoung kuat, ketagihan akan rasa manis yang menguar darinya. Seakan Jinyoung habis memakan sekantung penuh perman dan meninggal bekasnya belepotan di sana.

Pukulan bertubi mulai dilayangkan si kecil kala gigitan keras pada bibirnya seperti akan merobek belahan kenyal itu. Tak perduli, Woojin memeluk tubuh Jinyoung erat-erat dan semakin memperdalam ciumannya.

Jinyoung berusaha mendorong Woojin menjauh tapi semua sentuhan Woojin perlahan membuatnya terlena. Tangannya tak lagi terkepal untuk memukul melainkan meremat kemeja hitam yang dikenakan lelaki itu.

"mmhhh~"

Lenguhan Jinyoung semakin menambah panas aksi saling lumat dan kecap, mengalun bersama suara decakan bibir yang beradu. Woojin melesakkan lidah ke dalam mulutnya dan menjelajahi seluruh isinya. Jinyoung hanya bisa pasrah menikmati, kadang membalas belitan daging tak bertulang itu dengan lidahnya.

Kalau saja mereka tidak membutuhkan oksigen, mungkin tautan itu takkan terlepas.

Seringai kecil tercetak dalam wajah sang dominan karena pemandangan sensual di depannya. Jinyoung terengah. Mulutnya terbuka untuk meraup pasokan udara sebanyak-banyaknya. Saking rakusnya, saliva miliknya mengalir dari bibir membengkak jatuh menuruni dagu.

Woojin tak menyia-nyiakan sama sekali, ia menjilati aliran saliva Jinyoung hingga ke lehernya dan memberikan beberapa tanda baru di sana. Ditariknya kaos Jinyoung ke atas hingga tubuh polos itu terpampang sempurna. Decakan kagum tak kuasa keluar saat menatap pemandangan indah itu.

Tak membuang waktu, ia menempatkan ibu jarinya di atas kedua tonjolan di dada si kecil. Memberikan usapan lembut yang teratur lalu mencubitnya gemas hingga pekikan manis kembali terdengar.

Jinyoung menatap sebal padanya dengan bibir mengerucut. Woojin terkekeh, mengecup bibir manis itu sekilas sebelum menghisap putingnya. Memainkan daging kecil itu dengan lidahnya dan menghisapnya lagi seperti bayi.

Anak itu menggeliat geli dengan lenguhan yang tak henti lolos dari mulutnya. Sesuatu terasa menyengat dari dadanya bercampur rasa geli, membuatnya tak nyaman sekaligus nikmat di saat bersamaan. Woojin menyeringai lebar melihat reaksi yang diberikan Jinyoung atas perbuatannya.

"hhyuuung" rengek Jinyoung saat dadanya terasa kosong. Woojin melepaskan hisapannya begitu saja.

"Kenapa hm?"

Jinyoung tidak menjawab. Entah kenapa malu untuk mengatakan yang sejujurnya.

"Kau manis sekali Baeby." goda Woojin kemudian mendudukan Jinyoung pada dadanya setelah ia rebahan. Jinyoung menatapnya bingung.

"Let's learn how to feel good, Baeby."

Lagi-lagi Woojin berkata dalam bahasa yang kurang Jinyoung pahami. Ayolah kemampuan bahasa inggrisnya belum seberapa, Jinyoung harus berpikir keras untuk menerjemahkan perkataan Woojin barusan hingga tak sadar lelaki itu sedang berusaha menanggalkan celananya.

Woojin menyeringai lebar saat celana jeans biru itu berhasil lolos dari kaki si kecil. Dia bersiul melihat betapa lucunya penis kecil Jinyoung yang terpampang di hadapannya. Ini memang bukan pertama kalinya ia melihat penis yang masih dalam masa pertumbuhan itu, tapi baru sekarang dia melihatnya dalam jarak sedekat dan sejelas ini.

Sadar diperhatikan sedemikian rupa. Jinyoung menutupi kesejatiannya dengan kedua tangan, wajahnya memerah sampai ke telinga. Jelas malu ditatapi begitu oleh sang paman.

Tetapi Woojin tak membiarkan pemandangan indah itu terhalangi oleh apapun. Ia menampik tangan Jinyoung lalu dengan telunjuknya mengelus penis mungil yang sudah setengah bangun sangat pelan hingga si pemilik menggeliat tak nyaman.

"Kau tahu ini digunakan untuk apa, Baeby?" tanyanya, bermain-main di ujung penis itu masih dengan elusan pelan.

"hnn..pi—pis hyung."

"Benar. Tapi selain ini juga bisa membuatmu melihat surga."

Jinyoung kembali memekik, bertepatan dengan ucapannya Woojin menggaruk kulit berkerut itu dengan kukunya lalu mengocok kemaluan Jinyoung dengan satu tangan.

"ughh—sudaah hyung.. aneh. Jinyoung merasa aneh."

Woojin tertawa pelan mendengarnya.

"Haha bukan aneh tapi nikmat sayang. Ini akan lebih nikmat." Tepat setelah mengatakan itu Woojin mendekatkan pinggul anak itu padanya.

"Eh—h-hyung mau apa?" Jinyoung bertanya dengan panik. Woojin menempatkan selangkangannya tepat di depan wajah, kejantanannya bahkan beradu dengan dagu lelaki itu.

"Nikmati saja." ucapnya sebelum melahap seluruh penis mungil itu ke dalam mulutnya.

Woojin mulai menjilati seluruh sisi penis Jinyoung dengan telaten. Sesekali menghisapnya, juga mengulumnya. Memaju-mundurkan kepalanya perlahan seraya menggesekan giginya pada batang kemaluan anak itu.

"Ahhh hhuung!"

Jinyoung terlihat kewalahan. Seluruh tubuhnya mengejang tatkala Woojin menghisap kuat kejantanannya dan memainkan lidah pada lubang kencingnya. Tanpa sadar tangannya meremas rambut pria di bawahnya. Menyalurkan perasaan baru yang melandanya saat ini.

Permainan lidah Woojin membuatnya gila. Melilit kepala kejantanannya lalu menghisapnya kuat lagi dan lagi. Fokus Jinyoung teralihkah oleh kenikmatan hingga tak sadar jemari pria itu sudah bersarang dalam lubangnya.

"h-hyung sa—kit." Rintihan Jinyoung mulai terdengar saat Woojin melesakan jari kedua.

Tatapan menyesal terpancar dari mata si pelaku, tapi tak berniat menghentikan perbuatannya. Demi mempermudah jalan masuknya nanti, dia harus mempersiapkan Jinyoung. Sebagai permintaan maaf tangannya yang bebas memberikan elusan pada puting Jinyoung.

Memilin, sesekali menarik putingnya yang sudah mengacung tegak. Tak lupa kepalanya yang sedang mengulum kejantanan anak itu bergerak semakin cepat. Jemarinya juga tak tinggal diam, mencari titik kenikmatan dalam lubang senggamanya sembari melebarkannya.

Perlahan rintihan kesakitan Jinyoung berubah menjadi desahan nikmat. Tubuhnya mengejang tatkala jari Woojin menumbuk keras titik kenikmatannya. Meremas kuat rambut lelaki itu sampai tak berbentuk.

Jinyoung menggigit kuat bibirnya, sesuatu dalam tubuhnya serasa akan meledak.

"Ughhh hhuung—"

Kepala Jinyoung menggeleng gusar. Seakan aliran listrik baru saja menyetrumnya, tubuh itu mengejang. Memberitahu Woojin dengan isyarat sederhana bahwa dirinya akan keluar.

"HHYUUUNG!"

Jinyoung membungkuk sempurna, spermanya menyembur banyak di dalam mulut Woojin. Badan mungilnya masih mengejang kuat saat Woojin dengan semangat memerah kejantanannya, menghisap habis seluruh cairan yang keluar darinya.

Woojin benar.

Jinyoung baru saja melihat surga.

Masih dengan sisa-sisa kenikmatan yang mendera, Jinyoung menatap sayu mata lelaki itu. Nafasnya terengah-engah. Keringat membahasi seluruh tubuhnya yang mengilat. Rambut lepeknya menempel pada kening. Serta bibir yang membengkak terbuka untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Takjub.

Hanya itu yang terlintas dalam wajah lelaki bermarga Park saat menatapi keadaan erotis Jinyoung sekarang.

Woojin mengangkat tubuh mungil itu lalu merebahkannya. Mengusap peluh yang membasahi keningnya disertai kecupan pada bibirnya yang terbuka.

"Feels good, Baeby?" Jinyoung tak menjawab.

"Nikmat bukan?" ulang Woojin, kali ini mendapat anggukan pelan dari si kecil.

Woojin tersenyum senang merasa tujuannya mengenalkan Jinyoung pada kenikmatan berhasil. Dengan begini anak itu akan mengerti bahwa seks bukan melulu tentang rasa sakit tapi juga nikmat yang bahkan sanggup membawanya pada surga.

Sekarang hanya tinggal menuntaskan urusannya dan Woojin bersumpah akan membuat Jinyoung tergila-gila pada permainan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jinyoung membungkam erat mulutnya dengan kedua tangan saat Woojin melakukan penetrasi. Ia bisa merasakan benda keras melewati cincin anusnya dan membuka paksa dinding rektumnya agar melebar sampai ke bagian terdalam. Jangan tanyakan bagaimana rasanya, air mata yang membasahi pipinya mewakili keadaanya sekarang.

Perutnya terasa penuh, sesak, dan mual disaat bersamaan.

"Jangan tahan suaramu, Baeby. Hyung ingin mendengarnya." Woojin berkata tepat di belakang daun telinganya, Jinyoung merinding merasakan hembusan nafas hangat pria itu pada tengkuknya.

Tapi ia menurut, melepaskan tangan yang menutup mulutnya dan beralih meremas sprei. Woojin mengecupi seluruh punggungnya dan menggumamkan kata-kata penenang.

Jinyoung memahami satu hal sekarang. Kalau dia menuruti seluruh permintaan paman, maka paman akan memperlakukannya sangat baik. Sekalipun permintaan itu seringkali aneh, tapi Jinyoung lebih memilih melakukannya daripada membuatnya marah. Ia senang dengan perhatian dan perlakuan lembut Woojin.

Seperti sekarang, rasa sakit dibagian bawah tubuhnya perlahan berkurang dan ia mulai terbiasa dengan kehadiran benda itu dalam tubuhnya.

Woojin tak berlaku kasar seperti saat pertama melakukannya dulu. Dia menunggu dengan sabar sampai Jinyoung terbiasa dan mulai rileks.

"Hyung gerak ya?" bisiknya di telinga si kecil dan melumat daging lunak disana gemas.

Jinyoung mengangguk pelan. Rintihan pelan menguar dari mulutnya kala Woojin mulai bergerak. Gerakannya sangat pelan saking pelannya sampai Jinyoung bisa merasakan dengan sangat jelas saat penis itu meninggalkan perasaan hampa dan penuh kembali ketika menghujamnya.

Gesekan antara benda berurat dan dinding rektumnya membawa sensasi baru untuk Jinyoung. Rasanya menggelitik sekaligus sakit tapi tidak sesakit dulu. Lebih kepada perasaan ketika mencabut duri di tangan, sakit tapi diikuti perasaan lega sekaligus adiktif.

Erangan tertahan Woojin juga memberikan fakta baru untuknya, semakin ia mengetatkan lubangnya di bawah sana pasti lelaki itu akan mengerang. Entah nikmat atau sakit yang dirasa lelaki itu tapi Jinyoung suka mendengar suara beratnya.

Tunggu, suka?

Jinyoung pasti sudah gila karena menyukai suara pelaku pelecehan itu.

"Astaga kau mendadak tenang ku pikir pingsan. Apa yang sedang kau pikirkan Baeby?" Woojin bertanya khawatir setelah mendudukan Jinyoung pada pangkuannya.

Jinyoung mengerjap bingung. Dia bahkan tak sadar kapan pria itu mencabut kejantanannya. Seingatnya tadi dia masih menungging dan menerima hujaman pria itu.

"Baeby sakit?" Woojin bertanya lagi, raut cemas tercetak dalam wajahnya.

Gelengan pelan ia berikan sebagai jawaban disusul ucapan syukur pria itu. Jinyoung seringkali bertanya-tanya sosok di hadapannya ini sebenarnya seorang monster atau malaikat penolong.

Woojin selalu berubah-ubah. Acap kali marah dan berlaku kejam padanya lalu sesaat kemudian meminta maaf dan sangat perhatian. Ingatan akan perlakuan kejamnya juga masih begitu segar dalam kepala, seling berganti dengan kebaikan yang ditunjukkanya.

Bagaikan dua sosok yang berbeda dalam satu raga. Jinyoung bingung harus mempercayai yang mana tapi satu hal yang dia tahu. Permintaan Woojin itu mutlak dan ia harus menjalaninya demi mendapat sosok malaikat.

"Hyung lanjutkan ya?"

Jinyoung mengangguk dan mengikuti arahan Woojin yang menaikan pinggulnya tepat di atas kejantanan pria itu. Lenguhan kembali keluar saat lubangnya kembali dipenetrasi.

Tubuhnya berguncang naik turun seiring gerakan Woojin di bawah, menghujam miliknya dalam-dalam. Jinyoung pasrah, mengalungkan tangannya di leher pria itu dan terus mendesah kala prostatnya ditumbuk.

Woojin bergerak dengan tempo sedang, menaik turunkan pinggulnya berlawanan dengan tubuh Jinyoung. Bibirnya tidak tinggal diam, memberikan tanda pada bahu dan dada.

Kepala Jinyoung mulai terasa pening, sangat pening. Seluruh titik sensitifnya disentuh. Lubangnya yang dihujam, penisnya yang mengenai perut Woojin bahkan putingnya juga ikut bergesekan dengan dada pria itu.

Bibir Woojin terus meninggalkan jejak di seluruh tubuhnya, hentakan keras di bawah sana bahkan membuat tubuhnya ikut terdorong naik. Desahan nikmatnya terus mengalun tanpa henti. Kepala Jinyoung terkulai lemah di dada bidang pria itu.

"hyuuunghh—ahh!"

Jinyoung memekik, gerakan Woojin semakin brutal di bawah sana.

"Almost there Bae. Shh—"

Menghujam dalam-dalam miliknya, sesekali menggoyangkan pinggulnya hingga lubang Jinyoung menjepit batang kemaluannya dengan sangat ketat. Menelan masuk sampai menyentuh dinding rektumnya yang paling ujung.

Jinyoung bisa merasakan penis pria itu mulai mengembung dan berkedut di dalam sana. Tanda sebentar lagi akan mencapai puncaknya.

Woojin menarik kembali penisnya sampai ujung lalu menghentakan kasar sampai masuk seluruhnya. Tepat mengenai prostat Jinyoung yang langsung menyemburkan cairannya untuk kedua kalinya. Cairan putih itu terus keluar tanpa henti, menodai perutnya serta Woojin.

Lubangnya yang masih terisi berkedut hebat, membuat yang ada di dalamnya seperti diperas kuat, meminta untuk segera mengeluarkan maninya.

Setelah beberapa kali hentakan akhirnya milik Woojin mengisi penuh lubang si kecil, bahkan beberapa mengalir keluar saking banyaknya.

Nafas keduanya saling bersahutan masih dengan tubuh yang saling melekat. Mata Jinyoung perlahan menutup, langsung tertidur karena kelelahan.

Woojin mencabut penisnya dari lubang Jinyoung, mencium sekilas bibir anak itu sebelum menidurkannya pada ranjang.

"Hyung mencintaimu, Baeby. Cepatlah jatuh cinta padaku." bisiknya, menutupi tubuh mereka dengan selimut dan memeluk Jinyoung.

Berharap malam cepat berlalu dan esok hari malaikat kecil itu akan menjadi miliknya seutuhnya.

.

.

.

.

.

-Bersambung-

Hhhh—panjang /apanya?!/

Seriously, ini intercourse terpanjang yang pernah gue bikin wkwkwk

Btw, Woojin nya mau nikah tuh terus Jinyoung gimana nasibnya ya? :(

Oh iya, sebelumnya makasih kepada:

Seolhanna97, Woojinie, Mrknslm (belibet aku sama unnamemu XD), dan 12nnth (ini juga XD) yang sudah mau mampir dan meninggalkan jejak.

Aku sayang Baejin