\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/

LONG LASTING

Chapter 3 : What to do?

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

NaruXSasu

Warning : BoyXBoy, typo (saya harap tidak ada). Don't like don't read! Enjoy!

\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/

Bagaimana Naruto tidak gundah gulana jika sahabatnya sendiri berkata kalau pria suka dengan pria itu menjijikkan? Karena itu adalah kenyataan pahit yang sekarang Naruto alami.

Naruto suka dengan Sasuke. Pria suka dengan pria. Tapi rasa suka ini tidak bisa dibendung.

Jika ingat dengan perkataan Kiba di telepon bulan lalu tentang betapa menjijikkannya percintaan sesama pria, tentu itu membuat Naruto jengkel, yang secara tidak sadar, Naruto mendiamkan Kiba selama beberapa minggu. Kiba juga bingung dengan perubahan sikap Naruto yang tiba-tiba. Apakah Naruto marah karena Kiba tidak kunjung memenuhi janjinya untuk mentraktir Ramen? Itu kemungkinan besar yang bisa Kiba simpulkan. Padahal bukan itu alasan utamanya.

Juga pada akhirnya Naruto sadar akan sikapnya yang konyol dan kekanakan ini. Akhirnya Naruto berhenti merajuk.

\(^.^\) (/^.^)/

Senyum lebar Kakashi-sensei bisa terlihat jelas dari balik masker yang setiap hari ia kenakan begitu selesai membagikan kertas ujian. Bagaimana tidak? Jarang-jarang juga Naruto mendapat nilai Matematika sembilan puluh, apalagi seratus. Bakal tidak mungkin. Tapi khusus hari ini, Naruto mendapat nilai sembilan puluh, otomatis mengundang suara riuh dari seisi kelas. Ini berkat kerja keras Sasuke yang setiap hari senin dan kamis mengajari Naruto habis pulang sekolah.

Seharusnya, rutinitas belajar sehabis sekolah Naruto dengan Sasuke usai, tetapi kenyataannya tidak. Tetap berlanjut di bulan berikutnya. Tidak hanya mata pelajaran Matematika, tetapi merembet ke mata pelajaran lainnya. Tidak hanya seminggu dua kali, tetapi empat kali. Dan jika Sasuke lagi mood, Naruto bisa menghabiskan hampir setiap hari belajar dengan Sasuke sepulang sekolah.

Serta pindah-pindah tempat. Tidak hanya di kelas. Bisa di taman, di bawah jembatan, bahkan tempat duduk di depan supermarket.

Jika dengan semua kebiasaan-kebiasaan ini, bagaimana rasa suka Naruto ke Sasuke tidak bertambah? Bagaimana pula Naruto bisa membendung agar tidak jatuh makin dalam oleh Sasuke?

Naruto menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Sampai-sampai lembar buku pelajaran di depannya ikut terbalik.

"Kalau ada yang tidak paham, tanya saja, tidak usah sungkan. Nanti kepalamu berasap kalau dipendam lama-lama," celetuk Sasuke, begitu sadar dengan hembusan nafas Naruto.

"Sembarangan!" seru Naruto. Rasanya Naruto ingin memukul kepala raven itu. Yang membuat kepalanya berasap itu ya tidak lain adalah Sasuke itu sendiri, yang bersangkutan sama sekali tidak sadar.

Kali ini lokasinya di bawah jembatan. Lain dari biasanya yang sepulang sekolah ketika mereka belajar bersama. Hari ini spesial. Mereka melakukan rutinitas rutin mereka pada hari Minggu. Awalnya Sasuke yang mengajaknya dan Naruto mengiyakan. Plus ini baru kali pertama Naruto melihat penampilan Sasuke berbaju bebas.

Kaos gelap berlengan pendek. Celana jean dengan sobekan di kedua lututnya. Sepatu kets. Tidak lupa jam tangan—yang sekali pandang saja nampak kalau itu adalah jam tangan mahal—yang melingkar di pergelangan tangannya.

Penampilan Sasuke ditunjang dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang sesekali menerbangkan rambutnya. Yaaah, rambutnya bergoyang bak rambut seorang pangeran di atas kuda yang diterpa angin.

Kesimpulannya, Sasuke ganteng. Itulah sosok Sasuke yang sekarang terlihat di bola mata laut Naruto.

Naruto mengerjabkan matanya kaget ketika Sasuke tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arahnya. Entah sudah keberapa kalinya Naruto temu pandang dengan Sasuke sejak mereka sering bertemu, namun debaran jantungnya tak kunjung menurun. Belum juga terbiasa.

"Kenapa?" tanya Sasuke.

"Tidak."

"Ada yang tidak paham? Tanyakan saja."

"Tidak ada."

"Lalu?"

Sebenarnya ada yang menggelitik Naruto. Daripada membuatnya penasaran, akhirnya Naruto utarakan saja.

"Kau tahu 'kan kalau Kakashi-sensei sudah tidak menuntutmu untuk belajar bersamaku lagi. Aku juga yakin kalau sensei-sensei lain tidak ada yang memintamu untuk mengajari aku seperti yang Kakashi-sensei pinta. Tapi, kenapa kamu mau repot-repot melakukan ini? Kamu sendiri tahu 'kan, aku itu kalau dijelaskan satu dua kali juga tidak paham-paham amat. Dan aku tidak tahu darimana datangnya kesabaranmu itu," jeda sebentar untuk mengambil nafas. "Sungguh," Naruto melanjutkan kalimatnya, "Aku bertanya dari lubuk hati yang paling dalam. Ada apa denganmu ini?" tanya Naruto dengan nada yang mendramatisir.

"Simpel," Sasuke menutup bukunya, menyusul Naruto yang sudah menutup bukunya duluan. "Aku hanya tidak mau namaku dibawa-bawa kalau nanti kamu tidak lulus."

Naruto menganga, tidak percaya dengan perkataan yang barusan dilontarkan oleh Sasuke. Anak ini—benar-benar. "Jadi kamu tidak ikhlas, begitu?!"

"Memangnya aku pernah bilang kalau aku ikhlas?"

"Awas ya kalau lulus nanti peringkatku lebih tinggi dari punyamu, tidak aku kasih imbalan."

"Silahkan saja. Memangnya kau bisa mengungguli aku?" Sasuke menyeringai, sepadan dengan rasa congkak dari nada bicaranya barusan.

Naruto tidak membalas perkataan Sasuke namun Naruto membalas seringaian angkuh Sasuke. Saling menatap dan tetap melanjutkan seringaian masing-masing. Sampai lambat laun seringaian itu berubah menjadi tawa kecil.

Baik Naruto ataupun Sasuke sama-sama tidak melanjutkan kegiatan belajar bersama mereka. Tapi lebih ke menikmati suasana. Tidak, bukan suasana hening. Sesekali suara arus air sungai menjadi pengisi keheningan. Tepatnya di bawah jembatan dan tiga meter di depannya terbentang sungai yang mengalir.

Sudah hampir satu tahun Naruto bertemu Sasuke. Tetapi tidak ada satupun hal pribadi Sasuke yang Naruto ketahui. Entah itu tentang hobi Sasuke, makanan favorit, lagu kesukaan, apapun itu yang berhubungan dengan biodatanya. Jangankan tanggal lahir, alamat rumah dan nomor teleponnya saja Naruto tidak tahu.

Untuk ukuran seorang Sasuke, sosok yang menjadi tambatan hati Naruto, dan parahnya, Naruto tidak tahu secuil pun tentang Sasuke, bukan 'kah itu luar biasa?

Terbesit di dalam pikirannya untuk bertanya langsung kepada Sasuke, minimal tahu lah alamat rumah dan nomor telepon. Tapi untuk bertanya hal sekecil itu, Naruto takut akan merusak hubungannya dengan Sasuke yang susah-susah Naruto jaga agar tidak kikuk sedemikian rupa. Kalau dipikir secara nalar, tidak ada yang aneh dengan meminta alamat rumah dan nomor telepon. Naruto juga pernah meminta dua hal itu ke Kiba, dan Naruto tidak berpikir panjang lebar dan serumit ini.

Tapi ini beda. Yang Naruto hadapi itu Sasuke. Orang yang ia sukai. Naruto menjaga dengan sangat hati-hati agar Sasuke nyaman berinteraksi dengan dirinya. Yah, saling melempar ejekan dan mencari gara-gara adalah contohnya.

Naruto sesekali memeluk lututnya. Sesekali meremas rambutnya juga dengan ekspresi wajah aneh. Mulutnya kadang komat-kamit. Dan kalau bisa, Naruto ingin berguling-guling. Mengurangi rasa campur aduk di hatinya yang Naruto rasakan sekarang. Alamat rumah dan nomor telepon Sasuke. Dua hal itu membuat pikirannya kacau.

Naruto tidak sadar kalau Sasuke sedari tadi memperhatikan gelagatnya. "Kau aneh, " komentarnya.

"Gaah, Diam!"

Selanjutnya Sasuke mengajak Naruto makan, dengan iming-iming traktiran. Tentu Naruto senang hati menerima ajakan Sasuke. Bukan karena ditraktir, tetapi karena Sasuke menawarkan diri untuk mentraktirnya. Bukankah ini sebuah kemajuan? Maksudnya, tentu seseorang tidak akan mau mentraktir seseorang kalau seseorang itu bukan seseorang yang dekat, bukan?

Dengan kata lain, setidaknya Sasuke sudah mengakui keberadaan Naruto sebagai orang terdekat. Entah itu hanya sebagai sahabat atau apalah itu.

Tapi begitu sampai di tempat tujuan, Naruto memanyunkan bibirnya. "Hei, temeee. Aku mau Ramen Ichiraku. Kok di sini?"

"Apa itu? Aku tidak tahu," balas Sasuke acuh.

Tampak bangunan Mc. Donald di depan mereka berdua, bangunan yang menyediakan makanan cepat saji. Tadi Sasuke sempat bilang mau mentraktirnya makanan yang Naruto sukai yang otomatis di pikiran Naruto mereka akan mampir di kedai Ichiraku. Dan ternyata berbanding terbalik.

"Bohong kau. Bilang saja dari awal kalau kau ingin makan di sini. Pakai acara traktir makanan kesukaanku segala."

Sasuke tidak menanggapinya. Tetap melangkahkan kakinya masuk ke Mc. Donald dengan Naruto yang mengekor di belakangnya, omelan kesal batal ditraktir Ramen jadi pengiringnya. Begitu mereka dapat tempat duduk, Naruto melemparkan pertanyaan.

"Kau suka makan di sini?"

Naruto sebenarnya sempat heran juga, secara Sasuke itu anak orang kaya. Bagaimana Naruto tahu kalau Sasuke anak orang kaya sedangkan dia pun tidak tahu rupa rumah Sasuke? Jangankan rupa rumah, alamat rumahnya saja Naruto tidak tahu. Mengingat itu membuat Naruto jengkel lagi.

Kalaupun ada orang seperti Naruto yang menilai Sasuke adalah anak orang kaya tanpa tahu rupa rumahnya, alasannya karena setiap hari Sasuke di antar jemput dengan mobil Marcedes Benz. Satu fakta itu sudah menjadi bukti kuat. Itu mobil mahal. Sekarang pun Sasuke juga menggunakan jam tangan mahal.

"Tidak," jawab Sasuke singkat.

Naruto mengerutkan dahinya. "Terus? Kok makan di sini?"

Sasuke tidak langsung menjawabnya. Sasuke menatap wajah Naruto agak lama dengan kerutan tanda penasaran di dahi Naruto yang masih belum pudar, menunggu jawaban dari pertanyaannya. "Karena aku sering melihatmu makan di sini dengan Kiba."

Kerutan di dahi Naruto masih tetap di keningnya setelah pertanyaannya dijawab oleh Sasuke. Heran. Lantas apa hubungannya dengan Naruto yang sering makan di sini dengan Kiba?

Rasa herannya menguap begitu pesanan datang.

Sedari tadi, bukannya tidak sadar. Justru Naruto melihatnya dengan seratus persen yakin kalau banyak gadis-gadis yang memperhatikan Sasuke. Tidak hanya ketika masuk ke Mc. Donald saja, sejak mereka berjalan di trotoar pun banyak yang memperhatikan Sasuke. Begitu mereka bersimpangan dengan perempuan sebaya atau yang lebih tua pasti mereka menoleh sejenak memandang Sasuke.

Siapakan dia yang tampan ini? Batin para wanita-wanita itu.

Pesona Sasuke memang banyak mengundang perhatian. Termasuk dirinya yang sudah jatuh makin dalam lagi oleh sosok di depannya ini.

Tidak dipungkiri kalau Naruto senang bukan kepalang bisa jalan bersama dan makan di tempat cepat saji bersama Sasuke, mengingat sebelum-sebelum ini hang out mereka adalah belajar bersama di tempat yang berbeda tiap harinya. Makin hari perasaan jatuh cintanya ke Sasuke makin menjadi dan makin menyiksanya.

Naruto bingung dengan ini semua. Mau dikemanakan rasa yang meluap-luap ini? Menyatakan cinta ke Sasuke? Ah, itu adalah ide gila. Tidak bisa Naruto bayangkan kalau seandainya Naruto benar-benar menyatakan cintanya ke Sasuke, lalu Sasuke akan perlahan menjauhkan diri. Karena Naruto bukan sosok gadis mungil nan manis, tapi sosok yang memiliki besar telapak tangan yang sama dengan diri Sasuke, telapak tangan yang semestinya menggandeng tangan ramping milik seorang gadis, bukannya menggenggam tangan Sasuke yang sama besar dengan miliknya.

Juga entah sudah keberapa kalinya ucapan Kiba tentang pria suka dengan pria itu menjijikkan terngiang di kepalanya, terus begitu seolah kaset yang terus berputar.

Mengambil nafas dan menghembuskannya sepanjang mungkin merupakan salah satu cara yang bisa Naruto lakukan untuk meminimalisir kemelutnya saat ini. Terutama ketika Naruto tidak sengaja melihat dua sejoli yang duduk di sampingnya. Menikmati makanan yang tersaji seraya menautkan jarinya, sesekali suap-suapan dan sang pria menyeka sisa makanan di sudut mulut sang wanita lalu memakan sisa makanan itu. Tampak senyum bahagia terukir di keduanya.

Pemandangan seperti itu ingin Naruto rasakan bersama Sasuke. Begitu manisnya menjadi sepasang kekasih.

Tidak, tidak, tidak. Ya Tuhan, ini menggelikan. Mana mungkin kesampaian? Yang bisa Naruto lakukan saat ini hanya bisa memandangnya tanpa bisa memiliki. Bisa saja sosok di depannya ini sudah punya kekasih. Hal sederhana yang Sasuke lakukan—mentarktirnya makan—seperti ini sudah mampu membuat Naruto berbunga-bunga.

Hal sekecil apapun yang diperbuat pujaan hati memang bisa membuat bahagia.

"Terima saja. Atau punyamu aku makan nanti."

Nyawa Naruto kembali ke raganya mendengar celetukan Sasuke. Baru sadar juga kalau Sasuke sudah hampir menghabiskan setengah dari porsinya. Sedangkan miliknya belum terjamah. Sudah berapa lama Naruto bergelut dengan pikirannya sendiri?

"Sedih sekali kau tidak jadi makan Ramen," sambung Sasuke.

"Begitulah," jawab Naruto pasrah. "Tapi aku tidak akan membiarkan kamu memakan bagianku."

Sasuke tersenyum tipis. "Kenapa juga tadi aku membuyarkan lamunanmu."

Dan—Naruto terkekeh di sela-sela kunyahannya.

\(^.^\) (/^.^)/

Lagi-lagi Kakashi-sensei absen mengajar. Seharusnya menjadi self study, tapi kenyataanya hampir semua murid menutup bukunya dan menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing.

Entah Kiba janjian dengan Kakashi-sensei atau tidak Naruto tidak tahu namun Kiba ikut-ikutan absen. Bangku kosong milik Kiba di depannya untuk sementara waktu berubah menjadi bangku milik Sakura.

"Naruto," panggil Sakura. Posisi duduknya menghadap Naruto. Sandaran kursi menjadi tumpuan kedua lengan Sakura yang saling bersilang. Menatap Naruto dengan pandangan seakan minta diperhatikan oleh Naruto yang tengah sibuk membaca komik.

"Apa Sakura? Jangan ganggu, aku sudah sampai di highlight-nya. Ini lagi seru."

"Apa kamu tidak penasaran kenapa aku duduk di bangku Kiba? Sengaja duduk dekat-dekat kamu?"

Naruto mengabaikan pertanyaan Sakura. Sudah dibilang kalau Naruto sedang membaca puncak cerita di komik yang dipegangnya. Ini lagi seru.

"Karena aku ingin bilang kalau—,"

"Ceritanya kamu ingin curhat ya, Sakura?" Sahut Naruto tanpa memandang balik Sakura yang sedari tadi memandang Naruto. Mata Naruto masih fokus membaca dialog di komiknya.

"Kurang lebih begitu."

"Curhatnya nanti saja ya, Sakura. Aku sedang sibuk."

"Naruto, kamu adalah sahabat baikku. Awalnya aku ragu, tapi aku putuskan untuk mengatakan hal ini kepadamu. Sesungguhnya tadi aku mau bilang kalau habis pulang sekolah nanti, aku mau menyatakan cinta ke Sasuke." Sakura mengendikan bahunya, "Sudah ku duga ternyata kamu tidak tertarik dengan ucapanku."

Sakura pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang sangat menghujam dada Naruto. Pergi memenuhi ajakan Ino untuk makan di kantin setelah bel istirahat berbunyi. Tak terkecuali teman-teman lain yang berhamburan keluar kelas mengikuti Sakura ke kantin.

Naruto memilih untuk tetap berdiam di kelas. Matanya masih fokus membaca dialog di komiknya. Matanya saja yang fokus, tidak dengan hatinya.

Pernyataan Sakura bahwa Sakura akan menyatakan cinta ke Sasuke pulang sekolah nanti membuat Naruto terguncang.

\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/

To Be Continued

\(^.^\) \(^.^)/ (/^.^)/

A/N:

Hampir kena Writer Block saya :'( Tapi bagaimanapun juga saya harus mentuntaskan fic ini, dan dengan mengumpulkan segala niat akhirnya jadi juga, fiuuh :D

And, trims untuk Il'al, FayRin D Flourite, liaajahfujo buat reviewnya :D Saya peringatkan sekali lagi ya kalau fic ini BoyXBoy, yang tidak suka tidak usah baca :)

Oke gaess, seperti biasa. Saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang sudah menyempatkan diri membaca fic saya. Kritik dan saran dibuka dengan lebar selebar landasan bandara :D

Tengkyu veri mach, minna-san. Lop yu oll :*