"KUSO.." Sebuah suara teriakan menggema disebuah kamar. Diikuti oleh suara benda-benda jatuh membentur kerasnya lantai. Pelakunya tidak lain dan bukan adalah Oikawa Tooru.
Kedua tangannya mengepal erat di samping masing-masing tubuhnya. Rahangnya mengeras dengan kedua bola mata yang memerah. Nampak sekali jika dirinya tengah berada di puncak emosinya sekarang.
"Aku benar-benar benci hal ini." Ujarnya masih dengan rahang yang mengeras.
Ia lalu menatap kearah sebuah kaca yang berada disudut ruangan. Ia tatap tajam pantulan dirinya sendiri disana. Kemudian ia berjalan mendekati kaca itu dan berhenti beberapa senti didepannya. Masih dengan kedua bola mata yang memerah dan tangan yang terkepal erat, Oikawa tatap pantulan dirinya sendiri sembari tersenyum miris.
"Haha.. Dunia bilang kalau kau itu sempurna. Kau beruntung bisa mendapatkan semua perhatian orang-orang di sekitarmu." Jeda sejenak. Tangan kanannya yang tadi terkepal, menutup setengah dari wajahnya. "Tapi dengan semua itu, kenapa sulit sekali untuk mendapatkannya?"
"Karena kau terlalu pengecut untuk mengakui perasaanmu padanya."
Oikawa tersentak kaget ketika sebuah suara tiba-tiba saja bergetar perlahan melalui syaraf indra pendengarnya. Ia langsung memutar tubuhnya menghadap ke asal suara, dimana terdapat seorang pemuda bersurai hitam tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan santai.
"Iwa-chan?!" Perlahan-lahan tangannya yang terkepal mulai rileks.
Dan sebuah senyum cerah langsung dipasangnya sebagai topeng untuk menyembunyikan emosinya yang masih membumbung tinggi.
"Hai Iwa-chan. Kapan kau datang?" Sapanya sembari beranjak duduk di ranjang miliknya. Bersandar santai di kepala ranjang sembari memainkan ponsel miliknya, yang baru saja ia ambil dari lantai berlapis karpet beludru kamarnya.
Iwaizumi terdiam. Menelisik isi kamar Oikawa. Total ia menghela nafas lelah ketika melihat barang-barang milik si setter bersurai coklat itu berserakan bagai baru saja di terjang badai.
Iwaizumi lalu berjalan kearah ranjang Oikawa. Mendudukan dirinya di samping si empunya ranjang, juga ikut merilekskan tubuhnya dengan ikut bersandar di kepala ranjang.
"Jangan pasang wajah menjijikanmu itu di depanku. Rasanya aku benar-benar ingin muntah." Sarkas Iwaizumi.
Oikawa mendengus pelan. Ia lalu me-logout aplikasi yang dibukanya. Kemudian melempar asal ponselnya ke atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Menimbulkan suara benturan antar benda keras yang lumayan.
"Yeah.."
"Kali ini kenapa?" tanya Iwaizumi. Oikawa terdiam. Menatap datar kearah telapak tangan kanannya yang terbuka.
"Seperti biasa." Jawabnya pelan. Iwaizumi yang memang sudah tau maksud dari jawaban yang di berikan Oikawa, kembali menghela nafasnya.
"Benar-benar, kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu saja sih? Kalau kau memang pihak laki-laki di antara hubungan kalian, harusnya kau yang menyatakan perasaanmu dulu. Jika Kageyama sampai merasa nyaman dengan yang lain, kau pasti akan menyesal." Cecar Iwaizumi. Oikawa termanggu dalam diam. Ini bukanlah kali pertama Iwaizumi mengatakan hal itu padanya.
Terhitung semenjak mereka masih duduk di bangku kelas 3 junior high school. Ketika pertama kali Oikawa menyadari perasaannya sendiri untuk Kageyama. Dan ketika pertama kalinya ia marah-marah tidak jelas karena cemburu melihat kedekatan Kageyama dan orang lain. Iwaizumi selalu mengatakan hal itu.
"Kalau mengatakan aku mencintaimu pada Tobio itu semudah membalikan telapak tangan, sudah dari jauh-jauh hari aku melakukannya Iwa-chan." Ujar Oikawa sembari tersenyum miris. Tangannya kembali terkepal erat. saking eratnya hingga membuat buku-buku jarinya memutih.
"Aku benar-benar ingin membuat Tobio menjadi milikku. Hanya milikku." Lanjutnya parau.
"Baiklah. ini memang bukan pertanyaanku yang pertama kalinya. Tapi, akan ku ucapkan kembali. Sebenarnya, kenapa kau sebegini takutnya untuk menyatakan perasaanmu sendiri kepada Kageyama?" Ujar Iwaizumi sembari menatap penuh rasa ingin tau kearah Oikawa. Sedang Oikawa sendiri hanya diam membisu. Tak memberikan tanda-tanda jika dirinya akan menjawab pertanyaan yang di lontarkan sang sahabat sedari kecil. Hanya sebuah senyum kecil terkesan sendu yang di perlihatkan olehnya.
Tanpa berkata apa-apa, Oikawa ambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas. Membalikan tubuhnya menghadap Iwaizumi sembari kembali menyunggingkan senyum lebar yang benar-benar menjijikan bagi Iwaizumi.
"Hei, sudah kubilang kalau-"
"Iwa-chan mau ikut aku?" Iwaizumi menaikan sebelah alisnya bingung. Oikawa memang mengerti maksud dari tatapan yang dilayangkan Iwaizumi. Tapi ia masa bodoh. Ia langsung saja menarik tangan Iwaizumi dan menyeret si empunya untuk mengikuti langkah kakinya.
"Hoi.. hoi.. mau kemana?"
"Ikut saja Iwa-chan." Dan akhirnya Iwaizumi pasrah saja menuruti permintaan sang sahabat. Hitung-hitung untuk menghibur perasaan si setter Aoba Johsai itu supaya lebih tenang.
To Be Continue
Oke...
1
2
3
Aaaaaaaaaaaa... terimakasih buat kk2 yg udah mau meninggalkan jejak dan baca ini fic abal2.. terharu akutuh... Oke sekian.. dan ini sudah di lanjut..
Oh.. dan maaf kalo pendek ya.. hwhw...
See you next chap~
