\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/
LONG LASTING : Insecure
Chapter 2
Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto
NaruXSasu
Maaf jika ada typo. Enjoy!
\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/
Sungguh. Benar-benar dari dalam lubuk hatinya Naruto tidak mau memikirkan Sasuke barang sedetik pun. Namun dengan lancang gambaran tentang Sasuke selalu merogoh masuk ke kepalanya. Merusak tatanan logikanya.
Setelah enam bulan kedatangan pemuda itu ke sekolahnya, hal itu makin menjadi. Mengesampingkan sifat asli Sasuke yang cuek dan dingin. Enam bulan itu bukan waktu yang lama untuk mengenali sifatnya. Justru dengan sifatnya itu, Sasuke makin menjadi idola sekolah. Sosok pemuda tampan dan cool. Ya, itulah sosok Sasuke di mata para murid perempuan.
Bahkan sudah ada fans clubnya segala.
\(^.^\) (/^.^)/
Sasuke berjalan di koridor menuju ke kelasnya. Tangan kirinya menenteng tas sekolahnya ke belakang bahunya. Berjalan dengan tangan kanan masuk ke saku celananya. Tidak lupa sebagian para murid perempuan menguntit di belakangnya seraya terkikik-kikik.
Perasaan Sasuke, gaya berjalan dia yang seperti itu adalah biasa. Tapi bagi para murid perempuan, gestur sederhana seperti itu sudah mampu melelehkan hati mereka.
Begitu masuk ke kelas, kelereng onyx Sasuke bertemu pandang dengan Naruto, dengan posisi tangan kanan Naruto yang merangkul leher Kiba. Tawa bahak Naruto yang beberapa detik lalu membahana seketika senyap bebarengan dengan bertemunya mereka di kelas.
"Apa kau lihat-lihat?"
"Cih, Dobe."
"Apa kau bilang?!"
Dan Sasuke pun berlalu tanpa menggubris Naruto, mendaratkan dirinya ke tempat duduknya. Begitu juga dengan Naruto yang tak ambil pusing. Melanjutkan candaannya bersama Kiba. Sesekali tertawa terbahak-bahak di antara candaan konyolnya.
Sebenarnya, Naruto yang tak ambil pusing itu bohong. Dalam dadanya, jantung Naruto berdetak hebat ketika memandang dua bola mata hitam kelam itu sesaat dia dan Sasuke berpapasan tadi. Naruto berusaha menyembunyikan apa yang dirasakannya. Mengabaikannya dengan candaanya yang dia buat bersama Kiba.
Tapi itu tidak berhasil. Jantungnya tetap berdegup kencang bahkan sampai bel masuk kelas berbunyi.
Ya Tuhan, tolong aku. Batin Naruto sengsara.
\(^.^\) (/^.^)/
Sudah menjadi rahasia umum kalau Naruto dan Sasuke itu tidak akur. Ada saja yang dipermasalahkan. Ada saja yang diributkan. Itu 'sih yang dilihat orang luar. Yang sesungguhnya terjadi, Naruto suka cari gara-gara dengan Sasuke.
Saat Sasuke sedang santai berjalan, Naruto memukul kepala Sasuke dengan buku paket. Saat Sasuke sedang ganti baju olahraga, baju seragam milik Sasuke, Naruto sembunyikan. Tak luput dari buku pelajaran yang turut Naruto sembunyikan, membuat Sasuke harus mengerjakan PR-nya lagi begitu pergantian jam sebelum PR itu dikumpulkan. Tak hanya sampai situ, sering Naruto merebut nampan makan siang Sasuke di kantin.
Suatu saat ketika, agaknya Sasuke sudah muak dengan perlakuan Naruto dan lekas menyeret Naruto dan membanting badannya ke dinding, seraya mengangkat kerah Naruto tinggi-tinggi. Terjadi begitu Naruto merebut nampan makan siang Sasuke.
Itu terjadi di kantin, cukup untuk menjadi pusat perhatian. Yaaah, mengingat dinginnya Sasuke yang ternyata bisa marah juga.
Sasuke memandang Naruto lekat-lekat. "Sebenarnya apa maumu?!"
Naruto membalas tatapan Sasuke. Tak gentar dengan tatapan tajam itu. "Tidak ada," jawabnya singkat.
Tatapan Sasuke ke Naruto berlangsung kurang lebih lima detik sampai dia melonggarkan genggamannya terhadap kerah baju seragam Naruto. Menghembuskan nafasnya, menggemerutukkan giginya kuat-kuat, lalu pergi meninggalkan Naruto begitu saja. Mengabaikan rasa lapar yang tadi sempat hinggap di perut Sasuke.
Aktifitas makan murid lain yang semula tertunda kembali berjalan semestinya. Sudah jadi rahasia umum pula kalau Naruto dan Sasuke bagai kucing dan tikus yang ribut seolah tiada henti, tetapi tidak sampai turun fisik seperti tadi. Kejadian langka, tapi itu tak dianggap, seperti iklan lewat. Para murid melanjutkan aktifitas makan mereka, lebih mementingkan perut masing-masing yang keroncongan.
Mereka sama sekali tidak menyadari kalau Naruto langsung melesat ke toilet bersama dengan senyum yang tak terelakkan tersungging di wajahnya. Memukul-mukul dinding toilet begitu Naruto berada di dalamnya.
Bukan, bukan ungkapan amarah. Justru sebaliknya, itu ungkapan suka cita. Memukul dinding toilet. Berlonjak-lonjak girang. Kalau bisa, Naruto ingin teriak. Tapi itu nanti akan mengundang perhatian.
Cukup sederhana kalau boleh bilang. Naruto senang dengan tatapan Sasuke yang diarahkan ke padanya. Aneh memang, tapi begitulah. Naruto haus akan perhatian Sasuke.
Alasan Naruto suka cari gara-gara dengan Sasuke karena Naruto ingin Sasuke terus memandangnya. Memang benar dengan tatapan Sasuke yang dilancarkan kepadanya, membuat laju jantung Naruto meningkat dan Naruto tidak nyaman dengan itu.
Tetapi Naruto ketagihan.
Naruto tidak nyaman dengan keadaan jantungnya yang melaju kencang, namun dibalik itu ada perasaan membuncah di hatinya. Perasaan senang yang tak terhingga. Melebihi rasa senang Naruto yang didapatnya saat mendapat traktiran Ramen dari Kiba.
Jika terlalu sering melakukan hal sama seperti itu—menyembunyikan baju seragam, buku, dan merebut jatah makan siang—Naruto takut motifnya akan ketahuan. Sasuke itu pintar. Naruto benci mengakuinya, tapi itu kenyataanya. Sasuke itu ranking nomor satu secara paralel.
Naruto memutar otaknya. Harus dengan cara apa lagi agar Sasuke mau memperhatikannya. Memberikan secuil perhatian Sasuke ke padanya. Tidak mungkin juga Naruto akan berseru dan meminta secara terang-terangan kalau, 'Hei Sasuke, perhatikan aku!'
Itu konyol.
Sudah habis dengan ide apa lagi yang mau Naruto lancarkan ke Sasuke untuk mengais perhatian Sasuke dengan otak dengkulnya yang seolah berasap. Naruto repot-repot mau menggunakan otaknya karena Sasuke itu—sekali lagi mengingatkan—dingin. Sasuke itu kalau tidak ditabok mukanya tidak bakal mau menoleh.
Bahkan dengan wara-wiri fans club di belakangnya sama sekali tidak mengusik dirinya, seperti dianggap angin lalu. Sikapnya memang begitu tetapi tidak ada satu pun yang bisa membencinya. Tidak bisa dipercaya juga kalau tidak hanya para murid perempuan saja, para murid laki-laki pun sampai ada yang berebut satu tim dengan Sasuke jika ada pelajaran olahraga, dan berebut satu kelompok dengan Sasuke kalau ada diskusi di kelas.
Singkat kata. Perhatian Sasuke itu mahal.
Ditambah cuek, dingin, tapi populer.
Lamunannya buyar ketika namanya dipanggil dan Naruto langsung bangkit dari kursinya, mengambil kertas ujian harian yang dibagikan oleh Kakashi-sensei. Belum sempat Naruto melihat hasil ujiannya, kepalanya langsung ditimpuk oleh Kakashi-sensei, yang membuat empunya mengaduh.
"Ini sudah ketiga kalinya nilaimu turun drastis, Naruto. Sebentar lagi kenaikan kelas. Kalau begini caranya, kau tidak akan naik kelas," ujar Kakashi-sensei yang sama sekali tidak diperhatikan oleh Naruto. Dia sibuk mengusap kepalanya dengan tangannya. Pukulan Kakashi-sensei ke kepalanya cukup sakit.
"Begini saja," Kakashi menaglihkan tatapannya ke Sasuke. "Sasuke, kau 'kan murid terpandai di sekolah ini. Mulai sekarang Naruto adalah tanggung jawabmu. Kau harus mengajari Naruto sampai dia bisa sehabis pulang sekolah minimal dua kali seminggu. Di sini, di kelas ini. Jangan berharap kalian bisa membohongi aku. Di sini ada CCTV."
Kali ini perkataan Kakashi-sensei mendapat perhatian penuh dari Naruto. Naruto tidak salah dengar 'kan? Kesimpulannya, Sasuke akan belajar bersamanya 'kan?
Beberapa menit lalu Naruto sibuk memutar otaknya untuk mencari perhatian Sasuke dan sekarang tanpa dia harus berusaha seperti minggu-minggu lalu, Sasuke akan memperhatikannya minimal dua kali dalam seminggu! Tidak hanya memperhatikan, tetapi bertanggung jawab atas dirinya!
Ralat. Di sini maksudnya bertanggung jawab atas nilainya.
Keputusan final Kakashi-sensei tidak bisa diganggu gugat. Bahkan sebelum Sasuke menyuarakan dirinya apakah dia mau atau tidak.
\(^.^\) (/^.^)/
Satu bangku, dua kursi. Naruto dan Sasuke duduk saling berhadapan. Di meja terarak buku-buku pelajaran dan alat tulis lainnya.
Kalau Sasuke berhenti mengoceh perihal apa yang tertera di buku pelajaran itu, niscaya kelas ini akan pas untuk jadi tempat tidur Naruto. Sejak awal pembelajaran kecil ini dimulai, Sasuke sudah mewanti-wanti Naruto untuk memperhatikannya dengan baik karena Sasuke tidak akan mengulangi penjelasannya untuk yang kali kedua.
Pada kenyataannya, berbanding terbalik. Apa yang keluar dari mulut Sasuke seperti menguap begitu saja. Terabaikan oleh Naruto.
Sebab Naruto tengah memperhatikan sosok Sasuke di depannya. Bagaimana jemari pucat itu menuding rumus-rumus dengan pulpennya, bagaimana cara Sasuke berbicara dengan bibir tipisnya, bagaimana Sasuke mengontrol laju nafas yang membuat dadanya naik turun. Dan jika saja Naruto mau untuk menurunkan pandangannya sedikit saja, Naruto bisa melihat dada Sasuke dari dua kancing baju yang sengaja dibiarkan terbuka.
Gerah? Padahal kelas ini ada AC.
Hawa dingin di kelas ini sama sekali tidak membuat kepala panas Naruto turun suhu. Yang tadi mata Naruto menelusuri Sasuke dari wajah lalu turun ke dada Sasuke, membuatnya pening.
Oke. Secara anatomi, tubuh miliknya dengan tubuh Sasuke tidak ada bedanya. Mereka laki-laki. Tapi bagaimana bisa pemandangan seperempat dada bidang Sasuke yang mengintip dari dua kancing seragam yang dibiarkan terbuka membuatnya hilang arah? Ya Tuhan, itu dada laki-laki, bukan dada perempuan!
Naruto heran dengan dirinya sendiri.
Akhirnya, Naruto menutup matanya erat-erat. Seraya mengernyitkan dahinya. Menelan mentah-mentah pikiran apapun itu yang ada di kepalanya.
"Heeei, Dobe. Kau paham tidak dengan apa yang aku jelaskan?" seketika Naruto membuka mata, mengerjap. Otomatis sekarang Naruto bertukar pandang dengan kelereng hitam Sasuke. "Kalau kau tidak paham, bukan salahku. Sudah ku peringatkan tadi kalau aku tidak akan mengulangin penjelasanku."
Tanpa menunggu respon Naruto, Sasuke melanjutkan penjabaran rumusnya. Kali ini Naruto memperhatikannya. Mengabaikan pemandangan apa yang sedari tadi mengganggunya.
Sesekali, terdengar keluhan Naruto tentang cara pembelajaran Sasuke yang terlalu cepat, juga Sasuke yang mengeluh soal betapa lemotnya pikiran Naruto. Olokan Dobe, Teme, sesekali juga menjadi polusi suara di kelas itu.
Meski dengan cengiran kuda Naruto dan hembusan nafas panjang Sasuke, sudah dua jam berlalu, dan matahari sudah samar-samar menenggelamkan dirinya. Diantara waktu itu Naruto benar-benar menikmati waktu kebersamaannya dengan Sasuke dimana Naruto benar-benar menikmati segala perhatian Sasuke yang Sasuke curahkan ke Naruto.
Perhatian yang minggu-minggu lalu butuh usaha untuk Naruto dapatkan, sekarang Naruto dapatkan dalam dua jam ini. Iya, jantung di rongga dadanya berdetak hebat. Itu tidak bagus. Tapi Naruto suka.
Satu pemikiran Naruto tiba-tiba muncul dari kepala Naruto. A la bohlam yang muncul di atas kepala Einsten.
Naruto jatuh cinta dengan Sasuke. Masa'?
\(^.^\) (/^.^)/
Jarum jam yang menunjuk angka setengah dua malam tidak menjadi penghalang bagi Naruto untuk menelepon Kiba, sahabat karibnya. Sekali, dua kali tidak diangkat. Setelah mencoba tiga kali akhirnya diangkat juga.
"Apa telepon malam-malam? Jam di kamarmu rusak, ya?" terdengar nafas berat dan suara sayup yang menandakan Kiba masih setengah sadar.
"Ayolah Kiba, dengarkan aku sebentar."
"Kali ini masalah apa lagi? Panik PR-mu belum kau kerjakan? Aku tadi sudah contek punya Shikamaru, besok kau bisa menyalinnya, jangan khawatir," jeda sebentar, "Atau—oh!, jangan bilang koleksi video pornomu ketahuan Kakek Jiraiya, ya?!"
"Aduh, bukan itu!" erang Naruto frustasi. "Ini lebih gawat dari itu semua!"
"Lalu tentang apa sampai-sampai kau meneleponku malam-malam seperti ini? Aku ngantuk, tahu."
"Hm... Itu, tentang—," Naruto tidak segera meneruskan kalimatnya. Agaknya Naruto bingung memilih kalimat yang tepat. Jeda lama sekali sampai menguras kesabaran Kiba.
"Ku tutup."
"—JANGAN!"
"Bicaralah, bodoh!"
Naruto menelan ludah. "Begini," Naruto menghela nafas, "Aku kenal seseorang. Belum lama 'sih. Sifatnya juga tidak baik-baik amat," Naruto tiba-tiba ingat kejadian tadi ketika belajar bersama dengan Sasuke, entah sudah berapa kali kepalanya jadi sasaran empuk buku Sasuke karena Naruto tidak kunjung paham dengan penjelasan Sasuke, tak sadar membuat Naruto tersenyum.
"Terus?" desak Kiba.
"Aku suka dengan semua yang ada di dia. Cara dia berjalan, berbicara, tatapannya, sifatnya yang tidak baik-baik amat tadi, dan, Ya Tuhan, aku bahkan suka juga dengan bentuk fisiknya!"
Tak dipungkiri fisik Sasuke memang proposional.
"Terus?" desak Kiba lagi.
"Itu—apa tandanya? Aku bingung."
Mendengar Naruto, Kiba jadi ikut berpikir. "Dadamu berdebar?" tanyanya, memastikan.
"Iya."
"Matamu selalu mengekor dia?"
"Iya."
Kiba menepuk dahinya, baru sadar kalau temannya yang satu ini bisa sebodoh ini. "Jatuh cinta itu namanya."
Tidak ada jawaban dari Naruto. Oh tidak, pemikiran Naruto tadi sama persis dengan kesimpulan Kiba dari curhatan Naruto. Naruto jatuh cinta dengan Sasuke. Itu intinya. Orang seperti Kiba yang dia curhati tadi tanpa menyebutkan merk saja bisa mengambil kesimpulan tepat sasaran. Hanya saja Naruto bimbang. Benarkah apa yang dia rasakan selama enam bulan sejak kenal Sasuke? Benarkah ini rasanya jatuh cinta?
Naruto tahu, hanya ingin memastikan saja.
"Sebentar, kamu merasakan dadamu berdebar ketika kenal dia, tapi dadamu berdebar itu mulai sejak kapan?"
"Dua jam sejak ketemu dia." Benar, hanya butuh dua jam sejak kedatangan Sasuke ke kelas dan mengusik perhatian Naruto, membuat kepalanya dilempar dengan spidol oleh Kurena-sensei karena mengabaikan pelajarannya dan sibuk memperhatikan punggung dan tengkuk pemuda itu.
"Wow! Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama!"
"Begitu, ya?"
"Iya!"
Hm... begitu, ya? Batin Naruto. Seperti inikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama?
"Tunggu sebentar. Jangan bilang kamu jatuh cinta dengan Sasuke! Aku ingat dulu sekali kamu sempat bilang kalau Sasuke itu mempesona, dan itu tidak butuh waktu satu hari kenal dengan Sasuke untuk kamu bilang seperti itu!"
Mata Naruto terbelalak. Bagaimana tebakan Kiba tepat sasaran lagi? Bukankah tadi Naruto sama sekali tidak menyebut nama Sasuke? Apakah dari cerita Naruto, bisa ditebak dengan mudah?
"Itu tidak benar 'kan? Ku harap tidak. Karena itu menjijikkan. Pria dengan pria, memikirkannya saja membuatku merinding."
Kali ini Naruto tertegun dengan ucapan Kiba, menohok hatinya. Seakan diingatkan oleh ucapan Kiba akan kenyataan penting kalau Naruto itu jatuh cinta dengan seorang pria.
Sesi curhat tengah malam Naruto berakhir dengan ditutupnya telepon oleh Kiba karena Kiba mengeluh ngantuk dan tidak kuat untuk membuka matanya. Naruto menghempaskan ponselnya ke sampingnya seraya menghembuskan nafas panjang. Panjang sekali.
Pemikiran ini salah. Kenyataan kalau Naruto suka Sasuke itu salah. Pria suka dengan pria itu salah kaprah.
\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/
To Be Continued
\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/
A/N:
Maaf saya lupa mencantumkan pairing #deep bow. Saya pribadi suka N.S, tapi bukan berarti saya benci S.N lho ya, awal kenal fandom ini pun saya cinta S.N kok. Gak masalah itu S.N atau N.S yang penting mereka bersama~ Maka dari itu di fic ini walau N.S saya ndak begitu berat sebelah. Tergantung sudut pandang pembaca. Fic ini bisa jadi S.N juga.
And~ Thanks untuk uu dan liaajahfujo atas reviewnya :*
Oke gaess, seperti biasa. Saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan diri membaca fic saya. Kritik dan saran dibuka dengan lebar selebar landasan bandara :D
Tengkyu veri mach, minna-san. Lop yu oll :*
